September 2009

Kementerian Kesehatan Umum Thailand, Rabu (23/6), mengumumkan tujuh lagi korban tewas akibat infeksi influenza A (H1N1) yang juga dikenal sebagai flu babi. Dengan demikian jumlah keseluruhan korban menjadi 160 orang.

"Dari tujuh kasus itu, lima di antaranya pria," kata Menteri Kesehatan Umum Thailand Witthaya Kaewparadai, menurut laporan kantor berita Thailand.

Dia menjelaskan, kegiatan publik, di antaranya pelajar yang kursus dan piknik pada saat musim liburan, diduga menjadi penyumbang penyebaran virus baru itu. Thailand untuk pertama kalinya mengkonfirmasikan dua pasien mengidap flu babi pada 12 Mei 2009. (ant/xinhua)

Sumber:tvOne.co.id

SEOUL, MINGGU - Setelah berhasil mengkloning anjing pengendus kanker, para peneliti di Korea Selatan juga sukses melakukannya pada anjing langka asli Tibet. Keberhasilan ini menjanjikan masa depan kloning untuk membantu konservasi satwa langka.

Seperti dilansir The Sooan Biotech Research Foundation, 17 ekor anjing mastiff Tibet hasil kloning lahir pada April lalu. Kloning tersebut atas permintaan Akademi Sains China dan dilakukan tim ilmuwan yang dipimpin Hwang Woo-suk, mantan ilmuwan kenamaan Korea Selatan yang dipecat dari Universitas Nasional Seoul karena terbukti melakukan pemalsuan data kloning manusia.

Anjing-anjing kloning tersebut berasal dari dua ekor anjing berbeda, masing-masing seekor jantan dan seekor betina. Para peneliti membutuhkan enam ekor induk angkat (surrogate mother) yang digunakan rahimnya.

Sayang, belum ada pernyataan resmi bahwa 17 anjing tersebut benar kloning. Sebab, perusahaan bioteknologi Korsel Kogene Biotech, yang diminta melakukan analisis DNA tidak mengambil sampel sel secara langsung.

Kogene Biotech menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat memastikan sampel-sampel mana saja yang berasal dari anjing kloning, dari induknya, atau kombinasi keduanya. Hasil penelitian tersebut memang belum dipublikasikan dan data-datanya masih dirahasiakan.

Sejak terbukti melakukan manipulasi data penelitian yang mengklaim berhasil mengkloning sel induk embrionik manusia, sepak terjang Hwang terus disorot dan tak sebebas sebelumnya untuk melakukan riset kloning di negaranya. Meski sedikit tercoreng dengan skandal tersebut, tim peneliti yang sempat dipimpin Hwang terbukti berhasil mengkloning anjing untuk pertama kalinya di dunia. Kloning anjing jenis Afghan yang diberi nama Snuppy -- nama dari SNU puppy – dilakukan pada tahun 2005.

Saat ini tim peneliti yang sama telah beberapa kali berhasil mengkloning anjing. Jenis Afghan kembali dikloning sebanyak tiga ekor. Mereka juga mengkloning tujuh ekor anjing pelacak atas pesanan Dinas Bea Cukai Korsel serta empat ekor anjing pengendus kanker dari Jepang melalui perusahaan bioteknologi RNL Bio.

WAH
Sumber : Kompas.com (AP)

JAKARTA, SELASA - Inilah keganjilan terbesar dalam pengaturan hak kekayaan intelektual (Haki) yang berlaku di dunia. Sebuah perusahaan yang memiliki lisensi untuk mengkloning hewan peliharaan menuntut perusahaan yang berhasil mengkloning hewan peliharaan untuk pertama kalinya.

Perseteruan dipicu saat perusahaan AS, BioArts International, akan memulai komersialisasi usaha kloning anjing. Minggu lalu, perusahaan yang didirikan Lou Hawthorne ini menuntut RNL Bio, perusahaan bioteknologi di Korea Selatan, untuk menghentikan kloning hewan peliharaan.

Hawthorne menuding RNL Bio tidak memegang lisensi untuk mengkloning anjing pieliharaan. BioArts mengklaim sebagai satu-satunya pemilik lisensi untuk mengkloning anjing, kucing, dan hewan langka di 27 negara, termasuk Korea Selatan, menggunakan teknik yang dipakai untuk kloning sapi Dolly sejak tahun 1998. Padahal, dari tahun 1998 hingga 2006, perusahaan Hawthorne yang dulunya bernama Genetic Savings & Clone gagal melakukan kloning anjing. Perusahaan tersebut bahkan akhirnya ditutup.

Kloning anjing baru berhasil dilakukan pertama kalinya di dunia pada tahun 2005 oleh tim peneliti Universitas Nasional Seoul (SNU) di Korea Selatan di bawah pimpinan Hwang Woo-suk. Namun, karena skandal pemalsuan data penelitian, Hwang dipecat dari SNU. Penelitian kloning anjing kemudian dipimpin Byeong Chun Lee. Tim yang dipimpin Lee bekerja sama dengan RNL Bio untuk mengomersialkan kloning anjing.

RNL Bio berhasil mengkloning beberapa jenis anjing, antara lain anjing pelacak pesanan Dinas Bea dan Cukai setempat, anjing pengendus kanker, dan menerima pesanan kloning anjing peliharaan milik seorang wanita di AS dengan ongkos 150.000 dollar AS.

Sementara itu, Hwang melalui laboratorium pribadinya di Sooam, Korea Selatan, membantu Hawthorne mewujudkan mimpinya dengan mengkloning Missy, anjing peliharaan Hawthorne yang telah mati. Sejak keberhasilan tersebut, Hawthorne mengaktifkan kembali usaha kloningnya dan mulai mengomersialkannya Juli ini.

Perseteruan ini memang bukan antara BioArts dan Bio RNL, tapi juga antara Hwang dan Lee. Pada dasarnya, tanpa peran peneliti-peneliti Korea Selatan, baik Hwang maupun bekas timnya dulu, kloning anjing mungkin belum dapat diwujudkan sampai sekarang.

Teknik kloning anjing sama dengan kloning sapi yang pertama kali menghasilkan Dolly. Prosedur dasarnya adalah menyisipkan DNA ke dalam sel telur yang inti selnya kosong untuk dikembangbiakkan di rahim induk semang (surrogate mother). Cara tersebut berhasil dilakukan pada lusinan spesies lainya, antara lain kuda dan kucing.

Namun, kloning anjing termasuk sulit dilakukan. Untuk melakukannya, para peneliti harus mengambil sel telur matang. Jika pada hewan lain sel telur matang terletak di ovarium, pada anjing sel telur matangnya adalah saat telur itu bergerak ke rahim. Untuk kmengambilnya butuh perhitungan waktu yang sangat tepat. Para peneliti Korea Selatan berhasil mengembangkan teknik pengukuran konsentrasi progesteron pada darah anjing betina untuk menentukan waktu kematangan sel telur. Teknik ini telah dipatenkan.

Sejauh ini belum ada laporan tim peneliti dari negara lain yang berhasil mengkloning anjing. Teknologi kloning anjing yang tak semudah kloning sapi, babi, kucing, dan kuda masih dikuasai Korea Selatan.

WAH
Sumber : Kompas.com (Nature)


KOMPAS.com — Kabar baik datang sehubungan dengan usaha dunia memerangi virus flu A-H1N1. Menurut ilmuwan dari Australia dan Amerika Serikat, ternyata satu dosis vaksin dinilai cukup kuat melindungi orang dewasa dari penularan A-H1N1.
Perusahaan pembuat vaksin dari Australia, CSL Ltd, mempublikasikan hasil risetnya yang menyatakan bahwa 75-96 persen orang dewasa, yang mendapat vaksin sebanyak satu dosis, sudah cukup terlindungi. Keefektivan dosis itu hampir sama dengan vaksin flu musiman.

Hasil riset itu menjawab kekhawatiran para ahli yang menduga bahwa dibutuhkan dua dosis vaksin agar bisa terlindung dari A-H1N1. Selain itu, pemerintah pun tak akan terlalu mengkhawatirkan jumlah persediaan vaksin, mengingat banyaknya negara yang antre untuk mendapatkan vaksin tersebut.

Hasil riset para peneliti dari Australia tersebut juga dikuatkan dengan hasil penelitian yang dilaporkan oleh para ahli dari National Institute of Health (NIH).
Dalam studi yang dilakukan oleh NIH terhadap 1.000 orang dewasa membuktikan bahwa satu kali imunisasi sudah cukup. Selain itu, vaksin tersebut juga langsung memberikan perlindungan 10 hari pasca-penyuntikan.

Menurut dr Anthony Fauci dari NIH, masyarakat tahun ini hanya akan mendapatkan dua kali vaksin, bukan tiga. Satu kali untuk vaksinasi flu musiman dan yang kedua vaksin untuk melawan flu A-H1N1. Sayangnya, belum ada laporan mengenai jumlah kebutuhan vaksin untuk anak-anak.

Meski demikian, sebagian ilmuwan berpendapat bahwa masyarakat akan membutuhkan dua dosis selang sebulan. Alasannya, jenis virus A-H1N1 yang baru ini secara genetik berbeda dengan virus flu yang sekarang beredar.
Lagipula, beberapa perusahaan membuat vaksin juga membuat formula vaksin yang berbeda sehingga dibutuhkan lebih banyak penelitian.

Sumber: Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Kalangan pengusaha peternakan dan makanan berbeda pendapat soal aturan impor daging sapi dari Brazil yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian beberapa waktu lalu.
Dua pelaku usaha yang beda pendapat itu tergabung dalam asosiasi Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI) dan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi).

“Kami tetap pada posisi menolak impor daging Brazil dan kami akan mengajukan peninjauan ulang,” kata Ketua umum PPSKI, Teguh Boediyana saat buka bersama di Departemen Perdagangan, Senin (7/9). Namun, berbeda dengan asosiasi makanan dan minuman yang menilai bahwa impor daging sapi itu akan menguntungkan pelaku industri.

“Masalahnya, sapi yang ada sekarang tidak mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri,” kata Ketua umum Gapmmi, Thomas Darmawan di kesempatan yang sama. Thomas menjelaskan, kalau dirinya sangat mendukung kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Pertanian No 3026/2009 soal impor daging dari Brazil tersebut.

Dijelaskan Thomas, kebutuhan daging secara nasional mencapai 600 ribu ton per hari, termasuk daging kambing. Sedangkan ketersediaan daging sapi diperkirakan Thomas hanya 300 ribu ton saja. “Nah, kekurangan itu yang kita impor,” kata Thomas.

Selain soal ketiadaan stok daging di dalam negeri, Thomas beralasan daging dari Brazil lebih murah dibanding daging dari negara lainnya. Thomas bilang, dengan mengimpor daging dengan harga kompetitif, akan mampu meningkatkan daya saing industri makanan yang menggunakan daging di dalam negeri.
Namun dirinya mengigatkan, soal standar kesehatan dan keamanan tetap diperhatikan sesuai dengan aturan yang ditetapkan pemerintah maupun standar kesehatan dunia. “Mutu tetap harus dijaga,” kata Thomas. Namun, logika yang disampaikan Thomas tersebut dibantah oleh Teguh Budiyana yang menilai Brazil belum bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Menurut Teguh, jika impor dilakukan maka Indonesia membuka diri dari masuknya bibit penyakit PMK. Bibit penyakiut tersebut bisa mengancam ternak sapi yang ada di Indonesia dan selama ini bebas dari virus PMK. “Nah, Indonesia belum memiliki prosedur standar untuk melakukan tanggap darurat jika ada sapi yang terinfeksi PMK,” jelas Teguh.

Teguh masih berharap, agar pemerintah tetap mencari sumber daging dari negara yang sudah dinyatakan bebas dari penyakit PMK. “Jumlah negaranya itu ada 60 negara, kenapa harus impor dari Brazil,” khawatir Teguh. (Asnil Bambani Amri/Kontan)

Sumber: Kompas.com

Badan Litbangkes Depkes tanggal 2 September 2009 melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 14 kasus baru, 2 orang diantaranya meninggal dunia, seorang anak dari DKI Jakarta dan 1 orang perempuan dari Yogyakarta, keduanya mempunyai faktor risiko yang mendasari dan juga pneumonia, hasil laboratorium juga menunjukkan positif H1N1.

Dengan demikian secara kumulatif, total kasus sampai saat ini 1.097 orang di 25 provinsi dan 10 kematian, kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Ditambahkan, “data kasus influenza A H1N1 di negara tetangga kita menunjukkan Thailand memiliki 14.976 kasus dengan 119 kematian, Singapura 16 kematian, Malaysia 64 kematian dan Australia ada 35.095 kasus dengan 155 kematian", ujar Prof. Tjandra

Sumber: www.depkes.go.id

Flu H1N1 atau flu babi telah merenggut sedikitnya 2.837 jiwa namun tidak mengakibatkan penyakit yang lebih parah daripada sebelumnya dan virus itu tidak bermutasi. Demikian diumumkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), Jumat (4/9).

Sekitar seperempat juta orang dipastikan terserang penyakit itu melalui uji laboratorium di seluruh dunia. Tapi, angka ini jauh lebih rendah daripada jumlah yang sesungguhnya, kata badan PBB itu, yang telah berhenti meminta Negara-negara melaporkan kasus individu.
Flu H1N1 muncul pada April 2009 di AS dan Meksiko, dan telah menyebar secara luas ke penjuru-penjuru dunia. WHO mengumumkan influenza H1N1 sebagai pandemik pada 11 Juni silam. (YUS)

Sumber:Liputan6.com

Tanggal 1 September 2009, Badan Litbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 28 orang. Dengan tambahan ini jumlah kasus keseluruhan menjadi 1.083 kasus tersebar di 25 provinsi.

Tambahan 1 provinsi baru adalah provinsi Papua, kata Prof. Tjandra Yoga Aditama, Sp. P., MARS, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes.

Ditambahkan, data kasus influenza A H1N1 di negara tetangga kita yaitu Thailand memiliki 13.019 kasus dengan 114 kematian, Singapura 12 kematian, Malaysia 68 kematian dan Australia ada 33.511 kasus dengan 132 kematian.

Sumber: www.depkes.go.id

JAKARTA, KOMPAS.com - Peternak sapi dalam negeri mulai resah dengan dikeluarkannya aturan impor sapi dari Brazil yang sudah mendapatkan izin dari Departemen Pertanian (Deptan).
Sebab, negara sumber impor daging itu belum terindikasi bebas dari penyakit penyakit mulut dan kuku (PMK). "Ini akan membahayakan harga daging dari peternak," kata Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana saat dihubungi KONTAN (1/9).

Teguh khawatir, masuknya daging impor itu akan menularkan virus penyakit ke ternaknya. "Kondisi saat ini maupun konidisi peternak belum siap menghadapi virus tersebut," keluh Teguh.
Sayang, keluhan Teguh itu bak angin lalu di telinga pemerintah. Pasalnya, Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3.026 Tahun 2009 untuk membuka keran impor daging dari Brazil itu tetap keluar.
Padahal, kata Teguh, kebijakan itu justru akan menggagalkan rencana pemerintah sendiri yang menginginkan terwujudnya swasembada sapi nasional pada tahun 2014.

Rencananya, impor daging sapi dari Brasil itu berupa daging tanpa tulang yang sudah pemisahan material spesifik. Daging tersebut hanya diizinkan di impor dari pelabuhan Tanjung Priok. (Asnil Bambani Amri/Kontan)

Sumber: Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com — Departemen Pertanian menyetujui impor daging sapi tanpa tulang dari Brasil. Kebijakan tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3.026 Tahun 2009 yang ditandatangani Direktur Jenderal Peternakan Tjeppy D Soedjana.
Pendelegasian wewenang menandatangani Keputusan Menteri Pertanian No 3026/2009 dari Menteri Pertanian kepada dirinya, menurut Tjeppy, dimungkinkan karena bersifat teknis operasional.

Anggota Tim Analisis Risiko Independen (TARI) Denny W Lukman menegaskan, keputusan mengizinkan impor daging dari Brasil adalah tanggung jawab pemerintah. Tim hanya memberikan dasar-dasar rekomendasi terkait rencana impor daging sapi dari Brasil.
”Soal keputusan tidak ikut-ikutan. Keputusan ada di tangan pemerintah,” kata Denny, yang juga dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner Institut Pertanian Bogor, Senin (31/8) di Bogor, Jawa Barat.
Denny menegaskan, TARI hanya memberi masukan berdasarkan pertimbangan ilmiah. Apakah pertimbangan itu dipakai atau tidak, sepenuhnya wewenang pemerintah.
Rencana impor daging sapi dari Brasil dinyatakan oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono seusai berkunjung ke Brasil tahun 2008. Namun, rencana itu ditentang oleh sejumlah kalangan, terutama pemangku kepentingan ternak sapi.
Alasan penolakan adalah di Brasil hanya ada satu negara bagian yang bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak ruminansia tanpa vaksinasi. Adapun 16 negara bagian lainnya, bebas PMK karena vaksinasi, dan 9 negara bagian masih terjangkit virus PMK. Penyebaran virus PMK sangat berbahaya bagi kelangsungan usaha ternak sapi rakyat di Indonesia.
Oleh karena itu, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana meminta pemerintah memenuhi semua rekomendasi TARI sebelum menyetujui impor daging sapi dari Brasil. ”Kami menyiapkan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Kebijakan impor daging sapi ada dalam UU Peternakan dan Kesehatan Hewan,” katanya.
Menurut Tjeppy, persetujuan impor daging sapi dari Brasil hanya untuk daging tanpa tulang. Itu pun daging yang sudah mengalami pemisahan material spesifik, yang berisiko menjadi media pembawa virus PMK.
Selain itu, daging tanpa tulang itu sudah mengalami pelayuan 24 jam dengan tingkat keasaman sangat rendah. ”Sehingga dipastikan aman,” ujarnya.
Daging sapi impor dari Brasil, kata Tjeppy, hanya masuk dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Selama ini Indonesia mengimpor daging sapi per tahun setara 450.000-500.000 ekor sapi bakalan.

Sumber: Kompas.com

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.