Maret 2010

Virus Antraks dikabarkan menyerang warga di Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Sekretaris Komisi E DPRD Sulsel, Devi Santy Erawati di Makassar, Selasa (30/3), mengatakan, empat orang serta satu Kepala Keluarga (KK) di Tenrigangkae langsung sakit setelah mengkonsumsi sapi yang positif terinfeksi antraks.

Menurut dia, tiga warga yang terlibat dalam pemotongan sapi pada 19 Maret lalu langsung meninggal, kulit melepuh dan luka di tangan. Satu ibu hamil dinyatakan diare dan satu KK lainnya gatal-gatal.

"Warga di sana memastikan jika sapi yang mereka konsumsi positif antraks. Itu hasil kajian Laboratorium Khusus Hewan di Maros yang memeriksa jeroan sapi yang dimakan warga," ujar Devi menuturkan pengakuan pemilik sapi, Nasir.

Menurut legislor PKS ini, Nasir yang kaget menerima surat dari Laboratorium Hewan Maros yang menyatakan bahwa jeroan sapi positif antraks, langsung mengirim fax laporan ke Dinas Kesehatan Maros dan Dinas Kesehatan Sulsel.

"Pak Nasir sendiri yang membawa jeroan tersebut setelah menyembelih sapi. Sebelumnya dia curiga karena gatal-gatal usai menyembelih sapi tersebut," ujar Devi yang mendapatkan informasi tersebut saat sosialisasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Sapi-sapi di Tenrigangkae dibeli oleh warga dari desa sekitarnya, seperti dari Moncongloe pada Februari 2010. Sebelumnya Moncongloe dikenal sebagai daerah terinfeksi dan endemis virus antraks.

Sekitar dua pekan setelah pembelian, petugas dari Dinas Peternakan setempat memeriksa sapi tersebut dan dinyatakan tidak terinfeksi virus antraks. Warga setempat mengemukakan bahwa Dinas Kesehatan setelah menerima laporan tersebut akan melakukan pemeriksaan hewan dan penyuluhan di Tenrigangkae, Rabu (31/3).

Sumber: http://www.tvone.co.id

Bank belum siap menyalurkan kredit usaha pembibitan sapi yang telah digulirkan pemerintah sejak akhir 2009. Dari target penambahan 200.000 sapi induk pada tahun ini, diperkirakan hanya akan tercapai sekitar 60.000 ekor.

Menurut data Direktorat Perbibitan Kementerian Pertanian hingga akhir Februari, jumlah kredit yang disetujui baru 6.280 sapi. Adapun pengajuan yang masih diverifikasi 29.440 ekor.

”Ini karena bank yang sudah menandatangani perjanjian kerja sama pembiayaan dengan Kementerian Keuangan masih terbatas, baru dua bank nasional dan empat bank daerah,” kata Direktur Perbibitan Kementerian Pertanian Gunawan di Jakarta, Senin (29/3).

Bank yang telah menandatangani perjanjian kerja sama pembiayaan (PKP) kredit usaha pembibitan sapi (KUPS) adalah BNI, BRI, BPD Jawa Tengah, BPD Jawa Timur, BPD Yogyakarta, dan BPD Sumatera Utara.

Meski telah menandatangani PKP, menurut Gunawan, masih ada bank yang belum mengirimkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis ke daerah. Akibatnya, pengajuan kredit belum bisa diproses. ”Dan, tidak semua bank memiliki tenaga ahli bidang peternakan,” ujar dia.

Padahal, tahun 2010, pemerintah mengalokasikan Rp 290 miliar untuk subsidi bunga KUPS. Pada skim KUPS, pemerintah menanggung bunga 9 persen sehingga peternak hanya membayar bunga 5 persen. Kredit ini digulirkan untuk meningkatkan populasi sapi perah dan sapi potong di Indonesia.

Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Jawa Tengah Agus Warsito menyayangkan ketidaksiapan bank dalam menyalurkan KUPS.

Belum optimalnya penyaluran KUPS, kata Agus, juga karena pemerintah kabupaten/kota belum memahami skim pemberian KUPS. ”Bahkan, ada dinas peternakan di tingkat kabupaten yang melempar tanggung jawab memberikan rekomendasi ke provinsi. Padahal, rekomendasi cukup di tingkat kabupaten. Peternak yang mengerti skim kredit ini juga terbatas,” ujar dia.

Gunawan menjelaskan, pihaknya mengupayakan penambahan bank yang bisa melayani KUPS. ”Sudah tiga bank lagi yang diproses untuk PKP, yakni Bukopin, Mandiri, dan Bank Nagari di Sumatera Barat. Ada satu bank lagi yang mengajukan, tetapi ditolak. Kami akan mengundang perbankan membahas hal ini untuk percepatan,” kata dia. (GAL)

Sumber: Kompas.com

Direktur Jenderal Peternakan Departemen Pertanian akhirnya menetapkan Kota Gunungsitoli tertutup bagi hewan pembawa rabies. Warga juga sudah mengurung hewan peliharaan mereka untuk mempermudah pemberian vaksin dan tidak menularkan rabies.

Warga Nias yang berada di perantauan juga mulai membantu memberikan serum antirabies untuk warga Pulau Nias. Keterbatasan dana yang dimiliki pemerintah daerah membuat pemda membutuhkan bantuan dari berbagai pihak.

Sekretaris Daerah Kota Gunungsitoli Kemurnian Zebua di Medan, Senin (22/3), mengatakan, sampai saat ini dana APBD Kota Gunungsitoli belum disahkan sehingga belum ada dana untuk pembelian vaksin. Kota Gunungsitoli sendiri mendapatkan dana alokasi umum Rp 95 miliar. Dana itu habis untuk gaji pegawai yang nilainya mencapai Rp 90 miliar.

”Kami sudah menyurati Dinas Kesehatan Sumut dan Departemen Kesehatan untuk minta bantuan serum lagi, tetapi sampai saat ini belum turun,” kata Kemurnian.

Selasa ini bantuan 200 kuur serum antirabies dikirim ke Nias dari warga Nias yang tinggal di Jakarta, Fona Marundruri, melalui Yayasan Delasiga. ”Kemungkinan kami akan menyalurkannya melalui RSUD Gunungsitoli,” tutur Fona. Sebelumnya Fona telah membantu 50 kuur serum antirabies dan sudah habis.

”Kami berharap bantuan-bantuan serupa muncul dari para warga Nias di perantauan,” kata Kemurnian. Ia mengakui dana operasional di lapangan juga tidak tersedia.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Kelautan, dan Perikanan Kota Gunungsitoli Nurkemala Gulo mengatakan, hingga pekan lalu baru 600 anjing dan kucing yang divaksinasi. Vaksinasi berjalan lambat karena hanya ada tiga tenaga vaksinator di Gunungsitoli.

”Namun, kami sudah koordinasi dengan kabupaten/kota di Pulau Nias difasilitasi Dinas Peternakan Sumut minus Nias Selatan,” kata Nurkemala. Setelah Dirjen Peternakan menetapkan Nias tertutup bagi hewan pembawa rabies, juga sudah dibentuk tim koordinasi.

Pekan lalu Dinas Kesehatan Gunungsitoli melaporkan delapan orang sudah meninggal akibat gigitan anjing. Adapun jumlah warga yang melaporkan digigit anjing dan kucing di RSUD Gunungsitoli dan Puskesmas di Gunungsitoli 324 orang.

Selama satu pekan terjadi kenaikan korban meninggal berjumlah satu orang dan jumlah gigitan dari 115 gigitan jadi 324 gigitan. Sebanyak tujuh orang di antaranya digigit kucing.

Kepala Dinas Kesehatan Sumut Chandra Safei mengatakan, kabupaten/kota sangat mampu untuk membeli vaksin sendiri.

”Tidak semua korban gigitan juga bisa langsung diberi vaksin. Dilihat dulu apakah anjingnya mati atau tidak dan dilihat indikasinya. Seleksi ini harus dilakukan karena vaksin mahal,” kata Chandra. (WSI)

Sumber: Kompas.com

Sebagian besar satwa kunci sumatera dalam ekosistem Bukit Tigapuluh, Jambi, berada di luar area konservasi. Hal itu mendorong tingginya konflik antara satwa dan manusia.

Pelaksana Tugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jambi, Didy Wurjanto, mengatakan topografi area konservasi berupa Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) seluas 144.000 hektar, relatif curam. Sejumlah satwa kunci sumatera seperti gajah sumatera dan orangutan sumatera, tidak dapat bertahan hidup di sana, dan lebih cocok pada habitat yang cenderung landai. Begitu juga harimau sumatera mencari sumber makanan dekat aliran-aliran sungai di luar TNBT.

"Banyak satwa kunci yang justru hidup dan melintas di sekitar permukiman atau kebun masyarakat. Sumber-sumber makanan juga mudah diperoleh di sana," ujarnya.

Didy mencontohkan, puluhan gajah sumatera memiliki jalur perlintasan di Kecamatan Sekutur Jaya, Kabupaten Tebo, yang kini telah menjadi perkebunan dan permukiman transmigran. Pada saat kawanan gajah melintas, tanaman sawit warga kerap rusak. Akibatnya konflik di antara keduanya terjadi setiap tahun.

Dalam catatan Kompas, empat gajah pernah diracun dan dibakar pada Mei 2008, di Desa Tuo Sumay dan Desa Muara Sekalo, Kecamatan Sumay, Tebo. Saat ditemukan, gajah mati dengan kondisi tubuh terpotong-potong dan hangus terbakar
Counterpart BKSDA-FZS Krismanko Padang menambahkan, TNBT cenderung berbukit-bukit dan jenis tanamannya lebih homogen. Sedangkan pada kawasan penyangga, topografinya lebih landai, serta banyak sumber makanan karena terdapat sejumlah sungai.

Ia melanjutkan, kawasan di luar area konservasi sangat terbuka untuk diubah menjadi perkebunan maupun hutan tanaman industri. "Ini jelas akan mengancam kelestarian satwa kunci sumatera dan juga masyarakat suku terasing seperti SAD, Talang Mamak, dan Melayu Tua yang menyandarkan hidup pada hutan," ujarnya.

Menurut Public Relation Officer Frankfurt Zoological Society (FZS) Lusianus Andreas, saat ini hanya tersisa tiga kawasan eks-hak pemanfaatan hutan (HPH)yang berada di kawasan penyangga TNBT, yakni eks HPH Hatma Hutani, Dalek Hutani Esa, dan IFA dengan luas keseluruhan 231.052 hektar. Pada kawasan inilah sebagian populasi satwa kunci sumatera berada.

Di sisi lain, ancaman meningkat dengan banyaknya perusahaan perkebunan yang mengajukan izin pembukaan hutan tanaman industri di kawasan inti habitat gajah dan orangutan sumatera, seperti PT Lestari Asri Jaya di eks-IFA seluas 61.000 ha dan Rimba Hutani Mas di eks-Dalek seluas 52.000 ha. "Jika pemerintah tetap memberikan izin HTI, populasi gajah bisa punah. Pemerintah sebaiknya mengalokasikan pengelolaan hutan dengan pola restorasi," ujar dia.

Andreas menambahkan, FZS sedang menjajaki kemungkinan untuk mengelola kawasan di ketiga eks-HPH dengan pola restorasi kawasan. Dengan tidak mengubah fungsi hutan, maka kelestarian alam serta habitat satwa diyakini akan lebih terjaga.

Berdasarkan data FZS, terdapat 105 orangutan dan sekitar 60 gajah sumatera di kawasan penyangga TNBT. Selain itu ditemukan pula jejak harimau sumatera dan tapir dalam kawasan tersebut.

Sumber: Kompas.com

Kawanan gajah sumatera (Elephan maximus sumatranus) yang sejak sebulan terakhir merusak tanaman padi di Desa Alur Keujruen, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, kini makin beringas. Malah seorang warga desa itu, Misbah (48), cedera kaki akibat diinjak hewan berukuran jumbo itu.

Keuchik Alur Keujruen, Efendi, kepada Serambi, menyebutkan, kawanan gajah liar yang berjumlah tiga ekor itu masih saja mengobrak-abrik tanaman pisang, cokelat, pinang, dan tanaman padi milik warga. “Sejak kawanan gajah itu hadir di daerah ini, banyak tanaman pertanian dan perkebunan rakyat yang rusak mereka obrak-abrik,” kata Efendi.

Menurutnya, upaya pengusiran gajah ke habitatnya sudah dilakukan masyarakat secara tradisional, namun tak berhasil. Bahkan seorang warga setempat, Misbah (48) mengalami cedera. Ayah lima anak itu retak tulang paha kanannya akibat diinjak gajah ketika lari dari kejaran gajah, setelah korban bersama beberapa warga lainnya mengusir gajah yang sedang memakan padi yang baru berumur dua pekan.

Misbah tersungkur, sedangkan rekannya berhasil menyelamatkan diri. Meski telah berjuang sekuat tenaga, namun korban tak berhasil lari dari amukan gajah. Satwa berbelalai itu baru meninggalkan korban setelah warga kembali mengejar kawanan gajah itu. Melihat kondisi korban yang tak berdaya, warga langsung melarikan korban ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. “Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik. Tapi korban masih menggunakan tongkat untuk berdiri, apalagi berjalan,” kata Efendi.

Ancam racun
Efendi mengatakan, gangguan gajah di kawasan terpencil itu sudah berlangsung sejak Ramadan tahun lalu dan sudah merusak tanaman, kebun, serta sejumlah rumah milik warga. Namun hingga kini belum ada upaya pemerintah dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat untuk menangkap atau menggiring kawanan gajah itu kembali ke habitatnya.

Bila pihak terkait tidak segera menanggulangi gangguan gajah tersebut, masyarakat setempat akan meracuni gajah-gajah itu. Sebab, masyarakat yang berpenduduk sekitar 383 jiwa atau 87 KK itu tak tahan lagi menghadapi keganasan gajah yang berlangsung empat bulan. “BKSDA harus mengganti semua tanaman serta membayar biaya pengobatan korban yang cedera akibat amukan gajah. Bila tidak, maka kami akan meracun binatang itu,” tegas Efenfi.

Lahan pos pemantau
Menanggapi keresahan warga akan gajah, Bupati Aceh Selatan, Husin Yusuf mengaku sangat prihatin. Apalagi gangguan itu hingga kemarin masih berlangsung di sejumlah desa dalam kabupaten penghasil pala itu. Bupati Husin Yusuf sangat mendukung permohonan masyarakat untuk membangun pos pemantau gajah di Desa Naca. Bahkan pihaknya bersedia menyediakan berapa pun lahan yang diperlukan untuk pembangunan pos pemantau itu. “Kita akan berkoordinasi dengan pihak terkait mengenai pembangunan pos pemantau satwa liar itu,” kata Bupati Husin Yusuf.

Gajah di Pijay
Sementara itu, dari Meureudu, ibu kota Kabupatan Pidie Jaya (Pijay) dilaporkan sejumlah petani di kawasan Krueng Tijee, Kecamatan Meureudu, belakangan ini resah. Pasalnya, sejumlah komoditas yang mereka usahakan di lahan perbukitan tersebut, kini diobrak-abrik gajah. Untuk menghindari kerusakan yang lebih luas akibat ulah satwa liar yang dilindungi itu, petani di sana sangat mengharapkan perhatian BKSDA Aceh.

Tentang adanya gangguan tanaman perkebunan dan pertanian di Gle Krueng Tijue dan sekitarnya berjarak kurang lebih 10 km dari permukiman penduduk, dilaporkan Fauzi AMd, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Meureudu, kepada Serambi. Menurutnya, gangguan Po Meurah itu di sana sudah berlangsung hampir sepekan. Tanaman yang dirusak, antara lain, pisang, kedelai, kakao, dan aneka sayuran.

Untuk mengatasi keberingasan hewan jumbo itu, tambah Fauzi, petani tak mungkin melakukannya. Oleh karenanya, bantuan dari dinas terkait sangat diharapkan. Apalagi, kawasan gajah yang merusak hasil usaha mereka diperkirakan mencapai belasan ekor. Idris Ahmad, Sekretaris Pawang Glee Krueng Tijee menyebutkan, jika gangguan itu tidak segera diatasi, kondisinya akan lebih fatal.

Beberapa petani di sana membenarkan adanya gangguan gajah terhadap beberapa jenis tanaman yang kini tumbuh dengan subur. Umumnya, gajah yang jumlahnya diperkirakan 12-14 ekor, menyerang tanaman pada malam hari. Tiga lokasi yang menjadi santapan empuk binatang tersebut adalah Alue Bue dan Bayah (Glumpang Tutong) serta kawasan Dama, Kemukiman Beuracan.

Kebun yang diganggu hewan berbelalai itu, saat ini sudah hampir mencapai lima hektare. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Kadishutbun) Pijay, Bukhari Adami SP, yang dikonfirmasi Serambi mengatakan, sesuai laporan yang ia terima dari petani dan petugas setempat bahwa benar adanya gangguan gajah di kawasan Glee Krueng Tijee Desa Glumpang Tutong. Diakui, keberadaan hewan tersebut kini sangat mengganggu puluhan petani di wilayahnya. Terhadap hal itu, pihaknya juga sudah melaporkan ke BKSDA Aceh. Malah, kemarin ia sudah membuat surat ke dinas terkait di Banda Aceh. “Kalau ke Pak Bupati setempat, sudah duluan kami lapor,” ujar Bukhari.

Untuk menghindari amukan gajah itu tidak terus meluas, Kadishutbun Pijay berharap BKSDA Aceh secepatnya mencari solusi terbaik. Konon lagi, keberadaan Glee Krueng Tijee Meureudu, belakangan memang semakin dipenuhi dengan tanaman perkebunan dan pertanian. Seperti, cokelat, pinang, melinjo, pisang, durian, rambutan, serta komoditas hortikultura semisal cabai merah, kacang, terong.

Bupati Pijay, Drs HM Gade Salam, yang ditanyai Serambi mengenai hal itu mengatakan sudah menerima laporan lisan dari kadishutbun setempat. Namun, untuk menindaklanjuti kasus tersebut ke provinsi ia sudah minta kadis bersangkutan secepatnya melaporkan secara tertulis, terutama mengenai jenis tanaman, luas serangan/gangguan, umur tanaman, termasuk perkiraan kerugian yang ditimbulkan oleh amukan gajah tersebut. (az/ag)

Sumber: Kompas.com


Satu kasus kematian lagi akibat virus flu babi atau A/H1N1 dilaporkan di Hong Kong, sehingga jumlah korban tewas akibat virus itu meningkat jadi 75 orang, kata otoritas kesehatan lokal Hong Kong, Sabtu (21/3).

Pasien pria berusia 43 tahun mendatangi rumah sakit United Christian pada 18 Maret karena menderita flu biasa selama sepekan. Ia dikonfirmasi positif mengidap virus flu A/H1N1 sehari setelah berada di rumah sakit itu.

Pasien segera diisolasi untuk pengobatan klinis khusus pada hari yang sama, dan ditanggulangi dengan minum obat Tamiflu dan antibiotik.

Kondisi kesehatan pasien tersebut kian menurun dan ia menemui ajal pada Jumat (20/3) malam.

Kasus tersebut telah dilaporkan kepada Kantor Pusat Rumah Sakit tersebut dan Pusat Perlindungan Kesehatan Hong Kong.

Kasus flu babi di Hong Kong dilaporkan mulai setelah pada Januari lalu tercatat meningkat tajam.

Peningkatan itu terlihat dari jumlah pasien mendatangi Klinik Flu mencapai 1.673 orang, menurut Otoritas kesehatan Hong Kong.

Di antara para pasien gejala flu babi itu, tercatat 106 pasien dinyatakan positif mengidap virus H1N1 yang dirawat di beberapa rumah sakit publik.

Dari 106 pasien positif flu babi itu terdiri atas 86 dalam kondisi stabil, lima dalam kondisi serius, dan 14 pasien berada dalam kondisi kritis.

Seorang remaja berusia 20 tahun meninggal bulan lalu yang awalnya diketahui menderita leukimia, namun belakangan ia memperlihatkan gejala flu dan segera dibawa ke rumah sakit pada hari yang sama, namun kondisi staminanya menurun sangat drastis.

Pasien itu kemudian meninggal setelah dinyatakan positif mengidap virus flu H1N1.

Sumber: http://id.news.yahoo.com

Korban rabies di Pulau Nias terus bertambah. Hingga Jumat (19/3) Dinas Kesehatan Gunungsitoli melaporkan delapan orang sudah meninggal akibat gigitan anjing. Adapun jumlah warga yang melaporkan digigit anjing dan kucing di RSUD Gunungsitoli dan puskesmas di Gunungsitoli sebanyak 324 orang.

Selama satu pekan terjadi kenaikan korban meninggal berjumlah satu orang dan jumlah gigitan dari 115 gigitan menjadi 324 gigitan. Sebanyak tujuh orang di antaranya digigit kucing.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli, yang dihubungi dari Medan, Temaziduhu Lombu mengatakan, dari 324 orang yang digigit anjing/kucing baru 116 orang yang mendapatkan vaksin. Sebanyak 55 orang mendapat vaksin dari Depkes, 25 orang mendapat vaksin dari donatur di Jakarta, dan 36 orang membeli sendiri di apotek.

”Sampai saat ini kondisi APBD daerah pemekaran belum memungkinkan untuk bisa membeli vaksin sendiri. Maka kami masih menunggu bantuan ke Depkes dan Dinas Kesehatan Sumut,” tutur Lombu. ”Kami berharap jangan sampai bantuan terlambat. Vaksin datang, tetapi korban sudah berjatuhan,” kata Lombu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Julianus Dawolo mengatakan, pihaknya sudah mengajukan dana vaksin ke APBD Kabupaten Nias untuk RSUD Gunungsitoli sebanyak Rp 600 juta dan Rp 300 juta untuk puskesmas di Kabupaten Nias.

Menurut Dawolo, di Kabupaten Nias sudah 201 orang yang digigit anjing. Sebanyak 150 orang di RSUD Gunungsitoli yang berasal dari berbagai daerah, sementara yang melapor ke puskesmas sebanyak 51 orang. ”Saat ini stok vaksin kosong, bantuan pemerintah sebanyak 100 vaksin sudah habis,” tutur Dawolo.

Namun, sampai saat ini koordinasi antarkabupaten/kota di Pulau Nias untuk menangani rabies secara bersama belum terjadi. Dawolo mengatakan, dalam pertemuan di Hotel Antares bersama Dinas Kesehatan Sumut dan Departemen Kesehatan, pekan lalu, pihaknya sudah mengusulkan agar pemerintah provinsi memfasilitasi pertemuan koordinasi itu. Namun, sampai sekarang belum terjadi. (WSI)

Sumber: Kompas.com

Rencana alih fungsi kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis menjadi Area Penggunaan Lain (APL) akan mengancam kelestarian satwa Gajah Sumatera (Elephas maximus).

Hal tersebut karena letak kawasan HPT Lebong Kandis di Kabupaten Bengkulu Utara itu berbatasan langsung dengan kawasan Hutan Produksi dengan fungsi khusus Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat.

"Tanpa rencana alih fungsi hutan pun, habitat gajah semakin terdesak dan konflik semakin tinggi, apalagi kalau HPT Lebong Kandis sudah berstatus APL bisa dibayangkan dampaknya bagi kelestarian Gajah Sumatra," kata Representatif ProFauna Bengkulu, Radius Nursidi.

Rencana alih fungsi HPT Lebong Kandis bersama sejumlah kawasan hutan lainnya seluas 80 ribu hektar telah diusulkan Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu ke Departemen Kehutanan.

Usulan tersebut menjadi bagian dari revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bengkulu tahun 2009.

"Kami mendapat informasi bahwa tim terpadu dari pusat sudah turun ke lokasi untuk meninjau langsung lokasi kawasan yang diusulkan untuk dilepaskan itu," katanya.

Sumber: Kompas.com


Populasi gajah sumatera di Provinsi Bengkulu saat ini diperkirakan tinggal 150 ekor atau menurun dari sebelumnya sekitar 225 ekor. "Penurunan populasi gajah sumatera itu disebabkan tiga faktor, yaitu perburuan liar, konflik lahan (peracunan gajah), dan populasi di luar kawasan konservasi (tidak terkelola)," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Provinsi Bengkulu Andi Basrul melalui Kepala Bagian TU Supartono.

Habitat gajah di Bengkulu terdapat dalam satu kawasan konservasi dan tujuh lokasi di luar kawasan tersebut, yang sekarang sudah berubah menjadi kebun kelapa sawit rakyat dan perkebunan besar.

Perambahan habitat gajah di Bengkulu di antaranya terjadi pada kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan kawasan HPT di Bengkulu Utara. "Untuk menjaga populasi gajah tersebut, kami berpedoman pada kesepakatan bersama gubernur se-Sumatera dan tiga menteri pada 2007,” katanya.

Direktur Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Dephut Hary Santoso di Bengkulu beberapa hari lalu mengatakan bahwa pelestarian gajah perlu melibatkan semua instansi terkait karena BKSDA tidak mampu menangani sendiri.

Ia juga mengatakan bahwa pihak swasta perlu dilibatkan, terutama yang membuka perkebunan di sekitar habitat gajah tersebut karena keberadaan perkebunan itu dianggap mengganggu habitat gajah.

Sumber: Kompas.com

Jumlah pasien terduga penderita flu burung (avian influenza) yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr M Djamil, Kota Padang, Sumatera Barat, terus bertambah. Menyusul dirujuknya lagi dua pasien baru ke rumah sakit tersebut, Rabu (9/3), maka sejak Januari hingga kini, total pasien terduga yang telah ditangani RS tersebut menjadi 14 orang.

Dua pasien baru yang masing-masing berumur 69 tahun dan 20 tahun itu berasal dari Kota Padang. Kepala Instalasi Humas dan Pengaduan Masyarakat RSUP Dr M Djamil, Gustafianof, mengatakan, penambahan jumlah pasien itu membuat pihaknya harus menambah dua tempat tidur untuk perawatan, dari yang sebelumnya hanya berjumlah delapan unit.

Namun, jika pasien terduga flu burung terus mengalir ke rumah sakit tersebut, dikhawatirkan jumlah ruangan isolasi untuk penanganan penyakit mematikan itu takkan lagi mencukupi.

Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Rosnini Savitri mengatakan, jika jumlah pasien terduga flu burung terus berdatangan dan melebihi kapasitas perawatan di RSUP Dr M Djamil, Kota Padang, mereka akan dialihkan ke RS Ahmad Muchtar, Bukittinggi.

Terkait mulai maraknya flu burung di beberapa daerah di Jawa Timur, Pemerintah Kota Malang menerjunkan tim pemantauan flu burung mulai dari kelurahan hingga ke pasar.
”Petugas kami sudah diturunkan untuk memantau flu burung di Kota Malang. Sebab dengan adanya kasus di Surabaya maka dimungkinkan virus H5N1 bisa dengan cepat menyebar ke mana-mana. Cuaca hujan dan angin seperti saat ini amat mendukung perkembangan virus tersebut,” ujar Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Malang, Yudi Broto.

Selain di Malang, virus flu burung belakangan ini juga sudah merebak di daerah Jatim lainnya, seperti Bondowoso, Gresik, Blitar dan Jember, Surabaya.

Pemerintah Kabupaten Lamongan cukup tanggap sejak dini dengan mengerahkan Tim Pelacak Penyakit dan Respons Cepat atau Participatory Disease Surveillance Respons.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan Wardoyo menjelaskan, langkah itu akan dibarengi sosialisasi penanganan flu burung di Kecamatan Lamongan, Sukodadi, Mantup, dan Babat.

Guna memutus rantai penularan flu burung, di Kabupaten Garut, Jawa Barat, sebanyak 1.395 unggas dari Desa Sukaratu dan Desa Sukamukti di Kecamatan Banyuresmi, dimusnahkan kemarin. (INK/CHE/ACI/DIA)

Sumber: Kompas.com



Jumlah pasien terduga penderita flu burung (avian influenza) yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr M Djamil, Kota Padang, Sumatera Barat, terus bertambah. Menyusul dirujuknya lagi dua pasien baru ke rumah sakit tersebut, Rabu (9/3), maka sejak Januari hingga kini, total pasien terduga yang telah ditangani RS tersebut menjadi 14 orang.

Dua pasien baru yang masing-masing berumur 69 tahun dan 20 tahun itu berasal dari Kota Padang. Kepala Instalasi Humas dan Pengaduan Masyarakat RSUP Dr M Djamil, Gustafianof, mengatakan, penambahan jumlah pasien itu membuat pihaknya harus menambah dua tempat tidur untuk perawatan, dari yang sebelumnya hanya berjumlah delapan unit.

Namun, jika pasien terduga flu burung terus mengalir ke rumah sakit tersebut, dikhawatirkan jumlah ruangan isolasi untuk penanganan penyakit mematikan itu takkan lagi mencukupi.

Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Rosnini Savitri mengatakan, jika jumlah pasien terduga flu burung terus berdatangan dan melebihi kapasitas perawatan di RSUP Dr M Djamil, Kota Padang, mereka akan dialihkan ke RS Ahmad Muchtar, Bukittinggi.

Terkait mulai maraknya flu burung di beberapa daerah di Jawa Timur, Pemerintah Kota Malang menerjunkan tim pemantauan flu burung mulai dari kelurahan hingga ke pasar.

”Petugas kami sudah diturunkan untuk memantau flu burung di Kota Malang. Sebab dengan adanya kasus di Surabaya maka dimungkinkan virus H5N1 bisa dengan cepat menyebar ke mana-mana. Cuaca hujan dan angin seperti saat ini amat mendukung perkembangan virus tersebut,” ujar Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Malang, Yudi Broto.

Selain di Malang, virus flu burung belakangan ini juga sudah merebak di daerah Jatim lainnya, seperti Bondowoso, Gresik, Blitar dan Jember, Surabaya.

Pemerintah Kabupaten Lamongan cukup tanggap sejak dini dengan mengerahkan Tim Pelacak Penyakit dan Respons Cepat atau Participatory Disease Surveillance Respons.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan Wardoyo menjelaskan, langkah itu akan dibarengi sosialisasi penanganan flu burung di Kecamatan Lamongan, Sukodadi, Mantup, dan Babat.

Guna memutus rantai penularan flu burung, di Kabupaten Garut, Jawa Barat, sebanyak 1.395 unggas dari Desa Sukaratu dan Desa Sukamukti di Kecamatan Banyuresmi, dimusnahkan kemarin. (INK/CHE/ACI/DIA)

Sumber: Kompas.com





Penyakit infeksi zoonosis semakin mendapat perhatian dunia. Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat, misalnya, belakangan memfokuskan berbagai penyelidikan mereka terhadap penyakit zoonosis atau penyakit infeksi yang menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Henry Walke selaku Kepala Program Kantor Koordinasi dan Pengembangan Kesehatan Dunia dan Kesehatan Masyarakat pada Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS mengatakan, Selasa (9/3), sekitar 60 persen penyakit infeksi yang baru muncul merupakan penyakit zoonosis.

Dia mengatakan, penyakit zoonosis semakin menjadi ancaman, terutama di negara berpopulasi besar, beragam, dan mempunyai keragaman satwa, termasuk satwa liar.

Sejumlah faktor pemicu penularan penyakit, antara lain, adalah perubahan lingkungan hidup yang menyebabkan semakin dekat jarak hewan dengan manusia. Faktor lainnya ialah domestikasi hewan, termasuk untuk hewan eksotik. Akibatnya, penyakit yang tadinya berdiam di hewan berpindah ke manusia. Sejumlah kasus seperti terjadinya flu burung, rabies, dan ebola merupakan contoh yang menyebabkan berbagai masalah serius dan terjadi di sejumlah negara.

”Sebagian besar penyelidikan penyakit yang dilakukan CDC kemudian mengarah ke kasus zoonosis,” ujar Henry dalam kegiatan Crisis and Risk Emergency Communication di Atlanta, Selasa.

Untuk pengendalian berbagai penyakit tersebut dibutuhkan infrastruktur kesehatan publik yang baik, antara lain perangkat surveilans atau pemantauan penyakit. CDC sendiri memberikan bantuan teknis berdasarkan permintaan dari negara yang bersangkutan. Bantuan yang diberikan biasanya merupakan bantuan teknis dan tenaga ahli spesifik untuk penyakit tertentu.

Semakin giat
Direktur Global Disease Detection Operations Center CDC Ray Arthur mengatakan, program pendeteksian dan investigasi penyakit semakin giat dilakukan, terutama setelah munculnya kasus SARS di berbagai belahan dunia. Lewat pendeteksian itu, semakin banyak patogen baru yang ditemukan, yakni setidaknya lima patogen baru tahun 2003 hingga menjadi sekitar 30 patogen baru sampai dengan tahun 2008.

Director Division of Viral and Rickettsial Disease National Center for Zoonotic Vector-Borne and Enteric Disease CDC Steve Monroe mengatakan, patogen itu tidak selalu baru sama sekali. Dapat terjadi selama ini patogen sudah ada, tetapi tidak dikenali. Hal itu karena patogen terisolasi di tubuh hewan atau para penderitanya terpencil.

”Umumnya, patogen baru diketahui kemudian setelah terjadi peningkatan kasus di populasi,” ujarnya.

Untuk menemukan patogen baru tersebut, mereka membangun sistem, salah satunya ialah pengumpulan berita dari ribuan media di seluruh dunia. Media skrining tersebut menjadi peringatan awal adanya penyakit.

Jika kasus dinilai cukup signifikan, diturunkan tim guna menyelidiki kasus tersebut. CDC mempunyai sekitar 18 perwakilan di seluruh dunia. Di beberapa negara mereka sedang menyelidiki virus polio liar, HIV, dan flu burung (H5N1).

Ray menambahkan, tantangan dalam menangani penyakit-penyakit yang bersifat global, antara lain, adalah ketidakmampuan pihak berwenang di lokasi kejadian untuk mendeteksi dengan tepat. Selain itu, para pemimpin juga enggan melaporkan kasus yang dialaminya kepada komunitas global.

Sumber: Indira Permanasari (Kompas.com)

Langkah pemerintah menargetkan swasembada daging sapi pada 2014 dengan meningkatkan populasi sapi seharusnya menjadi kabar gembira bagi peternak sapi di Tanah Air. Namun, bagi sebagian besar peternak yang fokus usahanya adalah penggemukan sapi potong, komitmen tersebut masih belum cukup.

Itu karena di tengah kondisi kekurangan, sapi impor siap potong semakin membanjiri pasar dalam negeri. Bahkan, tidak hanya itu, produk daging sapi beku pun sudah beredar dengan harga murah, Rp 39.000 per kilogram. Situasi seperti itu sangat tidak menguntungkan bagi peternak sapi.

"Usaha penggemukan sapi hancur. Serbuan sapi impor siap potong semakin menggila. Persaingan usaha sudah tidak sehat lagi," keluh Nandang Suryana, peternak asal Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Senin (8/3).

Bagaimana tidak. Sapi impor siap potong seperti jenis brahman cross dijual di penjagal dengan timbang hidup paling mahal Rp 22.500 per kilogram. Adapun harga jual sapi peranakan impor yang dipelihara di Tanah Air Rp 25.000 per kilogram.

Harga seperti itu, bagi peternak, sangat merugikan, apalagi peternak telah mengeluarkan biaya pemeliharaan dan membeli sapi bakalan yang harganya juga mahal. Adapun sapi impor yang masuk ke Indonesia tinggal dipotong.

Kalaupun ketika memotong sapi impor penjagal rugi, sang importir yang menanggungnya sehingga seolah ada subsidi dari importir kepada penjagal. Akibatnya, penjagal tidak merugi. Berbeda dengan ketika menerima sapi dari peternak, jika rugi, ditanggung sendiri oleh penjagal. Menurut Nandang, importir sapi memiliki banyak cara untuk "mengikat" penjagal agar mau menerima sapi impor dan menolak sapi dari peternak.

"Dulu harga timbang hidup sapi dari peternak Rp 27.000 per kilogram. Sekarang sekalipun harganya Rp 24.000 per kilogram, tidak ada penjagal yang melirik," tutur Nandang.
Meskipun harga sapi impor murah, itu bukan berarti konsumen diuntungkan karena ternyata harga daging sapi di pasar tetap tinggi, sekitar Rp 60.000 per kilogram. Yang untung tetap penjagal.

Tak menguntungkan
Peternak sapi dari Desa Karsamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Subekti, menambahkan, situasi tidak menguntungkan itu memaksa peternak meninggalkan sapi peranakan seperti jenis limosin dan simental. Kini peternak cenderung memelihara sapi lokal seperti jenis peranakan ongole (PO).

Konsekuensinya, pangsa pasar sapi PO terbatas, hanya pada saat menjelang Idul Adha. Namun, hal itu terpaksa dilakukan sebab sekalipun dipaksakan memelihara jenis simental atau limosin, peternak akan sulit menjualnya. "Mencari untung Rp 50.000-Rp 100.000 dari menjual sapi saja sekarang sulit. Padahal, modalnya jutaan," ujarnya.

Nandang mengemukakan, jika ingin menolong peternak, pemerintah harus membatasi impor, atau setidaknya mengubah sistem perdagangan ternak, yaitu hanya memasukkan sapi bakalan (berbobot maksimal 3 kuintal) untuk digemukkan di Tanah Air, bukannya mengimpor langsung sapi siap potong. Apabila hanya memasukkan sapi bakalan, persaingan usaha peternakan sapi diperkirakan tidak akan separah ini. (Adhitya Ramadhan)

Sumber: Kompas.com


Fosil dari spesies dinosaurus yang belum pernah diketahui sebelumnya, baru-baru ini ditemukan di lempeng-lempeng batuan di Utah, AS. Para ilmuwan yang menemukan fosil ini mengatakan bahwa bebatuan itu begitu kerasnya sehingga untuk melepaskan sebagian fosil itu terpaksa harus digunakan peledak.

Tulang-belulang dari Monumen Nasional Dinosaurus itu merupakan bekas dari sejenis sauropod, yaitu hewan berleher panjang dan pemakan tumbuhan yang dinyatakan sebagai hewan terbesar yang pernah ada di permukaan bumi. Di antara temuan ini juga terdapat dua tengkorak utuh dari jenis-jenis sauropod lainnya. Para ilmuwan menyatakan bahwa dua tengkorak itu adalah temuan yang super langka.

Menurut Dan Chure, paleontolog dari monumen yang terletak di antara Utah dan Colorado itu, semua fosil tersebut memberikan masukan lebih banyak tentang kehidupan dinosaurus 105 juta tahun yang lalu, dan juga tentang evolusi gigi sauropod yang bisa menunjukkan kebiasaan makan dan informasi lainnya. "Hampir tak terkatakan betapa pentingnya fosil ini," komentarnya.

Dari sekitar 120 spesies sauropod, hanya delapan spesies yang pernah ditemukan tengkorak utuhnya. Ini dikarenakan tengkorak spesies dinosaurus ini terbuat dari tulang yang tipis dan rapuh, terbungkus oleh lapisan jaringan lunak yang mudah luruh setelah dinosaurus itu mati.

"Ini benar-benar proyek nomor satu yang pernah saya kerjakan," tutur Brooks Britt, paleontolog dari Universitas Brigham Young yang ikut dalam penelitian fosil oleh tim peneliti Universitas Michigan.

Spesies baru ini disebut Abydosaurus mcintoshi. Para peneliti mengatakan bahwa spesies ini anggota dari keluarga brachiosaurus, yaitu dinosaurus besar berkaki empat yang juga mengatasi jenis sauropod. Penemuan ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Naturwissenschaften berikut juga pembahasannya oleh ilmuwan sejawat.

Tulang-tulang itu berasal dari daerah penggalian yang dilabeli DNM 16. Sebenarnya tulang-tulang itu telah diketahui keberadaannya sejak 1977, tapi penggalian penuhnya baru dimulai di penghujung tahun 1990-an. Kedua tengkorak itu ditemukan di tahun 2005. Para ilmuwan, walaupun sangat tergoda, sempat terhadang masalah bebatuan keras yang memerangkap tulang-belulang itu. Para pekerja tak bisa memecahkan bebatuan itu walau sudah memakai godam dan gergaji beton.

Tahun lalu, tim ahli peledak dari Taman Nasional Rocky Mountain menghabiskan tiga hari di penggalian itu. Mereka memakai peledak skala kecil untuk melemahkan bebatuan itu tanpa merusak tulang-belulangnya. Dengan begitu para ilmuwan bisa mengeluarkan fosil itu, di antaranya ada tulang kaki, belikat, dan bagian lainnya.

Para paleontolog yakin bahwa di situs itu setidaknya ada empat dinosaurus. Menurut Britt kesemuanya diduga merupakan dinosaurus pada usia muda dan kemungkinan 7,6 m panjangnya. “Kita tak tahu mereka bisa tumbuh jadi sebesar apa, “ ujar Britt.

Kedua tengkorak itu, satunya utuh dan lainnya lagi sudah pecah tapi komplit, bisa memberikan petunjuk baru tentang cara makan sauropod. “Mereka tak mengunyah. Mereka hanya mencaplok lalu langsung telan,” tutur Britts.

Sauropod jenis terdahulu memiliki gigi-gigian yang lebar. Versi turunannya memiliki gigi-gigian yang kecil, seperti pensil. Gigi abydosaurus ada di antara dua tipe ini, jadi ciri-ciri ini bisa membantu ilmuwan menentukan evolusi cara dan pola makan mereka.

Jim Kirkland, paleontolog dari negara bagian Utah, walau tak terlibat dalam penemuan itu berkomentar bahwa temuan ini bisa memberikan pandangan yang paling lengkap tentang beberapa jenis sauropod tertentu yang sempat hidup di Amerika Utara dari periode Lower Cretaceous, yaitu kira-kira 99-145 juta tahun yang lalu.

Fosil itu sementara ini dipajang di Musium Paleontologi Universitas Brigham Young.

Sumber: Kompas.com

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.