Januari 2010

Melalui surat No. 20041/HK/340/F/01/2010, hal SPP Pemasukan Bakalan Sapi Potong tertanggal 20 Januari 2010, Direktur Jenderal Peternakan telah mengeluarkan surat penghentian sementara penerbitan SPP Pemasukan Bakalan Sapi Potong, yang ditujukan kepada 26 Perusahaan Importir Bakalan Sapi Potong.

Agar dapat diperoleh informasi selengkapnya mengenai hal tersebut, bersama ini disampaikan kutipannya secara lengkap.

Memperhatikan dinamika pemasukan sapi bakalan dari Luar Negeri ke Wilayah Republik Indonesia yang tujuannya adalah untuk memenuhi kekurangan penyediaan Dalam Negeri, bersama ini kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Jumlah ternak yang telah diterbitkan (SPP) sampai dengan Desember 2009 adalah 1.118.672 ekor.
2. Realisasi impor sapi bakalan sampai dengan Desember 2009 adalah 765.485 ekor.
3. Stock akhir tahun sapi bakalan pada perusahaan importir per 31 Desember 2009 adalah 194.012 ekor atau 25,3 % dari total pemasukan sapi bakalan, belun termasuk realisasi dari SPP yang diterbitkan Bulan November - Desember 2009 yang masa berlakunya sampai dengan Maret 2010 dengan jumlah 63.900 ekor.
4. Realisasi SPP Tahun 2010 sampai dengan 18 Januari 2010 sebanyak 116.800 ekor yang merupakan proses pengajuan impor Bulan Desember 2009.

Berdasarkan data tersebut di atas, maka untuk sementara waktu penerbitan SPP dihentikan dengan ketentuan sbb:
1. Realisasi import dari SPP yang telah diterbitkan telah 700 %.
2. SPP akan tetap diterbitkan hanya untuk memenuhi kebutuhan Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS).
3. Ketentuan lebih lanjut akan diinformasikan kemudian.

Sumber: www.ditjennak.go.id


22 January 2009 -- The Ministry of Health of Indonesia has announced two new confirmed cases of human infection with the H5N1 avian influenza virus. A 29-year-old female from Tangerang District, Banten Province developed symptoms on 11 December 2008, was hospitalized on 13 December and died on 16 December. The investigation indicated that she visited a wet market to buy fresh produce, including chicken meat, on a daily basis. Household contacts were placed under medical observation, where none developed illness.

The second case, a 5-year-old female from Bekasi City, West Java Province developed symptoms on 23 December 2008, was hospitalized on 27 Dec 2008 and died on 2 January 2009. The investigation indicated that she visited a wet market to buy chicken meat and eggs two days prior to symptom onset. Contacts were placed under medical observation, where none developed illness.

Laboratory tests confirmed the presence of the H5N1 avian influenza virus in both cases.

Of the 141 cases confirmed to date in Indonesia, 115 have been fatal.

Sumber: www.who.int/ent

Monyet mempunyai konsep dasar matematika di kepala mereka. Hal itu ditemukan pada sebuah penelitian terbaru Universitas Tubingen, Jerman. Para peneliti membuktikan kalau primata tersebut memiliki kemampuan berhitung di kepala. Sekalipun yang dihitung hanya berupa titik di layar yang bertambah atau berkurang.

Selain itu, berdasarkan eksperimen, monyet juga bisa mengambil keputusan. Salah seorang pemimpin studi di Universitas Tubingen, Profesor Andreas Nieder percaya kalau temuan monyet menguasai matematika dasar sudah terprogram melalui evolusi yang panjang.

"Ini adalah versi ilmu matematika primitif yang menurut kami bisa menjadikan keuntungan bertahan hidup," kata Nieder seperti dikutip Telegraph, Senin (18/1). "Jika kau sedang mencari makan maka hal itu adalah sebuah keuntungan karena dapat memilih pohon yang memiliki buah beri lebih banyak di atasnya,” imbuh Nieder.

"Hal itu juga penting untuk monyet mengetahui berapa jumlah individu dalam kelompoknya. Kemudian membandingkannya dengan kelompok saingan sehingga dapat memutuskan menyerang atau mundur,” kata Nieder.

Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasikan dalam Proceeding of The National Academy of Sciences. Disebutkan, penelitian tersebut melibatkan monyet yang dilatih untuk mengenali jumlah titik yang ada pada layar melintas di depan mereka. Selanjutnya dibandingkan dengan dengan set berikutnya yang juga menunjukkan titik-titik.

Jika lampu merah di depan monyet dinyalakan, maka artinya ada lebih banyak titik pada gambar kedua. Begitu pula sebaliknya jika lampu biru yang menyala, artinya layar berisi titik yang lebih sedikit. Monyet yang membuat keputusan benar hingga 90 persen sekali waktu diberi hadiah sebuah apel atau air. Ini membuktikan bahwa monyet memang cerdas.(BJK/ANS)

Sumber: Liputan6.com

Menurut US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), wabah Salmonella sedang berkembang biak, karena ada 85 kasus infeksi Salmonella di 31 negara yang teridentifikasi, akhir Desember silam. Wabah salmonella sebelumnya dikaitkan pada hewan peliharaan kecil lainnya, seperti kura-kura. Tapi sekarang ini, wabah tersebut juga ditemukan pada katak, terutama kodok kurcaci Afrika. Demikian dilansir HealthDay News, Kamis (7/1).

Kebanyakan infeksi wabah ini terjadi pada anak-anak, kata penulis dan epidemiologi CDC, Shauna Mettee. Tanda-tanda pertama wabah ini terjadi April silam di Utah, tempat pejabat mengidentifikasi lima kasus infeksi Salmonella pada anak-anak. Kasus itu kemudian ditemukan di negara-negara lain, termasuk Colorado, Ohio, New Mexico dan California.

Seperti kura-kura, katak diketahui membawa Salmonella. Penyakit ini diberikan kepada manusia tidak hanya dengan menyentuh katak itu sendiri, tetapi dari air di akuarium. "Ada katak yang terkontaminasi Salmonella melakukan kontak langsung dengan manusia. Bahkan ketika anda menukar air di akuarium, beberapa Salmonella tetap berada di dalam air, kerikil akuarium atau permukaan lain di dalam tangki,”, Ujar Mattee.

Saat ini, US Food and Drug Administration melarang penjualan cangkang kura-kura yang panjangnya kurang dari 10 sentimeter, karena memiliki risiko tinggi Salmonella. Mettee tidak mengecilkan hati orang-orang untuk memelihara kodok ini, tetapi penting untuk mengikuti beberapa panduan sederhana agar Anda dan anak-anak terlindung dari wabah. "Jika Anda memiliki kontak dengan kodok, air atau habitat mereka, cuci tangan dengan sabun dan air secara menyeluruh,” katanya.

Di samping itu, akuarium tidak boleh dibersihkan di dekat tempat makanan. Jika tangki dibersihkan di bak mandi, bak mandi juga harus dibersihkan dengan pemutih dan air. "Kami juga merekomendasikan, akuarium tidak akan disimpan dalam sebuah kamar tidur anak," tambahnya.

Kebanyakan orang yang terinfeksi Salmonella mengembangkan diare, demam dan kram perut dalam waktu 12 hingga 72 jam setelah kontak dengan kuman. Infeksi biasanya bersih dalam jangka waktu lima hingga tujuh hari. Tapi, infeksi berat dapat terjadi, terutama pada bayi, orang tua dan orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Dalam kasus yang berat, infeksi Salmonella dapat menyebar dari usus ke aliran darah dan bagian lain dari tubuh, dan dapat menyebabkan kematian kecuali jika diberikan antibiotik.

Dr Pascal James Imperato, dari School of Public Health di SUNY Downstate Medical Center di New York, mengatakan, "Sudah lama bahwa katak, penyu, ular dan reptil lain, serta anak ayam dan anak bebek, dapat berfungsi sebagai pembawa sehat berbagai spesies salmonella yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia."(YUS)

Sumber: Liputan6.com


Sidang Badan Eksekutif Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memutuskan akan menyelesaikan pembahasan mengenai standar perjanjian pengiriman materi biologi (Standard Material Transfer Agreement/SMTA), khususnya untuk virus, pada Mei.

"Soal pengiriman virus, keputusan yang diambil dalam ’Executive Board Meeting’ adalah akan dilakukan pertemuan akhir pada bulan Mei 2010," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, Kamis.

Tjandra merupakan anggota delegasi Indonesia dalam pertemuan Badan Eksekutif WHO di Jenewa, Swis. Pembahasan masalah yang menyangkut pembagian keuntungan bagi negara pengirim virus serta penggunaan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) inovasi obat dan vaksin pada saat pandemi, menurut dia, juga akan dituntaskan pada bulan yang sama.

"Keputusan ini didukung oleh seluruh negara anggota ’Executive Board’ karena memang didahului dengan pertemuan konsultasi yang dihadiri negara maju dan negara berkembang," katanya.

Hasil pertemuan pada Mei tersebut, selanjutnya akan dibawa ke sidang kesehatan dunia (World Health Assembly).

Sebelumnya Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Hubungan Kerja Sama Internasional dan Kelembagaan, Makarim Wibisono menjelaskan bahwa pada dasarnya semua menyetujui penggunaan SMTA dalam pengiriman materi biologi.

Namun, kata dia, negara-negara maju tidak mau kalau ada substansi yang mengikat secara hukum dalam SMTA tersebut seperti yang dikehendaki negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Direktur Jenderal WHO kemudian menawarkan jalan tengah yakni agar penggunaan SMTA dilakukan secara bertahap dan pada tahap awal hanya diterapkan dalam sistem WHO."Jadi penggunaan SMTA hanya dilakukan untuk pengiriman virus ke laboratorium di bawah WHO saja, dari sistem WHO ke pusat riset atau perusahaan pengembang vaksin tidak pakai SMTA, hanya menggunakan panduan prinsip dari WHO,” katanya.

Namun Indonesia bersama negara-negara berkembang tetap berusaha memperjuangkan penggunaan SMTA dalam seluruh pengiriman materi biologi, di dalam maupun di luar sistem WHO.

Sementara terkait HAKI, ia menjelaskan, negara-negara berkembang menghendaki agar pada saat pandemi produsen pemegang vaksin dan obat menyerahkan HAKI atas produknya kepada WHO yang selanjutnya akan mengatur penggunaan HAKI secara bersama untuk memudahkan negara terdampak pandemi mengakses obat dan vaksin.

Sumber: Kompas.com


Daging merah dan kanker diibaratkan bagai sahabat karib. Berbagai literatur menyatakan bahaya makan terlalu banyak daging merah. Salah satunya adalah menimbulkan kanker. Tapi bagaimana daging merah bisa sampai menyebabkan kanker?.

Anjuran kesehatan yang mengatakan daging menyebabkan kanker berasal dari kesimpulan beberapa penelitian terhadap populasi orang Eropa di tahun 1990-an. Studi menunjukkan, orang yang sering makan daging lebih banyak yang terkena kanker dibanding dengan orang yang vegetarian.
Sejak saat itu, berbagai penelitian terus dilanjutkan untuk mengetahui lebih jauh dampak daging bagi kesehatan. Ada beberapa hipotesis mengenai hal ini, di antaranya daging mengurangi serat, antioksidan dan nutrisi penting lain yang terbukti efektif menangkal sel kanker.

Selain itu daging merah mengandung banyak lemak dan hormon yang sering ditambahkan pada produk ternak, hal ini akan meningkatkan hormon penyebab kanker, seperti kanker payudara atau kanker prostat. Daging juga tinggi protein, padahal protein akan memecah amonia yang bersifat karsinogenik pada manusia.

Daging yang dimasak dalam suhu tinggi juga bisa menimbulkan senyawa kimia penyebab kanker (karsinogenik) seperti hetercycil amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Studi pada tikus percobaan menunjukkan senyawa ini bersifat karsinogenik.

Jenis daging
Berbagai literatur menyebutkan daging merah meningkatkan risiko kanker. Daging yang perlu diwaspadai antara lain daging sapi, domba, kambing, babi, serta daging yang sudah diproses.

Selain jenis daging, perlu diperhatikan pula proses memasaknya. Daging yang diolah dalam temperatur sangat tinggi, baik digoreng atau dipanggang akan memproduksi HCA dalam jumlah besar. Pemasakan dalam waktu lama, seperti memasak steak, juga bisa menimbulkan senyawa karsinogenik.

Untuk mengurangi risiko kanker, para ahli menyarankan untuk mengganti konsumsi daging merah dengan daging putih. Alternatif lain adalah memilih daging organik atau daging yang berasal dari hewan yang dikembangbiakan tanpa pemberian zat antibiotik atau hormon.

Sumber: Kompas.com

“Jadikan perdagangan bebas ASEAN-China sebagai latihan menghadapi perdagangan bebas global. Kita harus memenangkan persaingan produk unggulan kita dan bersedia mengimpor produk bukan unggulan,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA.

Mengapa demikian?
Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN–China (ASEAN-China Free Trade Agreement atau ACFTA) yang mulai berlaku 1 Januari 2010 harus dijadikan latihan permulaan bagi kita menuju perdagangan bebas secara global. Pada ACFTA kita hanya bersaing secara regional yang tingkat pembangunannya relatif sama. Jika ternyata kita tidak mampu bersaing secara regional, maka tidak ada harapan bagi kita untuk bersaing secara global dengan negara-negara yang sudah jauh lebih maju daripada kita. Bila bersaing dengan China dan negara-negara ASEAN saja kita tidak mampu, di mana lagi kepercayaan diri bangsa ini?

Kita sudah cukup lama memproteksi pertanian kita. Saya ingat sewaktu saya menjadi Menteri Pertanian menerapkan kebijakan proteksi sekaligus promosi. Kita tidak biarkan produk pertanian Indonesia berhadapan dengan produk pertanian negara lain dalam perdagangan internasional secara tidak adil sehingga diterapkanlah kebijakan proteksi.

Tapi bila hanya proteksi, maka proteksi ini akan terus membesar. Oleh sebab itu sekaligus diterapkan kebijakan promosi sebagai upaya meningkatkan daya saing produk pertanian kita. Dengan pemikiran, pada suatu saat bila daya saing sudah meningkat, proteksi bisa dipreteli sedikit demi sedikit. Sampai saat ini kita sudah melakukan proteksi sekitar 10 tahun, barangkali sudah masanya dipreteli dan ACFTA ini merupakan ajang latihan yang bagus buat produk pertanian kita.

Dapat dikatakan dalam menghadapi ACFTA ini kita masih beruntung karena masih berada dalam situasi global excess demand dengan demikian harga produk-produk masih tinggi sehingga tidak terlalu sulit dalam persaingan. Namun harus disadari, suatu ketika akan terjadi global excess supply yang pada saat itu harga-harga akan turun dan produsen yang tidak efisien akan bangkrut. Dan dalam keadaan seperti itu hendaknya kita rela menyerahkan kepada negara lain yang mampu menghasilkan produk dengan biaya lebih murah.

Sumber: Agrina-online.com

Sebanyak 80 juta orang Amerika telah terserang flu babi H1N1, sekitar 16 ribu telah tewas dan lebih dari 360 ribu dirawat di rumah sakit. Demikian keterangan Pusat bagi Pencegahan dan Pemantauan Penyakit AS (Centers for Disease Control and Prevention/CDC), pekan lalu.

Namun, CDC melaporkan, 90 persen orang yang paling rentan tetap belum diberi vaksin, dan hanya sebanyak 61 juta orang Amerika telah divaksinasi. Vaksin flu babi masih banyak tersedia, dan lebih dari 130 juta dosis diproduksi dan 160 orang menjadi prioritas utama untuk memperoleh vaksin tersebut.

Wabah itu, yang mulai menyebar pada Maret, mulai mereda tapi para pejabat kesehatan menekankan bahwa influenza tak dapat diramalkan dan dapat muncul lagi atau bermutasi. Dan virus baru tersebut, meskipun tak merenggut lebih banyak korban jiwa dibandingkan dengan influenza musiman, telah menewaskan orang yang lebih muda dibandingkan dengan yang dilakukan flu musiman.

Sebanyak 90 persen kematian rata-rata setiap tahunan adalah orang yang berusia di atas 65 tahun. Sementara 90 persen mereka yang sakit parah atau meninggal akibat virus baru itu jauh lebih muda dan meliputi sebanyak 1.730 anak kecil.
Banyak ahli kesehatan mengatakan, vaksinasi sejauh ini adalah cara terbaik untuk memastikan virus itu tidak kembali atau bermutasi jadi bentuk baru yang lebih berbahaya. Tapi vaksinasi tersebut berjalan lambat dan masyarakat sekarang ragu mengenai perlunya divaksinasi.

Pemerintah AS berjuang selama berulan-bulan untuk bekerja sama dengan pembuat vaksin guna melakukan imunisasi. Sekarang, pemerintah berjuang menghabiskan jutaan dosis obat yang telah dibelinya. "Hingga 2 Januari, sebanyak 20,3 persen populasi AS (61 juta orang) telah divaksinasi, termasuk 27,9 persen dalam kelompok sasaran awal dan 37,5 persen di dalam kelompok vaksin terbatas," kata CDC dalam laporannya.

Sebanyak 29,4 persen anak AS yang berusia 6 bulan sampai 18 tahun telah divaksinasi. CDC menyatakan, jumlah itu sama dengan apa yang terlihat pada influenza musiman, yang menewaskan sebanyak 36 ribu orang Amerika dan sebanyak 500 ribu orang secara global setiap tahun. (Reuters/Antara)

Sumber: www.tvone.co.id


Penyakit flu burung kembali menyerang unggas di Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan dalam tiga hari terakhir yang mengakibatkan puluhan ekor ternak ayam mati.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Selatan, Agung Kusmartuti, di Kalianda, Minggu (17/1), mengatakan, serangan flu burung itu merupakan yang keempat kali terjadi di Kabupaten Lampung Selatan pada awal tahun 2010. Agung Kusmartuti menyebutkan, flu burung menyerang unggas di daerah yang berdekatan dengan pasar tradisional.

Dia mengatakan, jumlah ternak unggas yang mati di Dusun I Desa Gedungharta Kecamatan Penengahan mencapai 11 ekor. " Kami telah melakukan penyemprotan disinfektan ke sejumlah kandang unggas milik warga,” kata dia.

Agung mengatakan, penyebab tingginya serangan flu burung terhadap unggas di Kabupaten Lampung Selatan adalah tingginya lalu lintas ternak di daerah itu saat puncak musim hujan. "Sesuai prosedur tetap yang berlaku, pihak Disnak telah melakukan penyuluhan dan penyemprotan disinfektan ke sejumlah kandang ternak unggas milik warga untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran penyakit sangat mematikan itu,” katanya.

Kasus serangan flu burung di Kabupaten Lampung Selatan memasuki awal tahun ini telah terjadi sebanyak empat kali dengan jumlah ternak unggas mati sedikitnya 110 ekor. Selama Januari 2010, serangan flu burung terjadi di Desa Bangunan Kecamatan Palas, kemudian Desa Tajimalela Kecamatan Kalianda, Kecamatan Sripendowo, dan Desa Gedungharta Kecamatan Penengahan.

Agung mengharapkan, masyarakat berperan aktif dan bekerja sama dengan Dinas Peternakan untuk bersama-sama mewaspadainya, karena penularan flu burung tinggi di musim hujan. Dia meminta masyarakat harus mengantisipasinya dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mengandangkan ternak untuk menekan penularan flu burung, karena 17 kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan merupakan daerah endemis penyakit sangat mematikan itu. (Ant)

Sumber: www.tvone.co.id

Dirjen Peternakan Departemen Pertanian Dr. Tjeppy D Soedjana mengatakan ada tiga skenario dalam mencapai swasembada daging sapi 2014.

Ketiga skenario itu adalah most likely (paling mungkin), optimistik dan pesimistik. Ketiga skenario tersebut didasarkan kepada skenario produksi domestik dan impor, baik sapi bakalan maupun daging. ”Untuk itu diperlukan berbagai strategi pencapaian tergantung dari skenario yang akan dilakukan,” tambah Tjeppy D Soedjana saat memaparkan rancangan Blue Print Swasembada Daging Sapi 2014.

Produksi Domestik lanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh keadaan stok dalam negeri yang ditentukan dari angka kelahiran, angka kematian, mutasi ternak yang sangat ditentukan pula oleh mutu genetisnya.

Untuk skenario pesimistik maka target produksi domestiknya mencapai 90%, sehingga kita membuka kran impor sebanyak 10%. Sedangkan untuk skenario most -likely sepenuhnya kita mampu memenuhi konsumsi termasuk pengolahan dan tidak diperlukan lagi impor.

“Dan akhirnya untuk skenario optimistic apabila kita mampu (kurun waktu lima tahun) mencapai target melebihi tingkat konsumsi masyarakat sehingga memiliki peluang untuk ekspor (produksi surplus),” tambah Dirjen Peternakan.

Untuk skenario optimistik, pada tahun 2013 Indonesia diperkirakan sudah memiliki peluang untuk ekspor. Tetapi ketiga skenario ini memerlukan langkah-langkah dan strategi yang sesuai didukung oleh kemampuan genetis ternak dalam negeri serta sumber daya yang mendukungnya.

Untuk mencapai populasi skenario most likely diperlukan populasi domestik pada tahun 2014 yaitu sebesar 14,38 juta ekor. Artinya pada skenario ini populasi sapi diasumsikan tidak perlu mengimpor ternak sapi maupun daging dengan peningkatan populasi dan produksinya masing-masing 1,04% dan 11,09% dari skenario pesimistis.

Sedangkan untuk skenario optimistik diperlukan populasi domestik pada tahun 2014 yaitu sebesar 14,42 juta ekor. Artinya pada populasi tingkatan ini Indonesia telah memiliki kemampuan untuk mengekspor daging sebesar 46,76 ribu ton (10% dari produksi domestik) dengan peningkatan populasi dan produksinya masing-masing 1,34% dan 22,21% dari skenario pesimistis atau 0,29% dan 10,01% dari skenario most likely.

Sumber: Sinartani.com

Beberapa bulan lalu, sebagian besar masyarakat dunia sempat dicekam ketakutan oleh wabah mematikan, yakni varian flu H1N1. Betapa tidak, varian baru flu babi ini mengancam jutaan nyawa manusia. Di Inggris, diperkirakan 65.000 orang terancam meninggal akibat varian baru flu babi. Namun, seperti diwartakan BBC, sampai sekarang belum ada peringatan jelas terhadap bahaya penyakit ini.

Hasil penelitian pandemi terbaru terhadap virus H1N1 memang belum menghasilkan sesuatu yang berarti. Apalagi, hanya sedikit pemahaman tentang dunia virus yang tidak kasat mata. Kendati demikian, para ilmuwan tidak pernah berhenti meneliti.

Flu burung adalah penyakit pernapasan yang biasanya menyerang burung dan mamalia. Bermula dari virus influenza tipe A yang menyebar antarunggas, seperti di peternakan ayam dan kandang burung. Ternyata, virus dapat menular ke spesies lain seperti babi, kucing, anjing, harimau, bahkan manusia. Penyebaran dapat melalui udara, bersentuhan langsung atau lewat makanan yang dimasak secara tidak higienis.

Apabila virus berhasil memasuki tubuh manusia, maka akan berinkubasi selama tiga hingga lima hari. Gejalanya adalah demam tinggi, keluhan pernapasan dan terkadang pada perut. Jika gejala ini sudah menjangkiti tubuh, maka penanganan medis harus segera dilakukan. Terutama, buat mencegah terjadi kematian dan penyebaran virus lebih lanjut.(ANS)

Sumber: Liputan 6.com

Indonesia masih termasuk negara pengimpor unggas yang nilai impornya masih lebih besar ketimbang ekspor.

Hal itu dikatakan Direktur Program Pasca-sarjana dan Bisnis IPB, DR. Ir. Arief Daryanto, MEc di seminar nasional bertajuk Strategi Usaha Perunggasan dalam Menghadapi Krisis Global yang diselenggarakan oleh MIPI (Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia) baru-baru ini di Bogor.

Menurut Arief ada beberapa permasalahan yang menghambat industri unggas di Indonesia. Yang pertama penyediaan bahan baku pakan ternak yang masih kurang. Contohnya, untuk impor jagung mencapai 40-50 persen, bungkil kedelai mencapai 95 persen, sedangkan tepung ikan mencapai 90 persen. Yang terbesar adalah tepung tulang dan vitamin, yang hampir 100 persen impor. Kedua, adanya indikasi terjadinya ketimpangan struktur pasar, baik pada pasar input maupun pasar out-put yang menempatkan peternak dalam posisi lemah. Ketiga, kemitraan usaha perunggasan belum berjalan secara optimal. Terakhir adalah gejolak eksternal yang kerap menghantui, salah satunya adalah flu burung.

Dengan mengatasi semua permasalahan yang ada, diharapkan kondisi industri unggas di Indonesia akan dapat meningkat lebih pesat. Saat ini peningkatan industri unggas di Indonesia 62,3% jauh lebih cepat bila dibandingkan peran unggas di dunia.

Tri Hardiyanto, Ketua Umum GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional), mengatakan, bisnis perunggasan merupakan bisnis yang terkait dengan penyediaan produk makanan hewani yang bernilai strategis, peluang bisnis perunggasan masih terbuka lebar seiring dengan kenaikan jumlah penduduk dan perbankan. Oleh sebab itu perhatian pemerintah terhadap sektor unggas menjadi lebih besar. Salah satu langkah untuk mengatasi hal itu ialah dibuat Undang-Undang No. 18 tahun 2009. Dengan adanya undang-undang ini, penjualan unggas hidup akan semakin dibatasi.

Prof. Dr. Peni S. Hardjosworo, Ketua MIPI menambahkan konsumsi daging unggas hanya mencapai 15 persen. ”Sekarang kita sedang menggalakkan kampanye dengan mengambil contoh, memakan telur itu tidak menyebabkan kolesterol dan itu sudah ada penelitiannya, kita berharap pertumbuhan industri unggas di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. Kondisi itu dapat dilihat dari tingginya konsumsi daging unggas rakyat Indonesia.

Menurutnya, pemerintah harus menggalakkan program untuk meningkatkan potensi di sektor industri unggas. Seperti mengurangi ketergantungan kepada pihak asing, terutama dalam hal pakan ternak.

Sumber: Sinartani.com

Dunia veteriner tidak bisa lepas dari organisasi internasional yang membidangi kesehatan hewan. Yaitu OIE, World Organisation for Animal Health atau Organización Mundial de Sanidad Animal yang berkantor pusat di Paris, Perancis.

Untuk menambah wawasan tentang informasi global kesehatan hewan dunia, maka diharapkan dokter hewan Indonesia juga mampu mengikuti dan memahami apa yang menjadi kebutuhan sebagai pelayan kesehatan bidang kehewanan.
Disebutkan bahwa tidak hanya butuh sehat, kesejahteraan hewan pun juga harus dipenuhi. Akhirnya animal welfare issue menjadi tren pembicaraan seluruh dokter hewan sedunia.
Indonesia telah menjadi anggota OIE. Lalu bagaimana peran dokter hewan Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan hewan guna menuju kesehatan hewan dan kemakmuran manusia.
Berikut hasil resolusi sidang OIE ke dua yang dilaksanakan di Cairo, Mesir bulan Oktober 2008.
Resolusi

Mempertimbangkan bahwa:
• Pembangunan ekonomi dan sosial harus diarahkan sejalan dengan kesejahteraan hewan dan memiliki sebuah implementasi progresif yang layak berdasarkan standar OIE, dimana standar tersebut dapat diadaptasikan dengan situasi ekonomi dan kapasitas anggota OIE;
• Kesehatan hewan merupakan komponen utama dari kesejahteraan hewan;
• Bahwa salah satu tujuan OIE adalah untuk memfasilitasi perdagangan internasional hewan dan produk turunannya;
• Bahwa OIE merupakan organisasi rujukan yang unik dan secara global memberikan penjelasan
yang lebih detail tentang standar kesejahteraan hewan internasional;
• Rencana Strategis OIE telah mencakup kesejateraan hewan sejak tahun 2001 dan bahwa Rencana Strategis pada saat ini meliputi aksi, koordinasi, dan perencanaan gabungan antara kesejahteraan hewan terestrial dan aquatik baik pada level nasional, regional, dan global;
• Perlu diperhatikan bahwa beberapa standar swasta untuk kesejahteraan hewan tidak konsisten dengan standar OIE;
• Strategi regional OIE, yang berdasarkan pada standar global kesejahteraan hewan, merepresentasikan suatu visi yang merupakan gabungan dari visi pemerintah dan sektor swasta (sektor swasta terdiri dari berbagai macam sektor: termasuk di antaranya kesehatan hewan,kesehatan publik, industri yang meliputi produksi, transportasi, dan pemrosesan), serta sektor akademik dan penelitian;
• Standar kesejahteraan hewan sebaiknya secara demokratis dan transparan dapat diadopsi dan dilandaskan baik pada ilmu pengetahuan maupun etika (perlu digarisbawahi juga tentang sistem produksi dan pemanfaatan hewan oleh setiap anggota OIE) serta aspek terkait lainnya seperti lingkungan, kebudayaan dan agama;
• Informasi ilmu pengetahuan sebaiknya menjadi dasar pernyiapan standar internasional dan bahwa
hal ini seyogianya dievaluasi dengan layak dan divalidasikan berdasarkan kondisi dan konteks yang berbeda-beda yang terkait terhadap anggota OIE;
• Perlunya usaha untuk mempromosikan penelitian ilmiah, peningkatan kapasitas, pendidikan dan komunikasi di areal kesejahteraan hewan;
• Kinerja OIE yang sedang berlangsung saat ini masih
dalam pengayaan kapasitas Pelayanan Veteriner, dengan menggunakan piranti OIE yang berjudul Evaluation of Performance of Veterinary Services (PIE PVS Tool) Evaluasi Kinerja Pelayanan Veteriner (Piranti PIE PVS) serta landasan resmi dalam Kode Kesejahteraan Hewan Terestrial (Kode Terestrial)
• Dukungan yang berkelanjutan dari OIE untuk program ganda (kembar) yang melibatkan Pusat
Kolaborasi OIE;
• Beberapa topik dan isu yang relevan ditunjukkan pada Konferensi Globalke-2 tentang Kesejahteraan Hewan.

Kewajiban Anggota OIE
• Menciptakan atau memperbarui, jika perlu, undang-undang yang mencegah kekejaman terhadap hewan serta undang-undang yang menjadi landasan hukum bagi standar OIE untuk kesehatan hewan, keamanan produk yang berasal dari hewan sehingga bisa dikonsumsi manusia dan kesejahteraan hewan, serta mendukung petunjuk pemanfaatan praktek yang bagus untuk meningkatkan penerapan standar-standar OIE;Mendukung pengembangan program untuk edukasi dan penelitian ilmiah yang terkait dengan kesejahteraan hewan. Program-program edukasi sebaiknya diarahkan kepada para pemain kunci terutama para dokter hewan, pemilik ternak dan pengurus ternak, LSM, serta kategori target lainnya, misalnya para wanita dan anak-anak;
• Mempromosikan adopsi Deklarasi PBB tentang kesejahteraan hewan, termasuk penerapan standar kesehatan dan kesejahteraan hewan OIE;
• Menunjuk calon wakil negara untuk OIE kesejahteraan hewan, di bawah otoritas delegasi OIE serta mengembangkan program-program nasional;
• Meningkatkan sektor swasta untuk menghargai standar OIE dan tidak mengadopsi standar swasta yang bertentangan dengan standar OIE, terutama masalah impor produk yang berasal dari hewan dari negara-negara berkembang.

Kewajiban OIE
• Menyediakan dukungan teknis yang layak bagi Anggota dalam implementasi standar OIE,
termasuk Penyedian piranti yang relevan dengan:
1. Undang-undang veteriner.
2. Edukasi veteriner tentang kesejahteraan hewan.
3. Peraturan yang baik tentang pelayanan veteriner.
• Menjelaskan kewajiban Pelayanan Veteriner tentang kesejahteraan hewan dalam Kode Terestrial dan menyertakan referensi yang layak dalam Piranti PVS milik OIE;
• Bekerja erat dengan para donor dan organisasi internasional yang memiliki komitmen terhadap kesejahteraan hewan untuk membantu Pelayanan Veteriner serta para mitra untuk mengimplementasikan standar kesejahteraan hewan OIE;
• Melanjutkan kolaborasi di tingkat regional, denganmelibatkan perwakilan OIE regional dan sub-regional untuk mendukung pembangunan rencana strategis yang mengarah pada kebutuhan dan prioritas regional;
• Mengkampanyekan peran dan tanggung jawab Pelayanan Veteriner (yang meliputi dokter hewan sektor publik dan swasta) dalam kesejahteraan hewan dan mempromosikan dukungan teknis untuk edukasi veteriner dan penyediaan informasi tentang kesehatan dan kesejahteraan hewan, khususnya pada para pemilik dan pekerja yang menangani hewan;
• Berkolaborasi dan membentuk kerja sama dengan organisasi yang mewakili segala sektor
terkait pada rantai produksi dan distribusi tentang hewan dan produk turunannya untuk mengembangkan dan mempromosikan standar kesejahteraan hewan OIE sebagai rujukan utama untuk perdagangan nasional, regional, dan internasional serta mendorong sektor swasta untuk mengadopsi standar sektor swasta demi kesejahteraan hewan yang konsisten dengan standar OIE;
• Mempengaruhi tanggung jawab dalam membuat keputusan untuk penelitian ilmiah dalam pengembangan program-program baru yang mengatur prioritas kesejahteraan hewan;
• Mempromosikan pengembangan program ganda antara Pusat Kolaborasi OIE di bidang
kesejahteraan hewan;
• Melanjutkan upaya untuk meraih prioritas pembentukan standar yang dikembangkan oleh
Komite Internasional OIE dan juga prioritas untuk standar metode-metode yang manusiawi dalam mengontrol populasi anjing jalanan* serta kucing liar dan wabah spesies liar lainnya;
• Memikirkan pembentukan sebuah prosedur dalam menentukan prioritas untuk mengembangkan standar di masa depan.

Sumber: Koran PDHI (Drh. Luki K. Wardani)



Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam data terbarunya menyebutkan, dari jumlah korban, 6.880 terjadi di AS, sedangkan setidaknya 2.554 dilaporkan dari Eropa.

Empat wilayah WHO lainnya, yakni Pasifik Barat, Asia Tenggara, Laut Tengah Timur dan Afrika, dilaporkan masing-masing 1.361, 1.165, 708 dan 131 korban tewas akibat flu babi itu.

Perhitungan WHO tentang korban tewas secara global itu berdasarkan laporan jumlah terbaru yang tidak pernah diuji atau diakui sebagai berkaitan dengan influenza.

Virus flu A(H1N1) pertama kali dikenali di Meksiko April tahun lalu, dan WHO mengumumkan sebagai wabah influenza pada Juni.

Sejauh ini, virus itu telah menyebabkan infeksi di lebih dari 208 negara.

Sementara aktivitas wabah melewati puncaknya di banyak negara di belahan bumi utara, tercatat di AS, Kanada dan beberapa negara Eropa Barat, penularan virus flu H1N1 masih tinggi di banyak negara lainnya.

"Daerah yang paling aktif dalam penularan wabah influenza saat ini adalah di beberapa bagian tengah, timur dan tenggara Eropa, Afrika Utara dan Asia Selatan," kata WHO.

Dirjen WHO Dr Margaret Chan pekan lalu memperingatkan, bahwa wabah H1N1 belum lenyap dan dunia perlu melanjutkan pemantauan evolusi penyakit ini dalam beberapa bulan mendatang. [mor]

Sumber: Inilah.com

Penanggulangan penyakit rabies di Pulau Bali masih jauh dari yang diharapkan. Selain terus meluas ke daerah yang sebelumnya dinyatakan bebas rabies, penyakit itu terus memakan korban. Korban terakhir adalah WL (65), asal Jimbaran, Kabupaten Badung, daerah yang termasuk paling awal terkena serangan penyakit itu.

WL sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar, selama empat hari sebelum meninggal dunia hari Sabtu (9/1). Ia dibawa ke Sanglah sudah dalam kondisi fobia air dan cahaya, gejala utama serangan rabies.

Menurut Sekretaris Tim Penanganan Rabies Ken Wirasandhi, kemarin, pasien digigit di paha kanan sekitar enam bulan lalu dan ironisnya tidak pernah mendapatkan vaksin antirabies. WL menjadi korban tewas ke-22 akibat rabies di Bali.

Sejak rabies ditemukan pertama pada November 2008 di Jimbaran, vaksinasi massal telah digelar meliputi seluruh daerah ”kaki” Pulau Bali, yakni kawasan Jimbaran, Ungasan, Nusa Dua, dan Tanjung Benoa.

Rendah
Menurut praktisi hewan yang juga mantan penyidik pada Balai Penyidikan Penyakit Hewan pada Balai Wilayah VI Denpasar, Son Soeharsono, adanya korban baru selang lebih dari setahun setelah vaksinasi massal rabies digelar adalah penegas dari rendahnya cakupan program itu.

”Idealnya, cakupan vaksinasi adalah 70-75 persen, tetapi seperti terungkap di Bali hanya sekitar 45 persen. Adanya gigitan baru dan terbukti rabies hingga korban terus bertambah, berarti rantai penularannya belum terputus,” kata Son.

Populasi anjing di Bali diperkirakan 500.000 ekor. Rabies kini telah ditemukan di tujuh kabupaten/kota di Pulau Dewata dan hanya Kabupaten Klungkung dan Jembrana yang masih berstatus bebas rabies.

Tingginya jumlah gigitan anjing di Bali mempersulit penanganan sekaligus membengkaknya biaya. Hingga Desember 2009 tercatat terjadi 16.680 kasus gigitan anjing terhadap manusia, lebih banyak dari kasus serupa tingkat nasional yang rata-rata 16.000 kasus per tahun.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika, akhir pekan lalu, secara terang-terangan mengaku, Pemprov Bali masih berutang Rp 7 miliar untuk pengadaan vaksin antirabies (VAR). ”Kami sudah menghabiskan dana Rp 12 miliar untuk pengadaan VAR. Pemprov sebenarnya hanya menyiapkan dana Rp 5 miliar sehingga masih berutang di RSUP Sanglah sebesar Rp 7 miliar,” kata Pastika.

Ia meminta masyarakat untuk secara aktif mengandangkan anjing peliharaan bersamaan dengan gerakan eliminasi anjing liar sehingga dapat memutus penularan rabies. (BEN)

Sumber: Kompas.com

Pusat Rehabilitasi dan Konservasi Owa-owa Program Kalaweit Kalimantan Tengah membuka kesempatan bekerja kontrak selama satu tahun termasuk tiga bulan masa percobaan bagi dokter hewan atau paramedis hewan, dengan kualifikasi:

• Laki-laki atau perempuan.
• Penyayang hewan dan pekerja keras.
• Diprioritaskan memiliki pengalaman medis dengan primata.
• Mandiri sekaligus dapat bekerjasama dalam tim.
• Bersedia ditempatkan/standby di Pusat Rehabilitasi Owa-owa Pararawen yang berlokasi di Kabupaten Barito Utara.

Bagi peminat yang memiliki kualifikasi di atas, diharapkan mengirimkan lamaran yang memuat copy ijasah pendidikan yang relevan, CV dan foto diri terakhir ke Kalaweit Care Center, Jl. Pinus No. 28. Palangkaraya 73111, Telp (0536) 3226388, Cell: 081352939479 atau ke e-mail: emil.sais@yahoo.co.idpaling lambat tanggal 15 Februari 2010.

Sumber: www.vet-indo.com (dari Hamdani)

Oleh: Subur Tjahjono
Kami dituntun belajar dengan disiplin berfikir yang ketat, Bersikap kritis terhadap fenomena, Dengan kwantifikasi yang kuat, Disiplin berfikir, sikap kritis dan kwantifikasi ini, Ke arah mana pun dapat dipergunakan, setiap saat dapat dipergunakan….

Baris-baris puisi penyair Drh Taufiq Ismail yang ditulis Juli 2009 itu memang seperti apologi, karena ia memilih karier sebagai dokter hewan ”nonmedis”. Akan tetapi, kata-kata ini mewakili perjalanan panjang profesi dokter hewan di Indonesia, yang genap seabad tahun 2010 ini.
Momen langka ini dirayakan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dengan sekaligus meluncurkan buku 100 Tahun Dokter Hewan di Indonesia di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (9/1/2010).

PDHI telah bekerja keras mengumpulkan data dan informasi yang terserak di seluruh Indonesia untuk menyusun buku setebal 456 halaman itu setahun terakhir. Buku ini menjadi semacam ”buku biru” dokter hewan Indonesia.
"Bagi yang senior, buku ini untuk nostalgia. Bagi dokter hewan muda, kami berharap jadi buku pegangan," ujar Drh Agus Suryanata, ketua tim penyusun buku tersebut, yang sehari-hari adalah Direktur PT Primaimas Citra, distributor obat hewan.

Drh Sri Dadi Wiryosuhanto, mantan Ketua Umum Pengurus Besar PDHI, yang juga editor buku itu, menuturkan, asal mula pendidikan dokter hewan di Indonesia dilatarbelakangi dua hal. Pertama, mewabahnya penyakit hewan pada masa penjajahan Hindia Belanda yang sulit teratasi karena terbatasnya dokter hewan. Kedua, didorong politik etis di Belanda oleh Ratu Wilhelmina.

Pada masa itu, Pemerintah Belanda mendatangkan dokter hewan dari Belanda. Dokter hewan Belanda yang pertama kali datang ke Hindia Belanda bernama R.A Copiters, tahun 1820. Namun, umumnya mereka adalah dokter hewan militer yang bertugas di kavaleri, pasukan berkuda tentara Belanda.

Pada abad ke-19 itu mulai muncul penyakit-penyakit hewan yang sebelumnya tidak dikenal di Belanda. Penyakit-penyakit menular itu adalah sampar sapi (rinderpest) yang pertama ditemukan tahun 1875.

Tahun 1884 muncul penyakit ngorok pada kerbau (Septichaemia epizootica) dan radang limpa pada sapi (anthrax). Tahun 1886 ditemukan penyakit mubeng atau surra pada kuda.

Tahun 1887 ditemukan lagi penyakit mulut dan kuku (Apthae epizootica) pada sapi. Penyakit mulut dan kuku (PMK) ini adalah yang terdahsyat karena menyebabkan kematian ribuan sapi waktu itu.

Percaya atau tidak, pemberantasan PMK memakan waktu 100 tahun dan baru tahun 1990 Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties) menyatakan Indonesia telah bebas dari PMK.

Untuk mengatasi penyakit-penyakit tersebut, Pemerintah Belanda mendirikan sekolah dokter hewan di Surabaya tahun 1861, tetapi bubar tahun 1875. Tahun 1880, sempat pula didirikan sekolah dokter hewan oleh swasta, tetapi juga tutup tidak beberapa lama kemudian.

Karena penyakit hewan semakin mengkhawatirkan, anggota parlemen Belanda, Kuneman, pada 1892 mengusulkan agar pemerintah mencetak dokter hewan pribumi. Tahun 1893 sempat diupayakan Sekolah Dokter Hewan Pribumi di Surabaya, tetapi ditolak Pemerintah Belanda. Sekolah Dokter Hewan Pribumi (Inlandsche Veeartzen School) itu baru terwujud tahun 1906 di Bogor, Jawa Barat.

Tahun 1914, namanya menjadi Netherlands Inlandsche Veeartzen School. Sekolah ini ditutup tahun 1941 setelah menghasilkan 143 dokter hewan. Salah satu mahasiswanya adalah seorang laki-laki kelahiran Kakas, Minahasa, Sulawesi Utara, 30 Juni 1888, yaitu Johannes Alexander Kaligis. J.A Kaligis lulus tahun 1910.

"Tahun lulusnya menjadi pertanda 100 tahun dokter hewan Indonesia," kata Drh Sri Dadi.

Drh JA Kaligis selanjutnya bekerja di Balai Penyelidikan Penyakit Hewan (Veeartzenijkundige Institute) Bogor. Tahun 1918, Drh J.A Kaligis melanjutkan studi ke Faculteit Veeartzenijkundige Hoogeschool di Utrech, Belanda. Ia menulis skripsi tentang penyelidikan anaplasmosis pada sapi dan kerbau. Bersama Kaligis, ada tiga dokter hewan pribumi yang juga belajar di Utrech, yaitu FC Waworoentoe, Raden Soeratno, dan Mas Soetisno.

Kaligis bekerja di Den Haag, Belanda, sebagai penasihat dokter hewan Hindia Belanda. Drh JA Kaligis meninggal di De Bilt, Belanda, 31 Desember 1974. Namun, tahun 1980-an kerangka jenazahnya dipindahkan ke Minahasa.

Sekarang, sudah ribuan dokter hewan dilahirkan oleh paling tidak lima perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), yaitu Universitas Syah Kuala, Banda Aceh, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Universitas Airlangga, Surabaya, dan Universitas Udayana, Bali. Belakangan sejumlah perguruan tinggi mulai membuka FKH, seperti Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Dokter hewan Indonesia sudah bisa berbicara di tataran internasional. Di antaranya, Prof Drh Soeprawi, yang membuktikan penularan anthrax kepada manusia di Purwakarta tahun 1912 dan Pulau Roti 1922. Prof Dr Drh Tanjung Hadiwinata menemukan cacing Stephanofilaria, penyebab penyakit kaki gajah atau stephanofilariasis.

Ketua Umum PB PBHI Drh Wiwiek Bagja mencatat, ada 38 bidang yang bisa dimasuki profesi dokter hewan, antara lain teknologi pangan, perlindungan konsumen, legislasi, kesejahteraan hewan, karantina, perlindungan lingkungan, pengajaran, riset, pemasaran, ekonomi, dan publikasi.

Tahun 2010 ini, tantangan dokter hewan Indonesia semakin besar karena perdagangan bebas dunia mulai berlaku. Dokter hewan asing diperbolehkan bekerja di Indonesia. Untuk itu, PDHI bersama fakultas kedokteran hewan terus berupaya meningkatkan kualitas lulusan untuk bisa bersaing.

Sumber: Kompas.com

Pemotongan hewan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) harus dilakukan dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yang dalam hal ini Departemen Pertanian. Penetapan aturan maupun teknis pelaksanaan pemotongan di RPH dimaksudkan sebagai upaya penyediaan pangan asal hewan khususnya daging ASUH (aman, sehat, utuh dan halal).

Untuk mendapatkan daging ASUH yang bersumber dari RPH maka sudah seharusnya RPH memiliki prosedur operasional standar yang dijadikan dasar atau patokan dalam menyelenggarakan fungsi RPH sebagai tempat pemotongan, pengulitan, pelayuan dan akhirnya penyediaan daging untuk konsumen.
Prosedur operasional standar yang ditetapkan oleh Dirjen Peternakan Departemen Pertanian adalah sebagai berikut:
A. Tahap Penerimaan dan Penampungan Hewan, prosedur operasional meliputi:

  1. Hewan ternak yang baru datang di RPH harus diturunkan dari alat angkut dengan hati-hati dan tidak membuat hewan stress.
  2. Dilakukan pemeriksaan dokumen (surat kesehatan hewan, surat keterangan asal hewan, surat karantina, dsb).
  3. Hewan ternak harus diistirahatkan terlebih dahulu di kandang penempungan minimal 12 jam sebelum dipotong.
  4. Hewan ternak harus dipuasakan tetapi tetap diberi minum kurang lebih 12 jam sebelum dipotong.
  5. Hewan ternak harus diperiksa kesehatannya sebelum dipotong (pemeriksaan antemortem).
B. Tahap Pemeriksaan Antemortem:
  1. Pemeriksaan antemortem dilakukan oleh dokter hewan atau petugas yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan (Surat Keputusan Bupati/Walikota/Kepala Dinas).
  2. Hewan ternak yang dinyatakan sakit atau diduga sakit dan tidak boleh dipotong atau ditunda pemotongannya, harus segera dipisahkan dan ditempatkan pada kandang isolasi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
  3. Apabila ditemukan penyakit menular atau zoonosis, maka dokter hewan/petugas yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan harus segera mengambil tindakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.
C. Persiapan Penyembelihan/Pemotongan, prosedur operasionalnya:
  1. Ruang proses produksi dan peralatan harus dalam kondisi bersih sebelum dilakukan proses penyembelihan/pemotongan.
  2. Hewan ternak harus ditimbang sebelum dipotong.
  3. Hewan ternak harus dibersihkan terlebih dahulu dengan air (disemprot air) sebelum memasuki ruang pemotongan.
  4. Hewan ternak digiring dari kandang penampungan ke ruang pemotongan melalui gang way dengan cara yang wajar dan tidak membuat stress.
D. Penyembelihan:
  1. Hewan ternak dapat dipingsankan atau tidak dipingsankan.
  2. Apabila dilakukan pemingsaan, maka tata cara pemingsanan harus mengikuti Fatwa MUI tentang tata cara pemingsanan hewan yang diperbolehkan.
  3. Apabila tidak dilakukan pemingsanan, maka tata cara menjatuhkan hewan harus dapat meminimalkan rasa sakit dan stress (missal menggunakan re-straining box).
  4. Apabila hewan ternak telah rebah dan telah diikat (aman) segera dilakukan penyembelihan sesuai dengan syariat Islam yaitu memotong bagian ventral leher dengan menggunakan pisau yang tajam sekali tekan tanpa diangkat sehingga memutus saluran makan, nafas dan pembuluh darah sekaligus.
  5. Proses selanjutnya dilakukan setelah hewan ternak benar-benar mati dan pengeluaran darah sempurna.
  6. Setelah hewan ternak tidak bergerak lagi, leher dipotong dan kepala dipisahkan dari badan, kemudian kepala digantung untuk dilakukan pemeriksaan selanjutnya.
  7. Pada RPH yang fasilitasnya lengkap, kedua kaki belakang pada sendi tarsus dikait dan dikerek (hoisted), sehingga bagian leher ada di bawah, agar pengeluaran darah benar-benar sempurna dan siap untuk proses selanjutnya.
  8. Untuk RPH yang tidak memiliki fasilitas hoist, setelah hewan benar-benar tidak bergerak, hewan dipindahkan ke atas keranda/penyangga karkas (cradle) dan siap untuk proses selanjutnya.
E. Tahap Pengulitan:
  1. Sebelum proses pengulitan, harus dilakukan pengikatan pada saluran makan di leher dan anus, sehingga isi lambung dan feses tidak keluar dan mencemari karkas.
  2. Pengulitan dilakukan bertahap, diawali membuat irisan panjang pada kulit sepanjang garis dada dan bagian perut.
  3. Irisan dilanjutkan sepanjang permukaan dalam (medial) kaki.
  4. Kulit dipisahkan mulai dari bagian tengah ke punggung.
  5. Pengulitan harus hati-hati agar tidak terjadi kerusakan pada kulit dan terbuangnya daging.
F. Pengeluaran Jeroan:
  1. Rongga perut dan rongga dada dibuka dengan membuat irisan sepanjang garis perut dan dada.
  2. Organ-organ yang ada di rongga perut dan dada dikeluarkan dan dijaga agar rumen dan alat pencernaan lainnya tidak robek.
  3. Dilakukan pemisahan antara jeroan merah (hati, jantung, paru-paru, tenggorokan, limpa, ginjal dan lidah) dan jeroan hijau (lambung, usus, lemak dan esophagus).
G. Tahap Pemeriksaan Postmortem:
  1. Pemeriksaan postmortem dilakukan oleh dokter hewan atau petugas yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan.
  2. Pemeriksaan postmortem dilakukan terhadap kepala, isi rongga dada dan perut serta karkas.
  3. Karkas dan organ yang dinyatakan ditolak atau dicurigai harus segera dipisahkan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
  4. Apabila ditemukan penyakit hewan menular dan zoonosis, maka dokter hewan/petugas yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan harus segera mengambil tindakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.
H. Pembelahan Karkas, dengan tahapan:
  1. Karkas dibelah dua sepanjang tulang belakang dengan kampak yang tajam atau mesin yang disebut automatic cattle splitter.
  2. Karkas dapat dibelah dua/empat sesuai kebutuhan.
I. Pelayuan:
  1. Karkas yang telah dipotong/dibelah disimpan diruang yang sejuk (<10>
  2. Karkas selanjutnya siap diangkut ke pasar.
J. Pengangkutan Karkas:
  1. Karkas/daging harus diangkut dengan angkutan khusus daging yang didesain dengan boks tertutup, sehingga dapat mencegah kontaminasi dari luar.
  2. Jeroan dan hasil sampingannya diangkut dengan wadah dan atau alat angkut yang terpisah dengan alat angkut karkas/daging.
  3. Karkas/daging dan jeroan harus disimpan dalam wadah/kemasan sebelum disimpan dalam boks alat angkut.
  4. Untuk menjaga kualitas daging dianjurkan alat angkut karkas/daging dan jeroan dilengkapi dengan alat pendingin (refrigerator).

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat, Abdul Manaf Mustafa, mengatakan, dua kabupaten di provinsi itu hingga kini masih belum mempunyai dokter hewan.

"Kabupaten Melawi dan Sekadau sampai sekarang belum ada dokter hewan. Kabupaten Kubu Raya baru punya satu hasil rekrutmen tahun 2009," kata Abdul Manaf Mustafa di Pontianak, Rabu (6/1/2010).

Padahal, ia berharap pada penerimaan calon pegawai negeri sipil tahun 2009, pemerintah kabupaten yang belum mempunyai dokter hewan ikut mengajukan kuota ke pusat. “Mau tidak mau, penanganan terhadap masalah-masalah di bidang peternakan dan kesehatan hewan ditangani Pemerintah Provinsi,” kata dia.
Menurut Abdul Manaf Mustafa, ketersediaan dokter hewan di tingkat provinsi juga sangat terbatas. "Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar hanya punya 13 dokter hewan, padahal idealnya 30 mengingat potensi dan luas lahan di Kalbar," katanya.

Sedangkan, di tingkat kabupaten maupun kota, setidak-tidaknya mempunyai lima orang dokter hewan. Sementara untuk tingkat kecamatan yang sektor peternakannya potensial ada satu dokter hewan. "Minimal ada satu dokter hewan untuk kecamatan yang potensial dan bertetangga," kata Abdul manaf Mustafa.

Ia menambahkan, masalah kesehatan pangan juga belum mendapat perhatian serius dari beberapa kabupaten di Kalbar. "Masih ada beberapa daerah yang belum mempunyai instansi teknis yang menangani masalah peternakan dan kesehatan hewan. Kebanyakan digabung dengan instansi lain sehingga kewenangan kebijakan hanya sampai di tingkat kepala bidang," kata dia.

Beberapa program dari Pemerintah Pusat seperti rumah potong hewan akhirnya tidak berfungsi optimal karena dianggap bukan masalah yang penting. "Padahal, rumah potong hewan berkaitan dengan kesehatan pangan yang berdampak kepada manusia," katanya.

Selain itu, komitmen yang rendah dari beberapa pemerintah kabupaten dalam pencegahan penyakit hewan menular yang berbahaya dapat mengganggu program Pemerintah Provinsi Kalbar. Kalbar, lanjut dia, bertekad untuk bebas penyakit rabies. Sementara Kabupaten Melawi berbatasan dengan Kalimantan Tengah yang masih menjadi endemi penyakit rabies.

"Upaya yang dilakukan Pemprov Kalbar dengan merekrut tenaga kontrak untuk mengawasi lalu lintas perdagangan ternak di lokasi yang berbatasan dengan Kalimantan Tengah," kata Abdul Manaf Mustafa.

Sumber: Kompas.com

Sedikitnya 12.220 orang di seluruh dunia meninggal akibat flu A(H1N1) yang juga dikenal sebagai flu babi, namun wabah ini tampaknya mulai menurun, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Laporan WHO mengatakan, daerah-daerah yang paling aktif tertular virus itu pada saat ini adalah di Eropa Tengah dan Eropa Timur, dengan titik pusat dalam beberapa pekan terakhir ini di Georgia, Montenegro dan ukraina, menurut laporan BBC.

Bagian-bagian lain di Eropa Timur dan Eropa Selatan, meliputi dari Yunani, Bulgaria, Serbia, Ukraina dan wilayah Ural Rusia, juga diserang infeksi pernafasan, dan itu juga termasuk flu musiman yang sedang menyebar luas.

Meski belakangan ini fokus diberikan kepada H1N1, yang mulai diketahui April, WHO memperkirakan bahwa flu musiman juga menyebabkan tewasnya 250.000-300.000 orang di seluruh dunia, setiap tahun.

Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan, mengatakan bahwa wabah H1N1 - yang berusaha ditaklukkan secara luas dengan kampanye vaksinasi - mungkin tidak akan bisa ditundukkan sampai 2011, dan untuk itu diperlukan tetap waspada terhadap virus tersebut.

Di Asia sendiri, terutama di China, Jepang dan Taiwan, penularan juga tampaknya makin turun, kata WHO.

Sumber:www.tvone.co.id

Untuk antisipasi gelombang kedua pandemi H1N1 (flu babi) Dinas Kesehatan Provinsi DIY sudah me nyiapkan obat Tamiflu sebanyak 116.160 kapsul, Alat Pelindung Diri (APD) sebanyak 100 set dan investigasi kit sebanyak 20 set.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DIY dr Akhmad Akhadi me ngungkapkan hal itu di sela-sela acara Seminar Sehari Kesiapan Provinsi DIY dalam Meng hadapi Epidemi Influenza (H1N1), di Yogyakarta, Rabu (30/12). Data H1N1 di DIY hingga November 2009 sudah mencapai 69 suspect dan 27 positif serta dua orang meninggal. Sedangkan pada bulan Desember ini belum ada kasus H1N1 yang dilaporkan.

Sampai saat ini protokol untuk termo scanning dan body cleaner di Bandar Udara Adi sutjipto belum dicabut dan protokol itu tetap dilakukan untuk penerbangan internasional. Menurut dia, untuk menghadapi ge lombang kedua pandemi H1 N1 Dinas Kesehatan terus mem pelajari, menganalisis faktor risiko H1N1. Liburan Natal dan Tahun Baru serta liburan sekolah salah satu faktor risiko H1N1 karena di DIY didatangi banyak orang. Bisa saja orang yang datang itu membawa virus H1N1 dan virus tersebut bisa me nular langsung dari orang ke orang, sehingga kita mengantisipasi hal itu, jelas Akhmad.

Pandemi H1N1 adalah meluasnya penyakit H1N1 pada kelompok masyarakat pada sebuah kawasan dalam waktu bersamaan yang angka kejadiannya bertambah dalam waktu yang sangat singkat. Apabila dilihat dari sejarah, kata dia, pandemi H1N1 gelombang kedua itu kasusnya lebih parah, se perti pandemi H1N1 di Spanyol untuk gelombang kedua menyebabkan kematian hingga 25 juta orang.

Pandemi H1N1 gelombang pertama dan kedua di Spanyol terjadi pada tahun yang sama yaitu tahun 1918 dan ditemukannya bahwa pandemi yang terjadi di Spanyol tahun 1918 itu adalah pandemi H1N1 baru diketahui pada tahun 1930. Ada tiga hal yang disiapkan Provinsi DIY dalam menghadapi gelombang kedua pandemi H1N1 yaitu: membangun sistem, menyiap kan sumberdaya manusia dan menyiapkan kelengkapan.

Sistem sudah kita bangun untuk penanggulangan epidemi pandemi H1N1 atau influenza lain nya, berbasis kontingensi. Artinya, melibatkan seluruh instansi dan lembaga yang ada di DIY termasuk LSM, jelas dia.

Rumah sakit yang disiapkan untuk menangani pasien H1N1 apabila terjadi pandemi H1N1 selain RSUP Dr Sardjito dan RSUD Panembahan Senopati sebagai pusat rujukan, Dinkes juga sudah menyediakan rumah sakit lini kedua yaitu semua rumah sakit daerah dan semua rumah sakit swasta yang ada di provinsi DIY.

Akhmad menjelaskan pasien yang diduga H1N1 dan hanya influenza, tidak ada faktor pem berat bisa dirawat di rumah sakit lini kedua. neni ed: indra

Sumber: Republika.co.id

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia Margaret Chan memeringatkan agar semua pihak tidak berpuas dulu dalam upaya mencegah terjadinya pandemi flu babi. Ini karena virus influenza tersebut tidak bisa diramalkan dan masih bisa bermutasi.

"Satu hal yang kita butuhkan untuk menjaga dari perlawanan itu adalah rasa puas diri. Virus ini sangat sulit diprediksi. Kita seharusnya tidak terkejut. Itulah sebabnya WHO akan terus melacak evolusi. Kami akan mengawasi virus ini dengan mata elang," kata direktur jenderal WHO tersebut, Selasa (29/12.

"Tak seorang pun ingin melihat virus H1N1 bermutasi ke bentuk yang lebih berbahaya. Mari kita berdoa," tuturnya menambahkan.

Bahkan jika beberapa negara di belahan bumi utara telah melewati puncak gelombang kedua infeksi, Chan menunjukkan masih ada transmisi kuat di negara lain. "Terlalu prematur dan terlalu dini bagi kami untuk mengatakan bahwa kita telah mengakhiri pandemi influenza dari seluruh dunia," tegas Chan.

Virus H1N1 telah menewaskan sedikitnya 11.516 orang sejak pertama kali dideteksi pada bulan Maret. Penyebaran yang cepat membuat WHO menyatakan telah terjadi pandemi pada bulan Juni. Namun, lantaran sebagian besar pasien menunjukkan gejala-gejala yang ringan, badan PBB itu telah dikritik oleh beberapa pihak karena reaksinya yang dianggap berlebihan.

Chan menilai masyarakat cukup beruntung bahwa pandemi itu ternyata memiliki dampak yang lebih ringan dari yang dibayangkan."Fakta bahwa dampak pandemi influenza ini cukup lama adalah berita kesehatan terbaik dalam satu dekade ini," katanya.
Sumber: Kompas.com

Memberikan makanan pada hewan kesayangan terutama anjing dan kucing harus berhati-hati dan memperhatikan jenis makanan, kebutuhan gizi hewan, maupun jumlah makanan yang diberikan. Selain itu yang penting diperhatikan adalah memberikan makanan yang disenangi oleh hewan, akan tetapi juga harus memperhatikan jenis makanannya karena ada makanan-makanan tertentu yang tidak boleh diberikan.

Memelihara binatang membantu seseorang untuk lebih sehat secara mental. Akan sangat sedih jika melihat kucing atau anjing peliharaan sakit. Agar ia tak sakit, hindari makanan-makanan berikut:

1. Coklat
Cokelat bisa menstimulasi sistem saraf dan jantung semua spesies binatang, khususnya anjing. Efek yang ditimbulkan adalah muntah-muntah, kehausan, gelisah, peningkatan atau detak jantung tidak beraturan, demam, hingga kejang.

2. Anggur dan kismis
Anggur bisa merusak ginjal anjing dan kucing. Gejalanya antara lain, rasa haus yang meningkat, sering buang air kecil, lesu, dan muntah-muntah.

3. Bawang
Bawang putih dan bawang merah bisa merusak sel darah merah anjing dan kucing, sekaligus menyebabkan anemia. Ia akan menimbulkan gejala muntah-muntah, urin berwarna kemerahan, lesu, dan anemia.

4. Xylitol
Zat xylitol banyak digunakan pada permen karet. Zat ini berbahaya bagi anjing karena bisa meningkatkan sekresi insulin, yang mengakibatkan penurunan tingkat gula darah. Anjing akan muntah-muntah, lesu, kehilangan koordinasi, kejang, diare, dan menujukkan gejala penyakit kuning.

5. Minuman beralkohol
Semua binatang akan terpengaruh jika minum minuman beralkohol, karena minuman ini akan mempengaruhi sistem sarafnya. Disorientasi, muntah-muntah, diare, lesu, kehilangan koordinasi fungsi tubuh, sulit bernapas, kejang, hingga koma adalah hasilnya jika mereka menelan minuman beralkohol.

6. Adonan roti mentah
Adonan roti mentah akan menimbulkan gas di dalam perut anjing, yang bisa menimbulkan keracunan alkohol. Gejala yang ditimbulkan antara lain; muntah-muntah, disorientasi, diare, lesu, sulit bernafas, dan sebagainya.

7. Alpukat
Alpukat mengandung persin, yang bisa merusak otot jantung binatang. Kemungkinan yang terjadi adalah muntah-muntah, diare, lesu, dan kesulitan bernapas.
Untuk keterangan lebih lanjut mengenai makanan apa saja yang tak boleh diberikan kepada binatang peliharaan Anda, hubungi dokter hewan kepercayaan Anda.

Sumber: Kompas.com (dari Real Simple)

Sejak nenek moyang kita diakui keunggulan penggunaan pupuk organik terhadap perbaikan kesuburan tanah, namun tak ada artinya apapun jika kita tidak memikirkan masalah ketersediaan pupuk organik di lapangan. Bagaikan kita mimpi belaka disiang bolong jika kita tidak berusaha mengupayakan bagai mana sumber bahan organik bisa tersedia. Penggunaan pupuk organik terutama pupuk kandang tidak perlu kita ragukan lagi kemampuannya menjamin kesuburan tanah berkelanjutan. Pupuk organik tidak sekedar mampu memperbaiki kesuburan saja, namun akan menyehatkan tanah, sehingga akan menjamin terhadap kesehatan tanaman dan hasilnya serta akan menyehatkan manusia yang mengkomsumsinya.

Masalah utama yang sering timbul di lapangan adalah semakin terbatasnya pupuk kandang yang dapat digunakan. Kita sadar saat ini jumlah ternak di lapangan semakin lama semakin berkurang, mengingat petani dalam pengolahan tanahnya menggunakan traktor, mengingat traktor lebih praktis dan efektif baik dalam pemeliharaannya dan penggunaannya. Sehingga populasi ternak di lapangan semakin lama semakin berkurang, yang berdampak jumlah pupuk kandang semakin terbatas.

Pupuk Kandang
Sejak peradaban paling awal, pupuk kandang dianggap sebagai sumber hara utama. Hingga kini penggunaan pupuk kandang terus digunakan di berbagai belahan dunia. Di Amerika serikat saja yang maju akan teknologinya, pupuk kandang merupakan bahan yang berharga dalam menjaga kesuburan tanah, hampir 73 % dari kotoran ternak yang dihasilkan dalam kandang ( sekitar 157 juta ton) diberikan dalam tanah sebagai pupuk. Diperkirakan pupuk kandang mampu memasok 10 % dari kebutuhan pupuk setiap tahunya. Sehingga mampu menekan kebutuhan penggunaan pupuk anorganik dilapangan.

Dalam prakteknya pupuk kandang sapi yang kita gunakan tidak semuanya dari kotoran hewan murni, namun merupakan campuran kotoran padat, air kencing, dan sisa makanan (tanaman). Biasanya sisa makanan (jerami) tercampur dengan kotoran padat dan cair, bahkan sering petani menggunakan jerami sebagai alas kandang yang akan tercampur dalam pupuk kandang. Sebenarnya jerami sisa makanan atau alas kandang, dapat berfungsi untuk menyerap air kencing sapi/kerbau yang memiliki kandungan hara tinggi, sehingga hara ini tidak banyak yang hilang.

Susunan kimia dari pupuk kandang sangat tergantung dari: (1) jenis ternak, (2) umur dan keadaan hewan, (3) sifat dan jumlah amparan, dan (4) cara penyimpanan pupuk sebelum dipakai. Sebenarnya hewan hanya menggunakan setengah dari bahan organik yang dimakan, dan selebihnya dikeluarkan sebagai kotoran. Sebagian dari padatan yang terdapat dalam pupuk kandang terdiri dari senyawa organik, antara lain selulosa, pati dan gula, hemiselulosa dan lignin seperti yang kita jumpai dalam humus ligno-protein. Penyusun pupuk kandang yang paling penting adalah komponen hidup, yaitu mikro organisme tanah yang sangat baik bagi kesuburan tanah.

Hasil kotoran untuk satu ternak sapi yang dikeluarkan dalam bentuk padatan 20 hingga 25 kg kotoran padat perhari, sedang dalam bentuk kotoran cair (kencing) 8 hingga 10 liter. Sehingga apabila kita memelihara selama musim tanam sekitar 3 bulan, maka kotoran padat yang dapat kita peroleh sejumlah 1,8 hingga 2,3 ton. Sementara kotoran cair yang dikeluarkan bias mencapai 800 liter yang akan menambah kualitas hara dalam campuran kotoran padat dan jerami. Sehingga untuk satu sapi saja mampu memsuplai pupuk kandang tidak kurang dari 3-4 ton (termasuk alas jerami). Sehingga apabila kita berikan ke dalam tanah sudah dapat menekan biaya produksi yang relatif besar. Adaikata petani memiliki 3-4 ekor sapi, maka sudah cukup untuk memupuk tanaman 1 hektar lahan. Namun masih perlu ditambah dengan urea 50-75 kg untuk diberikan sehabis tanam agar bibit segera nglilir (bangun).

Sebenarnya pupuk kandang sapi sudah cukup matang, sehingga unsur haranya sudah tersedia bagi tanaman. Dikerenakan sewaktu di dalam perut besar walaupun dalam waktu yang relatif singkat, semua makanan sudah dirombak oleh mikrobia dalam perut besar. Di dalam perut besar (rumen), makanan mengalami proses perombakan yang berlangsung secara efisien, karena mikrobia dapat bekerja secara optimal. Hal ini dikarenakan di dalam perut besar (rumen) merupakan habitat yang ideal bagi berlangsungnya perombakan makanan. Laju perombakan dalam rumen lebih cepat dibanding di tanah, waktu yang diperlukan untuk merombak dinding sel dalam rumen hanya sehari, namun bila di tanah perlu waktu mingguan.

Kotoran sapi padat mengandung hara nitrogen 1,1-1,5 %, pospor 0,5 %, dan kalium 0,9 %. Sementara kotoran sapi berbentuk cairnya mengandung hara nitrogen 1 %, pospor 0,50 %, dan kalium 1,50 %. Namun apabila pupuk kandang ini digunakan untuk pemupukan, ketersediaanya hara dalam tanah yang bisa digunakan tanaman sangat bervariasi, yang tergantung oleh faktor: (a) sumber dan komposisi pupuk kandang, (b) cara dan waktu aplikasi, (c) jenis tanah dan iklimnya, dan (d) sistem pertaniannya. Mutu pupuk kandang sangat tergantung dari cara penanganannya. Penanganan pupuk kandang yang benar harus memperhatikan keadaan alas kandang dan cara penyimpananya, yang akan menentukan jumlah hara yang dapat digunakan tanaman.

Bagi petani lahan kering, pupuk kandang merupakan kunci keberhasilan usahanya. Suatu problem di lapangan adalah semakin jarangnya jumlah ternak yang dimiliki petani, sehingga menyebabkan produksi pupuk kandang semakin berkurang. Keadaan ini menyebabkan perlu dicari cara untuk mengembangkan atau meningkatkan populasi ternak ditingkat petani.

Pertanian terpadu (integrasi ternak-tanaman)
Pola integrasi antara tanaman dan ternak atau yang sering kita sebut dengan pertanian terpadu, adalah memadukan antara kegiatan peternakan dan pertanian. Pola ini sangatlah menunjang dalam penyediaan pupuk kandang dilahan pertanian, sehingga pola ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah karena limbah peternakan digunakan untuk pupuk, dan limbah pertanian untuk makan ternak. Integrasi hewan ternak dan tanaman dimaksudkan untuk memperoleh hasil usaha yang optimal, dan dalam rangka memperbaiki kondisi kesuburan tanah. Interaksi antara ternak dan tanaman haruslah saling melengkapi, mendukung dan saling menguntungkan, sehingga dapat mendorong peningkatan efisiensi produksi dan meningkatkan keuntungan hasil usaha taninya.

Sistem produksi ternak sapi/kerbau yang dikombinasi dengan lahan-lahan pertanian hendaknya dapat disesuaikan dengan jenis tanaman pangan yang diusahakan. Hendaknya ternak yang kita pelihara tidak menggangu tanaman yang kita usahakan, bahkan mendukung. Dalam hal ini tanaman pangan sebagai komponen utamanya dan ternak menjadi komponen keduanya. Misalnya ternak kita beri makan dari hasil limbah (jerami) dari sawah, atau ternak dapat digembalakan di pinggir atau pada lahan yang belum ditanami dan pada lahan setelah pemanenan hasil, sehingga ternak dapat memanfaatkan limbah tanaman pangan, gulma, rumput, semak dan hijauan pakan yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Sebaliknya ternak dapat mengembalikan unsur hara dan memperbaiki struktur tanah melalui urin dan kotoran padatnya.

Sebenarnya pertanian terpadu telah dilakukan oleh para petani kita. Petani dapat memanfaatkan limbah tanamannya (misal jerami) sebagai pakan hewannya sehingga tidak perlu mencari pakan lagi, petani juga dapat menggunakan tenaga sapin/kerbaunya untuk pengolahan tanah, dan ternak sapi/kerbau dapat digunakan sebagai investasi (tabungan) yang sewaktu-waktu membutuhkan dapat dijual untuk keperluan yang medesak.

Konsep pertanian terpadu ini perlu kita galakan, mengingat sistem ini di samping menunjang pola pertanian organik yang ramah lingkungan, juga mampu meningkatkan usaha peternakan. Komoditas sapi merupakan salah satu komoditas yang penting yang harus terus ditingkatkan, sehingga rencana ditahun 2010 di harapkan mampu mencapai kecukupan daging nasional dapat terwujud. Oleh karena itu upaya ini dapat digalakan pada tingkat petani baik dalam rangka penggemukan ataupun dalam perbanyakan populasi, serta produksi susu. Dengan meningkatnya populasi ternak sapi akan mampu menjamin ketersediaan pupuk kandang di lahan pertanian. Sehingga program pertanian organik dapat terlaksana dengan baik, kesuburan tanah dapat terjaga, dan pertanian bisa berkelanjutan.

Usaha pertanian terpadu ini sekaligus dalam upaya pengembangan peternakan dapat dilakukan melaui sistem pinjaman modal, gaduh, dan sistem gulir, dan sebenarnya telah banyak dipraktekan oleh berbagai pemerintak kabupaten. Program ini bertujuan untuk memenuhi permintaan konsumsi daging masyarakat, sehingga akan dapat mengurangi bahkan terlepas dari ketergantungan impor daging dan ternak serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha budidaya ternak, sekaligus menunjang program pertanian organik.

Sebenarnya integrasi ternak dan tanaman ini tidak terbatas pada budidaya tanaman padi dengan sapi saja, namun juga dapat dikembangkan integrasi dalam sistem lahan kering dan perkebunan. Semuanya tergantung dari usaha pertanian yang dikembangkan setempat, sehingga limbah pertaniannya dapat bervriasi seperti misalnya limbah jerami padi dilahan sawah, limbah jerami jagung dilahan kering, bahkan di Brebes limbah tanaman bawang merahpun dapat digunakan untuk pengembangan ternak.

Sistem tumpangsari tanaman dan ternak banyak juga dipraktekkan di daerah perkebunan. Tujuan sistem ini adalah untuk pemanfaatan lahan secara optimal. Di dalam sistem tumpangsari ini tanaman perkebunan sebagai komponen utama dan tanaman rumput dan ternak yang merumput di atasnya merupakan komponen kedua. Keuntungan-keuntungan dari sistem ini antara lain : (1) Dari tanaman perkebunannya dapat menjamin tersedianya tanaman peneduh bagi ternak, sehingga dapat mengurangi stress karena panas, (2) meningkatkan kesuburan tanah melalui proses kembaliya air seni dan kotoran padatan ke dalam tanah, (3) meningkatkan kualitas pakan ternak, serta membatasi pertumbuhan gulma, (5) meningkatkan hasil tanaman perkebunan dan (6) meningkatkan keuntungan ekonomis termasuk hasil ternaknya.

Sebenarnya sistem pertanian terpadu ini tidak terbatas pada pengusahaan hewan besar saja seperti sapi dan kerbau, namun juga dapat dintegrasikan antara ternak unggas dengan tanaman pangan, hotikultura. Kotoran unggas cukup potensial dimanfaatkan sebagai pupuk, misalnya kandungan hara dalam kotoran ayam hara N cukup tinggi sebesar 2,6 %, P 3,1 % dan K 2,4 %. Sistem pertanian terpadu ini dapat menjamin produksi pupuk organik, sehingga dapat menjamin pemeliharaan kesuburan tanah.

Penulis: Prof.Dr.Ir.H. Suntoro Wongso Atmojo. MS., Dekan Fakultas Pertanian UNS. Solo. (SOLO POS , Rabo Pon, 7 Maret 2007)







Setelah diuji coba selama 15 hari, pabrik pupuk organik Petroganik, milik Pemerintah Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, siap menggenjot produksi. Kelayakan pabrik pupuk tersebut membuat PT Petrokimia Gresik selaku mitra yakin akan kualitas produk Petroganik.

Selama uji coba, total produksi Petroganik 20 ton. Keseluruhan hasil diserahkan ke Petrokimia guna dicek kandungan unsur haranya. ”Ternyata, mereka sudah oke dan siap menampung. Makanya kami siap menggenjot produksi sesuai kapasitas mesin,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto beberapa waktu lalu di Bantul.

Petroganik diresmikan 7 Oktober 2009 dengan kapasitas 7,5 ton per hari. Bahan baku pupuk organik tersebut dari kotoran sapi, kambing, dan ayam yang diperoleh dari peternak di wilayah Bantul.

Bahan baku pupuk diambil dari seluruh kelompok ternak di Bantul. Untuk kotoran ayam dibeli seharga Rp 350 per kilogram, kotoran sapi dan kambing Rp 250 per kilogram. Nantinya pemerintah akan menetapkan peraturan daerah yang mengatur larangan penjualan kotoran ternak ke luar daerah.

Untuk membeli mesin, Pemerintah Kabupaten Bantul mengeluarkan dana Rp 980 juta. Adapun untuk pembangunan prasarana fisik Rp 700 juta.
Pabrik Petroganik berlokasi di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden. Terdapat tiga mesin produksi di dalam pabrik berdaya listrik 33.000 watt. Wujud fisik Petroganik hampir sama dengan pupuk kimia.

Petroganik dijual kepada Petrokimia Rp 1.400 per kilogram. Oleh Petrokimia pupuk diedarkan ke pasar dengan harga Rp 500 per kilogram. Selisih harga Rp 900 per kilogram disubsidi oleh pemerintah.

Meski dijual ke Petrokimia, sejak awal Pemkab Bantul sudah mengingatkan agar distribusinya diprioritaskan untuk Bantul. Bila Bantul sudah cukup, baru diedarkan ke daerah lain. ”Kami sudah bersusah payah memproduksi pupuk, jangan sampai dinikmati orang lain,” kata Edy.

Pulihkan kesuburan
Bupati Bantul Idham Samawi menjelaskan, kotoran ternak sangat penting untuk memulihkan tingkat kesuburan tanah. Selama ini banyak peternak menjual kotoran ternaknya ke luar daerah karena tidak terserap di Bantul. Akibatnya, manfaat kotoran lebih banyak dinikmati masyarakat luar Bantul.

Padahal, tingkat kesuburan lahan pertanian di Bantul saat ini hanya 60-80 persen. Untuk memulihkannya ke angka 100 persen diperlukan pupuk organik.
Awalnya pupuk organik masih berujud kotoran sapi. Hal ini membuat sebagian petani enggan menggunakannya karena kurang praktis. Alasan itu tidak berlaku lagi karena sudah ada Petroganik.

Idham mengatakan, peraturan daerah sangat penting untuk mengintegrasikan sektor peternakan dan pertanian. Kotoran ternak harus dipakai untuk mengembalikan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan.

”Dulu petani menggunakan pupuk kimia hingga satu ton per hektar. Sekarang perlahan-lahan mulai turun, meski masih sekitar dua kuintal per hektar. Angka itu harus terus ditekan dengan hadirnya Petroganik. Kalau tidak ada langkah penyelamatan, anak cucu kita akan menerima warisan lahan tandus dan gersang karena keserakahan kita,” ujar Idham.

Potensi kotoran ternak di Bantul tergolong tinggi. Satu ekor sapi rata-rata setiap hari menghasilkan 7 kilogram kotoran kering. Di Bantul, populasi sapi potong 49.957 ekor sehingga setiap hari produksi kotoran sapi mencapai 349,7 ton atau senilai Rp 87,4 juta. Jumlah itu masih ditambah dengan kotoran kambing dan domba yang populasinya 61.370 ekor dan ayam sekitar 1 juta ekor.

Jumlah kotoran ternak yang tersedia memang tidak sebanding dengan kapasitas pabrik. Oleh karena itu, diharapkan muncul inisiatif masyarakat untuk mengolah pupuk organik secara swadaya.

Awalnya keprihatinan
Ide awal pendirian pabrik berawal dari keprihatinan Pemerintah Kabupaten Bantul akan tingginya ketergantungan petani pada pupuk kimia. Setiap tahun kuota pupuk yang disediakan selalu tidak cukup. Tiap tahun kebutuhan urea lebih dari 17.000 ton lebih.

”Kalau sedang musim tanam, biasanya kami susah memperoleh urea karena pengecer mengaku kehabisan stok. Dengan hadirnya pabrik pupuk organik secara perlahan kami mulai mengurangi penggunaan urea,” kata Maryono, petani di Bulak Mandingan, Bantul.
Sebelumnya Maryono enggan menggunakan pupuk organik karena merepotkan. Pertama, ia harus mengumpulkan dulu kotoran ternak dan selanjutnya mengangkutnya ke sawah. ”Kalau pupuk kemasan lebih praktis, tidak merepotkan,” ujarnya.

Kehadiran Petroganik juga disambut gembira kalangan peternak. Sarujo (30), misalnya, warga Dusun Banyakan II, Desa Sitimulyo, Piyungan, menegaskan, kotoran sapi yang selama ini dimanfaatkan untuk biogas ternyata masih bisa mendatangkan rezeki.
”Kalau biogas yang dipakai kotoran saat masih baru. Setelah gasnya diambil, kotoran keringnya masih bisa dijual untuk bahan baku Petroganik,” katanya.
Semangat Pemkab Bantul menyinergikan sektor pertanian dan peternakan sepertinya perlu dicontoh daerah lain.

Apalagi, bila pemerintah akhirnya melepaskan subsidi pupuk. Bisa dibayangkan betapa mahalnya harga pupuk kimia dan petani belum disiapkan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Masalah lain adalah lahan pertanian akan semakin rusak karena penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus.

Sumber: Kompas.com

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan melakukan serangkaian kunjungan dua hari di Taman Nasional Bali Barat, melepas sepuluh jalak putih (Leocopsar rothschildi) sebagai upaya memperbanyak populasi di alam bebas.

"Kesepuluh jalak putih yang dilepas ke habitatnya tersebut seluruhnya merupakan hasil penangkaran," kata Kepala Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Drs Bambang Darmaja di Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Kamis (31/12/2009).

Menhut Zulkifli Hasan antara lain didampingi Dirjen Bina Produksi Departemen Kehutanan Dr Hadi Daryanto melakukan kunjungan kerja di Bali dengan berbagai aktivitas, termasuk melepas 30 tukik (anak penyu). Pelepasan jalak putih maskot fauna Pulau Dewata ke alam bebas itu dilakukan di habitatnya di sekitar daerah Brumbun kawasan TNBB.

"Si jambul indah yang bersuara merdu itu sebelum dilepas ke habitatnya terlebih dulu dipasangi cincin pemancar pada bagian kakinya, dengan harapan keberadaannya bisa terus dipantau.
Burung endemik yang dilepas itu sebelumnya sudah melalui masa adaptasi beberapa hari di TNBB, yakni dengan jalan ditempatkan pada sangkar sistem buka-tutup," tutur Bambang Darmaja.

Ia menjelaskan, populasi burung jalak khas Bali itu di habitatnya di TNBB diperkirakan 50-60 ekor. Sementara di penangkaran masih terdapat sekitar 170 ekor yang tetap dipelihara secara intensif. Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan burung endemik tersebut agar jangan sampai punah seperti nasib harimau Bali.

Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), telah memasukkan spesies jalak Bali dalam daftar appendix 1 CITES atau masuk dalam kategori satwa yang terancam punah. Oleh sebab itu berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan burung endemik itu, sekaligus meningkatkan populasi burung yang tergolong unik tersebut.

Dengan jumlah 200 ekor populasi di alam bebas, maskot fauna Bali itu diharapkan dapat berkembangbiak dengan baik. "Kita harapkan burung jalak itu berkembang terus di habitatnya maupun penangkaran," ucap Bambang Darmaja.

Sumber: Kompas.com (dari Antara).



Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.