Mei 2009

Ekuador telah menutup untuk sementara waktu dua konsulatnya di kota New York, Senin (25/5), akibat khawatir terhadap salah seorang pegawainya yang telah mengidap virus H1N1. Kementerian Urusan Luar Negeri Ekuador mengatakan, konsulat di daerah Manhattan dan Queens di New York akan tetap tutup hingga pihak kesehatan dapat menegaskan apakah itu kasus virus H1N1.

Negara Andean itu telah mengonfirmasi sebanyak 24 kasus virus tersebut, sebagian besar diidap oleh orang-orang yang telah mengunjungi negara-negara, seperti AS dan Meksiko. Organisasi Kesehatan Dunia telah mengonfirmasi sebanyak 12.515 kasus di 46 negara dan virus ini telah menewaskan 91 orang.

Sumber: Kompas.com Rabu, 27 mei 2009

Sampai saat ini korban meninggal akibat rabies yang muncul di Bali sejak November 2008 telah mencapai 9 orang, berarti angka tersebut meningkat dengan 3 korban sejak bulan Februari, dimana sampai tanggal 3 Februari, korban meninggal baru 6 orang. Keenam korban tewas tersebut lima diantaranya berasal dari Unggasan, dan seorang dari Nusa Dua Kecamatan Kuta Selatan, kabupaten Badung.

Total gigitan anjing yang dilaporkan sejak Nopember 2008 hingga awal Pebruari 2009 sebanyak 534 kali.

Manusia yang tergigit anjing terbanyak terjadi di kota Denpasar yakni 402 kali, menyusul Kabupaten Badung 102 kali, Gianyar 16 kali, Tabanan tujuh kali, Buleleng dua kali serta Bangli dan Karangasem masing-masing tiga kali.
“Warga yang tergigit anjing agar segera mencici lukanya selama 10-15 menit sebelum mendapat penanganan dokter Puskesmas, rumah sakit maupun dokter praktek swasta,” ujar dr Subrata, Kepala Bidang Penanggulangan penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas kesehatan Propinsi Bali.

Sementara itu, sampai April ancaman virus anjing gila itu kembali muncul, ditandai dengan masih ada saja mereka yang jadi korban gigitan anjing dan masuk RS. Bahkan, hanya dalam hitungan sehari, ada sekitar 36 orang masuk RS gara-gara digigit anjing. Dan, ini bila tidak ditanggapi serius bisa berisiko.Seperti dikemukakan sekretaris tim dokter penanggulangan penyakit rabies RS Sanglah, dr Ken Wirasandi, kepada wartawan dia mengungkapkan bahwa dari hasil pertemuan pusat terkait merebaknya kasus rabies, diperkirakan Depkes RI akan mencoba mengoptimalkan serum anti rabies (SAR) sebagai solusi. "Harapannya pengoptimalan SAR oleh pusat ini untuk mengupayakan dan menekan jatuhnya korban tambahan akibat rabies," jelasnya. Namun, bagaimana detail SAR itu dia belum menguraikan.

Dengan tingginya angka kunjungan pasien korban gigitan anjing itu, tak pelak karena banyak dari mereka yang masih trauma dan sanksi dengan upaya pemerintah dalam mencegah merebaknya kasus rabies di Bali. Bahkan rasa waswas itu sendiri seperti diakui petugas RS. "Warga banyak trauma dengan kasus pasien tewas akibat gigitan anjing, makanya sampai detik ini (kemarin) tidak sedikit warga yang datang akibat takut dari dmpak gigitan," terang petugas.

Masih terkait 36 orang korban gigitan anjing, setidaknya terinci 23 gigitan baru dan 13 lainnya melakukan vaksinasi anti rabies ulang. Sedangkan dr Ken yang dikonfirmasi menyatakan bahwa meski kasus di lapangan masih tinggi, namun menurutnya secara umum sejatinya sudah mengalami penurunan, dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.

Bahkan, terkait dengan kasus gigitan anjing dengan rata-rata 20-30 orang per hari yang masuk RS, diperkirakan secara keseluruhan jumlah korban gigitan dan sempat dilarikan ke RS Sanglah sudah menembus angka 2.500 korban lebih.


Gen yang terdapat pada flu babi terbaru diperkirakan telah beredar secara tidak terdeteksi pada hewan babi dalam kurun waktu sekitar 1 dasawarsa. Kesimpulan ini disampaikan oleh beberapa ahli riset di AS yang merunut genom dari lebih 50 sampel virus.

Penemuan tersebut mengisyaratkan bahwa pada masa mendatang populasi babi perlu dimonitor secara seksama untuk mengantisipasi bermunculannya virus influenza. Studi ini dilaporkan oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Rebecca Garten dari Centers for Disease Control and Prevention federal dalam rilis jurnal Science.

Virus H1N1 yang pertama kali terdeteksi bulan lalu saat ini telah dipastikan terjangkit di sekitar 42 negara dan diderita lebih dari 11.000 orang. Penyebaran virus ini diduga lebih meluas lagi dengan jumlah penderita yang lebih besar.
Hasil riset ini membuka tabir tentang lompatan virus terbaru dari babi ke manusia. Beberapa gen asal virus diketahui pertama kali ditemukan pada peternakan babi AS pada 1998.

Beberapa gen lainnya terlacak pada virus babi di Eropa dan Asia. Namun, ilmuwan belum menemukan petunjuk genetik utama tentang bagaimana virus itu dapat menyebar dengan mudah antarmanusia.

Sumber: Kompas.com, 23 Mei 2009

Pakar mikrobiologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Widya Asmara, menyatakan, virus A-H1N1 penyebab flu babi yang saat ini berkembang dan menyebabkan wabah di Meksiko merupakan virus baru.

"Virus tersebut kemudian memang dinamakan dengan virus A-H1N1, namun sebenarnya merupakan hasil pencampuran genetik beberapa virus influenza," katanya seusai seminar "Antisipasi Pencegahan Penyebaran Flu Babi" di kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Selasa (19/5).

Ia mengatakan, sebelumnya virus A-H1N1 memang endemi pada populasi babi dan manusia. Namun, dampaknya tidak seganas seperti virus A-H1N1 yang saat ini berkembang.
"Virus ini dikenal dengan nama virus A-H1N1 ’klasik’, dan gejalanya seperti influenza biasa. Namun, setelah enam hari biasanya penderita langsung pulih," kata Guru Besar Mikrobiologi Fakultas kesehatan Masyarakat (FKM) UGM tersebut.

Adapun, kata dia, virus A-H1N1 yang saat ini berkembang menjadi wabah merupakan virus baru, meskipun tidak sepenuhnya baru karena hasil gabungan genetik berbagai virus, di antaranya virus influenza Amerika, virus influenza Eurasia, dan virus influenza unggas.

Menurutnya, virus H1N1 yang menyebabkan flu babi tidak mewabah pada babi, tetapi justru mewabah pada manusia.

"Sebab, seperti yang terjadi di Meksiko, wabah penyakit flu babi muncul tanpa didahului wabah serupa yang menjangkiti peternakan babi di sana," katanya.

Dengan kata lain, wabah virus tersebut tidak ditemukan di peternakan babi sehingga sampai saat ini keberadaan babi di peternakan tidak perlu dikhawatirkan, khususnya di Indonesia. Demikian dikatakannya.

Ia mengatakan, flu babi justru berpotensi besar menular lewat manusia sehingga yang harus diwaspadai adalah manusia yang tertular virus tersebut.

"Apabila ada manusia yang tertular, bisa berpotensi menularkannya kepada manusia lain atau menularkannya pada babi,” katanya.

Kalau babi sudah tertular, maka kemungkinan virus menyebar semakin besar, seperti pada kasus flu burung. "Sebab, tindakan yang dilakukan saat itu sudah terlambat," katanya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan, sebaiknya pemerintah berupaya keras untuk mencegah masuknya virus flu babi ke Indonesia dan tetap waspada walaupun virus tersebut belum masuk.

Selain itu, masyarakat (pengonsumsi daging babi) juga harus diberi pengertian bahwa babi-babi yang ada di Indonesia masih layak konsumsi karena tidak tertular virus A-H1N1.

"Terlebih lagi, Indonesia juga tidak pernah mengimpor babi dari luar negeri, namun justru mengekspor babi ke negara lain, seperti ke Singapura," katanya.

Sumber: Kompas.com, 19 Mei 2009


Pemerintah diminta lebih aktif mencegah masuknya virus H1N1 atau flu babi, terutama pengawasan terhadap arus masuk orang melalui bandara kedatangan luar negeri, kata anggota Komisi I DPR RI Effendy Choirie.

"Saya lihat pengamanan bandara di Indonesia biasa-biasa saja, tidak sama seperti di sejumlah negara yang cukup siap dalam upaya mencegah flu babi yang kemungkinan dibawa dari luar," katanya di Jakarta, Senin.

Di Jerman, ia mencontohkan, setiap pendatang yang masuk ke negara itu dibagikan masker selain adanya pendeteksi di bandara.
"Saya lihat di beberapa negara Eropa, seperti Jerman itu cukup siaga sebagai langkah pertama pencegahan wabah flu babi. Saat tiba di bandara, semua penumpang dan pendatang dibagikan masker," Kata dia mencontohkan.

Bandara Ngurah Rai (Bali) dan Soekarno-Hatta sebagai pintu masuk orang asing memang telah dipasang thermal scanner, alat pemindai suhu tubuh manusia.
"Tapi, saya rasakan pemasangan alat itu belum mencukupi. Meski belum ditemukan kasus positif flu babi, namun diperlukan kesiapan maksimal, jangan sampai pencegahan dilakukan setelah adanya kasus positif, kata Effendy.

Pemerintah seharusnya memberikan perlindungan maksimal kepada seluruh warga negara, jangan sampai setelah adanya korban baru diantisipasi, ujar Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR RI itu.
Alat pendeteksi yang dipasang di bandara dilengkapi pembersih tubuh (body cleaner) dan rontgen untuk mengonservasi penumpang yang menunjukkan gejala panas tinggi.
Sumber: Kompas. com






BIMA-Setelah sekian lama tak terdengar, kini berita masalah penyakit antrax muncul lagi. Kali ini datang dari Kabupaten Bima. Di Desa Bajo, Kecamatan Soromandi, ditemukan kambing yang terindikasi terkena virus antrax. Penemuan kambing bermasalah itu secara tidak sengaja oleh Kepala UPT Peternakan Soromandi, Khaerul, Sabtu (16/5) lalu.
Kabetulan tetangga Khaerul di Desa Bajo, Yusuf, membeli seekor kambing yang sudah disembelih oleh Ikraman, warga Punti, Desa Sarita. Ketika kambing tersebut hendak dikuliti, terlihat membiru. Setelah diperiksa, ditemukan ciri-ciri menderita penyakit antrax. ‘’Karena khawatir kambing itu dikonsumsi oleh warga, saya sarankan agar di kuburkan, ungkap Khaerul.

Kambing betina tersebut ternyata berasal dari Ramlah, warga Dusun Punti. Sebelumnya, dia menjual dua ekor kambing yang sakit. Satu ekor dibeli Ikraman, satunya lagi dibeli oleh Ramdan. Selanjutnya Ramdan menjual ke Ridwan, yang kemudian dibawa ke Kota Bima dan dijual lagi di Pelabuhan Bima.Kuat dugaan, kambing yang dijual ridwan itu pun menderita antrax. Dikhawatirkan dipotong dan dikonsumsi oleh warga.

Kabid Kesehatan Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Bima Muhammad Sahlan, mengaku belum mendapat laporan adanya temuan kambing yang diduga terkena antrax di Soromandi. Untuk memastikan hal itu, pihaknya akan turun dan melakukan pengecekan langsung ke lapangan. ‘’Kita akan turun besok (hari ini, Red) untuk mengecek langsung,’’ ujarnya.

Untuk memastikan ternak menderita antrax atau tidak, lanjutnya, Disnak akan mendiagnosa awal dengan mikroskop, kemudian dibawa ke Laboratorium Tipe C. Jika diduga kuat terkena antrax, sampel kambing itu akan dibawa ke Laboratorium Tipe A, dan itu ada di Maros, Sulawesi Selatan.

‘’Setelah pemeriksaan di Lab A baru bisa dipastikan positif atau tidak terkena antrax,’’ tegas Sahlan. (gun)


Sumber: Lombok Post, 20 Mei 2009


Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), H.M. Zainul Majdi minta bank di daerah tersebut mendukung program terobosan NTB 'Bumi Sejuta Sapi' (BSS) dengan mengucurkan kredit kepada peternak, untuk mengembangkan populasi sapi agar pada tahun 2013 nanti mencapai satu juta ekor.

Pada rapat persentasi Program Terobosan NTB BSS yang dihadiri sejumlah perbankan dan instansi terkait di Mataram, Senin (18/5), Zainul menanyakan langsung komitmen dan kesediaan perbankan untuk mendanai program BSS tersebut, karena program ini tidak mungkin bisa diwujudkan tanpa adanya kontribusi pihak perbankan. "Saya ingin mengetahui sejauhmana komitmen perbankan dalam mendukung program BSS tersebut dan apakah ada skeme kredit yang bisa dimanfaatkan untuk mendanai program tersebut, dukungan perbankan ini penting karena tidak mungkin bisa diwujudkan oleh pemerintah daerah sendiri," ujarnya.

Zainul menyatakan optimis program terobosan NTB BSS bisa diwujukan, karena secara kultur masyarakat sudah memiliki kemampuan untuk beternak sapi dan masyarakat tidak akan merasa menjadi petani jika tidak memelihara sapi, karena jenis ternak ini bisa mereka gunakan sebagai tenaga kerja untuk pengolahan lahan pertanian.

"Karena itu saya mengharapkan pihak bank tidak perlu khawatir untuk mengucurkan kredit guna mendukung program BSS tersebut, pemerintah pusat dan daerah menjamin bahwa kredit tersebut tidak akan bermasalah," tandasnya. (www.kapanlagi.com)

Rumah Sakit Umum Mataram, Nusa Tenggara Barat mengisolasi seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang diduga terkena flu babi. Hal tersebut diinformasikan Direktur RSU Mataram, dr. Agus Widjaja, Rabu (13/5).
TKI Lombok tersebut berinisial S dan berusia 27 tahun. Ketika masuk RSU Mataram Selasa kemarin, ia memiliki panas sekitar 39 derajat Celcius. Kini, kondisi S terus membaik dan panasnya turun menjadi 36 derajat Celcius. "Namun untuk menentukan apakah S mengidap flu babi masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," kata Agus.
Awalnya, TKI tersebut melintasi alat thermo scanner yang dipasang Kantor Kesehatan Pelabuhan di Bandara Selaparang. Alat tersebut ternyata berbunyi. Setelah diperiksa, suhu tubuh S mencapai 39 derajat Celcius dan itu merupakan salah satu tanda-tanda orang yang terkena flu babi.

Semakin merebaknya kasus flu A (H1N1) di dunia, beberapa negara mulai mengkonfirmasi kasus flu A yang mulai menulari warganya, Malaysia dan Ekuador mengkonfirmasi adanya kasus pertama yang menulari warganya masing-masing."Saya dapat memastikan bahwa itu adalah kasus pertama di Malaysia," kata Dirjen Depkes Malaysia Ismail Merican pada AFP, Jumat (15/5/2009).
Menurutnya, pasien flu babi itu adalah mahasiswa lelaki berusia 21 tahun yang baru pulang dari AS pada 13 Mei dan menderita demam, tenggorokan sakit dan badan ngilu pada 14 Mei.
Depkes menganjurkan semua penumpang yang satu pesawat dengan pasien tersebut yaitu pesawat dengan nomor penerbangan MH 091 dari Newark (AS) tujuan Kuala Lumpur, yang mendarat pukul 07.15 pagi pada 13 Mei, untuk segera mengontak Depkes untuk instruksi lebih lanjut.
Depkes menyatakan menerima laporan 11 kasus flu yang sedang diteliti dan semua pasiennya diisolasi untuk dimonitoring. Semua pasien itu menunjukkan gejala flu dan pernah mengunjungi negara-negara yang terinfeksi flu babi.
Pada Selasa lalu, pemerintah Malaysia menganjurkan warga negaranya untuk tidak mengunjungi As, Meksiko, Kanada, Spanyol dan Inggris, menyusul adanya kasus flu babi di negara-negara tersebut.
Sementara dari Ekuador Pasien tertular adalah seorang anak laki-laki yang berusia 12 tahun dan tinggal di kota Guayaquil, kata Wakil Menteri Kesehatan Ekuador Ricardo Canizarez, yang menambahkan satu laboratorium mengkonfirmasi kasus itu dan contoh dikirim ke Amerika Serikat untuk dianalisis lagi.
Anak laki-laki tersebut tiba di Ekuador Ahad dari Miami, Amerika Serikat, tempat ia menjalani operasi.
Pasien itu telah melewati pemeriksaan kesehatan yang ditetapkan di bandar udara Jose Joaquin Olmedo dari Guayaquil, tapi ia dibawa ke Rumah Sakit Infeksi "Jose Daniel Rodriguez" di Guayaquil, Senin, karena ia mengalami beberapa gejala.

Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat sekarang ini barangkali lebih dikenal sebagai salah satu daerah pariwisata dengan keindahan Pantai Senggigi sebagai daya tariknya ataupun pesona bawah laut tiga Gili di kawasan Lombok Utara, serta masih banyak daya pesona wisata NTB (Pulau Lombok dan Sumbawa) yang tak kalah indahnya dengan Pulau Bali yang namanya lebih dulu mendunia.

Nama lain NTB yang telah dikenal di tingkat Nasional adalah Bumi Gora. Berawal dari keberhasilan penerapan teknologi pertanian dengan sistem gogo rancah (padi gogo) ketika NTB mengalami masa-masa sulit atau saat rawan pangan sekitar tahun 1980-an, dipimpin dan dipopuleri oleh Gubernur kala itu H. Gatot Suherman, akhirnya mampu mengatasi rawan pangan serta menjadi cikal bakal keberhasilan NTB menuju swasembada pangan khususnya beras sampai sekarang.

Setelah dua dekade lebih berlalu dan sekarang melalui kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur H. Zainul Majdi MA-H. Badrul Munir, NTB melaunching sebuah program baru bersamaan dengan pencanangan Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS) tahun 2010 di Banyumulek, Kabupaten Lombok Barat yakni program Bumi Sejuta Sapi (BSS).

Program NTB BSS merupakan program percepatan pengembangan peternakan sapi menuju populasi satu juta ekor dalam waktu lima tahun (2009-2013). NTB kedepannya diharapkan menjadi propinsi surplus sapi yang dikembangkan terintegrasi dengan sektor lainnya guna mendukung ketahanan pangan berupa protein hewani. BSS dimaksudkan sebagai wilayah pengembangan peternakan khususnya sapi yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi, daya beli, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat. 

Beberapa sasaran yang ingin dicapai dari program ini berupa; 1) Tercapainya populasi sapi optimal sesuai dengan daya dukung wilayah, yaitu satu juta ekor; 2) Tercapainya peningkatan produksi dan produktifitas sapi bibit dan sapi potong; 3) Tercapainya grade sapi ras bali NTB sesuai standar; 4) Meningkatnya ketahanan pangan melalui penyediaan daging yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal); 5) Terwujudnya peternakan sapi yang terintegrasi dengan sektor-sektor terkait; 6) Pemanfaatan padang penggembalaan ternak secara optimal; 7) Terbangunnya pabrik pakan ternak ruminansia; 8) Meningkatnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan peternak maupun kandang kolektif; 9) Optimalnya dukungan NTB terhadap Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS) Nasional; dan 10) Tercapainya peningkatan pendapatan petani-peternak sapi. 

Dalam mewujudkan sasaran dari program ini kebijakan dan strategi yang akan dilaksanakan, 1) Peningkatan populasi dan produktifitas sapi dengan program 3 S yaitu Satu induk-Satu anak-Satu tahun, pengendalian pengeluaran sapi bibit betina, pengendalian pemotongan betina produktif dan pengendalian penyakit pedet; 2) Pengaturan tata ruang padang penggembalaan ternak; 3) pemanfaatan teknologi pakan, lahan basis pakan dan limbah pertanian/industry; 4) Peningkatan penyediaan daging yang ASUH; 5) Pengembangan SDM dan kelembagaan melalui revitalisasi penyuluh peternakan, pengembangan kelompok tani ternak/kandang kolektif dan pengembangan institusi pendukung NTB BSS; 6) Pengembangan sarana dan prasarana peternakan sapi; dan 7) Peningkatan investasi di bidang peternakan. 

Selain penerapan kebijakan dan strategi yang akan dilaksanakan, beberapa langkah-langkah percepatan menuju BSS tersebut adalah peningkatan jumlah induk sapi produktif sebanyak 38-42 % dan kelahiran anak sapi sebesar 75-85%, pengurangan angka kematian anak sapi sampai 10-18%, penurunan angka pemotongan betina produktif 8-15%, meningkatkan angka pertumbuhan 10-15%, mengatur secara cermat pengeluaran sapi bibit antar pulau/antar propinsi, menggalakkan penyediaan pakan ternak yang cukup dan berkualitas serta meningkatkan pengendalian penyakit hewan menular strategis. 

Secara nasional NTB telah diakui sebagai daerah penghasil ternak (saat ini masuk urutan 8 nasional) dari jumlah populasi sapi. Data tahun 2008, populasi sapi sebanyak 546.114 ekor. Populasi yang besar ini selain untuk konsumsi sendiri yang mencapai 35.000 ekor per tahun, selebihnya untuk menyuplai kebutuhan daerah-daerah lain di Indonesia diantaranya Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Maluku dan Papua. Bahkan sapi bali asal NTB pernah dilakukan ekspor ke negeri jiran Malaysia dan Timor Leste. 

Sapi bali asal NTB banyak diminati karena memiliki keunggulan-keunggulan dibandingkan dengan sapi jenis lainnya karena kemampuan beradaptasi yang baik dengan lingkungan baru, tingkat perkembangan yang cepat, mutu daging yang baik serta yang utama sekali adalah berkaitan dengan asal sapi itu sendiri yaitu NTB yang dikenal sebagai daerah bebas berbagai penyakit menular strategis (Brucellosis, Septicaemia Epizootica, dan Jembrana).

Menilik jauh ke belakang sebenarnya NTB sejak dulu menjadi gudang ternak, dimana sapi terdapat hampir di seluruh desa. Hal ini tidak terlepas dari letak geografis dan potensi wilayah yang mendukung dengan tersedianya lahan yang diperkirakan masih mampu menampung 2 juta unit ternak. 

Tradisi masyarakat yang sejak dulu tidak terpisahkan dari kegiatan beternak, seperti halnya bertani atau lebih tepat diistilahkan petani-peternak turut membantu kemajuan pembangunan peternakan. Bagi masyarakat pedesaan memiliki ternak dapat bermanfaat ganda, sebagai petani fungsi ternak dapat dimanfaatkan sebagai tenaga pembajak sawah sebelum traktor-traktor dikenal luas seperti sekarang. Manfaat lain dari ternak mereka adalah sebagai tabungan yang dapat setiap saat diuangkan atau dijual untuk memenuhi berbagai keperluan.

Dalam masa kekinian, program BSS menjadi sebuah pilihan jitu mengingat latar belakang sejarah panjang NTB sebagai satu daerah yang sangat berpotensi baik dari SDA maupun SDM yang sebagian besar penduduk bekerja dalam sektor ini, maka upaya membangun dunia peternakan guna mendorong pertumbuhan dan kemajuan di bidang lainnya menjadi satu hal yang sangat penting. 

Pembangunan peternakan telah terbukti mampu bertahan dari gejolak-gejolak perekonomian masyarakat. Di tengah krisis ekonomi yang menerpa bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia tahun 1997 dan baru-baru ini melanda Amerika Serikat yang telah berefek pada kebangkrutan perusahaan-perusahaan raksasa telah memunculkan kekhawatiran akan terjadinya resesi global, namun usaha peternakan sapi terutama berbasis pedesaan tetap bertahan dan sangat menjanjikan keuntungan.

Sebuah kearifan lokal yang yang lahir dari kebudayaan masyarakat NTB khususnya petani-peternak terdahulu dan masih relevan sampai sekarang tampaknya perlu direnungkan kembali terkait dengan program BSS yang pada akhirnya nanti bertujuan untuk mensejahterakan rakyat. Arti dan nilai sapi bagi sebagian besar masyarakat adalah modal dan dalam arti luas menjadi tabungan masa depan untuk meraih cita-cita hidup. Tabungan yang banyak tentu akan mempermudah langkah dalam meraih segala tujuan dan impian. 

Alangkah eloknya kata orang padang, kalau NTB yang telah dikenal sebagai propinsi lumbung padi (swasembada beras) kemudian berikutnya menjadi “Bumi Sejuta Sapi”… Semoga !!, Sukses Pak Gubernur-Wakil Gubernur dan sejahteralah petani-peternak.

Meskipun India masih bebas dari influensa A/H1N1, penyakit hewan lain, Influensa Equine, atau flu kuda, telah menewaskan 43 ekor kuda di negara bagian barat India Rajasthan dan Gujarat, demikian laporan harian Hindu, Danik Bhaskar, Sabtu (9/5).

Berdasarkan laporan laboratorium di Hissar, Haryana, di India utara, dibenarkan, kematian hewan-hewan itu disebabkan Influensa Equine yang juga disebut flu kuda.

Kematian pertama terjadi pada Januari lalu di Gandhinagar, Gujarat, di mana 15 ekor kuda tewas akibat penyakit tersebut bulan lalu, kata laporan itu.

Untuk mencegah penyakit tersebut tersebar luas, pemerintah Gujarat memutuskan melarang membeli dan menjual kuda di Negara bagian itu.
Di Rajasthan, 25 kuda tewas pada suatu pameran kuda di daerah Jodhpur, menurut laporan tersebut. Flu Equine disebabkan virus Influansa A, yang endemik pada kuda.

Virus ini bisa berpindah ke jenis hewan lain dan menular pada manusia. Influensa Equine ditandai dengan sangat tingginya penularan di antara kuda, dan mempunyai masa inkubasi relatif singkat, yakni satu sampai lima hari.

Kuda yang terserang flu ini bisa mengembangkan gejala-gejala demam, batuk kering dan keluar ingus dari hidungnya.

Sumber: Kompas.com

Selain Meksiko dan Amerika Serikat, negara-negara terinfeksi flu H1N1 (sebelumnya di sebut flu babi) adalah: Austria (1 kasus), Kanada (85), China, Hong Kong (1), Costa Rica (1), Kolombia (1), Denmark (1), El Savador (2), Prancis (2), Jerman (8), Ireland (1), Israel (3), Italia (1), Belanda (1), Selandia Baru (4), Korea Selatan (1), Spanyol (40), Swiss (1) dan Inggris (15).

Demikian data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di situs www.who.int. Dari 20 negara tersebut, sejauh ini korban jiwa hanya dilaporkan di Meksiko dan AS.

Untuk mencegah penularan virus H1N1, WHO mengimbau semua orang untuk sering-sering mencuci tangan dengan sabun. Juga segera pergi ke dokter jika mengalami sakit mirip flu.

Sebelumnya pada 2 Mei lalu, otoritas Kanada melaporkan ditemukannya virus H1N1 pada sebuah peternakan babi di Alberta. Diduga hewan-hewan itu tertular virus tersebut dari seorang pekerja peternakan yang belum lama ini bepergian ke Meksiko. Pria Kanada tersebut sempat mengalami gejala-gejala mirip flu dan menularkannya ke babi-babi.

Sejumlah ahli kesehatan memperkirakan virus flu babi bisa mengancam warga di belahan dunia bagian selatan karena angin musim dingin yang akan membawa virus dan membuatnya dengan cepat bermutasi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan, saat ini sudah ditemukan 1.025 kasus di 20 negara.

Meskipun demikian, WHO melalui Asisten Direktur Umum, Doktor Keiji Fukuda, menyatakan belum saatnya menaikkan level pandemi global ke level maksimum, yaitu level enam yang berati infeksi virus telah menyebar dan menjadi ancaman dunia.

Flu H1N1 terus meluas. Sejauh ini sudah 20 negara di dunia yang melaporkan kasus flu H1N1.

Kasus pertama flu H1N1 di Asia ditemukan di Hongkong, hal ini ditegaskan oleh kepala pemerintah Hong Kong, Donald Tsang. Dikatakan, seorang pria yang terbang ke kota itu dari Meksiko telah didiagnosa terkena flu tersebut. Tamu dan staff hotel tempat ia menginap telah dikarantina untuk seminggu. Warga Meksiko itu dirawat di rumah sakit dan keadaannya masih stabil.

Sementara itu di Korea Selatan dilaporkan dua orang terinfeksi influenza A H1N1, dimana sebelumnya seorang warga Korsel yang berusia 51 tahun juga diduga terinfeksi dan masih dalam perawatan intensif. Korban lainnya yaitu wanita berusia 41 tahun yang diduga terinfeksi setelah menjalin kontak dengan korban pertama di sebuah lokasi. Ada pula pria berusia 57 tahun yang belum diketahui bagaimana bisa terinfeksi karena tidak jelas kegiatan apa yang dilakukan.

Terinfeksinya Hongkong dan Korea Selatan membuat negara-negara di Asia mulai cemas dan meningkatkan kewaspadaan. Untuk mencegah penyebaran flu tersebut, saat ini, negara-negara Asia memperketat pengawasan para pelancong asing yang masuk ke negaranya. Jepang, Malaysia dan Singapura mengatakan, pihaknya meningkatkan pemeriksaan penumpang di bagian imigrasi jika ada diantara mereka yang demam atau terkena flu. Sementara, Hongkong menaikkan kondisi level ancaman flu babi dari sebelumnya "siaga" menjadi "serius".

Singapura memperketat pemeriksaan di terminal kedatangan Changi Airport. Mereka yang mengalami demam tinggi dari temperatur normal harus melalui pemeriksaan medis. Langkah serupa juga diambil oleh Malaysia.

Jepang juga bersiaga. Pihak imigrasi akan memperketat penjagaan semua penerbangan dari Meksiko. Bahkan Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan untuk memproduksi vaksin anti flu babi. Lain halnya dengan Filipina. Negara tersebut melarang impor daging babi dari Meksiko dan AS. Pemerintah setempat juga mencabut larangan impor vaksin flu burung sehingga dapat dijual bebas.

Para menteri kesehatan 10 negara anggota Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) siap bertemu di Bangkok akhir pekan ini untuk membahas cara-cara menanggulangi merebaknya virus influensa A (H1N1) dari Mesksiko yang telah menyebar ke beberapa negara Asia, kata Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva Ahad.

Berbicara dalam pidato televisi mingguannya, Abhisit mengatakan dia telah dilapori oleh Menteri Kesehatan Umum Witthaya Kaewparadai, bahwa kontak telah dilakukan dengan Menteri Kesehatan Filipina, Francisco Duque, yang sepakat untuk memimpin bersama pertemuan tersebut. Pertemuan itu akan berlangsung di ibukota Thailand, Bangkok, 7-8 Mei.

Para menteri kesehatan dari negara-negara ASEAN telah berpengalam dalam memantau virus-virus seperti flu burung dan SARS di kawasan mereka sebelumnya. Dalam pertemuan mendatang, diperkirakan mereka akan meningkatkan upaya pencegahan penularan virus baru itu di negara masing-masing, kata Abhisit. Thailand saat ini adalah ketua ASEAN.

Abhisit menandaskan bahwa sejauh ini tak ada korban influensa A yang telah dilaporkan di Thailand. Virus baru yang mematikan dan berasal dari Meksiko itu kini dilaporkan telah menyebar ke Hong Kong dan Korea Selatan.

Keluarga Orthomyxoviridae terdiri dari genus Influenzavirus A dan B, mempunyai dua spesies yaitu virus influenza A dan influenza B, serta influenza C (satu spesies yaitu virus influenza C).
Virus influenza A sebenarnya sejak dulu sangat menarik perhatian para dokter hewan, peneliti kesehatan dan ilmuwan karena seringkali menyebabkan kasus flu yang dapat dan pernah menimbulkan pandemik. Sebut saja flu babi dan flu burung, kedua penyakit ini ditimbulkan oleh virus influenza tipe A tersebut dan selain itu karena galur virus yang berbeda menyebabkan influenza pada babi, kuda, unggas dan manusia. Virus influenza mamalia menyebabkan infeksi lokal, biasanya terbatas pada saluran pernafasan, sedangkan infeksi oleh virus influenza unggas menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan. Virus influenza B dan C menyebabkan penyakit pada manusia tetapi tidak pada spesies ternak yang penting.

Virus influenza babi diisolasi pada tahun 1931 dan virus influenza manusia tahun 1933. Sedangkan virus influenza pada unggas baru berhasil diidentifikasi pada tahun 1955 meskipun sampar unggas telah dikenal di Eropa sejak abad ke-19. Virus influenza kuda pertama kali diisolasi pada tahun 1956.

Sifat Virus Influenza A
Virion menciri dari virus influenza A adalah membulat dan berdiameter sekitar 100 nm, dan bentuk yang lebih besar dan lebih tidak beraturan lebih sering ditemukan. Bentuk nukleokapsid helikoidal dan spiral berdiameter 9-10 nm. Virus berbentuk bundar atau lonjong.
Mempunyai 8 protein virion, lima merupakan protein berstruktur dan tiga berkaitan dengan polymerase RNA. Yang terbanyak adalah protein matriks (M1) yang tersusun dari banyak monomer kecil. Protein kecil lain M2 terdapat pada sejumlah kecil cetakan dan menonjol sebagai pori-pori melewati membrane, merupakan tempat bekerjanya obat amantidin.

Virus ini mempunyai dua jenis peplomer, molekul hemaglutinin (H) bentuk batang yang merupakan trimer dan molekul neuraminidase (N) bentuk jamur yang merupakan tetramer. Kedua molekul H dan N itu merupakan glikoprotein dann membawa epitop khusus.
Ketiga spesies virus influenza A, B dan C tidak mempunyai antigen yang sama. Virus influenza A dibedakan atas subtipe yang semuanya mempunyai nukleoprotein dan protein matriks yang berkerabat tetapi berbeda dalam hemaglutinin (H) dan neuraminidasenya (N). Sejauh ini telah ditemukan 14 subtipe dari H (H1-H14) dan 9 subtipe dari N (N1- N9) pada unggas, beberapa diantaranya ditemukan dalam berbagai kombinasi antara H dan N pada berbagai spesies mamalia. Karena konstelasi gen yang baru dapat terjadi melalui penggabungan kembali genetik, setiap kombinasi subtipe H dan N secara teori mungkin terjadi, tetapi hanya terbatas pada subtipe yang sejauh ini ditemukan pada spesies mamalia, walaupun semua subtipe terdapat pada unggas.
Virus influenza peka terhadap pengaruh fisis (suhu tinggi 56°C selama 30 menit, membeku dan meleleh, sinar ultraviolet), pH asam (pH 3), dan pelarut lemak/detergen. Karena itu virus sangat stabil pada kondisi lingkungan biasa.

Replikasi Virus
Hemaglutinin virus influenza (HA) terikat pada reseptor glikoprotein yang rantai samping oligosakaridanya berujung asam sialat dan virionnya diperoleh melalui endositosis. Pada sel yang memungkinkan untuk berkembang (permisif), HA diaktifkan melalui penyibakan menjadi dua bagian, HA1 dan HA2 yang masih berkaitan melalui ikatan disulfide. Perubahan konformasi HA pada pH endosoma (pH 5) mendorong terjadinya penggabungan membran, dan memicu penembusan.

Nukleokapsid bermigrasi ke dalam inti tempat mRNA virus ditranskripsi melalui mekanisme yang unik. Dalam mekanisme itu endonuklease virus yang terkait denga protein B2 menyibak penutup 5'-metilguanosin plus nukleotida 8-15 dari RNA inti heterogen. Dari ke-8 transkripsi RNA primer yang dihasilkan, 6 merupakan mRNA monosistronik dan ditranslasi secara langsung menjadi protein yang mewakili H, N, NP, dan ketiga komponen polymerase virus PB1, PB2 dan PA. Dua transkrip RNA primer lainnya mengalami penyambungan, masing-masing menghasilkan dua mRNA yang ditranslasi pada kerangka pembacaan berbeda untuk menghasilkan M1, M2 dan NS1, NS2.

Polipeptida H dan N mengalami glikosilasi dan asilasi dan virus menjadi dewasa dengan penguncupan dari permukaan atas sel. Tidak diketahui melalui mekanisme apa cetakan dari masing-masing ke-8 segmen RNA itu diseleksi untuk digabungkan ke dalam virion dan dikaitkan pada satu nukleokapsid. Partikel penyela defektif yang mula-mula dikenal sebagai "virus tak lengkap" sering dihasilkan setelah terjadi infeksi dengan tingkat pelipatgandaan tinggi.

Patogenesis dan Imunitas
Patogenesa dari infeksi virus influenza babi dan kuda mirip dengan manusia. Infeksi terjadi melalui saluran pernafasan, melalui butir air yang keluar pada waktu batuk dan bersin. Virion melekat pada silia sel epitel hidung, trakea dan bronkus, atau dapat dimasukkan secara langsung ke dalam alveoli. Dalam waktu dua jam antigen virus dapat ditemukan dalam sel tersebut. Virus menyebar ke seluruh saluran pernafasan dalam waktu 1-3 hari. Viremia sementara dapat ditemukan pada influenza kuda tetapi dampaknya jarang terjadi. Nekrosis sel epitel timbul bersamaan dengan tanda klinis terparah, demam dan pneumonia. Infeksi virus influenza menurunkan daya tahan terhadap infeksi bakteri sekunder yang dapat menyebabkan bronkopneumonia.

Diagnosa Laboratorium
Semua virus influenza bereplikasi dengan sempurna pada telur ayam bertunas berembrio umur 10 hari, melalui inokulasi lewat amnion atau alantois dan diinkubasi pada 35-37°C selama 3-4 hari. Replikasi virus dapat diketahui melalui adanya aktivitas hemaglutinasi dalam zalir amnion atau alantois yang diambil untuk tujuan tersebut. Sistem biakan sel yang digunakan untuk riset meliputi fibroblast embrio ayam dan sel lestari ginjal anjing Madin-Darby ("Madin-Darby canine kidney cell line-MDCK).
Bahan terbaikk untuk pengisolasian virus dari babi dan kuda adalah lender hidung yang diambil pada saat infeksi dini, atau bahan paru-paru yang didapatkan melalui nekropsi. Diagnosa serologis retrospeksi dapat dilakukan pada babi, kuda dan manusia dengan menggunakan uji hambatan hemaglutinasi menggunakan serum sepasang.



Peternak sapi perah dan koperasi meminta pemerintah memberi stimulus berupa subsidi harga susu segar Rp 600 per kilogram menyusul terus menurunnya harga pembelian susu oleh Industri Pengolahan Susu. Tanpa subsidi, usaha ternak sapi perah hancur.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Dedi Setiadi saat dihubungi, Sabtu (3/5) di Bandung, Jawa Barat, mengemukakan, sekarang ini peternak sapi perah berada pada kondisi yang sulit menyusul terus menurunnya harga pembelian susu oleh PT Nestle Indonesia. Pada saat yang sama, peternak tidak mampu menghindar dari tekanan kenaikan harga pakan.

"Kalau dibiarkan terus seperti ini, lama-lama tidak ada yang mau lagi memelihara sapi perah. Kondisi yang tidak menguntungkan peternak memaksa Indonesia bergantung sepenuhnya pada bahan baku susu impor. Padahal, susu sangat berperan mencerdaskan masyarakat," kata Dedi.

Munculnya perjanjian kerja sama FTA plus Australia dan Selandia Baru membuat pemerintah harus menurunkan bea masuk impor bahan baku susu dalam bentuk susu bubuk skim (skim milk powder). Penurunan bea masuk mengakibatkan harga susu segar dalam negeri sebagai bahan baku susu bubuk tidak lagi kompetitif.

Sementara pemerintah menurunkan bea masuk bahan baku susu impor menjadi nol persen, Industri Pengolahan Susu (IPS) justru menurunkan harga beli susu dalam negeri. Nestle sebagai penyerap susu segar terbesar saat ini selama lima bulan telah dua kali menurunkan harga pembelian dengan total penurunan Rp 350 per kg.

"Menuntut kenaikan bea masuk bahan baku susu impor akan berbenturan dengan perjanjian perdagangan bebas dengan Australia dan Selandia Baru. Karena itu, kami meminta pemerintah memberikan subsidi harga susu dalam negeri," katanya.

Berdasarkan perhitungan independen dari Universitas Brawijaya, harga susu segar yang layak diterima peternak saat ini Rp 3.736 per kg. Ditambah biaya penanganan susu dalam bentuk handling dan transportasi, harga beli susu IPS seharusnya Rp 4.136 per kg.

Yang terjadi, dengan penurunan harga yang baru, harga beli susu IPS rata-rata hanya Rp 3.550 per kg. "Selisih harga ini yang seharusnya dibantu pemerintah," katanya.

Mengikuti langkah Nestle

Langkah Nestle Indonesia menurunkan harga pembelian susu segar segera diikuti perusahaan pengolahan susu lain. Per 1 Juni 2009, empat perusahaan besar pengolahan susu mengikuti langkah Nestle menurunkan harga pembelian susu Rp 100 per kg.

Dedi mengatakan, faktor daya saing menjadi pertimbangan utama keempat perusahaan pengolahan susu ikut menurunkan harga pembelian susu segar dalam negeri sebagai bahan baku.

"Bila Nestle bisa mendapatkan harga beli susu segar lebih murah, tentu akan menekan biaya produksi sehingga harga jual susu Nestle ke konsumen bisa lebih kompetitif," ujar Dedi.

Penurunan harga beli susu Rp 100 per kg direncanakan efektif 1 Juni 2009. Meski begitu, pihak GKSI dan peternak sapi perah tetap berusaha bernegosiasi. Empat perusahaan itu adalah PT Ultra Jaya, PT Frisian Flag, PT Sari Husada, dan PT Indomilk-Indolacto.

Ketua IPS Abdullah Sabana mengatakan, permasalahan antara IPS dan GKSI sudah selesai. "Kami sepakat untuk bersama- sama membangun persusuan nasional," katanya.

Sumber asli: Kompas.com


WHO saat ini resmi merubah penggunaan sebutan "swine flu" atau flu babi dengan menggunakan nama baru, A-H1N1. Hal ini dilakukan untuk menghentikan kerancuan. Flu itu tidak lagi semata-mata terjangkit pada babi, tetapi juga pada manusia.

Penggantian ini setelah Uni Eropa mengkritik penamaan flu babi karena salah kaprah dan bisa menghancurkan industri daging babi. Komisaris Kesehatan Uni Eropa Androulla Vassiliou mengatakan, flu babi seharusnya disebut "flu baru" (novel flu).

Vassiliou mengatakan, konotasi yang salah akan merugikan produsen daging babi. Dia menambahkan, daging babi aman dimakan dan tak ada hubungannya dengan penularan flu babi.

Ahli kesehatan mengatakan, virus itu berasal dari jenis yang sama yang menyebabkan penularan musiman pada manusia, tetapi juga mengandung materi genetik dari versi flu yang biasanya menjangkiti babi dan burung.

Saat ini, empat laboratorium di Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat tengah mengembangkan vaksin flu babi. Vaksin pertama diperkirakan siap dalam 4-6 bulan. Diperlukan beberapa bulan lagi untuk memproduksi vaksin itu dalam jumlah besar.

Tapi apapun namanya, flu ini harus selalu diwaspadai dan dilakukan usaha-usaha dari seluruh negera untuk mencegah terjadinya pandemik.

Meksiko merevisi jumlah korban meninggal akibat flu babi. Dari semula diperkirakan hingga 176 orang menjadi 101 saja. Itu pun baru 16 korban yang benar-benar dipastikan meninggal karena virus H1N1 tersebut. Sedangkan 85 korban yang lain masih menunggu hasil pemeriksaan di laboratorium.

''Di antara 159 data korban yang sudah berada di tangan kami, setidaknya 58 diketahui meninggal karena penyebab lain,'' kata Cordova.

Sejak merebaknya flu babi mulai akhir bulan lalu, Meksiko memang berkali-kali mengumumkan data yang tak konsisten. Tapi, Cordova menegaskan, pengumuman kali ini sekaligus menunjukkan bahwa Meksiko telah mulai berhasil mengontrol penyebaran virus percampuran Berdasar data terbaru dari Meksiko tersebut, Pusat Pencegahan dan Penanggulangan Wabah (CDC) Amerika Serikat menyimpulkan bahwa flu babi tidak semenular seperti yang dipikirkan selama ini. Karena itu, WHO mengulangi sarannya untuk tetap membuka perbatasan dan tidak membatasi perjalanan. CDC juga memastikan bahwa wabah flu kali ini tidak seburuk seperti yang terjadi pada 1918. Kala itu, wabah flu membunuh 50 juta orang di seluruh dunia.

Negara-negara tertular

WHO melaporkan bahwa virus flu A-H1N1 telah menyebar total ke 15 negara. Yaitu, AS (141 kasus), Austria (1), Kanada (34), Hongkong -Tiongkok (1), Denmark (1), Prancis (1), Jerman (4), Israel (2), Belanda (1), Selandia Baru (4), Korea Selatan (1), Spanyol (13), Switzerland (1), dan Britania (13). Dua kasus yang diduga muncul di Afrika Selatan ternyata negatif.

Hingga Sabtu (2/5), jumlah korban flu babi naik menjadi 653 orang. Dari jumlah itu, 397 orang terdapat di Meksiko. Demikian pengumuman yang disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Ini adalah wabah akibat flu virus baru bernama A-H1N1 yang juga dikenal luas sebagai swine flu. Flu ini tidak lagi tersebar di antara babi, tetapi telah berpindah menjadi flu yang menjangkiti manusia.

Jumlah korban tewas di Meksiko mencapai 16 orang dan di Amerika Serikat 1 orang, yakni pria berusia 23 tahun asal Meksiko yang meninggal di Texas.

Dari total 653 korban yang terserang flu itu, sebarannya antara lain di AS 161 orang, Kanada 51 orang, serta Spanyol dan Inggris masing-masing 15 orang. Selebihnya korban yang terjangkit flu tersebut ditemukan di Jerman, Selandia Baru, Israel, Perancis, Italia, Swiss, Austria, Denmark, dan Belanda.

Meksiko sendiri tidak lagi mengumumkan korban yang menjadi tersangka terserang flu tersebut. Jumlah kasus tersangka terserang flu itu di Meksiko mencapai 2.498 orang sebelum pengumuman tersebut dihentikan.

Perkembangan korban flu itu di Meksiko lebih tinggi. Menurut Menteri Kesehatan Meksiko Jose Angel Cordova, korban flu tersebut sudah mencapai 427 orang. Namun, jumlah korban tewas masih tetap 16 orang.

Di Asia

Di Asia sudah ada masing-masing satu orang yang terserang flu tersebut di Hongkong dan Korea Selatan. Korban di Hongkong itu adalah warga asal Meksiko yang datang dari Meksiko via Shanghai pada Kamis lalu.

Dari Beijing diberitakan, China menghentikan semua penerbangan ke Meksiko setelah ditemukan korban flu itu di Hongkong yang berasal dari Meksiko, yang mendarat via Shanghai.

Departemen Kesehatan China telah memerintahkan semua otoritas lokal untuk mengarantina semua penumpang asal Meksiko yang menaiki Mexicana Airlines.



Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.