Februari 2009

KUALITAS
- Karakteristik menyeluruh dari suatu barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau tersirat berorientasi Pada keinginan konsumen (ISO 8402).
- Hal-hal tertentu yang membedakan produk satu dengan lainnya, terutama yang berhubungan dengan daya terima dan kepuasan konsumen (industri, pedagang perantara, pasar swalayan, dan rumah tangga).
KUALITAS = X/Y
X = cita rasa, nilai gizi, aneka pilihan, sifat fungsional, sifat ramah lingkungan, aman dan halal.
Y = waktu persiapan, harga
Kualitas eksternal: kriteria kualitas yang dapat diindera, dilihat, diraba, tanpa harus dicicip konsumen.
Kualitas internal: kriteria kualitas yang dapat dideteksi setelah konsumen mencicipi atau mengukur/analisis produk tersebut.

KARAKTERISTIK

A. KUALITAS DAGING
- ORGANOLEPTIK: warna, bau, keempukan, citarasa, bahaya fisik.
- KIMIA: kandungan gizi, bahaya kimiawai.
- MIKROBIOLOGIK: jumlah kuman, keberadaan kuman patogen.

B. CITA RASA: Kemanisan, Kemasaman, Rasa Pahit (Bitterness), Rasa Sepat (Astrigency).

C. TEKSTUR:
- Kekerasan (Hardness, Firmness)
- Keempukan (Softness )
- Kerenyahan (Cripsness)
- Kesegaran (Juiceness)
- Kealotan (Toughness, Fibrousness)

D. ZAT GIZI: Jumlah/Kuantitas, Komposisi Dan kelengkapan zat gizi.

DAGING
• Bahan makanan bernilai gizi tinggi baik bagi manusia maupun kuman.
• Bahan makanan mudah rusak (perishable food).
• Bahan makanan berpotensi bahaya (potentially hazardous food = PHF).

KONSUMEN BERISIKO TINGGI
Konsumen yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit ditularkan oleh makanan adalah dari kalangan YOPI
- Balita dan anak-anak - Young,
- Orangtua - Old,
- Ibu hamil - Pregnant
- Memiliki penyimpangan atau gangguan kekebalan tubuh - Immunocompromised

PANGAN KATEGORI Potentially Hazardous Food (PHF)
• Memiliki kandungan protein tinggi.
• Memiliki derajat keasaman (pH) lebih dari 4,6.
• Memiliki daya mengikat aktifitas air (water activity) lebih dari 8,5.

KUALITAS DAGING DIPENGARUHI OLEH:
- Jenis hewan.
- Jenis kelamin.
- Umur hewan.
- Lokasi otot.
- Status gizi ternak.
- Cara Penanganan sebelum, selama dan setelah penyembelihan.

HIGIENE PANGAN (FOOD HYGIENE)
Semua kondisi dan tindakan untuk menjamin keamanan dan kelayakan makanan pada Semua tahap dalam rantai makanan (Codex Alimentarius Commission, 1997).

DAGING YANG AMAN DIKONSUMSI
- Warna Merah cerah (tidak gelap, tidak pucat, tidak kebiruan, tidak terlalu merah).
- Bau spesifik daging (tidak ada bau menyengat, tidak berbau amis, tidak berbau busuk).
- Konsistensi baik (tidak lembek).
- Terdapat stempel dari Dinas Peternakan.

PENANGANAN DAGING STANDAR HIGIENIS
- Penerapan sistem rantai dingin (cold chain system).
- Persyaratan alat transportasi, bangunan dan sarana.
- Higiene personal.

SISTEM RANTAI DINGIN
Untuk mencegah atau menghambat pertumbuhan kuman dan menghambat aktifitas enzim pada daging penyimpanan pada suhu di bawah 50 Celcius

NOTES:
Jangan Menyimpan Makanan Pada Suhu Antara 50 C S/D 600 C Lebih Dari 4 Jam.

PERHATIKAN:
- Daging berasal dari ternak sehat (pengawasan dokter hewan/mantra hewan).
- Daging berasal dari RPH/RPU dengan pengawasan dokter hewan dan memiliki nomor control veteriner (NKV).
- Suhu penyimpanan untuk daging segar (2 - 4 derajat Celcius), jeroan (2-3 derajat Celcius).
- Suhu harus secara berkala dan rutin dipantau.
- Peralatan yang digunakan terjaga kebersihan dan sanitasinya serta memenuhi persyaratan.
- Air yang ditambahkan dalam makanan adalah air yang layak dipakai.
- Kemasan yang digunakan harus bersih, higienis, tidak terbuat dari bahan
yang dapat mencemari bahan pangan dan dapat menjaga daging
dari pencemaran.
- Pisahkan daging segar dengan jeroan.
- Pisahkan bahan pangan segar (mentah) dengan yang sudah masak.
- Pisahkan daging mentah dengan makanan lain.
- Bangunan dan lokasi memenuhi persyaratan.
- Penerapan higiene personal.

TIPS BERBELANJA DAGING:
- Belilah daging yang disimpan pada lemari pendingin (show case/freezer).
- Belilah daging dan ikan pada akhir berbelanja dan dianjurkan sesegera mungkin dibawa pulang untuk langsung dimasak atau disimpan di freezer.
- Daging segar, jeroan dan produk daging olahan harus dikemas secara terpisah dan baik.
- Jangan membeli bahan makanan dengan label “SIMPAN PADA SUHU DINGIN” tetapi bahan makanan tersebut dijual tidak pada suhu dingin.
- Jangan membeli bahan makanan dengan kemasan yang rusak.
- Jangan membeli produk makanan kaleng jika kalengnya kembung atau rusak.
- Perhatikan tanggal kadaluwarsanya.
- Simpan daging pada suhu di bawah 50 C.
- Masa simpan bahan makanan pada suhu chilled (0°-5°C):
1. daging segar, 3-7 hari
2. daging giling, 1-2 hari
3. daging ayam, 1-2 hari
4. sosis segar, 1-2 hari
- Dinginkan bahan makanan sesegera mungkin.
- Bahan makanan sebaiknya diturunkan suhunya dari 60°C menjadi 21°C dalam waktu 2 jam, yang dilanjutkan dari 21°C menjadi 5°C dalam waktu 4 jam.
- Bahan makanan beku disimpan pada suhu di bawah -18°C dan harus dikemas baik.

TIPS PENANGANAN DAN PERSIAPAN MAKANAN
1. Cuci tangan sebelum menangani, mempersiapkan dan memasak makanan.
2. Gunakan pakaian yang bersih.
3. Tutuplah luka pada tangan dengan plester yang kedap air.
4. Hindari bersin dan batuk langsung di depan daging dan bahan makanan lain.
5. Bebaskan ruangan dari insekta (lalat, kecoa) dan rodentia (tikus).
6. Gunakan peralatan yang bersih.
7. Cucilah peralatan setelah digunakan untuk memotong daging, ikan, telur guna mencegah pencemaran silang.
8. Simpanlah bahan mentah di dalam lemari pendingin.
9. Jangan mencicipi makanan yang masih mentah.

TIPS MEMASAK BAHAN MAKANAN ASAL TERNAK
- Daging, telur dan ikan dimasak hingga mencapai suhu bagian dalam (internal)
minimum 63°c selama minimum 15 menit sebelum dihidangkan.
- Daging ayam, suhu internalnya minimum 74°C selama minimum 15 menit sebelum dihidangkan.

Sumber: drh. Mas Djoko Rudyanto, Bagian Kesmavet, FKH Universitas Udayana, Bali


Selain anjing, kucing menjadi pilihan banyak orang sebagai hewan kesayangan. Selain penampilan yang lucu dan menggemaskan kucing juga tidak membutuhkan pemeliharaan yang sulit.

Kucing dapat dilatih untuk menjadi hewan peliharaan yang baik dan pintar, sebagai teman di rumah maupun saat-saat bepergian.

Sama dengan hewan peliharaan lainnya, perawatan kucing  harus bersih terutama kandang dan tempat makanan atau minumannya. Asupan gizi juga harus diperhatikan dengan baik untuk mendapatkan kucing yang selalu bersih dan sehat. Perawatan kesehatan sangat penting artinya untuk menjaga kucing agar terhindar dari segala penyakit

Namun demikian meskipun pemeliharaan baik, kucing kita sering kali terinfeksi penyakit karena kontak langsung dengan kucing sakit, misalnya saat kucing keluar bermain kontak dengan kucing liar yang sakit.

Kucing peliharaan di rumah juga dapat terjangkit suatu penyakit apabila kucing tersebut tidak lengkap vaksinasinya atau bahkan karena faktor lain, seperti kandang, makanan dan minuman yang kurang memadai.

Berikut beberapa penyakit yang sering menginfeksi kucing baik kucing peliharaan maupun kucing liar.

Penyakit Respirasi Kompleks
Penyakit ini dikatakan kompleks karena kucing yang yang sakit selain sakit pernafasan juga ditemukan ikutan lainnya, seperti konjungtivitis, lakrimasi, salivasi dan ulserasi oral.

Penyebab yang paling sering menyebabkan masalah seperti di atas adalah feline viral rhinotracheitis (FVR), feline calicivirus infection (FCV), feline pneumonitis (Chlamydia psittaci) dan Mycoplasma.

Infeksi saluran respirasi atas sekitar 40-45 % disebabkan oleh FVR dan FCV dan sisanya disebabkan oleh Chlamydia psittaci, Mycoplasma dan reovirus

Penularan penyakit umumnya melalui aerosol,  muntahan, pemeliharaan yang tercemar hewan sakit kemudian secara tidak langsung menularkan ke kucing sehat.

Masa inkubasi infeksi FVR dan FCV berkisar 2-6 hari, sedangkan pneumonitis 5-10 hari. Adanya stress yang terjadi pada hewan penderita kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya infeksi ikutan.

Feline Leukemia (Feline Lymphosarcoma atau Lekosis)   
Yang dimaksud lekosis kucing adalah proliferasi ganas sistem hemopoietis pada kucing. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan terbatas. Lekosis kucing dan yang menginfeksi lembu sangat berguna sebagai model untuk mempelajari penyebab leukemia pada manusia.

Penyakit leukemia kucing disebabkan oleh virus, yang dikena dengan nama feline lekosis virus (FeLV) yang tergolong dalam keluarga (subfamili) retroviridae. 

Pada kucing ditemukan dua kelompok retrovirus. Satu dari dua kelompok itu dapat menyebabkan lekosis. Kelompok kedua terdiri dari satu atau lebih retrovirus yang bersifat endogen (hidup laten dalam sel) dan xenotroop (dapat bereplikasi dalam sel biakan spesies lain dan tidak menimbulkan lekosis pada kucing.

Penyebaran virus FeLV tersebar melalui kontak. Kucing terinfeksi mengeluarkan virus melalui air liur. Lekosis kucing dapat dipindahkan pada kucing muda melalui infeksi hewan mati atau material yang telah disaring.

Lekosis ditemukan pada kucing semua umur, tetapi yang paling banyak ditemukan pada kucing berumur muda atau di bawah 5 tahun.

Panlekopeni pada Kucing
Panlekopeni kucing adalah infeksi virus yang menyerang kucing, baik kucing peliharaan maupun kucing liar.

Penyakit ini disebut juga Enteritis Pseudo-membranosa Feline Infectious Enteritis, Feline Distemper.Panlekopeni kucing adalah penyakit yang sangat menular terutama pada kucing-kucing muda dan secara klinis ditandai dengan lekopeni, muntah dan diare. Infeksi kuman-kuman sekunder menyebabkan penyakit bersifat lebih parah. Angka kematian penyakit ini sangat tinggi.

Penyakit ini disebabkan oleh virus dari golongan parvovirus. Virus ini erat hubungannya dengan virus yang menyebabkan enteritis pada Mink.

Bila induk kucing imun menyusui anaknya maka anak kucing itu memperoleh kekebalan melalui air susu induknya. Selama 3-12 minggu anak kucing itu secara pasif kebal. Sesudah itu hingga umur kira-kira 6 bulan anak kucing lambat laun aktif tanpa memperlihatkan gejala penyakit secara klinis.

Infeksi umumnya terjadi melalui pernafasan dan alat digesti. Secara eksperimen kucing dapat ditulari melalui bermacam-macam cara. Virus terutama bereplikasi dalam sel-sel yang sedang mensintesa DNA secara aktif.

Replikasi virus sebagian besar terjadi dalam kelenjar imfe, limpa, sumsum tulang dan timus. Invasi virus dalam bagian tubuh ini menyebabkan limfo dan lekopeni. Sesudah replikasi virus memasuki dinding usus. Hal ini mengakibatkan degenerasi dan nekrosa epitel usus.

Kucing yang tertular menyebarkan virus melalui feses, urin, air liur pada stadium inkubasi dan klinis. Kucing yang sembuh juga mengeluarkan virus selama beberapa hari.

Penyakit Bersin       
Salah satu penyakit yang dapat menyerang kucing adalah penyakit bersin atau dikenal dengan nama Rhinotracheitis atau Feline Viral Rhinotracheitis (FVR) adalah penyakit akut pada bagian muka jalan respirasi kucing.

Penyakit bersin kucing ini disebabkan oleh Herpesvirus golongan A. Virus ini termasuk virus DNA beruntai ganda, bersimetri ikosahedral dan mempunyai selubung protein.

Infeksi diduga terjadi per inhalasi. Virus bereplikasi dalam epitel jalan hawa muka, konjunktivita dan mengakibatkan nekrosa lokal.

Pengeluaran virus terjadi antara lain melalui sekret hidung, konjunktivita dan urin.Penularan dapat berjangkit dalam satu koloni kucing secara laten.

Hewan yang sembuh masih dapat  terinfeksi virus ini. Perubahan lingkungan diduga dapat mengaktifkan infeksi. Kucing dapat ditulari lewat berbagai jalan antara lain intranasal.

Peritonitis Menular
Peritonitis menular atau Feline Infectious Peritonitis (FIP) dalam bentuk klasik adalah penyakit yang berjalan progresif dan umumnya fatal pada kucing.

Pada kucing yang terinfeksi penyakit ini ditandai dengan peritonitis yang bersifat sero-fibrinosa atau dalam rongga perut tertimbun cairan yang banyaknya bervariasi dan mengandung banyak fibrin.

Penyakit ini baru dikenal dalam tahun 1960-an dan pertama kali di temukan di Amerika Serikat. Dalam tahun-tahun berikutnya penyakit ini ditemukan di banyak negara Eropa.

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang tergolong dalam famili Coronaviridae. Virus ini berbentuk pleomorfik dan berdiameter 100 nm. Virus FIP erat hubungannya dengan coronavirus anjing dan coronavirus 229E pada manusia.

Infeksi virus FIP hanya ditemukan pada kucing dan umumnya ditemukan secara sporadik. Mengenai cara infeksi terjadi sesungguhnya belum jelas. Virus ditemukan dalam darah dan eksudat kucing sakit.

Sebagian besar infeksi berlangsung secara subklinis.  Pada kucing yang terinfeksi ditemukan antibodi spesifik dengan titer tinggi, di samping itu kucing memperlihatkan hipergammaglobulinemia. Pada penyakit ini mungkin kompleks antigen-antibodi dan komplemen memegang peranan.

Penyakit mulai dengan gejala-gejala tidak khas, kehilangan nafsu makan, lesu, suhu tinggi dan kemudian terjadi asites.

Palpasi abdomen tidak menimbulkan gejala nyeri walaupun peritonitis telah berkembang. Sekali-kali terjadi pleuritis dengan pembentukan cairan dalam toraks sehingga kucing sesak nafas.

Gejala saraf biasanya terlihat seperti paresis, ataksis, gangguan koordinasi, hiperestesi dan kekejangan. Biasanya kucing mati


Anjing merupakan salah satu hewan peliharaan atau kesayangan yang banyak digemari orang, karena anjing relatif mudah dipelihara. Anjing bagi sebagian orang dipelihara sebagai teman dan ada juga memelihara sebagai keperluan lain, misalnya saja sebagai penjaga malam.

Saat sekarang anjing semakin banyak difungsikan untuk pengintaian atau anjing pelacak, misalnya digunakan oleh polisi fungsi-fungsi keamanan mulai dari pengendusan dugaan adanya narkoba, melacak bom bahkan para teroris atau pengacau keamanan.

Namun demikian anjing sebagai makhluk hidup harus dirawat dan selalu diperhatikan kesehatan maupun makanannya. Anjing yang sehat tentu akan menyenangkan untuk sekedar menemani kita bercanda-gurau atau jalan pagi misalnya, tetapi anjing yang sakit tentu akan membuat kita sedih dan merasa khawatir jangan-jangan anjing kita tidak bisa sehat dan tidak bisa kita pelihara lagi.

Nah, karena itu kesehatan anjing harus diperhatikan, mulai dari vaksinasinya harus diketahui dan dijadwalkan, makan dan minum harus cukup dan mendapat asupan gizi yang baik. Di samping itu pemeliharaan dengan kandang serta lingkungan yang terawat bersih harus juga diperhatikan. Namun demikian kadang kala anjing yang kita rawat dengan baik tidak 100 % terhindar dari penyakit. Berikut beberapa penyakit yang sering menjangkiti anjing baik anjing liar maupun anjing yang dipelihara.


Distemper
Distemper anjing adalah penyakit anjing yang sangat menular pada anjing dan karnivora lainnya. Distemper anjing merupakan penyakit viral yang paling umum pada anjing dan sedikit anjing yang terinfeksi oleh virus ini.

Penyakit ini disebabkan oleh Morbilivirus yang digolongkan ke dalam keluarga besar Paramyxoviridae dan berkerabat secara antigenik dan biofisik dengan virus campak (Measles) manusia dan virus sampar sapi (Rinderpest).

Virus ini tersusun atas RNA, bentuk simetri helikal, beramplop, virus ini agak labil dan aktifitasnya dapat dirusak oleh panas, kekeringan, deterjen, pelarut lemak dan desinfektan
 

Hepatitis Menular (Infectious Canine Hepatitis/ICH)
Hepatitis menular pada anjing telah tersebar luas di dunia, dengan gejala beragam dari yang ringan berupa demam dan pembendungan membrane mukosa sampai bentuk parah, depresi, leucopenia yang jelas dan bertambah lamanya waktu beku darah.

Infectious Canine Hepatitis disebabkan oleh virus Canine Adeno Virus-1 (CAV-1). Virus ini termasuk virus DNA, tidak beramplop dan secara antigenic berkerabat dengan CAV-2 penyebab tracheobronchitis menular pada anjing.

Hepatitis menular gejalanya beragam dari demam ringan sampai mematikan. Masa inkubasi 4-9 hari. Gejala berupa demam diatas 40 °C dan berlangsung 1-6 hari, biasanya bersifat bifasik, terjadi takikardia dan leukopenia.

Gejala lainnya berupa apatis, anoreksia, kehausan, konjungtivitis, leleran serous dari hidung dan mata, kadang-kadang disertai nyeri lambung, muntah juga dapat terjadi serta ditemukan oedema subkutan daerah kepala, leher dan dada.

Gejala respirasi biasanya tidak tampak pada anjing yang menderita ICH.
Pada anjing yang pulih, biasanya makan dengan baik namun pertumbuhan badan berjalan lambat. Tujuh sampai sepuluh hari setelah gejala akut mulai hilang, sekitar 25% anjing yang pulih akan mengalami kekeruhan (opasitas) kornea dan bisa hilang secara spontan.

Coccidiosis
Penyakit Coccidiosis atau berak darah merupakan penyakit radang usus halus dan sering menyerang anak anjing. Anak anjing yang terserang adalah anak anjing umur 1 sampai 8 bulan, sedangkan anjing yang lebih tua atau dewasa lebih tahan terhadap penyakit ini. Gejala menciri dari penyakit ini adalah menurunnya nafsu makan, kotoran encer berlendir sampai berlendir.

Penyakit berak darah biasanya bersifat kronis, timbulnya penyakit dan berat tidaknya gejala yang ditimbulkannya tergantung banyak sedikitnya oocyt isospora yang tertelan. Anak anjing peka terhadap penyakit ini, pada anjing dewasa tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas, tetapi akan menjadi sumber penularan penyakit permanen (carier).

Penyebab penyakit ini adalah parasit dari golongan Isospora, yaitu Isospora canis dan Isospora bigemina. Parasit ini hidup dan berkembang biak pada usus halus.

Demodekosis
Penyakit kulit Demodekosis merupakan penyakit kulit pada anjing yang paling sulit diberantas atau disembuhkan secara total. Hal ini disebabkan karena parasit ini lebih senang hidup pada pangkal ekor (folikel) rambut anjing dan tidak pada permukaan kulit seperti penyakit kulit lainnya.

Parasit demodekosis semua stadium, dari telur, larva, nympha, tungau (parasit dewasa) menghuni folikel rambut dan kelenjar lemak penderita, sehingga penyembuhannya makin sulit dan tidak bisa tuntas. Pengobatannya harus kontinyu dan tekun agar benar-benar sembuh dan tidak kambuh lagi.

Demodekosis merupakan penyakit peradangan kulit yang disertai keadaan imunodefisiensi dan dicirikan dengan demodeks yang berlebihan di dalam kulit.

Penyakit ini disebabkan oleh tungau Demodex canis. Merupakan bagian dari fauna normal kulit anjing dan jumlahnya sangat sedikit pada anjing sehat.

Siklus hidup tungau seluruhnya berlangsung pada kulit dan berada dalam folikel rambut namun kadang-kadng kelenjar sebaseus dan kelenjar keringat apokrin. Untuk mempertahankan hidupnya tungau memakan sel-sel (dengan mmenggerogoti bagian epitel dan merusak ke dalam kelenjar asini.

Demodekosis dikenal 2 tipe yaitu demodekosis lokal dan demodekosis general.
Demodekosis Lokal atau demodekosis skuamosa berupa aplopesia melingkar pada satu atau beberapa tempat berukuran kecil, eritema, daerah tersebut bersisik dan mungkin saja tidak nyeri atau nyeri, kebanyakan ditemukan pada wajah dan kaki depan. Sifat penyakit ini kurang ganas dan kebanyakan kasus ini bias pulih secara spontan.

Demodekosis General, biasanya berawal dari lesi lokal dan bila lesi tidak mengalami mendapat perawatan memadai akan menjadi lesio yang meluas.
  
Infeksi Herpesvirus
Penyakit ini menyebabkan kematian yang tinggi pada anak anjing yang baru lahir dan dikenal juga dengan nama Neonatal canine herpesvirus infection dan Fading puppy syndrome.
Pada anjing dewasa virus menyebabkan infeksi laten. Agen penyebab untuk pertama kali diisolasi di USA dalam tahun 1965 dari anak anjing baru lahir dan mati. Sesudah itu virus ditemukan di banyak negara eropa.

Hingga sekarang hanya dikenal satu virus herpes pada anjing yang dinamakan canine herpesvirus (CHV) yang termasuk herpesvirus golongan A. CHV bereplikasi dalam biakan sel anjing, menimbulkan CPE dan membentuk badan inklusi intranuklear.

Leptospirosis
Penyakit ini dikenal dengan nama penyakit Tifus anjing, penyakit Stuttgart dan Ikterus Menular.
Infeksi biasanya disebabkan oleh virus leptospira dari galur (serovar) canicola atau copenhageni yang merupakan kelompok sera ikterohemoragi. Di samping itu galur Pomona, grippotyphosa dan ballum telah diisolasi dari anjing-anjing di Amerika Serikat.

Infeksi karena canicola atau copenhageni diketahui menyerang banyak populasi anjing. Galur copenhageni sering menyababkan leptospirosis tipe hemoragi dan ikterus. Tikus coklat merupakan reservoir utama copenhageni di Amerika, sedangkan anjing menjadi reservoir untuk galur canicola.

Masa inkubasi 5-15 hari dan anjing terserang bisa dari berbagai tingkatan umur. Pada penyakit yang mendadak gejala yang terlihat adalah kelesuan, anoreksia, muntah, demam 39,5-40,5 °C dan disertai konjungtivitis ringan.

Penyakit Kutil
Penyakit kutil atau Papilomatosis adalah penyakit viral yang menular pada hewan muda dan disertai pertumbuhan liar pada kulit atau selaput lendir. Penyakit ini banyak ditemukan pada banyak jenis hewan. Penyakit ini juga dikenal dengan nama Warts, Infectious Verrucae.

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang tergolong dalam papilomavirus. Virus tersebut mempunyai sifat resisten.

Penyakit kutil pada anjing harus diperhatikan karena penampilan anjing akan sangat jelek dengan kutil-kutil yang berkembang di dalam mulut. Masa inkubasi 1-2 bulan. Penyakit ini sangat menular dan terutama menyerang anjing muda. Dalam suatu kennel biasanya semua anjing dapat tertular.

Penyakit Cacing Cambuk (Trichuris)
Penyakit ini disebabkan oleh cacing cambuk, termasuk golongan Trichuris sp. Penyakit cacing cambuk biasanya bersifat kronis (menahun), hal ini dikarenakan siklus hidup cacing cambuk agak lama. Pada cacing lain untuk menjadi dewasa hanya membutuhkan waktu beberapa minggu saja, tetapi pada cacing cambuk membutuhkan waktu lebih lama, kira-kira 10 minggu. 

Karena waktu yang dibutuhkan sampai dewasa cukup lama maka untuk memberantas cacing cambuk secara tuntas lebih sulit.

Untuk diketahui bahwa obat cacing hanya dapat membunuh cacing dewasa saja, sehingga telur cacing yang masih tersisa akan menjadi cacing dewasa lagi. Karena hal itu maka pemberian obat cacing harus berkala, sehingga dapat membunuh setiap cacing dewasa yang ada dan sebelum sempat bertelur kembali.

Biasanya cacing cambuk hanya menyerang anjing dewasa saja, jarang menyerang anak anjing umur 2-3 bulan.

Penularan cacing cambuk umumnya karena tertelan telur cacing. Telur-telur cacing mencemari alas kandang, tempat makan dan minum, dan lingkungan sekitar rumah. Penularan karena telur tertelan kemudian masuk ke dalam perut dan selama 1 bulan baru menetas, selanjutnya masuk ke dalam usus halus menjadi dewasa setelah 10 minggu lamanya dan akhirnya menetap hingga 16 bulan di usus besar dan menimbulkan gejala penyakit.

Penyakit Cacing Pita (Cestoda)
Penyakit cacing pita tidak begitu membahayakan dan tidak langsung menimbulkan gejala penyakit, akan tetapi merupakan penyakit yang sulit diberantas secara tuntas dan bersifat menahun.

Timbulnya gejala penyakit cacing pita tergantung dari jumlah cacing pita yang menyerang, kondisi anjing, umur anjing, ras dan lingkungan. Hamper semua anjing dewasa pernah terserang cacing ini, tetapi kebanyakan tidak menimbulkan gejala klinis. Biasanya anjing yang banyak kutu pada tubuhnya juga diserang penyakit cacing pita. Pada anak anjing kemungkinan terserang penyakit cacing pita kecil sekali.

Penyakit ini disebabkan oleh cacing pita yang umumnya termasuk dalam golongan Dipylidium dan Echinococcus.

Cacing Dipylidium caninum
Bentuk cacing ini seperti pita panjang berbuku-buku. Cacing dewasa terdapat dalam usus halus anjing dan kucing, kadang-kadang terdapat pada usus manusia terutama anak-anak. Proglottida (buku-buku atau ruas-ruas) yang di dalamnya berisi telur cacing terlepas dan keluar bersama tinja dan kadang-kadang proglottida ini melekat di sekitar anus, bentuknya seperti biji mentimun.

Kutu anjing (Trichodectes canis dan larva pinjal anjing (Ctenoephalides canis) memakan telur-telur cacing yang melekat di sekitar anus dan bulu anjing. Di dalam saluran pencernaan, kutu dan pinjal telur-telur cacing ini akan menetas berimigrasi dan berdiam dalam tubuh kutu dan pinjal sebagai kista (cysticercoid) yang berekor dan infektif.

Penularan kepada anjing, kucing dan anak-anak terjadi karena anjing, kucing dan anak-anak menelan kutu atau pinjal dewasa yang tubuhnya mengandung cysticercoid.

Dalam usus anjing cysticercoids tadi berkembang menjadi cacing pita dewasa dalam waktu 3 minggu.

Cacing Echinococcus granulosus
Cacing ini mempunyai 3 sampai 5 ruas, cacing ini termasuk cacing yang berukuran pendek. Cacing dewasa terdapat dalam usus halus anjing, serigala, fox dan beberapa binatang liar pemakan daging.


Penyakit Cacing Tambang (Ancylostomiasis)        
Penyakit ini merupakan penyakit cacingan yang paling banyak menyerang anjing dewasa dan menimbulkan kerugian.

Hampir semua anjing dewasa mengidap penyakit ini dengan jumlah bervariasi dengan derajat gangguan penyakitnya yang bervariasi juga. Penyakit cacing tambang biasanya bersifat kronis dan kematian anjing umumnya disebabkan oleh adanya infeksi sekunder baik oleh bakteri maupun virus.
Gejala yang menciri dari penyakit ini adalah nafsu makan turun, lesu, pucat, anemia, bulu kusam, mata berair, bila diikuti infeksi sekunder terlihat mencret berlendir dan berdarah dan radang paru-paru.

Penyakit ini disebabkan oleh golongan cacing Ancylostoma sp, biasa disebut cacing tambang atau gelang.

Cacing tambang selalu menyerang pada usus halus, menghisap darah dan meninggalkan jejas, menimbulkan radang pada usus halus dan pendarahan sehingga mengakibatkan mencret berdarah.
Bila telur cacing tambang menetas, larva cacing yang infektif dapat menembus kulit, mengikuti aliran darah sampai ke hati dan paru-paru. Bila anjing batuk cacing akan tertelan masuk ke perut kemudian berdiam di usus halus, dan selanjutnya di usus cacing menjadi dewasa.

Larva cacing juga dapat masuk ke dalam kelenjar air susu induk sehingga waktu induk anjing menyusui akan menularkan pada anaknya yang menyusu.

Larva cacing dapat pula menular melalui makanan yang tertelan anjing lewat pencemaran pada alas kandang, tempat makanan dan minuman.


Penyakit Cacing Ascaris
Penyakit ini disebabkan oleh cacing yang termasuk dalam golongan Toxocara. Penyakit cacing anjing atau dikenal sebagai Ascariasis adalah penyakit cacing bulat banyak menyerang anak anjing terutama yang berumur 1 sampai 5 bulan, dimana hampir semua anak anjing terserang cacing Ascaris. 

Akibat serangan cacing ini tergantung besar kecilnya jumlah cacing yang menyerang dan menimbulkan gejala nyata. Pada anjing dewasa agak lebih tahan terhadap penyakit cacingan.

Pada anak anjing yang menderita batuk-batuk, telah diobati tetapi tidak sembuh-sembuh maka perlu dicurigai terserang cacingan karena terdapat larva pada paru-parunya. Hamper 80% pemeriksaan kotoran anak anjing mengandung telur cacing Ascaris.

Penularan biasanya melalui telur cacing yang tanpa sengaja tertelan karena telur cacing mencemari tempat makanan dan minuman, kandang dan lain-lain. 

Penularan juga dapat melalui induk semasa dalam masa kebuntingan, dan pada waktu anak lahir sudah tertular cacingan.

Proses penularan pertama kali melalui telur tertelan, kemudian telur menetas dalam perut. Cacing ini berusaha menembus dinding usus lalu masuk ke dalam saluran darah dan mengikuti aliran darah sampai di hati
.
Di hati cacing ini berusaha menembus hati dan berusaha mencapai paru-paru, melalui aliran darah paru-paru memecah pembuluh darah kapiler kemudian masuk sampai ke kantung udara paru-paru. Cacing ini terus melanjutkan perjalanannya ke saluran pernafasan atas mencapai kerongkongan dan akhirnya tertelan kembali masuk ke perut dan menjadi dewasa di dalam usus.

Dalam usus cacing ini berkembang biak dan juga menimbulkan gangguan pada usus. Parah tidaknya gangguan penyakit tersebut tergantung dari banyak tidaknya cacing yang terdapat dalam usus tersebut. Makin banyak cacing dalam perut makin parah gangguannya.

Cacing Jantung (Dirofilaria immitis)
Dirofilaria immitis khususnya pada anjing telah banyak diketahui dan dilaporkan, baik yang menyangkut epidemiologi, sifat penyakit, siklus hidup dan penularan, sifat antigen, interaksi parasit dan inang, teknik diagnostic dan terapi pengobatannya.

Nematoda Filaria, Dirofilaria immitis dikenal juga sebagai Filaria sanguinis atau Dirofilaria lousianensis, merupakan suatu cacing dari genus Dirofilaria penyebab Canine Heartworm Disease (CHD) pada anjing dan Human Pulmonary Dirofilariasis (HPD) atau Tropical Pulmonary Iosinophilia pada manusia.

Cacing dewasa ini umumnya terdapat pada anjing hampir di seluruh dunia, khususnya di daerah subtropis dan tropis. Infeksi alami pada anjing sehat diawali oleh gigitan nyamuk Anopheles dan Culex yang membawa larva microfilaria infektif stadium 3 (L3). 

Larva tersebut kemudian berkembang di dalam jaringan subkutan dan fasia intramuskuler penderita selama kurang lebih 2 bulan kemudian menjadi bentuk “immature” dan mulai migrasi ke ventrikel kanan jantung dan arteri pulmonalis. Pematangan atau maturitas cacing terjadi setelah 6-8 bulan pascainfeksi. Cacing betina menjadi cacing dewasa dan menghasilkan microfilaria yang dapat ditemukan dalam darah.

Canine Parvovirus
Canine parvovirus merupakan penyakit yang penting pada anjing karena menyebabkan kematian yang tinggi pada populasi dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi terutama pada penangkaran dan peternakan anjing komersial.

Penyakit ini disebabkan oleh Canine Parvovirus (CPV), termasuk dalam keluarga Parvoviridae. CPV merupakan virus menular tanpa amplop, memiliki asam nukleat berantai tunggal, polarisasi positif dan berdiameter 20-28 nm.

Penularan penyakit biasanya melalui dua jalur utama yaitu mulut-anus dan sawar plasenta. Setelah mengalami replikasi di beberapa organ limfoid primer seperti thymus dan tompok Payer, virus selanjutnya menyebar ke berbagai organ tubuh melalui peredaran darah, misalnya tonsil dan usus halus dengan derajat keparahan yang hebat pada organ-organ limfoid.

Pada percobaan laboratorium, viremia dapat dideteksi pada hari ke-1 dan ke-2 pascainfeksi diikuti oleh viremia hari ke-3 sampai ke-5 pascainfeksi. Ekskresi virus umumnya dimulai pada hari ke-3 pascainfeksi disertai dengan kemunculan antibodi pada hari ke-4 dan mencapai konsentrasi maksimum pada hari ke-7 pascainfeksi.

Peningkatan antibodi serum memiliki dampak yang sangat besar terhadap pengurangan ekskresi virus dan pemulihan kesehatan individu.

Infeksi CFV pada anjing ditemukan di banyak Negara di dunia, sejak kejadian wabah di Australia dan Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1978.

Penularan umumnya melalui jalur mulut-anus, yang mungkin merupakan hasil dari kontak dengan bahan tercemar seperti kandang, pakaian, tinja dan tanah. Secara percobaan infeksi juga dapat dihasilkan melalui mulut, intubasi, lubang hidung, pembuluh darah dan intra-uterine.


Rabies
Penyakit Rabies adalah penyakit menular dan bersifat zoonosis, dapat menulari manusia melalui gigitan hewan perantara yang terinfeksi rabies (HPR). Hewan penderita rabies menyerang apa saja yang ada di dekatnya, termasuk manusia yang dianggap mengganggu. Rabies ini menyerang susunan syaraf pusat yang ditandai dengan gejala syaraf, photopobia, agresif, hydrophobia dan biasanya diakhiri kematian. Semua hewan berdarah panas termasuk manusia sangat peka terhadap virus ini.

Penyebab rabies adalah virus yaitu genus Rhabdovirus. Rabies menyebar melalui kontak langsung terutama gigitan, air liur yang mengandung virus masuk melalui luka gigitan. Selanjutnya virus tersebut masuk ke dalam tubuh menuju otak, dan kemudian dari otak ke kelenjar ludah melalui syaraf sentrifugal serta ke pancreas.

Gejala penyakit rabies dapat dikelompokkan menjadi 3 stadium penyakit, yaitu
Stadium I (taraf prodromal atau melankolik)
Pada stadium ini anjing terlihat berubah sifat dari biasanya. Anjing yang biasanya lincah tiba-tiba menjadi pendiam, pada yang tenang menjadi gelisah, menjadi penakut, bersifat dingin tetapi agresif. 

Kadang-kadang terlihat lemas, malas, nafsu makan berkurang, temperatur tubuh agak naik, senang bersembunyi ditempat gelap dan teduh. Tidak menurut perintah atau panggilan pemiliknya. Terlihat geram (gigi mengkerut-kerut seperti mau menggigit sesuatu, kadang lari kian kemari bila terkejut berusaha menggigit.

Stadium II (taraf eksitasi)
Pada stadium ini anjing menjadi lebih agresif, dan gejala klinis dapat berubah dalam setengah hari sampai tiga hari, gejala iritasi berubah menjadi kegeraman. Takut sinar dan air, senang bersembunyi di bawah kolong, senang memakan benda-benda asing (misalnya: besi, kayu, batu, jerami, dll). Bila dirantai akan berusaha berontak menggigit rantai agar bisa lepas, menggonggong dan suaranya berubah lebih parau, kadang-kadang suaranya seperti lolongan serigala, karena terjadi kelumpuhan ototnya, kesulitan menelan.

Bila anjing itu lepas dia akan melarikan diri dan berjalan terus sepanjang hari dan bila diganggu akan menyerang apa saja, berakhir dengan kelelahan dan sempoyongan. Kejang-kejang, telinga lebih kaku, ekor menjadi lebih kaku dan menjulur ke bawah selangkang.

Stadium III (taraf paralisis)
Stadium ini ditandai dengan kelumpuhan yang berlanjut pada otot bagian kepala sehingga terlihat mulut saling menutup, lidah terjulur terus sehingga air liurnya selalu menetes, menggantung dan berbusa, mata menjadi agak juling atau melotot, kelumpuhan berlanjut pada otot-otot tubuh sehingga terlihat sempoyongan, kejang-kejang, koma dan antara 2-4 hari kemudian mati karena kelumpuhan pada otot pernafasannya.

Bila anjing dicurigai menderita rabies, maka anjing jangan dipegang. Dalam banyak hal gejala klinis tidak lengkap, 20% kejadian stadium eksitasi atau tidak terlihat/sangat pendek dan stadium paralisis mulai terlihat tanpa gejala-gejala yang mendahuluinya.

1. ASPERGILLOSIS
Aspergillosis merupakan penyakit jamur yang menyerang berbagai jenis hewan yang ditandai dengan batuk-batuk, sesak nafas dan kekeurusan.
Etiologi
Aspergillosis disebabkan oleh Aspergillus sp, pada kambing dan domba disebabkan oleh Aspergillus flavus dan Aspergillus fumigates.
Aspergillus sp tumbuh baik pada suhu 30°C dan 37°C, dan dapat ditumbuhkan pada media agar Sabouraud.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Aspergillosis tersebar luas di dunia.
Hewan Terserang
Aspergillosis menyerang berbagai jenis hewan seperti kambing, domba, sapi, kerbau dan ruminansia lain.
Cara Penularan
Aspergillosis dapat ditularkan melalui udara tercemar dan faktor predisposisi karena infestasi cacing paru-paru dan usus atau penggunaan oksitetrasiklin yang terus menerus.

Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan nafsu makan turun, sesak nafas, batuk-batuk dan kurus.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, perubahan patologis dan isolasi jamur. Isolasi dilakukan pada media yang diperkaya dan media agar Sabouraud. Jamur dalam jaringan dapat diperlihatkan dengan pemeriksaan mikroskopis dari usapan jaringan pada gelas slide, pemeriksaan Periodic Acid Schiff (PAS), Gomris (Grocott’s), Gridly’s dan Lactophenol Cotton Blue.
Diagnosa Banding
Hewan terserang memiliki gejala klinis yang mirip dengan Mikoplasmosis, Tuberkulosis dan Q Fever.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan terserang dapat diobati dengan pemberian amfoterisin B. kandang harus tetap bersih dan kering. Menghindari penggunaan oksitetrasiklin berlebihan.
2. STRAWBERRY FOOTROT
Nama lain: Proliferatif Dermatitis, Cutaneous Streptothricosis, Cutaneous Actinomycosis atau Mycotic Dermatitis.
Merupakan penyakit menular dan menyerang berbagai jenis hewan seperti kambing, domba, rusa, kuda, kelinci yang ditandai dengan dermatitis eksudatif atau purulen pada kulit. Penyakit ini juga bersifat zoonosis.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Dermatophilus congolensis atau pedis, termasuk dalam famili Dermatophilaceae.
Dermatophylus memiliki mycelium dan filament seperti pita yang bagian samping bercabang. Septa dibentuk transversal, horizontal dan vertikal. Mycelium dan spora adalah gram positif, bersifat aerobik dan memfermentasi lemah. Pada media setengah padat bentuknya halus, basah, mucoid dan tidak melekat, koloninya berwarna putih keabu-abuan kemudian berubah agak kekuningan dengan meningkatnya umur biakan.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di beberapa negara seperti Inggris, Skotlandia, Australia, New Zealand, Afrika dan India. Di Indonesia belum pernah dilaporkan.
Hewan Terserang
Penyakit ini terutama menyerang domba, meskipun secara percobaan penyakit ini ditularkan pada kambing, marmut dan kelinci. Kasus paling tinggi terjadi pada musim panas dan agak jarang pada musim dingin.
Cara Penularan
Cara penularan penyakit ini tidak diketahui dengan pasti, tetapi kemungkinan karena gesekan pada tanah yang menyebabkan luka-luka kemudian dicemari oleh bakteri. Keropeng kulit mengandung banyak bakteri yang tetap infektif dalam waktu lama dan mencemari tanah di sekitarnya.
Lalat Stomoxys calcitrans dan Musca domestica dapat bertindak sebagai vektor mekanis dari penyakit.
Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan lesi-lesi pada kulit berupa luka-luka bernanah. Kepincangan dan rasa sakit yang hebat saat berjalan. Lesi-lesi tetap ada selama 5-6 minggu bahkan pada kasus kronis dapat berlangsung selama 6 bulan dan pada kasus yang hebat dapat diikuti dengan kematian.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis atau FAR dan teknik biakan.
Diagnosa Banding
Penyakit ini sangat mirip dengan Orf, Scabies atau Demodecosis.
Pencegahan dan Pemberantasan
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk penyakit ini. Terapi pengobatan yang dapat dilakukan dengan antibiotika penisilin (50.000 iu/kg bb) dan streptomisin (50 mg/kg bb) secara intramuskuler.
Pemberian Fulvicin per oral, dan mengoleskan gentian violet 1 % dalam alcohol dan asam salisilat 5 % pada kulit dilaporkan efektif selama sebulan.








1. KOKSIDIOSIS
Koksidiosis merupakan penyakit parasit pada berbagai jenis hewan yang ditandai dengan kekurusan dan diare.
Etiologi
Koksidiosis disebabkan oleh Eimeria sp. Pada kambing dan domba ada 10 spesies, yang dikenal adalah Eimeria ninaakohlyakimovae dan Eimeria ovina. Morfologi dari Eimeria sp berukuran 15-40 x 10-30 um dan oosit mengandung 4 sporozoit.
Siklus Hidup
Oosit mengalami sporolasi di dalam lingkungan dan menjadi infektif. Sporulasi memerlukan lingkungan yang hangat dan basah. Dua sporozoit mengandung sporosit. Setelah ditelan oleh hospes, dinding sel epitel dari ileum, sekum atau kolon. Stadium pertama disebut schizogony mengalami pembelahan asexual. Mikrogamet dan makrogamet mengadakan fusi menghasilkan oosit, suatu bentuk tersifat yang dapat menyesuaikan dalam ketahanan dan penyebaran dalam lingkungan di sekitarnya. Periode absorpsi dari oosit yang infektif dengan ekskresi dari oosit yang baru adalah bervariasi diantara spesies, biasanya antara 5-6 dan 16-20 hari.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Koksidiosis tersebar luas di manca nagara. Di Indonesia tersebar hampir di seluruh daerah dan bersifat endemik.
Hewan Terserang
Koksidiosis menyerang berbagai jenis hewan. Yang paling peka adalah kelompok umur muda (lebih dari 14 hari), jarang pada yang dewasa dan anak yang masih menyusui.

Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit 3-18 hari, ditandai dengan diare. Pada kasus berat hewan mengalami diare dengan tinja bercampur darah, selanjutnya hewan dehidrasi, berat badan turun dan anemia. Gejala syaraf dapat muncul ditandai dengan paresis dan kelumpuhan anggota gerak.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan sakit dipisah dan diberikan terapi preparat sulfa setiap hari selama 3-4 hari. Dapat pula diberikan preparat sulfa yang dicampur dengan antibiotik, vitamin dan mineral seperti campuran sulfadiazine, sulfadimidin, neomisin, metoskopolamin, tiamin dan riboflavin.
Hewan yang menderita koksidiosis berat dapat diberikan pengobatan antishock dengan menyuntikkan kortikosteroid melalui intravena.
2. TOXOPLASMOSIS
Toxoplasmosis merupakan penyakit parasit yang menyerang kambing, domba, sapi yang ditandai dengan abortus dan hilangnya neonatal.
Penyakit ini juga bersifat zoonosa.
Etiologi
Toxoplasmosis disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Oosit T. gondii strukturnya sama dengan Hammondia hammondi dan Hammondia heydorni.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di beberapa negara, seperti New Zealand, Inggris, Amerika Serikat dan Australia (New South Wales, Victoria dan Tasmania).
Hewan Terserang
Toxoplasma gondii menyerang semua hewan berdarah panas, sedangkan Hammondia hammondi hospesnya terbatas menyerang babi, kelinci, marmut, tikus, mencit dan hewan primate lainnya. Hammondia heydorni menyerang sapi, kerbau, kambing, domba dan tikus.
Cara Penularan
Parasit ditularkan karena daging yang tidak dimasak dengan baik atau makanan yang tercemar tinja kucing, tikus atau hewan lain yang tertular atau penularan congenital dari induk kepada fetus.
Gejala Klinis
Kambing terserang ditandai dengan gejala demam (40-41°C), abortus dapat terjadi pada semua stadium kebuntingan, lahir dini, mummifikasi fetus dan kematian fetus saat dilahirkan.
Pada infeksi percobaan, kambing yang diinfeksi dengan 10.000 sampai 100.000 oosit gondii strain GT-1 infektif melalui per oral memperlihatkan gejala demam (40-42°C) pada hari ke-3 dan ke-5 pascainfeksi, gejala demam berlangsung 5-10 hari. Kambing terlihat lesu, lemah dan diare yang dapat berlangsung selama 7-15 hari, sesak nafas terjadi 4-12 hari setelah infeksi dan diikuti dengan kematian terutama kambing yang disuntik oosit dengan dosis tinggi (10.000 atau 100.000 oosit). Domba bunting yang terinfeksi ditandai dengan abortus, lahir dini atau mati saat lahir.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan pemeriksaan mikroskopis sediaan ulas darah dengan menemukan Toxoplasma. Pada hewan yang mati dengan menemukan parasit melalui pemeriksaan mikroskopis langsung atau dengan cara transmisi pada hewan percobaan. Antibodi dapat dideteksi 2 hari setelah hewan abortus, dengan menggunakan uji hemaglutinasi indirek, PCR untuk mengamplifasi sekuen DNA spesifik. Produk amplifasi dianalisis dengan uji electrophoresis.
DNA Toxoplasma dalam jaringan telah dideteksi seperti dalam cairan peritoneal, jaringan otak, kotiledon dan amnion/korion.
Diagnosa Banding
Hewan terserang Toxoplasmosis memperlihatkan gejala klinis yang sangat mirip dengan infeksi jamur (Kriptokokkus, Histoplasma) atau Leishmania.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan yang sakit dipisah dengan yang sehat. Selalu menjaga kebersihan kandang, tempat makanan atau minuman hewan supaya tidak tercemar tinja kucing atau tikus.
3. FASCIOLIASIS
Nama lain: Distomatosis. Merupakan penyakit parasit yang menyerang semua jenis ternak. Kerugian yang ditimbulkannya cukup besar, yaitu penurunan berat badan hewan terserang.
Etiologi
Fascioliasis disebabkan oleh Fasciola hepatica. Cacing ini berukuran 20-30 mm x 10 mm dan telur cacing berbentuk bulat lonjong dengan dinding tipis yang mengandung massa moruler yang dibentuk dari sel yang mengelilingi zigot. Telur cacing mempunyai operculum pada salah satu ujung telur, warna kekuningan dan mempunyai ukuran 130-150 x 80 um.
Siklus Hidup
Satu ekor cacing dapat menghasilkan 3000 telur per hari. Telur-telur dikeluarkan ke dalam empedu dan tinja. Telur kemudian menempel pada rumput dan selanjutnya pada kondisi yang sesuai telur-telur tersebut menetas menjadi larva atau miracidium.
Miracidium masuk ke tubuh hospes perantara seperti siput air dari genus Lymnaea. Larva berkembang jika telur cacing jatuh ke dalam air kolam dengan cukup oksigen. Miracidium yang ditetaskan kemudian masuk ke dalam tubuh siput air. Tiap miracidium di dalam hepato-pankreas, larva mengadakan proliferasi dengan cara poliembrioni menjadi sporosit (larva stadium kedua) dan dari permukaan dalam setiap sporosit mengadakan pembelahan menjadi 6 rediae (larva stadium ketiga).
Pada kondisi yang sesuai pula maka rediae kemudian meninggalkan sporosit dan berubah menjadi cercaria (larva stadium akhir). Cercaria ini merupakan cacing hati muda, tetapi tidak infektif dan pada kondisi lingkungan luar yang sesuai akan berubah menjadi metacercaria yang dapat hidup dalam kolam atau tempat-tempat yang sesuai lainnya selama 9 bulan. Infestasi terjadi jika metacercaria tertelan dan masuk ke duodenum.
Cacing muda ini dapat menembus dinding usus dan menyeberang ke dalam ruangan peritoneal, menempel dan menghisap darah dan selanjutnya masuk ke hati. Di dalam saluran empedu menjadi cacing dewasa selama 2-3 bulan.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini ditemukan tersebar di dunia. Di Indonesia ditemukan hampir di seluruh daerah, terutama di daerah yang basah.
Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas dilaporkan 50-75 %, rata-rata 30 %.
Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan nafsu makan turun, kurus, oedema submandibula (bottle jaw), selaput lendir mata pucat dan diare.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan pemeriksaan mikroskopis dari tinja dan patologis jaringan terserang.
Diagnosa Banding
Pada kasus fascioliasis akut sering kali sulit dibedakan dengan infectious necrotic hepatitis karena lesinya sangat kecil, oleh karena itu diperlukan pemeriksaan histopatologis. Kerusakan hati yang hebat dapat dikelirukan dengan haemonchiasis, eperythrozoonosis, anthrax dan enterotoxaemia.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan terserang dapat diobati dengan carbon tetrachloride (1 ml/9 kg bb). Obat ini dilaporkan efektif terhadap cacing fasciola dewasa. Obat lain yang dapat digunakan adalah heksakloretan, heksaklorofan, rafoxamide, niklofolan, bromsalan yang disuntikkan di bawah kulit.
Kandang harus dijaga tetap bersih dan kandang sebaiknya tidak dekat kolam atau selokan. Siput-siput di sekitar kandang dimusnahkan untuk memeutus siklus hidup Fasciola.
4. OESOPHAGOSTOMIASIS
Oesophagustomiasis merupakan penyakit parasit cacing gastrointestinal, menyerang semua hewan yang ditandai dengan kekurusan dan nodul nekrotik pada usus.
Etiologi
Oesophagustomiasis pada kambing dan domba disebabkan oleh Oesophagustomum columbianum, Oesophagustomum venulosum dan Oesophagustomum asperum.
Siklus Hidup
Telur dilepaskan ke dalam tinja, setelah menetas menjadi larva (stadium ketiga), di bawah kondisi yang sesuai larva tertelan oleh hospes kemudian masuk melalui dinding usus halus dan berada selama 5 hari. Larva kemudian masuk ke dalam lumen usus dan menuju usus besar, selanjutnya menjadi cacing dewasa.
Larva dapat persisten di dalam dinding usus, membentuk nodul dan hidup di dalam selama satu tahun. Jika kondisi tubuh hospes menurun akibat rendahnya nutrisi maka larva akan meninggalkan nodul masuk ke dalam lumen usus dan menuju kolon sampai menjadi cacing dewasa. Cacing menempel pada selaput lendir kolon dan bertelur.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Oesophagustomiasis tersebar luas di dunia, termasuk di Indonesia.
Hewan Terserang
Semua jenis hewan dapat menderita Oesophagostomiasis. Pada kambing dan domba dapat terjadi pada semua kelompok umur, tetapi yang paling peka adalah yang umur muda.
Gejala Klinis
Kambing dan domba yang terserang ditandai dengan tinja yang lunak dan dilapisi oleh lendir, kadang-kadang ada bercak darah. Kondisi tubuh cepat merosot, gerakan kaki kaku, ekor dilengkungkan.
Diagnosa
Diagnosa definitif dari Oesophagostomiasis dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan patologis dan identifikasi larva cacing dari kultur tinja.
Diagnosa Banding
Oesophagostomiasis sering dikelirukan dengan Trichostrongylosis.
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan terserang dipisah dan diobati dengan thiabendazole (44 mg/kg bb), levamizole, dichlorvos, perbendazole (20 mg/kg bb), pyrantel tartrate (22 mg/kg bb), febendazole (5 mg/kg bb), cambendazole (20 mg/kg bb).
5. THEILERIOSIS
Theileriosis adalah penyakit darah akut dan menahun yang disertai demam, diare berdarah dan pembengkakan kelenjar-kelenjar limfe. Parasit-parasit yang menyebabkannya berkembang biak di dalam sel-sel susunan limfe. Di dalam sel ini terbentuk yang dinamakan plasma Koch.
Etiologi
Theileriosis disebabkan oleh parasit Theileria sp dari famili Theileridae. Pada kambing dan domba ada 2 penyebab Theileriosis yaitu Theileria hirci dan Theileria ovis.
Theileria hirci sangat pathogen dan menimbulkan gejala klinis dan patologi anatomi yang sangat menyerupai East Coast Fever. Theileria ovis bersifat hanya sedikit pathogen dengan bola-bola Koch yang terbentuk sedikit.
Kedua jenis Theileria ini dipindahkan oleh caplak jenis Rhipicephalus.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar secara luas di daerah-daerah panas (Afrika beriklim sedang, Eropa Selatan, dan Asia). Di Indonesia juga penyakit ini ditemukan.
Hewan terserang
Penyakit ini menyerang kambing dan domba, sapi. Selain itu infeksi theileriosis pernah didiagnosa pada antilop, kuda, bison dan kerbau Afrika dan India.
Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan oleh perantaraan vektor caplak jenis Rhipicephalus. Infeksi terjadi oleh sporozoit-sporozoit yang dipindahkan oleh air liur caplak dewasa. Dalam darah sporozoit-sporozoit ini memasuki limfosit-limfosit dan sel-sel endotel kemudian berkembang biak dengan cara membelah. Hal ini menghasilkan bola-bola plasma Koch.
Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit berlangsung kira-kira 2 minggu. Demam yang tinggi terus menerus yang disertai gejala klinis umum (kesulitan bernafas, kekeurusan, kelemahan tubuh belakang) menyerupai gejala penyakit protozoa darah lainnya. Perbedaannya yaitu bahwa pada Theileriosis pembengkakan kelenjar-kelenjar limfe sub kutan sangat menyolok. Anemia sering tidak jelas, ikterus dan hemoglobinuria kadang-kadang terlihat.
Diagnosa
Diagnosa klinis sering kulit. Hewan harus dicurigai bila kelenjar-kelenjar limfe sub kutan membengkak. Diagnosa histopatologis dapat ditegakkan apabila bola-bola plasma Koch ditemukan.
Yang sangat dianjurkan untuk menegakkan diagnosa adalah dengan melakukan fungtie limfe atau kelenjar limfe pada hewan hidup (pada kelenjar limfe preskapuler atau limfe yang biasanya diantara tulang rusuk 11 dan 12 stinggi tuber coxae) ditusuk dengan jarum suntik tebal, kemudian sedikit material dihirup dan diwarnai dengan Giemsa.
6. HAEMONCHIASIS
Haemonchiasis merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh infeksi cacing lambung Haemonchus contortus yang biasanya terlihat pada kambing dan domba, yang ditandai dengan kekurusan, anemia berat dan oedema dimana-mana.
Kerugian ekonomi yang ditimbulkan cukup besar karena dapat menyebabkan penurunan berat badan dan produksi serta pada kasus berat dapat menyebabkan kematian.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Haemonchus contortus. Cacing ini hidup dalam selaput lendir lambung, stadium larva ke 4 dan 5, cacing dewasa menghisap darah hospes dan menyebabkan gastritis katharal ringan.
Cacing betina berukuran panjang 2-3 cm dan jantan lebih pendek kira-kira 1 cm. yang betina mempunyai flap anterior yang merupakan bangunan untuk menutup permukaan vulvanya. Flap interior ini mempunyai 3 bentuk, yaitu linguiform, knob dan bentuk halus.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Haemonchiasis tersebar luas di beberapa negara terutama di daerah peternakan kambing atau intensif dengan kondisi daerah yang lembab dan panas.
Hewan Terserang
Penyakit ini menyerang semua hewan ruminansia. Kambing dan domba sangat peka terhadap penyakit ini.
Morbiditas dan mortalitas
Perbandingan jumlah cacing jantan dengan betina bervariasi.
Gejala Klinis
Hewan terinfeksi haemonchiasis ditandai dengan kekurusan, anemia berat dan oedema dimana-mana. Pada infestasi berat dapat menyebabkan kematian. Kematian diakibatkan karena kegagalan sistem hemapoietik.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan parasit cacing dalam abomasum. Selaput lendir dikerok kemudian ditampung dalam piring yang berdasar hitam dan berisi sedikit air. Dengan demikian cacing-cacing lebih mudah terlihat. Disamping itu telah dikembangkan Blood Gastrin Assay, untuk mengetahui level gastrin dan pepsinogen dalam lambung.
Pencegahan dan Pemberantasan
Penyakit ini dapat diobati dengan pemberian obat cacing, seperti benzimidazole dan cambendazole (20 mg/kg bb), ivermectin, oxfendazole, levamizole, nitroxynil.
7. SCABIES
Nama lain: Penyakit Kudis. Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit tungau kudis.
Etiologi
Scabies disebabkan oleh tungau kudis Sarcoptes scabiei.
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di dunia. Di Indonesia penyakit ini merupakan penyakit endemis yang terutama menyerang kambing, dan sangat merugikan secara ekonomis karena dapat menurunkan berat badan ternak sampai 30 %, penurunan kualitas kulit dan daging dan harga jual yang rendah.
Hewan Terserang
Scabies dapat menyerang berbagai jenis hewan, terutama kambing dan domba. Dapat juga menyerang sapi, kuda dan manusia (penyakit termasuk zoonosis). Tungau kudis menyerang kulit dan hidup dengan menghisap cairan tubuh induk semang yang ditumpanginya.
Cara Penularan
Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak langsung antara hewan yang sakit dengan yang sehat. Selain itu penularan dapat melalui benda-benda yang tercemar bibit penyakit, seperti peralatan kandang, lantai dan dinding kandang, pakan, alat angkut, dan manusia.
Gejala Klinis
Tanda-tanda penyakit pada hewan terserang adalah adanya bintik-bintik berwarna merah pada kulit, gatal-gatal yang ditandai dengan ternak menggosok-gosokkan tubuh/bagian yang terserang, kulit tampak kasar, kering, bulu rontok, keriput dan menebal.
Bagian yang terserang biasanya daerah mulut/moncong, telinga, leher, dada, perut, pangkal ekor, sepanjang punggung dan kaki.
Diagnosa
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan mikroskopis dengan pengambilan spesimen tungau penyebab.
Perlakuan pemotongan Hewan
Hewan yang menderita scabies boleh dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi sepanjang mutunya masih bisa dipertanggungjawabkan. Kulitnya dibakar/dimusnahkan.
Pencegahan dan pemberantasan
Tindakan pencegahan adalah dengan selalu menjaga kebersihan kandang dan peralatan serta lingkungan sekitarnya. Bila ada ternak yang terserang hendaknya dipisahkan dari yang sehat.
Pengobatan dapat dilakukan dengan mengolesi kulit yang luka dengan Benzoas Bensilikus 10 %, penyuntikan dengan Avermectin dosis 200 mg/kg berat badan seminggu sekali selama 4 minggu, penyuntikan subkutan dengan Ivomec atau Dectomec 0,5 persen.



Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.