Februari 2010

Awal tahun 2009 dibayangi oleh awan kelabu akibat krisis global yang mulai dirasakan pada pertengahan tahun 2008. Ekonomi makro dikhawatirkan tidak tumbuh bahkan minus. Pemangku kepentingan di bidang bisnis perunggasan pun was-was.

Bila krisis melanda Indonesia dopastikan akan tterjadi gelombang PHK (pemutusan hubungan kerja) dimana-mana. Tentu saja hal ini berakibat kepada turunnya demand akan hasil unggas termasuk daging ayam dan telur. Pelaku bisnis tidak berambisi untuk “mengisi” kandang dengan ayam baru bahkan tampak menahan diri sambil melihat situasi. Lebih baik mengambil sikap “
wait and see”.

Namun kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya terbukti. Suatu hal yang tidak diduga sebelumnya, ternyata ekonomi nasional lebih tahan terhadap gempuran krisis. Bahkan dibandingkan Negara-negara lain yang dinilai tahan krisis dan menunjukkan pertumbuhan ekonomi, Indonesia berada di urutan atas setelah China dan India. Hal ini tentu saja amat melegakan.

Dunia peternakan mengalami pertumbuhan meskipun peternak terlihat tidak terlalu ekspansif untuk memperluas dan mengembangkan usahanya, mengingat daya beli masyarakat tampak “biasa-biasa” saja.

Membaiknya bisnis perunggasan di tahun 2009 ikut berimbas pada peningkatan penjualan obat termasuk vaksin yang ikut naik sekitar 6 % dibandingkan tahun 2008 dengan nilai mencapai Rp. 1,92 triliun. Dari nilai tersebut, kurang lebih 1,19 triliun diperoleh dari unggas yang terdiri dari ayam pedaging atau broiler yang menelan obat sebanyak Rp. 648,2 milliar. Sedangkan sisanya dari ayam petelur dan pejantan.

Kurang lebih 56,5 % obat hewan di Indonesia merupakan kelompok farmasetik sedangkan 43,5 % merupakan produk biologik (vaksin). Hal ini dikemukakan oleh Drh. Sugeng Pujiono (Ketia bidang pengawasan obat hewan ASOHI Jawa Barat) pada seminar “ Bagaimana Prospek Bisnis Perunggasan 2010” yang digelar di Hotel Santika pada tanggal 27 Oktober 2009.

Diperkirakan prospek bisnis perunggasan tahun 2010 akan lebih baik dibandingkan 2009. Meskipun tantangan bukan menjadi surut namun berbagai indicator menunjukkan harapan yang cukup cerah. Indeks saham dunia diperkirakan semakin menguat dengan pertumbuhan ekonomi global yang mencapai 3,1 %.

Berbagai indikator ekonomi di Indonesia menunjukkan nilai positif. Daya beli masyarakat, iklim ekonomi, investasi asing, kinerja ekspor dan stimulus fiskal memperlihatkan perkembangan yang baik. Bahkan cadangan devisa diperkirakan bakal naik ke level 70 milliar dollar.

Dengan demikian pasar domestik semakin menguat dan demand terhadap produk unggas juga diharapkan meningkat. Bahkan menurut Drh. Sudirman (Ketua Umum Asosiasi Produsen Pakan Indonesia), konsumsi daging ayam tahun 2010 akan meningkat menjadi 5,1 kg/kapita/tahun dari 4,8 kg/kapita/tahun di tahun 2009.

Pada kesempatan yang sama Krissantono (Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas) meramalkan bahwa industri perunggasan nasional akan mengalami pertumbuhan sebesar 80 %. Hal ini tentu membuat usaha peternakan pun menggeliat dan semakin bergairah. Tentunya roda bisnis perunggasan yang lain seperti pembibitan, pakan dan obat hewan juga turut bergerak.

Di sisi lain, kampanye gizi hendaknya diagendakan dan digalakkan terus-menerus agar kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi protein hewani pun semakin tinggi. Yang perlu diingat bahwa mulai tahun 2010 akan berlaku perdagangan bebas. Tidak aka nada lagi proteksi terhadap produk dalam negeri. Produk impor termasuk produk unggas akan bebas “berkeliaran” di pasar dalam negeri tanpa diberlakukan bea masuk. Oleh karena itu perlu ditekankan agar masyarakat lebih mencintai produk yang dihasilkan oleh negeri sendiri.

Para peternak dituntut untuk lebih efisien agar biaya produksi dapat ditekan rendah namun tetap efektif. Pemerintah pun tak luput dari tanggungjawabnya dalam membantu dari segi regulasi. Semuai itu dilakukan tak lain agar produk hasil unggas kita sanggup bersaing dengan produk asing yang bebas malang melintang di waktu yang akan datang.

Sumber: WartaSANBE-VET Edisi 43, Januari 2010

Untuk menjaga kestabilan organisme yang hidup di dalam vaksin, temperatur tempat penyimpanan vaksin perlu dijaga. Masalahnya, untuk negara sedang berkembang dan miskin seperti di Afrika dan juga pelosok Indonesia, yang penyediaan listriknya kurang memadai, kestabilan vaksin kurang bisa dipertanggungjawabkan.

Para ilmuwan dari Universitas Oxford, Inggris, baru-baru ini memublikasikan cara penyimpanan vaksin agar tetap hidup tanpa harus disimpan di lemari es. Hasil riset ini diharapkan bisa meningkatkan luas cakupan imunisasi di daerah terpencil.

Para peneliti menggabungkan vaksin dengan dua tipe gula sebelum perlahan-lahan dikeringkan dalam kertas filter. Hal ini akan mengawetkan vaksin sehingga bila sewaktu-waktu dibutuhkan dapat langsung diaktifkan. Gula yang dipakai adalah jenis sukrosa dan trehalose yang biasa digunakan dalam bahan pengawet.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Science Translational Medicine, para ilmuwan tersebut mengatakan, dengan metode tersebut, mereka sanggup menjaga kestabilan vaksin dalam suhu 45 derajat selama enam bulan.

"Bila kita bisa mengubah standar penyimpanan vaksin menjadi cara ini, berarti kita bisa menghemat biaya pengiriman karena vaksin bisa tahan dalam suhu ruangan. Jumlah anak yang bisa mendapat imunisasi pun lebih banyak. Teknologinya sederhana dan murah," kata Profesor Adrian Hill, ketua peneliti.

Dia menambahkan, hasil riset yang dilakukan timnya cukup meyakinkan karena ia menggunakan virus hidup. "Karena kami menggunakan vaksin yang butuh perhatian ekstra, maka metode ini seharusnya juga bisa dipakai untuk vaksin yang mengandung protein mati," katanya.

Anggota penelitian lain, Dr Matt Cottingham, mengatakan, karena tidak diperlukan lemari pendingin, bukan tidak mungkin nantinya vaksin bisa disimpan di tas ransel dan dibawa ke pelosok desa.

"Kini tinggal mengembangkan teknik ini dan mencobanya di Afrika untuk mengetahui apakah bisa diperbanyak oleh industri. Kami perkirakan dalam waktu 5 tahun akan ada perubahan besar dalam penyimpanan vaksin,” papar Hill.

Penelitian penyimpanan vaksin ini didanai oleh Yayasan Bill dan Melinda Gates dengan melibatkan kerja sama antara universitas dan perusahaan Nova Bio-Pharma Technologies.

Sumber: Kompas.com


Sejumlah mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan UGM menerapkan inovasi peternakan cairan kumpulan bakteri dan jamur Good Bacteria-1 (GB-1) untuk memaksimalkan usaha peternakan konvensional. Melalui cairan bioaktivator itu, peternak didorong meningkatkan bobot ternak dan mengolah kotorannya menjadi pupuk kompos.

Para mahasiswa tersebut adalah Adhita Sri Prabakusuma, Adi Tri Mulyo, Asmary Muis, Farida Umi Inayati, dan Heni Dwi Sulistyorini. Penerapan inovasi dikenalkan melalui "Program Inovasi Peternakan Terampil, Sehat, Nyaman, dan Mandiri (Provita Tersenyum)".

"Lewat program itu kami berusaha membawa inovasi kampus agar diterapkan masyarakat. Selama ini peternak enggan menerima inovasi jika tak melihat hasilnya," kata juru bicara kelompok, Adhita, di Yogyakarta, Rabu (24/2).

Penerapan program kepada 55 peternak dalam Kelompok Peternak Sidodadi di Petir, Srimartani, Piyungan, Bantul, itu menjuarai "Community Development National" yang diadakan di ITB 5-7 Februari lalu.

Ada tujuh program dalam Provita Tersenyum, antara lain pembuatan replikasi GB-1, kompos organik super, pupuk cair, jerami fermentasi untuk meningkatkan nutrisi, dan aplikasi probiotik GB-1 untuk penggemukan ternak.

Menurut Adhita, inovasi pembuatan pupuk dan penambahan bobot sapi itu sebenarnya sudah lama, tetapi kurang dikenal. Cairan bioaktivator GB-1 diciptakan mantan dosen Peternakan UGM Gembong Danudiningrat lima tahun lalu. Berbentuk cairan kehitaman, GB-1 terdiri atas sekitar 14 bakteri dan jamur (fungi). Di bidang peternakan, GB-1 merupakan cairan probiotik untuk meningkatkan daya serap pakan.

Pencampuran GB-1 pada pakan ternak meningkatkan bobot ternak dari kenaikan berat normal 3-5 kg per bulan menjadi 6-10 kg per bulan. "Karena penyerapan protein lebih tinggi, bau feses sapi pun berkurang," kata Adhita.

Ketua Kelompok Sidodadi M Yahman mengatakan, sejauh ini kelompoknya belum menjalankan program pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik. Mereka kesulitan menyiapkan wadah feses dan urine sapi yang membutuhkan sekitar Rp 75 juta. (IRE)

Sumber: Kompas.com

Telah dilaporkan adanya pengaruh sistem produksi unggas organik terhadap beberapa karakteristik kualitatif daging. Pengaruh tersebut pada dasarnya merujuk pada aktivitas fisik dan umur terbaik pada hewan yang umumnya telah diatur oleh ketentuan pertanian misalnya menggunakan galur genetik (galur pertumbuhan cepat dan pertumbuhan lambat) dan ketersediaan padang rumput.

Berdasarkan alasan ekonomi dan ketersediaan anak ayam, umumnya digunakan anak ayam dengan pertumbuhan cepat dan menengah. Beberapa hewan tidak dapat beradaptasi terhadap sistem organik ini karena terdapat gangguan pada kaki dan kepincangan yang sering kambuh. Namun jika dibandingkan dengan ayam-ayam konvensional, mereka memiliki persentase karkas dada dan paha yang lebih tinggi dan kandungan lemak abdominal yang lebih rendah.

Sistem ini juga mempengaruhi ciri khas fisika-kimia daging secara keseluruhan dimana otot mempunyai pH akhir dan kadar air yang lebih rendah. Daripada bertambahnya “kehilangan pada saat memasak”, kecerahan, nilai pemotongan, Fe dan asam lemak jenuh. Sayangnya aktivitas fisik yang lebih tinggi meningkatkan metabolisme oksidatif tubuh dan menentukan tingginya tingkat TBA-RS. Jika kemungkinan “galur pertumbuhan lambat” dihubungkan dengan kebiasaan khusus mereka (aktivitas kinetik yang lebih banyak, makanan hewan) dan metabolisme, menunjukkan adanya perbedaan ciri bawaan kualitatif yang lebih besar apalagi jika dibandingkan dengan “galur organik - pertumbuhan cepat ” dan galur konvensional. Khususnya, pada galur petumbuhan cepat, mereka mempunyai tingkat antioksidan yang lebih tinggi (715 vs 522 nmol HCIO mL-1), α-tocopherol serum (19.0 vs 17.2 mg L-1) dan kemampuan mencerna rumput yang lebih tinggi. Hasilnya, stabilitas oksidasi pada daging segar dan beku lebih tinggi daripada galur pertumbuhan cepat (2.0 vs 3.05 mg MDA kg-1). Kesimpulannya, sistem produksi peternakan unggas organic bisa menjadi metode alternatif yang menarik khususnya bila digunakan dan dikembangkan dengan tata cara beternak yang sesuai.

Berdasarkan Dewan Standar Organik Nasional (1995), tujuan utama dari pertanian organik adalah optimalisasi manajemen ekologis produksi yang memperkenalkan dan meningkatkan keanekaragaman hayati, lingkungan yang berkelanjutan dan keamanan pangan.

Bagaimanapun juga, untuk rekomendasi produksi hewan dan aturan-aturan wajib yang disediakan oleh REG 1809/99, digaris bawahi bahwa metode produksi ini diharapkan berpengaruh terhadap kesejahteraan hewan dan karakteristik produk.

Pada produksi unggas organik, faktor paling penting yang mempengaruhi karakteristik daging adalah umur pemotongan (minimal 81 hari) dan aktivitas fisik burung. Lebih jelasnya, untuk melengkapi sistem ini secara optimal dibutuhkan factor lain seperti galur genetik, ketersediaan padang rumput dan tata cara beternak yang mengatur secara luas beberapa akibat yang ditimbulkan dan banyak usaha penelitian.

Ketersediaan padang rumput meningkatkan aktivitas utama pada ayam tetapi beberapa kebiasaan berbeda berkembang dari hasil perbandingan antara Galur pertumbuhan lambat (S) dengan galur pertumbuhan cepat (F) (Catellini et al.,1997). Hewan dengan pertumbuhan cepat tidak adaptif untuk sistem organik tersebut, tetapi dengan alasan ekonomi dan ketersediaan anak ayam yang terbatas telah merubah hewan-hewan ini yang secara luas digunakan pada produksi unggas organik ( Jaringan untuk kesehatan dan kesejahteraan hewan pada pertanian organik, 2002).

Walaupun burung F mempunyai rata-rata pertumbuhan yang lebih cepat, sistem organik ini benar-benar bisa mengurangi 25 % kehilangan pertumbuhan potensial pada penampilan mereka pada saat menggunakan sistem konvensional. Terlihat jelas, burung F tidak menunjukkan penampilan yang baik di bawah kondisi lingkungan yang buruk, mengingat pada sistem intensif mereka disediakan semua yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya (Reiter and Bessei, 1996). Sebaliknya, genotif S menunjukkan penampilan yang hampir sama pada pertanian organik (-8%, data tidak ditampilkan) menunjukkan tingkat adaptasi yang paling tinggi .

Seleksi untuk rata-rata produksi tinggi membatasi kebiasaan hewan (Schut and Jensen, 2001), mengurangi semua aktivitas yang membutuhkan energi tinggi dan mengarahkan burung untuk menyimpan kembali energi tersebut untuk kepentingan produksi. Burung-burung ini dipelihara di dalam kandang, membutuhkan sedikit padang rumput, dipelihara di dalam rumah atau dekat rumah daripada berkeliaran mencari makan di padang rumput (Weeks et al., 1994) kemungkinan hal ini disebabkan oleh kelebihan berat dan kaki yang lemah. Keadaan ini sesuai dengan masalah kesejahteraan yaitu pemisahan yang tinggi dan tingkat kematian burung F organik (Jones and Hocking, 1999).

Sebaliknya, galur S menunjukkan tingkah laku yang lebih aktif (Bokkers and Koene, 2003; Lewia et al., 1997). Dengan kegiatan berjalan yang lebih banyak, lebih sedikit berbaring dan lebih tertarik untuk mengamati, sama dengan mereka menghabiskan lebih banyak waktu di luar kandang daripada di dalam dan waktu yang lebih singkat untuk pemakaian obat – obatan.

Perbedaan tingkah laku dipertegas menggunakan analisis komparatif pada hasil panen. Hasil dari ayam S memiliki protein dan energy yang lebih rendah, kandungan α-tocopherol dan karotenoid yang lebih tinggi , hal ini menunjukkan adanya pencernaan rumput yang lebih tinggi (Castellini et al., 2003). Maka dari itu genotif ini menunjukkan kapasitas antioksidan in vivo yang lebih baik (715 vs 522 nmol HCIO mL⁻¹), kemungkinan berasal dari asupan antioksidan dan aktivitas motorik yang lebih tinggi. Faktanya, metabolisme oksidasi yang lebih tinggi meningkatkan produksi radikal bebas (Alessio et al., 2000), maka dari itu tubuh meningkatkan kapasitas antioksidannya (Powers and Leeuwenburgh, 1999). Sehingga asupan rumput oleh anak ayam organik harusnya benar-benar mempertimbangkan peningkatan ketahanan antioksidan terhadap sejumlah besar karotenoid (102,10 mg kg d.m.⁻¹), α-tocopherol (175.25 mg kg d.m.⁻¹) dan polyphenols yang diasumsikan dengan padang penggembalaan (Lopez-Bote et al., 1998).

Sistem organik menyebabkan unggas mempunyai persentase karkas daging paha dan dada yang lebih besar, dan kadar lemak perut yang lebih rendah (terutama pada tipe S) jika dibandingkan dengan sistem konvensional (Tabel 3). Lebih lanjut lagi, pH akhir (pHu) dada dan paha yang lebih rendah, mungkin karena adanya simpanan glikogen yang tinggi pada otot oleh hewan yang lebih aktif (Dal Bosco et al., 2001).

Pada saat umur pemotongan, rata-rata tingkat kedewasaan yang rendah pada unggas S, menghasilkan kandungan kelembaban yang tinggi, protein dan kapasitas penyimpanan air yang lebih rendah. Untuk mencapai umur dewasa komersial, galur S membutuhkan periode yang lebih lama yaitu membutuhkan lebih dari 75 hari untuk mencapai 50 % berat tubuh dewasa, sedangkan galur F hanya butuh 50 hari (Castellini et al., 2003).

Perbandingan antara S dengan F menunjukkan bahwa pHu lebih dominan pada anak ayam S, kemungkinan disebabkan adanya metabolisme oksidatif paling tinggi dan sejumlah mitokondria pada serat α-white dan oleh karena itu mengarahkan mereka pada serat α-red (Dransfield and Sosnicki, 1999), hal ini berakibat pada kekuatan otot.
Galur tidak mempengaruhi komposisi asam lemak dada dan paha (Tabel 4), sedangkan hal-hal yang berbeda sangat dibutuhkan untuk daging ayam konvensional. Data-data tersebut sesuai dengan yang dilaporkan oleh O’Keefe et al. (1995) dan ditegaskan bahwa endapan EPA rendah sekali jika dibandingkan dengan DHA pada ayam (Richardson and Mead, 1999).

Beberapa hipotesis telah dapat menjelaskan tentang keadaan oksidatif daging segar dan beku yang lebih baik, seperti yang ditemukan pada genotif S yang berkenaan dengan genotif F (Gambar 1): kadar lemak lebih rendah; perbedaan reaksi dari serat-serat otot pada aktivitas fisik dan asupan antioksidan yang lebih tinggi.
Sayangnya dibandingkan dengan ayam broiler komersial, daging unggas organik menunjukkan nilai TBA-RS yang lebih tinggi, yang mana hal ini dapat menurunkan self-life produk. Adanya stabilitas lemak yang lebih rendah pada daging unggas organik kemungkinan berasal dari kadar ion besi yang lebih tinggi (Fe), yang dapat mengkatalisis peroksidasi dan tingkat kejenuhan lemak yang lebih tinggi dalam jaringan otot (Castellini et al., 2002ab).

Strategi yang mungkin digunakan untuk memperbaiki keadaan oksidatif daging adalah dengan mengurangi aktivitas gerak pada hewan beberapa hari menjelang pemotongan. Unggas organik dengan pertumbuhan lambat digunakan untuk membatasi gerakan yang benar-benar mengurangi TBA-RS (-26%) dengan menggunakan kadar ROMS yang lebih rendah (-33%) tanpa mengurangi hal-hal penting pada kapasitas antioksidan (-11%; Castellini et al., 2004).

Lebih lanjut lagi, penurunan tingkat kadar keasaman otot ini (< pHu pada otot dada) kemungkinan disebabkan karena adanya sejumlah glikogen yang tinggi pada saat pemotongan sebagai akibat dari rendahnya pemakaian glikogen. Pada percobaan kami, analisis sensorial pada daging galur S dan F menunjukkan bahwa ayam S lebih disukai disemua hal dibandingkan dengan ayam F (Gambar 2) yang mana tidak dibedakan dari broiler konvensional (Castellini et al., 2003). Kemampuan alat untuk memisahkan daging yang berasal dari genotif yang berbeda, masih diperdebatkan (Richardson and Mead, 1999) dan banyak ahli melaporkan pendapat dan interaksi yang berbeda-beda (Farmer et al., 1997). Pada kesimpulannya, sekalipun karakteristik kualitatif produk bukan merupakan tujuan utama dari pertanian organik, penggunaan tata cara yang tepat (ketersediaan rumput, galur dengan pertumbuhan lambat) mempunyai efek penting pada daging unggas. Sayangnya aspek-aspek itu tidak wajib untuk pertanian organik dan perubahan regulasi 1804/99 seharusnya dapat menyediakan izin untuk mencapai perubahan selanjutnya pada aspek kualitatif dan kesejahteraan.

Kalau sektor prooduktif lainnya, pertanian organik membutuhkan pelayanan dan penelitian khusus dan hal ini sebaiknya tidak mengimpor protokol produktif yang disesuaikan untuk sistem intensif (jenis makanan, lingkungan dan galur genetik). Faktanya aturan pada keturunan pertumbuhan lambat seperti pada produk organik seharusnya kuat jika penelitian selanjutnya dapat menegaskan kemempuan mereka untuk ditampilkan denagn kualitas makanan yang rendah, dan untuk memproduksi daging dengan karakteristik kualitatif yang berbeda dengan baik (lemak rendah, PUPA dan Fe tinggi, dan tahan lama).

Hal ini jelas pada beberapa galur,yang membutuhkan periode penggemukan yang sangat lama (sampai 120 hari) hasil pada biaya produksi tinggi, dan membutuhkan tempat pasar yang khusus dengan label organik. Mungkin sebaiknya mempelajari persilangan antara hewan S dan galur yang lebih berat deng an tujuan untuk meningkatkan rata-rata pertumbuhan sampai mempertahankan tingkah laku spesifik dan karakteristik kualitatif. Kemudian, banyak galur S dalam bahaya kepunahan dan pertanian organik seharusnya mempertimbangkan kesempatan penting untuk menjamin kelanjutan mereka.

Sumber:
Judul Asli: Organic Poultry Production System and Meat Characteristics oleh C. Castellini (Dpt. Biologi Vegetale e Biotecnologie Agroambientali e Zootecniche, Universita di Perugia, Borgo XX Giugno 74, 06121 Perugia, Italy.
Diterjemahkan oleh: Drh. S. Wahyudi

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten pada 2010 telah memprogramkan pembentukan “Kampung Kerbau”.

Kepala Disnakeswan Kabupaten Pandeglang, Taufik Hidayat, ketika dikonfirmasi, Minggu, menjelaskan, lokasi “Kampung Kerbau” itu di Kecamatan Cibaliung.

"Kita sudah mengusulkan rencana pembentukan “Kampung Kerbau” itu pada Kementerian Pertanian, dan mengharapkan agar ada bantuan agar pelaksanaannya bisa lebih maksimal," katanya.

Ia berharap, "Kampung Kerbau" tersebut juga bisa berhasil seperti "Kampung Domba" di Desa Cinyurup Kecamatan Karangtanjung, yang kini telah dijadikan percontohan nasional.

Mengenai populasi kerbau, menurut dia, saat ini masih relatif sedikit yakni sekitar 2.930 ekor yang tesebar di 35 kecamatan di daerah itu dan pelihara oleh masyarakat secara sampingan.

Ia juga menjelaskan, populasi hewan ternak besar itu terbanyak berada di Kecamatan Pandeglang sebanyak 323 ekor, Labuan 149 ekor, Mandalawangi 149 ekor, Pulosari 136 ekor dan Menes 129 ekor.

Sebelumnya, Disnakeswan Pandeglang telah membentuk "Kampung Domba" di Desa Cinyurup Kelurahan Juhut Kecamatan Karangtanjunt yang juga merupakan percontohan dan mendapat perhatian dari pemerintah pusat.

Seluruh warga kampung hanya berpendidikan Sekolah Dasar namun karena memiliki semangat tinggi mereka bisa berhasil beternak domba. Jumlah warga yang bermukim di lokasi itu sebanyak 299 kepala keluarga.

"Sekitar dua tahun lalu, kita memberikan bantuan domba sebanyak 169 ekor, kini telah berkembang menjadi 233 ekor, dan banyak di antara induk hewan itu saat ini sedang bunting jadi dalam waktu dekat populasi akan bertambah cukup banyak,” ujarnya.

Pengembangan ternak domba di lokasi itu, sangat potensial karena selain kondisinya alamnya mendukung semangat warganya untuk menekuni usaha itu sangat tinggi.

Kempung Cinyurup, kata dia, dikelilingi hutan karena itu memudahkan warga untuk mencari pakan disamping juga menanam rumput sendiri.

"Kita merencanakan akan memberikan bantuan domba bagi warga Cinyurup itu, sehingga populasinya bisa lebih cepat,” ujarnya.

Domba yang dikembangkan di lokasi itu, menurut dia, jenis lokal dan gibas yakni domba yang memiliki kuping panjang dan tubuh sangat besar untuk ukuran domba.(S031/K004)

Sumber: Antaranews.com

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah salah satu spesies terlangka di dunia dengan perkiraan jumlah populasi tak lebih dari 50 individu di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dan sekitar lima individu di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam (2000). Badak Jawa juga adalah spesies badak yamg paling langka diantara lima spesies badak yang ada di dunia dan masuk dalam Daftar Merah badan konservasi dunia IUCN, yaitu dalam kategori sangat terancam atau critically endangered.

Sejak tahun 1962, WWF telah memulai penelitian terhadap populasi Badak Jawa di Ujung Kulon dengan dukungan ahli Dr. Rudolph Schenkel. Saat ini penelitian tentang Badak Jawa masih terus dilakukan dan diarahkan untuk memperoleh informasi penting tentang pola perilaku, distribusi, migrasi, populasi, sex ratio, dan keragaman genetik.

Selain dari penelitian dan dukungan terhadap patroli anti perburuan Badak Jawa, WWF-Indonesia di Taman Nasional Ujung Kulon juga memfokuskan kegiatannya pada upaya manajemen habitat dengan harapan habitat yang terjaga akan dapat mempertahankan populasi yang tersisa. Upaya-upaya ini termasuk menurunkan ancaman kegiatan illegal seperti perambahan dan perburuan, mengurangi tumbuhnya spesies tanaman pengganggu (Arenga spp) dan kompetisi lahan antara badak dengan banteng (Bos javanicus), serta meningkatkan ketersediaan tumbuhan pakan ternak.

Ciri-ciri Fisik Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)
• Umumnya memiliki warna tubuh abu-abu kehitam-hitaman.
• Hanya memiliki satu cula, dengan panjang sekitar 25 cm namun ada kemungkinan tidak tumbuh atau sangat kecil sekali pada betina.
• Berat badan seekor Badak Jawa dapat mencapai 900 - 2300 kg dengan panjang tubuh sekitar 2 - 4 m.
• Tingginya bisa mencapai hampir 1,7 m.
• Kulitnya memiliki semacam lipatan sehingga tampak seperti memakai tameng baja.
• Memiliki rupa mirip dengan badak India namun tubuh dan kepalanya lebih kecil dengan jumlah lipatan lebih sedikit.
• Bibir atas lebih menonjol sehingga bisa digunakan untuk meraih makanan dan memasukannya ke dalam mulut.
• Badak termasuk jenis pemalu dan soliter (penyendiri).

Populasi dan Distribusi Badak Jawa
Badak Jawa pernah hidup di hampir semua gunung-gunung di Jawa Barat, diantaranya berada hingga diatas ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut. Pada tahun 1960-an, diperkirakan sekitar 20 sd 30 ekor badak saja tersisa di TN Ujung Kulon. Populasinya meningkat hingga dua kali lipat pada tahun 1967 hingga 1978 setelah upaya perlindungan dilakukan dengan ketat, sebagian dilakukan dengan dukungan dari WWF-Indonesia. Sejak akhir tahun 1970-an, jumlah populasi Badak Jawa tampaknya stabil. WWF-Indonesia memperkirakan populasi Badak Jawa di Ujung Kulon berada dalam kisaran 26 - 58 individu dengan nilai rata-rata 42 ekor (data tahun 2000).

Sumber: www.wwf.or.id

Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) akan mengembangkan penangkaran badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di blok Gunung Honje seluas 3.000 hektar tahun 2011 dan dipastikan tahun 2015 sudah memiliki keturunan, kata pejabat TNUK.

"Penangkaran badak jawa itu akan dijadikan taman marga satwa dunia (TMSD) dan bisa mendongkrak pengunjung domestik maupun mancanegara," kata Kepala Bagian Humas TNUK Enjat Sudrajat Selasa (23/2/2010).

Ia mengatakan, penangkaran ini bekerja sama dengan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dunia juga akan membantu, seperti dari Executive Director International Rhino Foundation Susie Eliis, Kimsei Vier (Tulsa Zoo), dan Ruchweet (Miami). Mereka akan membantu penangkaran pengembangbiakan badak bercula satu yang langka di dunia itu.

Saat ini, kata dia, diperkirakan populasi badak jawa di TNUK lebih kurang hanya 60 ekor. "Dengan penangkaran ini diharapkan jumlah populasi badak bercula satu bertambah," katanya.

Selama ini, kata dia, habitat populasi badak jawa berada di lahan seluas 38.000 hektar kawasan TNUK, termasuk Gunung Honje. "Saya kira bila di lokasi Gunung Honje tentu sangat cocok selain tersedia pakannya, juga lokasi tidak berjauhan," katanya.

Menurut dia, dengan upaya pelestarian badak jawa ini, diharapkan Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Pandeglang harus mendukung karena dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru. Apalagi, kata dia, satwa badak jawa sudah dijadikan maskot Pemerintah Kabupaten Pandeglang.

Pengembangbiakan satwa langka di dunia ini melibatkan sejumlah peneliti dari beberapa negara untuk mengadakan konservasi di habitatnya di kawasan hutan TNUK, katanya. Bahkan, para donatur dari Amerika Serikat sudah siap memberikan bantuan untuk penangkaran pengembangbiakan badak Jawa itu di TNUK.

Bantuan tersebut dipergunakan untuk biaya operasional konservasi, monitoring, serta perlindungan badak. "Saya kira diperkirakan biaya penelitian ini memakan biaya cukup besar," katanya.

Selama ini, kata Enjat, di dunia peneliti genetik badak masih sangat kecil, apalagi satwa itu pemalu dan sulit ditemukan di habitatnya. Oleh karena itu, pihaknya harus hati-hati dengan program penelitian karena saat ini populasi badak jawa di TNUK hanya 60 ekor.

"Jika penangkaran itu berhasil, tentu pengunjung bisa melihat langsung kehidupan badak sebab saat ini warga belum mengetahui keberadaan badak jawa itu," kata Enjat Sudrajat.

Sekretaris Yayasan Badak Indonesia Agus Darmawan mengaku optimististis penangkaran pengembangbiakan akan suskes dan terwujud tahun 2011 karena melibatkan tim peneliti yang mengetahui persis karakteristik badak. Saat ini, lanjut dia, populasi badak yang ada di dunia sebanyak lima spesies, yakni badak hitam (Diceros bicornis), badak putih (Ceratotherium simum), badak India (Rhinoceros unicornis), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan badak Jawa (Rhinocerus sondaicus).

"Saya yakin TNUK akan berhasil mengembangbiakkan badak jawa," katanya.

Sumber: Kompas.com

Walaupun kelahiran anak Ratu—badak berusia 9 tahun berbobot sekitar 525 kilogram—diperkirakan bulan Mei 2011, berita kehamilan badak sumatera atau Dicerorhinus sumatrensis dari sebuah desa di pinggiran Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung, itu sudah mendunia dan disambut sukacita para penggiat konservasi. Kehamilan Ratu adalah yang pertama di Indonesia setelah lebih dari 112 tahun.

”Keberhasilan Ratu mengandung bayi merupakan hasil kombinasi dari ilmu pengetahuan yang baik, kerja sama internasional, antara LSM dan beberapa kebun binatang, serta waktu yang tepat serta ketelatenan para personel di tempat penangkaran,” kata Darori, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Jumat (19/2) di Jakarta.

Pejantan badak sumatera yang menghamili Ratu adalah Andalas, juga 9 tahun, berbobot sekitar 765 kg. Andalas lahir 2001 di Cincinnati Zoo, Amerika Serikat, dari perkawinan badak sumatera jantan, Ipuh, dan badak betina, Emi. Pada Februari 2007, Andalas dikirim ke Indonesia dari Los Angeles Zoo, AS, dan ditempatkan di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung.

Andalas adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan anak badak pertama dari penangkaran badak sepanjang lebih dari 112 tahun.

Menurut dia, mengandungnya badak sumatera yang pertama ini telah melalui proses panjang dan bukan kejadian yang biasa. Darori melukiskan, dari 38 kali perkawinan, belum terjadi fetus. Ketika ada fetus, 4 kali keguguran. Tanggal 22 Desember 2009 dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada Ratu, tidak ditemukan tanda-tanda kehamilan.

Dokter hewan Andriansyah yang menangani Ratu mengatakan, 29 Januari 2010, saat USG terlihat ada kantong embrio pada uterus kanan Ratu. Pada USG 16 Februari 2010 ditemukan gambar kantong embrio berukuran sekitar 20 mm x 24 mm disertai fetus dan tali pusar yang berkembang, Ratu dinyatakan bunting,” ujarnya.

Ketua Yayasan Badak Indonesia Widodo Ramono mengatakan, keberhasilan ini juga akan membuka kemungkinan pembuatan suatu model program yang sama terhadap badak jawa, yang populasinya diperkirakan sekitar 50 ekor di Taman Nasional Ujung Kulon. (NAL)

Sumber: Kompas.com

Hampir bersamaan dengan dimulainya tahun Harimau dalam kalender penanggalan China (Imlek), WWF-Indonesia meluncurkan kampanye publik “Year of Endangered Tiger 2010” pada hari Jumat (12/02) di Taman Menteng, JakartaPusat. Kampanye ini dilakukan secara serentak oleh jaringan global WWF di berbagai negara yang memiliki populasi harimau.

Dalam konferensi pers peluncuran “Year of Endangered Tiger 2010” yang dihadiri oleh Dirjen PHKA Darori, Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan Hermin Roosita serta Direktur Program Kehutanan dan Spesies WWF-Indonesia Ian Kosasih, dijabarkan berbagai upaya yang dilakukan WWF bersama dengan Kemenhut dan Kementerian LH dalam melestarikan harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

“Indonesia tadinya memiliki tiga subspecies harimau, yaitu harimau Jawa, Bali, dan Harimau Sumatera. Tapi saat ini kita hanya punya satu saja, yaitu yang ada di Sumatera. Harimau Bali sudah punah pada tahun 40an, sementara harimau Jawa punah pada awal tahun 80-an. Harimau Sumetera saat ini diperkirakan hanya tinggal 400 individual saja,” jelas Ian Kosasih.

Momen Tahun Harimau ini menjadi sangat penting bagi kelestarian satwa eksotis khas Sumatera tersebut mengingat dalam 25 tahun terakhir Sumatera telah kehilangan 12 juta hektar areal hutan atau setengah dari jumlah hutan alamnya. Bukan hanya habitat alaminya yang telah dirampas, harimau Sumatera juga tengah dihadapkan dengan ancaman serius lainnya yaitu maraknya perburuan liar dan konflik harimau dengan manusia. “Saya rasa ini adalah momen yang tepat bagi kita untuk bersama-sama mencoba mengubah kecenderungan, mengubah tren dalam 25 tahun terakhir ini untuk keadaan yang lebih baik bagi Harimau Sumatera,” tambah Ian.

Sementara Darori menyampaikan upaya Kemenhut dalam melestarikan harimau melalui dokumen strategi dan rencana aksi konservasi harimau Sumatera 2007-2017. Ia optimis dengan adanya pemahaman komprehensif dari berbagai pihak terhadap ruang hidup harimau, maka di tahun 2017 nanti, populasi harimau Sumatera tidak terancam lagi.
Darori menyadari betul bahwa belum adanya pemahaman mengenai konservasi harimau menjadi faktor penting yang menyebabkan meningkatnya angka kematian harimau.

"Banyak orang yang tinggal di kawasan konservasi yang sebenarnya tak boleh untuk permukiman. Karena itulah, harimau merasa terancam lalu menyerang manusia. Itu karena kita dianggap telah menganggu habitat mereka..Itu terjadi karena masyarakat perdesaan belum paham betul mengenai situasi sebenarnya. Berkaca pada apa yang terjadi di lapangan, Kemenhut berjanji akan lebih gencar lagi mengadakan penyuluhan kepada warga perdesaan melalui kepala desa masing-masing,” jelas Darori.

Darori menambahkan, upaya serius Indonesia dalam menyelamatkan satwa langka khas Sumatera tersebut mendapat apresiasi dari dunia internasional. Dalam pertemuan pertama Asian Ministerial Conference (AMC) untuk Konservasi Harimau di Bangkok pada bulan Januari 2010 lalu, Indonesia telah diusulkan oleh World Bank untuk menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri berikutnya sebelum pertemuan Tiger Summit di Vladivostoc, Russia.

Sementara narasumber lainnya, Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan Hermin Roosita menegaskan bahwa sebenarnya pemerintah sudah berkomitmen sejak lama untuk melakukan pembangunan dan penataan ruang Pulau Sumatera berbasis ekosistem.

"Saat ini, Kementerian Lingkungan Hidup menjadi pendorong dan pengawal tindak lanjut kesepakatan bersama 10 gubernur Sumatera untuk melakukan penataan ruang Pulau Sumatera berbasis ekosistem. Penataan ruang berbasis ekosistem tersebut akan menyelamatkan ekosistem Sumatera dan satwa langka di Pulau Sumatera, termasuk harimau. Di samping itu juga akan menghindarkan masyarakat sekitar dari konflik sosial, konflik satwa-manusia, terganggunya aktivitas ekonomi, dan hilangnya keanekaragaman hayati,” papar Hermin.

Mewakili kelompok seniman, musisi sekaligus Suporter Kehormatan WWF-Indonesia Nugie, menyerukan kepada masyarakat untuk mulai melakukan hal sederhana sebagai bentuk partisipasi dalam upaya penyelamatan harimau. “Mulailah dengan menghemat kertas, yang juga berarti kita telah membantu mencegah kerusakan hutan yang merupakan habitat harimau. Hal lainnya adalah dengan tidak memelihara harimau di rumah, tidak memakai dan membeli aksesoris, pajangan, atau apapun itu yang berasal dari dari bagian-bagian tubuh harimau. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk turut serta berkontribusi dalam upaya penyelamatan harimau sumatera ini,” pungkasnya.

Sumber: Masayu Yulien Vinanda [www.wwf.or.id]

Ruang jelajah harimau sumatera atau Panthera tigris sumatrae liar di Pulau Sumatera dalam kondisi tersekat-sekat dengan adanya areal perkebunan sawit, hutan tanaman industri, hutan tanaman rakyat, ataupun pertambangan. Untuk melestarikan jenis satwa ini, pemerintah dibebani tugas merestorasi ekosistem yang bisa menghubungkan satu kawasan habitat harimau ke kawasan lainnya.

”Di Bukit Tigapuluh Jambi dengan Taman Nasional Teso Nilo Riau sedang diupayakan jalur konservasi harimau,” kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Darori, Jumat (12/2), saat peluncuran Kampanye Penyelamatan Harimau Sumatera oleh WWF-Indonesia sekaligus menyambut ”The Year of Tiger 2010”.

Menurut Darori, jalur konservasi atau koridor penghubung habitat harimau dibuat dengan merestorasi areal yang sudah berubah peruntukannya. Ketentuan yang diberlakukan, lebar koridor minimal 500 meter.

Kementerian Kehutanan, menurut Darori, sudah melepasliarkan harimau sumatera sebanyak sembilan ekor. Pelepasannya sebanyak 4 ekor di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, 4 ekor di Taman Nasional Gunung Leuser, dan 1 ekor di Taman Nasional Kerinci Seblat.

Ada salah satu harimau yang dilepasliarkan dan diketahui telah ditangkap di wilayah Sumatera Barat kemudian dibunuh dan dipotong-potong. Hal ini menunjukkan, subspesies harimau Indonesia, yang kini tertinggal antara 300 sampai 400 ekor, dalam kondisi terancam.

Harimau setelah dewasa dikenal soliter sehingga membutuhkan ruang jelajah luas. Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional menetapkan vegetasi hutan Sumatera minimal 40 persen.

Menurut narasumber lainnya, Deputi Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Hermien Roosita, pada periode 1985- 2007, kondisi hutan di Sumatera menyusut drastis sebesar 48 persen atau sekitar 12.019.692 hektar.

Kawasan hutan Sumatera menjadi tersekat-sekat untuk berbagai peruntukan itu dan kini tertinggal 29 persen. Habitat harimau pun mempersyaratkan ekosistem sungai yang baik, tetapi dari 48 wilayah sungai terdapat 14 wilayah sungai kritis.

Narasumber lainnya, yaitu Direktur Program Kehutanan, Spesies, dan Air Tawar WWF-Indonesia Ian Kosasih, beserta dua figur publik Nugie dan Davina Hariadi.
Ian mengatakan, telah diselenggarakan Konferensi Tingkat Menteri Asia (AMC) untuk Konservasi Harimau pada Januari 2010 di Bangkok, Thailand.

”Bank Dunia telah mengusulkan kita menjadi tuan rumah berikutnya, sebelum Tiger Summit di Wladiwostok, Rusia,” kata Ian Kosasih. (NAW)

Sumber: Kompas.com

Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek, Bandar Lampung, kembali merawat seorang pasien berstatus terduga atau suspect flu burung. Sampel darah dan swap tenggorokan pasien sudah diambil dan dikirimkan ke Jakarta, Selasa (9/2) siang, untuk diuji secara laboratorium.

Pad Dilangga, Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Abdul Moeloek, mengatakan, pada Senin sore seorang pasien perempuan berinisial Suh (41) masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Abdul Moeloek. Sebelumnya, Suh dirawat di puskesmas Way Laga.

”Karena demamnya tidak kunjung turun, pihak puskesmas kemudian merujuk Suh ke RSUD Abdul Moeloek,” ujar Pad.

Setelah mendapat pemeriksaan awal, dokter yang merawat memasukkan Suh ke ruang isolasi khusus pasien dengan dugaan flu burung. ”Pemindahan ruang perawatan dilakukan setelah dokter mendapati Suh menderita batuk, pilek, dan demam tinggi selama 15 hari. Senin sore Suh juga menjalani rontgen,” kata Pad.

Berdasarkan rontgen tersebut, dokter menyimpulkan, ada gejala pneumonia di paru-paru perempuan warga Desa Gunungsinar, Way Laga, Panjang, Bandar Lampung, tersebut. Kemudian, pada penelusuran penyakit, dokter mendapati Suh pernah kontak langsung dengan ayam mati di sekitar rumahnya. ”Suh yang membuang ayam mati itu,” ujar Pad.

Sampel
Kemarin, Suh diberi tamiflu, obat yang biasa diberikan kepada pasien dengan status terduga flu burung dan menunjukkan gejala-gejala demam, batuk, dan sesak napas.
Pad mengatakan, tim dokter ruang isolasi flu burung RSUD Abdul Moeloek sudah mengambil sampel darah dan swap atau lendir di tenggorokan Suh kemarin pagi. Kedua jenis sampel tersebut sudah dibawa ke laboratorium Departemen Kesehatan untuk diuji untuk memastikan apakah Suh positif flu burung (asian influenza/AI).
”Ditargetkan, dalam dua atau tiga hari ini hasil uji laboratorium nya sudah keluar,” kata Pad.

Menurut Pad, Suh adalah pasien dengan status terduga flu burung pertama tahun ini. Selama periode 2005-2009, tercatat 59 pasien berstatus terduga AI (H5N1 ) dan 3 pasien berstatus positif terserang AI.

Imbauan
Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Lampung Dyah Iskraeni mengatakan, pada musim hujan seperti sekarang ini, Dinas Kesehatan Lampung mengimbau warga agar mewaspadai penyebaran virus H5N1.
Saat musim hujan, virus flu burung mudah berkembang dan menyerang unggas serta berpindah ke manusia. Didukung lalu lintas unggas di Lampung yang cukup terbuka, masyarakat Lampung rentan terhadap penyebaran virus.

”Masyarakat harus cepat-cepat memeriksakan diri ke puskesmas apabila menunjukkan gejala klinis, seperti demam, batuk, serta sesak napas,” saran Dyah.
Pihak puskesmas, lanjut Dyah, bekerja sama dengan aparat kecamatan atau keluarahan harus cepat bertindak. Caranya, antara lain, dengan menelusuri titik penyebab dan melaporkan masalah terkait kepada tim respons unit dinas peternakan supaya ditindaklanjuti. (hln)

Sumber: Kompas.com

Sekitar 119 ayam kampung di desa Mendala, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes ditemukan mati mendadak. Ayam yang mati memiliki ciri kepala berwarna kebiruan dan bengkak, mulut dan mata mengeluarkan cairan, serta diare darah. Dari hasil pemeriksaan petugas Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, ayam-ayam itu positif terjangkit flu burung atau Avian Influenza.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, Jhoni Murahman, Senin (8/2/2010) mengatakan, serangan flu burung di Desa Mendala merupakan yang ketiga kalinya selama awal 2010.

Januari lalu, sekitar 100 ekor ayam kampung di Desa Kaliloka, Kecamatan Sirampog juga mati akibat serangan virus yang sama. Kematian unggas akibat AI juga menimpa 20 ekor burung puyuh di Desa Randusari, Kecamatan Losari.

Menurut dia, virus AI mudah menyerang unggas akibat pengaruh cuaca yang tidak menentu. Perbedaan suhu dan tekanan angin yang tinggi mengakibatkan unggas stres, sehingga daya tahan tubuhnya turun. "Jadi virus yang tadinya tidak menyebabkan sakit, sekarang membuat sakit," ujarnya.

Wilayah Brebes, lanjutnya, merupakan salah satu daerah endemi flu burung. Sejak 2003 hingga saat ini, virus AI sudah ditemukan di 81 desa, dari 297 desa yang ada di wilayah tersebut. Setiap tahun ada terus. "Grafik kematian unggas tertinggi biasanya terjadi pada bulan Januari hingga April," kata Jhoni.

Ibnu Abdillah (24), warga Desa Mendala, Kecamatan Sirampog mengatakan, kematian ayam secara mendadak di wilayahnya sudah berlangsung sejak sepekan lalu. Hampir semua warga yang memiliki ternak ayam kampung, mengalami hal tersebut.

Sembilan ekor ayam milik ibunya, Sri Astuti (52) juga mati mendadak. Padahal satu hari sebelumnya, ayam-ayam itu dalam kondisi sehat. Menurut Ibnu, kasus serupa sebenarnya hampir terjadi setiap tahun. Setiap musim penghujan, puluhan ayam kampung di Desa Mendala banyak yang ditemukan mati mendadak. (WIE)

Sumber: Kompas.com


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.