Maret 2009

22 January 2009 -- The Ministry of Health of Indonesia has announced two new confirmed cases of human infection with the H5N1 avian influenza virus. A 29-year-old female from Tangerang District, Banten Province developed symptoms on 11 December 2008, was hospitalized on 13 December and died on 16 December. The investigation indicated that she visited a wet market to buy fresh produce, including chicken meat, on a daily basis. Household contacts were placed under medical observation, where none developed illness.
The second case, a 5-year-old female from Bekasi City, West Java Province developed symptoms on 23 December 2008, was hospitalized on 27 Dec 2008 and died on 2 January 2009. The investigation indicated that she visited a wet market to buy chicken meat and eggs two days prior to symptom onset. Contacts were placed under medical observation, where none developed illness. Laboratory tests confirmed the presence of the H5N1 avian influenza virus in both cases.
Of the 141 cases confirmed to date in Indonesia, 115 have been fatal.

9 December 2008 -- The Ministry of Health of Indonesia has announced two new confirmed cases of human infection with the H5N1 avian influenza virus. A 9-year-old female from Riau Province developed symptoms on 7 November and was hospitalized on 12 November. She recovered and was discharged from hospital on 27 November. Laboratory tests confirmed the presence of the H5N1 avian influenza virus. Investigations into the source of her infection indicate poultry deaths at her home on 2 November.
The second case, a 2-year-old female from East Jakarta, developed symptoms on 18 November, was hospitalized on 26 November and died on 29 November. Laboratory tests have confirmed infection with the H5N1 avian influenza virus. Initial investigations into the source of her infection suggest exposure at a live bird market.
Of the 139 cases confirmed to date in Indonesia, 113 have been fatal.

10 September 2008 -- The Ministry of Health of Indonesia has retrospectively announced two confirmed cases of human infection with the H5N1 avian influenza virus. The first case, a 38 year old male from Tangerang Municipality, Banten Province developed symptoms on 4 July 2008, was hospitalized on 9 July and died on 10 July. There were free roaming poultry throughout his neighbourhood, including a commercial poultry pen owned by a neighbour.
The second case, a 20 year old male from Tangerang District, Banten Province developed symptoms on 20 July, was hospitalized on 29 July, and died on 31 July. Reports indicate that chickens from the case's household had died in the week preceding the onset of his symptoms and that he had slaughtered and consumed some of his stock during this period.

Of the 137 cases confirmed to date in Indonesia, 112 have been fatal.
19 June 2008 -- The Ministry of Health of Indonesia has announced two new cases of human H5N1 avian influenza infection. The cases are not linked epidemiologically. The first is a 16-year-old female from South Jakarta, DKI Jakarta Province developed symptoms on 7 May, was hospitalized on 12 May and died on 14 May. Investigations into the source of her infection indicate exposure to sick and dead poultry.
The second case is a 34-year-old female from Tangerang District, Banten Province who developed symptoms on 26 May, and was hospitalized on 2 June and died on 3 June. Investigations into the source of her infection are ongoing.

Of the 135 cases confirmed to date in Indonesia, 110 have been fatal.




Kasus rabies di Bali sejak Desember 2008 sampai Maret 2009 terus bertambah. Setelah sekian lama mereda, kasus rabies kembali mencuat.

Menurut dr Ken Wirasandi dari Rumah Sakit Umum Sanglah, Denpasar, menyatakan bahwa pasien suspect rabies sampai saat ini RS Sanglah mencatat sedikitnya 2000 kasus gigitan anjing. Angka ini diperkirakan dr Ken, setiap harinya akan bertambah dengan rata-rata harian mencapai 20-23 pasien kasus gigitan anjing (Radar Bali, 24 Maret 2009).

Terakhir RS Sanglah menerima pasien atas nama Nyoman Jama Asmara (46 tahun) warga Pecatu, Kuta Selatan. Pasien datang dengan keluhan radang tenggorokan dan sakit saat menelan ludah. Namun setelah dilakukan observasi dan pemeriksaan dengan memiliki riwayat gigitan anjing, Asmara memang menunjukkan gejala yang mengarah ke radang otak disertai gejala lain seperti kejang dan muncul gelisah seperti gejala klinis rabies umumnya. Status Asmara masih dinyatakan suspect rabies dan menjalani isolasi khusus di sal rabies untuk mendapatkan terapi dan menunggu perkembangannya.

Baru-baru ini di Bandung ditemukan produk olahan asal daging berupa abon sapi yang dicampur dengan daging babi (celeng). Produk yang ditemukan tersebut setelah pemeriksaan oleh Dinas Peternakan Jawa Barat memang terindikasi terjadi pencampuran antara daging sapi dan babi.

Perbuatan ini sungguh merugikan masyarakat sebagai konsumen. Masyarakat sebagai konsumen harusnya mendapatkan produk daging ataupun olahannya sebagai produk yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal), oleh karena itu siapapun pelaku dan apapun motifnya harus dilakukan pengusutan tuntas dan dihukum seberat-beratnya sehingga ada efek jera bagi pelaku karena perbuatan demikian menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat luas.

Sinonim: Pseudotuberkulosis.
Etiologi
Yersinia tuberculosis (paling pathogen dan sering menimbulkan penyakit). Yersinia enterocolitica, Y. fredericksenii, Y. kristensenii, Y. intermedia.
Merupakan bakteri gram negatif, batang dan motile. Dapat tumbuh pada -2 sampai 45°C. Dapat dirusak oleh pemanasan 60°C selama 1-3 menit. Lebih tahan dingin, hanya berkurang sedikit pada ayam yang disimpan pada -18°C selama 90 hari.

Kejadian dan penyakit pada hewan
Yersinia sering menyebabkan penyakit pada hewan dan burung, selain itu juga terdapat dalam saluran pencernaan berbagai jenis hewan yang tidak menunjukkan gejala klinis.
Umumnya gejala subklinis Y. pseudotuberculosis sering menyerang kelinci dan marmut. Dapat menyebabkan abortus dan placentitis pada domba.
Yersinia tersebar luas di alam dengan hewan berdarah pnas sebagai sumbernya. Terdapat pada sapi, rodensia liar. Menyebabkan penyakit pada hewan muda dan kasus penyakit lebih tinggi terjadi pada musim dingin, keadaan stress. Dari semua jenis hewan, strain bakteri yang dilepaskan oleh babi merupakan sumber terbesar penyebab wabah pada manusia.
Penularan dan penyakit pada manusia
Penularan umumnya melalui oral dengan bahan makanan dan air sebagai perantara. Makanan yang dilaporkan berhubungan dengan letupan penyakit keracunan makanan adalah susu dan hasil olahannya.
Gejala Umum
Diare, demam, sakit perut, muntah, sakit kepala, pharingitis dan dapat berlanjut menjadi enterokolitis, mesenterik limfadenitis akut dan septikemia.
Umumnya menyerang balita dengan gejala demam tinggi dan sakit perut pada bagian kanan bawah sehingga sering dikelirukan dengan radang usus buntu.
Kejadian penyakit paling sering pada orang yang menderita gangguan penyakit lain atau pada manula.
Diagnosa
Diagnosa ditegakkan dengan melakukan isolasi bakteri dari spesimen feses.
Pengobatan
Yersinia sensitif terhadap cotrimaxasole, gentamisin dan cefotaxime.


Etiologi
Trichinella spiralis.
Kejadian pada hewan
- Umum terdapat pada usus dan jaringan otot babi, tikus, anjing, kucing, hewan liar dan mamalia.
- Sapi, domba, kuda dan burung mempunyai kekebalan alami tertentu terhadap infeksi. Walaupun cacing dewasa terdapat dalam usus tapi larvanya jarang ditemukan dalam otot, oleh karena itu sapi, domba dan burung tidak berperan dalam penyebaran penyakit.
- Induk semang utama adalah babi, manusia dan tikus.
- Predileksinya bervariasi tergantung spesies induk semang.

Penularan dan penyakit pada manusia
- Sumber penularan utama adalah daging babi.
- Gejala umum pada manusia adalah enteritis, diare dan sakit perut karena penetrasi cacing dewasa pada mukosa usus.
- Manusia dapat terinfeksi cacing taenia dewasa di usus apabila makan daging yang mengandung siste. Juga dapat terbentuk siste pada otot dan organ lain apabila tertelan telur cacing.
- Sembilan hari setelah siste termakan, larva memasuki peredaran darah dan memberikan gejala seperti influenza, rasa sakit pada otot (serupa reumatik) yang disebabkan oleh toksin yang diproduksi pada otot atau organ lain.
- Penyakit pada manusia tergantung dari jumlah siste yang tertelan. Diperkirakan adanya 2000 larva pada otot memberikan gejala dan 8000 larva akan dapat menyebabkan kematian.
- Larva dapat menyebabkan myokarditis dan ensefalitis.


Etiologi
Toxoplasma gondii. Merupakan parasit intraseluler yang mampu memasuki bermacam-macam tipe sel seperti neuron, endotel, parenkim hati, alveolar paru-paru, epitel, sel otot dan leukosit.
Kejadian pada hewan
- Menyerang banyak jenis hewan termasuk ruminansia, unggas dan hewan pengerat.
- Gejala pada anjing: anoreksia, kelemahan, depresi, emasiasi, batuk-batuk, tremor, inkoordinasi, demam.
- Pada anjing bunting dapat terjadi keguguran.
- Pada babi umumnya bersifat subklinis.
- Kucing sebagai karier utama, umumnya subklinis.

Penularan dan penyakit pada manusia
Cara penularan yang umum pada manusia:
1. Ingesti ookista, terutama pada ibu-ibu yang suka berkebun, anak balita yang suka bermain dengan kucing, makan daging yang mengandung kiste dan transfuse darah maupun transplantasi organ.
Gejala klinis:
- Kiste pada otak menunjukkan gejala gangguan saraf seperti kejang-kejang, limfadenopati, demam, limfositosis, meningoensefalitis, lesi pada mata yang tidak sembuh-sembuh dan miokarditis.
- Pada wanita hamil, anak yang lahir kemungkinan hidrosefalus atau lahir mati.
Diagnosa
- Melakukan uji ELISA, PCR, Hibridisasi DNA.
Pengobatan
- Obat-obat yang dianjurkan hanya efektif terhadap bentuk proliferative T. gondii, sedangkan kiste dalam jaringan tidak dapat dimusnahkan, sehingga obat-obat hanya dapat memberantas infeksi akut tetapi tidak bisa menghilangkan infeksi menahun.
Pencegahan
1. Selalu masak daging dengan matang.
2. Mencuci tangan dengan sabun sampai bersih setelah memegang daging mentah. Memakai sarung tangan waktu berkebun.
3. Cuci tangan sebelum makan dengan bersih, serta mencuci buah atau sayur untuk bahan lalapan.
4. Menghindari kontak dengan barang-barang yang mungkin terkontaminasi tinja kucing.
5. Mencegah lalat dan kecoa menghinggapi makanan.



Agen penyebab
1. Mycobacterium tuberculosis (hanya pathogen pada manusia).
2. M. bovis, M. avium, dan M. marinum (zoonosis).
Kejadian pada hewan
Sapi menderita M. bovis, paling sering menyebarkan penyakit pada manusia. Sapi yang test tuberkulinnya (+) dilarang untuk dipotong.

Penularan pada manusia
- Reservoir utama infeksi M. bovis pada manusia adalah sapi.
- Gejala klinis tergantung dari kondisi induk semang dan lokasi masuknya bakteri.
- Gejala umum adalah kelemahan, sesak nafas, kekeurusan, dan sedikit demam. Apabila paru-paru telah terinfeksi terjadi batuk.
Diagnosa
- Diagnosa dilakukan dengan Tuberkulin Test.
- Secara klinis hanya dapat dilakukan apabila penyakit telah berlanjut menjadi batuk.
Pengobatan
- Terapi menggunakan Iso Niazin Hydracine (INH).


Etiologi
Cacing dewasa Taenia solium dengan kistenya Sistiserkus solium dan Taenia saginata dan kistenya Sistiserkus bovis.
Kejadian pada hewan
- Hewan terinfeksi Taenia saginata (sapi) atau Taenia solium (babi) akibat tertelan telur infektif yang keluar bersama feses penderita.
- Telur infektif menetas di dalam usus dan larvanya masuk melalui dinding usus, ikut peredaran darah dan membentuk kiste yang menetap pada organ predileksi. Kiste ini berisi stadium larva dari parasit.

Penularan dan penyakit pada manusia
- Apabila manusia menelan telur cacing, maka dalam tubuh dapat terbentuk kiste.
- Manusia terinfeksi apabila memakan daging yang mengandung kiste cacing. Di dalam usus, kiste terbuka dan berlanjut menjadi cacing dewasa yang melekat pada dinding usus.
- Gejala pada manusia tergantung dari penyebaran larva.
- Gejala: kekurusan, diare, gangguan usus buntu, anemia, keluarnya proglotid yang berisi telur infektif bersama kotoran. Gejala yang berat bisa menyerang otak seperti adanya gangguan keseimbangan ataupun penglihatan, kejang-kejang seperti gejala epilepsi.
Diagnosa
Pemeriksaan telur cacing pada feses.
Pengobatan
- Niklosamide dan diklorfen.



Etiologi
Streptococcus suis tipe 2. Bakteri ini gram positif, aerobik, mikroerophilik.
Untuk membedakan spesies Streptococcus dengan metode Lancefield yaitu mendeteksi perbedaan antigenik pada bagian polisakarida dinding sel/kapsul bakteri. S. suis adalah alpha dan beta hemolitik, yang terbagi atas tipe 1 dan 2. Tipe satu tergolong dalam Lancefield group 8 dan tipe 2 dalam group R. Yang diketahui zoonosis adalah S. suis dan sering endemik pada babi.

Kejadian penyakit pada hewan
- S. suis tipe 2 bersifat zoonosis.
- Secara normal ditemukan pada tonsil babi sehat (umumnya anak babi mendapatkan bakteri dari induknya).
- Babi yang carrier (pembawa) berperan sebagai sumber penularan bakteri. Bakteri terutama terdapat pada larynx dan paru-paru dari bakteri terinfeksi.
- Gejala yang terlihat berupa turunnya nafsu makan, depresi dan kesulitan berjalan, paralisa, septikemia, arthritis, bronchopneumonia atau gejala syaraf yang lain.
- Angka mortalitas paling tinggi pada anak babi belum disapih, dengan kejadian umumnya hiperakut.
Penularan dan penyakit pada manusia
- Penularan penyakit melalui inhalasi, kontak dengan hewan atau karkas yang terinfeksi, ingesti dan bisa masuk melalui luka pada kulit.
- Kasus pada manusia paling sering pada mereka yang babinya terinfeksi atau menangani pemotongan babi yang terinfeksi (pemeriksa daging, penjual daging, pekerja RPH, dokter hewan).
Gejala Klinis
Meningitis dan septikemia (mirip dengan penyakit pada babi). Meningitis ditandai dengan gangguan pendengaran, selanjutnya dapat terjadi arthritis, endophalmitis.
Pengobatan
- Pengobatan dengan pemberian antibiotika.


Agen penyebab:
Berbagai serovar (sekitar 500) dari sekitar 2300 serovar Salmonella yang telah diidentifikasi. Bakteri ini gram negatif, batang pendek, memfermentasi laktosa, sukrosa dan salisin menghasilkan gas.
Epidemiologi
Dari segi epidemiologi, Salmonella dibedakan menjadi 3 grup:
1. Yang patogen pada manusia, yaitu S. typhi, S. paratyphi A, B dan C. Salmonella paratyphi B disebut juga S. schottmuelleri dan S. paratyphi C disebut S. hirschfeldii. Bakteri ini menyebabkan penyakit typhus dan paratyphus dan tidak zoonosis.
2. Serotipe yang mempunyai host pada hewan tertentu (umumnya patogen pada manusia dan dapat disebarkan melalui makanan) yaitu S. gallinarium (ayam), S. Dublin (sapi), S. abortusequi (kuda), S. abortus ovis (domba), S. cholerasuis (babi).
3. Serotipe yang tidak mempunyai host khusus (patogen pada manusia dan hewan lain dan termasuk penyebab Foodborne Disease).

Kejadian dan penyakit pada hewan
- Semua serovar kecuali S. typhi dan S. paratyphi menyebabkan penyakit pada berbagai hewan. Salmonella telah diisolasi pada berbagai jenis hewan, termasuk hewan liar, kura-kura, serangga dan reptilian.
- Hewan dapat mengeluarkan Salmonella dari tubuhnya tanpa menunjukkan gejala klinis sakit.
- Gejala pada hewan umumnya berupa gastroenteritis.
Penularan dan kejadian penyakit pada manusia
- Infeksi manusia umumnya melalui tertelannya makanan dan minuman yang tercemar feses yang mengandung salmonella.
- Habitat utama Salmonella adalah saluran usus hewa dan manusia. Bakteri ini tersebar melalui feses yang dapat mencemari lingkungan termasuk air, pekerja makanan sehingga sampai pada bahan makanan dan menyebabkan penyakit apabila tertelan dalam jumlah yang memadai.
- Penyebaran bakteri pada daging terjadi saat pemotongannya tercemar oleh kotoran feses, bulu, kulit dan bahan lain yang tercemar oleh feses. Salmonella diisolasi paling sering pada unggas.
Gejala Klinis
- Gejala klinis tergantung dari serotype dan patogenitas bakteri.
- Salmonellosis (tidak termasuk demam tipes) mempunyai masa inkubasi 12-14 jam dengan gejala utama gastroenteritis.
Diagnosa
1. Isolasi bakteri dalam darah pada masa septikemia.
2. Pengukuran titer antibodi dalam darah.
3. Isolasi bakteri pada feses penderita.
4. Isolasi bakteri pada sisa makanan penderita.
Pengobatan
Terapi penderita dengan pemberian antibiotika.


Agen penyebab: Campylobacter jejuni, C. fetus, dan C. coli.
Epidemiologi
- C. fetus menyebabkan abortus dan infertilitas pada domba dan sapi.
- C. fetus menyebar dari sapi ke sapi melalui perkawinan alami.
- C. jejuni selain menyebabkan penyakit pada manusia juga pada hewan domestic, unggas dan hewan liar.
- C. coli menyebabkan penyakit pada babi terutama yang berumur > 6 bulan.
- Hewan dapat mengeluarkan bakteri pada fesesnya tanpa menunjukkan gejala sakit.

Penularan dan gejala penyakit pada manusia
- Terutama melalui infeksi oral (kontak langsung atau tidak langsung dengan feses hewan teinfeksi).
- Melalui makanan, seperti susu mentah dan daging unggas.
- Organism yang bertahan hidup dari keadaan asam lambung masuk ke usus kecil (jejunum dan ileum) dan ke kolon untuk berkembang dan berproliferasi.
- Masa inkubasi 2-5 hari.
- Kesembuhan dapat terjadi setelah 5-7 hari.
- Gejala utama adalah enteritis difusa atau enterokolitis, mual, lemah, sakit kepala. Bakteremia terjadi terutama pada pasien yang mengalami gangguan system kekebalan atau pada anak usia muda.
- Gejala lain adalah meningitis, infeksi saluran kemih, septic arthritis, cholangitis dan cutaneal absces. Gejala enterokolitis adalah keram perut dan diare berdarah.
Diagnosa
- Kultur spesimen feses dan darah untuk mengisolasi organisme (dibutuhkan tahap enrichment)
- Apabila feses negatif, dilanjutkan dengan Direct Fluorescent Antibody Test pada sampel feses.



Nama lain: Hidatid Disease.
Etiologi
Larva (sistik) dari cacing pita. Ada 3 spesies Echinococcus yaitu E. granulosus, E. vogeli dan E. multilacularis.
Kejadian pada hewan
- Induk semang definitif E. granulosus yang paling umum adalah anjing domestik (termasuk juga dingo, serigala, cayote dan jackal).
- Induk semang antara adalah domba (paling sering), sapi, unta, kerbau, kuda, kambing dan rodensia.
- Anjing domestik dan kucing dapat tertular apabila termakan rodentsia infektif.
- Infeksi Echinococcus dapat ditoleransi dengan baik oleh induk semang hewan.
- Anjing dan induk semang definitive lain dapat mengandung beribu cacingg dalam ususnya tanpa menunjukkan gejala diare dan gejala lainnya. Domba yang mengandung siste hidatid juga sulit dibedakan dengan domba sehat lainnya.

Penularan dan penyakit pada manusia
Cara penularan:
- Cacing dewasa Echinococcus (5-10 mm) terdapat dalam usus induk semang definitif (canine).
- Telur yang mengandung embrio infektif dikeluarkan bersama feses.
- Apabila tertelan oleh iinduk semang antara, telur menetas dan mengeluarkan onchospere yang kemudian berpenetrasi pada mukosa usus dan bermigrasi melalui vena atau saluran limfe pada organ lain.
- Pada organ ini, metacestoda atau siste hidatid berkembang menghasilkan beribu protoscolices.
- Ketika tertelan oleh anjing atau induk semang lainnya setiap protoscolices dapat berkembang menjadi cacing dewasa.
- Manusia terutama anak-anak sering tertular Echinococcus sebagai induk semang antara, yaitu tertelan telur Echinococcus.
- Hal ini terjadi karena masuknya telur ke mulut melalui tangan yang tercemar telur cacing setelah kontak dengan anjing. Jalan masuk lainnya melalui tanah, air, makanan yang tercemar feses anjing. Kontaminasi makanan oleh feses tikus liar, kutu dan kecoak yang mengandung proglotid karena sebelumnya menelan feses anjing terinfeksi.
- Lalat dapat menyebarkan penyakit setelah hinggap pada feses anjing.
- Sumber lain: bulu domba yang telah digembalakan pada rerumputan yang telah terkontaminasi oleh feses anjing gembala.
Gejala Klinis
- Paling sering terjadi: E. granulosus, menyebabkan terbentuknya kiste pada hati, paru-paru, ginjal, limfa, jaringan syaraf dan tulang.
- E. multilocularis menyebabkan alveolar hidatid disease yang sangat invasive dan destruktif yang menyebabkan tumor solid yang sering dikelirukan dengan sirosis atau karsinoma.
- E. vogeli menyebabkan polisistik hidatid yang member gejala seperti penyakit oleh E. granulosus dan E. multilocularis.
- Gejala klinis pada manusia adalah rasa sakit pada perut, batuk, demam naik turun, sakit kepala, muntah, berkeringat banyak dan terjadi diare.
Diagnosa
Hemaglutination Test dan Complement Fixation Test (CFT).
Pencegahan
Pencegahan anjing tertular Echinococcus dengan cara:
- Mencegah member makan induk semang antara yang infektif. Pengawasan pemotongan hewan untuk mencegah dijualnya daging yang menganduung siste dan pemusnahan yang baik bahan apkirann RPH agar tidak dimakan oleh hewan lain.
- Perlindungan personal dengan menjaga kebersihan dan mencuci tangan sebelum makan.



Nama lain: Haverhill Fever.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Streptobacillus monoliformis, Spirillium minor. S. monoliformis merupakan bakteri yang sering diisolasi pada saluran pernafasan atas hewan liar atau tikus. Dapat menyebabkan polyarthritis pada tikus.

Penularan dan penyakit pada manusia
- Penularan pada manusia terutama akibat gigitan tikus.
- Orang yang beresiko adalah pekerja atau teknisi laboratorium yang menngurus pemeliharaan tikus percobaan.
S. monoliformis:
- Masa inkubasi kurang dari 10 hari dengan gejala umum demam, dingin dan kekakuan.
- Beberapa hari setelah demam terjadi arthritis. Apabila tidak dilakukan pengobatan dapat terjadi komplikasi endokarditis, perikarditis, pneumonia. Laju mortalitas untuk kedua agen penyakit mencapai 6-10 %.
Spirillium minor
- Masa inkubasi 10 hari – 3 minggu. Setelah terjadi gigitan, luka menjadi bernanah dan terjadi lymphangitis.
Diagnosa
- Isolasi agen penyebab S. moniliformis pada kultur darah atau demonstrasi adanya Spirillium minor (belum berhasil ditanam pada media buatan) dengan pemeriksaan mikroskop lapangan gelap (dark field microscopy) pada preparat ulas darah.
Pengobatan
- Terapi dengan penyuntikan penisilin intravena 7-10 hari.


Sinonim: Penyakit anjing gila, Lyssa, Hydrophobia, Rage, Tollwut.
Agen penyebab: Lyssa virus dari famili Rhabdovirus.
Kejadian pada hewan
- Menyerang semua makhluk berdarah panas.
- Penularan antara hewan terjadi melalui gigitan transplasental (pada Skunk), aerosol (pada kelelawar).
- Masa inkubasi 3-8 minggu (bervariasi 2 minggu sampai 2 tahun). Secara klinis dikenal bentuk membabi buta/ ganas (atypical form).

Penularan dan penyakit pada manusia
1. Terutama melalui gigitan hewan terinfeksi.
2. Manusia merupakan titik akhir rantai penularan. Penularan dari manusia ke manusia sampai sekarang belum dilaporkan.
Diagnosa
Berdasarkan adanya gigitan anjing di daerah endemik.
Pengobatan
1. Vaksin anti rabies dikombinasikan dengan serum antirabies disamping pengobatan luka gigitan dengan air sabun atau deterjen yang lain.
Pencegahan
- Peraturan yang ketat pada transportasi hewan ke daerah bebas rabies.
- Pembasmian anjing tak berpemilik (anjing liar).
- Vaksinasi anjing pada daerah endemik.



Etiologi
Ricketsia Coxiela burnetti.
Kejadian dan penyakit pada hewan
- Terdapat pada berbagai jenis hewan domestik dan tidak dipelihara (feral) tanpa menunjukkan gejala klinis.
- Di New Zealand, kerbau-kerbau feral diduga sebagi sumber infeksi pada hewan dan manusia.
- Riketsia dikeluarkan hewan melalui air susu, urin, feses, cairan uterus dan plasenta.
- Masa inkubasi 2-3 minggu
- Prepalensi lebih tinggi pada sapi perah dibandingkan dengan sapi potong.

Penularan dan penyakit pada manusia
- Penularan melalui inhalasi dan ingesti, plasenta dan kolostrum.
- Infeksi pada manusia terutama karena menghirup C. burnetti dalam udara atau debu dari kambing, sapi, domba yang terinfeksi.
- Hewan lain seperti anjing, kucing, kuuda, rusa berperan sebagai sumber penularan.
- Riketsia dapat terbawa angin dan mengkontaminasi bulu hewan, wool, pakaian, bahkan rambut dan bulu anjing sehingga kemana-mana.
- Orang yang beresiko adalah pekerja RPH, dokter hewan lapangan, peternak, dan pekerja pengangkut ternak.
Gejala Klinis
1. Secara khas gejala akut ditandai dengan demam mirip flu yaitu demam tinggi, menggigil, sakit kepala amat sangat dan berkeringat banyak, fotophobia, dan rasa sakit pada persendian otot.
2. Jalannya penyakit akut berlangsung 1-4 minggu diikuti penurunan berat badan.
3. Pada prooses pertengahan penyembuhan, komplikasi sekunder dapat terjadi yaitu myopericarditis, plural effusion, orchitis, epididymitis, nekrosis sumsum tulang atau thrombosis arteri/vena perifer.
4. Pada keadaan akut atau subklinis, pada saat 3-12 bulan kemudian dapat terjadi swinging fever, mual, lemas,, fatique dan menurunnya berat badan. Dapat juga terjadi clubbing pada jari-jari, hematuria, pembesaran limfa dan jantung, emboli arteri.
Pengobatan
- Pengobatan Q Fever pada manusia adalah dengan tetrasiklin dan kloramfenikol. Di Australia pekerja beresiko mendapat penularan penyakit ini diharuskan mendapat vaksinasi yang kekebalannya berlangsung lima tahun.



Rabies atau dikenal sebagai Lyssa, Tollwut, Hydrophobia, atau di Indonesia dikenal sebagai Anjing Gila adalah infeksi viral dan akut pada susunan saraf yang klinis ditandai kelumpuhan yang progresif dan berakhir dengan kematian. Penyakit ini dapat menginfeksi semua hewan berdarah panas dan merupakan masalah pada manusia karena bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia).

Rabies merupakan salah satu penyakit tertua dan paling ditakuti manusia, pertama kali dikenal di Mesir (Zaman Pemerintahan Kerajaan Babilonia) dan Yunani Kuno sekitar tahun 2300 sebelum Masehi. Rabies selanjutnya ditemukan di sebagian besar dunia, termasuk Indonesia. Sedangkan Negara-negara yang bebas rabies adalah Australia, Selandia Baru, Inggris, Belanda, Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat), dan sejumlah pulau-pulau terpencil di Pasifik.

Tiap-tiap negara yang mengenal rabies mempunyai vektor-vektor utama sendiri. Di Amerika Selatan dan Tengah yang beriklim tropis, anjing, kucing, kelelawar penghisap darah (vampire) dan kelelawar pemakan serangga memegang peranan sebagai vektor rabies. Di seluruh Negara di Afrika yang memegang peranan sebagai penyebar utama ialah anjing, kucing, jakal dan monggus. Di Timur Tengah yang meneruskan rabies terutama pada lembu yaitu anjing, dan anjing hutan (wolves). Sedangkan di Asia yang berperanan sebagai penyebar rabies adalah anjing dan kucing.

Penyebab
Rabies disebabkan oleh virus yang termasuk dalam keluarga Rhabdoviridae dan genus Lyssavirus. Rhabdovirus merupakan golongan virus yang bentuknya menyerupai peluru, dengan panjang kira-kira 180 nm dan garis tengahnya 75 nm. Pada permukaannya terdapat bentuk-bentuk pancang (spikes) yang panjangnya 9 nm.
Virus rabies peka terhadap panas. Suspensi virus sudah diinaktifkan pada suhu 50 selama 15 menit. Fenol, eter, chloroform, formaldehid dan basa ammonium kuartener dapat menginaktifkan virus rabies.

Gejala Klinis
Gejala klinis rabies mirip pada sebagian besar spesies, tetapi sangat bervariasi antar individu. Setelah terjadi gigitan hewan penderita rabies, masa inkubasi biasanya antara 14-90 hari tetapi bisa sampai 7 tahun. 95% masa inkubasi rabies 3-4 bulan, dan hanya 1% kasus dengan inkubasi 7 hari sampai 7 tahun. Karena lamanya masa inkubasi tersebut kadang-kadang pasien tidak dapat mengingat kapan terjadinya gigitan.
Gejala klinis pada hewan dikenal dua bentuk yaitu bentuk beringas dan bentuk paralisis. Bentuk beringas hewan menjadi gelisah, gugup, agresif dan menggigit apa saja yang ditemuinya, respon berlebihan pada suara dan sinar, takut air (hydrophobia) dan keluar air liur berlebihan (hipersalivasi).

Bentuk paralisis ditandai dengan ensefalitis disertai kelemahan bagian belakang tubuh yang menyebabkan hewan berjalan terhuyung-huyung, keganasan berubah menjadi kelumpuhan, kejang-kejang, koma dan terhentinya pernafasan hingga berakhir dengan kematian.
Rabies di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena hampir selalu menyebabkan kematian (always almost fatal) setelah timbul gejala klinis dengan tingkat kematian sampai 100%.

Rabies pada manusia biasanya melalui kontak dengan binatang anjing, kera, kucing, serigala, kelelawar melalui gigitan atau kontak virus lewat air liur dengan luka. Infeksi lain yaitu melalui inhalasi dilaporkan pada orang yang mengunjungi gua-gua kelelewar tanpa adanya gigitan. Virus masuk ke dalam ujung saraf yang ada pada otot di tempat gigitan dan memasuki ujung saraf tepi sampai mencapai sistem saraf pusat yang biasanya pada sumsum tulang belakang selanjutnya menyerang otak.

Gejala awal rabies pada manusia berupa demam disertai rasa kesemutan pada tempat gigitan, malaise (rasa tidak enak badan), mual, dan rasa nyeri di tenggorokan. Selanjutnya disusul dengan gejala cemas, gelisah dan reaksi berlebihan terhadap rangsangan sensoris (stimulus-sensitive myoclonus). Tonus otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala-gejala hipersalivasi, hiperlakrimasi, pupil dilatasi dan paralisis, koma kemudian berakhir dengan kematian.

Sejarah Rabies di Indonesia
Rabies di Indonesia pertama kali ditemukan pada kerbau oleh Esser (1884), anjing oleh Penning (1889), dan pada manusia oleh E.V.de Haan (1894) yang ketiganya ditemukan di Jawa Barat. Selanjutnya beberapa tahun kemudian kasus rabies ditemukan di Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (1953), Sumatera Utara (1956), Sumatera Selatan dan Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), Aceh (1970), Jambi dan Yogyakarta (1971), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983), Pulau Flores NTT (1997), Pulau Ambon dan Pulau seram (2003).

Dengan tertularnya Bali sebagai daerah wabah baru sejak 1 Desember 2008 melalui Peraturan menteri Pertanian No.1637/2008 maka daerah bebas sampai saat ini adalah NTB, NTT kecuali Pulau Flores, Maluku, Irian Jaya (sekarang Papua), Kalimantan Barat, Pulau Madura dan sekitarnya, Pulau-pulau di sekitar Pulau Sumetera, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Rabies pada manusia telah menimbulkan banyak korban. Dari tahun 1977 hingga 1978 sebelas provinsi mencatat 142 kasus rabies pada manusia. Selama periode 1979-1983 di Indonesia telah dilaporkan 298 kasus rabies dengan rata-rata 60 kasus per tahun. Penyebaran daerah rabies berjalan terus sampai sekarang. Pada dekade Sembilan puluhan kejadian di Pulau Sumetera per tahun tidak kurang dari 1000 kasus hewan ditemukan menderita rabies. Sedangkan kasus rabies yang dilaporkan di Pulau Flores selama tahun 1997-2005 dari 11.786 jumlah gigitan hewan penular rabies (HPR), sebanyak 149 orang dinyatakan meninggal (1,35%). Insiden rata-rata per tahun kasus rabies pada manusia memang kecil dibandingkan dengan penyakit menular lainnya namun efek psikologisnya sangat besar terutama pada manusia yang telah digigit anjing dan secara ekonomis sangat merugikan karena dapat mengancam kepariwisataan.

Pencegahan dan Pengendalian
Virus rabies tidak stabil di lingkungan dan biasanya hanya menimbulkan resiko bila ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan penderita rabies. Karena di Indonesia umumnya HPR adalah anjing, maka menurut Ressang (1983), bila rabies dapat diberantas pada anjing maka dengan sendirinya penyakit ini tidak akan menyerang lebih luas. Dengan kata lain vektor utama rabies harus dapat dikendalikan untuk dapat mengurangi resiko penularan lebih lanjut dari rabies tersebut.

Lebih lanjut menurutnya pemberantasan rabies di Indonesia hendaknya berdasarkan: 1). penyadaran kepada masyarakat tentang arti rabies dan mengikutsertakannya dalam kampanye pemberantasan rabies. 2). Eliminasi anjing liar sebagai vektor utama yang menyebarkan virus rabies. 3). Vaksinasi, sebagai tindakan preventif baik pada hewan maupun manusia.

Sedangkan Tri Satya Naipospos (mantan Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan) menyarankan bahwa pengendalian terhadap rabies dengan metode LAS (Local Area Spesific Problem Solving) atau pemecahan masalah melalui pendekatan spesifik wilayah karena permasalahan spesifik masing-masing daerah berbeda. Secara umum kegiatan pengendalian dilakukan dengan vaksinasi semua populasi HPR, observasi terhadap hewan tersangka rabies, eliminasi HPR liar, pemberian Vaksin Anti Rabies bagi orang beresiko tertular, dan yang paling penting terutama pengawasan lalu lintas antar kabupaten/kota dengan pemanfaatan pos (check point) dan di pintu-pintu masuk (entry point) oleh petugas karantina untuk mencegah masuknya rabies ke daerah bebas atau mencegah penularan lebih luas.

Untuk perawatan kepada orang sesudah digigit oleh anjing atau dicurigai menderita rabies yang terpenting adalah perawatan pada luka/tempat gigitan. Pertama luka dibiarkan mengeluarkan banyak darah, kemudian luka dibersihkan dengan sabun dan selanjutnya luka didesinfeksi (bisa dengan alkohol 40-70%, basa ammonium kuartener, atau yodium tincture). Virus dalam luka dapat dinetralisir dengan suntikan infiltrasi jaringan di sekitar luka dengan serum imun atau dengan menebarkan bedak desinfektan dalam luka.




Tertularnya Bali sangat mengejutkan dan menunjukkan bahwa kita telah kecolongan lagi seperti mewabahnya Flu Burung beberapa tahun lalu tanpa bisa diantisipasi sejak dini. Dampak dari wabah ini bagi Bali tentu sangat merugikan karena Bali merupakan pusat pariwisata utama dunia, di mana dengan adanya rabies akan mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan apalagi menurut OIE (Office International des Epizooties / Badan Kesehatan Hewan Dunia) bahwa rabies di negara berkembang merupakan penyakit nomer dua paling ditakuti wisatawan mancanegara setelah penyakit malaria.

Bali juga memiliki populasi anjing yang tinggi yakni sekitar 540.000 ekor dengan kepadatan 96 ekor per kilometer persegi, sehingga program pemberantasan harus dilakukan dengan cepat dan tepat baik teknis dan utamanya alokasi dana yang sangat besar harus disiapkan. Gusti Ngurah Mahardika dari FKH Universitas Udayana menyatakan bahwa pulau Bali bisa bebas kembali dari rabies dalam waktu maksimal satu tahun apabila penanganannya diperkuat dan dipercepat. Salah satunya adalah optimalisasi vaksinasi dari daerah terpapar (kabupaten Badung dan kota Denpasar) ke daerah terancam yaitu 7 kabupaten lainnya di Bali (Kompas, 4 Pebruari 2008).

Rabies dan kesehatan masyarakat
Rabies atau juga dikenal sebagai Lyssa, Tollwut, Hydrophobia dan di Indonesia dikenal dengan Anjing Gila adalah infeksi viral dan akut pada susunan saraf ditandai dengan kelumpuhan yang progresif dan berakhir dengan kematian. Rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) tertua yang pertama kali dikenal di Mesir dan Yunani Kuno sejak tahun 2300 sebelum Masehi.

Rabies ditemukan di sebagian besar dunia, sedangkan negara-negara yang hingga kini bebas dari rabies adalah Australia, Selandia Baru, Inggris, Belanda, Hawaii (Amerika Serikat) dan sejumlah pulau-pulau terpencil di Pasifik. Kejadian rabies di Indonesia sudah lama ditemukan dan hampir semua daerah tertular virus.

Rabies pertama kali ditemukan pada kerbau oleh Esser (1884), anjing oleh Penning (1889), dan pada manusia oleh E.V.de Haan (1894) yang ketiganya ditemukan di Jawa Barat. Selanjutnya beberapa tahun kemudian kasus rabies ditemukan di Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (1953), Sumatera Utara (1956), Sumatera Selatan dan Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), Aceh (1970), Jambi dan Yogyakarta (1971), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983), Pulau Flores NTT (1997), Pulau Ambon dan Pulau seram (2003).

Rabies di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena hampir selalu menyebabkan kematian (always almost fatal) setelah timbul gejala klinis dengan tingkat kematian sampai 100%.

Peningkatan kewaspadaan
Dengan dinyatakannya Bali sebagai daerah wabah baru maka daerah yang masih bebas rabies berdasar SK Menteri Pertanian tahun 1999 saat ini adalah NTB, NTT kecuali Pulau Flores, Maluku, Irian Jaya (sekarang Papua), Kalimantan Barat, Pulau Madura dan sekitarnya, Pulau-pulau di sekitar Pulau Sumetera, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Dari kenyataan-kenyataan tentang rabies tersebut, hal yang penting dilakukan adalah peningkatan kewaspadaan dini terhadap rabies. Kewaspadaan yang tinggi terutama bagi daerah-daerah bebas ditujukan untuk mengantisipasi masuknya wabah melalui perpindahan hewan penular seperti anjing liar yang berpindah tempat, atau dibawa warga ke daerah lain yang belum tertular. Bagi daerah bebas supaya tetap bebas harus menyiagakan diri dengan melaksanakan karantina ketat guna menghindari perpindahan hewan penular

Penyadaran kepada masyarakat (public awareness) melalui penyuluhan atau sosialisasi rabies, sehingga masyarakat memiliki kesadaran akan bahaya penyakit ini harus terus dilakukan terutama bagi masyarakat atau karena profesinya seringkali bepergian seperti nelayan dan awak kapal, yang menurut laporan bahwa terjadinya wabah rabies di Flores ditularkan melalui anjing yang dibawa nelayan setempat secara ilegal dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

drh. S. Wahyudi (swwahyudi@gmail.com)




Bali akhirnya dinyatakan sebagai daerah berstatus wabah rabies sejak 1 Desember 2008 melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 1637/2008. Tindak lanjut dari Peraturan Menteri Pertanian tersebut, Gubernur Bali mengeluarkan peraturan Gubernur No. 88/2008 tentang penutupan sementara pemasukan dan pengeluaran anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya dari dan ke propinsi Bali.

Penetapan sebagai daerah wabah rabies tersebut dikeluarkan setelah melalui kajian gejala klinis yang tampak pada anjing sebagai hewan penular rabies (HPR) dan manusia sebagai korban gigitan.

Rabies di Bali terungkap setelah 4 orang dari tiga desa di Bali digigit anjing selama periode September-Nopember 2008. Dari 4 orang itu, 2 positif tertular rabies, dan 2 orang lain memiliki riwayat digigit anjing.

Sejak dinyatakan sebagai daerah rabies  tindakan pemberantasan telah dilakukan mulai dari eliminasi anjing liar tak bertuan sampai tindakan vaksinasi pada anjing yang dipelihara dengan baik (Kompas, 6 Desember 2008).

Kenapa Bali sangat serius terhadap rabies tersebut?. Jawabannya karena Bali memiliki populasi anjing yang tinggi yakni diperkirakan sekitar 540.000 ekor.  Bali juga merupakan pusat pariwisata utama dunia, di mana dengan adanya rabies akan mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan apalagi menurut OIE (Office International des Epizooties / Badan Kesehatan Hewan Dunia) bahwa rabies  di negara berkembang merupakan penyakit nomer dua paling ditakuti wisatawan mancanegara setelah penyakit malaria.

Lalu bagaimana dengan NTB?. Ada dua hal penting yang harus menjadi perhatian dalam menyikapi adanya rabies di Bali.

Pertama, secara geografis NTB dekat dengan Bali dan NTB juga salah satu daerah wisata serta memiliki populasi anjing liar yang cukup tinggi maka rabies harus diwaspadai.

Kedua, dengan dinyatakannya Bali sebagai daerah wabah rabies baru maka sebenarnya saat ini NTB berada di tengah-tengah 2 daerah rabies, yaitu Bali dan NTT khususnya Pulau Flores yang sejak tahun 1997 terinfeksi rabies yang telah banyak menimbulkan korban manusia.

Dua hal di atas harus lebih diwaspadai oleh kita semua di NTB dengan mempersiapkan tindakan pencegahan, maupun penyadaran masyarakat (public awareness) terhadap rabies.
Rabies atau juga  dikenal sebagai Lyssa, Tollwut, Hydrophobia dan di Indonesia dikenal dengan Anjing Gila adalah infeksi viral dan akut pada susunan saraf ditandai dengan kelumpuhan yang progresif dan berakhir dengan kematian.

Rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) tertua yang pertama kali dikenal di Mesir dan Yunani Kuno sejak tahun 2300 sebelum Masehi. Rabies ditemukan di sebagian besar dunia dan negara-negara yang hingga kini bebas dari rabies adalah Australia, Selandia Baru, Inggris, Belanda, Hawaii (Amerika Serikat) dan sejumlah pulau-pulau terpencil di Pasifik.

Rabies di Indonesia pertama kali ditemukan pada kerbau oleh Esser (1884), anjing oleh Penning (1889), dan pada manusia oleh E.V.de Haan (1894) yang ketiganya ditemukan di Jawa Barat.

Selanjutnya beberapa tahun kemudian kasus rabies ditemukan di Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (1953),  Sumatera Utara (1956), Sumatera Selatan dan Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), Aceh (1970), Jambi dan Yogyakarta (1971), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975),  Kalimantan Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983), Pulau Flores NTT (1997), Pulau Ambon dan Pulau seram  (2003).

Gejala klinis rabies mirip pada sebagian besar spesies, tetapi sangat bervariasi antar spesies. Setelah terjadi gigitan hewan penderita rabies, masa inkubasi biasanya antara 14-90 hari tetapi bisa sampai 7 tahun. 95% masa inkubasi rabies 3-4 bulan, dan hanya 1% kasus dengan inkubasi 7 hari sampai 7 tahun. Karena lamanya masa inkubasi tersebut kadang-kadang pasien tidak dapat mengingat kapan terjadinya gigitan.

Gejala klinis pada hewan dikenal dua bentuk yaitu bentuk beringas dan bentuk paralisis. Bentuk beringas hewan menjadi gelisah, gugup, agresif dan menggigit apa saja yang ditemuinya, respon berlebihan pada suara dan sinar, takut air (hydrophobia) dan keluar air liur berlebihan (hipersalivasi).

Bentuk paralisis ditandai dengan ensefalitis disertai kelemahan bagian belakang tubuh yang menyebabkan hewan berjalan terhuyung-huyung, keganasan berubah menjadi kelumpuhan, kejang-kejang, koma dan terhentinya pernafasan hingga berakhir dengan kematian.

Rabies dan kesehatan masyarakat
Rabies di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena hampir selalu menyebabkan kematian (always almost fatal) setelah timbul gejala klinis dengan tingkat kematian sampai 100%.

Rabies pada manusia biasanya melalui kontak dengan binatang anjing, kera, kucing, serigala, kelelawar  melalui gigitan atau kontak virus lewat air liur dengan luka. Infeksi lain yaitu melalui inhalasi dilaporkan pada orang yang mengunjungi gua-gua kelelewar tanpa adanya  gigitan.

Virus masuk ke dalam ujung saraf yang ada pada otot di tempat gigitan dan memasuki ujung saraf tepi sampai mencapai sistem saraf pusat  yang biasanya pada sumsum tulang belakang selanjutnya menyerang otak.

Gejala awal rabies pada manusia berupa demam disertai rasa kesemutan pada tempat  gigitan, malaise (rasa tidak enak badan), mual, dan rasa nyeri di tenggorokan. Selanjutnya disusul dengan gejala cemas, gelisah dan reaksi berlebihan terhadap rangsangan sensoris (stimulus-sensitive myoclonus).

Tonus otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala-gejala hipersalivasi, hiperlakrimasi, pupil dilatasi dan paralisis, koma kemudian berakhir dengan kematian.

Kewaspadaan dan pencegahan
Mengingat bahaya rabies tersebut, maka sebagai langkah pencegahan bagi NTB yang masih berstatus bebas yaitu meningkatkan kewaspadaan dini (early warning system) dengan melakukan surveilans.

Selain itu mempersiapkan tindakan karantina yang ketat terhadap pemasukan hewan yang berpotensi sebagai pembawa virus rabies seperti anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya mengacu pada Keputusan Menteri Pertanian No. 1096/Kpts/TN.120/10/1999, tentang pemasukan anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya ke wilayah/daerah bebas rabies di Indonesia.

Penyadaran masyarakat (public awareness) melalui penyuluhan atau sosialisasi terhadap rabies harus terus dilakukan, sehingga masyarakat memiliki kesadaran terhadap rabies.

Bagi masyarakat peran serta secara aktif sangat diharapkan terutama orang yang mempunyai sejarah pernah digigit anjing agar melaporkan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang memadai.

Sinonim: Creeping Eruption.
Etiologi
Stadium ketiga larva Ancylostoma caninum dan Uncinaria stenocephala.
Kejadian pada hewan
- Anjing merupakan induk semang cacing dewasa Ancylostoma caninum.
- Uncinaria stenocephala dan A. caninum menular dari induk ke anak anjing secara transmamaria/air susu.
- Gejala pada anjing yaitu anemia, hipoproteinemia, kurangnya stamina dan dermatitis terutama pada tungkai.

Penularan dan penyakit pada manusia
- Kontak langsung kulit dengan feses anjing infektif.
- Gejala berupa lesi kulit dengan rasa pruritis yang dengan cepat melebar 1-2 cm/hari apabila tidak diobati. Lesi dapat menghiilang tetapi muncul pada tempat lain yang dapat berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Diagnosa
Berdasarkan gejala klinis.
Pengobatan
Thiabendazole secara oral.



Etiologi
Genus Pasteurella terdiri dari beberapa spesies, diantaranya P. multocida yang telah diketahui zoonosis. Gram negatif, bentuk batang atau kokobasilus, aerobic, non motil. Secara umum bakteri dapat diisolasi dari nasopharynx berbagai hewan termasuk manusia.

Kejadian dan penyakit pada hewan
- P. multocida sering terdapat pada saluran pencernaan bagian atas hewan terutama kucing, anjing, babi dan rodensia.
- Berperan sebagai penyebab infeksi primer atau sekunder penyebab pneumonia, encephalitis, arthritis dan mastitis pada berbagai hewan termasuk domba, babi, anjing, kucing dan rodensia.
- Menyebabkan septikemia akut pada ayam dan kelinci. Infeksi lokal berbentuk abses sering ditemui pada kucing dalam hubungannya dengan luka akibat berkelahi antar sesama.
Penularan dan penyakit pada manusia
- Penularan dapat terjadi melalui gigitan hewan terutama kucing. Infeksi juga dapat terjadi melalui inhalasi.
- Infeksi pada manusia dibagi dalam 3 kelompok:
1. Infeksi setelah gigitan atau cakaran.
2. Infeksi setelah kontak dengan hewan tanpa melalui gigitan atau cakaran.
3. Infeksi tanpa pernah ada kontak dengan hewan.
- Gejala umum adalah sellulitis fokal dan limfadenitis, erythema, rasa sakit dan pembengkakann pada daerah luka setelah dicakar hewan.
- Cairan serosanguinis dari luka dalam 1-2 hari setelah tampaknya gejala pertama. Limfadenopathy terjadi pada sekitar sepertiga kasus. Infeksi local termasuk osteomyelitis dan septic arthritis memperlambat kesembuhan. Infeksi secara inhalasi menyebabkan pneumonia dan bronchitis kronis, abses paru-paru dan epiglotitis akut, septicemia dan peritonitis.
Diagnosa
- Isolasi bakteri dari swab luka atau specimen misalnya ludah, nanah dan darah.
Pengobatan
- Penyakit dapat diterapi dengan antibiotika penisislin, amoxilin, erythromisin dan tetrasiklin.


Nama lain: Psittacosis, Parrot Fever.
Etiologi
Chlamydia psittaci. Chlamydia: merupakan mikroorganisme antara bakteri dan virus. Dinding sel menyerupai bakteri, membelah dengan pembelahan dan bersifat obligat intra seluler. Gram positif menyebabkan penyakit pada berbagai hewan termasuk burung.

Kejadian dan penyakit pada hewan
- Terutama terdapat pada burung jenis psittacine (parkit dll), menyebabkan diare, gangguan pernafasan, konjungtivitis dan nasal discharge, enteritis, hepatitis dan splenitis. Bakteri menetap dalam limfa dan diekskresikan dalam tinja.
- Mortalitas dan morbiditas tertinggi pada unggas muda. Pada burung dewasa mortalitas mencapai 20 %.
- Wabah pada unggas menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar.
- Burung yang sudah terinfeksi sejak kecil dapat menunjukkan gejala diare atau tidak menunjukkan gejala sakit tetapi berperan sebagai pembawa penyakit ddan sumber penularan bagi burung lain dan manusia.
Penularan dan penyakit pada manusia
- Penularan dapat melalui inhalasi kotoran burung peliharaan, kontak langsung atau karkas, dan penularan dari manusia ke manusia pernah dilaporkan.
- Masa inkubasi penyakit 1-2 minggu.
- Gejala klinis yang khas adalah demam tiba-tiba, sakit tenggorokan, fotophobia, anoreksia, sakit kepala, sakit otot dan batuk non produktif menetap (khas). Setelah dua minggu, bakteri dapat ditemukan dalam air ludah. Bakteri ini juga menyebabkan bintik peradangan pada paru-paru.
- Yang beresiko adalah pedagang burung, pemelihara burung dan dokter hewan. Pada daerah endemik Ornithosis pada itik dan kalkun, yang beresiko terkena penyakit adalah petugas yang mengerjakan karkas.
Diagnosa
Pengukuran titer antibodi yang mencapai 4 kali lipat antara masa akut dan setelahnya.
Pengobatan
- Tetrasiklin dengan dosis 2 g/hari selama 21 hari.



Sinonim pada hewan: Scabby Mouth, Contagious Ecthyma, Contagious Pustular Dermatitis, Contagious Pustular Stomatitis, Infectious Pustular Dermatitis.
Agen Penyebab: Parapox Virus
Kejadian pada hewan:
- Menyerang domba dan kambing. Merupakan penyakit endemik pada domba di seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh virus dapat bertahan di alam selama berbulan-bulan.
- Menyerang hewan pada semua umur (paling sering umur 3-6 bulan). Virus masuk melalui luka lecet pada kulit. Lesi dimulai dengan kemerahan yang membengkak, dengan cepat menjadi papula, vesikel, pustule dan ulser.
- Kerak terbentuk dalam seminggu dan terlepas setelah 3 sampai 4 minggu.
- Lesi paling sering dijumpai pada bibir, cuping hidung, muka dan lidah, sesekali dapat pada ambing, skrotum dan alat kelamin.
- Pada hewan muda penyakit lebih serius sebab menyebabkan perdarahan pada bibir, mengurangi nafsu makan sehingga menurunkan berat badan dan daya tahan tubuh.

Epidemiologi
- Sekali kelompok hewan diserang maka biasanya penyakit tetap endemic yang disebabkan oleh kontak antara hewan dan tahannya virus pada lingkungan luar.
- Kerugian terjadi karena penurunan berat badan yang diakibatkan kesulitan makan karena lesi pada mulut dan bibir.
- Laju prevalensi meningkat apabila lapangan pengembalaan mengandung banyak duri yang dapat melukai bibir hewan sebagai tempat masuknya virus.
Penularan dan kejadian pada manusia
Infeksi pada manusia terjadi sebagai akibat adanya lecet kulit yang kontak dengan hewan terinfeksi atau bahan asal hewan seperti wool ataupun vaksin.
Kelompok beresiko
1. Pekerja rumah potong hewan
2. Peternak
3. Dokter hewan
4. Orang lain yang kontak dengan hewan
Penyakit pada manusia
- Bagian tubuh yang terserang adalah jari dan tangan.
- Masa inkubasi penyakit 3-7 hari.
- Terbentuknya macula yang berkembang menjadi vesikel besar yang dikelilingi oleh sellulit yang tidak terasa sakit.
- Vesikel berkembang menjadi pustule dan pergerakan terjadi setelah dua minggu.
- Kesembuhan terjadi setelah 4-6 minggu.



Etiologi
Listeria monocytogenes, L. ivanovii. Gram positif, tumbuh baik pada suhu 4°C.
Epidemiologi
- Tersebar luas di alam termasuk tanah, bahan makanan, tumbuh-tumbuhan, limbah dan berbagai jenis hewan (vertebrata, invertebrate, unggas dan hewan domestic).
- Pada sapi, domba dan kambing, gejala ditandai dengan meningoencephalitis, abortus, septikemia atau mastitis.
- L. monocytogenes dikeluarkan bersama air susu hewan penderita.
- Babi jarang menunjukkan gejala sakit walaupun mengeluarkan bakteri dari tubuhnya. Babi diduga berperan sebagai pembawa (carrier) dan reservoir bakteri.

Penularan dan penyakit pada manusia
- Melalui kontak langsung.
- Ingesti bersama makanan.
- Dokter hewan dapat terinfeksi saat kontak dengan hewan penderita terutama ketika menangani kasus abortus pada hewan penderita.
- Masa inkubasi bervariasi 1-70 hari.
Gejala Umum
- Demam tinggi, sakit kepala, tremor, ataksia. Dapat berlanjut menjadi endokarditis, endopthalmitis, osteomyelitis, septic arthritis, peritonitis dan abses.
- Keguguran pada wanita hamil pada triwulan 2 atau 3 kehamilan. Biasanya terjadi 1-2 minggu setelah terinfeksi.
- Pada balita terjadi meningitis.
- Pada manula dan orang yang mengalami gangguan kekebalan tubuh (pasien operasi jantung, AIDS) terjadi septicemia, dan komplikasi.
- Orang dewasa hanya ditandai dengan gejala flu.
- Makanan yang sering sebagai perantara bakteri adalah susu dan olahannya terutama keju, daging dan olahannya terutama yang disimpan pada suhu dingin selama beberapa saat.
Diagnosa
1. Isolasi bakteri pada feses penderita.
2. Isolasi dan identifikasi bakteri pada sisa makanan.
Pencegahan
- Pemilihan bahan baku yang sehat dan baik.
- Proses pengolahan yang higienis.
- Pemanasan ulang makanan yang telah disimpan pada suhu dingin sebelum dikonsumsi.



Sinonim: Red-Water Disease pada sapi.
Agen penyebab
Semua serovar dari Leptospira interrogans (mempunyai 19 serovar berdasarkan serum agglutination test).
Kejadian dan penyakit pada hewan
- Hewan dapat mengeluarkan bakteri tanpa menunjukkan gejala sakit.
- Serovar Pomona hardjo menyerang sapi, babi, dan domba menyebabkan abortus atau lahir dini.
- Gejala umum adalah demam, malaise, anorexia, ikterus, haemoglobinuria dan kematian.
- Kejadian khusus pada semua hewan adalah terjadinya kolonisasi bakteri pada ginjal menyebabkan leptospiruria.
- Urin hewan terinfeksi merupakan sumber utama penyebaran dari hewan ke hewan melalui kutan, membrane mukosa dan aerosol.

Epidemiologi
- Setiap serovar mempunyai iinduk semang pemeliharaan (maintenance host) yang ditandai dengan gejala klinik yang minimal dan masa lepstopiruria, yang cukup untuk menularkan dari generasi ke generasi.
- Serovar hardjo mempunyai maintenance host sapid an leptospiruria terjadi sampai 2 tahun.
- Serovar Pomona dan tarrasovi di babi (babi umumnya berperan sebagai sumber penyebar penyakit pada hewan lain terutama sapi).
Penularan dan penyakit pada manusia
- Penularan umumnya terjadi melalui kontak dengan urin hewan.
- Penularan melalui makanan disebabkan oleh urin tikus liar yang mengkontaminasi bahan makanan.
Penyakit pada manusia dibagi atas icteric dan anicteric.
1. Anicteric
Gejala: demam, sakit kepala, fotopobia, myalgia, muntah, sakit perut. Dapat terjadi septicemia.
2. Icteric (weil’s disease)
Bentuk ini lebih berat daripada bentuk anicteric, ditandai dengan kegagalan fungsi jantung dan ginjal, kekuningan dan haemorhagic.
Kelompok yang beresiko
- Dokter hewan saat melakukan otopsi atau pada saat pekerjaan di laboratorium (melalui lecet kulit, laserasi dan konjunktiva).
- Pekerja rumah potong hewan.
Diagnosa
Kultur darah pada masa septikemik, test serologis.
Pengobatan
- Dengan antibiotik penisilin dan tetrasiklin.



Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.