Oktober 2009

Pemberian vaksinasi influenza, termasuk influenza A-H1N1, bagi wanita yang tengah hamil ternyata tidak hanya melindungi si ibu, tetapi juga bisa membuat janinnya tumbuh lebih besar, sehat, dan kecil kemungkinan lahir prematur.

Hasil penelitian Masyarakat Penyakit Menular AS di Philadelphia, yang dipaparkan Kamis (29/10), menunjukkan bahwa bayi sebelum dan setelah kelahiran akan terlindungi dari ancaman virus influenza.

”Dengan satu suntikan, dua individu terlindungi. Barangkali kalau si ibu tidak mau melakukannya untuk dirinya sendiri, mereka bisa melakukannya untuk bayi mereka,” kata Dr Marietta Vazquez dari Yale University.

Khusus untuk mengantisipasi pandemi influenza A-H1N1, ibu hamil menjadi prioritas utama pemberian vaksinasi. Dari 1.000 warga AS yang meninggal karena influenza A-H1NI, sebanyak 6 persen di antaranya adalah ibu hamil.

Temuan tim peneliti itu disimpulkan setelah mempelajari 350 ibu hamil (157 orang menderita influenza dan 195 tidak) sejak tahun 2000. Dr Saad Omer dari Emory University, AS, meneliti 6.410 bayi yang lahir prematur selama kurun waktu Juni 2004 hingga September 2006.

Ketika influenza menyebar, risiko ibu hamil yang mendapat vaksinasi terkena influenza sangat rendah atau 80 persen lebih rendah daripada ibu hamil yang tidak divaksinasi dan melahirkan bayi prematur. ”Infeksi flu barangkali mengurangi jumlah nutrisi yang diperoleh janin melalui plasenta,” ujar tim peneliti. (REUTERS/LUK)

sumber: Kompas.com


WASHINGTON, KOMPAS.com - Astronom-astronom Eropa mengumumkan telah menemukan 32 planet baru yang mengorbit sejumlah bintang di luar sistem tata surya kita dan menyatakan, Senin (19/10), hasil temuan itu menunjukkan bahwa 40 persen atau lebih dari bintang seperti Matahari memiliki planet-planet semacam itu.

Planet-planet itu memiliki ukuran mulai dari sekitar lima kali Bumi hingga lima kali Yupiter, kata mereka. Sejumlah planet lain juga telah ditemukan dan para astronom itu berjanji akan mengumumkan hal itu akhir tahun ini.

"Penemuan terakhir itu membuat jumlah planet yang ditemukan di luar sistem tata surya kita menjadi sekitar 400," kata Stephane Udry, dari Observatorium Jenewa di Swiss.

"Alam sepertinya tidak kosong. Jika ada ruang untuk planet, maka akan ada planet di sana," kata Udry kepada wartawan dalam penjelasan Internet dari pertemuan astronom di Porto, Portugal.

"Lebih dari 40 persen bintang seperti Matahari memiliki planet-planet dengan massa rendah," tambahnya.

Tim astronom itu menggunakan spektrograf HARPS (Pencari Planet Kecepatan Cahaya Akurasi Tinggi) yang dipasang pada teleskop 3,6 meter Observatorium Selatan Eropa (ESO) di La Silla, Chile.

Spektrograf itu tidak menggambarkan planet-planet tersebut secara langsung, namun ilmuwan bisa menghitung ukuran dan massanya dengan mendeteksi perubahan kecil pada getaran bintang yang ditimbulkan oleh tarikan gravitasi kecil planet.

Para astronom ingin menemukan planet-planet seperti Bumi karena ini merupakan tempat yang paling memungkinkan untuk menopang kehidupan.

HARPS telah menemukan 75 planet yang mengitari 30 bintang yang berbeda. Tim ESO tidak memberikan penjelasan terinci mengenai bintang-bintang apa yang diorbit oleh ke-32 planet baru itu.

SOE
Editor: hertanto
Sumber : Ant, Reuters

Animal Clinic Jakarta is a fairly new animal clinic, striving to provide the best medical service possible and animal welfare is on our agenda. We are currently looking fir a young, motivated and enthusiastic veterinarian who can join our existing team. A minimum of two years practical experience is required. Please send you CV and motivation letter to our Email: information@animalclinicjakarta.comOr by mail: Animal Clinic Jakarta, Jalan Kemang Timur 17b, 12510, Kemang, Jakarta Selatan Fax: 021-7199917

M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana dari Bagian Bedah dan Radiologi, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor menyatakan bahwa Radiografi merupakan sarana penunjang diagnostik yang sudah berkembang pesat baik didunia kedokteran manusia maupun dalam dunia kedokteran hewan yang bertujuan untuk kesejahteraan.

Menurut ilmuwan tersebut, pemanfaatan sinar-x dalam radiodiagnostik dunia kedokteran hewan sangat menunjang dalam penegakkan diagnosa. Secara tidak langsung hal ini akan memberikan kontribusi radiasi yang berasal dari sumber radiasi buatan terhadap pasien.
Kontribusi radiasi buatan akan menimbulkan efek biologis yang secara langsung atau tidak langsung akan diderita oleh penerima radiasi. Pemanfaatan radiasi yang semena-mena tanpa memperhatikan bahayanya sangat merugikan pada banyak pihak yang ikut andil andil dalam radiografi.

Selanjutnya, kata M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana, pemanfaatan radiasi di Indonesia diawasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Oleh karena itu, maka pemanfaatan sinar-x sebagai radiodiagnostik bidang kesehatan telah diatur oleh pemerintah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif serta Surat Keputusan Kepala BAPETEN Nomor 01/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan Keselamatan Kerja dengan radiasi.

“Dengan demikian segala sesuatu berkaitan pemanfaatan radiasi untuk radiodiagnostik harus dilakukan dengan arif dan bijaksana yang aman baik bagi hewan, manusia dan lingkungan,” kata dua ilmuwan itu.
M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana bermaksud sosialisasi pemanfaatan sinar-x sebagai sarana diagnosa penunjang (radiodiagnostik) dalam dunia kedokteran hewan yang aman baik bagi hewan, manusia dan lingkungan.

Sejarah Sinar X
Sinar-x ditemukan oleh ahli fisika Jerman yang bernama Wilhelm Conrad Roentgen pada 8 November 1895, sehingga sinar-x ini juga disebut Sinar Roentgen.
Perkembangan Roentgen di Indonesia dimulai oleh Dr. Max Herman Knoch seorang ahli radiologi berkebangsaan Belanda yang bekerja sebagai dokter tentara di Jakarta. Pemanfaatan sinar-x ini terus berkembang dari tahun ke tahun dan sudah banyak dimanfaatkan dalam dunia kedokteran hewan sebagai sarana penunjang diagnosa.

Radiasi Ionisasi
Sinar-x merupakan gelombang elektromagnetik atau disebut juga dengan foton sebagai gelombang listrik sekaligus gelombang magnit. Energi sinar-x relative besar sehingga memiliki daya tembus yang tinggi. Sinar-x tebagi atas 2 (dua) bentuk yaitu sinar-x karakteristik dan sinar-x brehmsstrrahlung.

Proses terbentuknya sinar-x diawali dengan adanya pemberian arus pada kumparan filament pada tabung sinar-x sehingga akan terbentuk awan elektron. Pemberian beda tegangan selanjutnya akan menggerakkan awan elektron dari katoda menumbuk target di anoda sehingga terbentuklah sinar-x karakteristik dan sinar-x brehmsstrahlung.
Sinar-x yang dihasilkan keluar dan jika beinteraksi dengan materi dapat menyebabkan beberapa hal diantaranya adalah efek foto listrik, efek hamburan Compton dan efek terbentuknya elektron berpasangan. Ketiga efek ini didasarkan pada tingkat radiasi yang berinteraksi dengan materi secara berurutan dari paling rendah hingga paling tinggi. Radiasi ionisasi akan mengakibatkan efek biologi radiasi yang dapat terjadi secara langsung ataupun secara tidak langsung.

Bahaya Efek Biologis Radiasi
Disamping sinar-x memiliki nilai positif juga memiliki nilai negatif secara biologis. Efek biologis berdasarkan jenis sel yaitu efek genetik dan efek somatik. Efek genetik terjadi pada sel genetik yang akan diturunkan pada keturunan individu yang terpapar. Sedangkan efek somatik akan diderita oleh individu yang terpapar radiasi.
Apabila ditinjau dari segi dosis radiasi, efek radiasi dapat dibedakan berupa efek stokastik dan deterministik (non stokastik). Efek stokastik adalah peluang efek akibat paparan sinar-x yang timbul setelah rentang waktu tertentu tanpa adanya batas ambang dosis.

Sedangkan efek deterministik (non stokastik) merupakan efek yang langsung terjadi apabila paparan sinar-x melebihi ambang batas dosis dimana tingkat keparahan bergantung pada dosis radiasi yang diterima. Dosis radiasi bersifat akumulatif sehingga dosis paparan yang diterima akan bertambah seiring dengan frekuensi radiasi yang mengenahinya.

Radiasi dalam Radiodiagnostik
Keselamatan radiasi adalah tindakan yang dilakukan untuk melindungi pasien (hewan), pekerja (operator, dokter hewan, paramedis), anggota masyarakat dan lingkungan hidup dari bahaya radiasi. Radiodiagnostik merupakan kegiatan yang memanfaatkan energi (sinar-x/foton) untuk tujuan diagnosis berdasarkan panduan Radiologi.
Syarat proteksi radiasi dalam pemanfaatan sinar-x sebagai sarana penunjang diagnosa radiodiagnostik harus memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah (1) justifikasi pemanfaatan tenaga nuklir, (2) limitasi dosis dan (3) optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi.

Justifikasi didasarkan pada manfaat yang diperoleh lebih besar dari resiko yang timbul. Limitasi dosis ditentukan oleh BAPETEN dan tidak boleh dilampaui atau disebut dengan Nilai Batas Dosis (NBD). NBD adalah dosis terbesar yang dapat diterima dalam jangka waktu tertentu tanpa menimbulkan efek genetik dan somatik akibat pemanfaatan tenaga nuklir.

“Optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi harus diupayakan agar dosis yang diterima serendah mungkin dengan mempertimbangkan faktor sosial dan ekonomi,” kata dua ilmuwan itu.

Tindakan Keselamatan Radiasi Radiodiagnostik
Keselamatan pasien dilakukan dengan meminimalisasi dosis paparan. Tindakan dilakukan dengan cara memperkecil luas permukaan paparan, mempersingkat waktu paparan, menggunakan filter dan menggunakan tehnik radiografi dengan memanfaatkan kV tinggi.
Keselamatan operator (dokter hewan) terhadap paparan radiasi dilakukan dengan melakukan radiografi dalam jarak sejauh mungkin dari sumber sinar-x, menggunakan sarana proteksi radiasi (apron Pb, sarung tangan Pb, kaca mata Pb, pelindung tiroid Pb dan alat ukur radiasi) serta mempersingkat waktu radiasi.
Keselamatan lingkungan terhadap bahaya radiasi dilakukan dengan merencanakan desain ruang radiografi yang aman baik bagi pasien, operator dan lingkungan. Melapisi ruangan dengan Pb dan memperhitungkan beban kerja ruangan terhadap sinar-x yang sesuai dengan dengan perundang-undangan yang berlaku.

Yang harus Diperhatikan
Pemanfaatan sinar-x sebagai sarana diagnostik penunjang penegakkan diagnosa. “Harus memperhatikan efek biologis negatif dalam radiografi sehingga pemanfaatan sinar-x menjadi aman baik bagi hewan manusia dan lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana mengakhiri bahasannya.

Sumber: infovet.co.cc

Pembangunan sub-sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian yang bertujuan untuk mencapai suatu kondisi peternakan yang tangguh, yang dicirikan dengan kemampuan mensejahterakan para petani peternak dan kemampuannya dalam mendorong pertumbuhan sektor terkait secara keseluruhan. Pembangunan peternakan diarahkan untuk meningkatkan mutu hasil produksi, meningkatkan pendapatan, memperluas lapangan kerja serta memberikan kesempatan berusaha bagi masyarakat di pedesaan. Peternakan yang tangguh memerlukan kerja keras, keuletan dan kemauan yang kuat dari peternak itu sendiri agar mencapai tujuan yang diinginkan. Keberhasilan yang ingin dicapai akan memacu motivasi peternak untuk terus berusaha memelihara ternak sapi secara terus menerus dan bahkan bisa menjadi mata pencaharian utama.

Lombok Timur sebagai kabupaten yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari sektor pertanian termasuk peternakan, menyadari potensi sumber daya peternakan yang besar. Kegiatan pembangunan di sektor ini memegang peranan sangat penting dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat masyarakat melalui peningkatan pendapatan dan taraf hidup. Pembangunan peternakan memiliki peran penting dan strategis karena kegiatan beternak bagi masyarakat khususnya di pedesaan sudah berlangsung sejak dulu sebagai warisan nenek moyang. Beternak tak terlepas dari kegiatan sehari-hari dari bertani sebagai sumber mata pencaharian, dan hubungan bertani dan beternak tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hubungan mutualisme bertani- beternak tidak terlepas dari fungsi ternak dalam membantu petani dalam pengolahan sawah (membajak sawah).

Peran penting dan strategis pembangunan peternakan terutama dalam upaya penyediaan bahan pangan asal hewan berikut hasil olahannya, sebagai komoditas perdagangan antar daerah, sebagai usaha masyarakat dan membuka lapangan kerja, sebagai tabungan masyarakat dan yang tak kalah pentingnya sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD). Secara umum pembangunan peternak bertujuan meningkatan produktifitas ternak dalam kegiatan pemenuhan gizi dan arti ekonomi secara umum dalam usaha peningkatan kesejahteraan manusia.

Akan tetapi kegiatan beternak yang dilakukan masih banyak bersifat tradisional tanpa mengenal teknis dan manajemen beternak yang cukup. Beternak belum sepenuhnya disadari sebagai sumber pendapatan yang dapat mencukupi kebutuhan dan kemudahan-kemudahan dari beternak. Beternak oleh sebagian masyarakat masih dianggap sebagai pekerjaan sampingan selain bertani sebagai pokok pekerjaan.

Menyadari kenyataan demikian, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur sebagai salah satu dinas teknis yang melakukan pembinaan dan leading sector berbasis pertanian dan peternakan harus mampu memberikan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan kepada masyarakat. Dimana pengetahuan tentang tata cara beternak (manajemen peternakan) dapat diadopsi oleh petani-peternak dan masyarakat luas guna menggugah minat untuk beternak.
Untuk itu keberadaan suatu unit atau sentra kegiatan peternakan terpadu sangat diperlukan dan sebagai media atau tempat belajar dan magang bagi petani-peternak dan masyarakat umum yang menaruh minat terhadap bidang peternakan.

Taman Ternak Rakam ketika zaman Orde Baru dikenal masyarakat sebagai tempat percontohan bagi pemeliharaan berbagai jenis ternak yang waktu itu baru dikenal masyarakat. Misalnya seperti pemeliharaan ayam petelur, kambing PE dan sebagai sentra pembibitan ayam ras, dan juga sebagai tempat pengenalan dan pembibitan berbagai jenis rumput untuk pakan ternak. Seiring dengan perubahan zaman dan kurangnya perhatian pemerintah daerah terutama dana pemeliharaan menyebabkan keberadaan Taman Ternak Rakam lambat laun meredup dan terkesan terbengkalai.

Atas dasar inilah maka usaha menghidupkan kembali kegiatan Taman Ternak sebagai satu wahana yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat memperkaya pengetahuan dan teknologi peternakan serta informasi-informasi peternakan lainnya harus diusahakan dengan sungguh-sungguh. Taman ternak diharapkan berfungsi sebagai 1). tempat belajar dan alih informasi pengetahuan peternakan, baik manajemen maupun teknologi sederhana yang dapat diterapkan dengan mudah oleh petani-peternak. 2). tempat praktek atau magang, serta tempat pengembangan inovasi peternakan terapan maupun penemuan teknologi peternakan baru.
3). selain sebagai sarana pembelajaran diharapkan unit atau sentra ini dapat memberikan kontribusi terhadap daerah berupa pendapatan asli daerah (PAD).
Untuk menghidupkan kembali Taman Ternak Rakam sebagai sentra peternakan terpadu yang dilaksanakan secara profesional, maka beberapa kegiatan awal yang dapat dilaksanakan adalah:
1. Penggemukan Sapi Bali
Kegiatan ini dilaksanakan mengingat potensi yang ada di Taman Ternak Rakam yaitu pemanfaatan lahan yang tersedia untuk rehabilitasi/pembuatan kandang dan lahan untuk pakan. Ketersediaan lahan rumput atau hijauan makanan ternak (HMT) seluas kurang lebih 40 are.
Sistem penggemukan sapi Bali yang akan dilakukan adalah sistem kereman yaitu sapi dikandangkan terus menerus selama masa waktu penggemukan dan sapi-sapi tersebut akan mendapatkan pelayanan kesehatan hewan secara intensif. Sebagai kegiatan awal dipilih Sapi Bali sebagai model penggemukan. Jumlah ternak sapi Bali yang akan dipelihara 20 ekor dengan masa pemeliharaan 6 bulan. Sapi Bali yang akan digemukkan adalah sapi yang berumur 1,5 – 2 tahun dengan perkiraan berat badan 250-300 kg. Sedangkan untuk target pertumbuhan berat badan harian mencapai 0,6 kg/ekor/hari, dengan demikian perkiraan berat badan selama 180 hari meningkat 108 kg per ekor.

Sapi Bali merupakan bangsa sapi asli Indonesia dikembangkan dari banteng liar yang mengalami proses domestikasi terus menerus. Sapi Bali sudah lama diternakkan oleh masyarakat di Indonesia dan tersebar luas di NTT, NTB, Maluku, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan beberapa daerah lainnya. Sapi ini juga telah di ekspor ke berbagai negara seperti Malaysia, Filipina, Australia dan Timor Leste.
Sapi Bali memiliki keunggulan sehingga masyarakat senang memeliharanya, diantaranya kemampuan beradaptasi yang cepat dengan kondisi lingkungan yang baru dan bereaksi positif terhadap perlakuan pemberian pakan. Pertumbuhan berat badan termasuk sedang, pemeliharaan sederhana hanya dengan pemberian rumput atau secara tradisonal. Pertambahan bobot badan sapi Bali rata-rata 280-820 gram/ekor/hari, tergantung cara pemeliharaan dan pemberian pakan.

Menurut penelitian, pemeliharaan sapi dengan hanya memberikan rumput lapangan tanpa memberikan makanan tambahan laju pertambahan berat badannya adalah 280 gram/ekor/hari. Penelitian yang dilakukan IPB dengan pemberian rumput ditambah pemberian konsentrat selama 154 hari didapatkan pertambahan berat badan harian 0,66 kg/ekor/hari. Sedangkan beberapa penelitian menyebutkan laju pertambahan berat badan harian dapat mencapai 820 gram/ekor/hari dengan pemberian rumput ditambah pucuk tebu dan konsentrat 1 %.

2. Pengolahan Limbah Menjadi Pupuk Organik Padat
Model penggemukan sapi yang direncanakan bersifat terpadu dengan pemanfaatan limbah peternakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik baik menggunakan metode sederhana maupun pemanfaatan Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO). Untuk dapat memproduksi pupuk sarana dan prasarana yang dibutuhkan adalah pengadaan mesin atau alat pengolah pupuk padat organik (APPO) minimal kapasitas 600 kg/jam atau lebih besar, gudang pengolahan dan kebutuhan lainnya.
Potensi pembuatan pupuk organik ini dimungkinkan dengan kecukupan bahan berupa feses sapi penggemukan sebanyak 20 ekor tersebut. Asumsi awal, jika 20 ekor sapi rata-rata setiap harinya menghasilkan feses 5 kg maka jumlah yang tersedia per hari berjumlah 100 kg.

3. Pembuatan Biogas
Sisa limbah peternakan berupa feses dan air kencing (urine) sapi dapat diolah menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber penerangan kandang dan untuk memasak (pengganti minyak tanah).
Akhirnya untuk menghidupkan kembali Taman Ternak Rakam diperlukan keinginan dan dukungan dana yang kuat. Pada kegiatan awal dibutuhkan dana investasi yang cukup besar akan tetapi mengingat fungsi dan manfaatnya ke depan dana yang besar sebanding dengan outputnya selain sebagai sumber PAD, juga bermanfaat dalam pemberdayaan masyarakat khususnya petani-peternak, terutama dalam peningkatan kemampuan beternak untuk mencapai kesejahteraan hidup.

Kehidupan berpindah-pindah masyarakat badawi Arab memang sudah mulai ditinggalkan. Namun, jejak keakraban mereka dengan burung elang masih terlihat antara lain di Rumah Sakit Burung Elang Abu Dhabi (Abu Dhabi Falcon Hospital). Rumah sakit yang khusus menerima pasien-pasien bersayap.

Pada suatu siang belasan burung elang dengan penutup mata berbaris rapi. Mata mereka sengaja ditutup agar tidak saling menyerang. Pasien-pasien berbulu itu datang dengan berbagai keluhan, mulai dari helai bulu yang hilang sampai dengan serangan penyakit unggas.

Di ruangan yang sama, di atas meja berlampu sorot Amer, salah seorang staf rumah sakit, tengah membius seekor burung elang hingga pingsan. Dia kemudian mencari helai bulu berukuran serupa dari laci koleksi, meraut sebilah bambu kecil, mengoleskan lem khusus, dan memasang bulu baru ke lubang sisa patahan sayap. ”Helai yang hilang mengganggu keseimbangan terbang,” ujar Margit Gabriele Muller, Direktur Abu Dhabi Falcon Hospital, sekitar sebulan lalu.

Ada sekitar 4.000 pasien bersayap yang dibawa ke rumah sakit tersebut setiap tahunnya. Di rumah sakit itu disediakan fasilitas pemeriksaan medis rutin, vaksinasi, endoskopi, bedah, dan unit gawat darurat 24 jam. Fasilitas itu juga dilengkapi dengan alat-alat kesehatan berteknologi canggih. Para tenaga kesehatan satwa di sana mempunyai pengalaman mengatasi berbagai kasus yang menimpa spesies burung.
Rumah Sakit Burung Elang Abu Dhabi merupakan rumah sakit publik pertama di Arab bagi burung-burung elang. Pertama dibuka tahun 1999 dan berafiliasi dengan Environment Agency Abu Dhabi. Sejak tahun 2007, rumah sakit tersebut dibuka bagi pengunjung umum yang tertarik melihat aktivitas di sana.

Selain menangani pasien, terdapat pula riset-riset mengenai burung elang yang kemudian dipublikasikan secara internasional. ”Belakangan kami aktif meneliti parameter darah dan bakteri-bakteri yang menyerang elang. Kami merasa berkewajiban memberikan ilmu bagi perkembangan konservasi burung ini,” ujar Margit.

Persoalan konservasi memang menjadi salah satu perhatian. Terlebih lagi untuk peregrine falcon yang masuk dalam daftar satwa terancam punah. Saat ini populasi burung elang terbesar di Uni Emirat Arab berada di Abu Dhabi, walaupun Margit tidak dapat menyebutkan jumlah tepatnya.
Falcon convention pada tahun 2002 juga mempertegas perlindungan terhadap satwa tersebut. Sebagai bentuk perlindungan, burung-burung elang yang ada di tangan masyarakat didata dan dibuatkan dokumennya. Burung-burung itu juga memiliki paspor khusus sebagai identitas.
”Burung elang peliharaan yang akan dibawa melintasi batas negara harus dilengkapi dengan paspor tersebut. Burung-burung elang liar sebagian dipasangkan semacam chip untuk memantau pergerakannya,” ujarnya.

Menjadi simbol
Burung elang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Arab. Penyair Arab kerap membuat puisi yang mengidentikkan burung elang dan kelas masyarakat di sana. Elang menjadi simbol jazirah Arab lebih dari kawasan mana pun. Di berbagai tempat umum di Abu Dhabi, misalnya, kerap dijumpai gambar diri sheikh dengan burung elang perkasa bertengger di lengan.

Sejarah kedekatan masyarakat Arab dengan burung elang berbeda dengan hubungan antara satwa tersebut dan masyarakat lain, seperti Eropa. ”Di Eropa burung elang identik dengan hiburan dan olahraga,” ujar Margit.

Bagi masyarakat badawi Arab, burung elang merupakan satwa yang membantu kelangsungan hidup mereka selama masa pengembaraan di gurun pasir pada masa lampau.

”Begitu musim gugur tiba burung-burung elang bermigrasi dari Eropa ke Afrika melintasi gurun. Saat itulah burung-burung ditangkap oleh para pengembara gurun. Burung-burung itu dijinakkan untuk membantu perburuan. Hidup di gurun yang ganas sangat sulit dan satwa itu membantu mereka bertahan hidup,” ujar Margit.

Burung-burung itu kemudian menjadi bagian dari kehidupan dan keluarga mereka, bahkan dianggap sebagai anak. Sekarang masyarakat badawi Arab yang sudah menetap memang tidak harus berburu kembali, tetapi tradisi dan kekerabatan antara dua makhluk yang berbeda itu terus berlangsung.

Keluarga-keluarga menurunkan tradisi memelihara burung elang ke generasi berikutnya. Sebagian burung elang di rumah sakit itu dibawa oleh anak-anak yang memperoleh burung tersebut dari orangtuanya. Rumah sakit burung elang pun tak pernah kehabisan pasien.

Editor: wsn
Sumber : Kompas Cetak

JAKARTA, KOMPAS.com - Asteroid terbesar di dalam Sistem Bimasakti sebenarnya adalah purwarupa planet, yaitu satu blok yang sedang berkembang menjadi planet sesungguhnya yang lebih besar, demikian hasil satu studi.

Beberapa peneliti di University of California, Los Angeles (UCLA), membuat kesimpulan tersebut setelah menggunakan teleskop Antariksa Hubble untuk mempelajari Pallas, asteroid terbesar kedua di dalam Sistem Bimasakti, kata studi tersebut, yang disiarkan di dalam jurnal Science, terbitan Oktober.

Pallas, yang namanya diambil dari nama Dewi Yunani, Pallas Athena, berada di sabuk utama asteroid antara orbit Jupiter dan Mars.

Menurut teori pembentukan planet, purwarupa planet adalah awan partikel gas, batu, dan debu yang berada dalam proses pembentukan satu planet. Purwarupa planet agak berada di jalur masing-masing orbit lain, sehingga terjadi benturan dan secara berangsur membentuk planet yang sesungguhnya.

"Sangat menggairahkan untuk menyaksikan satu obyek perspektif baru ini yang sangat menarik dan belum diamati oleh Hubble dengan resolusi tinggi," kata mahasiswi tingkat doktor UCLA, Britney E Schmidt, penulis utama studi itu.

"Kami memperkirakan, asteroid yang sangat besar ini bukan hanya sebagai blok planet yang sedang terbentuk, tapi sebagai peluang untuk meneliti pembentukan planet beku pada waktunya," kata Schmidt.

"Memiliki kesempatan menggunakan Hubble, dan melihat citra itu kembali dan memahami secara otomatis ini dapat mengubah apa yang kami pikirkan mengenai obyek ini," kata Schmidt sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi China, Xinhua.

Dengan gambar Hubble, Schmidt mengatakan dia dan rekannya dapat membuat pengukuran baru mengenai bentuk dan ukuran Pallas. Mereka dapat melihat permukaannya memiliki daerah gelap dan cerah, yang menunjukkan benda yang kaya akan air tersebut mungkin telah mengalami perubahan internal dengan cara yang sama yang dilalui planet.

"Itulah yang membuatnya lebih mirip planet --variasi warna dan bentuk bulat sangat penting sepanjang yang kami pahami, adalah obyek dinamis atau benda itu telah memiliki ukuran yang persis sama sejak terbentuk," kata Schmidt. "Kami kira barangkali itu adalah obyek yang dinamis."

Untuk pertama kali, Schmidt mengatakan, dia dan rekannya juga melihat tempat tabrakan besar di Pallas. Mereka tak dapat memastikan apakah itu adalah kawah, tapi depresinya memang menunjukkan sesuatu yang penting lain: bahwa itu dapat membawa kepada keluarga kecil asteroid Pallas yang mengorbit di antariksa.

SOE
Editor: hertanto
Sumber : ANT

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (6/10), mengulang pernyataannya bahwa vaksin influenza A-H1N1 merupakan alat yang terbaik untuk menghadapi pandemi. Efek samping, seperti otot yang kram atau sakit kepala, memang terjadi pada beberapa kasus, tetapi sebaiknya setiap orang memiliki akses pada vaksin tersebut.

Kampanye massal vaksinasi mencegah influenza A-H1N1 saat ini berlangsung di China dan Australia, dan akan segera dimulai di AS dan sebagian negara di Eropa. Hal ini diungkapkan juru bicara WHO, Gregory Hartl. Tentang keengganan sejumlah orang untuk divaksinasi, Hartl hanya menegaskan, ”Saya berharap setiap orang yang berkesempatan mendapatkan vaksin tersebut benar-benar bisa mendapatkannya.”

Pihak PBB menyatakan bulan Juni lalu bahwa virus A-H1N1 menyebabkan pandemi influenza dan sejumlah perusahaan telah berkolaborasi membuat vaksin. GlaxoSmithKline mendapat pesanan vaksin dari 22 negara lagi pada dua bulan terakhir sehingga total dosis yang dipesan telah mencapai 440 juta dan nilainya sekitar 3,5 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 35 triliun. Perusahaan lain adalah Sanofi-Aventis, Novartis, Baxter, AstraZeneca, dan CSL. (REUTERS/ISW)

Sumber: Kompas.com

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan impor daging sapi dapat dijadikan sebagai indikasi bahwa Pemerintah memandang nutrisi hewani sebagai "harga mati". Dampak bahaya daging tak pernah dipaparkan Pemerintah. Parahnya lagi, pemerintah juga tak menggenjot sumberdaya pertanian.
"Daging hanya akan membuat masyarakat tambah turun derajat kesehatannya. Bahaya daging sudah banyak dipaparkan termasuk oleh PBB. Negara lain sudah berlari menyuarakan vegetarian, tapi Indonesia belum. Presiden SBY dan menteri menteri mestinya menyadari itu, bahwa konsumsi daging termasuk ikan oleh masyarakat, harus jauh dikurangi," ujar Prasasto Satwiko, Koordinator Pusat studi energi universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).

Prasasto yang juga guru besar Fakultas Teknik UAJY ini menuturkan, banyak kota kota besar dunia mulai mengimbau warganya mengurangi daging. Misalnya Cincinnati (AS), dan Ghent (Belgia). Bahkan Uni Eropa sudah menyerukan. Pemerintah Belanda menganggarkan 6 juta euro untuk program penyadaran masyarakat akan dampak akibat menyantap daging.
Bulan September kemarin, World Wildlife Fund (WWF)-lembaga internasional yang memfokuskan pada pelestarian lingkungan dan satwa liar-juga menyerukan pengurangan daging dan susu.
Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM), institusi internasional yang peduli pada lingkungan dan kesehatan, pun telah mengenalkan empat kelompok makanan baru yang terdiri atas padipadian, sayuran, buah, dan kacangkacangan. Serta bagaimana mengatasi hal-hal yang sering ditakutkan ahli gizi, misalnya tubuh yang kekurangan nutrisi dan vitamin jika bervegetarian. Ketakutan itu tak berdasar, dan "meremehkan" khasiat sayur dan buah.
Laporan PBB yang tertuang di buku Livestock's Long Shadow dan Kick The Habit (tahun 2009) menyebutkan betapa industri peternakan telah andil dalam merusak bumi dan mendorong parahnya pemanasan global. PBB tentu tidak asal mengeluarkan laporan.
"Negara lain mengurangi daging,Sementara Indonesia malah akan membesarkan industri peternakan. Seharusnya pakar nutrisi melakukan inovasi kreatif untuk menemukan pengganti nutrisi yang terkandung dalam daging, seandainya nutrisi tersebut diperlukan. Ahli gizi juga mesti angkat suara untuk menyuarakan bahaya daging," kata Prasasto.

Sumber: Kompas.com

CASSELTON, KOMPAS.com — Boomer mungkin anjing terbesar di dunia saat ini. Dengan tinggi 91 cm dari ujung pundak hingga ujung kaki, dan panjang 210 cm dari hidung sampai ujung ekor, anjing ini mungkin menjadi anjing terpanjang di dunia yang pernah hidup.

Pemiliknya, Caryn Weber, dari North Dakota pun terheran-heran. Anjing jenis landseer newfoundland berumur 3 tahun itu bisa minum di wastafel dapur di rumah kediaman keluarganya tanpa harus mengangkat kaki depannya. Saat duduk di kursi depan mobil, mata Boomer setara dengan mata pengemudi.

Sebanyak 10 kg makanan anjing dapat dilahap anjing seberat 90 kg ini dalam beberapa minggu. Saking lebarnya, anjing yang berbulu hitam dan putih itu dapat menggoyangkan ekornya sangat keras ke benda-benda di sekelilingnya.

Weber berharap dapat memasukkan nama Boomer ke dalam Buku Rekor Dunia Guinness. Rekor tersebut saat ini ditempati oleh anjing jenis great dane dengan tinggi hampir 1,2 meter, tetapi sudah mati pada musim panas lalu.

M14-09
Editor: wah
Sumber: Kompas.com

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.