April 2009

Artikel ini dimuat di www.vet-indo.com, 30 April 2009
Setelah wabah flu burung yang melanda dunia sejak tahun 2004 dan sampai sekarang masih bersifat endemik di beberapa negara termasuk Indonesia, dunia kembali dikejutkan dengan munculnya flu babi setelah sekian lama tidak pernah ditemukan.

Berawal dari Meksiko yang melaporkan warganya terinfeksi flu babi dan sampai saat ini dalam waktu tidak terlalu lama mengakibatkan kematian sekitar 152 orang, 20 orang dinyatakan positif virus flu babi dan sekitar 1.004 orang tertular virus ini. Kemudian Amerika Serikat juga melaporkan adanya flu babi di Texas dan California yang sudah menewaskan 8 orang warga.

Kurang dari sebulan beberapa negara melaporkan telah ditulari oleh virus flu babi, diantaranya Kanada, Prancis, Inggris, Italia, Spanyol, Korea Selatan, Selandia baru, Australia, Brazil, Kolombia dan Israel. Dengan keadaan yang demikian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan munculnya wabah flu babi telah mengancam akan terjadinya pandemi dengan jumlah korban yang besar terutama manusia, dan meningkatkan level bahaya ke level 4 yaitu mengindikasikan resiko pandemi global sudah di depan mata.

Keadaan ini sangat tidak menguntungkan dan menimbulkan kekhawatiran negara-negara di dunia, tetapi dengan memperhatikan langkah-langkah antisipasi dan pencegahan yang menyeluruh terhadap keluar masuknya orang di pintu-pintu masuk utama seperti bandara-bandara dan pelabuhan laut dapat meminimalisir penyebaran virus.

Karakteristik dari penyebab flu babi yang ditemukan di meksiko virus influenza tipe A H1N1 sebenarnya jamak ditemukan di babi, akan tetapi yang dikhawatirkan sekarang ini adalah kemungkinan jenis virus flu babi ini hasil mutasi dari berbagai jenis virus influenza khususnya virus influenza yang berasal dari manusia dan unggas yang mengalami perubahan genetik (mutasi genetik, antigenic shift) pada babi. Babi merupakan tempat pencampuran (mixing vessel) atau meminjam istilahnya CH Nidom, babi menjadi tempat "koalisi" virus. Hal ini memungkinkan karena dalam tubuh babi terdapat reseptor yang dapat mengikat kedua jenis virus influenza tersebut, reseptor alfa 2,6 sialic acid untuk mengikat influenza manusia dan 2,3 sialic acid untuk mengikat virus influenza unggas.

Dengan demikian apabila terjadi percampuran dari berbagai jenis virus influenza dan mengalami mutasi dalam tubuh babi, menurut banyak ahli dapat menghasilkan tipe virus baru dan biasanya bersifat lebih ganas, maka bukan tidak mungkin ancaman pandemik benar-benar akan terjadi dan penularan antarmanusia bukan sesuatu yang mustahil.

Satu hal lain yang perlu diingat bahwa sejak ditemukannya virus flu babi ini, sejarah mencatat kejadian pandemi telah terjadi berulang-ulang dengan siklus 90-100 tahunan, dan diyakini virus ini selalu mengalami mutasi dan adaptasi sebagai kegiatan virus untuk mempertahankan hidupnya, ketika terjadi pandemi dengan kematian tinggi dan apabila orang mampu sembuh dari infeksi tersebut serta memiliki antibodi terhadap virus itu maka keganasan virus mungkin berkurang atau tidak patogen lagi. Tetapi di pihak lain virus tetap berkembang dengan perubahan-perubahan antigenic shift misalnya dan ketika lingkungan mendukung virus akan kembali muncul dan barangkali menyebabkan bahaya pandemi seperti yang ditakutkan sekarang ini. Flu babi muncul dan menebar peringatan sekaligus ancaman, Akankah siklus pandemik itu akan berulang? Semoga saja tidak.


Sebelum flu babi atau sekarang berganti nama menjadi influenza A-H1N1 menjadi pandemi di dunia, wabah flu burung juga pernah mewabah di dunia, termasuk Indonesia. Bahkan sampai sekarang flu burung masih terus ditemukan di beberapa daerah dan belum sama sekali dinyatakan bebas.

Belum bebas dari flu burung, dunia kemudian dikejutkan dengan munculnya flu babi. Bermula dari Meksiko, kejadian flu babi akhirnya menulari beberapa negara dan kemudian berlanjut ke berbagai Negara di dunia sampai kemudian penyakit ini dinyatakan sebagai pandemi.Nampaknya varian virus influenza kini semakin menjadi ancaman. Kemunculan flu burung (virus H5N1) kemudian flu babi (virus A-H1N1).

Hipotesis ataupun dugaan para ahli adalah kemunculan flu babi ini merupakan hasil penggabungan virus baik virus asal unggas, dan asal manusia yang bermutasi di dalam tubuh babi kemudian melahirkan virus baru (H1N1) ?. pembuktian akan terus dilakukan, satu hal pasti dan harus diwaspadai, mutasi virus biasanya akan melahirkan varian baru yang tentunya lebih ganas/berbahaya. Apakah varian virus influenza A-H1N1 yang dimaksud dan sangat ganas ?, kira-kira demikian.

Kembali ke flu burung, penyakit yang sama-sama disebabkan oleh golongan virus influenza (orthomyxoviridae) namun berbeda galur ini juga termasuk virus yang berbahaya, baik secara ekonomi dapat mengancam peternakan karena menyebabkan kematian yang tinggi (dapat mencapai 100%) dan sifat zoonosisnya yang mengancam keselamatan manusia, meskipun penelitian terhadap penularan antarmanusia belum ada.

Berikut awal munculnnya flu burung di Indonesia sampai akhirnya dinyatakan sebagai wabah (kejadian luar biasa/KLB):

29 Agustus 2003: Muncul penyakit yang mematikan di peternakan ayam di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Setelah itu menyebar di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
23 Oktober 2003: Deptan mengonfirmasi wabah itu sebagai virus tetelo dengan jenis vilogenik viserotropik berdasarkan pengujian beberapa lembaga dan laboratorium.

28 Oktober 2003: Otoritas Agrifood and Veterinary Authority (AVA) Singapura telah melarang sementara impor burung dan unggas lainnya dari Indonesia karena adanya informasi wabah penyakit flu burung di beberapa daerah.

19 November 2003: Dua sumber independen yang layak dipercaya di Indonesia telah mengirim informasi adanya wabah flu burung ke International Society for Infectious Diseases (ISID). Mereka mengabarkan, wabah tersebut telah terjadi di Jawa Barat dan Sumatera.

22 Desember 2003: Pusat Informasi Unggas Indonesia (Pinsar) menyebutkan adanya keikutsertaan flu burung dalam wabah tetelo yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Virus tersebut tidak hanya diisolasi, tetapi sudah diidentifikasi melalui berbagai metode diagnostik. Pinsar menyarankan virus flu burung yang ditemukan sebaiknya dikirim ke laboratorium rujukan internasional di Australia, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat.

15 Januari 2004: Sebuah tim yang terdiri atas Kepala Badan Karantina dan Direktur Kesehatan Hewan pergi ke Cina sekitar enam hari untuk mempelajari kasus flu burung, termasuk pengadaan vaksin.

21 Januari 2004: Dirjen Bina Produksi Peternakan menginformasikan bahwa pemerintah menunjuk PT Bio Farma untuk mengimpor vaksin flu burung dengan jenis patogenitas rendah.

24 Januari 2004: Ketua I Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) CA Nidom mengumumkan, dari identifikasi DNA dengan sampel 100 ayam yang diambil dari daerah wabah diketahui positif telah berjangkit flu burung.
25 Januari 2004: Deptan mengumumkan secara resmi kasus avian influenza terjadi di Indonesia, namun belum ditemukan korban manusia akibat wabah tersebut.

Baru-baru ini wabah flu babi dilaporkan menginfeksi Amerika dan Meksiko. Korban meninggal di Meksiko mencapai 68 orang, 20 orang positif flu babi dan 1.004 orang terinfeksi. Sementara di Amerika flu babi telah menginfeksi 8 orang di Texas dan California.

Ditemukannya wabah flu babi ini apakah menjadi bertanda akan terjadinya pandemik flu babi seperti kejadian flu burung beberapa tahun silam?, saat ini belum diketahui pasti akan terjadinya pandemik atau tidak tetapi yang penting antisipasi dan pencegahan ke arah itu harus diwaspadai.

Terkait dengan flu babi, berikut ini beberapa hal penting sebagai informasi yang berhubungan dengan penyakit tersebut.

Flu babi
Flu babi adalah penyakit flu yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. virus ini termasuk dalam keluarga Orthomyxoviridae. Virus flu babi ini masih satu genus dengan virus penyebab flu burung.
Virus influenza A ini menjadi perhatian karena galur virus yang berbeda menyebabkan influenza pada unggas, kuda dan babi.

Flu babi merupakan salah satu penyakit zoonosis yang ditakuti selain flu burung karena dapat menginfeksi manusia.

Sejarah influenza babi
Influenza babi pertama kali diamati di Amerika Serikat bagian Tengah Utara pada saat terjadinya epidemik influenza manusia tahun 1818-1819, dan dalam jangka waktu lama dilaporkan hanya terjadi di daerah tersebut (tempat terjadinya wabah tahunan pada setiap musim dingin).

Influenza babi merupakan penyakit pernafasan yang paling sering menyerang babi di Amerika Utara. Wabah juga dilaporkan terjadi di Kanada, Amerika Selatan, Asia dan Afrika pada pada awal tahun 1968.

Di Eropa, flu babi berjangkit pada tahun 1950-an di Cekoslovakia, Inggris dan Jerman Barat, kemudian virusnya sepertinya menghilang. Wabah kembali berjangkit tahun 1976 di Italia bagian utara dan menyebar ke Belgia dan Prancis bagian utara pada tahun 1979.

Isolat virus influenza babi yang diambil di Eropa selama dan setelah 1979 berkerabat tetapi jauh berbeda dengan galur klasik yang dijumpai di Amerika Serikat. Secara antigenik dan genetik isolat Eropa, kecuali Italia (serupa dengan galur Amerika Serikat) berkerabat dekat dengan isolat virus H1N1 dari itik.

Dengan demikian dua varian antigenik yang berbeda dari virus influenza babi dari subtipe H1N1 dan beredar bersama-sama pada babi di berbagai belahan dunia. Babi juga dapat diinfeksi oleh galur virus influenza H3N2 yang berasal dari manusia dan unggas tetapi infeksinya tidak terlalu kentara.

Epidemiologi
Influenza babi biasanya muncul ketika babi yang berasal dari kawanan terinfeksi dimasukkan ke kawanan yang peka. Penyakit ini seringkali muncul bersamaan pada beberapa peternakan di suatu daerah dan terjadi wabah. Wabah mulai timbul pada akhir musim gugur dan paling buruk selama musim dingin.

Virus keluar melalui ingus, dan penularan dari babi ke babi lainnya melalui kontak langsung atau menghirup partikel-partikel kecil dalam air yang mengandung virus.

Virus influenza babi (H1N1) juga menginfeksi kalkun dan manusia.
Infeksi pada kalkun dapat menimbulkan gejala klinis penyakit pernafasan atau menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah telur yang tidak normal.

Infeksi pada manusia relatif biasa terjadi pada jagal dan peternak babi dan dapat menyebabkan penyakit pernafasan, terjadinya demam, lesu, letih, nyeri tenggorokan, penurunan nafsu makan, dan mungkin diikuti muntah, mual dan diare. Penularan dari manusia manusia biasanya terbatas dan belum ada catatan pasti.

Gejala klinis
Masa inkubasi berlangsung 1 sampai 3 hari. Gejala klinis yang utama terbatas pada saluran pernafasan, mendadak timbul pada sebagian besar babi dalam kelompok. Babi yang terinfeksi tidak mampu berjalan dengan bebas dan cenderung bergerombol. Terjadi radang hidung, pengeluaran ingus, bersin-bersin dan konjungtivitis.

Babi yang terinfeksi menderita batuk proksismal, disertai dengan punggung melengkung, pernafasan cepat, sesak, apatis, anoreksia, rebah tengkurap dan suhu tubuh meningkat mencapai 41-41,5 °C.

Setelah 3-6 hari babi biasanya sembuh dengan cepat, makan secara normal setelah 7 hari dan sejak tampaknya gejala klinis untuk pertama kalinya. Bila babi yang sakit diusahakan tetap hangat dan tidak menderita cekaman, penyakit ini tidak membahayakan dan dengan komplikasi yang sangat kecil serta tingkat kematian kurang dari 1 %, tetapi babi yang menderita bronkopneumonia dapat berakhir dengan kematian

Departemen Kesehatan siap mengantisipasi virus flu babi yang saat ini mewabah di Meksiko.
"Antisipasi kita sudah, mewaspadai kita juga sudah," kata Menteri Kesehatan, Siti Fadillah Supari, saat dihubungi VIVAnews, Sabtu 25 April 2009. Meski sudah makan korban di Meksiko, tambah dia, belum ada laporan adanya korban di Indonesia.
Siti Fadilah Departemen Kesehatan akan melakukan antisipasi dan penanganan yang sama seperti kejadian virus flu burung atau H5NI. Departemen akan fokus kepada persiapan utama seandainya virus tersebut menyerang. "Primernya kita siapkan, seperti laboratorium," kata Ibu Menkes.
Sejauh ini, flu babi belum menyerang negara-negara di Asia. Depkes sendiri belum mendapat peringatan waspada dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Meksiko, Jose Angel Cordoba mengatakan setidaknya ada 68 orang meninggal akibat flu, 20 orang diantaranya positif menderita flu babi. Flu babi juga diderita 1.004 penduduk Meksiko.
Flu babi ternyata telah menyebar ke Texas dan California Selatan, Amerika Serikat. Tujuh orang dikabarkan terkena virus ini. Data pusat pengendalian penyakit AS atau Centers for Disease Control and Prevention membuktikan bahwa tujuh penderita di AS terserang jenis virus yang sama dengan yang ada di Meksiko.
Analisa awal, virus tersebut benar-benar baru, dan merupakan kombinasi material genetik dari flu babi, flu burung, dan flu manusia. Para ilmuwan mengkhawatirkan akan ada virus baru yang efeknya lebih ganas dan massif daripada virus flu burung. Ancaman pandemi influenza di depan mata.


Penyebaran Flu Babi di Meksiko dan Amerika Serikat memiliki potensi menjadi pandemi dunia namun masih terlalu dini apakah itu betul akan terjadi atau tidak.

"Itu (Flu Babi) memiliki potensi pandemi karena itu menginfeksi orang," kata Direktur Jenderal WHO Margaret Chan, Sabtu (25/4).
Tipe baru flu itu merupakan gabungan antara virus babi, manusia, unggas yang telah menewaskan 68 orang dari 1.004 orang yang diduga terjangkit di Meksiko dan menginfeksi delapan orang di Amerika Serikat masih sedikit dipahami dan situasinya berkembang sangat cepat.

Dua kasus misterius Flu Babi pada manusia telah ditemukan di wilayah Imperial dan San Diego di Southern California, AS, demikian dilaporkan Rabu (22/04). Petugas kesehatan lokal, negara bagian, dan federal telah melakukan penyelidikan guna menemukan sumber kasus itu, kata Los Angeles Times.
Seorang gadis berusia 19 tahun di Imperial County dan anak laki berusia 10 tahun di San Diego County, diidentifikasi terserang virus tersebut.
Namun tak seorang pun perlu dirawat di rumah sakit dan keduanya telah pulih, kata surat kabar tersebut, yang mengutip beberapa pejabat kesehatan.
Kasus itu membuat bingung pejabat kesehatan karena tak seorang pasien pun telah melakukan kontak dengan babi atau satu sama lain, dan rangkaian flu tersebut tak pernah dilihat di Amerika Serikat, kata harian itu.
Beberapa pejabat mengatakan, tak ada petunjuk virus tersebut menyebar. "Kita tak menghadapi wabah," kata Dr. Wilma Wooten, pejabat kesehatan di San Diego County.
Anggota keluarga dan orang lain yang mengenal kedua pasien tersebut sedang diwawancarai dan diperiksa, kata surat kabar itu. Meskipun penyakit tersebut biasanya mengakibatkan gangguan pernafasan pada babi, Flu Babi jarang menyerang manusia.
Hanya 12 kasus infeksi lain pada manusia telah dideteksi sejak 2005, demikian data dari U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDCP). Dari ke-12 kasus tersebut, 11 pasien telah melakukan kontak dengan babi.
Gejala penyakit itu meliputi demam, lesu, batuk, dan kurang nafsu makan. Jarang ada catatan mengenai kasus penularan kasus flu babi dari manusia ke manusia, kata CDCP.

Sekolah di Meksiko tutup
Ibu Kota Meksiko menutup sekolah-sekolah di sluruh kota berpenduduk 20 juta jiwa setelah sedikitnya 16 oran tewas dan lebih dari 900 orang lainnya sakit diduga terserang flu babi. Pejabat kesehatan dunia mengkhawatirkan bahwa ini bisa menandai permulaan menyebarnya wabah flu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Genewa, Swiss mengataka nsetidaknya 57 orang tewas akibat wabah flu babi, meski belum jelas jumlah korban yang tewas akibat penyakit ini.
"Kami sangat-sangat khawatir. Kita diperlihatkan apa yang kami khawatirkan virus baru dan ini menyebar dari tubuh manusia ke manusia yang lain," kata Thomas Abraham Juru Bicara WHO, Sabtu (25/4).
Abraham mengatakan bahwa WHO telah meningatkan sistem siaga internal, yang membungkinan mereka untuk mengalihkan lebih banyak uang dan personel untukmemberantas wabah flu babi. 
Sekretaris Kesehatan Meksiko, Jose Cordova, mengatakan hanya 16 warganya yang tewas yang dinyatakan positif terserang flu babi. Itu didapatkan pihaknya melalui tes di laboratorium-laboratorium pemerintah. Ccontoh dari 44 orang yang tewas telah dites. Departemen Kesehatan Meksiko menyatakan total korban yang terserang flu babi mencapai 943 di seluruh wilayah negeri tersebut.
Cordova mengau telah mengirimkan contoh ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta, Georgia, untuk menentukan apakah ini virus yang sama yang menginfeksi tujuh orang di Texas dan California. Bukti awal menunjukkan bahwa flu yang menyerang berasal dari strain yang berbeda yaitu dari babi.


 

Undang-Undang dan Peraturan-peraturan pemerintah Tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pemotongan Ternak dan Kesehatan Daging.
- Merupakan landasan hukum bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut dalam kehidupan masyarakat.
- Merupakan pedoman dan semua penduduk harus taat dan tunduk terhadap semua pasal yang tertera di dalamnya.
- Pelanggaran-pelanggaran terhadap hal-hal yang dilarang diberikan sanksi-sanksi/hukuman yang setimpal. Dengan demikian maka kesehatan daging dan kesehatan masyarakat pada umumnya dapat terlaksana secara baik.
Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang mengatur hal tersebut adalah:
1. UU No. 6 Tahun 1967: ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan kesehatan hewan.
2. Staatsblad 1936 No. 614: Pemotongan ternak besar Betina Bertanduk.
3. Instruksi Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertanian No. 18/1979 dan No. 5/Ins/Um/3/1979: Pencegahan dan pelarangan pemotongan Ternak Sapi/Kerbau betina Bunting dan atau susu Sapi/kerbau Betina Bibit.
4. Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Direktorat Kesehatan Hewan, Departemen Pertanian 1978-1985 Jilid I-VII.
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tahun 1983: Tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner.

A. Undang-Undang No. 6 Tahun 1967: Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan
Undang-undang ini disebut pula sebagai Undang-undang Pokok kehewanan. Undang-undang ini terdiri atas 4 Bab dan 27 Pasal:
Bab I : Ketentuan Umum (Pasal 1-7)
Bab II : Peternakan (Pasal 8-18)
Bab III : Kesehatan Hewan (Pasal 19-23)
Bab IV : Lain-lain (Pasal 24-27)
Pasal yang langsung berkaitan dengan Kesmavet dan kesehatan daging:
1. Pasal 1 butir j, k dan l.
2. Pasal 19 ayat 2.
3. Pasal 21 ayat 1 dan 2.
Pasal 1 butir j:
Kesmavet adalah segala urusan yang berhubungan langsung dengan hewan dan bahan-bahan asal hewan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia.
Pasal 1 butir k:
Anthropozoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya.
Pasal 1 butir l:
Penyakit Hewan Menular adalah penyakit hewan yang membahayakan oleh karena secara cepat dapat menjalar dari hewan kepada hewan atau kepada manusia dan disebabkan oleh virus, bakteri, cacing, protozoa dan parasit.
Pasal 19 ayat 2:
Urusan-urusan kesmavet meliputi antara lain: urusan kesehatan bahan makanan asal hewan dan urusan-urusan penyakit-penyakit hewan yang termasuk anthropozoonosis.
Pasal 21:
Untukkepentingan pemeliharaan kesehatan manusia dan ketentraman bathin masyarakat sebagaimana termaksud pada Pasal 19 ayat 2, maka dengan Peraturan Pemerintah diatur ketentuan-ketentuan tentang:
I. a. Pengawasan Pemotongan Hewan.
b. Pengawasan Perusahaan Susu, Perusahaan Unggas dan Perusahaan Babi.
c. Pengawasan dan Pengujian Daging.
d. pengawasan Pengolahan Bahan Makanan yang berasal dari Hewan.
e. Pengawasan dan pengujian Bahan Makanan Asal Hewan yang Diolah.
f. Pengawasan terhadap “Bahan-bahan Hayati” yang ada sangkut pautnya dengan hewan, bahan- bahan pengawetan makanan dan lain-lain.
II. a. Pemberantasan rabies pada anjing, kucing dank era, dan lain-lain anthropozoonosis yang penting.
b. pengawasan terhadap bahan-bahan dari hewan yaitu: kulit, bulu, tulang, kuku, tanduk dan lain-lain.
c. Dalam pengendalian anthropozoonosis diadakan kerjasama yang baik antara instansi-instansi yang langsung atau tidak langsung berkepentingan.
B. STAATSBLAD 1936 No. 614: Pemotongan Ternak Besar Betina Bertanduk
Menurut PP ini, ternak besar betina bertanduk yaitu sapid an kerbau dilarang dipotong.
Sapi dan kerbau betina dapat dipotong bila sudah diafkir oleh petugas Dinas Peternakan. Sapi dan kerbau tersebut diafkir dengan memberikan tanda cap bakar “S” pada salah satu pahanya, karena hal-hal berikut:
1. Ternak tersebut kebetulan memiliki sifat-sifat ras yang tidak sesuai dengan jurusan peternakan yang dituju oleh penduduk di daerah tempat tinggal ternak tersebut.
2. Ternak termaksud mempunyai cacat atau bentuk sedemikian rupa sehingga pada waktu melahirkan kelak akan mengalami kesulitan, hambatan dan sebagainya.
3. Ternak tersebut ternyata majir atau ada kemungkinan besar akan majir.
4. Ternak tersebut mempunyai warna yang menyimpang dari warna ras-nya.
5. Ternak tersebut menurut gigi-geliginya berumur lebih dari 8 tahun.
6. Ternak tersebut menurut lingkaran tanduknya sudah beranak/melahirkan sekurang-kurangnya 5 kali.
7. Ternak tersebut bereksterior jelek.
Kemungkinan lain adalah bila ternak betina tersebut dipotong terpaksa (Noodslacht) karena hal-hal berikut:
1. Mengamuk sehingga membahayakan orang dan barang.
2. Ditimpa kecelakaan berat.
3. Pencegahan kemungkinan meluasnya penyakit hewan menular.
4. Oleh suatu penyakit, jiwa hewan itu terancam.
Hal-hal tersebut di atas dimaksudkan untuk:
a. Melindungi populasi ternak sapid an kerbau.
b. Sedang dari aspek kesehatan, daging tersebut dapat diteruskan kepada masyarakat konsumen bila dapat dipenuhinya syarat-syarat hygiene daging.
C. Instruksi Bersama Mendagri dan Mentan No. 18/1979 dan No. 05/Ins/Um/3/1979
Inti materi Instruksi bersama ini merupakan penegasan hal-hal yang terkandung dalam Staatsblad 1936 No.614.
Penegasan ini dianggap penting karena terjadi kecendrungan penurunan populasi ternak sapid an kerbau periode 10 tahun terakhir.
D. Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular
Pedoman ini dikeluarkan oleh Direktorat Kesehatan Hewan, Departemen Pertanian, Jilid I-VII tahun 1978-1985.
Pedoman ini memuat:
1. Pengenalan penyakit hewan menular
2. Penolakan, pencegahan, pemberantasan, pengobatan dan perlakuan hewan dan daging.
Pedoman ini dimaksudkan sebagai bagian dari peraturan pelaksanaan yang bersumber dari Undang-undang No. 6 tahun 1967.
Khusus bagi hygiene daging: Bab tentang perlakuan pemotongan hewan dan daging merupakan pedoman yang sangat berharga.
E. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tahun 1983, tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner
Peraturan Pemerintah ini terdiri atas 8 Bab dan 30 pasal.
Bab I : Ketentuan Umum (Pasal 1)
Bab II : Pengawasan Kesehatan masyarakat Veteriner (Pasal 2-15)
Bab III : Pengujian (Pasal 16-20)
Bab IV : Pemberantasan Rabies (Pasal 21-25)
Bab V : Pengawasan dan Pengendalian Zoonosa lainnya (Pasal 26-27)
Bab VI : Ketentuan Pidana (Pasal 28)
Bab VII : Ketentuan Peralihan (Pasal 29)
Bab VIII : Ketentuan Penutup (Pasal 30)

Bab I: Ketentuan Umum (Pasal 1)
Butir b:
Daging adalah bagian-bagian dari hewan yang disembelih atau dibunuh dan lazim dimakan manusia, kecuali yang telah diawetkan dengan cara lain daripada pendinginan.
Butir d:
Usaha Pemotongan Hewan adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perseorangan dan/ atau badan yang melaksanakan pemotongan hewan di rumah potong hewan milik sendiri atau milik pihak ketiga atau menjual jasa pemotongan hewan.
Butir f:
Zoonosa adalah penyakit yang dapat berjangkit dari hewan kepada manusia atau sebaliknya.
Bab II : Pengawasan Kesehatan masyarakat Veteriner (Kesmavet) (Pasal 2).
Ayat 1:
Setiap hewan potong yang akan dipotong harus sehat dan telah diperiksa kesehatannya oleh petugas pemeriksa yang berwenang.
Ayat 3:
Pemotongan hewan potong harus dilaksanakan di rumah pemotongan hewan (RPH) atau tempat pemotongan hewan lainnya yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang.
Ayat 4:
Perkecualian dari ayat 3 yaitu pemotongan hewan untuk keperluan: keluarga, upacara adat dan keagamaan serta penyembelihan hewan secara darurat dengan mendapat izin terlebih dahulu dari Bupati/walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan atau pejabat yang ditunjuknya.
Ayat 5:
Syarat-syarat RPH, pekerja, pelaksanaan pemotongan , dan cara pemeriksaan kesehatan dan pemotongan hrus memenuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 3:
Ayat 1 butir a:
Usaha pemotongan hewan untuk ppenyediaan daging kebutuhan antar propinsi dan ekspor harus memperoleh surat izin usaha pemotongan hewan dari Menteri atau pejabat yang ditunjuknya.
Ayat 1 butir b:
Antar kabupaten/kotamadya daerah TK.II dalam suatu daerah TK.I: Surat ijin dari Gubernur.
Ayat 1 butir c:
Wilayah kabupaten/Kotamadya daerah TK. II: Surat Ijin dari Bupati/walikota.
Pasal 4:
Ayat 1:
Daging hewan yang telah selesai dipotong harus segera diperiksa kesehatannya oleh petugas pemeriksa yang berwenang.
Ayat 2:
Daging yang lulus dalam pemeriksaan, baru dapat diedarkan setelah terlebih dahulu dibubuhi cap atau stempel oleh petugas pemeriksa yang berwenang.
Ayat 4:
Larangan mengedarkan daging yang tidak berasal dari RPH kecuali pasal 2 ayat 4.
Ayat 5:
Setiap orang atau badan dilarang menjual daging yang tidak sehat.





Setidaknya 14 kuda polo jatuh sakit dan kemudian mati mendadak, menjelang turun bertanding di turnamen di Florida.
Kuda-kuda tersebut berasal dari tim Lechuza Caracas yang bermarkas di Venezuela. Mereka mengalami gejala aneh saat baru saja dilepaskan dari kereta yang mengangkut mereka. Dua di antaranya langsung jatuh, sementara kuda-kuda lainnya menjadi bingung dan kehilangan arah. Demikian pernyataan resmi International Polo Club Palm Beach, Senin.
Dalam pernyataan tertulis itu juga disebut para dokter hewan tengah menanti hasil tes terhadap 14 ekor kuda polo yang mati tersebut. "Begitu turun, kuda-kuda itu mulai kebingungan," kata jurubicara klub polo, Tim O'Connor kepada surat kabar Palm Beach Post. "Mereka kemudian terjatuh ke atas rumput."
Para dokter hewan yang berada di tempat kejadian langsung memberi pertolongan dengan mencoba menenangkan kuda-kuda tersebut menggunakan kipas angin dan air. Sebagian petugas menutupi kuda-kuda-kuda tersebut dengan tirai biru untuk menghindari perhatian orang banyak.
Tujuh kuda mati di tempat, yang lainnya menyusul setelah dibawa ke tempat lain. Pertandingan kejuaraan polo AS Terbuka kemudian ditunda dan dilakukan pertandingan eksebisi.
Hingga kini penyebab kematian belum diketahui. "Bisa juga disebabkan air atau yang lainnya. Kami belum tahu. Jika penyebab kematian telah diketahui, kami akan melakukan tindakan yang perlu," kata presiden klub polo, John A. Wash.
Pertandingan polo AS Terbuka merupakan acara tahunan. Tahun ini turnamen diadakan di lapangan polo di Wellington yang terletak di Palm Beach County.
Sumber: Kompas.com, 21 April 2009

Setelah melakukan sampling dan pengujian atas 35 merek dendeng dan abon sapi, Badan Pengawas Obat dan Makanan menemukan lima merek dendeng yang positif mengandung DNA babi.
”Ini semua sudah kami minta untuk dimusnahkan. Semua merek di bungkusnya ditulis daging sapi, tetapi setelah diuji ternyata ada yang merupakan daging babi,” kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Dr Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakarta, Kamis (16/4).

Begitu isu tentang dendeng atau abon babi yang dijual sebagai dendeng/abon sapi marak di masyarakat, BPOM pada 29 Maret 2009 segera mengambil sampling dari Surabaya, Bandung, Jambi, Bogor, Semarang, Jakarta, dan Malang: 15 dendeng dan 20 produk abon dijadikan contoh uji.

Dari hasil pengujian ditemukan lima merek dendeng atau abon sapi merupakan daging babi, yakni dendeng/abon sapi gurih cap Kepala Sapi (250 gram), produsen tidak diketahui; abon dan dendeng sapi cap LIMAS (100 gram), produsen Langgeng Salatiga; abon/dendeng sapi asli cap A.C.C, produsennya tidak diketahui; dendeng sapi istimewa Beef Jerky ”Lezaaaat” (100 gram), produsen MDC Food Surabaya; dendeng daging sapi istimewa nomor 1 cap 999 (250 gram), produsen S Hendropurnomo Malang.

Menurut Husniah, dendeng atau abon sapi tersebut di atas termasuk pangan olahan industri rumah tangga yang izin edarnya dikeluarkan oleh pemerintah daerah sehingga penarikan dan pemusnahannya akan dilakukan oleh pemerintah daerah terkait.

Balai Pengawas Obat dan Makanan seluruh Indonesia, kata Husniah, telah diperintahkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah guna melindungi masyarakat dari produk tersebut di atas.
”Yang kami sesalkan, di bungkus dendeng atau abon yang diklaim daging sapi tersebut ditulis tulisan halal. Kami sudah memeriksa dengan alat yang sensitif, tetapi ternyata itu DNA babi. Ini jelas penipuan. Umat Islam yang tidak tahu sudah berapa yang terpapar,” kata Husniah.
Bagi masyarakat yang menemukan produk tersebut dapat memberikan informasi kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Unit Layanan Pengaduan Konsumen di nomor telepon 021-4263333 dan 021-32199000.



Swasembada daging, khususnya daging sapi, sebagaimana yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 59/Permentan/HK.060/8/2007 tentang Pedoman Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS). Melalui kegiatan P2SDS tersebut diharapkan pada tahun 2010, kebutuhan daging sapi bagi masyarakat sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri minimal sebesar 90 % atau 281,90 ribu ton.

Strategi yang ditempuh dalam pencapaian swasembada daging sapi dilakukan melalui:
(1) Pengembangan sentra perbibitan dan penggemukan;
(2) Revitalisasi kelembagaan dan SDM Fungsional di lapangan; dan
(3) Dukungan sarana dan prasarana.

Starategi tersebut diimplementasikan melalui tujuh langkah operasional yang meliputi :
1. Optimalisasi akseptor dan kelahiran IB Pada tahun 2009, ditargetkan untuk pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) bagi 1.983.956 ekor akseptor dengan penyediaan semen beku sebanyak 2.096.831 dosis.
2. Penanganan gangguan reproduksi dan penyakit hewan pada tahun 2009, direncanakan pemeriksaan gangguan reproduksi bagi 46.943 ekor induk dan pemeriksaan penyakit Brucellosis sebesar 17.203 ekor
3. Perbaikan mutu bibit dilakukan baik secara penambahan jumlah maupun peningkatan kualitas. Upaya perbaikan mutu bibit dilakukan salah satunya melalui penyebaran Sapi Brahman cross, sebanyak 7.836 ekor dalam keadaan bunting, sampai saat sekarang telah berhasil melahirkan anak sebanyak 3.600 ekor serta membangun atau memperkuat kelompok usaha pembibit ternak yang berdaya saing, mandiri dan berkelanjutan sehingga terbentuknya Village Breeding Centre.
4. Pengembangan Rumah Potong Hewan (RPH) dan pengendalian pemotongan betina produktif. Pengendalian pemotongan betina produktif dilakukan bekerjasama dengan Dinas Peternakan Daerah, sedangkan untuk perbaikan RPH telah dilakukan pada 8 RPH.
5. Intensifikasi kawin alam kebutuhan pejantan, untuk menunjang kebutuhan intensifikasi kawin alam tahun 2008 dibutuhkan 1.874 ekor yang dilaksanakan bekerjasama dengan Dinas Peternakan Daerah.
6. Pengembangan pakan lokal. Dalam rangka pengembangan pakan lokal telah dibangun kebun rumput seluas 3.835 Ha dan padang panggonan seluas 9 Ha, disamping itu dikembangkan pola integrasi sapi dengan tanaman perkebunan.
7. Pengembangan pakan lokal pengembangan SDM, kelembagaan dan kegiatah pendukung yang diimplementasikan melalui kegiatan Sarjana Membangun Desa (SMD). Pengembangan SDM dan kelembagaan juga dilakukan melalui penumbuhan Unit Lapangan IB (ULIB) dan pelatihan tenaga teknis (inseminator, PKB dan ATR).

Sumber: ditjennak.go.id


Setelah berita maraknya peredaran abon sapi oplosan yang dicampur dengan daging babi, Balai Pengawas Obat dan makanan (BPOM) melakukan pengujian terhadap produk abon dan dendeng sapi. Dari 35 abon dan dendeng sapi yang diperiksa didapatkan lima merek dendeng yang positif mengandung DNA babi.

Kelima dendeng merek ini ditemukan di sejumlah pasar tradisional di Surabaya, Bandung, Jakarta, Semarang, Jambi, dan Bogor.

Kelima merek tersebut adalah:
- Dendeng/abon Cap Kepala Sapi
- Dendeng/abon Cap Limas
- Dendeng/abon Cap ACC
- Dendeng Sapi Istimewa Beef Jerky Lezaaat
- Dendeng Sapi Istimewa Cap 999

Untuk mencegah beberapa penyakit pada hewan, program vaksinasi pada hewan kesayangan dan unggas dapat dilakukan dengan jadwal vaksinasi di bawah ini:

Anjing

Umur

Jenis Vaksinasi

6 minggu

Parvovirus

8 minggu

Distemper, Hepatitis, Parvovirus, Parainfluenza (alternatif 1)

Distemper, Hepatitis, Parvovirus, Parainfluenza, Leptospirosis (alternatif 2)

12 minggu

Distemper, Hepatitis, Parvovirus, Parainfluenza, Leptospirosis

1 tahun

Distemper, Hepatitis, Parvovirus, Parainfluenza, Leptospirosis

Setiap tahun

Distemper, Hepatitis, Parvovirus, Parainfluenza, Leptospirosis


Kucing

Umur

Jenis Vaksinasi

8 minggu

Cat Panleucopenia, Herpes/Rhinotracheitis, Calici

12 minggu

Cat Panleucopenia, Herpes/Rhinotracheitis, Calici

Setiap tahun

Cat Panleucopenia, Herpes/Rhinotracheitis, Calici

Unggas

Broiler 1/Ayam Potong

Umur

Jenis Vaksinasi

4 hari

ND atau Newcastle Disease (tetelo)

14 hari

Gumboro

18 hari

ND atau Newcastle Disease (tetelo)


Broiler 2/Ayam potong

Umur

Jenis Vaksinasi

4 hari

ND atau Newcastle Disease (tetelo)

8 hari

Gumboro

14 hari

Gumboro

21 hari

ND atau Newcastle Disease (tetelo)


Ayam Arab/Ayam Petelur

Umur

Jenis Vaksinasi

1 hari

Marek

4 hari

ND atau Newcastle Disease (tetelo)

10 hari

AI (Avian Influenza/Flu Burung)

21 hari

ND atau Newcastle Disease (tetelo)

28 hari

Gumboro

42 hari

Coryza I

56 hari

ND atau Newcastle Disease (tetelo)

65 hari

AI(Avian Influenza/Flu Burung)

80 hari

Cacar

112 hari

ND-EDS

126 hari

Coryza II

135 hari

AI(Avian Influenza/Flu Burung)

Setelah menyebar di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Pelalawan, Riau, virus flu burung mulai muncul di Kabupaten Siak. Penyebaran virus cukup cepat dan dalam tempo tiga hari, atau sampai kemarin, sudah tiga wilayah yang terjangkit virus, yakni Desa Telukmasjid, Desa Teluk Batil, dan Kelurahan Sungai Apit.
"Kemarin tujuh ayam mati mendadak di Kelurahan Sungai Apit. Atas kejadian itu, Dinas Peternakan Siak menurunkan tim untuk melakukan tes terhadap ayam yang mati. Ternyata dari sampel yang diambil, ayam tersebut positif tertular virus flu burung," ujar Camat Sungai Apit Indra Atmaja yang dihubungi hari Rabu (8/4).

Disebarkan
Menurut Indra, hasil tes tersebut langsung disebarkan kepada masyarakat dan tim Dinas Peternakan bersama aparat kecamatan sudah membuat langkah-langkah antisipatif mengurangi penyebaran.
Semua kepala desa, ketua RT, dan ketua RW dikumpulkan untuk mengimbau warga agar waspada terhadap penyebaran virus.
Tim Dinas Peternakan sudah melakukan penyemprotan di lokasi kandang-kandang ayam milik warga.
Pemusnahan
Secara khusus, kepada warga di tiga desa yang terjangkit virus, Indra mengimbau agar dilaksanakan pemusnahan unggas peliharaan segera. Pada Rabu kemarin sebagian warga sudah memusnahkan ayam peliharaannya.
Hanya saja, kata Indra, sebagian besar warga lainnya justru merasa keberatan untuk memusnahkan unggasnya.
Mereka meminta agar pemerintah memberi kompensasi terhadap ayam yang akan dimusnahkan.
"Kami bukan tidak mau memberi kompensasi, tetapi tidak ada anggaran untuk itu. Sebagai aparat pemerintah, kami sudah menyampaikan pesan kepada warga betapa bahayanya akibat yang ditimbulkan flu burung. Seluruh prosedur penanggulangan juga sudah dilakukan, termasuk memberi informasi kepada warga. Pemberitahuan juga sudah kami sampaikan melalui masjid-masjid. Kalau warga keberatan ayamnya dimusnahkan, kami tidak dapat memaksakan," kata Indra.
Maret
Pada tahun 2009 ini, virus flu burung di Provinsi Riau kembali muncul setelah mereda tahun 2008.
Kasus flu burung pertama kali ditemukan di Desa Dundangan, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, bulan Maret lalu.
Pada akhir Maret lalu, virus mematikan itu memakan korban seorang anak balita bernama Ibnu Wahyu Saputra (3), warga Kota Pekanbaru.
Di beberapa tempat, selain di Provinsi Riau, virus ini dilaporkan mulai kembali menyerang unggas. (Sumber :Kompas.com, 9 April 2009)





Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.