Desember 2009

Korea Selatan, Selasa (29/12) melaporkan meningkatnya kasus infeksi virus influensa A(H1N1), atau yang dikenal sebagai flu babi, pada peternakan babi lokal.

"Jumlah babi yang terinfeksi flu ini semakin banyak," menurut laporan media lokal.

Merebaknya wabah itu paling akhir terjadi pada satu peternakan babi di Jeungup, provinsi Jeolla.

Ini adalah kasus ke-16 infeksi H1N1 yang dikonfirmasikan sejak pertengahan Desember, ketika lima peternakan hewan itu untuk pertama kalinya terinfeksi di negara terseut, demikian menurut media tersebut.

Pihak yang berwenang mencurigai babi dalam kasus terakhir mungkin menularkan virus melalui kontak manusia, dan menduga mereka akan diobati secara wajar, menurut laporan itu.

Kementerian peternakan Korea Selatan berencana akan melakukan tindakan karantina, dan memvaksinasi para pekerja industri dan kesehatan dalam rangka membendung tersebarnya penyakit tersebut, kata media tersebut. ant/xinhua-oana/itz

Sumber: Republika.co.id

Program energi terbarukan bagi masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai dikembangkan untuk mengurangi kapasitas energy listrik yang dibebankan pada PLN.

Guru besar Teknik Elektro, Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Prof. Ir. Mochamad Ashari, MEng, PhD, di Surabaya, Senin, mengatakan program energi terbarukan tersebut berupa pemanfaatan energi matahari dan angin yang diubah oleh semacam konverter menjadi energi listrik yang bisa dijual ke PLN setempat.

"Jadi nantinya masyarakat tidak akan mengeluarkan biaya untuk membeli listrik, namun justru mendapatkan tambahan pendapatan dengan menjual energi yang didapat disetiap rumahnya masing-masing," katanya.

Ia menambahkan, konverter tersebut dipasang di setiap rumah penduduk untuk menampung energi-energi yang didapat dari angin maupun matahari.
Tentunya, untuk lokasi pemasangan konverter terbaik ada di daerah pesisir karena intensitas angin tinggi dan perkotaan untuk mendapatkan sinar matahri yang sangat banyak.

Sementara itu, untuk proses realisasi yang pertama kali akan dilakukan dengan cara pembangunan prototipe dulu di laboratorium Teknik Elektro ITS.
"Kami masih coba dengan cara membangun prototype alat tersebut, namun dengan tegangan dibawah 1000 watt. Jika ini berhasil maka akan kami terapkan kepada masyarakat," katanya.

Ia juga menambahkan untuk saat ini proyek pembangunannya saat ini sudah ada persetujuaan dengan PLN terkait distribusi sehingga diharapkan masyarakat pun juga bisa menerapkannya.

Prof.Ir. Mochamad Ashari, MEng,PhD adalah salah satu guru besar ITS yang akan dikukuhkan pada tanggal 2 November nanti, dua guru besar lain yang juga akan dikukuhkan pada Rabu nanti adalah Prof. Bagus Jaya Santoso , Dr dari jurusan Fisika dan Prof. DR.Ir. Adi Soeprijanto,M.T. dari Teknik elektro Fakultas Teknik Industri ITS.

Sumber: Antara.co.id

Mesir pada Jumat (25/12) melaporkan, tiga lagi korban tewas akibat influenza A/H1N1, yang menjadikan jumlah seluruhnya mencapai 106 orang, menurut pernyataan kementerian kesehatan Mesir.

Seorang wanita 35 tahun, di Kairo dan wanita lainnya berumur 21 tahun di Alexandria, juga meninggal akibat H1N1 yang juga dikenal sebagai flu babi, kata pernyataan itu.

Pernyataan kementerian itu menambahkan, bahwa kedua korban menderita pneumonia dan dyspnea. Kasus ketiga adalah pria, 35 tahun, di Assuit, 330 kilometer di selatan Kairo.
Menurut pernyataan itu, pria tersebut menderita penyakit dyspnea.

Pada Jumat pagi, empat juta dosis vaksin flu A(H1N1) diterima di Bandara Internasional Kairo, menjelang kampanye vaksinasi bagi para pelajat sekolah mulai pekan depan, menurut kantor berita Mesir, MENA.

Sampai kini, Mesir melaporkan lebih dari 8.500 kasus flu tersebut, menurut kementerian kesehatan itu. Mesir membenarkan kasus kematian pertama akibat influenza A(H1N1) pada 19 Juli.

Seorang wanita Mesir, 28 tahun, yang baru kembali dari Arab Saudi setelah melaksanakan Umrah, meninggal karena virus flu babi itu. Negara Arab berpenduduk banyak itu melaporkan kasus infeksi flu H1N1 pertama pada 2 Juni.

Korban adalah seorang gadis 12 tahun Mesir keturunan Amerika, yang baru pulang dari Amerika Serikat melalui Negeri Belanda.

Sumber: Antara.co.id

Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang sudah membasmi sebanyak 750 anjing liar di kota itu, untuk menghindari penyebaran penyakit rabies. "Sebanyak 60 ekor diambil sebagai sampel untuk menguji DNA apakah pembawa penyakit rabies atau tidak," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pangkalpinang, Widyantono di Pangkalpinang, Kamis (24/12/2009).

Ratusan anjing liar itu dimusnahkan dalam program eliminasi anjing liar yang dilaksanakan sejak 14 hingga 17 Desember 2009. Pemusnahan anjing liar itu dilakukan pada malam hari dengan menggunakan racun khusus yang dicampur dalam makanan. "Bangkai ratusan anjing yang dimusnahkan itu kami kuburkan di tempat pembuangan akhir sampah di Parit Enam Kota Pangkalpinang," katanya.

Widyantono mengatakan, sampel DNA anjing itu akan dikirim ke Lampung untuk pengujian lebih lanjut apakah mengandung penyakit rabies atau tidak. "Sejauh ini kami belum bisa memastikan apakah anjing yang dimusnahkan itu membawa wabah penyakit rabies atau tidak, namun sejauh ini Pangkalpinang memang bebas dari rabies," ujarnya.

Pemusnahan anjing liar itu kata dia tidak hanya mewaspadai penyebaran penyakit rabies yang terdapat pada anjing liar tetapi juga untuk mengurangi populasi anjing liar yang selama ini meresahkan masyarakat. "Kami menurunkan beberapa tim dan beberapa unit kendaraan untuk menelusuri sejumlah titik-titik tertentu sebagai tempat berkeliarannya anjing liar itu," ujarnya.

Ia mengatakan, anjing liar itu diberi daging dan nasi yang dicampuri rancun jenis tertentu sehingga anjing bisa mati dalam waktu cepat jika memakan racun tersebut. "Kami mengharapkan eliminasi anjing liar ini dapat mengatasi penyakit rabies dan mengurangi populasi anjing liar yang sudah meresahkan masyarakat," katanya.

Sumber: kompas.com


Kegiatan penelitian pengembangan dan rekayasa (litbangyasa) BATAN untuk pemanfaatan pakan lokal sebagai pakan ternak ruminansia dilakukan dengan memanfaatkan teknik nuklir dan non nuklir untuk menguji pengaruh biologis dan kandungan nutrisi dari bahan-bahan pakan lokal yang tersedia di daerah.

Suplemen pakan ternak ruminansia yang telah dihasilkan adalah Urea Molasses Multinutrient Block (UMMB) dan Suplemen Pakan Multinutrient (SPM) yang secara efisien dapat mendukung pertumbuhan dan peningkatan bobot badan ternak serta produksi susu.

Pakan Tambahan Bergizi Tinggi
Salah satu masalah yang umum dihadapi oleh peterak tradisional adalah rendahnya mutu pakan dengan kandungan serat kasar yang tinggi, berupa jerami, rumput lapangan dan berbagai jenis hijauan lainnya. Jenis pakan ternak tersebut sulit dicerna dan tidak dapat memberikan zat-zat nutrisi yang berimbang untuk mendukung produktivitas optimal.

Untuk mengatasi hal tersebut BATAN telah melakukan penelitian dengan memanfaatkan teknik perunut radioisotop yang berkaitan dengan proses fermentasi yang terjadi di dalam perut ternak ruminansia (kambing, sapi, kerbau). Tujuan penelitian adalah meningkatkan hewan ternak dalam memanfaatkan pakan secara efisien, melalui pendekatan-pendekatan dengan memperhatikan prinsip dan konsep dasar tertentu.

Prinsip dan konsep yang mendasari penelitian ialah bahwa ada dua sistem yang harus diperhatikan dalam nutrisi ruminansia, yaitu:
1. Mikroba yang hidup dan berkembang di dalam lambung (rumen). Mikroba ini berperan dalam proses fermentasi dalam mencerna bahan-bahan makanan basal (pencernaan fermentatif).
2. Hewannya sendiri yang memanfaatkan produk pencernaan fermentatif dan zat-zat mekanan yang dapat langsung diserap tanpa melalui fermentasi.

Hal lain yang perlu diperhatikan ialah zat-zat makanan yang diperlukan oleh ternak untuk memelihara kondisi tubuh, pertumbuhan, untuk berproduksi dan reproduksi yang dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu:
1. Zat makanan yang berasal dari bahan sumber energi.
2. Zat makanan yang berasal dari bahan sumber protein.
Sumber energi dan sumber protein tersebut dapat diperoleh dari bahan-bahan limbah industri pertanian, misalnya: molase, dedak/bekatul, onggok, bungkil kedelai, biji kapuk, daun singkong dan sebagainya.

Strategi untuk meningkatkan konsumsi akan oleh ternak pada kondisi pemeliharaan tradisional ialah dengan memberikan suplemen yang tersusun dari kombinasi kombinasi bahan limbah sumber protein dengan tingkatan jumlah yang secara efisien dapat mendukung pertumbuhan, perkembangan dan kegiatan mikroba secara efisien di dalam rumen. Selanjutnya produktivitas hewan dapat ditingkatkan dengan memberikan sumber N protein dan/atau non protein serta mineral tertentu. Suplementasi secara keseluruhan diharapkan dapat memberikan pengaruh yang baik melalui peningkatan protein mikrobial, peningkatan daya cerna dan peningkatan konsumsi pakan sampai diperoleh keseimbangan yang lebih baik antara asam amino dan energi di dalam zat-zat makanan yang terserap.

Optimasi Komposisi Suplemen
Melalui pendekatan tersebut di atas, telah dilakukan percobaan-percobaan laboratorium untuk melaksanakan penilaian bilogis berbagai suplemen dengan komposisi bahan tertentu, baik secara in-vitro maupun in-vivo, ditinjau dari pengaruhnya terhadap fungsi rumen.

Dalam aspek inilah (dengan menggunakan P-32, S-35, C-14 sebagai perunut radioisotop) teknik nuklir memberikan kontribusi yang penting. Untuk ini sejumlah parameter harus diukur. P-32 dan S-35 dapat digunakan untuk mengukur sintesa protein mikrobial di dalam rumen, sedangkan C-14 untuk mengukur efisiensi pemanfaatan energi oleh mikroba rumen.

Dari hasil pengukuran parameter tersebut bauik secara konvensional maupun dengan teknik nuklir, dapat dirumuskan komposisi suplemen yang secara optimal dapat menjamin berlangsungnya fungsi rumen dengan baik. Selanjutnya hasil rumusan tersebut dilakukan uji lapangan dengan mempelajari pengaruh komposisi suplemen terhadap pertumbuhan dan produksi hewan.

Agar teknologi suplemen tersebut dapat diterapkan oleh peternakn dan mudah dalam penyimpanan serta transportasinya, maka suplemen tersebut dibuat dalam bentuk padat dari komposisi bahan tertentu, seperti urea, molase, onggok, dedak, tepung tulang, lakta mineral (kalsium, sulfur), garam dapur, tepung kedelai, dan kapur.

Pada awalnya uji lapangan terhadap pakan suplemen dilakukan diberbagai daerah secara terbatas, yaitu: Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Lampung. Uji coba tersebut dilaksanakan bersama dengan Direktorat Bina Produksi Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Dinas Peternakan Daerah tingkat Provinsi dan Kabupaten.

Dari pengembangan teknologi suplemen pakan ternak bergizi tinggi yang diberi nama Molase Block atau Urea Molasses Multinutrient Block (UMMB), sampai saat ini telah dihasilkan sebanyak 6 (enam) formula dengan komposisi berbeda yang bertujuan agar dapat diterapkan di daerah yang bahan bakunya dapat disesuaikan dengan formula yang ada.
Manfaat Suplemen Pakan
a. Mengurangi defisiensi unsur mikro baik mineral, vitamin, asam amino maupun protein by pass.
b. Meningkatkan efisiensi pencernaan pakan dalam lambung ternak ruminansia.
c. Meningkatkan produksi dan perbaikan kinerja reproduksi.
d. Memperbaiki nilai gizi pakan.

Cara Pembuatan UMMB
Dalam pembuatan UMMB bahan-bahan yang digunakan adalah: molase, onggok, dedak, tepung daun singkong kering, tepung tulang, kapur, urea, lakta mineral dan garam dapur (disesuaikan dengan formula yang diinginkan). Untuk pembuatan UMMB dapat dipilh salah satu formula tersebut di atas. Proses pembuatannya adalah seluruh bahan pada formula yang dibuat dicampur, kecuali molase.

Setelah bahan-bahan dicampur secara merata. Kemudian molase ditambahkan ke dalam campuran dan diaduk sampai tidak ada gumpalan, kemudian adonan dipanaskan/digoreng dengan api kecil selama kira-kira 3-4 menit. Selanjutnya adonan yang masih panas tersebut dipres dalam wadah atau cetakan. UMMB telah siap untuk diberikan kepada hewan atau disimpan di tempat yang tidak lembab.

Pengenalan dan Pemanfaatan UMMB
UMMB adalah hasil penelitian yang dapat memberikan peluang kepada peternak untuk meningkatkan pendapatan melalui usaha peternakan. Dari hasil penerapan UMMB kepada berbagai jenis ternak ruminansia di beberapa daerah, menunjukkan adanya peningkatan produktivitas ternak baik pada daging maupun susu. Bila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan dengan untuk pembuatan UMMB, maka peningkatan produktivitasnya masih lebih besar.

Penggunaan formula UMMB kepada masyarakat dimulai sejak akhir tahun 1987, tetapi masih terbatas pada daerah tententu, seperti Jawa Barat, Jateng, Nusa Tenggara Barat. Dari pengujian tersebut, hasil peningkatan rata-rata dapat mencapai 3% dibandingkan dengan ternak yang tidak diberi tambahan UMMB. Sampai saat ini penerapan UMMB yang dilakukan melalui program Iptekda (Iptek nuklir untuk daerah) sudah di 23 provinsi.

Tujuan program Iptekda adalah pemberdayaan dan peningkatan kemampuan ekonomi, serta kemandirian masyarakat di daerah dengan memanfaatkan tekologi. Hasil kajian dampak sosial ekonomi dari pengamatan lapangan terhadap penerapan hasil litbang Melalui Iptekda, menunjukkan:
a. Perbaikan pendapatan peternak.
b. Menunbuhkan swadaya masyarakat dalam usaha pendapatan peternak.
c. Meningkatkan kemampuan inovasi dalam mengembangkan peralatan pembuatan pakan suplemen.
d. Mendorong berkembangnya kegiatan usaha baru dalam memproduksi UMMB.

Sumber: infonuklir.com


Sampoerna Foundation (SF) berikan satu beasiswa program Master’s of Business Administration (MBA) di universitas terkemuka di luar negeri. Batas pengiriman aplikasinya 1 Februari 2010.

Program beasiswa MBA tersebut terdiri dari beberapa pilihan negara yaitu di Amerika Serikat, Australian Education International di Australia, di Prancis, di Inggris, serta di Singapura.

Syarat utamanya, pelamar beasiswa harus memenuhi seluruh persyaratan di bawah ini, yang antara lain adalah warga negara Indonesia, berusia maksimal 35 tahun saat mendaftar program beasiswa ini, lulus S1 dari universitas lokal dan dari jurusan apapun dengan IPK minimal 3.00 (dalam skala 4.00), memiliki pengalaman kerja penuh-waktu selama minimal 2 tahun setelah menyelesaikan pendidikan S1, serta tidak sedang mengikuti pendidikan S2, ataupun sudah memiliki gelar S2 atau sederajat.

Selain itu, pendaftar beasiswa ini bukan lulusan dari universitas di luar negeri, kecuali jika karena menerima beasiswa penuh dan tidak sedang menerima beasiswa yang sejenis. Pada batas akhir pendaftaran, 1 Februari 2010, pelamar telah mendaftarkan diri ke universitas-universitas yang direkomendasikan oleh SF untuk tahun ajaran 2010/2011.

Satu syarat lain yang penting perlu dicermati adalah penerima beasiswa memiliki motivasi untuk kembali ke Indonesia dan bekerja di Indonesia setelah menyelesaikan program MBA-nya. Aplikan yang terbukti memalsukan informasi di formulir aplikasi atau pada dokumen apapun yang dilampirkan dalam formulir aplikasi akan langsung didiskualifikasi.

Beasiswa meliputi penggantian satu kali biaya tes GMAT serta TOEFL/ IELTS yang sesuai tagihan/bukti pembayaran asli, penggantian biaya pendaftaran ke universitas untuk maksimal dua universitas, biaya proses pembuatan visa pelajar, tiket pesawat pergi-pulang dari Jakarta ke negara tujuan studi, biaya studi, tunjangan hidup selama masa studi, serta tunjangan buku.
Informasi lengkap mengenai beasiswa ini bisa dilihat di www.sampoernafoundation.org/content/view/1481/257/lang,id/. Khusus form aplikasi bisa diunduh di www.sampoernafoundation.org/images/programs/scholarship/application%20form.pdf dan form referensi di www.sampoernafoundation.org/images/programs/scholarship/reference%20form.pdf.

Kedua formulir yang telah dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung yang disyaratkan tersebut bisa dikirimkan ke kantor SF: Sampoerna School of Education Building Jl. Kapten Tendean No.88 C, 5th Floor Jakarta Selatan, 12710, Indonesia. Pengiriman paket aplikasi harus mencantumkan nama program beasiswa ini di sebelah kanan atas amplop.


Beasiswa bagi mahasiswa baru di perguruan tinggi, khususnya Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, saat ini semakin melimpah. Baru-baru ini, Unpad mendapatkan alokasi beasiswa bagi 500 calon mahasiswa tidak mampu dari Departemen Pendidikan Nasional.

Beasiswa yang dibebankan pembiayaannya dari APBN pusat itu dinamakan dengan Program Beasiswa Bidik Misi Depdiknas RI. Di seluruh Indonesia, kuota beasiswa ini mencapai total 20.000 kursi. Kepastian program beasiswa yang dimulai pada tahun ajaran 2010/2011 ini terungkap Rabu (16/12/2009) lalu dalam acara nota penandatanganan kesepahaman antara Depdiknas dan sejumlah perguruan tinggi.

Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Unpad mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan mekanisme pemberian beasiswa dan proses seleksi calon penerimanya. "Kami selama ini sudah punya program talent scouting yang memiliki misi sama, jadi, mekanismenya tinggal direplikasi ke program Bidik Misi," tuturnya, Senin (21/12/2009).

Selama ini, program talent scouting yang didanai oleh program hibah Indonesia Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (IMHERE) memiliki kuota terbatas, yaitu 55 orang. Padahal, peminatnya sangat tinggi, mencapai hingga 1.400 orang seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

"Dengan demikian, bisa saja tahun depan kuota tersebut ditingkatkan menjadi 10 kali lipat atau menjadi 550 kursi," tuturnya.
Mengenai bidang studinya, Trias memastikan bahwa kuota itu meliputi seluruh prodi yang ada di Unpad. Artinya, tidak terbatas pada bidang prodi tertentu.

"Ini berbeda dengan program beasiswa calon mahasiswa lainnya, misalnya, yang didanai oleh Pemerintah Provinsi Jabar, yaitu program Beasiswa Putra Daerah dengan kuota sebanyak 1.200 kursi (total se-Jabar). Program ini sebatas kelompok bidang studi kebidanan dan pertanian peternakan," ucapnya.

Serupa dengan program Beasiswa Putra Daerah, program Beasiswa Bidik Misi akan diprioritaskan bagi mahasiswa yang berasal dari wilayah Jabar. "Selama ini, lewat jalur yang ada, putra-putra daerah asal Jabar kan kalah saing dengan peserta dari luar daerah. Dengan adanya program ini, mereka yang punya kemampuan ekonomi terbatas bisa punya kesempatan kuliah di Unpad," paparnya kemudian.

Program Bidik Misi bisa diikuti para mahasiswa tidak mampu, baik dari lulusan sekolah formal maupun kejar paket (pendidikan kesetaraan). Seleksi dilakukan melalui bantuan Dinas Pendidikan di masing-masing daerah. "Misalnya, lewat nilai rapor," tuturnya memberi contoh penilaian seleksi.

Menurut dia, beasiswa di Unpad sangat melimpah, baik yang diadakan Unpad sendiri, pemerintah, maupun swasta. Pada 2009 ini, berdasarkan catatan Kompas, setidaknya ada 5.130 beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa di Unpad. Jumlah ini adalah seperdelapan dari total mahasiswa aktif Unpad saat ini.

Sumber:kompas.com

Berkembangbiaknya anjing liar menyebabkan Provinsi Bengkulu dengan jumlah penduduk 1,7 juta jiwa Itu menjadi daerah endemis rabies.

"Pada tahap awal akan dimusnahkan sebanyak 30 persen dari 135.000 ekor yang dilakukan di sepuluh kabupaten terutama daerah endemis," ujar Irianto Abdullah, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu.

Irianto menambahkan, setiap bulan warga yang terserang rabies terus meningkat akibat anjing liar dan anjing peliharaan tidak divaksin rabies.

Pada September 2009 terjadi 24 kasus rabies yaitu di Kabupaten Bengkulu Tengah 19 kasus Utara dan Bengkulu Utara lima kasus sehingga perlu pencegahan penyebaran penularannya.

Kedua kabupaten itu ditetapkan sebagai daerah kejadian luar biasa (KLB). Untuk itu pada 2010 sebanyak 52.000 dosis vaksin rabies sudah disiapkan untuk penyuntikan anjing peliharaan masyarakat.

135.000 Anjing Liar Akan Dimusnahkan
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Bengkulu Irianto Abdullah mengatakan, pada 2010 secara bertahap akan memusnakan anjing liar sebanyak 135.000 ekor.

"Sebanyak 135.000 ekor anjing liar akan dimusnahkan secara bertahap pada 2010 di seluruh wilayah Provinsi Bengkulu yang memiliki 10 kabupaten dan kota," katanya di Bengkulu.

Sebab, populasi anjing liar itu tiap tahun terus meningkat dan saat ini sudah mencapai 135.000 ekor. Anjing-anjing itu harus dimusnahkan karena warga yang terserang penyakit rabies juga meningkat.

Penularan rabies terhadap masyarakat akibat gigitan anjing liar atau anjing gila hampir 10 persen, termasuk gigitan kucing gila.

Ia mengakui, Bengkulu merupakan wilayah perkebunan dan pertanian, dan sebagian masyarakat memelihara anjing sehingga populasi anjing terus meningkat.

Sumber; kompas.com

Bioteknologi reproduksi generasi pertama yang bernama insemenasi buatan (IB) telah cukup berhasil dijalani selama sekian puluh tahun. Salah satu tujuan IB adalah meningkatkan populasi dan mutu genetis yang diwarisi dari tetua pejantan pada tingkat tertentu dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan memberdayakan potensi mutu genetis dari sapi pejantan secara selektif. Salah satu indikator lain keberhasilan IB, kini telah banyak berdiri Balai IB di beberapa daerah dengan spesifikasi tersendiri sesuai dengan potensi peternakan daerah bersangkutan. Bagaimana dengan bioteknologi reproduksi generasi kedua yang bernama transfer embrio?

Meskipun terkesan tertatih tatih, perjalanan bioteknologi reproduksi transfer embrio (TE) sudah ada hasilnya. Secara analisa usaha ekonomi peternakan mungkin belum dapat dikatakan berhasil, mengingat perhitungan efisiensi biaya produksi masih cukup tinggi yang tidak menggambarkan peranan teknologi perindustrian pada umumnya dalam memangkas komponen biaya. Alasan sebagai teknologi tingkat tinggi dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi pula tidak seharusnya menjadi kendala, kalau seandainya semua fihak yang berkompeten menjujung tinggi profesionalisme dan proporsionalisme yang konsekuen dan konsisten.

Bebagai efisiensi reproduksi dengan menerapkan pola bioteknologi reproduksi telah diulas, mulai yang sederhana sampai yang cukup komplek berdasarkan kaidah ilmiah yang terkait terutama dalam hal produksi embrio in vivo.

Salah satu upaya meningkatkan efisiensi reproduksi berikutnya adalah melalui produksi embrio spliting dan fertilisasi in vitro (FIV). Spliting yang dimaksud adalah membagi atau membelah dengan pemotongan secara mekanis, bukan pembelahan embrio dalam pengertian mitosis, meiosis atau proses alami pada umumnya yang dikenal selama ini dalam kaidah embriologi. Pembelahan mekanis ini berdasarkan pemahaman bahwa pada fase embrio masih mempunyai kemampuan totipoten atau belum terjadi diferensiasi menjadi berbagai bagian dan organ. Sehingga masing-masing belahan akan melanjutkan kehidupan menjadi individu baru yang kembar identik.

Sebagaimana dikenal dalam embriologi secara histologis embrio terdiri dari berbagai komponen, antara lain adalah inner cell mass (ICM) yang selanjutnya menjadi janin individu baru terlahir dan trofoblas yang menjadi plasenta sebagai penunjang kehidupan dalam kandungan. Dalam upaya pembelahan mekanis spliting maka masing-masing belahan harus mendapat kedua komponen tersebut agar dapat melanjutkan kehidupannya. Sehingga sungguh menjadi pekerjaan dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi untuk memperoleh kedua komponen tersebut dalam satu kali kerja membelah. Pembelahan umumnya dilakukan pada fase embrional tertentu yaitu pada awal morula, morula dan kompak morula dengan bantuan mikroskop stereo pada pembesaran tertentu yang juga sulit untuk membedakan dan mengidentifikasi antara trofoblas dan ICM.

Karena itu untuk memudahkaan pada pelaksanaan pembelahan mekanis spliting ditempuh dalam dua rangkaian kerja yang berbeda atau terpisah. Pada proses pembelahan spliting hanya dikonsentrasikan memperhatikan keberadaan dan keberhasilan membelah ICM saja. Sedangakan trofoblas diambilkan dari hasil FIV dengan memanfaatkan bahan baku oosit dari ovarium segar yang diperoleh dari rumah pemotongan hewan (RPH). Dalam pengertian ini hasil embrio FIV dibuang bagian ICMnya dengan metode aspirasi mikroinjektor menembus zona pelusia dan zona vetelina. Selanjutnya ICM digantikan dari hasil pembelahan spliting dengan cara yang sama yaitu mikroinjeksi menembus zona pelusida dan zona vetelina.

Sebagaimana diketahui bahwa FIV dengan memanfaatkan ovarium dari pemotongan sapi betina pada prinsipnya adalah IB in vitro, sehingga kalau diteruskan untuk memperoleh pedet baru dengan alasan untuk meningkatkan populasi, mutu genetisnya sama dengan hasil IB in vivo yang dikenal selama ini. Bahkan lebih jelek (dengan proses lebih rumit dan lebih mahal) karena sapi betina yang dipotong umumnya adalah sapi afkir antara lain akibat kemajiran, umur tua atau bermasalah lainnya. Atau sapi-sapi betina bakalan hasil persilangan yang secara genetis diarahkan pada pertumbuhan vegetatif untuk penggemukan, bukan genetis generatif untuk tujuan breeding.

Proses FIV sebagaimana pengertian IB in vitro hanya cocok diterapkan pada populasi bangsa tertentu antara lain sapi komposit atau sapi ras yang masih murni atau sapi lokal spesifik dalam rangka pelestarian plasma nuftah. Kembali pada masalah FIV versi TE harus difahami adalah hanya untuk memperoleh trofoblas dan zona pelusida serta zona vitelina yang selanjutnya digabungkan dengan ICM hasil pembelahan spliting dalam rangkaian produksi embrio yang nantinya sebagai dasat-dasar produksi embrio secara kloning ..........(bersambung)

drh. M. Arifin Basyir | arifin_basyir@yahoo.com

Sumber:vet-indo.com

Impor sapi hidup atau bakalan diperketat. Mulai 1 Januari 2010 impor sapi bakalan untuk sapi potong hanya diizinkan untuk sapi yang memiliki berat badan maksimum 350 kilogram.

Menurut Kepala Badan Karantina Pertanian Departemen Pertanian Hari Priyono di Jakarta, Rabu (16/12), ketentuan berat sapi impor tersebut tidak berlaku bagi sapi betina produktif ataupun sapi bibit.

Implementasi dari aturan tersebut, kata Hari, akan memberikan perlindungan terhadap usaha penggemukan sapi domestik sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi usaha penggemukan sapi di dalam negeri.

Tiap tahun Indonesia mengimpor sekitar 650.000 sapi hidup. Sebagian besar diimpor dari Australia.

Aturan tentang berat maksimum sapi bakalan impor itu ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 7 Tahun 2008 tentang Syarat dan Tata Cara Pemasukan dan Pengeluaran Benih, Bibit Ternak, dan Ternak Potong.

Meski peraturannya telah ditetapkan tahun 2008, masih ada sapi bakalan impor yang beratnya lebih dari 350 kilogram.

Koordinator Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia Dayan Antoni menyatakan tidak sepakat dengan kebijakan itu. Alasannya, meskipun ada sapi yang beratnya lebih dari 350 kilogram yang diimpor, pengusaha tetap harus melakukan penggemukan.

Pasar ritel modern lebih menyukai sapi dengan berat lebih dari 500 kilogram. Dengan demikian, upaya untuk memberikan nilai tambah tetap dilakukan. ”Penggemukan pasti dilakukan sebab kalau langsung dijual rugi,” kata Dayan.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia Teguh Boediyana, penggemukan sapi bakalan umumnya 2-3 bulan. Tiap hari penambahan berat badan sapi bakalan 1,5 kilogram dengan harga Rp 22.000 per kilogram sapi hidup. ”Oleh karena itu, pengawasan seharusnya tidak sebatas pemasukan, tetapi juga saat pemotongan,” ujarnya. (MAS)

Sumber: kompas.com

"Nanosensors", teknologi yang berlandaskan pemeriksaan darah, dapat mendeteksi tanda awal kanker, demikian hasil suatu riset baru.

Dengan mengambil contoh darah setiap hari dari para pasien, alat itu dapat mengarah pada pendeteksian lebih cepat serta perawatan kanker, demikian studi yang dipublikasikan jurnal "Nature Nanotechnology” terbitan 13 Desember tersebut.

Sensor itu dikembangkan oleh para peneliti di Yale Institute for Nanoscience and Quantum Engineering di New Have, Connecticut. Alat tersebut memburu dan mengambil biomarker bagi kanker prostat dan payudara, kata Mark Reed penulis riset dan pembantu direktur di lembaga tersebut.

"Teknologi itu dapat secara umum diterapkan pada banyak jenis lain biomarker," kata Reed, sebagaimana dilaporkan kantor berita China, Xinhua.

Pencapaian sesungguhnya, lanjut Reed, adalah kemampuan memeriksa darah yang menjadi sasaran jangka panjang. Ini tak dapat dilakukan sebelumnya karena darah memiliki terlalu banyak garam dan zat lain di dalamnya, yang menghalangi jenis penginderaan ini. "Kami mengembangkan satu metode guna menyaring secara khusus apa yang ingin kami dideteksi," ujarnya.

Hanya sedikit darah diperlukan dan proses tersebut memerlukan waktu hanya 20 menit, kata Reed.

"Dari sudut pandang obat secara pribadi, Anda dapat mengambil setetes darah dari ujung jari dan memperoleh hasilnya dalam hitungan menit," kata William C Phelps, direktur program Translational and Preclinical Cancer Research di American Cancer Society.

"Itu sederhana, stabil dan relatif tidak mahal. Ada keperluan yang sangat mendesak bagi alat semacam ini bagi kanker paru-paru, kondisi yang membuat anda ingin mendeteksi penanda-bio di dalam contoh ludah, dan kanker indung telur dan pankreas," kata Phelps.

"Anda tak dapat benar-benar mendeteksi ini secara dini, sehingga penyakit itu sangat sulit diobati. Anda ingin mendeteksi protein tertentu di dalam darah yang menjadi petunjuk penyakit dan anda ingin mendeteksinya secara dini dengan ketepatan dan kekhususan tinggi. Anda tak ingin positif-palsu atau negatif-palsu," kata Phelps.

Kendati teknologinya masih harus ditemukan di kantor dokter, itu adalah revolusioner dalam satu atau lain hal, kata banyak ahli. Teknologi sebelumnya beroperasi dengan cara yang memiliki sangat banyak kesamaan, tapi hanya dapat mendeteksi penanda-bio di dalam cairan yang dimurnikan, bukan yang sesungguhnya --yang berarti contoh cairan dari pasien.

Sumber: kompas.com

Nilai transaksi lelang sapi bali potong pada pasar lelang komoditas agro yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nusa Tenggara Barat (NTB) di Mataram, Sabtu (5/12), mencapai Rp. 14,7 miliar.

"Nilai transaksi sapi bali potong pada pasar lelang periode kelima tahun ini paling tinggi dibandingkan sepuluh komoditas lainnya yang berhasil dilelang," kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag NTB Ulayati Ali.

Ia mengatakan, hasil lelang komoditas agro pada periode ini mengalami penurunan dibandingkan dengan hasil lelang pada periode keempat yang digelar pada 17 Okober 2009, yang mencapai Rp. 24,2 miliar.

Nilai lelang sebesar Rp 14,7 miliar pada pasar lelang komoditas agro ke-22 tersebut diperoleh dari sebelas komoditas agro yang dibeli oleh oleh pengusaha dari Bali, Pulau Jawa dan pengusaha lokal yang diundang untuk menghadiri kegiatan tersebut.

Sebelas komoditas agro tersebut yakni sapi bali potong dengan nilai transaksi sebesar Rp 14,7 miliar, kemiri gelondongan dan kupas sebesar Rp 2,07 miliar, cengkih Rp 889 juta, jagung Rp 800 juta, bawang merah Rp 400 juta, cabai merah Rp 364 juta, jahe gajah Rp 300 juta, dedak Rp 300 juta, kentang Rp 180 juta, coklat Rp 99 juta, dan kulit kacang hijau Rp 15 juta.


“Para pengusaha lokal dan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali yang sengaja kami undang melalui Disperindag setempat, cukup antusias melakukan transaksi jual beli, dan ini memang yang menjadi harapan kami,” ujarnya.

Menurut dia, tujuan diadakannya pasar lelang komoditas agro tersebut sebagai upaya efisiensi perdagangan dengan memperpendek rantai pemasaran dan mendukung perekonomian daerah serta membentuk harga referensi.
Dengan pasar lelang tersebut para petani juga bisa merencanakan pola tanam yang baik, sehingga harga yang akan diterima diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani. "Selain itu, masyarakat juga bisa menikmati harga yang lebih kompetitif," ujarnya.

Ia menambahkan, para petani yang ikut dalam kegiatan pasar lelang komoditas agro itu memperoleh manfaat berupa adanya kepastian pasar hanya dengan membawa sampel barang yang akan dijual. Transaksi jual beli dapat dilakukan meskipun barang belum diproduksi. "Artinya petani bisa memfokuskan diri pada proses produksi yang baik untuk memenuhi kontrak yang sudah terjadi pada pasar lelang tersebut," ujarnya.


Sementara manfaat untuk kalangan pengusaha yaitu adanya kepastian untuk mendapatkan komoditas yang diinginkan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.


Manfaat lainnya, kata Ulayati, pengusaha dapat mengatur persediaan barang sesuai dengan permintaan pasar serta harga komoditas yang dibeli bisa lebih kompetitif. "Dengan harga yang lebih kompetitif tersebut akan tercipta efisiensi dalam melakukan perdagangan," katanya.


Sumber: Kompas.com

Seorang peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan fenomena meningkatnya aktivitas matahari yang menurut ramalan suku Maya terjadi pada 2012 tidak perlu dikhawatirkan apalagi dihubungkan dengan hari kiamat.

Peneliti astronomi dan astrofisik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset Indonesia Dr Thomas Djamaluddin Msc, Rabu, menyatakan tidak ada yang istimewa dari fenomena alam 2012 itu karena hanya siklus 11 tahunan meningkatnya aktivitas matahari.

"Fenomena 2012 yang menghebohkan masyarakat lebih banyak berawal dari ramalan suku Maya, bukan berasal dari alasan ilmiah. Kalau kemudian memang ada fenomena 2012 alasan ilmiahnya apa? Tapi yang lebih banyak diungkapkan justru bukan sainsnya," kata Thomas usai dikukuhkan sebagai profesor riset di kantor Lapan Jakarta.

Menurut Thomas, fenomena aktivitas puncak matahari sebelumnya diperkirakan terjadi pada 2011, namun titik minimumnya bergeser sehingga diperkirakan terjadi pada 2012. Namun, sekarang pun ada pergeseran lagi sehingga kemungkinan terjadi pada 2013.

Secara alamiah, tegas Thomas, tidak ada yang istimewa karena itu merupakan siklus 11 tahunan. "Terakhir terjadi pada 1989 kemudian pada 2000, dan nanti 2012 atau 2013 akan terjadi lagi."

Orang kemudian mengkhawatirkan terjadi badai matahari, padahal tidak akan ada badai matahari dahyat yang menimbulkan dampak parah.

Badai matahari pada dasarnya adalah fenomena bumi yang sering terjadi bukan saja saat aktivitas matahari mencapai puncak, tetapi saat aktivitas mulai naik hingga turun lagi tetap ada badai matahari.

Artinya memang frekuensi kejadiannya lebih banyak pada saat puncak. Tetapi, menurut Thomas, kekuatan terbesarnya belum tentu pada saat puncak. Sering kali yang paling kuat justru setelah puncak.

"Katakan puncak yang lalu terjadi di 2000, tetapi aktivitas matahari yang paling besar, yang paling kuat justru terjadi pada 2003," katanya.

Perbincangan fenomena aktivitas matahari ini juga berkembang, yang kemudian dikaitkan lagi dengan seolah-olah akan ada tumbukan komet.

"Itu juga secara astronomi tidak ada buktinya. Tidak ada informasi atau perkiraan akan ada komet besar yang menabrak bumi pada 2012. Kemudian ada lagi yang memperkirakan ada planet Nibiru, padahal planet Nibiru tidak dikenal dalam astronomi," jelas Thomas.

Berbagai perbincangan mengenai fenomena 2012, seperti seolah-olah berdasarkan teori astronomi ada asteroit besar yang akan menghantam bumi, sama sekali tidak punya dasar atau tidak ada alasan astronominya.

"Jadi pada dasarnya kekhawatiran 2012 lebih banyak terkait dengan penafsiran ramalan suku Maya, dan oleh ketua suku Maya sendiri sudah menyatakan bahwa 2012 bukan akhir dan itu hanyalah pergantian item kalender yang biasa," kata dia.

Menurut Thomas, dampak dari badai matahari yang ditimbulkan dari percikan partikel matahari dan menimbulkan medan magnit itu selama ini hanya berdampak pada keberadaan satelit di orbit dan terhadap transformer fasilitas jaringan listrik.

Badai matahari dapat menimbulkan induksi ke fasilitas jaringan listrik sehingga terjadi kelebihan beban dan bisa menyebabkan trafo meledak atau terbakar. Sampah Antariksa Dalam orasi ilmiahnya pada pengukuhannya sebagai profesor riset bersama Dr Ir Chunaeni Latief Msc, Thomas juga menyatakan bahwa wilayah Indonesia yang dilalui garis ekuator cukup panjang rentan menjadi tempat jatuhnya sampah antariksa yang sekarang kian banyak.

"Sampah antariksa semakin lama semakin banyak. Yang terpantau oleh sistem jaringan pemantau internasional ada sekitar 13 ribu lebih dan ancamannya bisa mengganggu satelit aktif. Dan salah satunya pernah, sampah antariksa bekas satelit Rusia menabrak satelit aktif karena semakin banyak satelit di antariksa kemungkinan bertabrakan semakin besar," katanya.

Indonesia yang berada di garis ekuator memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena risiko jatuhnya sampah antariksa dibanding kawasan lain. Oleh karena itu Indonesia harus selalu waspada karena berada pada wilayah yang sering dilalui orbit satelit.

Hal itu harus menjadi perhatian Lapan dalam memberikan pelayanan informasi potensi bahaya benda jatuh dari antariksa sehingga kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat dinetraliskan, demikian Thomas Djamaluddin.

Bersama Thomas, peneliti Lapan Dr Ir Chunaeni Latief Msc juga dikukuhkan sebagai profesor riset dalam bidang Opto Elektronika dan Aplikasi Laser. Dalam orasinya ia lebih mencermati kandungan dan efek emisi gas rumah kaca (CO2) dan pemanfaatan instumensi Satklim LPN-1A untuk penelitiannya yang bermanfaat bagi dunia penerbangan, dan kajian pemanasan global.

Sumber: yahoonew.com (dari Antara)

Saat ini kita berada pada masa yang dikenal sebagai milenium ketiga atau abad 21 yang ditandai dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi . dunia disuguhkan dengan berbagai inovasi dan kemajuan pada berbagai bidang industri, telekomunikasi dan informasi global super canggih, sampai pada teknologi tinggi (high tech) bidang antariksa, teknologi robot, serta kemajuan biologi molekuler.


Perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang tersebut, menjadikan hampir semua bangsa di dunia berpacu untuk mengembangkan setiap sendi kehidupannya pada dasar ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bungkus zaman yang disebut sebagai era globalisasi dimana ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu indikator kemajuan bangsa dalam menghadapi persaingan global.

John naisbitt dan Patricia aburdene dalam buku Megatrends 2000 meramalkan bahwa salah satu megatrend abad 21 adalah peralihan dari model dan metafora fisika ke model dan metafora biologi untuk membantu kita mengerti dilema dan peluang dewasa ini.

Fisika memberikan metafora dan model untuk abad industry mekanistik dengan mengajukan; Energi-intensif, linear, makro, mekanistik, deterministik, dan diarahkan ke luar. Biologi mengajukan; Informasi-intensif, mikro, adaptif, holistik, diarahkan ke dalam. Percakapan sehari-hari orang semakin banyak menggunakan kata dan frase biologi, bahkan fisika baru mengalami kemajuan dengan berfikir dalam metafora biologi, yang belakangan ini menjadi trend, “feedback”, “symbiosis”, “reprogrammed”, “biodiesel”, “bioenergi”, dan lain sebagainya.


Dalam dunia bisnis misalnya, kita sudah tidak asing mendengar “seed capital”, “hothouses” untuk proyek kewirausahaan, “pertumbuhan” dan “evolusi” organisasi. Namun dewasa ini kita berada dalam proses penciptaan suatu masyarakat yang merupakan susunan rinci sistem umpan balik informasi, struktur dari organism biologi itu sendiri.

Ramalan John Naisbitt dan Patricia Aburdene merupakan satu ramalan yang realistis, bukankah sebelum memasuki abad 21 kemajuan di bidang biologi benar-benar telah dirasakan sampai pada kemajuan biologi modern yang luar biasa. Lanjutnya, kita akan bersiap lebih jauh lagi pada ambang era besar: Bioteknologi.

Bioteknologi sebenarnya bukan hal yang baru, meskipun telah mendapat perhatian yang jauh lebih besar pada masa-masa sekarang. Menurut para ahli purbakala, industri bioteknologi di Inggris dikenal sejak 400 tahun SM sampai akhir zaman neolitik ketika proses fermentasi yang memanfaatkan sel ragi untuk menghasilkan bir dan minuman keras pertama kali diperkenalkan.


Selanjutnya sejak Gregor Mendel merumuskan aturan-aturan yang menerangkan pewarisan sifat-sifat biologi (gen) yang menandai lahirnya genetika lebih dari seabad lalu, ilmu pengetahuan yang baru ini berkembang sangat pesat.

Diawali oleh W. Sutton dan TH Morgan secara eksperimental mengembangkan teknik pemetaan gen dan menghasilkan analisis menyeluruh mengenai posisi relative lebih dari 2000 gen. Selanjutnya pada tahun 1944 oleh Avery, Mac Leod dan McCarthy serta Hershey dan Chase tahun 1952 melakukan eksperimen-eksperimen yang menghasilkan DNA sebagai material genetik. Dalam waktu empat belas tahun antara 1952 sampai 1966 struktur DNA telah diketahui, kode genetik dipecahkan, serta proses-proses transkripsi dan translasi dapat dijabarkan.

Kemudian antara 1971-1973 disebut sebagai revolusi dalam biologi modern dengan ditemukannya metode yang dikenal sebagai teknologi DNA rekombinan atau rekayasa genetik. Inti dari proses rekayasa genetik ini adalah kloning gen dan menjadi sangat penting karena member kunci dalam memecahkan kode kehidupan. Melalui rekayasa genetik, para ilmuwan dan peneliti akan terbiasa mengutak atik sebuah gen kemudian dikembangkan lebih jauh di dalam media (tanaman dan hewan) untuk menghasilkan suatu hasil penelitian umat manusia.

Dalam perkembangan ilmu genetika kemudian digabungkan dengan berbagai disiplin ilmu seperti mikrobiologi, biokimia, teknik kimia dan proses rekayasa menjadi satu hingga melahirkan ilmu pengetahuan yang sangat beraneka ragam dan dikenal sebagai bioteknologi. Dua dasawarsa terakhir abad 20 lalu berbagai kemajuan pesat biologi telah membawa dunia menuju kemajuan yang sangat berarti di bidang bioteknologi di abad 21. Hal inilah yang disebut-sebut sebagai kelahiran zaman kebesaran bioteknologi di milenium ketiga saat sekarang ini.

Manipulasi genetik pada hewan telah mencapai babak baru perkembangannya. Pada tahun 1988 di di sebuah lahan pertanian di Wheelock, Texas, USA, tujuh ekor sapi jantan keturunan murni yang identik secara genetis dihasilkan dari embrio buatan manusia. Embrio tiruan (yang disalin secara identik) dari sapi jantan pilihan dapat membuahi dan menyebabkan kebuntingan pada sapi betina. Secara teoritis, ribuan hewan yang identik dapat dihasilkan melalui kloning yaitu suatu teknik untuk menghasilkan duplikat suatu organism yang identik secara genetik dengan menggantikan inti dari ovum yang belum dibuahi dengan inti sel tubuh organisme yang bersangkutan.

Adalah DR. Ian Wilmut, seorang ahli genetika dari Roslin Institute Inggris bekerjasama dengan PPL Therapeutic berhasil melakukan cloning melalui teknologi nuclear transfer dan menjadi keberhasilan pertama kloning hewan dari sel tubuh bukan sel embrio seperti yang banyak dilakukan oleh ahli lainnya.

Di Indonesia keberhasilan pertama putra bangsa dipelopori oleh Dr. Ir. Zuprizal, DEA melalui manipulasi genetik dapat melahirkan ayam transgenik pertama di Indonesia. Dan lebih jauh beliau berkeinginan menciptakan ayam-ayam yang secara genetis berbeda dengan yang lainnya melalui kemajuan bioteknologi modern (Infovet edisi 046, Mei 1997).

Di era abad 21 bioteknologi seperti perkiraan sebelumnya akan sama pentingnya dengan komputer. Bioteknologi akan menjadi booming, setidaknya arah pertama bioteknologi yang sudah banyak dikembangkan adalah dalam bidang pertanian dan peternakan, industri makanan, sampai pada industry pakaian dan kesehatan.

 Perusahaan-perusahaan bioteknologi saat ini berpacu dengan penemuan obat baru dan pengembangan obat mencapai lebih dari 300 produk obat dan 200 vaksin penyakit di dunia diantaranya kanker, Alzheimer, penyakit jantung, AIDS, arthritis dan berbagai penyakit infeksi di negara berkembang.

Perkembangan bioteknologi lain yang dewasa ini mengalami kemajuan pesat adalah manipulasi genetic pada tanaman dan hewan. Melalui rekayasa genetik dapat menghasilkan tanaman transgenik dan member suatu terobosan untuk mengembangkan tanaman yang mempunyai kualitas super dan mampu berproduksi banyak dan mempunyai daya tahan terhadap penyakit baik yang disebabkan oleh virus, parasit, herbisida serta mempunyai ketahanan terhadap penyimpanan pascapanen.

Berbagai jenis produk pertanaian transgenic mewakili perkembangan bioteknologi di bidang pertanian antara lain kapas Bt, kedelai Bt, padi pro vitamin A, jagung Bt (Attribute ™ Bt-sweetcorn), kacang tanah Bt (High Oleic Peanut), dan lain sebagainya. Tak ketinggalan pula industri makanan telah mengembangkan produknya yang dibuat atas dasar bioteknologi.

Bioteknologi dan golongan oposisi
Sebuah gagasan gila dalam ilmu pengetahuan adalah hal yang lumrah. Berangkat dari gagasan tersebut yang sering kali dicibir, dietertawakan, dicemooh atau bahkan tidak jarang si penggagas berhadapan dengan ancaman maut sebagaimana Galileo yang menerima putusan mati, namun pada akhirnya lewat ide dan gagasannya itulah justru berguna bagi generasi berikutnya.

Pengujian lapangan rekayasa genetik terhadap organisme yang direkayasa telah menimbulkan kritikan-kritikan dari berbagai golongan masyarakat, pencinta lingkungan, aktivis hak hewan, petani, kaum cendekiawan, agamawan sehingga muncul berbagai pertanyaan yang mereka khawatirkan; apakah etis untuk memanipulasi alam? Apakah binatang diperlakukan sewenang-wenang? Apakah dengan rekayasa genetik tidak melangkahi kodrat alam (kekuasaan Tuhan)? Apakah industri farmasi dan pertanian melakukannya hanya untuk mendapat keuntungan bisnis semata? Secara umum apakah implikasi etis, legal, dan social dari bioteknologi?.

Para pencinta lingkungan khawatir bahaya teknologi akan mengubah alam itu sendiri. Kaum agamawan berpendapat bahwa apa yang dilakukan para ilmuwan itu menyalahi kodrat alam dan kekuasaan Tuhan.

Ketika Dr.Ian Wilmut mempublikasikan hasil penelitiannya (kloning domba) telah mengundang perdebatan hangat dikalangan agamawan dan ilmuwan baik di dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri sendiri hasil kloning domba Dr. Ian Wilmut oleh kaum agamawan secara tegas menolak dan menentang kloning pada manusia. Tak ketinggalan pula dari Vatikan, pemimpin tertinggi umat katholik saat itu Paus Johanes Paulus II serta merta menolak penciptaan manusia secara artificial dan mengecam keras pemanfaatan manusia sebagai obyek penelitian.

Namun dengan maraknya berbagai macam produk transgenic sekarang ini membuat konsumen tidak menerima begitu saja. Konsumen harus lebih waspada terhadap kemungkinan dampak yang ditimbulkan oleh produk bioteknologi hasil rekayasa genetik, seperti efek bagi kesehatan, kelestarian lingkungan, dan lain-lain sehingga peranan pemerintah di dalam regulasi produk-produk transgenik menjadi sangat penting.

T.A. Brown (1991) dalam buku Gen Cloning an Introduction menyatakan bahwa rekayasa genetik yang melibatkan hewan lebih banyak menimbulkan masalah. Masalah etika yang berkaitan dengan kemungkinan hasil penelitian harus dipertimbangkan walaupun banyak eksperimen yang berguna dapat diciptakan, tetapi penggunaannya yang lebih meragukan untuk masa datang juga masih dalam pertimbangan. Rekayasa genetik melalui cloning merupakan alat yang ampuh sebagai salah satu terobosan yang selama ini dicari-cari para ahli di dunia, tetapi harus digunakan secara bijaksana.

Bagaimanapun serunya kontroversi kehadiran rekayasa genetik sebagai hasil kemajuan teknologi, satu hal yang harus menjadi asumsi bahwa teknologi khususnya bioteknologi tidak bersifat jahat tetapi selalu netral. Bagaimana menggunakannya itulah kuncinya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk produk bioteknologi akan sia-sia apabila digunakan untuk tujuan yang kurang bijaksana, tetapi dengan pemanfaatan kemajuan bioteknologi secara benar, tepat akan memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia di muka bumi serta kelestarian alam sekelilingnya.

Penyebaran virus flu babi terus meneror dunia sepak bola. Kali ini dikabarkan dua pemain Manchester City, Craig Bellamy dan Vladimir Weiss terjangkit virus mematikan itu.

Bellamy telah didiagnosis dan hasilnya, dia positif tertular. Begitu juga dengan Weiss, gelandang tersebut diduga terjangkit virus H1N1 setelah ia membela City melawan Arsenal. Akibatnya, ia harus absen saat City berhadapan dengan Chelsea pada akhir pekan lalu.

Asisten Pelatih Mark Bown mengatakan, "Virus tersebut telah menyebar ke markas kami. Pemain datang setiap hari dengan pilek, batuk dan flu. Dokter sudah menentukan apakah itu adalah awal dari sesuatu yang lebih serius. Keputusannya mereka harus dipulangkan."

Sebelumnya, City telah kehilangan Wayne Bridge karena mengalami cedera ligamen. Ia akan absen selama empat atau enam pekan. Bellamy juga dipastikan tidak masuk tim saat City melawan Bolton Wanderes, akhir pecan ini. (ESPN)

Sumber: Kompas.com


Sebuah rumah sakit hewan sebagaimana dimengerti oleh masyarakat umum yaitu sebuah pusat pelayanan kesehatan untuk hewan-hewan yang memerlukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan penyakit.

Definisi serta kelengkapan dari sebuah rumah sakit hewan di Indonesia, masih dalam taraf pengonsepan oleh Komisi Praktisi Pengurus Besar PDHI. Kalau kita melihat ke negara-negara lain yang sangat maju di dalam perkembangan profesi veteriner maka kita dapat mengukur baru sampai dimana tahap perkembangan profesi kedokteran hewan di Indonesia.

Pada prinsipnya sebuah rumah sakit hewan adalah suatu bisnis atau usaha yang keberhasilannya akan ditentukan oleh banyak faktor, antara lain:
1. Ketiadaan pengalaman (lack of experience).
2. Ketidakcukupan akan dana yang siap digunakan (lack of money).
3. Lokasi yang tidak sesuai (wrong location).
4. Kesalahan manajemen yang terlalu banyak (inventory mismanagement).
5. Modal yang terlalu besar tertanam pada asset tak bergerak.
6. Reputasi praktek yang kurang meyakinkan (poor credit granting practice).
7. Pengembangan (ekspansi) yang tidak terencana dengan baik.
8. Mengambil terlalu besar untuk keperluan pribadi.
9. Kesalahan-kesalahan dalam bersikap (wrong attitude).

Sebagai sebuah tempat yang memberikan pelayanan dengan imbal jasa, maka rumah sakit hewan merupakan sebuah organisasi yang harus dikelola dengan sistem manajemen yang profesional.

Manajemen atau management sendiri adalah sebuah ilmu dan seni yang diterapkan/dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan dari organisasi melalui pemanfaatan secara efektif dan efisien dari berbagai unsure dengan bekerja bersama perorangan-perorangan (individuals) maupun kelompok (grup) serta harus mempunyai tujuan yang jelas dan mantap.

Sebuah rumah sakit hewan mempunyai unit-unit atau bagian-bagian dengan fungsi masing-masing serta orang-orang yang bertanggungjawab untuk menjalankan fungsi-fungsi tersebut secara kerja kelompok (team work) dan bukan individual work. Dengan sendirinya hasil kerja tiap bagian adalah ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusianya yang terdiri dari kemampuan kerja, pengetahuan, disiplin, tanggungjawab, dan dedikasi. Ketidakmampuan salah satu individu dalam team work telah ternukti menjadi penyebab kegagalan atau buruknya hasil kerja yang tidak sesuai dengan apa yang ditargetkan.

Proses dari manajemen
Ada empat tahap pokok dalam manajemen yang sama pentingnya dalam rangka pengoperasian sebuah rumah sakit hewan. Keempat hal pokok tersebut adalah:
1. Perencanaan atau planning.
Dalam hal kita harus memastikan hal-hal apa saja yang menjadi tujuan organisasi kita serta sasaran-sasaran atau target-target yang harus dicapai. Tentu saja dalam hal ini ada tahapan-tahapan dari sasaran/target kita sesuai perkembangan usaha ini.
2. Pengorganisasian.
Dalam hal ini adalah mengkomunikasikan antara perencanaan organisasi rumah sakit hewan dengan para staf/karyawan pelaksana tugas. Untuk pengorganisasian ini perlu ada kesepakatan-kesepakatan dan pengaturan kondisi agar pelaksanaan fungsi dapat berlangsung dengan cepat, lancar dan efisien.
3. Pemberian pengarahan kerja.
Dalam hal ini secara berterusan perlu dilakukan pembinaan kekaryawanan yang berhubungan dengan peningkatan kualitas individu pekerja serta pemberian motivasi untuk semua aspek. Selain itu juga bagian-bagian tertentu menjadi penunjang utama keberhasilan usaha ini perlu selalu mendapat prioritas perhatian.
4. Pengawasan atau kontrol.
Untuk memantapkan hasil kerja yang merupakan produk manajemen yang baik haruslah dapat dilakukan evaluasi dari setiap proses manajemen dengan meminta data yang terarsip atau terinventarisir dengan baik serta dipergunakan untuk membaca sejauh mana proses manajemen telah dilaksanakan dan untuk melakukan teguran-teguran dalam rangka pengawasan/kontrol.
Manajemen sendiri akan terasa lebih realistis atau mantap bila pelaksanaannya merupakan “goal oriented” daripada “procedur oriented”.

Secara umum yang menjadi target dari kepentingan para dokter hewan/pelayan medis dari sebuah rumah sakit hewan adalah:
1. Memberikan pelayanan medis veteriner sebaik-baiknya yang dapat diusahakan bagi hewan pasien dan pelayanan kepentingan pemilik hewan dalam batas etik profesi.
2. Mendapatkan penerimaan keuangan dari imbal jasa sedemikian sehingga dapat memberikan upah kerja yang memadai bagi karyawannya.
3. Pengaturan waktu beraktivitas dan waktu beristirahat sedemikian sehingga masih memungkinkan untuk mengembangkan minat para dokter hewan dan manager pada bidang yang diinginkannnya serta menyumbangkan tenaga untuk beraktivitas pada organisasi dokter hewan atau organisasi kemasyarakatan lainnya.

Selanjutnya kegiatan manajemen rumah sakit hewan adalah meliputi lima aspek yaitu:
1. Manajemen personalia.
2. Manajemen operasional dan pemeliharaan.
3. Manajemen keuangan.
4. Pemasaran.
5. Hubungan antara rumah sakit hewan dengan pelanggan (klien) atau masyarakat.
Sebagai seorang manager rumah sakit hewan, diperlukan beberapa kemampuan (skill) yang meliputi:
a. Kemampuan teknis (technical skill), dalam hal ini latar belakang pendidikan kita sebagain dokter hewan sangat diperlukan, karena seorang manager harus dapat memahami cara kerja sebuah alat atau peralatan yang dibeli rumah sakit hewan, metode-metode yang diterapkan pada kerja-kerja di lingkungan rumah sakit hewan, yang kesemuanya bersangkut paut dengan pengetahuan manajemennya.
b. Kemampuan manusiawi (human skill).
Sangat diperlukan suatu kemampuan memahami dan mengerti berbagai karakter dan latar belakang para staf/karyawan yang bekerja sama dengan kita sebagai pimpinan maupun sesame rekan yang setingkat. Dalam aspek ini, kita juga harus mempunyai pemikiran ke depan untuk langkah maju dari prestasi kerja staf serta memotivasi untuk terus berprestasi.
Pada saat yang sama, keteladanan dalam memimpin harus diterapkan secara konsisten sehingga tercipta suasana terayomi dan terpimpin.
c. Kemampuan konseptual.
Dalam memahami konsep kesatuan kerja dalam pengoperasian sebuah rumah sakit hewan seorang manager harus memahami kemampuan diri sendiri untuk mengukur sejauh mana peranan kita menyatu dalam pengoperasian rumah sakit hewan.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang manager berarti pula siap utuk merubah sikap dan perilaku orang lain melalui:
1. Pengarahan yang terus menerus.
2. Mengadakan perubahan-perubahan.
3. Melakukan pengawasan.

Bilamana kita tidak siap dan tidak bersedia untuk melakukan hal ini, maka sebaiknya jabatan sebagai manager jangan kita terima.

Sumber: drh. Wiwiek Bagdja, Kepala Rumah Sakit Hewan Jakarta dan Ketua Umum PB PDHI


Pada bagian pertama telah dibahas kelainan-kelainan pada paru-paru yang mungkin saja ditemukan ketika kita berbelanja di pasar maupun di tempat-tempat penjualan daging seperti mall atau supermarket.

Organ hati dan jantung menjadi favorit dan banyak masyarakat yang senang mengkonsumsinya, baik untuk dibuat sate, digoreng atau lainnya. 

Nah, untuk yang senang berbelanja hati sebaiknya memeriksa kesehatan hati yang hendak di beli, minimal mengamati bentuk hati dan mengenali keaadan normal hati yang hendak dibeli. Perlu juga anda khususnya ibu rumah tangga mencurigai ketika berbelanja hati dan jantung menemukan kelainan-kelainan yang ditemukan, baik bentuk maupun baunya.

Keadaan normal dari hati adalah memiliki warna merah tua dan terdapat lobus-lobus. Bau normal juga khas dan jika bau yang didapatkan dari hati tidak wajar maka sebaiknya jangan jangan membelinya.

Kelainan-kelainan yang mungkin didapatkan atau dijumpai pada hati adalah:
Degenerasi parenkim, keadaan hati seperti ini ditandai dengan hati yang membesar, lembek, lunak berwarna abu-abu dan tidak mengkilat.

Infiltrasi lemak. Hati yang seperti ini sering terjadi pada sapi yang bunting atau sapi yang baru beranak. Hati tampak membesar, lekat karena lembek dan lunak.

Ikterus umum. Ada pembendungan di jaringan hati karena infeksi penyakit.
Melanosis. Hati seperti ini dapat dikenali dengan adanya bercak-bercak berupa pigmen hitam atau melanosis pigmentosa karena pigmen.

Nekrosa multiple. Hati membesar dan bulat lonjong seperti kacang. Terdapat basil-basil nekrosa yang jelas pada hati.

Anemia hati. Hati yang seperti ini disebabkan oleh pengeluaran darah secara kronis karena penyakit-penyakit yang menyerang darah, seperti leukemia dan anemia.

Perdarahan pada hati karena intoksikasi/bleeding. Terjadi septikemia pada hati, seperti pada kasus ante partum bleeding (APB/keluarnya darah sebelum partus), ada darah di dalam hati.

Perdarahan traumatik  , karena infestasi parasit pada hati, seperti Histomatosis dan Bottle Jaw.
Hepatitis parenkimatosa karena intoksikasi/keracunan. Beberapa kelainan ini adalah:
Hepatitis purulenta karena infeksi kuman membentuk nanah (pus) seperti pada infeksi streptococcus.

Hepatitis interstitialis, seperti terjadinya sirhosis hati pada penyakit lever.
Sirhosis atrofi atau terjadinya pengecilan pada hati. Sirhosis hipertropi atau pembesaran hati. Telemiaktase atau pembesaran pembuluh darah dan terjadinya takikardia. Echinococcosis, dan yang sering pada hewan adalah Echinoccosis unilokuler. Tumor pada hati.

Sedangkan kelainan pada organ jantung yang mungkin ditemukan adalah:
Hidroperikardium, yaitu terdapatnya transudat atau cairan berlebihan yang berwarna jernih kekuningan di dalam jantung. Hal ini disebabkan oleh berbagai infestasi parasit dalam jantung.
Perdarahan pada pericardium sampai epikardium yang disebabkan oleh ptekie dan echimosa pada jantung.

Perikarditis traumatika. Keadaan ini sering terjadi pada sapi dan kuda yang disebabkan karena adanya fibrinosa pada jantung dan perforasi pada omasum, abomasums atau karena adanya benda-benda asing.


TBC, yaitu ada 2 jenis terbuka dan tertutup. Pada keadaan tertutup bisa sampai ke ginjal (sifat metastatis) jika sudah parah dan ditemukan sel raksasa atau giant sel.



Berbagai jenis parasit seringkali atau memang memerlukan daging sebagai tempat hidupnya. Parasit-parasit ini berkembangbiak di dalam daging dan dapat membahayakan manusia.

Karena itu dalam memilih daging atau berbelanja daging harus benar-benar memilih daging yang baik dan sehat agar terhindar dari bahaya penularan parasit-parasit tersebut.

Beberapa parasit yang hidup dalam daging dan dapat membahayakan kesehatan manusia antara lain:
1. Cysticercus bovis, Taenia saginata.
Parasit ini terdapat di palsenta, lidah, tenggorokan, otot-otot masseter, jantung dan daging disekitar atau diantara tulang iga.
Bentuknya lonjong seperti beras, di tengah ada bintik putih (scoleks) yang berkembang menjadi infektif dan dapat menulari manusia yang memakan daging tersebut.

2. Cysticercus sekulosa, Taenia solium.
Predileksi atau tempat hidupnya pada manusia adalah di usus halus.
Parasit ini lebih berbahaya jika dibandingkan dengan T. saginata karena pada manusia, selain terinfeksi cacing juga dapat terkena oleh cysticercusnya yang dapat mencapai otak dan dapat menimbulkan penyakit yang parah seperti epilepsi sampai menimbulkan kematian.
Selain itu juga dapat menyebabkan autoinfeksi oleh karena taeniasis dan cysticerkosis.

3. Strongyloides stercoralis.
Parasit ini dapat menyebabkan autoinfeksi. Perlakuan terhadap daging sebaiknya direbus dengan suhu 40-80 °C selama 1-2 jam, atau dengan penambahan air garam 25 %.

4. Trichinilosis, T. spiralis
Parasit ini hidup di usus (dewasa), di otak (larva), diafragma, faring, ginjal, otot, perut dan daging diantara tulang rusuk.
Sering menginfeksi manusia, babi dan anjing.

5. Echinicoccus granulosus
Parasit ini terdapat pada sapi, kambing, dan babi. Predileksi cacing ini yaitu pada paru, limpa, ginjal dan perut/usus.

Daging yang tertular parasit-parasit ini harus dibuang atau diafkir agar tidak tertular dan menjaga daging tetap ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal).


Impor daging selalu mengundang kontroversi. Pro kontra impor daging ditanggapi beragam, berupa dukungan dan keberatan dari pihak-pihak terkait terutama yang banyak bergerak dalam komoditas ini, peternak, pengusaha, asosiasi dan organisasi-organisasi terhadap kebijakan pemerintah dalam impor daging tersebut. Perbedaan pendapat yang muncul bukan tanpa alasan, masing-masing mengajukan alasan dan dengan fakta-fakta pendukung yang masuk akal dan logis.

Ambil contoh, pemerintah melalui Departemen Pertanian telah mengeluarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 3.026 Tahun 2009 yang menyetujui impor daging tanpa tulang asal Brazil. Keluarnya Keputusan ini pun telah memacu perbedaan pendapat dikalangan pelaku peternakan. Pengusaha makanan dan minuman melelui Ketua Umum Gapmmi, Thomas Darmawan mendukung keluarnya keputusan tersebut dengan alasan kekurangan bahan baku daging sapi dalam negeri yang baru mencukupi 300 ribu ton/hari. Menurutnya kebutuhan daging nasional mencapai 600 ribu ton per hari.

Sementara itu, dari pelaku budidaya peternakan sapi, melalui Perhimpunan Peternak sapi kerbau Indonesia (PPSKI) menolak kebijakan impor daging ini. Penolakan ini cukup beralasan karena Brazil merupakan salah satu negara yang belum bebas penyakit mulut dan kuku(PMK). PMK menjadi salah satu penyakit pada sapi yang sangat ditakuti dan sangat berbahaya karena sifat zoonosanya (menular ke manusia).

Dari peternak sendiri, masuknya daging impor juga menimbulkan keresahan dan menghawatirkan jika pemasukan daging ini dapat mengancam usaha-usaha peternakan, daging lokal dikhawatirkan akan kalah bersaing dengan daging impor. Jika tidak dibatasi akan sangat mengancam industri peternakan dalam negeri.
Kontroversi-kontroversi di atas seharusnya tidak terjadi, dan peranan pemerintah harus mampu menengahi berbagai kontroversi yang muncul akibat peraturan yang dikeluarkan. Jalan tengah dari penyelesaian kontroversi semacam ini harus dicarikan solusinya, impor daging diperlukan untuk memenuhi permintaan yang sangat tinggi di dalam negeri yang jujur saja kita tidak dapat memenuhinya.

Akan tetapi usaha peternakan dalam negeri tidak boleh menjadi korban atas keputusan apa pun yang diambil Departemen Pertanian, apalagi yang menyangkut masalah penyakit sapi. Kita tidak mau negara kita yang dinyatakan bebas dari penyakit sangat berbahaya seperti PMK akan tertular gara-gara memasukkan daging, yang dapat menjadi pembawa virus penyakit. Kalau itu namanya sih bunuh diri atau orang edan.

Yang menarik dari kontroversi adalah kenyataannya kita masih belum mampu memenuhi permintaan daging dalam negeri. Dalam hukum ekonomi ada dalil yang menyatakan, permintaan lebih banyak dari suplai. Tingginya permintaan ini akibat konsumsi masyarakat yang semakin meningkat. Nah, sebetulnya kebijakan impor ini juga dipacu oleh kebutuhan kita yang semakin meningkat akan daging, jadi andil kita atas lahirnya kebijakan semacam ini sangat besar.
Jika berpatokan pada data konsumsi protein hewani asal ternak menurut standar gizi nasional adalah 4,5 gr per kapita per hari atau setara dengan 7,6 kg daging, maka dengan asumsi penduduk Indonesia saat ini sekitar 220 juta, untuk memenuhi target tersebut diperlukan daging sebanyak 1,672 juta ton. Dengan demikian untuk mencapai target konsumsi minimal saja, produksi daging dalam negeri sampai sekarang belum dipenuhi.

Impor daging dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Selama periode 2005 – 2009, kita masih mengimpor 40 % total kebutuhan daging sapi yang pada tahun 2009 mencapai 322,1 ribu ton. Meskipun pertumbuhan populasi sapi dalam negeri meningkat tetapi masih belum mampu memenuhi kebutuhan daging sapi. Kebutuhan yang besar itu akhirnya membuat ketergantungan dengan pasokan daging sapi impor semakin besar, dan pada kenyataannya selain impor daging, impor sapi hidup juga dilakukan.

Setiap tahun, Indonesia mengimpor rata-rata 500 ribu ekor sapi bakalan dari Selandia Baru dan Australia, ditambah sekitar 70.000 ton impor daging beku dari Selandia Baru, Australia, Amerika Serikat, dan Kanada. Populasi sapi potong di Indonesia tercatat 11,8 juta ekor dengan tingkat pertumbuhan selama empat tahun terakhir sebesar 2,47 persen, relatif stagnan dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 4 %.

Dari total populasi sapi tersebut, sekitar 1,7 juta ekor dipotong setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena permintaan daging yang terus naik, maka yang dilakukan adalah meningkatkan populasi sapi.

Mantan Direktur Perbibitan Direktorat Jenderal Peternakan, Sjamsul Bahri, menyatakan pada tahun 2005 impor sapi tercatat 560.000 ekor atau 28,5% dari kebutuhan. Tahun 2007 impor sapi akan mencapai 1.000.000 ekor atau 50% dari total kebutuhan. Lebih jauh lagi, menurut pernyataan tersebut, 6 tahun ke depan (2013) impor sapi potong akan mencapai 1.200.000 ekor, atau setara 60% kebutuhan nasional. Bahkan beliau mengkhawatirkan pada 2020 nanti Indonesia bakal tidak punya ternak sapi lagi untuk dipotong. Artinya, pada titik itu kebutuhan daging sapi akan sepenuhnya tergantung kepada impor.

Daripada ribut akan impor daging, hal bijaksana yang dapat dilakukan adalah menggalakkan kembali usaha budidaya peternakan dalam negeri, mulai dari pembibitan dan pengembangan plasma nutfah lokal yang mempunyai keunggulan-keunggulan. Pembentukan dan pengembangan daerah-daerah atau lumbung ternak dengan memadukan unsur teknis dan non teknis yang dapat meningkatkan produktivitas ternak, perlunya pengembangan ternak-ternak lainnya sebagai substitusi daging sapi yang selama ini menjadi andalan atau paling banyak dikonsumsi masyarakat.

Dari data di atas kita belum mampu berswasembada daging untuk saat ini dan telah diakui pemerintah. Karena itu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging, mau tidak mau harus mengandalkan impor, akan tetapi berswasembada daging khususnya daging sapi bukan tidak mungkin, ketergantungan pada impor dapat dikurangi bahkan ditiadakan asalkan seluruh komponen bangsa, masyarakat pembudidaya (petani-peternak), pemerintah, pengusaha dapat bersinergi membangun harmonisasi dalam rangka pembangunan peternakan di masa-masa sekarang dan akan datang.

Sudah saatnya kita semua mencanangkan kembali tekad berswasembada daging karena sesungguhnya seluruh komponen penunjang kita miliki baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia. Yang belum maksimal dikerjakan adalah ketika rencana dan rancangan program yang digelentorkan tersusun rapi, tidak selalu diikuti dengan program aksi nyata yang dapat menunjang pelaksanaan dari program itu sendiri. Katakan misalnya contoh sederhana, salah satu program yang mendukung kecukupan daging adalah melalui peningkatan populasi baik melalui perkawinan alami maupun melalui teknologi inseminasi buatan (IB). Ketika peternak sudah terlanjur “jatuh cinta” mengawinkan sapinya melalui inseminasi buatan, ketersediaan bibit atau semen beku di tingkat lapangan (inseminator) ternyata kosong. Walhasil peternak gagal mengawinkan sapinya dan harus menunggu lagi pada masa birahi berikutnya.

Contoh di atas merupakan secuil kendala dalam program-program skala nasional seperti swasembada daging, dan tentunya masih banyak kendala yang harus ditangani dengan sungguh-sungguh. Kata kunci barangkali sebagai jalan keluar adalah rencana program dan rencana aksi harus benar-benar sinkron dari pusat sampai ke daerah-daerah termasuk petugas teknis dan peternak di tingkat bawah.

Daging kita kenal sebagai salah satu sumber protein asal hewan yang sangat dibutuhkan tubuh. Protein ini dibutuhkan oleh tubuh sebagai zat pembangun, misalnya untuk pertumbuhan badan dan penggantian sel-sel yang telah rusak. Selain mengandung zat utama protein, daging juga mengandung zat-zat lain yang berguna untuk kepentingan proses fisiologis tubuh manusia. 

Zat lemak yang dikandungnya dapat meningkatkan energi di dalam tubuh sehingga dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh. Kandungan zat kalsium dan fosfor bermanfaat untuk pembentukan tulang dan gigi. Kandungan zat besi bermanfaat untuk pembentukan sel darah merah atau hemoglobin.

Bagian penting dalam pemotongan hewan baik sapi, kerbau, kuda dan kambing selain daging dan yang banyak disukai oleh masyarakat adalah jeroan terutama paru-paru, hati dan jantung.
 
Untuk mengetahui dan mengenali daging yang baik telah dibahas pada tulisan sebelumnya (lihat pada daging yang baik dan sehat), dan kali ini yang akan dibahas adalah kelainan yang mungkin saja ditemukan pada organ paru, hati maupun jantung ketika kita berbelanja di pasar tradisional maupun modern. 

Kelainan pada paru-paru Paru-paru yang normal seperti warna merah muda, konsistensi kenyal, mengapung di air, dan pinggirnya atau permukaan licin.
Apabila keadaan paru-paru yang dijumpai menyimpang dari ciri-ciri yang normal, maka bisa dipastikan paru-paru itu mengalami kelainan, bisa karena hewan yang dipotong memang sakit atau juga karena proses penyimpanan pasca pemotongan.

Istilah-istilah pada kelainan paru yaitu, Atelektasis, suatu keadaan dimana paru-paru mengandung udara dan paru-paru tampak mengecil, penampang potongannya licin dan bila dimasukkan ke dalam air (wadah yang berisi air), maka paru tersebut akan tenggelam. Keadaan ini disebabkan oleh tekanan atau bersifat kongenital.

Emphysema, merupakan suatu keadaan dimana kandungan oksigen dalam paru-paru berlebihan. Keadaan ini disebabkan oleh penyumbatan bronchi karena makanan, lendir, infestasi cacing, kejang pada bagian otot yang lain sehingga paru-paru ikut kejang, keadaan pada bronchi yang pecah. Paru-paru yang seperti ini harus ditolak atau afkir dan jangan dikonsumsi. 

 Hiperemi, yaitu keadaan paru-paru yang mengalami kemerahan karena paru-paru terbendung/tersumbat. Biasanya paru mengalami hiperemi ketika paru mengalami peradangan. Paru-paru berwarna gelap dan terjadi perdarahan ptekie. Konsistensi paru padat hingga normal, warna merah, licin dan basah.  

Hipostasis, yaitu hiperemi pasif dari paru-paru sebelah bawah. Hal ini disebabkan oleh kelemahan pada jantung. Paru-paru berwarna merah tua, gemericik (karena menetesnya darah berwarna merah gelap), paru lebih padat dari normal dan pada keadaan ini paru-paru tersebut kekurangan suplai oksigen. Paru-paru yang mengalami hipostasis harus ditolak/diafkir.  

Oedema pulmonum, yaitu terdapatnya cairan serous dalam paru. Paru-paru berwarna merah gelap, konsistensi lembek dan terdapat gelatin. Potongan paru melayang. Keputusan akhir yaitu paru-paru harus ditolak.  

Perdarahan ptekie, adalah perdarahan pada paru dan terdapat dimana-mana, ada plek kecil. Hal ini disebabkan karena pembendungan pada jantung sebagai salah satu gejala kematian/penyakit sudah parah. Keadaan seperti ini sering ditemukan pada sapi atau ternak potong lainnya yang terinfeksi Anthrak, Septikemia Epizootika, dan Brucellosis.

Aspirasi darah, Terjadinya aspirasi darah pada paru ini disebabkan ketika pemotongan trakea pada waktu penyembelihan, sehingga jaringan paru terciprat oleh darah. Paru-paru juga berisi udara dan terdapat bekuan-bekuan darah dari bronchi. Paru yang semacam ini ditolak/diafkir dan tidak layak konsumsi.

Aspirasi oleh makanan, Terjadi ketika pemotongan esophagus dan trachea pada waktu penyembelihan. Makanan yang masuk di esophagus dan trachea selanjutnya masuk ke bronchi dan alveoli paru sehingga terjadi emphysema. 

Pneumonia, Terdapat beberapa jenis perubahan paru akibat pneumonia yaitu fibrinosa: bersifat hemoragis sampai dengan kerapuhan; hiperemi yang ditandai dengan kebengkakan, paru padat dan licin serta berwarna merah tua.
  
Hepatisasi merah, dijumpai paru-paru bengkak, berwarna merah tua sekali, kering dan berbiji. Paru-paru seperti ini harus dibuang dan tidak layak konsumsi.  

Hepatisasi abu, Pada hepatisasi abu ini paru Nampak berwarna abu, kering dan licin.  

Paru-paru lisis, Paru penampangnya basah, lembek, ada pleuritis fibrinosa dan terjadi trombose paru-paru.  
Broncho pneumoni kataralis, keadaan paru seperti karet, licin, sangat basah dan ada gelembung udara. Hal ini disebabkan karena terdapatnya eksudat serous seperti pada pneumonia fibrinosa, terdapat gelatin.  

Pneumonia purulenta/supurativa/apostomosa, Pada keadaan ini paru-paru Nampak berwarna putih kekuningan. Terdapat nanah dalam paru-paru.  

Nekrobasilosa paru, Pada paru-paru dijumpai nekrosa basillus memanjang. Bila menyebar dapat mengenai hati. Actinomycosis paru-paru, Keadaan ini tidak banyak ditemukan. Bentuk paru-paru berupa bungkul-bungkul dan terisolir dalam jaringan ikat.  

Parasit di Paru-paru, Parasit yang dapat dijumpai berupa Echinococcus dan Strongylosis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah meneliti laporan di Inggris dan AS tentang adanya virus flu babi yang resisten terhadap obat Tamiflu pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang tertekan.

Lembaga Perlindungan Kesehatan Inggris (HPA) menyatakan, lima kasus telah dikonfirmasi di Wales mengenai sejumlah pasien yang terinfeksi virus H1N1 yang resisten terhadap Oseltamivir - nama generik obat antivirus Tamiflu keluaran Roche dan Gilead Sciences Inc.

Semua pasien tersebut mengalami kondisi serius yang menekan sistem kekebalan tubuh mereka sehingga memberi virus itu kesempatan lebih baik untuk menjadi resisten daripada biasanya. Dilaporkan HPA, strain virus yang tahan obat tersebut barangkali telah menyebar dari orang ke orang.
"Kami telah melihat laporan itu, kami perlu menelitinya," kata Thomas Abraham, juru bicara WHO di Jenewa.

U.S. Centers for Disease Control and Prevention pekan lalu juga melaporkan empat kasus H1N1 yang resisten terhadap Tamiflu di Duke University Hospital di North Carolina. Semua pasien itu dikatakan sakit parah dengan sistem kekebalan tubuh yang terancam dan kondisi medis yang sangat rumit.

Juru bicara WHO itu mengatakan, kedua laporan itu melibatkan ketahanan terhadap Tamiflu pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat tertekan.

"Kami akan melihat apakah kami perlu melakukan tindakan tambahan guna melindungi kelompok pasien yang rentan ini. Itu mungkin berarti bahwa mereka menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan orang lain," kata Abraham.

Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang tertekan, seperti mereka yang menjalani kemoterapi atau menderita HIV, lebih mungkin untuk menderita sakit karena tertular.

WHO sebelumnya telah melaporkan beberapa kasus virus yang resisten terhadap Oseltamivir, tetapi kasus-kasus seperti ini langka. Abraham, yang ditanya apakah kasus di Wales akan menjadi yang pertama penularan orang-ke-orang, menjawab; "Sejauh yang saya ketahui, ada kemungkinan tapi itu tak pernah terlihat secara pasti".

Menurut data WHO, virus H1N1 telah menewaskan sedikitnya 6.700 orang di seluruh dunia. Kebanyakan orang menderita gejala ringan seperti nyeri atau demam, tapi pulih tanpa perawatan khusus.

Secara terpisah, WHO menyatakan pihaknya sedang menyelidiki apakah mutasi pada rangkaian influenza H1N1, yang dideteksi belum lama ini di Norwegia pekan lalu, mengakibatkan gejala paling parah di kalangan mereka yang terinfeksi.

Norwegian Institute of Public Health, Jumat lalu, menyatakan mutasi dapat mempengaruhi kemampuan virus tersebut untuk masuk lebih dalam lagi ke sistem pernafasan, sehingga mengakibatkan sakit yang lebih serius.

“Ini adalah masalah besar yang sedang kami teliti. Jika mutasi itu pada kenyataannya berkaitan dengan kasus parah, maka kami benar-benar perlu tahu mengenai itu. Ini mungkin menjadi tanda. Kami perlu menyelidiki. Sementara ini, tak ada bukti mengenai hubungan khusus dengan kasus parah,” kata Abraham.

Sejauh ini, lanjut Abraham, obat antivirus dan vaksin efektif menangkal bentuk mutasi. Sudah ada empat kasus virus yang bermutasi pada pasien di Norwegia menyusul mutasi serupa pada virus H1N1 di beberapa negara lain sejak April. Negara-negara tersebut adalah Brazil, China, Jepang, Meksiko, Ukraina dan Amerika Serikat.

Sumber: Kompas.com

Peternak, khususnya peternak sapi, mungkin sangat mengharapkan ternaknya bunting. Berbagai usahapun dilakukan, mulai dari mengawinkan secara alamiah hingga mendatangkan mantri hewan ataupun dokter hewan untuk kawin suntik atau inseminasi buatan (IB).

Tapi apa jadinya jika kebuntingan tidak terjadi, meskipun telah nampak perut membesar dan tidak birahi. Pembesaran perut dan tidak terjadinya birahi dalam waktu yang cukup lama bukan berarti sapi sedang bunting. Karena ada juga penyakit yang tanda klinisnya mengarah pada kebuntingan, yaitu pyometra. Apa sebenarnya pyometra?

Pyometra berasal dari dua kata, yaitu pyo yang artinya nanah dan metra yang artinya uterus. Pyometra merupakan penyakit dimana terjadi penimbunan nanah pada uterus akibat terjadinya endometritis kronis. Untuk memastikan apakah sapi tersebut bunting atau mengalami pyometra, sebaiknya dilakukan pengamatan fisik dan pemeriksaan, tepatnya eksplorasi rektal.

Pada pemeriksaan fisik, sapi yang mengalami pyometra akan menunjukkan pembesaran perut yang simetris. Hal ini terjadi karena nanah yang tertimbun dalam uterus akan mengisi kedua kornu. Badan kelihatan kurus dengan bulu yang kusam. Pada saat sapi berbaring, akan keluar kotoran berupa nanah dari lubang vagina. Sebaliknya yang terjadi pada sapi yang bunting. Pembesaran perut mengarah ke kanan, karena di sebelah kiri terdapat rumen, sehingga pertumbuhan fetus akan ke kanan. Badan kelihatan gemuk dengan bulu yang mengkilat. Selain itu, tidak ada kotoran yang keluar dari lubang vagina.

Hasil eksplorasi rektal menunjukkan bahwa penyebab pembesaran perut yang simetris pada pyometra adalah karena nanah mengisi kedua kornu uterus. Mukosa uterus terasa lebih tebal dari normal, dan jika uterus ditekan akan berfluktuasi karena ada tekanan balik dari cairan dalam uterus. Tidak ditemukannya karunkula, arteri uterina mediana tidak teraba dan tidak ditemukannya fetus dalam uterus.

Beda halnya jika sapi tersebut bunting, melalui eksplorasi rektal akan ditemukan fetus yang hanya tumbuh pada salah satu koruna, dan koruna lainnya tetap kecil. Dinding uterus menipis, mengikuti pertumbuhan fetus. Arteri uterina mediana teraba dan karunkulapun teraba pada dinding uterus.

Sumber: Achoiro Wati Rasid (www.vet-indo.com)


Kementerian kesehatan Turki mengatakan angka kematian akibat flu babi H1N1 di negara itu telah bertambah menjadi 241 orang.

Kementerian itu mengumumkan angka itu hari Kamis, seraya menambahkan bahwa lebih dari 223 lainnya masih dirawat di rumah sakit karena penyakit itu, termasuk 86 orang dalam perawatan intensif.

Kematian akibat flu babi telah naik tajam di Turki, sejak kematian pertama dilaporkan pada bulan Oktober.

Turki mulai kampanye vaksinasi besar-besaran awal November dengan sasaran para pekerja kesehatan, anak-anak, wanita hamil, dan orang-orang yang mungkin sangat rentan terhadap virus itu.

Di Hongkong, Gejala Flu Babi Meningkat Tajam
Penyakit virus flu babi atau A/H1N1 di Hongkong meningkat tajam. Dalam sepekan terakhir tercata sejumlah 1.673 pasien memperlihatkan gejala flu itu mendatangi Klinik Flu, menurut Otoritas kesehatan Hong Kong.

Seorang korban virus flu babi atau A/H1N1 meninggal sehingga jumlah kematian akibat flu mematikan di Negara itu tercatat 43 orang.

Pasien meninggal itu adalah seorang remaja pria berusia 20 tahun yang awalnya diketahui menderita leukimia, namun belakangan ia memperlihatkan gejala flu dan segera dibawa ke rumah sakit pada hari yang sama, namun kondisi staminanya menurun sangat drastis. Pasien itu kemudian meninggal pada Rabu pagi ketika dinyatakan positif mengidap virus flu H1N1.

Di antara para pasien gejala flu babi itu, tercatat 106 pasien dinyatakan positif mengidap virus H1N1 yang saat ini dirawat di beberapa rumah sakit public.

Dari 106 pasien positif flu babi itu terdiri atas 86 dalam kondisi stabil, lima dalam kondisi serius, dan 14 pasien berada dalam kondisi kritis.

Sumber: Yahoonews.com,(dari voanews.com,kompas.com)

Q fever merupakan penyakit yang bersifat zoonosis yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Hewan ternak yang dapat terserang adalah sapi, kambing, domba maupun ternak ruminansia lain.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, melalui makanan asal ternak terinfeksi seperti daging, susu, produk ternak lainnya maupun oleh partikel debu yang terkontaminasi agen penyebab. Q fever telah menjadi problem kesehatan masyarakat di banyak negara seperti Amerika, Prancis, Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, Kanada, Jepang, Australia, Thailand, Taiwan, dan Malaysia.

Bahaya Zoonosis Q Fever
Penyebab Q fever adalah bakteri Coxiella burnetii (C.burnetii). Gejala klinis Q fever pada manusia yang tampak adalah demam seperti gejala influenza dan seringkali diikuti dengan radang paru. Penyakit Q fever seringkali bersifat menahun dan menimbulkan kondisi yang fatal yaitu mengakibatkan kegagalan fungsi hati, radang tulang, radang otak, gangguan pada pembuluh darah dan yang sering terjadi adalah peradangan jantung (endocarditis) yang berakibat fatal (Rice dan Medico 2005).

Negara Amerika bahkan menempatkan C.burnetii sebagai salah satu mikroorganisme yang berpotensi sebagai senjata biologi (CDC 2003). Laporan APEC (2005) menyatakan adanya 13 penderita Q fever pada manusia di Colorado. Hal ini lebih menegaskan lagi bahwa Q fever masih merupakan masalah di benua Amerika.

Epidemiologi Q Fever
Penelitian tentang Q fever di beberapa negara sudah demikian maju, bahkan sekuensing genom dari C. burnetii secara lengkap sudah dilakukan (Seshadri et al. 2003). Hal ini mengingat C. burnetii mempunyai potensi untuk dipakai sebagai senjata biologis. Laporan epidemiologi dari banyak negara menyebutkan bahwa orang yang sering kontak langsung dengan ternak, seperti peternak, pekerja rumah potong, masyarakat yang tinggal di daerah kumuh (urban area) berpeluang besar terserang Q fever.

Indonesia dengan jumlah penduduk yang sebagian besar adalah petani yang tidak terlepas dari hewan ternak serta banyaknya lokasi kumuh di perkotaan sangat rentan terhadap infeksi Q fever.

Penelitian terhadap penyebab Q fever di Indonesia sampai saat ini belum pernah dilaporkan. Hal ini bukanlah karena tidak ada kasus Q fever, tetapi lebih disebabkan oleh gejala klinis bentuk akut infeksi Q fever yang tidak begitu menciri, seperti terjadinya pneumonia, keguguran ataupun tingginya kasus hepatitis dan endokarditis.

Temuan kasus klinik belum pernah didiagnosa kearah adanya Q fever, sehingga kurang menjadi perhatian oleh pemerintah dan masyarakat seperti halnya infeksi akut avian influenza (AI) ataupun Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Padahal dampak jangka panjangnya sangat membahayakan dan fatal bagi manusia.

Di sisi lain Indonesia merupakan pengimpor ternak terutama sapi baik sapi bakalan maupun daging beku dari Amerika, Australia, New Zealand dan beberapa negara lain. Pada tahun 2005 Indonesia telah mengimpor sapi sebanyak 700.000 ekor dari Amerika dan Australia (Raswa 2005). Selain itu era globalisasi akan meningkatkan arus lalu lintas perdagangan ternak dan juga mobilitas manusia, yang juga berdampak terhadap cepatnya penyebaran penyakit khususnya zoonosa seperti Q fever ataupun yang lainnya.

Penentuan diagnosis yang cepat dan akurat terhadap Q fever merupakan satu keniscayaan yang sampai saat ini terus dikembangkan di negara-negara maju sebagai upaya pencegahan dan terapi yang tepat dan cepat. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji penyebab Q fever pada ruminansia; sapi, domba dan kambing menggunakan teknik nested-polymerase chain reaction (nested-PCR).

Q Fever Pada Ruminansia
Hasil kajian diperoleh bahwa dari 410 total sampel ruminansia, 12 ekor sapi Brahman cross dan 6 ekor domba yang berasal dari Bogor, serta 3 ekor sapi Bali yang berada di Bali menunjukkan hasil positif. Sampel dari Kambing semuanya menunjukkan hasil negatif dengan nested-PCR. Sapi Brahman cross adalah jenis sapi impor yang berasal dari Amerika dan Australia. Negara-negara tersebut sampai saat ini masih belum terlepas dari masalah kasus Q fever (CDC 2003).

Hasil Pemeriksaan terhadap Sapi Bali
Dari 70 ekor sapi Bali yang diperiksa ternyata 3 ekor positif terhadap adanya C. burnetii. Sapi Bali yang diperiksa berasal dari kabupaten Karangasem yang merupakan daerah dengan populasi Sapi Bali terbesar di provinsi Bali yaitu 129.688 ekor. Sapi-sapi tersebut umumnya sebagian besar dikirim keluar daerah bahkan diantar pulaukan, hanya sebagian kecil yang dikonsumsi mengingat sebagian besar masyarakat Bali beragama Hindu tidak mengkonsumsi daging sapi.

Sapi Bali merupakan plasma nutfah yang dijaga kemurnian genetiknya dengan tidak memasukkan jenis atau strain sapi dari luar Bali. Oleh karena itu, dengan ditemukannya C. burnetii pada sapi Bali tersebut, merupakan suatu hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut, mengingat penellitian tentang Q fever pada sapi Bali yang ada di Bali baru pertama kali dilakukan maka hampir tidak ada data penunjang untuk dapat mengetahui bagaimana C. burnetii dapat menginfeksi sapi Bali.

Hal ini seperti yang diteliti Ejercito et al. (1993) tentang prevalensi C. burnetii pada ruminansia liar yaitu sebesar 69 % pada rusa liar di habitat aslinya yang terisolasi. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi juga belum dapat dijelaskan, mengingat data penunjang yang sangat minim. Kemungkinan adalah melalui caplak dan kutu yang berpindah, hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Adanya hasil uji PCR positif terhadap C. burnetii sebagai penyebab Q fever pada ruminansia di wilayah Indonesia merupakan suatu peringatan untuk mulai mempertimbangkan kembali tentang kebijakan impor sapi maupun daging sapi dari luar negeri secara khusus.

Tindakan uji penapisan terhadap Q fever pada ternak ruminansia yang diimpor dari luar negeri untuk menghindari dan mencegah penyebaran Q fever sudah sepatutnya mulai ditegakkan. Hal ini mengingat banyaknya vektor yang bisa menyebarkan Q fever dan daya tahan bakteri C. burnetii yang sangat tinggi di alam sehingga upaya pemberantasan menjadi sangat sulit dilakukan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dengan menggunakan metode nested-PCR maka telah dapat ditemukan adanya infeksi C. burnetii di Indonesia, khususnya pada sapi Brahman cross 6.86 %, sapi Bali 4.29 %, dan domba 5.71 %, sedangkan pada kambing dari Bali tidak ditemukan adanya infeksi C. burnetti

Saran
Perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam tentang Q fever meliputi pemetaan wilayah, uji serologis maupun penelitian tentang variasi genetik C. burnetii sehingga nantinya dapat diupayakan pembuatan imunoreagen diagnostik untuk penanganan yang tepat melalui diagnosa cepat dan akurat kasus Q fever pada hewan atau bahkan pada manusia.

Agus Setiyono, Staf Bagian Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor, Indonesia.
Sumber: www.vet-indo.com


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.