Waspadai Rabies Masuk NTB

Bali akhirnya dinyatakan sebagai daerah berstatus wabah rabies sejak 1 Desember 2008 melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 1637/2008. Tindak lanjut dari Peraturan Menteri Pertanian tersebut, Gubernur Bali mengeluarkan peraturan Gubernur No. 88/2008 tentang penutupan sementara pemasukan dan pengeluaran anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya dari dan ke propinsi Bali.

Penetapan sebagai daerah wabah rabies tersebut dikeluarkan setelah melalui kajian gejala klinis yang tampak pada anjing sebagai hewan penular rabies (HPR) dan manusia sebagai korban gigitan.

Rabies di Bali terungkap setelah 4 orang dari tiga desa di Bali digigit anjing selama periode September-Nopember 2008. Dari 4 orang itu, 2 positif tertular rabies, dan 2 orang lain memiliki riwayat digigit anjing.

Sejak dinyatakan sebagai daerah rabies  tindakan pemberantasan telah dilakukan mulai dari eliminasi anjing liar tak bertuan sampai tindakan vaksinasi pada anjing yang dipelihara dengan baik (Kompas, 6 Desember 2008).

Kenapa Bali sangat serius terhadap rabies tersebut?. Jawabannya karena Bali memiliki populasi anjing yang tinggi yakni diperkirakan sekitar 540.000 ekor.  Bali juga merupakan pusat pariwisata utama dunia, di mana dengan adanya rabies akan mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan apalagi menurut OIE (Office International des Epizooties / Badan Kesehatan Hewan Dunia) bahwa rabies  di negara berkembang merupakan penyakit nomer dua paling ditakuti wisatawan mancanegara setelah penyakit malaria.

Lalu bagaimana dengan NTB?. Ada dua hal penting yang harus menjadi perhatian dalam menyikapi adanya rabies di Bali.

Pertama, secara geografis NTB dekat dengan Bali dan NTB juga salah satu daerah wisata serta memiliki populasi anjing liar yang cukup tinggi maka rabies harus diwaspadai.

Kedua, dengan dinyatakannya Bali sebagai daerah wabah rabies baru maka sebenarnya saat ini NTB berada di tengah-tengah 2 daerah rabies, yaitu Bali dan NTT khususnya Pulau Flores yang sejak tahun 1997 terinfeksi rabies yang telah banyak menimbulkan korban manusia.

Dua hal di atas harus lebih diwaspadai oleh kita semua di NTB dengan mempersiapkan tindakan pencegahan, maupun penyadaran masyarakat (public awareness) terhadap rabies.
Rabies atau juga  dikenal sebagai Lyssa, Tollwut, Hydrophobia dan di Indonesia dikenal dengan Anjing Gila adalah infeksi viral dan akut pada susunan saraf ditandai dengan kelumpuhan yang progresif dan berakhir dengan kematian.

Rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) tertua yang pertama kali dikenal di Mesir dan Yunani Kuno sejak tahun 2300 sebelum Masehi. Rabies ditemukan di sebagian besar dunia dan negara-negara yang hingga kini bebas dari rabies adalah Australia, Selandia Baru, Inggris, Belanda, Hawaii (Amerika Serikat) dan sejumlah pulau-pulau terpencil di Pasifik.

Rabies di Indonesia pertama kali ditemukan pada kerbau oleh Esser (1884), anjing oleh Penning (1889), dan pada manusia oleh E.V.de Haan (1894) yang ketiganya ditemukan di Jawa Barat.

Selanjutnya beberapa tahun kemudian kasus rabies ditemukan di Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (1953),  Sumatera Utara (1956), Sumatera Selatan dan Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), Aceh (1970), Jambi dan Yogyakarta (1971), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975),  Kalimantan Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983), Pulau Flores NTT (1997), Pulau Ambon dan Pulau seram  (2003).

Gejala klinis rabies mirip pada sebagian besar spesies, tetapi sangat bervariasi antar spesies. Setelah terjadi gigitan hewan penderita rabies, masa inkubasi biasanya antara 14-90 hari tetapi bisa sampai 7 tahun. 95% masa inkubasi rabies 3-4 bulan, dan hanya 1% kasus dengan inkubasi 7 hari sampai 7 tahun. Karena lamanya masa inkubasi tersebut kadang-kadang pasien tidak dapat mengingat kapan terjadinya gigitan.

Gejala klinis pada hewan dikenal dua bentuk yaitu bentuk beringas dan bentuk paralisis. Bentuk beringas hewan menjadi gelisah, gugup, agresif dan menggigit apa saja yang ditemuinya, respon berlebihan pada suara dan sinar, takut air (hydrophobia) dan keluar air liur berlebihan (hipersalivasi).

Bentuk paralisis ditandai dengan ensefalitis disertai kelemahan bagian belakang tubuh yang menyebabkan hewan berjalan terhuyung-huyung, keganasan berubah menjadi kelumpuhan, kejang-kejang, koma dan terhentinya pernafasan hingga berakhir dengan kematian.

Rabies dan kesehatan masyarakat
Rabies di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena hampir selalu menyebabkan kematian (always almost fatal) setelah timbul gejala klinis dengan tingkat kematian sampai 100%.

Rabies pada manusia biasanya melalui kontak dengan binatang anjing, kera, kucing, serigala, kelelawar  melalui gigitan atau kontak virus lewat air liur dengan luka. Infeksi lain yaitu melalui inhalasi dilaporkan pada orang yang mengunjungi gua-gua kelelewar tanpa adanya  gigitan.

Virus masuk ke dalam ujung saraf yang ada pada otot di tempat gigitan dan memasuki ujung saraf tepi sampai mencapai sistem saraf pusat  yang biasanya pada sumsum tulang belakang selanjutnya menyerang otak.

Gejala awal rabies pada manusia berupa demam disertai rasa kesemutan pada tempat  gigitan, malaise (rasa tidak enak badan), mual, dan rasa nyeri di tenggorokan. Selanjutnya disusul dengan gejala cemas, gelisah dan reaksi berlebihan terhadap rangsangan sensoris (stimulus-sensitive myoclonus).

Tonus otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala-gejala hipersalivasi, hiperlakrimasi, pupil dilatasi dan paralisis, koma kemudian berakhir dengan kematian.

Kewaspadaan dan pencegahan
Mengingat bahaya rabies tersebut, maka sebagai langkah pencegahan bagi NTB yang masih berstatus bebas yaitu meningkatkan kewaspadaan dini (early warning system) dengan melakukan surveilans.

Selain itu mempersiapkan tindakan karantina yang ketat terhadap pemasukan hewan yang berpotensi sebagai pembawa virus rabies seperti anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya mengacu pada Keputusan Menteri Pertanian No. 1096/Kpts/TN.120/10/1999, tentang pemasukan anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya ke wilayah/daerah bebas rabies di Indonesia.

Penyadaran masyarakat (public awareness) melalui penyuluhan atau sosialisasi terhadap rabies harus terus dilakukan, sehingga masyarakat memiliki kesadaran terhadap rabies.

Bagi masyarakat peran serta secara aktif sangat diharapkan terutama orang yang mempunyai sejarah pernah digigit anjing agar melaporkan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang memadai.

waspadai rabies masuk NTB

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir di blog ini dan jangan lupa tuliskan komentar anda. JANGAN SPAM...Oke!

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.