Artikel Terbaru

Dua bulan setelah debutnya di San Diego, saluran televisi khusus anjing, DogTv, terus berkembang.Saluran tersebut rencananya akan mengudara ke jaringan televisi nasional AS. 

Program televisi yang bebas iklan tersebut bukan ditujukan untuk manusia, melainkan untuk anjing peliharaan yang sepanjang hari ditinggal tuannya di rumah. Saat ini, saluran televisi pertama khusus soal anjing tersebut dinikmati hewan peliharaan di 483.000 rumah di San Diego.

Bintangnya? Tentu saja anjing lain. Isi televisi itu dirancang untuk pemirsa berkaki empat, termasuk suara, warna, dan sudut pengambilan gambar dengan kamera. ”Umumnya anjing senang melihat anjing lainnya di layar,” ujar Beke Luabeach, Kepala Pemasaran DogTv. 

Dia menambahkan, burung, monyet, dan zebra juga populer di layar kaca. Pekan lalu, saluran tersebut mulai menawarkan siaran melalui internet dari situsnya, dogtv.com, dengan biaya 9,99 dollar AS atau sekitar Rp 90.000 per bulan. (Reuters/Joe) 

Sumber: Kompas.com

Korea Selatan menetapkan waspada rabies lantaran temuan pada seekor anjing. Kementerian Peternakan Korsel, menurut wartaYonhap pada Sabtu (14/4/2012), menunjuk temuan di kawasan barat daya Seoul.


Kawasan yang diteliti adalah di peternakan Hwaseong 55. Lantaran temuan itu, kawasan peternakan tersebut diisolasi.


Korsel melaporkan tidak ada kasus rabies yang melanda negeri itu pada 1985 hingga 1992. Pada 1993, ada satu kasus dilaporkan terjadi di Provinsi Gangwon.


Tahun ini, Seoul menyiapkan dana 952 juta won atau setara dengan 840.000 dollar AS untuk vaksin rabies pada hewan. Sementara Korsel menggelontorkan dana 2,4 juta untuk obat antirabies yang dicampurkan pada makanan hewan, seperti anjing. 


Korea Selatan menetapkan waspada rabies lantaran temuan pada seekor anjing. Kementerian Peternakan Korsel, menurut wartaYonhap pada Sabtu (14/4/2012), menunjuk temuan di kawasan barat daya Seoul.


Kawasan yang diteliti adalah di peternakan Hwaseong 55. Lantaran temuan itu, kawasan peternakan tersebut diisolasi. Korsel melaporkan tidak ada kasus rabies yang melanda negeri itu pada 1985 hingga 1992. 


Pada 1993, ada satu kasus dilaporkan terjadi di Provinsi Gangwon. Tahun ini, Seoul menyiapkan dana 952 juta won atau setara dengan 840.000 dollar AS untuk vaksin rabies pada hewan. 


Sementara Korsel menggelontorkan dana 2,4 juta untuk obat antirabies yang dicampurkan pada makanan hewan, seperti anjing. 


Sumber: Kompas.com


Kematian pasien flu burung di Bengkulu pekan lalu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah korban H5N1 tertinggi di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.
Menurut WHO, dari 349 kematian akibat flu burung di seluruh dunia sejak 2003, 155 diantaranya terjadi di Indonesia.



Pejabat Kementrian Kesehatan Rita Kusriastuti Rabu (07/03) mengatakan bahwa pasien wanita berusia 24 tahun di Bengkulu tersebut merupakan korban kelima flu burung di Indonesia tahun ini.

Dua korban meninggal dunia sebelumnya adalah seorang bocah berusia 12 tahun di Badung, Bali dan seorang perempuan berusia 19 tahun di Banten.

Sejak 2003, ada 186 kasus penularan flu burung terhadap manusia di Indonesia dan hampir 80 persen berakhir dengan kematian.

Pemerintah sampai saat ini belum mencabut status Kondisi Luar Biasa atau KLB untuk flu burung.

Virus ini menyebar dari unggas ke manusia melalui kontak langsung, tetapi pada ahli mengkhawatirkan kemungkinan adanya mutasi virus sehingga dapat menular dari manusia ke manusia.

Berdasarkan laporan WHO yang dirilis di situs resmi organisasi tersebut hari ini, selain Indonesia kasus penularan flu burung ke manusia juga terjadi di Bangladesh.

Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Bangladesh mengatakan ketiga pasien yang semuanya lelaki adalah pedagang di sebuah pasar burung di Dhaka City.

Semua korban selamat setelah mendapat perawatan di rumah sakit.

Sementara itu, Thailand melaporkan adanya 25 kasus flu burung antara 2003-2006 dan 17 orang diantaranya meninggal dunia.

Sumber: http://www.bbc.co.uk


Penderita yang meninggal dengan dugaan terjangkit flu burung muncul lagi di Jakarta. Hal itu menimpa PDY (23), warga Tanjung Priok, Jakarta Utara. Selama tahun 2011, kasus flu burung tidak pernah mencuat di Jakarta.

PDY yang dimakamkan di Jakarta, Minggu (8/1), dimandikan dan dimasukkan ke peti oleh pihak RSUD Tangerang.

Menurut Kepala Seksi Pengendalian Kesehatan Masyarakat Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara Ati Sukmaningsih, dari hasil pemeriksaan lendir hidung dan tenggorokan serta darah oleh petugas RSUD Tangerang, korban diduga kuat terjangkit flu burung. Untuk konfirmasi, contoh lendir dan darah masih diperiksa di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

Ibu korban, S (48), menuturkan, PDY demam tinggi sejak malam Tahun Baru. Pada Senin, ia berobat ke RS Satya Negara, Jakarta Utara. Oleh dokter, dia diduga mengalami infeksi lambung. Karena kondisi PDY tidak membaik, Rabu, ia dibawa lagi ke RS Satya Negara. Kali ini dokter mendiagnosis PDY terkena demam berdarah sehingga dirawat inap.

PDY Hari Jumat, S menuturkan, dokter tiba-tiba merujuk PDY ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso yang memiliki instalasi khusus flu burung. Namun, PDY ditolak karena ruang ICU RS itu penuh. Sabtu, pihak RS Satya Negara membawa PDY ke RSUD Tangerang. ”Belum sampai RSUD, anak Saya meninggal, “ kata S.

Menurut S, sebelum demam tinggi, PDY sempat memegang burung merpati peliharaannya yang sedang sakit.

Adik perempuan PDY, ASR (5), kini dirawat di RS Persahabatan dengan dugaan flu burung. Gejalanya, demam tinggi disertai batuk.

Menurut S, seluruh anggota keluarganya kini diobservasi Sudin Kesehatan Jakarta Utara. Selama diobservasi, S dan seluruh keluarga di rumahnya diminta mengonsumsi tamiflu (obat antivirus) selama lima hari.

Sumber: Kompas.com



Peluncuran Program Kemitraan Australia-Indonesia dalam rangka Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular yang Baru Muncul (Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases/AIP-EID) untuk periode 2010-2014 di Sulawesi Selatan secara resmi telah dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2011 oleh Gubernur Sulawesi Selatan dan dihadiri oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Ir. Syukur Iwantoro MS, MBA dan Perwakilan dari DAFF Australia Mrs. Karen Schneider.

Peluncuran program kemitraan Australia dan Indonesia secara nasional telah diresmikan oleh Bapak Menteri Pertanian pada tanggal 9 Maret 2011 yang lalu. Dan karena suatu hal untuk tingkat sub nasional peluncurannya baru dapat dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2011 walaupun secara operasional; program kemitraan tersebut telah berjalan sesuai dengan rencana yang telah disepakati oleh ke 2 (dua) negara.

Mrs. Karen Schneider (First Assistant Secretary DAFF) menyampaikan bahwa program kemitraan Australia-Indonesia ini didanai oleh AusAID dan dilaksanakan oleh Department of Agriculture, Fishery and Forestry (DAFF), bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Indonesia serta otoritas kesehatan hewan tingkat provinsi dan lokal. Program ini fokus pada deteksi penyakit menular yang baru muncul, pencegahan dan pengendalian penyakit melalui peningkatan kapasitas kelembagaan. Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang sangat baik untuk percontohan program ini karena merupakan pusat utama untuk produksi ternak dan unggas di kawasan timur Indonesia dengan sebagian besar penduduk pedesaan.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam sambutannya, menyambut baik program ini terutama dalam rangka untuk memperkuat sistem layanan veteriner nasional, termasuk upaya peningkatan kapasitas SDM yang bertanggungjawab terhadap kesehatan hewan baik di pusat maupun daerah. Penguatan sistem pelayanan kesehatan hewan nasional ini penting dalam upaya menghadapi ancaman masuknya penyakit hewan menular yang baru muncul (Emerging Infectious Diseases) yang berpotensi menghandurkan dunia peternakan. Selain itu, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan juga mengharapkan melalui program kemitraan Australia-Indonesia yang difokuskan pada 3 (tiga) komponen yaitu (1). penguatan struktur, fungsi dan koordinasi di bidang kesehatan hewan nasional, (2). penguatan manajemen informasi, kemampuan laboratorium dan epidemiologi serta fungsi karantina dan (3). mendukung sistem layanan veteriner pada tingkat sub nasional, khususnya propinsi dan kabupaten/kota dengan menetapkan wilayah percontohan provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Gubernur Sulawesi Selatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa dipilihnya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sebagai lokasi percontohan merupakan momentum yang sangat strategis untuk terciptanya sistem layanan kesehatan hewan yang murah, mudah dan terjangkau sehingga dalam jangka panjang dapat dijadikan model pendekatan secara nasional. Melalui kerjasama kemitraan ini Gubernur Sulawesi Selatan berharap agar sistem informasi kesehatan hewan dapat ditata dengan lebih baik. Selain itu jaringan komunikasi dan informasi dari Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kab./Kota, Provinsi sampai ke Pusat benar-benar dapat diwujudkan secara fokus, melembaga dan terkoordinasi. Sehingga dengan sistem informasi yang terjalin dengan baik, maka langkah-langkah penanggulangan setiap terjadi kasus dapat dilakukan dengan baik dan cepat.

Peresmian Peluncuran Program Kemitraan Australia-Indonesia dalam rangka Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular yang Baru Muncul (Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases/AIP-EID) untuk periode 2010-2014 di Sulawesi Selatan secara resmi dilakukan dengan ditandai dengan membunyikan alat penumbuk padi tradisional (lesung) yang dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Ir. Syukur Iwantoro MS, MBA serta Perwakilan dari DAFF Australia Mrs. Karen Schneider.

Selanjutnya Peluncuran Program Kemitraan Australia-Indonesia dalam rangka Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular yang Baru Muncul (Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases/AIP-EID) untuk periode 2010-2014 juga dilaksanakan di Sulawesi Barat yang secara resmi dilakukan dengan ditandai dengan pemukulan beduk telah dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2011 oleh Gubernur Sulawesi Barat dan dihadiri oleh Perwakilan dari DAFF Australia Mrs. Karen Schneider, sedangkan dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan diwakili oleh Kepala BBVet Maros, Drh. Bagoes Purmadjaja, MSc.

Sumber: ditjennak.deptan.go.id



Virus flu burung H5N1 yang sempat mewabah pada beberapa tahun lalu, kembali menelan korban di penghujung tahun 2011.

Seorang pria didiagnosa mengidap penyakit mematikan tersebut, di Kota Shenzhen, China, Sabtu (31/12/2011).

Menurut berita yang dilansir BBC, pria yang berprofesi sebagai sopir bus tersebut dilarikan ke rumah sakit dengan gejala pneumonia, namun setelah menjalani tes medis, ia positif terjangkiti virus flu burung.

Namun ia tidak pernah kontak dengan unggas, ataupun melakukan perjalanan ke keluar kota, demikian dikatakan oleh Kementerian Kesehatan China.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan flu burung telah menewaskan 332 orang sejak 2003.

Virus ini telah menjangkiti 63 negara pada tahun 2006, dengan jumlah 4.000 kasus di seluruh dunia, dengan endemik di Bangladesh, China, Mesir, India, Indonesia, dan Vietnam.

Departemen Pertanian China, sebelumnya telah memperingatkan pada bulan lalu bahwa virus flu burung tampaknya sudah menyebar di pasar unggas yang ada di daratan China, khususnya di wilayah selatan.

Sumber: tribunnews.com




Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Roofoo. Diberdayakan oleh Blogger.