Juli 2009

Sampai dengan tanggal 30 Juli, jumlah kasus positif bertambah 35 kasus, sehingga total kasus menjadi 479 karus. Terdiri atas 266 laki-laki dan 213 perempuan.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, Kamis (30/7).

Tambahan kasus sebanyak 35 orang tersebut, yakni 14 laki-laki dan 21 perempuan. Mereka berasal dari 11 propinsi. Bali (2 orang), Banten (4 orang), DKI Jakarta (8 orang), Jawa Barat (5 orang), Jawa Tengah (4 orang), Jawa Timur (1 orang), Yogyakarta (4 orang), Kalimantan Timur (1 orang), Kepulauan Riau (2 orang), Sulawesi Selatan (1 orang) dan Sulawesi Utara (1 orang).

Tambahan kasus tersebut, 32 orang warga negara Indonesia dan 3 orang lainnya warga negara asing. Sebanyak 10 orang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri diantaranya ke Malaysia, Singapura, Australia, Thailand dan Kanada.

Sumber: Kompas.com/depkes.go.id

Penderita influenza A-H1N1 bertambah 28 orang, sehingga kini jumlah orang yang terinfeksi virus ini mencapai 440 orang.

Hal ini dipublikasikan oleh Departemen Kesehatan melalui Pusat Komunikasi Depkes di Jakarta, yang menyebutkan 28 pasien baru itu berasal dari 7 propinsi yakni DKI Jakarta (13 orang), Jawa Timur (5 orang), Yogyakarta (3 orang), Jawa Barat (3 orang), Banten (2 orang), Bali (1 orang) dan Sulawesi Utara (1 orang).

Korban baru tersebut adalah warga negara Indonesia dan 4 orang diantaranya mempunyai riwayat bepergian ke luar negeri, Singapura dan Thailand yang sudah lebih dulu tertular virus A-H1N1.

Sementara itu perluasan daerah tertular yang semula 10 propinsi kini bertambah menjadi 15. Penambahan daerah tertular baru tersebut yakni Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Jambi, Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah.

Sumber: tvone/kompas.com

Belakangan ini sejumlah ponpes di Jawa Timur dihantui gejala yang diduga flu babi. Bahkan para santri sudah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan khusus karena menderita demam tinggi.

Misalnya saja 5 santri Ponpes Tebuireng Jombang dinyatakan positif virus A-H1N1 itu. Di Surabaya juga demikian. Puluhan santri Ponpes Assalafi Al Fithrah Kedinding Lor dilarikan ke rumah sakit Haji karena demam tinggi.
Terserangnya sejumlah ponpes dengan gejala yang menyerupai flu babi ini mengundang kekhawatiran banyak pihak tentang upaya mengobok-obok ponpes dengan isu flu babi.

Namun dugaan itu ditepis Menteri Agama, Maftuh Basyuni. "Nggak ada, "tegas Menag tanpa memberikan alasan jelas di sela-sela peresmian Information and Communication Technology (ICT) DI IAIN Sunan Ampel, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Rabu (29/7).

Maftuh mengungkapkan Departemen Agama akan terus berkoordinasi dengan Departemen Kesehatan menangani masalah tersebut. Mereka akan mengikuti sdmua petunjuk yang ditetapkan oleh Depkes terkait penanganan virus A-H1N1. "Kita sekarang terus mengikuti apa yang dikatakan oleh Depkes dan kita terus berkoordinasi, "tandasnya. Kekhawatiran flu babi itu juga dirasakan santri ponpes di Malang. Terakhir Ponpes Al-Islahiyah, Ponpes Al Huda, Singosari serta Ponpes Al Ikhlas santrinya mengalami gejala panas tinggi.(Wln/gik)

Sumber: detik.com

Sebanyak 6 santri Ponpes Assalafi Al Fithrah, Kedinding Lor yang dinyatakan positif flu babi atau terkena virus A-H1N1 oleh RSU Haji Sukolilo dirujuk ke RSU dr. Soetomo Surabaya. Ke-6 santri ini dirujuk Selasa (28/7).

"Ya ada 6 pasien ini rujukan dari RSU Haji. Mereka dinyatakan positif, tapi kami akan memeriksanya lagi untuk mengetahui hasil lebih lanjut. Jika positif, maka akan kita rawat hingga sembuh, "kata Wakil Direktur Pelayanan Medik RSU dr. Soetomo, dr. Urip Murtedjo SpB-KL kepada detiksurabaya.com, Rabu (29/7).

Urip menjelaskan, mereka datang dengan kondisi panas tinggi dan batuk. Saat ini ke-6 santri itu diisolasi dengan pasien sebelumnya. Total saat ini pasien yang dirawat di ruang isolasi berjumlah 20 orang.

Sementara jumlah pasien yang pernah dirawat di RSU Soetomo sejak Juni lalu mencapai 30 orang.Sebelumnya, sebanyak 63 santri ponpes Assalafi Al Fithrah Kedinding Lor dilarikan ke RSU Haji sejak Senin (27/7) karena mengalami demam dan panas tinggi di atas 38 derajat celcius disertai batuk. Mereka mendadak mengalami panas tinggi usai menghadiri haul akbar yang dihadiri orang-orang dari dalam dan luar negeri.(fat)

Sumber: detik.com

Di tengah-tengah penyebaran kasus flu burung yang semakin luas, penemuan Profesor Bill Keevil, ahli mikrobiologis dari Universitas Southampton, Inggris, memberikan harapan. Bebicara dalam Konferensi Tahunan Life Sciences di Beijing, Cina, sang profesor menemukan bukti tembaga ternyata mampu membunuh virus flu babi secara efektif. Bahkan, tembaga diklaim memiliki spektrum antivirus yang lebih luas.

Seperti dilansir ScienceDaily, Profesor Keevil yakin tembaga mampu mengurangi penyebaran virus H1N1 di tempat-tempat publik. "Dengan makin meluasnya penyebaran flu babi, ada tekanan tersendiri untuk mengambil seluruh tindakan yang sesuai dan efektif dengan kemampuan antimikrobial. Terlebih, banyaknya kasus infeksi yang terjadi melalui kontak tangan. Studi yang kami lakukan menunjukkan penggunaan tembaga sebagai pelapis permukaan materi, seperti yang digunakan di rumah sakit dan tempat umum akan mampu mengurangi penyebaran infeksi", ujar Keevil, panjang lebar.

Saat meneliti masa inkubasi yang terjadi dalam media tembaga dan logam tahan karat lainnya, Profesor Keevil menemukan bukti tembaga efektif membunuh virus. Setelah satu jam masa inkubasi tembaga mampu membunuh 75 persen virus influenza tipe A. Dan setelah enam jam hanya kurang dari 500 virus yang aktif. "Keuntungan ini menunjukkan tembaga, kuningan dan perunggu mampu membunuh mikroorganisme yang mematikan," ujar Profesor Keevil.(ANS)

Sumber: Liputan6.com

Israel, Senin (27/7), mengkonfirmasi kasus pertama kematian seorang pasien yang diketahui terjangkit virus flu H1N1.

Kementrian kesehatan Israel mengatakan, pria yang berusia 35 tahun itu meninggal di rumah sakit di kota peristirahatan Eilat, Israel Selatan, pada Minggu. "Ini merupakan kasus pertama kematian seseorang di Israel yang diketahui terjangkit virus tersebut, "kata Seorang jurubicara kementrian itu.

Lebih dari 1.000 kasus H1N1 telah didiagnosa di Israel, kata situs berita kementrian itu pekan lalu. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah influenza H1N1 pada 11 Juni. Virus baru itu telah menewaskan lebih dari 800 orang di seluruh dunia sejak muncul pada April.

Sumber: Ant/Kompas.com

Sejak kasus flu babi pertama kali dilaporkan tanggal 24 Juni 2009 dengan 2 kasus, jumlah kasus sampai tanggal 25 Juli masih terus bertambah. Departemen Kesehatan melaporkan jumlah kasus flu babi mencapai 343 orang, dan satu diantaranya meninggal, yang menjadi kasus kematian pertama akibat infeksi flu babi di Indonesia.

Sedangkan pertambahan kasus per kasus sejak 24 Juni berturut-turut sebagai berikut: tanggal 29 Juni (6 kasus), 4 Juli (12 kasus), 7 Juli (8 kasus), 9 Juli (24 kasus), 12 Juli (12 kasus), 13 Juli (22 kasus), 14 Juli (26 kasus), 15 Juli (30 kasus), 16 Juli (15 kasus), 20 Juli (15 kasus), 22 Juli (67 kasus), 23 Juli (83 kasus) dan tanggal 24 Juli dengan 21 kasus.

Sampai saat ini kasus flu babi telah menelan korban meninggal dunia berjumlah 800 orang dan menginfeksi hampir 10 ribu orang di seluruh dunia atau tersebar pada 176 negara. Demikian laporan organisasi kesehatan dunia (WHO) yang dipublikasikan.
10 Daerah Tertular

Sementara di Indonesia sampai sekarang total kasus flu babi mencapai 343 orang, dan tersebar pada 10 propinsi yang dinyatakan tertular virus H1N1. Kesepuluh daerah propinsi tersebut adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sumatera Utara.

Dinas kesehatan Kalimantan Selatan, Jumat (24/7) menyarankan agar pengelolaan untuk sementara menutup usaha rumah makan di jalan Gatot Subroto Banjarmasin. Kepala Dinkes Kalsel drg. Rosihan Adhani, Jumat (24/7), menyatakan, saran itu disampaikan berkait dengan dugaan awal bahwa lima karyawannya terinfeksi virus H1N1 atau flu babi. Saat ini, katanya, rumah makan tersebut sudah disemprot desinfektan guna mencegah penyebaran virus mematikan itu.

Adapun kelima karyawan rumah makan itu sudah diisolasi di RSUD Ulin Banjarmasin sejak Kamis kemarin. Mereka diketahui tinggal di sekitar tempat bekerjanya. Dugaan sementara, pekerja rumah makan itu diduga terinfeksi virus flu babi dari tamu asing yang kebetulan makan di rumah makan tersebut. Untuk memastikannya, pihak rumah sakit telah mengambil sampel, termasuk melakukan pemeriksaan sinar X dan hasilnya telah di kirim ke laboratorium Depkes di Jakarta. "Yang jelas kelima pasien masih dalam kategori suspect berdasarkan surveilance influenza like illnes. Jadi, kita tunggu saja hasil resmi dari Puslitbang Medis Depkes di Jakarta," ujarnya.

Sumber: Ant/Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com — Mulai Oktober 2009 mendatang, pemerintah akan mewajibkan sertifikasi halal bagi impor daging dan turunannya. Keharusan itu mengacu kepada UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang keluar 4 Juni lalu. Dalam UU tersebut disebutkan, produk hewan yang diproduksi dan diimpor wajib disertai sertifikat veteriner dan sertifikat halal.

"Khusus untuk sertifikat halal, pemerintah beri waktu hingga Oktober, sehingga diberi waktu yang cukup untuk adaptasi atau menyesuaikan dengan kewajiban itu," ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di sela-sela Peringatan Hari Anak Nasional di Dunia Fantasi Ancol Jakarta, Kamis (23/7).

Mendag yakin, para pengusaha dan importir daging tidak akan kesulitan melakukan adaptasi atau pun melakukan sosialisasi terhadap aturan baru itu. "Saya yakin hal ini tidak akan mengganggu impor daging dan pasokan dalam negeri," tegas Mari.
Mendag mengatakan, belum ada indikasi penurunan impor daging meski ada aturan baru tersebut.

Mendag juga bilang, diberlakukannya peraturan ini semata untuk melindungi masyarakat dari daging yang tidak berkualitas dari luar negeri. "Hak pemerintah melakukan pengawasan dan keamanan kesehatan masyarakat. Pengimpor daging saya nilai bersedia mengikuti peraturan itu," tuturnya.

Ketika dimintai tanggapannya, para pengusaha menilai peraturan tersebut cukup membingungkan karena tidak disebutkan pengecualian produk bagi daging yang selama ini tidak masuk dalam kategori halal. "Ini memang rancu, terutama penggunaan kata wajib, apalagi ada impor daging babi," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring memiliki pendapat berbeda. Menurutnya, beleid baru itu tidak akan menghambat impor daging ke Indonesia. Ia yakin, beleid itu hanya merupakan penegasan semata dari pemerintah dari kegiatan importasi daging yang masuk ke Indonesia sudah sesuai standar kesehatan dan mutu.

"Importir daging tidak akan terpengaruh sama sekali dengan regulasi baru ini, karena kami sudah melengkapi sertifikat halal dan kesehatan sejak dulu," tegasnya. (Epung Saepudin/Kontan)

Sumber: Kompas.com

Seseorang yang memiliki berat badan berlebih atau menderita obesitas ternyata memiliki resiko lebih tinggi terkena komplikasi flu yang disebabkan virus H1N1. Hal itu menurut laporan penelitian peneliti Amerika Serikat.
Laporan tersebut dipublikasikan dalam laporan mingguan Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Peneliti mendeskripsikan dari 10 kasus pasien yang terkena virus H1N1 di rumah sakit Michigan, Amerika Serikat. Sembilan dari 10 pasien tergolong obesitas. Ada tiga pasien yang meninggal dan dua diantaranya obesitas.
Dokter menyarankan bagi pasien obesitas yang terkena virus H1N1 diberikan dosis oseltamivir yang lebih besar dan Roche AG’s.
"Komplikasi serius ternyata terjadi pada pasien obesites. Infeksi flu juga semakin parah," kata ahli virus dari CDC Dr. Tim Uyeki.
Dr. Lena Napolitano dari University of Michigan Medical Center memeriksa 10 pasien virus H1N1 yang berada di ruang ICU (intensive care unit). Sembilan dari pasien yang mengalami infeksi pernapasan akut memiliki IMT (indeks massa tubuh) lebih dari 30.
Sembilan pasien setelah diteliti mengalami kegagalan fungsi organ. Lima pasien mengalami penggumpalan darah di bagian baru-parunya dan ada enam pasien yang juga mengalami kegagalan ginjal.
"Obesitas merupakan risiko yang berdiri sendiri dari komplikasi yang disebabkan virus H1N1. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya secara detail," tambah Uyeki.
Menurut Napolitano penelitian ini bukan untuk menemukan hubungan obesitas dengan komplikasi akibat virus H1N1. Tetapi untuk mengungkapkan temuan baru para peneliti mengenai kasus H1N1.

Sumber: VIVAnews.com

Warga Kabupaten Siak, Riau, Ramadhan (40) dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Ahmad karena suspect flu babi. Ramadhan yang baru pulang dari China dinyatakan suspect karena suhu badannya tinggi, mencapai 39 °C.
Kepada VIVAnews, Ketua Tim Penanganan Flu Burung dan Flu Babi RSUD Arifin Achmad, dr Azizman membenarkan mereka sedang merawat Ramadhan di ruang isolasi. "Kami sudah merawatnya sejak dua hari yang lalu. Sekarang sedang menunggu hasil sampelnya," ujar Azizman, Selasa 21 Juli 2009.
Dikatakannya, Ramadhan merupakan pasien rujukan dari Rumah Sakit Eka Hospital. "Awalnya dia dirawat di Eka Hospital sepulang dari China. Karena suhu badannya panas, mencapai 39 celcius. Eka Hosital merujuknya ke RSUD Arifin Ahmaf. Kecurigaan kita kian menguat karena dia pulang dari China,” tambah dia.
Namun demikian, lanjutnya, setelah dua hari dirawat, keadaannya mulai membaik. "Kalau besok keadaannya membaik, besok kita sudah bolehkan pulang. Tapi lihat kondisi besok," kata Arifin.
Menurut Data Departemen Kesehatan, sampai Senin 20 Juli 2009, secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 di Indonesia berjumlah 172 orang terdiri dari 86 laki-laki dan 86 perempuan.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama mengatakan masyarakat harus tanggap terhadap penularan virus flu babi.
Apabila ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor, ke sekolah atau ke tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter.
"Influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat. Namun angka kematiannya sangat rendah yakni 0,4 persen," kata dia.

Laporan: Ali Azumar|Riau
Sumber: VIVAnews.com


Pemerintah belum mengalokasikan anggaran penanganan flu babi secara khusus. Penanganan flu babi masih menggunakan anggaran flu burung sebesar Rp. 40 miliar.
Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, anggaran itu bisa berubah jika diperlukan.
"Tentunya kita lihat perkembangan. Kalau sikon dari Departemen Kesehatan merekomendasikan hal-hal yang sifatnya perlu anggaran lebih, nanti kita lihat," katanya di Jakarta Rabu 15 Juli 2009.
Sebelumnya Menkes Siti Fadilla Supari mengungkapkan saat ini hampir semua pulau-pulau yang ada di Indonesia sudah dimasuki virus H1N1 (flu babi). Ia pun meminta semua masyarakat menjaga pola hidup sehat agar terhindar dari virus yang telah menjadi pandemi ini.
"Dari Denpasar kita masih melihat apakah itu positif H1N1 atau bukan. Tetapi yang jelas sekarang hampir semua kepulauan telah kemasukan, karena kita tidak bisa menolak turis-turis asing," kata Menkes di Kantor Presiden, kemarin. Di Nusa Tenggara Barat, turis Prancis ditengarai membawa virus ini dan di Nusa Tenggara Timur turis asal Belanda diduga suspect.
Indonesia sendiri sejak 11 Juli 2008 lalu sudah mengumumkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk kasus ini. Menurut Menkes, begitu Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan flu babi sudah masuk level enam, Depkes secara otomatis menerapkan status tersebut.
Kasus yang berasal dari Indonesia sendiri terhitung kecil, kebanyakan kasus yang ditemukan berasal dari luar, seperti turis. Saat ini Depkes tengah meningkatkan pertahanan di dalam negeri dengan cara mengkarantina orang sakit yang gejalanya mengarah pada flu babi.

Sumber: VIVAnews.com


Uji coba pertama vaksin influenza A (H1N1) terhadap manusia akan dilakukan di Australia, Rabu 22 Juli 2009, saat Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa korban tewas akibat virus tersebut mencapai 700 orang. Perusahaan CSL Ltd yang berbasis di Melbourne akan melakukan uji coba vaksin flu babi tersebut pada 240 sukarelawan.
Seperti dikutip dari laman stasiun televisi CNN, Selasa 21 Juli 2009, uji coba akan diterapkan pada orang sehat dewasa berusia 18-64 tahun. Para partisipan akan mendapat dua suntikan dalam tiga pekan terpisah secara terpisah. Kemudian, mereka akan menjalani tes darah untuk mengetahui apakah tubuh mereka membangun respon kekebalan kepada virus.
"Kami menghargai bahwa merebaknya virus influenza baru seperti flu babi bisa mengejutkan kami dengan properti yang berarti mereka mungkin memerlukan dosis lebih tinggi dan dua suntikan daripada satu suntikan untuk memicu tingkat kekebalan yang diinginkan pada manusia," kata Dr. Russell Basser, direktur pengembangan klinis untuk CSL.
Flu babi telah menyebar dengan cepat dan meluas di berbagai negara, sehingga WHO, kemarin mengatakan, mengubah taktik melawan virus, termasuk menghentikan rentetan kasus dan fokus pada pola penyebaran yang tidak biasa.
WHO menyatakan virus tersebut sebagai pandemi global pada 11 Juni. Lebih dari 120 negara melaporkan korban manusia terinfeksi virus, dengan total kasus tercatat 98.000 kasus.

Sumber: VIVAnews.com

Kepala Kantor Departemen Agama Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Lalu Suhaimi Ismy mengatakan, jemaah calon haji (JCH) di daerah ini khawatir terjangkit flu babi saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah, Arab Saudi.
"Sebab saat pelaksanaan ibadah haji jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Makkah sehingga kemungkinan tertular flu babi terbuka," katanya di Mataram, Senin (20/7).
Untuk itu, kepada Departemen Kesehatan yang bertanggung jawab terhadap kesehatan calon haji segera melakukan antisipasi dengan menyiapkan obat-obatan yang dapat mencegah flu babi yang mematikan itu.
"Demikian juga pemeriksaan terhadap jemaah JCH harus dilakukan lebih ketat dan kemungkinan ada prosedur khusus bagi JCH dalam pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan tidak hanya dilakukaan saat berangkat, namun juga ketika akan kembali ke tanah air,” katanya.
Sekitar 4.449 orang penduduk NTB akan melaksanakan ibadah haji pada musim haji 2009 yang berasal dari kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Bima dan Kabupaten Bima.
Mulai tahun 2009 para JCH akan menggunakan paspor hijau (internasional) dan pembuatan paspor tersebut dipercayakan kepada Kantor Imigrasi Mataram untuk JCH di Pulau Lombok dan Kantor Imigrasi Sumbawa bagi JCH di Pulau Sumbawa.
Dikatakan, proses pembuatan paspor hijau berbeda dengan paspor coklat (paspor khusus untuk jemaah haji), karena setiap JCH harus datang sendiri ke kantor Imigrasi antara lain untuk membuat foto paspor dan sidik jari, sehingga dibutuhkan waktu cukup lama.
"Sementara untuk pembuatan paspor coklat, JCH tidak perlu datang ke kantor Imigrasi, fotonya cukup ditempel di buku paspor, sehingga penyelesaiannya cepat,” katanya.
Sementara itu, pihak Kantor Imigrasi Mataram, NTB siap membuat paspor hijau untuk JCH di daerah ini berapa pun jumlahnya.
"Kantor Imigrasi Mataram sudah biasa membuat paspor yang jumlahnya ribuah bahkan puluhan ribu," kata Kasi Status Keimigrasian, Kantor Imigrasi Mataram, Syahrifullah.
Pembuatan paspor hijau bagi JCH merupakan yang pertama pada musim haji 2009, namun hingga kini Imigrasi Mataram masih menunggu Keppres untuk pembuatan paspor tersebut.
Sumber: Kompas.com

Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung merawat tiga pasien baru terkait penularan virus influenza A-H1N1. Dua orang dinyatakan terduga sedangkan seorang lainnya masih dalam tahap observasi.
Pasien dalam pengawasan ketat di Influenza Center RSHS. Sampel apus hidung dan tenggorakan sudah dikirimkan ke Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan, kata Wakil Ketua Tim Penanganan Infeksi Khusus RSHS Bandung, Primal Sudjana, Senin (20/7), di Bandung.
Primal mengatakan, dua pasien yang dinyatakan sebagai terduga memiliki riwayat pergi ke luar negeri. Seorang pasien berusia 22 tahun sempat singgah di Malaysia. Setibanya di Indonesia, ia mengalami gejala influenza dan segera dirujuk ke RSHS.
Terduga lainnya berusia 11 tahun diketahui baru saja menjalani penerbangan dari Australia dan Singapura. Setibanya di Indonesia, ia juga mengalami gejala influenza.
Sedangkan seorang pasien lainnya, saat ini sedang dalam tahap obs ervasi. "Kami belum bisa menetapkan statusnya karena ia tidak menjalani perjalanan ke luar negeri. Namun, ia mengatakan sempat ada kontak dengan orang yang baru saja melakukan perjalanan dari luar negeri," kata Primal.
Sumber: Kompas.com

Januari 1976. Musim dingin sedang pada puncaknya dengan salju bertaburan di Fort Dix, sebuah pusat latihan Angkatan Darat Amerika Serikat di New Jersey. Sungguh sial nasib prajurit David Lewis (18). Ia tak bisa ikut merayakan HUT ke-200 negaranya karena ia tewas akibat tetap ngotot mengikuti latihan berat bersama peletonnya walaupun ia menunjukkan gejala terjangkit flu: pusing, mual, lelah, demam, dan nyeri otot.

Memang hanya Lewis yang tewas akibat flu yang kemudian diidentifikasi sebagai ”flu babi” (swine flu) yang disebabkan oleh virus H1N1, sama dengan subtipe virus influenza A yang menjadi biang wabah raya (pandemi) flu spanyol 1918-1919. Sementara sekitar 300 rekan Lewis juga terjangkit flu, sebagian harus dirumahsakitkan, tapi tak sampai fatal. Demikian dituturkan Laurie Garrett dalam sebuah bab khusus tentang swine flu di bukunya, The Coming Plague (1994).


Gara-gara kematian Lewis, para petinggi kesehatan masyarakat AS sempat panik akan terulangnya pandemi flu. Mereka mendesak Presiden Gerald Ford untuk memvaksinasi setiap warga Amerika agar kebal terhadap ”flu babi”. 

Program Imunisasi Nasional ”Swine Flu” yang disetujui Kongres AS pada 12 Agustus 1976 mulai dijalankan sejak awal Oktober 1976. Program vaksinasi massal yang dilakukan terhadap puluhan juta orang itu, pertengahan Desember 1976, dihentikan menyusul pengumuman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) bahwa vaksinasi ”flu babi” diduga menimbulkan puluhan hingga ratusan kasus kelumpuhan yang dikenal sebagai sindrom Guillain-Barre.
 
Bunglon mikroba
Adalah Dr Richard Shope dari AS yang mengusulkan istilah swine flu. Tahun 1932, ia mengusap ingus babi-babi di peternakan dan berhasil menularkannya ke sesama babi. Tahun 1933, tim Inggris, Wilson Smith dan tiga rekannya, untuk pertama kali mengisolasi virus flu. Tahun 1935, Shope membuktikan bahwa orang-orang yang selamat selama pandemi flu spanyol 1918-1919 (seusai Perang Dunia I) memiliki antibodi terhadap ”virus babi”-nya, tetapi anak-anak yang lahir setelah 1920 tak memiliki antibodi itu. Ia kemudian menyimpulkan bahwa pandemi flu seperti flu spanyol (yang menewaskan lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia) itu disebabkan oleh virus dengan tipe ”babi”.

 
Shope berhipotesis bahwa virus itu berasal dari hewan-hewan lain (yang ternyata kemudian adalah burung), menginfeksi manusia, dan kemudian ditularkan oleh manusia ke babi. Babi kemudian menjadi tempat persembunyian aman bagi virus flu hingga kemudian menular lagi ke manusia, seperti yang terjadi dewasa ini di Meksiko dan beberapa negara lain, seperti AS, Kanada, Spanyol, Inggris, dan Australia.

 
Dengan kemajuan biologi molekuler, CDC awal dekade 1990-an mengukuhkan teori Shope. Hasil ”sidik jari” virus Fort Dix yang menjangkiti David Lewis dipastikan H1 (hemagglutinin 1) N1 (neuraminidase 1), sama dengan ”virus babi” Shope. Protein hemagglutinin dan neuraminidase merupakan antigen yang menyerang antibodi, sistem kekebalan tubuh manusia.

 
Perubahan minor pada kedua antigen ini (antigenic drift) biasanya tak menimbulkan wabah flu, hanya mutasi yang serius (antigenic shift) yang dapat membuat antibodi manusia tak mampu melawan dan inilah yang kemudian menimbulkan pandemi flu kembali terulang pada tahun 1957 dengan ”flu asia” yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H2N2 (menewaskan lebih dari 1 juta orang) dan tahun 1968 ”flu hongkong” oleh virus H3N2 dengan korban lebih dari 700.000 jiwa. Kini dikenal ada 16 jenis hemagglutinin dan 9 jenis neuraminidase, jadi bisa dibayangkan ada berapa kombinasi HN yang mungkin mengancam manusia. Yang paling mengkhawatirkan adalah virus flu burung H5N1 yang telah menewaskan lebih dari 100 orang Indonesia.

 
Tampaknya virus flu berhasil beradaptasi cukup sering, setidaknya satu kali setiap generasi manusia muncul strain virus flu baru yang dapat mengecoh manusia. Biasanya, setelah suatu pandemi flu yang dahsyat yang membunuh ratusan ribu atau jutaan jiwa, orang-orang yang selamat mungkin telah memiliki antibodi yang mengenal dan menetralisasi protein-protein hemagglutinin dan neuraminidase strain tersebut. Selama beberapa tahun kemudian, populasi virus flu itu hanya akan mengalami perubahan minor yang kurang berbahaya.

 
Sejarah mencatat pandemi flu hebat terjadi tahun 1580, seiring dengan kolonialisasi Afrika, Asia, dan Amerika. Pada abad ke-17 tidak ada catatan, tetapi pada abad ke-18 dan ke-19 pandemi dahsyat flu terjadi tahun 1729, 1732, 1781, 1830, 1833, dan 1889. Abad yang lalu juga mencatat tiga pandemi flu dan yang paling hebat tahun 1918-1919. Tidak mustahil abad ke-21 ini bakal terulang lagi sedikitnya tiga kali pandemi flu.

 
Kekhawatiran terhadap flu burung yang ”untungnya” belum menular sesama manusia sah-sah saja. Tapi ternyata kita telah terkecoh, virus ”flu babi” H1N1 yang menular dari manusia ke manusia kini malah yang mengguncang dunia. Menurut Laurie Garrett, beberapa pakar flu memperkirakan virus ”flu babi” akan muncul dengan siklus setiap 90-100 tahun. Berarti, pandemi flu 1918-1919 diramalkan bakal terulang pada tahun 2009-2019. Ternyata ramalan itu benar! Tentu kita berharap wabah ”flu babi” tahun ini tak sampai menjadi wabah raya.

 
Seperti halnya manusia, virus flu pun harus terus beradaptasi atau punah. Peristiwa 1976 di AS mengajarkan kepada para virolog bahwa virus flu itu mirip bunglon mikroba. Ia telah berevolusi dan mampu bertahan selama beribu tahun. Virus flu memang punya logikanya sendiri.

Penulis: Irwan Julianto, artikel ini dimuat tanggal 29 April 2009
Sumber: Kompas.com

Konsep Kesejahteraan Hewan :
- Animallium Homnique Saluti
- “Manusya Mriga Satwa Sewaka”
Makna Filosofis : Pengelolaan Hewan Untuk Kesejahteraan Manusia
5 PRINSIP KEBEBASAN HEWAN
1. Bebas dari rasa haus dan lapar;
2. Bebas dari rasa tidak nyaman;
3. Bebas dari rasa nyeri, celaka dan penyakit;
4. Bebas mengekspresikan tingkah laku secara normal ;
5. Bebas dari rasa sakit dan stress
KESEJAHTERAAN HEWAN (KESEJAHTERAAN HEWAN)
1. Perlakuan hewan secara wajar, alami dan terkendali dalam kerangka perlindungan hewan dari tindak semena-mena manusia.
2. Sudut pandang nilai kemanusiaan Anthropometri : KURANG TEPAT.
3. Tujuan Kesejahteraan hewan pada hakekatnya untuk kesejahteraan manusia, khususnya hewan produksi terkait dengan produk pangan ASUH.
Kehidupan di alam suatu EKOSISTEM ( manusia, flora, fauna dan lingkungan) : Saling Ketergantungan (interdependency) dan Saling Keterkaitan (Interrelationship).
Issu perdagangan bebas yang harus disikapi :
• Isu HAM
• Isu lingkungan
• Animal welfare (Kesrawan)
Bioetika : Perilaku manusia terhadap suatu obyek (makhluk hidup) yang didasari dengan landasan nilai-nilai manusiawi (cipta, rasa dan karsa)terhadap berbagai masalah yang timbul sebagai implikasi negatif dari kemajuan teknologi.
Penyimpangan ”HUKUM ALAM” karena kecenderungan manusia untuk semena-mena bila berkuasa atas nasib makhluk lain baik sesama manusia ataupun hewan.
Kebijakan Penerapan Kesrawan
Penerapan KESRAWAN (hewan produksi) dalam penyediaan daging (ideal) : mulai dari peternakan sampai penyembelihan
Tujuan penerapan KESRAWAN dalam penyediaan daging:
1. Sesuai dengan konsep “Halalan dan Thoyyiban”.
2. Menghasilkan daging yang berkualitas baik, aman dan layak serta berdaya saing tinggi.
3. Memenuhi tuntutan masyarakat kesejahteraan hewan internasional (perdagangan bebas).
KEGIATAN PEMBINAAN KESRAWAN
1. Sosialisasi nilai Kesejahteraan Hewan kepada petugas pengelola hewan / ternak.
2. Fasilitasi dalam penerapan teknis kesrawan khususnya di RPH.
3. Advokasi konsumen terhadap produk pangan yang berasal dari hewan yang bebas dari perlakuan tidak wajar disaat hidupnya.
4. Penyusunan peraturan perundangan dan pedoman praktis penanganan hewan.
Pengaruh Kesrawan Terhadap Kualitas Daging
Makna penerapan KESRAWAN dalam penyediaan daging :
1. Sesuai dengan konsep “Halalan dan Thoyyiban”.
2. Menghasilkan daging yang berkualitas baik, aman dan layak konsumsi.
3. Memenuhi perlakuan hewan secara ikhsan.
PROSES PENYEMBELIHAN
A. Penyembelihan hewan dilaksanakan dengan mempedomani hukum agama khususnya Islam agar memenuhi standar kehalalan guna menjamin ketentraman batin konsumen à Indonesia
B. Penyembelihan dilakukan dengan pisau yang tajam pada bagian ventral leher (8-10 cm di belakang lengkung rahang bawah) sehingga trachea, vena jugularis - arteria communis dan oesophagus terpotong sekaligus.
C. Perlakuan lebih lanjut pasca penyembelihan dilakukan apabila hewan mati sempurna à reflek kelopak mata
PENYEMBELIHAN HEWAN
Prinsip penyembelihan mempersingkat penderitaan hewan, mempercepat proses kematian.
Proses penghayatan (niat & konsentrasi) bagi pelaksana momentum ibadah.
Hilangnya respon otak (referens)
2 a. Carotis + v. jugularis à 14 detik
2 v. jugularis à 70 detik
Jantung yg diinduksi listrik à 298 detik
Cardiac arest à 28 detik
Mati Sempurna : Kematian fungsi otak hilangnya respon reflek palpebrae / kelopak mata.
Proses Pengulitan & Pengeluaran Jeroan :
Sebelum proses pengulitan, dilakukan pengikatan saluran makanan (oesofagus) dan anus agar isi lambung dan usus tidak mencemari daging.
PEMERIKSAAN POST MORTEM
- Pemeriksaan postmortem harus segera dilakukan setelah hewan disembelih. Pemeriksaan dilakukan oleh dokter hewan atau juru uji daging atau petugas teknis yang telah mendapatkan pelatihan tentang meat inspector.
- Pemeriksaan postmortem lebih diutamakan pada kelainan organ yang spesifik.
Untuk mendapatkan daging yang “Halalan Thoyyiban” diperlukan :
1. Persyaratan hewan sembelih
- Merupakan jenis hewan yang memenuhi persyaratan potong.
- Hewan sehat yang dinyatakan dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan.
2. Persyaratan Juru Sembelih
- Memahami dan menerapkan kaidah aspek kehalalan, aspek kesejahteraan hewan dan teknis higiene-sanitasi.
3. Persyaratan Prosedur
- Penyembelihan sesuai dengan syariah Islam dan memenuhi aspek kesejahteraan hewan.
- Dilakukan pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem oleh dokter hewan berwenang.
- Penanganan daging sesuai aspek higiene sanitasi.
PENGERTIAN ASUH:
Aman: Tidak mengandung bahaya biologis, kimiawi dan fisik atau bahan-bahan yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
Sehat: Mengandung bahan-bahan yang dapat menyehatkan manusia (baik untuk kesehatan).
Utuh: Tidak dikurangi atau dicampur dengan bahan lain.
Halal: Disembelih dan ditangani sesuai syariat agama Islam.
Sumber: Diolah dari materi drh. Krisnandana, Direktorat Kesmavet, Ditjennak pada WORKSHOP MANAJEMEN RUMAH POTONG HEWAN di Mataram, 2 Juni 2009.







Kasus influenza A-H1N1 di Indonesia terus bertambah. Hingga hari Kamis (16/7) jumlah kasus influenza A-H1N1 di Indonesia bertambah 15 orang menjadi 157 kasus: 81 laki-laki, 76 perempuan. Tambahan 15 orang tersebut, 2 orang warga negara asing dan 13 orang warga negara Indonesia., 4 laki-laki dan 11 perempuan.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, Kamis (16/7).
Mereka berasal dari RS/Dinkes J akarta 10 orang, dan masing-masing 1 orang dari Medan, Yogyakarta, Surabaya, Bali dan Bandung. Empat di antara mereka memiliki riwayat pergi ke luar negeri yaitu ke Malaysia (1 orang), Australia (2 orang), dan China (1 orang).
Dengan demikian, sampai tanggal 16 Juli 2009, secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 di Indonesia berjumlah 157 orang terdiri dari 81 laki-laki dan 76 perempuan. Data kasus berdasarkan tanggal pengumuman yaitu 24 Juni (2 kasus), 29 Juni (6 kasus), 4 Juli (12 kasus), 7 Juli (8 kasus), 9 Juli (24 kasus), 12 Juli (12 kasus), 13 Juli (22 kasus), 14 Juli (26 kasus), dan tanggal 15 Juli (30 orang), 16 Juli (15 orang).
Tambahan kasus baru positif berasal dari RS/Dinkes Jakarta yaitu : Fi (Pr, 11), JA (Lk), Em (Pr, 4 th), Al (Pr, 8 th), HW (Lk, 31 th), NL (Pr, 44 th), CF (Pr, 23 th), HU (Lk, 38 th), AL (Pr, 7), dan Ep (Pr, 26 Th). Yang berasal dari RS/Dinkes Surabaya yaitu Ju (Pr, 47 th). Yang berasal dari RS/Dinkes Yogyakarta yaitu ED (Pr, 23 th). Yang berasal dari RS/Dinkes Med an yaitu YM (Pr, 20 Th). Yang berasal dari RS/Dinkes Bali yaitu St (Lk, 22 th). Yang berasal dari RS/Bandung yaitu Hi (Pr, 49).

Ikut andil
Tjandra Yoga mengemukakan, masyarakat mempunyai andil besar untuk ikut mencegah penularan influenza A-H1N1, yaitu dengan perilaku hidup bersih dan sehat diantaranya mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, dan melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. Apabila ada gejala Influenza segera meminum obat penurun panas, menggunakan masker dan tidak masuk kantor atau sekolah atau ke tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter.
Influenza A-H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat. Namun angka kematiannya sangat rendah yakni 0,4%.
Untuk mencegah penyebarannya di Indonesia, upaya kesiapsiagaan, menurut Tjandra Yoga, tetap dijalankan yaitu : peng uatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi), penyiapan RS rujukan, penyiapan logistik, penguatan pelacakan kontak, penguatan surveilans ILI, penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti I nternational Health Regulations (IHR).
Upaya lainnya berupa community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans se vere acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu perawatan di rumah sakit.

Sumber: Kompas.com


Menteri Kesehatan Australia Nicola Roxon memperkirakan, lebih dari 6.000 warganya mungkin meninggal akibat flu babi (swine flu), jika skenario terburuk terjadi selama musim dingin yang berlangsung di belahan bumi selatan ini.
Akan tetapi, kata Roxon, Kamis (16/7), skenario terburuk itu hanya terjadi jika tidak ada langkah-langkah antisipatif yang dilakukan untuk memerangi virus A-H1N1 itu. "Australia sudah memesan 21 juta dus vaksin yang akan mulai digunakan bulan Oktober," kata Roxon kepada Radio ABC.
Menurut data di Departemen Kesehatan Australia, setiap musim flu di Australia terdapat 2.000-3.000 kematian akibat flu.
Masih menurut data di Depkes Australia, negeri kanguru itu memang tercatat sebagai negara di kawasan Asia Pasifik dengan jumlah kasus flu babi paling tinggi. Data yang ada menyebutkan, 24 orang meninggal dari 11.194 kasus yang dikonfirmasi.
Di hari Kamis ini, Selandia Baru, negara terdekat Australia, mencatat kematian korban ke-10 akibat flu babi. Kementerian Kesehatan Selandia Baru menyatakan, jumlah kasus flu babi yang telah dikonfrimasi di negeri itu mencapai 2.107 kasus, 113 kasus di antaranya dirawat di rumah sakit. Dari jumlah itu, 23 kasus di antaranya harus dirawat di unit intensif.

Sumber: Kompas.com

Jumlah korban positif influenza A-H1N1 di Indonesia hingga Rabu (15/7) malam menjadi 142 orang setelah ada tambahan kasus 30 orang: 77 lak-laki dan 65 perempuan. Meskipun angka kematian influenza A-H1N1 di dunia sangat rendah yakni 0,4%, namun penularannya sangat cepat.
Demikian diungkapkan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari ketika memimpin Rapat Koordinasi Tim Kesiapsiagaan Penanggulangan Influenza A-H1N1 di Depkes Jakarta, Rabu (15/7).
Karena itu masyarakat dihimbau tetap waspada dan senantiasa membiasakan pola hidup bersih dan sehat diantaranya mencuci tangan dengan sabun, dan melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. Apabila ada gejala Influenza gunakan masker dan tidak ke kantor, ke sekolah atau ke tempat-tempat keramaian dan istirahat di rumah selama 5 hari. Apabila flu dalam 2 hari tidak membaik segera ke dokter.
Menurut Menkes, kematian yang terjadi pada pasien positif influenza A-H1N1 pada umumnya disebabkan karena penyakit lain yang menyertainya seperti orang dalam kondisi lemah, sakit pernafasan, HIV/AIDS, lanjut usia (lansia) serta balita dengan gizi kurang.
Kendati demikian, untuk mencegah penyebaran influenza A H1N1 yang lebih luas di Indonesia upaya kesiapsiagaan tet ap dijalankan yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi), penyiapan RS rujukan, penyiapan logistik, penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI, penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).
Upaya lainnya berupa community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical survei lans yaitu diadakan surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu perawatan di rumah sakit.
Berkaitan denga n meningkatnya jumlah pasien suspek, Menkes mengharapkan rumah sakit swasta yang merawat pasien suspek influenza A-H1N1 tidak memindahkan pasien atau merujuk ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso atau RS Persahabatan. Perawatan pasien influenza A-H1N1 di Jakarta akan dilakukan di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, sedangkan RS Persabatan khusus untuk merawat pasien flu burung (H5N1), ujar Menkes.
Tambahan kasus Rabu kemarin sebanyak 30 orang terdiri 14 laki-laki dan 16 perempuan, yaitu : Ad (L), An (P), Ir (L), Ha (P), Au (P), Di (P), RR (L), Hi (L, 66 th), KR (P, 38 th), Mi (P, 19 th), KA (L, 41 th), VL (P, 5 th), SB (P, 25 th), NF (P, 2 th), Al (L, 5 th), ZX (L, 21 th), GP (L, 26 th), IH (P, 17 th), AR (L, 2,7 th), PU (P, 25 th), Yo (L, 7 bl), Br (L, 2 0 th), JJ (L, 7 th), MR (L), La (P, 24 th), HK (L, 18 th), LH (P, 18 th), EP (P, 34 th), AM (P, 8 th), NS (P, 30 th). Ke-14 kasus baru tersebut adalah WNI 26 orang dan WNA 4 orang. Riwayat perjalanan ke luar negeri 4 orang yaitu Singapura dan Amerika (3 orang).
Sampai tanggal 15 Juli 2009, secara kumulatif kasus influenza A H1N1 positif di Indonesia berjumlah 142 orang terdiri dari 77 laki-laki dan 65 perempuan. Data kasus berdasarkan tanggal pengumuman yaitu 24 Juni (2 kasus), 29 Juni (6 kasus), 4 Juli (1 2 kasus), 7 Juli (8 kasus), 9 Juli (24 kasus), 12 Juli (12 kasus), 13 Juli (22 kasus) dan tanggal 14 Juli (26 kasus), 15 Juli (30 kasus).

Sumber: Kompas.com



Pemerintah diminta tetap mengintensifkan pemantauan penularan virus avian influenza H5N1 (flu burung) serta memetakan sebarannya untuk mencegah terjadinya percampuran dengan virus influenza A (H1N1) yang dikhawatirkan dapat memunculkan jenis virus influenza baru yang lebih ganas dan mematikan.
"Sebab virus influenza A (H1N1) masih labil dan di lingkungan kita kemungkinan masih ada virus AI H5N1. Kalau ada mediator, keduanya bisa bercampur dan memunculkan jenis virus baru yang mungkin lebih ganas," kata Kepala Laboratorium Penelitian Flu Burung Universitas Airlangga Chairil Anwar Nidom ketika dihubungi dari Jakarta, Rabu (15/7).
Oleh karena itu, ahli biologi molekuler itu menekankan, pemerintah harus memetakan lagi sebaran virus AI H5N1 pada unggas dan manusia serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah terjadinya percampuran.
"Percampuran bisa terjadi kalau ada mediator, mediatornya bisa tubuh manusia atau tubuh babi. Kalau ada peta sebaran flu burung, pemerintah bisa memaksimalkan pemantauan dan upaya pencegahan di situ supaya kemungkinan terjadinya percampuran bisa diminimalkan," ujarnya.
Ia menambahkan, percampuran antara sub-sub tipe virus influenza A (H1N1) dan H5N1 dapat memunculkan banyak varian virus influenza A yang salah satunya mungkin lebih mematikan dan berpotensi menimbulkan pandemi.
"Kalau sudah begitu, bukan hanya Indonesia saja yang terancam, seluruh dunia juga akan ikut terancam,” katanya.
Secara terpisah, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pemerintah terus memantau penularan influenza A (H1N1) dan berusaha mengendalikan penyebarannya.
"Kami pantau dan analisis dari hari ke hari untuk melihat, apakah perlu dilakukan perubahan kebijakan dan strategi penanggulangan," katanya.
Sebelumnya, infeksi virus influenza A (H1N1) sudah dinyatakan tidak lebih berbahaya dari virus influenza biasa. Menurut Tjandra, 95 persen penderita flu A (H1N1) tidak memerlukan perawatan medis di rumah sakit dan sembuh dalam waktu rata-rata sepekan.
"Fakta lainnya adalah, sebagian penderitanya meninggal dunia. Tingkat kematian akibat penyakit ini sekitar 0,4 persen, ada 400 orang dari jumlah pasien yang terinfeksi di seluruh dunia yang meninggal dunia. Namun, flu biasa juga berakibat kematian dan fatalitasnya tidak jauh berbeda dengan flu A H1N1,” ujarnya.
Sejumlah negara terdampak mulai melonggarkan kegiatan pencegahan. Singapura tidak lagi merawat pasien bergejala ringan di rumah sakit dan memeriksa semua orang yang melakukan kontak dengan pasien. Amerika Serikat menangani pasien flu A (H1N1) sebagaimana pasien influenza biasa dan Australia tidak lagi memasang alat pemindai suhu tubuh untuk menjaring orang yang diduga terinfeksi.
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari sebelumnya juga telah mengatakan bahwa pemerintah akan tetap menerapkan prosedur pengendalian influenza A (H1N1) untuk mencegah kemungkinan terjadinya percampuran antara virus influenza A H1N1 dan H5N1.

Sumber: Kompas.com


VISI
Terwujudnya pelayanan veteriner yang prima dalam menjamin kesehatan dan ketentraman bathin masyarakat.

MISI
A. Meningkatkan jaminan keamanan pangan asal hewan melalui pembinaan dan pengawasan higiene-sanitasi dalam upaya penyediaan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).
B. Meningkatkan jaminan keamanan pangan asal hewan melalui pengujian keamanan dan mutu produk peternakan.
C. Meningkatkan perlindungan sumberdaya hewani dan ketentraman bathin masyarakat dalam penyediaan pangan asal hewan melalui pembinaan analisa risiko dan peredaran pangan asal hewan.
D. Meningkatkan perlindungan sumberdaya hewani dan daya saing produk hewan non pangan dalam penyediaan produk hewan non pangan melalui pembinaan analisa risiko dan peredaran produk hewan non pangan.
  • Meningkatkan pengendalian zoonosis melalui monitoring dan surveilans.
  • Meningkatkan penerapan kesejahteraan hewan melalui pembinaan dan kepedulian masyarakat.
KEBIJAKAN KESMAVET
1. Penyediaan pangan asal hewan yang ASUH (Food Safety and Halalness Assurance System).
2. Pengendalian dan penanggulangan zoonosis.
3. Pembinaan kesejahteraan hewan.

PROGRAM KESMAVET
  • Penerapan Sistem Jaminan Keamanan Pangan pada mata rantai produksi pangan asal hewan.
  • Pengamanan produk hewan.
  • Monitoring dan surveilans residu serta cemaran mikroba pada produk hewan.
  • Pengendalian zoonosis melalui monitoring, surveilans dan partisipasi masyarakat.
  • Penerapan kesejahteraan hewan.
PENGERTIAN ZOONOSIS
Zoonosis adalah penyakit yg dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya, disebut juga Anthropozoonosis (UU No. 6/1967).
Zoonosis adalah suatu penyakit atau infeksi yang secara alami ditularkan dari hewan vertebrata (WHO).

Note :
Lebih dari 1415 mikroba pathogen yg mengancam kesehatan manusia dan 61,6 % berasal dari hewan.
Jumlah Zoonosis yang ditetapkan sebagai zoonosis penting di dunia 156 jenis (dan akan terus bertambah : Emerging Infectious Disease/EID).
Dampak Akibat Zoonosis
1. Timbulnya kesakitan (morbidity) dan kematian (mortality), baik pada manusia maupun hewan.
2. Dampak ekonomi akibat kehilangan tenaga kerja karena sakit, menurunnya jumlah wisatawan ke daerah terjadinya wabah, turunnya produksi ternak dan produk ternak, pemusnahan ternak sakit dan tersangka sakit, serta pembatasan dan penurunan perdagangan internasional.

PERAN & FUNGSI KESMAVET DALAM PENGENDALIAN ZOONOSIS
• Meningkatkan pengetahuan ekologi dan epidemiologi untuk mendeteksi penyakit dan memonitor program pengawasan zoonosis.
• Meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kepedulian masyarakat (public awareness) terhadap penyakit-penyakit zoonotik strategis sebagai upaya pencegahan zoonosis.
• Mengoptimalkan risk management dan risk communication hasil risk analysis importasi (lalu lintas) ternak dan produk asal hewan.
• Mengintesifkan koordinasi pengawasan antara Dinas dengan seluruh stake holder terkait.
Zoonosis dan Program Keamanan Pangan
Kebijakan zoonosis dari aspek kesmavet dalam mendukung keamanan pangan berdasarkan prinsip identifikasi & penelusuran (Identification – tracebility) PAH, melalui :
Kegiatan teknis : sampling 3 penyakit ( Salmonellosis, Champylobacteriosis, Anthraks) pada Unit Usaha PAH khususnya RPH dan RPU.
Fasilitasi Pengujian dan Pemberdayaan Lab daerah.
Analisa data hasil pengujian, yang akan digunakan :
- Pemetaan penyakit
- Bahan kebijakan lebih lanjut :
- Tindak penyidikan – Surveilans zoonosis
- Tindak konsolidasi : Pembinaan Teknis, sosialisasi/advokasi

Tindakan dan Pengawasan Zoonosis: Tebal
Pemeriksaan dokumen kesehatan hewan/produk hewan.
Pemeriksaan Antemortem & Post-mortem di RPH – RPU.
Pemeriksaan Sample Laboratorium.
Sistem Kewaspadaan / Peringatan Dini.
Public Awarenes.

Prioritas penyakit zoonosis dan foodborne diseases di Indonesia:
1. Zoonosis: Antraks, Avian Influenza, Brucellosis dan Rabies.
2. Foodborne: Salmonellosis, Campylobacteriosis, Taeniasis, Toxoplasmosis, Leptospirosis dan Tuberculosis.

PROGRAM PENGENDALIAN ZOONOSIS DAERAH TERANCAM
Kebijakan :
1. Meningkatkan Komitmen Dari Pemerintah Dan berbagai unsure mitra yang berpotensi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan rabies.
2. Memadukan Berbagai Kegiatan Promosi Dan Pencegahan Penyakit Rabies Serta Meningkatkan Pembinaan Dan Penanganan Kasus Rabies.
3. Pengawasan Lalu Lintas Hpr Secara Ketat.
4. Penyiagaan Sumber Daya Untuk Menanggulangi Kemungkinan Masuknya Rabies.
5. Diseminasi Informasi Di Daerah Terancam.

STRATEGI
1. Pembentukan Tikor Penangkalan Rabies Di Daerah Terancam.
2. Pencegahan Dan Penangkalan Masuknya Rabies Ke Daerah Terancam Oleh Dinas Bekerjasama Dengan Instansi Terkait.
3. Peningkatan Profesional Sumber Daya Manusia Aparat.
4. Penyiagaan Vaksinasi Hewan.
5. Komunikasi Informasi Edukasi.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
1. Meningkatkan Kemampuan Dan Kemandirian Masyarakat Dalam Pencegahan Dan Penaggulangan Penyakit Rabies.
Pemilik Hewan Yang Rentan Sebagai Hewan Penular Rabies (Anjing, Kucing Dan Kera ) Secara Cermat.
2. Mengawasi Kondisi Kesehatan Hewannya Dan Wajib Menvaksinkan Hewan Secara Teratur.
3. Masyarakat Harus Aktif Melaporkan Kepada Aparat Pemerintah, Jika Mengetahui Kejadian Hewan Menggigit Manusia Khususnya Di Sekitar Tempat Tinggal.

PROGRAM PENGENDALIAN ZOONOSIS DAERAH TERANCAM
( ASPEK PUBLIC HEALTH )
OPERASIONALISASI :
1. Membentuk & Mengaktifkan ” Tikor Rabies”.
2. Meningkatkan Sosialisasi Kewaspadaan Dini Rabies Terhadap Masyarakat Luas.
3. Perencanaan Program Di Tingkat Propinsi Dan Kabupten Dalam Pencegahan Rabies.
4. Optimalisasi Vaksinasi Dengan Vaksin Inaktif Pada Daerah Rawan / Risiko Terjadi Rabies.
5. Respon Cepat Terhadap Laporan Kasus à Penyidikan.
6. Memusnahkan HPR Yang Masuk Tanpa Identitas Jelas/Izin.

Sumber: Drh. Krisnandana- Direktorat Kesmavet, Ditjennak, Deptan



Kasus influenza A-H1N1 di Indonesia hingga Senin (13/7) dari 64 kasus bertambah 22 kasus sehingga total ada 86 kasus. Satu orang pasien suspect A-H1N1 berusia 9 tahun dari Padang kemarin meninggal dunia.
Saat dirujuk ke RS Jamil kondisinya sudah berat dan kemudian meninggal dunia. "Namun, apakah penyebab kematiannya adalah virus A-H1N1 sedang diteliti di laboratorium. Dalam dua hari nanti akan diketahui hasilnya," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, Senin (13/7).
Sampai Senin (13/7) secara kumulatif kasus influenza A-H1N1 positif di Indonesia berjumlah 86 orang yang terdiri dari 52 laki-laki dan 34 perempuan.
Anak perempuan berusia 9 tahun yang berasal dari Padang dan meninggal dunia kemarin kemungkinan besar tidak terkena virus A-H1N1 karena lekositnya 40.000.
Orang normal lekositnya 5.000-10.000 dan orang yang terkena virus A-H1N1 mestinya lekositnya kurang dari 5.000. "Anak ini lekositnya 40.000. Jadi gambarannya tidak sesuai dengan penderita influenza A-H1N1. Tapi kita tunggu hasil laboratoriumnya," kata Tjandra Yoga.
Tambahan kasus sebanyak 22 orang terdiri dari 9 laki-laki dan 13 perempuan semuanya warga negara indonesia dan mempunyai riwayat ke luar negeri sebanyak lima orang. Mereka sempat bepergian ke Hongkong, Turki, Singapura, dan Amerika Serikat.
22 kasus baru tersebut berasal dari Rumah Sakit atau Dinas Kesehatan Jakarta yaitu SM (P, 18 tahun), Su (P, 18 tahun), BM (L, 23 tahun), RG (L, 14 tahun), RN (P, 18 tahun), Ch (P, 24 tahun), PA (P, 24 tahun), RC (L, 18 tahun), Ra (P, 6 tahun), Qa (P, 14 tahun), DA (L, 25 tahun), Ra (P, 38 tahun), MH (P, 58 tahun), Ha (L, 48 tahun), An (P, 22 tahun), Fa (L, 21 tahun), Fe (P, 22 tahun), dan FK (P, 38 tahun).
Yang berasal dari RS/Dinkes Bandung yaitu Ha (P, 2 tahun) dan Ci (P, 18 tahun), sedangkan yang berasal dari RS/Dinkes Surabaya HL (L, 19 tahun) dan dari RS/Dinkes Yogyakarya AR (L, 18 tahun).
Influenza A-H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita. Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan membiasakan hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan dengan sabun, melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar.

Sumber: Kompas.com


Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar hingga Minggu (12/7) masih merawat enam pasien terduga influenza A-H1N1. Dua pasien terakhir yang dirujuk ke rumah sakit rujukan utama di Pulau Bali itu adalah warga negara Indonesia, masing-masing WI (30) dan YP (30).
Pasien WI adalah warga Seminyak, Kuta, Badung yang lama tinggal di Australia dan kebetulan sedang pulang kampung. Ia dilarikan ke Sanglah kemarin sekitar pukul 15.30 Wita. Sedangkan YP (30), warga Jimbaran, Badung, dilarikan ke Sanglah pada Sabtu malam.
Empat pasien lainnya yang masih dirawat intensif di ruang Nusa Indah RSUP Sanglah masing-masing terdiri dari satu WN Indonesia dan tiga WN asing. Satu pasien WNI itu adalah RI (33) wisatawan asal Jakarta yang sedang berlibur ke Bali. Sementara tiga pasien lain adalah Richard Lochner (40) asal New Zealand, Michaela Partin (19) dari Amerika Serikat dan Steven Carruthers (22), warga Australia. Richard adalah pasien yang sempat kabur dengan cara melompat pagar bagian belakang Nusa Indah, namun akhirnya tertangkap satuan pengamanan RSUP Sanglah, Rabu malam lalu.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUP Sanglah, dr Gusti Lanang Suartana, kemarin mengungkapkan, kondisi Lochner, Partin, Carruthers, serta RI hingga kemarin terus membaik. Namun demikian, pihaknya masih menunggu hasil konfirmasi dari Litbangkes terkait sampel tenggorokan dan hidung pasien.
"Jika para pasien sudah melewati masa inkubasi selama tujuh hari dan sudah menyelesaikan dosis tamiflunya, kami akan memakai pemeriksaan dari laboratorium regional. Artinya jika sudah dinyatakan negatif, pasien akan diperbolehkan pulang," kata dia.

Sumber: Kompas.com




Dua orang yang diduga terserang virus influenza A-H1N1 (flu babi) dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah dr Margono Soekardjo, Purwokerto, Banyumas.
Mereka dirawat sejak tiga hari yang lalu di ruang isolasi khusus yang sebelumnya diperuntukan untuk pasien flu burung.
Menurut petugas medis ruang isolasi RSUD Margono, Johansen, Minggu (12/7) malam, dua pasien tersebut masing-masing M (25), perempuan asal Majenang, Cilacap, dan DS (18), remaja pria asal Purwokerto, Banyumas.
"Untuk sementara kami melakukan analisis. Ini baru suspect. Kepastiannya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," ujar Johansen.
Pada hari ketiga kemarin, lanjut dia, kondisi dua orang yang diduga terinfeksi virus flu babi tersebut berangsur membaik. "Keduanya sudah sanggup berdiri. Selang oksigen tak terpasang lagi di alat pernafasan mereka. Secara psikis pun kondisinya juga membaik," ungkap dia.
M diduga terinfeksi virus flu babi saat berada di Arab Saudi. Perempuan asal Majenang tersebut di Negeri Minyak itu bekerja sebaga i pembantu rumah tangga di salah satu rumah warga di sana. Saat tiba di Indonesia, suhu tubuhnya mendekati 40 derajat celsius dan lemah.
Pasien DS saat ini masih duduk di bangku sekolah menengah atas di Purwokerto. Diduga, DS tertular flu babi saat perjalanan di pesawat dari Jerman sepekan yang lalu.
Baik M maupun DS kini kondisinya mulai pulih. Saat diintip dari jendela kaca ruang isolasi, dua pasien tersebut tampak sedang duduk. Namun demikian, hanya petugas medis rumah sakit yang dapat menemui keduanya. Bahkan, anggota keluarganya hanya bisa menunggui dari luar ruangan.
Dua orang yang diduga terserang flu babi tersebut adalah kasus flu babi pertama di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Namun demikian, hingga Minggu kemarin pihak RSUD Margono Soekardjo belum berani memastikan keduanya terserang virus mematikan tersebut. Hasil uji laboratorium terhadap keduanya diperkirakan akan keluar dalam waktu 3-4 hari ke depan.

Sumber: Kompas.com





Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, dalam laporan terbaru menyebutkan, influenza A-H1N1 telah menginfeksi hampir 100.000 orang di 137 negara dan telah menyebabkan 440 orang tewas di seluruh dunia.
Kasus penularan flu A-H1N1 di Inggris tergolong yang paling parah. Sebanyak 14 warga Inggris yang terinfeksi dilaporkan telah meninggal, Kamis (9/7). Departemen Kesehatan Inggris menyebutkan bahwa kini terdapat 9.718 kasus positif penularan A-H1N1 dan masih ada 335 penderita flu yang dirawat di rumah sakit di seluruh Inggris.
Dengan banyaknya jumlah kasus itu, Inggris kini berada di tempat ketiga kasus flu terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat dan Meksiko. Bahkan, meningkatnya penyebaran infeksi flu A-H1N1 dikhawatirkan mendekati tingkat epidemi. Direktur jenderal di Departemen Kesehatan Inggris, Liam Donaldson, memperkirakan jumlah kasus penularan yang sesungguhnya jauh lebih banyak.
Selain di Inggris, jumlah kasus penularan flu A-H1N1 juga meningkat di Thailand. Jumlah kematian akibat flu itu di Thailand juga dilaporkan menjadi 14 orang dan 146 kasus baru sehingga total jumlah kasus A-H1N1 di Thailand mencapai 3.071 orang.
Oleh karena itu, Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva meminta semua sekolah swasta tutup selama dua pekan dan buka kembali 28 Juli mendatang. ”Virus ini menyebar dengan cepat dan sangat mudah. Jika kita tidak berbuat sesuatu, situasinya akan semakin parah,” kata Abhisit.
Di Amerika Serikat, Presiden Barack Obama mengimbau masyarakat AS untuk tetap mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang paling buruk dari penyebaran flu A-H1N1. Penularan flu itu dikhawatirkan semakin gencar pada musim gugur.
”Kami tidak sedang menyebarkan kepanikan, tetapi untuk mempersiapkan diri karena ada potensi kasus ini semakin parah pada musim gugur,” kata Obama di Italia.
Untuk mencegah penyebaran virus itu, AS diperkirakan akan memulai kampanye vaksinasi massal pada Oktober mendatang.
Semakin kebal
Selain korban semakin banyak yang berjatuhan, virus influenza A-H1N1 juga semakin kebal terhadap obat oseltamivir. Hal ini ditandai kemunculan beberapa kasus resistensi terhadap obat itu di sejumlah negara. Padahal, oseltamivir merupakan komponen kunci pengobatan bagi pasien yang terinfeksi virus itu. Karena itu, penggunaan dan dosis obat tersebut harus tepat.
Ketua Panel Ahli Komite Nasional Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Amin Soebandrio, Jumat di Jakarta, mengatakan, jumlah kasus resistensi virus baru influenza A-H1N1 terhadap oseltamivir diperkirakan akan terus meningkat.
WHO dalam situsnya menyatakan telah mendapat informasi dari otoritas kesehatan di Denmark, Jepang, dan kawasan administratif khusus Hongkong, China, terkait adanya virus H1N1 yang kebal terhadap obat antivirus oseltamivir. Hal ini diketahui berdasarkan uji laboratorium.
Virus-virus itu ditemukan pada tiga pasien yang tidak sakit berat. Penyelidikan belum menemukan virus yang kebal itu pada mereka yang kontak dekat dengan ketiga pasien tersebut. Virus-virus yang kebal terhadap oseltamivir ternyata tetap sensitif terhadap zanamivir.
”Ada beberapa mekanisme penyebab populasi mikroba yang resisten bertambah,” kata Amin yang juga guru besar ilmu mikrobiologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pertama, terjadi seleksi alam, yaitu satu virus yang resisten kemudian tetap hidup dan berkembang biak. Mekanisme kedua, virus yang semula sensitif terhadap oseltamivir kemudian bermutasi atau berubah sifat sehingga menjadi resisten.
Resistensi virus flu A-H1N1 kemungkinan karena telah terjadi mutasi spontan virus tersebut. ”Penyebab lain adalah virus influenza A-H1N1 berkoalisi dengan virus lain yang kebal terhadap oseltamivir,” kata Amin.
Bila tidak segera diatasi, kondisi ini akan mempersulit pengobatan. Bila virus kebal terhadap oseltamivir, pilihannya adalah meningkatkan dosis obat dengan risiko terjadi toksisitas. Cara lain adalah mencari obat baru yang tidak selalu ada.
Masih sporadis
Sejauh ini, menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, kasus-kasus resistensi virus flu A-H1N1 terhadap oseltamivir masih sporadis. Jadi, tidak semua negara dilaporkan ada kasus itu. Di Indonesia sejauh ini belum ditemukan virus yang kebal terhadap oseltamivir.
Namun, Amin mengingatkan bahwa virus-virus flu A-H1N1 yang kebal terhadap oseltamivir kemungkinan besar juga bisa terjadi di Indonesia. Sebab, dalam pantauan di lapangan, pihaknya menemukan oseltamivir diperjualbelikan dengan bebas di sejumlah apotek. Jadi, seseorang bisa membeli obat antivirus itu tanpa resep dokter. ”Penggunaan oseltamivir tidak tepat rawan terjadi,” ujarnya.
Padahal, obat itu seharusnya hanya didistribusikan pemerintah ke fasilitas kesehatan rujukan untuk mencegah resistensi oseltamivir. ”Karena itu, distribusi oseltamivir harus diperketat,” kata Amin menegaskan.
Kasus bertambah
Di Indonesia, Departemen Kesehatan mencatat total jumlah kasus positif flu baru H1N1 sebanyak 52 orang. Mereka terdiri dari 35 pria, 16 perempuan, dan 1 pasien tidak ada data. Ini berarti dalam beberapa pekan jumlah pasien meningkat pesat dengan tambahan jumlah kasus baru 24 orang.
Kasus-kasus baru flu A-H1N1 terus bermunculan, antara lain di Bandung, Balikpapan (Kalimantan Timur), Medan, dan Bali.
(EVY/BEN/WSI/CHE/BRO/WER/IRE/REUTERS/AFP/AP/LUK)

Sumber: Kompas.com



Dua dari 12 orang yang dinyatakan terduga terinfeksi virus flu A-H1N1 yang dirawat di RSUP Adam Malik, Medan, dinyatakan negatif.
Dua orang itu, yakni EC (36) dan KK (14), sudah diperbolehkan pulang. Keduanya adalah pasien yang datang pertama kali ke RSUP Adam Malik dari beberapa gelombang yang datang.
Sementara itu, 10 orang yang masih dirawat di RSUP Adam Malik sejauh ini belum menerima konfirmasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Jakarta tentang mereka.
”Kami masih menunggu hasil dari Jakarta, sejauh ini baru dua orang itu yang dinyatakan negatif,” kata Kepala Badan Hukum dan Humas RSUP Adam Malik Atma Wijaya, Selasa (7/7).
Ke-10 pasien yang masih dirawat di RSUP Adam Malik dan belum jelas statusnya adalah WKC (9), Cal (17), VH (20), yang mulai dirawat pada Rabu dan DA (7), AR (14), IV (9) MI (36), TGS (42), dan AG (39) yang mulai dirawat pada Kamis malam. Satu lagi adalah AG (41) mulai dirawat sejak Sabtu. Kondisi seluruh pasien dilaporkan dalam keadaan stabil dengan suhu tubuh kurang dari 36,8 derajat celsius.
Hingga Selasa kemarin, belum ada laporan dari sembilan orang yang dirawat di rumah menunjukkan tanda-tanda kondisinya memburuk. Selain itu, mereka juga belum melapor ke RSUP Adam Malik.
Seperti diketahui, seluruh terduga adalah pasien yang mengeluh demam setelah kembali ke Medan dari perjalanan wisata ke Bangkok, Pantai Pattaya (Thailand) dan Kuala Lumpur, Malaysia, pada akhir Juni.
Mereka sudah mendapat surat keterangan terduga terinfeksi virus A-H1N1 dari Pemerintah Malaysia karena dalam penerbangan mereka dari Thailand ke Malaysia, ditemukan satu penumpang positif menderita flu A-H1N1.(WSI)

Sumber: Kompas.com

Pandemi flu A-H1N1 akhirnya datang juga. Delapan pasien telah terkonfirmasi. Kita tidak perlu panik karena pandeminya masih ringan. Yang perlu diwaspadai adalah virus itu berubah lebih mematikan.
Hingga 1 Juli 2009, jumlah resmi kasus terkonfirmasi H1N1 mendekati 70.000. Negara tertular 117, termasuk Indonesia. Jika dirunut sejak akhir April 2009, jumlah negara tertular rata-rata bertambah dua negara per hari.
Virus flu H1N1 menyebar 2-3 kali lebih cepat dari flu biasa. Daya tularnya (secondary attack rate) 22-33 persen. Artinya, jika satu orang yang sedang tertular bersama 100 orang dalam satu ruangan, akan ada 22-33 orang terserang.
Monster
Data itu menunjukkan, virus H1N1 amat kontagious, penularannya antarorang. Mobilitas manusia yang begitu cepat dan tinggi amat membantu penyebaran virus di seluruh dunia. Memang daya bunuh virus itu masih rendah. Hingga kini, jumlah kematian 311 orang. Kefatalan kasus (case fatality rate/CFR) sekitar 0,4 persen.
Namun, yang jinak itu menyimpan potensi monster. Jika virus itu bersirkulasi luas dan kian banyak orang tertular, peluang virus jinak itu menjadi ganas dan mematikan kian besar.
Hal itu terjadi jika virus bermutasi atau mengalami pertukaran genetik (reassortment) dengan virus flu lain. Mutasi terjadi karena materi genetik virus influenza berubah dengan sendirinya. Untuk virus flu, itu jamak. Materi genetiknya terkenal labil.
Pertukaran genetik terjadi jika virus H1N1 menginfeksi orang yang pada saat sama tertular virus influensa lain. Virus itu bisa saja virus flu burung H5N1, yang endemik di Indonesia, atau virus flu lain. Proses itu dapat terjadi pada hewan, terutama babi.
Potensi itu kian besar jika kasus flu A-H1N1 terjadi di negara-negara berkembang. Bahwa selama ini dapat dideteksi cepat, itu karena letupan awal terjadi di negara-negara yang mempunyai sistem surveilans ciamik. Tanda-tanda awal tabiat virus cepat diketahui, mendorong respons. Dampak pandemi tertekan.
Jika kian meluas di negara-negara berkembang dengan sistem surveilans yang seadanya, potensi virus menjadi lebih ganas akan tak termonitor dengan cepat (real-time). Akhirnya dapat terjadi bum!. Jumlah korban naik.
Jangan panik
Pelajaran berharga dari informasi tentang virus H1N1 itu adalah betapa cepat kajian virus itu dilakukan. Informasi tentang virus sudah tersedia untuk publik dengan kecepatan yang wow. Dalam waktu dua bulan, jumlah virus yang dikaji di seluruh dunia mendekati 500. Kerja sama ilmuwan internasional berlangsung lancar. Isu benefit-sharing tidak terdengar. Semua bekerja demi kemaslahatan umat manusia.
Prakondisi untuk menjadi monster ada di Indonesia. Kepadatan penduduk tinggi, terutama di Jawa dan Bali. Ternak babi juga cukup padat di beberapa provinsi. Berbagai virus influenza ada. Flu burung bahkan masih endemik tinggi di hampir semua wilayah. Jika virus H1N1 ”berkoalisi” dengan virus flu burung, virus baru dapat menjadi monster berdaya sebar dan tular cepat—ciri H1N1—berdaya bunuh tinggi dari flu burung.
Sistem surveilans Indonesia lebih banyak reaktif, sesuai perkembangan, dan berbasis proyek. Aktivitas diintensifkan jika ada kasus dan anggaran cair. Gejala penyakit yang umumnya ringan, sembuh dengan sendirinya (self limited) dan sebagian besar orang tertular bahkan tidak sakit sama sekali (subklinis) menyebabkan pelacakan kasus sulit. Ini bukan hal buruk. Di AS, jumlah kasus yang tertular diperkirakan melebihi satu juta orang.
Kondisi sosial ekonomi menyebabkan surveilans akan sulit. Gejala-gejala flu ringan tidak akan menyebabkan orang melaporkan diri.
Transparansi
Transparansi informasi juga hal serius di Indonesia. Pemegang kebijakan cenderung menutup-nutupi kasus yang sebenarnya. Dalam kasus pandemi, transparansi justru menguntungkan. Dengan demikian, masyarakat dapat mengalkulasi risiko sebenarnya.
Sistem surveilans harus digenjot habis. Selain menjaring jumlah kasus sebenarnya, deteksi sinyal virologis amat penting dilakukan. Apakah virus itu masih ringan atau sudah berdaya bunuh tinggi. Hal itu paling mudah dilakukan dengan mempelajari susunan materi genetik virus. Istilahnya sekuensing.
Dana harus disediakan. Reagensia diagnostik dan tenaga terlatih ditambah. Peneliti dan ilmuwan dilibatkan penuh.
Masyarakat tidak perlu panik. Tips sederhana, jangan bepergian jika flu! Istirahat yang baik membantu mengurangi penyebaran dan mempercepat kesembuhan. Lakukan etika batuk dan bersin: tutup hidung dan mulut dengan kertas tisu atau sapu tangan. Jika harus bepergian, pakailah masker yang baik! Jika curiga flu H1N1, datangi klinik-klinik kesehatan agar diperiksa.
I Gusti Ngurah Mahardika Ahli Virus dan Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Bali

Sumber: Kompas.com


Penyebaran virus influenza A-H1N1 di Indonesia terus terjadi. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan serta Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Selasa (7/7) di Jakarta, melaporkan kasus influenza A-H1N1 bertambah lagi delapan kasus baru.
Mengutip keterangan dari Pusat Komunikasi Publik Depkes, delapan pasien yang terinfeksi virus itu adalah AM (24) dirawat di RS Sanglah, Denpasar; BH (35) dan IA (19) dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta. Selain itu , Vi (20), Wi (9), dan Ca (27) dirawat di RS H Adam Malik, Medan; XL (40), dengan riwayat pergi ke Thailand dan Malaysia; serta LT, memiliki riwayat pergi ke Singapura.
Indonesia telah mencatat 28 kasus positif influenza A-H1N1. Dari 28 kasus positif, 5 orang yang dirawat di RS Sanglah dinyatakan sembuh dan sudah pulang. Untuk mengoordinasikan penanggulangan penyebaran flu tersebut, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari baru-baru ini mengeluarkan surat edaran tanggal 1 Juli 2009 yang dikirim kepada para gubernur di seluruh provinsi di Tanah Air.
Menkes minta para gubernur memerintahkan kepala dinas kesehatan provinsi untuk berkoordinasi dengan kepala dinas kesehatan kabupaten atau kota, kantor kesehatan pelabuhan (KKP), balai besar laboratorium kesehatan (BBLK) dan balai besar teknik kesehatan lingkungan (BTKL), serta RS vertikal di daerah (RSUP) yang merupakan unit pelaksana teknis Depkes di daerah. Kepala dinas kesehatan provinsi juga diminta berkoordinasi dengan RS daerah dan RS rujukan flu burung, RS TNI, RS Polri, RS Swasta, dan sarana kesehatan untuk melaksanakan langkah penanggulangan.
Beberapa langkah penanggulangan tersebut meliputi meningkatkan penemuan atau deteksi dini suspek influenza H1N1, setiap suspek harus dilakukan penyelidikan epidemiologi dan pengambilan spesimen. Puskesmas juga diminta mengaktifkan laporan mingguan penyakit potensial KLB termasuk influenza klinis atau influenza like illness (ILI) sebagai pemantauan wilayah setempat (PWS) dan melaporkan setiap minggunya ke dinas kesehatan kabupaten/kota.
Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota melakukan rekapitulasi secara mingguan kemudian melaporkan ke dinkes provinsi dan ditjen P2PL setiap minggu. Informasi berisi jumlah kasus influenza klinis, nama kabupaten/kota dan nama provinsi yang dikirimkan ke Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) Depkes.
Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes Lily Sulistyowati, dalam siaran pers, influenza A Baru (H1N1) ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin, atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita. Saat ini, sebagian besar penyakit adalah ringan dan sembuh dengan baik.
Masyarakat diminta tetap waspada dan diimbau untuk senantiasa membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun. Melaksanakan etiket batuk dan bersin yang benar. "Apabila sakit dengan gejala influenza, masyarakat diminta mengenakan masker, tidak berdekatan dengan kelompok anggota masyarakat lain, dan segera menghubungi petugas kesehatan. Hindari bepergian bila sedang sakit flu," ujarnya.

Sumber: Kompas.com

Seorang pasien yang diduga terserang flu H1N1 di RSUD Abdul Moeloek dipastikan aman dari virus tersebut. Sebaliknya, RSUD Abdul Moeloek saat ini merawat satu pasien berstatus terduga terserang virus influenza H5N1.
Pad Dilangga, Wakil Direktur RSUD Abdul Moeloek yang juga spesialis paru, Selasa (7/7) mengatakan, berdasarkan hasil uji laboratorium pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan, uji contoh darah dan swap tenggorokan pasien Cn menunjukkan negatif. Pasien Cn sama sekali tidak terserang virus influenza AH1N1, ujar Pad.
Pasien Cn yang dirawat di ruang isolasi selama satu minggu RSUD Abdul Moeloek mulai Selasa siang sudah diperbolehkan pulang. Hasil perawatan terakhir menunjukkan gejala influenza seperti batuk, pilek, se rta demam yang menyertai sudah mereda sehingga dokter sudah membolehkan Cn pulang.
Sementara itu, pada Senin (6/7) RSUD Abdul Moeloek menerima satu pasien laki-laki berinisial M (14). Warga Jatimulyo, Lampung Selatan tersebut diduga terserang virus flu burung H5N1.
Pad mengatakan, M datang berobat ke RSUD Abdul Moeloek pada Senin (6/7) siang pukul 11.00 dengan gejala demam tinggi hingga 39 derajat Celcius. M juga menderita sesak dan batuk.
Berdasarkan penelusuran dokter terhadap pasien M, dokter memastikan M sebagai pasien berstatus terduga terserang virus flu burung H5N1. M memiliki riwayat kontak dengan unggas mati mendadak yang terjangkit virus H5N1.
Berdasarkan keterangan M, pada Kamis (2/7) lima ekor ayam di sekitar rumahnya mati mendadak. Pada sabtu (4/7) tiga ekor ayam juga mati mendadak. Ketiga ayam yang mati mendadak tersebut kemudian ia olah dan ia makan bersama keluarga.
Setelah mengkonsumsi daging ayam yang mati mendadak M terserang demam tinggi, batuk, dan sesak. Keluarga M sempat membawa M ke puskesmas terdekat sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD, ujar Pad.
Dari keterangan tersebut, dokter mengkategorikan M sebagai pasien berstatus terduga karena memenuhi semua syarat pasien berstatus terduga. M kini dirawat di ruang isolasi RSUD Abdul Moeloek.
Dokter memberikan perawatan untuk pasien terserang H5N1 kepada M. Dokter memberikan M obat tamiflu.
Dokter juga memantau kondisi M melalui rontgent dan pengambilan contoh darah dan cairan lendir atau swap tenggorokan. "Hasil rontgent belum diketahui, sementara contoh darah dan cairan swap sudah kami kirim ke Balitbangkes Departemen Kesehatan," ujar Pad.
Terkait dengan bermunculannya pasien terduga influenza AH1N1 ataupun H5N1, Pad menyatakan, ruang isolasi RSUD Abdul Moeloek siap menangani dan merawat pasien tersebut. Saat ini RSUD Abdul Moeloek sudah mendapat tambahan 2.000 tablet tamiflu dari Departemen Kesehatan. "Tambahan tersebut sangat membantu RSUD Abdul Moeloek menangani pasien," ujar Pad.

Sumber: Kompas.com


Jumlah suspek terkena flu A-H1N1 di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, ada tiga orang. Seorang warga berpaspor Amerika Serikat diisolasi di Rumah Sakit Umum Daerah Kanujoso Djatiwibowo tetapi dua orang lainnya diisolasi di rumah sebab menolak dirawat di RSUD tersebut.
Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kaltim Jurnanto mengemukakan itu kepada pers di Kantor Gubernur Kaltim di Kota Samarinda, Selasa (7/7). Suspek yang diisolasi di rumah ialah Sadiana (30) dan Karina (8) si anak sedangkan suspek di RSUD ialah Rowan Hepburn (26).
Jurnanto mengatakan, pada Senin sore lalu, RSUD menerima Sadiana dan Karina yang merasakan gejala-gejala flu. Keduanya diduga terkena flu A-H1N1 karena baru tiba dari Jakarta. Di ibu kota, mereka menemui saudara yang berasal dari Australia yang terjangkit flu A-H1N1.
Seseorang dicurigai terkena flu A-H1N1 sebab sudah ada ge jala-gejala flu seperti demam tinggi dan ada kontak dengan orang-orang yang diduga terkena flu serupa atau kontak dengan orang-orang yang berasal dari daerah yang terjangkit flu itu, kata Jurnanto.
Jurnanto mengatakan, Sadiana dan Karina dilarang keluar rumah dan bergaul dengan warga sekitar sampai dapat dipastikan mereka negatif terkena flu A-H1N1. Mereka harus mengenakan masker selama di rumah. Kesehatan mereka terus dipantau dan dievaluasi dokter RSUD. Mereka juga diberi obat oseltamivir.
Seperti juga Rowan Hepburn, contoh cairan tenggorokan, hidung, dan darah Sadiana dan Karina telah dikirim ke laboratorium Balitbangkes di Jakarta. Kami masih menunggu hasilnya dan semoga saja ketiganya negatif, kata Jurnanto.
Jurnanto mengatakan, Dinas Kesehatan Kota Balikpapan ditugaskan melacak riwayat perjalanan dan kontak Rowan Hepburn selama di Kota Minyak. Lelaki kelahiran Afrika Selatan itu diketahui tiba di Balikpapan pada Jumat (3/7) dan menginap di sebuah hotel.
Kamar tempat Rowan Hepburn menginap telah disemprot desinfektan, kata Jurnanto. Hal serupa juga dilakukan terhadap lobi dan sekitar hotel yang Jurnanto minta tidak dikutip nama dan lokasinya sehingga tidak menimbulkan keresahan di kalangan warga.
"Kami mengimbau warga yang terkena gejala flu sebaiknya tinggal di rumah lalu menelepon rumah sakit atau puskesmas agar tim datang mengecek. Apabila terpaksa pergi sebaiknya kenakan masker," kata Jurnanto.

Sumber: Kompas.com

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.