Juni 2009

DENPASAR, KOMPAS.com (26 Juni 2009)— Pasien positif terjangkit virus influenza A-H1N1 asal Inggris yang menetap di Melbourne, Australia, Bobie Masoner (22), diperbolehkan keluar dari Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, Bali, Jumat (26/6). Tim dokter rumah sakit itu menyatakan, Bobie telah melewati masa inkubasi dan dinyatakan sembuh.
Bersamaan dengan keluarnya Bobie, otoritas RSUP Sanglah mengumumkan bahwa satu pasien lainnya, bocah laki-laki warga negara Australia, George Coltman (12), positif menderita influenza A-H1N1. Meski dilaporkan sudah membaik kondisinya, ia dirawat secara intensif di Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah bersama dua pasien terduga lainnya, yakni Tayla Mario (14) dan James Antonuccio (10), yang juga asal Australia. Konfirmasi hasil pemeriksaan cairan tenggorokan kedua pasien terakhir dari Litbangkes masih ditunggu.
Ketua Tim Penanggulangan Influenza A-H1N1 RSUP Sanglah dr Agus Somia, SpPD menyatakan, meski sudah diperbolehkan keluar dari RS, Bobie dianjurkan untuk tetap tinggal sementara di rumah. Ia tinggal bersama ibu dan adik perempuannya di Jimbaran, Badung, sekitar 15 kilometer arah selatan dari Kota Denpasar.
"Kami pastikan yang bersangkutan untuk tidak keluar rumah dulu. Hal itu seiring dengan belum keluarnya konfirmasi terkait pemeriksaan laboratorium atas ibu dan adiknya oleh Litbangkes Jakarta," kata Somia.
Bobie tiba di Bali pada 19 Juni 2009 dengan menggunakan pesawat Garuda GA 719 dari Victoria, Australia, atau satu pesawat dengan George. Dua hari setelah tiba di Bali, dia dirujuk ke RSUP Sanglah oleh salah satu klinik di Nusa Dua karena menderita demam dan flu disertai batuk. Menurut Somia, Bobie diberi obat oseltamivir sejak tiba di RS dan langsung menunjukkan respons bagus sehingga kondisinya terus membaik. Itu berarti, kemarin ia telah melewati masa inkubasi dan dinyatakan bebas influenza A-H1N1.



KOMPAS.com (26 Juni 2009) — Dinas Kesehatan Provinsi Bali untuk sementara meminta keluarga pasien yang terjangkit virus flu babi atau H1N1 asal Australia, Bobie Masoner (22), tidak bepergian meninggalkan rumah.
"Sementara yang bersangkutan kami isolasi di rumahnya guna menghindari penularan yang lebih luas," papar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Nyoman Suteja di Denpasar, Jumat.
Menurut Suteja, Bobie saat ini tinggal bersama keluarganya di rumah pribadi di kawasan Jimbaran, Kabupaten Badung. Terhadap anggota keluarga Bobie, pihak RSUP Sanglah telah melakukan pengambilan sampel swap tenggorokan dan pemeriksaan kesehatan lainnya seperti tes darah dan screening panas tubuh.
Suteja menjelaskan, tim penanganan H1N1 RSUP Sanglah, Denpasar, juga telah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap penumpang yang ada dalam satu pesawat dengan Bobie saat menuju Pulau Bali.
"Kami tengah mengawasi dan terus memantau kondisi kesehatan mereka, dengan memberikan alernt card atau kartu kewaspadaan kesehatan," ujarnya. Kartu alert card itu dibagikan oleh kru pesawat kemudian diisi oleh penumpang pesawat apakah mereka pernah berkunjung ke wilayah endemik flu babi, pernah menderita gejala flu dan mengalami panas badan, setelah diisi kartu tersebut dipegang oleh tim medis penanganan flu babi di bawah pengawasan Dinas Kesehatan Bali.
Informasi terakhir, hingga kini RSUP Sanglah telah melakukan pemeriksaan terhadap delapan orang warga negara asing selain Bobie dan keluarganya serta penumpang lain yang terbang satu pesawat dengan Bobie.
Di lain pihak, Bandara Ngurah Rai Bali juga semakin memperketat pengawasan terhadap keluar masuknya warga negara asing terlebih yang berasal dari Australia selaku negara yang dinyatakan endemik virus H1N1.
Menurut kepala Bagian Kesehatan Bandara Ngurah Rai Dr Nyoman Murtiyasa, selain memasang alat pendeteksi panas tubuh, bandara juga kini telah menyiapkan alat tes darah bagi penumpang yang tiba dari luar negeri.
"Untuk mencegah meluasnya penularan, kami melakukan tes darah bagi penumpang yang tiba dari luar negeri, mereka kami minta waktunya selama 30 menit untuk bersedia dites darah," tandasnya.




DENPASAR, KOMPAS.com (25 Juni 2009)- Tiga warga negara asing terduga flu babi dirawat di RS Sanglah, Denpasar, Bali. Mereka dirawat di ruang isolasi Nusa Indah rumah sakit tersebut.

Kepala Bidang Pelayanan Medik RS Sanglah I Gusti Lanang Suartana membenarkan soal dirawatnya tiga WNA tersebut. Namun, ia tidak bersedia mengungkap identitas ketiganya. Menurut Suartana, ketiga WNA tersebut dirujuk dari sejumlah klinik di Bali.

Sementara itu, terkait kondisi satu pasien positif flu babi yaitu Bobie Masoner dan satu pasien terduga George Cobtman diungkapkan suartane sudah membaik secara klinis. Tetapi, pihak rumah sakit masih akan melanjutkan observasi pada keduanya hingga masa inkubasi selesai.
Masa inkubasi Virus flu babi atau H1N1 adalah tujuh hari. Bobi yang masuk RS Sanglah pada tanggal 21 Juni akan dipantau hingga tanggal 28 Juni. Sementara itu, George yang baru masuk kemarin, Rabu (24/6), akan dipantau hingga enam hari ke depan.

Selanjutnya, masih menurut Suartane, pihak rumah sakit juga telah melakukan pemeriksaan terhadap ibu dan adik Bobie. Dari keduanya diambil cairan tenggorokan untuk dilakukan penelitian di Litbangkes, Denpasar. Ibu dan adik Bobie saat ini diisolasi di rumah kontrakan mereka di wilayah Jimbaran.




JAKARTA - DPR RI akhirnya mensahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Peternakan dan Kesehatan Hewan menjadi Undang-undang. UU yang merupakan revisi UU No.6/1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Ketua Komisi IV DPR RI, Arifin Junaidi mengatakan, pembahasan UU ini berlangsung cukup lama hampir 25 bulan sejak 6 Maret 2007. Saat itu Badan Musayawarah DPR memutuskan pembahasan RUU Peternakan dan Kesehatan Hewan.
"Setelah dilakukan pembahasan yang mendalam oleh Komisi IV bersama pemerintah, draf UU berhasil diselesaikan. UU yang semula terdiri dari 14 Bab, 92 Pasar dan 216 ayat menjadi 15 Bab, 99 Pasal dan 264 ayat," kata Arifin, kemarin.
Sementara itu Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, UU Peternakan dan Kesehatan Hewan yang baru ini merupakan revisi UU Peternakan No.6/1967, UU tersebut dianggap sudah tidak relevan lagi untuk dijadikan payung hukum dan acuan dalam melaksanakan pembangunan peternakan karena dijumpai banyak kekurangan.
Beberapa kekurangan tersebut di antaranya, belum mengatur ketentuan pidana dan bersifat ambivalen sehingga tidak ada ketegasan. Bahkan masih ada beberapa peraturan adalah kebijakan masa Hindia Belanda. "Beberapa kekurangan itu mendorong kita segera melakukan penyempurnaan UU Peternakan dan Keswan ini," kata Anton.
Menurut dia, UU yang baru ini memiliki ruang lingkup yang lebih lengkap dan luas karena mencakup beberapa aspek yang sebelumnya belum dimuat dalam UU lama. Misalnya, penanganan usaha dan budidaya ternak, hewan kesayangan (pet animal), hewan percobaan (lab animal), termasuk mengenai otoritas veteriner dan tenaga kesehatan hewan.
UU ini juga memberikan perlindungan ekstra kepada peternak kecil dan menengah melalui pembinaan, kemudahan akses terhadap permodalan. "Kita mengharapkan dengan disahkannya UU tersebut dapat memberikan perlindungan kepada ternak dari berbagai penyakit," katanya.
Pada saat yang sama juga mampu memberikan perlindungan kepada peternak dan usaha peternakan rakyat yang jumlahlanya lebih dari 95 persen dari total peternakan di Indonesia. (fen)
Sumber: Harian Terbit, 18 Mei 2009


JAKARTA, KOMPAS.com (20 Juni 2009)— Juru bicara Departemen Luar Negeri, Teuku Faizasyah, membenarkan kabar bahwa seorang warga negara Indonesia diduga terinfeksi virus A-H1N1 atau yang biasa dikenal dengan penyakit flu babi.
"Memang ada WNI bernama Oei William Widinata yang diduga sebagai 'suspect' flu babi. Dia terdeteksi saat memasuki Singapura," ujar Faizasyah dalam konferensi pers di Gedung Deplu, Jalan Pejambon, Jakarta, Jumat (19/6).
Oei William adalah tenaga profesional yang bekerja di Singapura. Ia baru saja melakukan penerbangan dari Melbourne, Australia.
Faizasyah menerangkan, untuk menangani hal tersebut, Deplu berkoordinasi dengan pihak keluarga. "Sekarang Oei sedang dikarantina dan ditangani sesuai prosedur yang berlaku di Singapura," terang dia.
Sampai saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menaikkan status flu virus A-H1N1 menjadi pandemi 6 atau siaga tertinggi. Pihak WHO mencatat 74 negara telah melaporkan 27.737 kasus flu babi dan 141 meninggal dunia.

JAKARTA, KOMPAS.com (20 Juni 2009)- Pandemi influenza tahun 1918 merupakan bencana terbesar dalam sejarah penyakit di dunia. Wabah raya dengan cepat meluas, tidak hanya di Amerika Utara dan Eropa, tetapi juga ke Alaska dan pulau-pulau terpencil di Pasifik, dan Asia Tenggara. Bahkan, sejumlah bukti-bukti sejarah menunjukkan, Indonesia pun tidak luput dari dampak pandemi influenza itu.
Selama pandemi influenza terjadi saat itu, diperkirakan 28 persen dari populasi penduduk saat itu yang berjumlah 500 juta jiwa terinfeksi. Total kematian yang tercatat akibat pandemi influenza tahun 1918 berkisar 20-40 juta jiwa. Wabah menyebar dengan cepat dari Amerika dan Eropa ke India pada Juni, kemudian ke Asia Tenggara.
Temuan awal penelitian yang dilakukan tim sejarawan dari Universitas Indonesia menunjukkan, sebagian wilayah Indonesia terkena dampak pandemi influenza yang melanda dunia tahun 1918. Wabah yang pertama terdeteksi di Indonesia adalah di wilayah pantai timur Sumatera.
Pada akhir Juli, wabah dilaporkan meluas ke Jawa dan Kalimantan, kemudian Bali dan Sulawesi. Wabah meluas sa mpai wilayah Timur kepulauan Nusantara, Maluku dan Timor. Gelombang kedua dari wabah ini terjadi pada bulan Oktober, mencakup wilayah yang lebih luas dan sporadis.
Sejarawan dari UI, Kresno Brahmantyo dan Harto Juwono, menyatakan bukti-bukti sejarah mengenai hal itu antara lain tertuang dalam arsip tentang tentang peringatan Konsulat Jenderal Belanda di Singapura ke Batavia pada Mei 1918 untuk melarang masuknya kapal-kapal dari Hong Kong karena dikhawatirkan membawa wabah Influenza. Bukti lain adalah, telegram Zending van Gouverment atau telegram pemerintah kolonial Belanda yang memperlihatkan betapa gawat situasi saat itu.
Data dari arsip temuan awal menyebutkan, minggu ke-27 sampai ke-43 pada 1917 tercatat 230.098 penduduk di Jawa Barat, Jawa Tengah dan J awa Timur (Madura, Bali, Lombok) terserang influenza dan tahun 1918 jumlahnya meningkat jadi 229.566 orang. Periode selanjutnya, pekan ke-44 sampai ke-47 pada 1917 dilaporkan 51.688 kasus dan pada 1918 sebanyak 359.241 kasus.
Gelombang kedua wabah ini terjadi Oktober, mencakup wilayah lebih luas dan sporadis. Kepulauan Indonesia Timur paling parah terjangkit wabah ini. Jumlah kematian pun makin tinggi. Di Sulawesi Selatan, laporan misionaris menyatakan kematian ada dimana-mana. Di Tana Toraja, 10 persen dari populasi penduduk meninggal karena flu, di Lombok ada 36.000 orang meninggal.
Atas dasar itu, Pemerintah Hindia Belanda, pada 1920 mengeluarkan undang-undang penanggulangan wabah influenza. Isinya, seruan untuk mengibarkan bendara influenza , dibuat khusus warna merah dikibarkan dari matahari terbenam hingga terbit di daerah-daerah yang terjangkit influenza. Bendera kuning juga harus dikibarkan dari matahari terbit hingga terbenam. Seruan itu ditujukan kepada para Inspektur Dinas Kesehatan, kepala daerah, sekolah, kapal laut, pelabuhan kelas 1-4, kepala pelabuhan dan nahkoda.

Tujuan penelitian
Kresno menyatakan, penelitian itu bertujuan memberi informasi dan sumbangan bagi kalangan medis dan non media dalam penanganan flu burung dan kesiapsiagaan pandemi influenza mematikan tentang langkah-langkah yang diambil oleh para dokter dan pemerintah kolonial di masa lalu dalam merespon, menanggulangi dan memitigasi dampak pandemi influenza 1918. Penelitian itu juga untuk memberi sumbangan bagi khasanah penulisan sejarah kesehatan yang belum banyak mendapatkan perhatian dalam historiografi Indonesia.
Hasil riset itu jadi titik tolak bagi pengkajian lebih lanjut tentang penyakit influenza bagi penanganan kasus flu burung yang melanda Indonesia dewasa ini serta penanganan penyakit yang berpotensi jadi pandemi lain. Penelitian ini juga memberi bukti-bukti tertulis, gambar, dokumenter serta wawancara kesaksian tentang Pandemi Influenza 1918 agar dapat digunakan sebagai bahan sosialisasi, komunikasi, informasi dan edukasi untuk meningkatkan pemahaman tentang pandemi influenza dan pentingnya kesiapsiagaan pandemi di segala sektor.
Menurut Ketua Pelaksana Harian Komite Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) Bayu Krisnamurthi, temuan awal penelitian itu menunjukkan Indonesia kemungkinan juga bisa terkena dampak dari pan demi influenza A-H1N1 yang saat ini tengah terjadi di dunia. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan kasus penularan virus itu perlu terus dilakukan.




Departemen Kesehatan akan mengambil beberapa langkah antisipatif menghadapi pandemi influenza sehubungan dengan pernyataan Direktur Jenderal Badan Kesehatan dunia (WHO) tentang fase 6 pandemi. Selain berkoordinasi dengan jajaran dinas kesehatan di seluruh provinsi, Depkes juga menyiapkan surveilans dan deteksi kasus mulai dari tingkat dasar sampai rujukan.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, melalui surat elektronik, Jumat (12/6) di Jakarta.

Menurut Tjandra Yoga, fase enam adalah terjadinya community outbreak di lebih dari satu kawasan WHO. Sejauh ini tingkat kematian karena H1N1 adalah 0,5 persen. Sebagai perbandingan, angka kematian demam berdarah adalah 0,8 persen dan angka kematian karena flu burung mencapai 80 persen. Kini sekitar 95 persen dari total jumlah kasus adalah ringan dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.

"Tentu kita harus ikuti terus perkembangan dari waktu ke waktu ke depan. Tadi pagi saya sudah bertemu dan briefing dengan sekitar 600 kepala dinas kesehatan provinsi maupun kabupaten atau kota seluruh Indonesia untuk menjelaskan situasi yang ada dan langkah-langkah yang diperlukan," ujarnya menambahkan.

Kegiatan yang akan dilakukan jajaran Depkes meliputi pengecekan ulang kesiapan logistik, sumber daya manusia, fasilitas, standar prosedur operasional, dan kerja sama lintas sektor maupun lintas program. Kegiatan lain adalah, menyiapkan surveilans dan deteksi kasus mulai dari tingkat dasar sampai rujukan, menjalankan tata laksana kasus di rumah sakit, menjalankan sosialisasi tentang pencegahan penularan influenza H1N1 ke masyarakat luas.

Diagnosis kasus di laboratorium juga akan dijalankan untuk mendeteksi dini kasus-kasus dugaan influenza H1N1, kata Tjandra Yoga. Pihaknya juga menjalankan prosedur di kantor kesehatan pelabuhan, antara lain memeriksa suhu badan para penumpang pesawat yang baru datang dari luar negeri, terutama dari negara-negara di mana ditemukan kasus terkonfirmasi influenza H1N1, dengan alat pendeteksi suhu badan, dan mengikuti perkembangan dari waktu ke waktu.
Sumber: Kompas.com, 12 Juni 2009

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan ke negara anggotanya mengenai peningkatan status flu babi sebagai pandemi, Kamis (11/6). Wabah flu global pertama dalam 41 tahun ini dideklarasikan saat infeksinya berkembang di AS, Eropa, Australia, Amerika Selatan serta beberapa wilayah lainnya.

WHO memutuskan untuk meningkatkan level peringatan pandemi dari fase 5 menjadi 6 atau siaga tertinggi yang dideklarasikan seusai rapat darurat dengan beberapa pakar flu. Ketua WHO Dr. Margaret Chan akan menyampaikan pengumuman resmi tentang kondisi flu babi pandemi hari ini.

Ketetapan flu babi sebagai pandemi seperti yang telah lama diantisipasi merupakan konfirmasi ilmiah bahwa virus jenis baru telah muncul dan dengan cepat beredar di seluruh dunia. Ketetapan ini juga memicu produsen obat untuk mempercepat produksi vaksin antiflu babi dan menekankan pemerintah dari seluruh negara untuk menyisihkan dana lebih besar guna mengatasi masalah ini.

"Pada tahap awal, pandemi dapat digolongkan sebagai wabah global dengan keseriusan pada tahap menengah,' jelas WHO dalam sebuah pernyataan. Dengan kesimpulan itu, WHO meminta semua negara untuk tidak menutup perbatasan atau membatasi perdagangan maupun perjalanan warga negaranya.

Produsen vaksin flu seperti GlaxoSmithKline PLC dan Sanofi-Aventis telah berupaya memproduksi vaksin flu babi sejak bulan lalu. Juru bicara GlaxoSmithKline, Stephen Rea, menekankan, perusahaannya siap untuk memproduksi vaksin antiflu babi dalam jumlah besar segera setelah perusahaan ini mengakhiri produksi vaksin antiflu reguler Juli nanti.

Hingga Rabu (10/6), WHO mencatat 74 negara telah melaporkan 27.737 kasus flu babi yang menelan hingga 141 korban jiwa. WHO menekankan sebagian besar kasus terbilang ringan dan tidak memerlukan perawatan khusus. Namun, kekhawatiran yang meluas adalah timbulnya infeksi baru yang dapat membuat kewalahan sejumlah rumah sakit dan petugas kesehatan terutama di negara- negara miskin.
Sumber: Kompas.com, 12 Juni 2009


Water borne diseases biasanya bersifat person-to-person (orang ke orang) melalui faecal-oral. Contoh penyakit adalah Typhoid dan Cholera.
Typhoid
Agen penyebab : Salmonella typhi
- Terutama disebarkan secara antar manusia, karena bakteri ini reservoir utamanya bukan pada hewan.
- Kontaminasi oleh faeces manusia merupakan penyebab utama penyebaran dan melalui air terkontaminasi.
S. typhi mempunyai 3 antigen permukaan cell:
1. O (cell wall) antigen – bagian dari struktur endotoksin
2. H (flagellar) antigen
3. Vi (outer polysacchride) antigen

Typhoid Marys
- ‘Typhoid Marys’ – penyebab outbreaks typhoid karena penanganan pangan.
- Biasanya disebabkan konsumsi pangan yang disajikan oleh orang “carrier” Salmonella typhi

Aberdeen Typhoid Outbreak - 1964
- 504 kasus
- Sumber outbreak: corned beef kaleng import dari Argentina
- Selama pengolahan dari air pemanas maupun air pendingn.
- Individu yang menangani daging terkontaminasi à peralatan yang digunakan terkontaminasi -- menyebarkan infeksi.
Cholera
- Agen penyebab : Vibrio cholerae
- Sangat motil, Gram-negatif, Single polar flagel
- Diarre dirangsang oleh enterotoxin yang dihasilkan V. Cholerae
- Cholera sering bersifat penyakit utama epidemik.
Penyebab pandemik:
1. Tahun 1961 terjadi di Western
2. Tahun 1991 outbreak terjadi di Peru.
3. Endemik di India, Pakistan dan Bangladesh yang terjadi dari waktu ke waktu.
4. Lebih dari 1 juta kasus di Amerika Tengah dan Selatan à menyebar di USA dan Kanada.

- Biasanya memerlukan 108-109 V. cholerae untuk menyebabkan cholera – tetapi bila dipangan bisa lebih sedikit.
- V. cholerae menempel pada epithel usus halus
- Berkembang atau membelah diri dan mengeluarkan enterotoksin.
- Faktor virulensi:
- Outer membrane proteins
- Pili
- Mirip dengan enteropathogenic E. coli enterotoksin
- Walau jarang tetapi dapat menyebabkan kehilangan 20 liter cairan tubuh pada penderita .
Listeria monocytogenes
- Tersebar luas di alam diisolasi dari :
- Tanah agraris maupun non agraris,
- Tumbuhan, faeces hewan maupun manusia
Sifat bakteri :
- Tumbuh baik pada suhu 4 – 60C
- Relatif tahan terhadap pemanasan
- Tumbuh baik pada daging yang mengandung Pseudomonas sp.
- Terhambat pada daging yang mengandung Lactobacillus
- Hemolisin larut: toksin L. monocytogenes pada saat tumbuh secara intraseluler.
- Menyerang sapi dan domba
- Mengkontaminasi daging unggas
Produk pangan terlibat :
1. Susu mentah dan pasteurisasi
2. Kol mentah
3. Keju mentah
4. Pernah ditemukan pada Kuning telur
Pencegahan penularan penyakit melalui pangan lebih susah dilaksanakan karena Penyebarannya luas, tahan suhu dingin dan suhu panas.



- Diseases discussed will be those transmitted to humans by fleas or ticks
- Weil’s Disease
- Lyme Disease
- Rocky Mountain Spotted Fever
- Plague
1. Weil’s Disease
- Causative agent: Leptospira interrogans. Spiral-shaped, gram-negative spirochete and internal flagella.
- Enters the body via mucous membranes/ breaks in skin
- Localises to the kidneys and liver
- May result in liver or kidney failure
- Can also infect others via infected urine


2. Lyme Disease
- Causative agent: Borrelia burgdorferi. Spiral-shaped, gram-negative spirochete and internal flagella
- Enters the body via tick or louse bite
- Systemic disease develops: Acute headache, backache, chills and fatigue
- If not treated at this stage, can develop chronic disease – numbness of limbs and severe exhaustion
- Little known about pathogenic mechanisms
3. Rocky Mountain Spotted Fever
- Causative agent: Rickettsia rickettsii. Obligate intracellular pathogen and gram-negative bacillus.
- Acquired from faecal matter, injected via bites of ticks or by rubbing infectious material into skin by scratching
- Symptoms:
1. Abrupt onset of fever & severe headache
2. 3-5 days later- rash on hands and feet
3. Diarrhoea and vomiting also usually seen
4. Plague
- Causative agent: Yersinia pestis.Gram negative, Facultative aerobe and Rod-shaped.
- ‘Black Death’
- 14th Century - killed over ¼ population in Europe
- dark skin splodges, lymph node pain, delirium &shock
Virulence factors of Y. pestis:
- V & W antigens – protein/lipoprotein complexes prevent phagocytosis
- Murine toxin (exotoxin) produced by all virulent strains of Y. pestis
- respiratory inhibitor – leads to liver damage, shock and respiratory distress
- Highly immunogenic endotoxin may also be involved in disease process
a. Pneumonic plaque
- Occurs when Y. pestis are either inhaled directly or reaches the lungs during bubonic plague
- Symptoms are usually absent until the last few days when large amounts of bloody sputum are emitted
- Untreated cases usually dead within 2 days
- Highly contagious disease - can spread rapidly via respiratory route if affected are not immediately quarantined.
b. Septicaemia plague
- Involves the rapid spread of Y. pestis throughout the body without the formation of buboes
- Usually causes death before diagnosis can be made


Dua kategori dari food borne diseases, yaitu:
1. FOOD POISONING (KERACUNAN PANGAN)
- Disebabkan oleh toxin yang diproduksi oleh bakteria
2. FOOD INFECTION (INFEKSI PANGAN)
- Disebabkan oleh pertumbuhan bakteri setelah mengkonsumsi makanan terkontaminasi.

Biasa dipengaruhi oleh:
- Salmonella
- Staphylococcus aureus
- Clostridium perfringens dan Clostridium botulinum
- Campylobacter jejuni
- E. coli
- Staphylococcus aureus
- Bakteri Gram positip, berbentuk coccus
- Memproduksi beberapa jenis endotoksin yang dikeluarkan disekitar pangan
- Jika termakan, gejala mulai bereaksi dalam 1 – 6 jam, seperti : nausea, vomiting, diare
- Ada 6-9 jenis enterotoksin yang dapat diidentifikasi.
- Enterotoxin A sering dihubungkan dengan keracunan pangan

Makanan yang berpotensi keracunan S. aureus:
- Daging masak dan produk olahan daging ( lidah babi, saus hati dan makanan dingin.
- Makanan yang mengandung cream seperti : saus, podeng keju, kue cake dan lain-lain.
- Daging ayam dan produk olahannya.
- Ikan mentah dan produk olahan ikan
- Udang mentah
- Lapisan gelatin
- Makanan kaleng misalnya: kacang-kacangan, daging, jamur dan sardin.
- Pasta.

Faktor yang menentukan ada/tidaknya kejadian keracunan S. aureus:
- Strain S. aureus enterotoksigenik harus dalam makanan yang diproduksi, diproses dan dilingkungan penyajian.
- Organisme harus ditransfer dari sumber ke makanan.
- Makanan hrs terkontaminasi olh ribuan S.aureus/gram atau lebih.
- Organisme hrs dpt hidup dlm makanan & mampu memproduksi toksin.
- Makanan setelah terkontaminasi harus mendukung pertumbuhan.
- Makanan terkontaminasi harus pada suhu yang mendukung proliferasi S.aureus dalam waktu yang cukup bagi organisme berkembang dan memproduksi toksin.
- Jumlah enterotoksin yang dikeluarkan harus pada ambang yang mempengaruhi orang yang makan.

Adapun tindakan pencegahan industri pangan katering dan lingkungan domestik antara lain:
a. Hindarkan kontak langsung bahan makanan (dengan gloves dan penjepit) .
b. Memastikan keamanan bahan material produksi dengan mendinginkan sebelum digunakan.
c. Makanan yang mempunyai resiko tinggi segera didinginkan di bawah 5oC setelah dimasak.
d. Mengeluarkan/mengistirahatkan pekerja yang batuk, bersin atau terinfeksi serta luka dari area penanganan dan prosesing makanan.
e. Menutup luka dengan pembalut tahan air.
f. Memperbaiki higiene perorangan.

Salmonella
- Lebih sering menyebabkan infeksi pangan dari pada keracunan pangan.
- Juga sering disebut bakteri toksiko-infeksi pangan.
- Gejala akan timbul jika bakteri patogen telah berkembang di dalam intestine.
- Dapat terjadi setelah beberapa hari setelah mengkonsumsi makanan terkontaminasi.
- Symptoms: 8 – 72 jam post infektif dengan gejala; Sakit kepala yang tiba-tiba, kedinginan, muntah, diare dan demam yang berakhir setelah beberapa hari.
- Bakteri penyebab yang paling sering: Salmonella typhimurium.
- Biasa melalui daging dan produk daging.

Golongan Salmonella
1. Pertama: organisme telah teradaptasi kemanusia (S. typhi, S. paratyphi, S. sendai):
- Dosis infektif kecil
- Inkubasi panjang
- Syndroma demam enterik (enterik fever)
- Cenderung membentuk carier dan jalan penyakit bersifat endemik
2. Kedua: serotipe yg teradaptasi ke hewan (S. pulorum,S. abortus equi,S. ovis,S. cholera suis) :
- Bila menginfeksi ke manusia àpenyakit yg lebih serius.
3. Ketiga: tidak teradaptasi ke manusia dan hewan à bisa menyerang keduanya:
- Lebih sering gastroenteritis
- Menyerang usus halus (bukan invasi aliran darah)
- Masa inkubasi pendek (jarang lebih 48 jam)
- Hanya berlangsung bebera hari dan kurang serius kecuali pada anak, orang tua dan gangguan kekebalan tubuh.

Salmonella typhimurium
- Sifat dan morfologi :
- Basilus, gram negatif
- Fakultatife anaerob
- Mempunyai flagel Flagellated
- Bakteri patogen mengkontaminasi makanan
- Mampu menembus dinding lambung
- Menginvasi membran mukosa usus halus dan usus besar
- Memproduksi toksin
Clostridium perfringens
- Anaerob, bacillus berspora, Gram positip, dapat tumbuh pada suhu antara 15 – 550C.
- Penyebab utama keracunan pangan di USA
- Gejala terjadi 8- 24 jam setelan makan makanan terkontaminasi : diare & kejang perut
- Biasanya dari DAGING ATAU PRODUK DAGING
- Enterotoksin di produksi dan dikeluarkan jika C. perfringens ber sporulasi di usus à mengubah permeabilitas epitel usus, menyebabkan diare cair dan cramp usus.
- Pencegahan: bahan pangan segera disimpan pada suhu <> 65 derajat Celcius sebelum 1 jam.

Clostridium botulinum
- Batang berspora, Gram positif, Obligat anaerob
- Oleh konsumsi pangan yang mengandung exotoxin
- Botulism kebanyakan bersifat FOOD POISONING
- 1 mg toksin botulinum mampu menyebabkan kematian lebih dari 1 juta guinea pigs (marmut)!
- Cara kerja toksin :
1. Mengeblok pengeluaran acetilkolin à menghambat kontraksi otot à paralisa
2. Biasanya sangat fatal à gagal respirasi dan gagal jantung
- Makanan terlibat: Sosis (dulu), Komoditi sayuran (sekarang)
Campylobacter jejuni
- Gram negative, berbentuk koma, motil, single polar flagellum, non fermentasi, membutuhkan sedikit oksigen
- Menghasilkan toksin tapi tidak tahan panas (thermolabil)
- Gejala : 1 – 7 hari infeksi
a. Demam, mual, muntah, diare encer
b. Nyeri/kram perut yang hebat,
c. Juga nyeri kepala, punggung, tungkai
d. Keringat dingin
- Sumber utama : faeces sapi potong/perah dan unggas
- Ditularkan melalui makanan terkontaminasi : daging unggas, daging babi, ikan, susu mentah.

Traveller’s Diarrhoea

Enteropathogenic E. coli (EPEC)
- Memproduksi enterotoxin (shiga like toksin/SLT) – menempel pada plasmid
- Mengeluarkan K antigen – sehingga dapat berkolonisasi pada usus halus
- Fimbriae/pili juga membantu proses kolonisasi
- Gejala :
a. Infeksi saluran urinaria
b. Meningitis neonatal
c. Gastroenteritis

Enterohemoragic E.coli (EHEC)
- Menyebabkan : diare pada anak-anak, pengeluaran darah hebat (colitis hemoragic), peradangan hebat, uremia berdarah (hemolytic uremic syndrome).
- Memproduksi hemolisin à melisiskan limfosit Dan beta hemolisin à menghambat fagositosis dari neutrofil .

Pengendalian : penanganan produk pangan dengan:
d. Asam laktat 2% dan asam asetat 2%.
e. Air 720C dan H2O2 3%,
f. Chlorhexidin 0,1% dan chlorin




Sinonim: Radang Kura, Radang Limpa, Anthrak, Splenic Fever, Malignant Edema.
Agen penyebab: Bacillus anthracis. Bakteri termasuk gram positif, bentuk batang, membentuk spora yang tahan pada tanah sampai 60 tahun.

Kejadian pada hewan
- Menyerang semua jenis hewan, sapi, domba, kambing, babi.
- Gejala demam tinggi, kembung perut, darah tidak membeku dan berwarna kehitaman keluar dari lubang alami, mati dalam waktu 1-2 jam dan tidak ada rigor mortis.

Penularan pada manusia
- Resiko infeksi terjadi pada orang yang menyembelih atau makan daging yang berasal dari hewan terinfeksi.
- Nyamuk dan lalat diduga dapat memindahkan penyakit.
- Anthrax pada manusia terbagi manjadi 3 bentuk:
1. Bentuk kulit/karbunkel (malignant pustule), yang jalan masuknya melalui kulit (juga disebut wool sorter’s disease).
Gejala: malignant pustule berupa radang berdarah yang berubah menjadi nekrotik yang berbentuk karbunkel.
2. Bentuk pulmonary/sepsis, jalan masuknya melalui inhalasi spora yang tersebar secara aerosol. Gejala seperti flu (demam, kelemahan umum, sesak akut, sianotik, suhu badan naik turun, shock, kematian terjadi dalam 24 jam setelah onset kedua.
3. Bentuk gastrointestinal, melalui ingesti, karena mengkonsumsi daging mentah atau kurang masak. Gejala ditandai dengan sakit perut hebat dan panas pada abdomen, sering terjadi edema malignant.

Diagnosa dan terapi
- Terapi digunakan Penicillin G, tetrasiklin, antiserum anthrax.

Pencegahan
- Pengawasan pemotongan hewan
- Pemusnahan bahan afkir (infektif) di tempat pemotongan hewan.
- Vaksinasi rutin.
- Bangkai hewan dikubur atau dibakar.
- Perketat perdagangan produk asal hewan.



Berdasarkan Induk Semang Utama
1. Anthropozoonosis
- Yaitu apabila penyakit dapat secara bebas berkembang di alam diantara satwa liar maupun satwa domestik.
- Titik akhir penularan adalah manusia.
- Contoh: rabies, brucellosis, leptospirosis, anthrax
2. Zooanthroponosis
- Bila penyakit berlangsung secara bebas pada manusia
- Arah penularan dari manusia ke hewan vertebrata dan manusia lainnya
- Titik akhir penularan pada hewan
- Contoh: amubiasis, diphtheria,tuberculosis tipe humanus
3. Amphixenosis
- Agen penyakit memerlukan hewan atau manusia atau keduanya dalam siklus hidupnya
- Contoh: Staphylococcus, Streptococcus

Berdasarkan Agen Penyebab
a. Virus : Viral Zoonosis
b. Bakteri : Bakterial Zoonosis
c. Helmin : Parasiter Zoonosis
d. Klamidia : Klamidial Zoonosis
e. Riketsia : Riketsial ZoonosisTebalf. Protozoa : Protosoal Zoonosis

Berdasarkan Siklus Hidup Agen Penyebab
1. Zoonosis Langsung (direct zoonosis)
- Agen penyebab hanya memerlukan 1 induk semang vertebrata dalam siklus hidupnya.
- Agen penyakit berpindah dari vertebrata satu ke vertebrata lainnya dengan cara kontak, melalui vektor mekanis atau cara lain.
- Pada waktu terjadinya penularan agen penyebab sama sekali tidak mengalami perubahan.
- Contoh; rabies, brucellosis, leptospirosis
2. Cyclozoonosis
- Agen penyebab memerlukan lebih dari 2 induk semang vertebrata dalam siklus hidupnya.
- Induk semang invertebrata tidak diperlukan sama sekali.
- Dibedakan menjadi:
a. Obligatory-cyclozoonosis
Manusia mutlak diperlukan sebagai induk semang antara.
Contoh: penularan T. saginata dan T. solium
b. Cyclo-anthropozoonosis
Manusia salah satu induk semang antara selain vertebrata lain (domba).
Contoh: Taenia hidatid.
3. Metazoonosis
- Memerlukan induk semang vertebrata dan invertebrate dalam siklus hidupnya
- Di dalam invertebrate agen penyebab dapat berkembang biak (berstatus sebagai reservoir) atau berkembang jadi pase lain (bukan reservoir).
- Memerlukan periode ekstrinsik di dalam invertebrata sebelum berpisah ke induk semang vertebrata.
- Berdasarkan jumlah induk semang vertebrata/invertebrata yang diperlukan, ada 4 tipe:
1. Sub tipe I : memerlukan hanya satu invertebrata (Yellow Fever)
2. Sub tipe II : memerlukan hanya satu vertebrata dan dua invertebrata (Paragonomiasis)
3. Sub tipe III : memerlukan dua vertebrata dan hanya satu invertebrata (Clonorchiasis)
4. Sub tipe IV : penularan karena ovum (Louping ill)
4. Saprozoonosis
- Agen penyebab memerlukan induk semang vertebrata dan reservoir bukan hewan
- Reservoir bukan hewan berupa bahan organic
- Agen penyebab bisa berkembang dalam reservoir (Histoplasmosis)
- Terjadi perubahan tanpa perkembangbiakan (Ancylostoma).


Hewan Liar
Hewan liar merupakan salah satu sumber zoonosis yang penting bagi manusia. Penularannya dapat langsung atau tidak langsung.
Contoh: Rabies, merupakan penyakit zoonosis penting yang sering ditularkan melelui gigitan hewan seperti rubah, musang, serigala, harimau, beruang, cayate, siamang dan kelelawar serta binatang pengerat lainnya.

Hewan Vertebrata Berdarah Dingin
Walaupun belum banyak dilakukan penelitian yang intensif dibandingkan dengan hewan berdarah panas, hewan berdarah dingin diketahui dapat menularkan penyakit pada manusia.

Cara masuknya agen penyakit pada manusia melalui hewan berdarah dingin adalah:
1. Melalui kontak langsung, contoh: Erysipeloid
2. Melalui ingesti
Contoh: ikan yang mengandung kiste cacing pita dapat menjadi sumber cacing pita pada manusia (Diphylobothrium lattum).
Kura-kura sebagai hewan pemeliharaan dapat menularkan Salmonella pada anak-anak yang sering bermain dengannya.

Hewan Sebagai Penyebab Sakit Manusia
Hewan menyebabkan berbagai penyakit zoonosis pada manusia.

Cara penularan agen penyakit dari hewan ke manusia.
1. Melalui gigitan
a. Agen penyakit masuk melalui adanya luka akibat gigitan.
b. Agen penyakit dapat berasal dari ludah hewan ketika menggigit.
c. Atau berupa kontaminasi sekunder akibat luka yang tidak terawatt.
2. Gigitan Hewan beracun
a. Injeksi racun yang dihasilkan oleh hewan berbisa ketika menggigit manusia. Contoh: gigitan ular.
3. Hewan beracun yang digunakan sebagai makanan
a. Daging atau hasil olahan hewan tersebut merupakan racun apabila dimakan.
Contoh: Scromboid.




Beberapa pengertian zoonosis antara lain:
1. Menurut UU No. 6/1967 pengertian Zoonosis adalah penyakit yg dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya atau disebut juga Anthropozoonosis.
Begitupun dalam UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan kesehatan Hewan, sebagai pengganti UU No. 6 tahun 1967 dinyatakan bahwa penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia atau sebaliknya.

2. Sedangkan pengertian zoonosis yang diberikan oleh WHO, Zoonosis adalah suatu penyakit atau infeksi yang secara alami ditularkan dari hewan vertebrata.

3. Definisi Zoonosis menurut PAHO (Pan American Health Organization) yang menjadi rujukan WHO adalah : Suatu penyakit atau infeksi yang secara alami ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia

Note :
Lebih dari 1415 mikroba patogen yg mengancam kesehatan manusia dan 61,6 % berasal dari hewan.
Jumlah Zoonosis yang ditetapkan sebagai zoonosis penting di dunia 156 jenis (dan akan terus bertambah : Emerging Infectious Disease/EID).

Dampak Akibat Zoonosis
1. Timbulnya kesakitan (morbidity) dan kematian (mortality), baik pada manusia maupun hewan.
2. Dampak ekonomi akibat kehilangan tenaga kerja karena sakit, menurunnya jumlah wisatawan ke daerah terjadinya wabah, turunnya produksi ternak dan produk ternak, pemusnahan ternak sakit dan tersangka sakit, serta pembatasan dan penurunan perdagangan internasional.



Dunia Makin Dekati Kesiapsiagaan Flu Babi Tingkat Enam
Jenewa (ANTARA/Reuters) - Terus meluasnya flu H1N1 di Inggris, Spanyol, Jepang, Chile dan Australia telah menggerakkan dunia lebih dekat ke kesiapsiagaan tertinggi wabah virus itu, seorang pejabat senior Organisasi Kesehatan Dunia WHO) mengatakan, Selasa.

"Ada sejumlah negara yang tampaknya berada pada transisi, bergerak dari kasus-kasus yang berkaitan dengan perjalanan ke tipe perluasan pada masyarakat yang lebih menetap," Keiji Fukuda, penjabat asisten direktur jenderal WHO, mengatakan pada wartawan dalam konferensi jarak jauh.

"Mereka pada transisi dan belum benar-benar di sana, itulah mengapa kita belum pada tingkat enam," kata Fukuda. Tingkat kesiapsiagaan sekarang ini adalah lima, yang berarti wabah itu sudah dekat.
Menurut perhitungan terakhir WHO, virus flu baru yang dikenal sebagai flu babi itu telah ditemukan di 64 negara, dan tetap paling merata di Amerika Utara. Laboratorium WHO telah mengkonfirmasi hampir 19.000 infeksi termasuk di 117 orang yang telah meninggal.
Israel Temukan Lima Kasus Flu Babi

Jerusalem (ANTARA/Xinhua-OANA) - Kementerian Kesehatan Israel, Selasa, mengumumkan lima lagi orang Israel telah didiagnosis terinfeksi virus flu babi A/H1N1.

Kasus paling akhir tersebut telah membuat jumlah kasus flu babi yang dikonfirmasi jadi 38, sehubungan dengan penyebaran penyakit di negara Yahudi itu.

Salah seorang pasien baru tersebut pulang dari Amerika Serikat tiga hari sebelumnya, demikian laporan kantor berita lokal Ynet.

Kementerian Kesehatan telah menyeru semua penumpang pesawat yang sama dengan pasien itu agar meminta saran medis, kalau mereka mengalami gejala flu, kata laporan tersebut.
Sumber: Yahoo.news

Empat dendeng dalam kemasan berlabel dendeng sapi ternyata positif mengandung DNA babi. Demikian temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang disampaikan Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib saat jumpa pers di BPOM Jakarta, Senin (1/6).

Keempat Dendeng sapi palsu itu adalah:

1. Dendeng Sapi Dua Daun Cabe Kwalitet Istimewa 200 gram. No Pendaftaran Depkes RI Pirt 201357303247. Produksi Malang.
2. Dendeng Sapi Brenggolo Kwalitet Istimewa 200 gram. No Pendaftaran Depkes RI Pirt 201357303247. Produksi Malang.
3. Dendeng Sapi Brenggolo Kwalitet Istimewa-Giling 200 gram. No Pendaftaran Depkes RI Pirt 201357303247. Produksi Malang.
4. Dendeng/Abon Sapi Spesial Produk Dua Dinar Bandung 80 gram. No Pendaftaran Depkes RI SP 0365/10/01/95. Produksi Dua Dinar Bandung.
Keempat produk itu mencantumkan logo halal dalam kemasannya, tapi tidak memiliki sertifikat halal.

Terhadap temuan ini, BPOM di seluruh Indonesia telah diperintahkan untuk melakukan penarikan dan pemusnahan produk tersebut. "Akan ada juga sanksinya," kata Husniah.

Ia menyampaikan, produk bermasalah ini terdapat di Bandung, yaitu Carrefour, Tip Top, dan Alfamart, serta Pasar Kosambi. Temuan di atas berdasarkan sampling dan pengujian lanjutan atas 34 produk hasil olahan daging yang terdiri atas 14 dendeng sapi dan 20 abon sapi.

Sumber: Kompas.com, 1 Juni 2009


Departemen Kesehatan Inggris, Minggu (31/5), mengonfirmasi 14 kasus baru penularan virus H1N1Sehingga jumlah keseluruhan kasus itu 244.

Sebanyak 13 kasus baru berasal dari England dan satu kasus dari Wales. Lima kasus baru dikaitkan dengan kasus yang telah dikonfirmasi, sedangkan enam kasus berhubungan dengan perjalanan. Sebanyak tiga kasus lagi berkaitan dengan penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap wabah di sekolah.

“Strategi kami guna memperlambat penyebaran penyakit ini tampaknya efektif, dan pengaturan di Inggris terus menjamin bahwa kami berada pada posisi yang bagus guna menangani penularan baru baru ini”, kata juru bicara tersebut.

Departemen Kesehatan Inggris berjanji akan siap menghadapi kemungkinan wabah global. Sementara itu, menurut Lembaga Perlindungan Kesehatan, 239 kasus saat ini dalam proses penyelidikan laboratorium di Inggris.

Sumber: Kompas.com, 1 Juni 2009

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.