Juni 2010

Provinsi Sulawesi Barat sangat kekurangan dokter hewan. Jumlah dokter hewan hanya tiga orang untuk melayani lima kabupaten.

Mereka bertiga bertugas pada fungsi tehnis veteriner Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat, Majene, dan Polewali Mandar.

"Sehingga kami sangat kekurangan dokter hewan," ujar Kepala Bidang Produksi Kesehatan Hewan Dinas Kesehatan Sulawesi Barat Agus Rauf Rabu siang ini.

Agus mengatakan kewalahan menangani kesehatan hewan di daerahnya. Apabila ada permintaan dokter hewan dari daerah, dia mengaku sangat kesulitan membagi tenaga yang jumlahnya sangat sedikit itu.

"Idealnya satu dokter melayani tiga kecamatan. Tapi, realitas sekarang satu dokter kdang melayani tiga kabupaten," ujarnya.

Untuk mengatasi kekurangan itu, Agus Rauf sering mendatangkan tenaga ahli hewan dari Balai Besar Veterenir Maros Sulawesi Selatan. Namun, kesulitan tetap saja terjadi terutama upaya mendeteksi penyakit unggas seperti flu burung karena keterbatasan alat.

"Unggas-unggas yang diduga terinveksi virus flu burung sampel darah dan kotorannya terpaksa diperiksa di Makassar karena kami tidak memiliki alat," katanya.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com




Seekor Komodo yang diberi nama Yoko, mencetak sejarah dunia kedokteran hewan di kebun binatang Singapura.

Prosedur mengobati luka pada manusia -- untuk kali pertamanya -- diterapkan pada reptil yang hidup dalam kandang sejak November tahun lalu.
Yoko mengalami luka serius ketika bertelur, dia terjepit di celah gua yang menjadi tempat tinggalnya.

Area di sekitar tulang belakangnya luka parah sepanjang 16 centimeter. Kulitnya robek dan terbuka sehingga berpotensi mengalami infeksi.

Pihak kebun binatang lantas menggunakan terapi vacuum assisted closure (VAC) untuk merawatnya.

Tim dokter hewan, petugas kebun binatang, dan tim operasi dari Rumah Sakit Universitas Nasional Singapura sengaja memilih metode ini.

Sebab, telah terbukti secara klinis untuk merawat luka serius dan kompleks bisa dengan menggunakan tekanan negatif. Keputusan merawat Yoko dengan VAC dilakukan setelah berkonsultasi dengan pakar-pakar kesehatan.

Menurut Dr Serena Oh, dokter hewan di Lembaga Perlindungan Satwa Liar Singapura, luka di tubuh Yoko dijauhkan dari infeksi dengan cara mengoleskan madu Manuka -- madu yang diambil lebah dari bunga Manuka yang hanya terdapat di alam bebas hutan subtropis Selandia Baru. Antibiotik juga secara teratur dioleskan.

Perawatan vakum dimulai pada November tahun lalu. Berlangsung selama empat bulan.
Menurut Oh, tantangan yang paling berat adalah sifat kulit Komodo.

"Kulit Komodo tak memiliki jaringan di bawah kulit, yang memungkinkan kami menutup luka itu." kata Oh, seperti dimuat laman Today Online, Jumat 18 Juni 2010.
Terapi VAC yang dijadikan solusi, memungkinkan menumbuhkan jaringan dengan cepat, tanpa infeksi. Hasilnya, Yoko telah pulih.

Yoko adalah Komodo betina pertama yang berhasil menetas anak Komodo di luar habitatnya di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. (umi)

Sumber: VIVAnews

Daging telah menjadi menu utama bagi kebanyakan orang dan tidak lengkap suatu menu tanpa adanya tambahan daging, baik sebagai menu makan sehari-hari maupun dalam suatu acara adat.

Daging dianggap sebagai menu spesial baik untuk mendapatkan tambahan gizi melalui kandungan vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya bahkan bagi sebagian masyarakat kemampuan dalam mengkonsumsi atau menyediakan daging dalam berbagai acara agama dan adat menjadi suatu kebanggaan yang dapat meningkatkan status sosial di tengah-tengah masyarakat.
Akan tetapi dalam mengkonsumsi daging atau menyiapkan daging untuk berbagai keperluan, seperti konsumsi rumah tangga, kegiatan adat-istiadat dan upacara keagamaan dibutuhkan daging yang baik dan layak dikonsumsi. Ada beberapa standar daging yang sehat dan layak dikonsumsi dan itu dapat direkomendasikan oleh lembaga atau profesi yang berwenang di bidang tersebut (terkait dalam bidang kesehatan masyarakat veteriner).

Pada tulisan ini saya mencoba memberikan panduan dasar bagi ibu-ibu rumah tangga khususnya agar dapat mengenali cirri-ciri dari berbagai jenis daging yang akan dibeli, menghindari adanya pencampuaran daging ataupun pemalsuan daging. Hal paling sederhana yang menjadi panduan ketika membeli daging adalah mengenali daging melalui ciri-ciri khusus daging tersebut, meliputi warna, seratnya dan konsistensinya.

Daging dari setiap jenis ternak memiliki karakteristik tersendiri, warna daging dan lemak dapat dijadikan pegangan untuk membedakan daging dari ternak satu dengan yang lainnya, demikian pula serat daging.

Karakteristik dari beberapa jenis ternak adalah sebagai berikut:
a. Daging Sapi
- Warna merah khas daging sapi: warna gelap, warna keungu-unguan dan akan berubah menjadi warna merah cherry bila daging tersebut kontak dengan oksigen terbatas.
- Serat daging halus dan sedikit berlemak tergantung letak daging dalam kulkas.
- Konsistensi padat.
- Lemak berwarna kekuning-kuningan.

b. Daging Kerbau
- Daging berwarna lebih merah dari daging sapi.
- Serat otot agak kasar.
- Lemaknya berwarna putih.

c. Daging Kuda
- Warna daging kecoklatan, bila terkena udara luar warna daging menjadi gelap.
- Serat-serat kasar dan panjang.
- Konsistensi padat.
- Diantara serat tidak terdapat lemak.
- Lemak berwarna kuning emas dengan konsistensi lunak karena banyak mengandung oleine.

d. Daging Domba
- Warna merah khas daging domba, merah lebih gelap.
- Daging terdiri dari serat-serat halus yang sangat rapat jaringannya.
- Konsistensi cukup padat.
- Diantara otot-otot dan bawah kulit terdapat banyak lemak.
- Lemak berwarna putih.
- Daging domba jantan berbau khas.

e. Daging Kambing
- Daging berwarna lebih pucat dari domba.
- Lemak berwarna putih.

f. Daging Ayam
- Warna daging pada umumnya putih kekuning-kuningan.
- Serat daging halus.
- Konsistensi kurang padat.
- Diantara serat daging tidak terdapat lemak.

g. Daging Babi
- Daging berwarna pucat merah muda, daging bagian punggung yang banyak mengandung lemak biasanya Nampak kelabu putih.
- Daging berserat halus.
- Konsistensi kurang padat.
- Baunya spesifik, lemak jauh lebih lembek dibandingkan dengan lemak daging sapi atau kambing.

h. Daging Kelinci
- Warna hampir sama dengan daging ayam.
- Konsistensi

Ancaman kemusnahan keanekaragaman hayati oleh aktivitas tambang tak terhentikan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi menentang proyek pertambangan yang kini masuk tahap eksplorasi di Pulau Halmahera, Maluku Utara.

Penentangan itu dilakukan dengan alasan banyaknya keanekaragaman hayati (biodiversitas) endemik di pulau itu yang dikhawatirkan musnah akibat pertambangan.

”Lahan konsesi pertambangan di situ mencakup kawasan spesies endemik yang diklasifikasikan dilindungi, rentan, dan terancam punah,” kata Manajer Kampanye Tambang Walhi Pius Ginting, Minggu (13/6) di Jakarta.

Menurut Pius, lebih disesalkan lagi, Bank Dunia telah mendukung proyek pertambangan nikel di Halmahera itu. Bank Dunia merencanakan pertemuan konsultasi dengan Walhi dan beberapa lembaga swadaya masyarakat lainnya pada Senin ini.

Untuk menangani dukungan finansial proyek pertambangan di Halmahera ini, Bank Dunia membentuk Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA).

Terancam punah
Pius menyebutkan, di wilayah kontrak pertambangan di Pulau Halmahera terdapat habitat burung beo (Chaterring lory). Burung ini diklasifikasikan sebagai spesies terancam punah yang termuat di dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) 2007.

”Empat jenis burung lainnya di Halmahera masuk klasifikasi rentan, yaitu kakatua putih, drummer rail, sombre kingfisher, dan dusky friarbird,” kata Pius.
Untuk jenis amfibi, di Halmahera terdapat 9 spesies yang diklasifikasikan rentan. Diidentifikasikan pula, sedikitnya terdapat 17 spesies tumbuhan terdapat di lokasi kontrak karya penambangan di Halmahera dalam status rentan dan terancam.

Wakil Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lukman Hakim menengarai, banyaknya perizinan tambang berkontribusi besar pada kehancuran keanekaragaman hayati. Untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati, LIPI bekerja sama dengan pemerintah daerah sedang membangun kebun raya. Untuk kawasan Maluku Utara akan dibangun di Jailolo, Halmahera. (NAW)

Sumber: Kompas.com





Tidak kurang dari 20 jenis satwa liar yang telah berhasil didomestikasi di dunia untuk tujuan produksi daging sebagai sumber protein, antara lain rusa, kata pakar satwa Prof Dr Gono Semiadi.

"Pemanfaatan rusa sebagai hewan ternak bisa dibilang sebagai kegiatan domestikasi terakhir yang dilakukan manusia dengan sukses di akhir abad ke-20," kata peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu di Jakarta, Kamis.

Satwa tersebut, urainya, merupakan sumber protein alternatif terbaru yang telah mendapat tempat tersendiri di lidah konsumen Barat, apa lagi daging rusa berserat empuk dan memiliki gizi yang baik, rendah kalori dan rendah kolesterol.

Domestikasi, paparnya, merupakan proses pemeliharaan satwa dari kehidupan liar menjadi di bawah kontrol manusia dan dikembangkan sesuai dengan tujuan pemanfaatan manusia. “Sapi, kuda, kambing dan lain-lain didomestikasi manusia sejak ribuan tahun lalu.”

Negara termaju dalam industri peternakan rusa adalah Selandia Baru, Australia, Jerman dan Inggris, ujarnya.

Sedangkan di Asia, ia mencontohkan Malaysia yang sudah mengembangkan peternakan rusa tropis sejak 1992 dengan mendatangkan 755 ekor rusa Jawa dan Thailand yang aktif mengembangkan model peternakan rusa Sambar dan rusa Totol.

Sementara hingga saat ini Indonesia belum memberi perhatian serius terhadap rusa komersil yang mengarah pada pemanfaatan produk secara profesional dan belum memiliki model usaha penangkaran sistem peternakan, meskipun Indonesia memiliki tiga jenis rusa tropis, yakni rusa Jawa, rusa Sambar, dan rusa Bawean.

"Satu-satunya penangkaran rusa di Indonesia yang dikembangkan berdasarkan peternakan hanya ada di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur di bawah Dinas Peternakan provinsi sejak 1998. “ katanya.

Potensi satwa liar saat ini, ujarnya, cenderung dinilai rendah dengan membatasinya sebagai satwa lindungan, untuk kepentingan estetika, atau tontonan turis dan mengabaikan potensi manfaat satwa lebih luas.

Ia mengakui, sering terjadi polemik berkepanjangan antara penangkaran dan pemanfaatan satwa liar, di mana CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) telah memperingatkan perlunya kewaspadaan adanya penyalahgunaan status hasil penangkaran dan penangkapan dari alam.

Namun UU no 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan memungkinkan suatu jenis satwa liar berubah status menjadi hewan ternak bila secara genetik telah stabil tanpa bergantung pada populasi di habitat alam. (D009/B010)

Sumber: Antaranews.com



Tim dokter hewan Taman Safari Indonesia siap mengoperasi Tupan. Harimau sumatera berusia tujuh tahun itu ditemukan dalam keadaan terluka parah dengan beberapa luka tembak di perut dan pantat.

Yohana Tri Hastuti Muara Emad, salah satu dokter hewan di Rumah Sakit Hewan TSI Cisarua, mengatakan, kondisi fisik Tupan yang dirawat sejak 26 Mei lalu telah membaik.

”Tupan sejak Minggu kemarin tidak lagi diinfus dan tidak lagi diberi antibiotik. Hasil tes darahnya pun bagus. Pekan ini, Tupan bisa dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya,” kata Yohana di RSH TSI, Selasa (8/6).

Tupan ditemukan aktivis lingkungan Fauna Flora Internasional dan Perlindungan Harimau Sumatera di dalam perangkap untuk pendataan harimau di kawasan hutan, Desa Muara Emad, Kecamatan Batang Meranin, Kabupaten Kerinci, Jambi, pada 17 Mei. ”Tupan terlihat beberapa kali oleh masyarakat setempat, termasuk di jalan desa. Bisa jadi luka tembak itu akibat upaya warga mengusirnya,” katanya.

Saat ditemukan, kondisinya sangat lemah. Lukanya masih berdarah dan di ekor ada luka-luka goresan. Hidungnya mimisan dan di dalamnya bersarang sembilan ekor lintah. Taring atas dan bawah kanan mulut patah. Berat badannya 80 kilogram, panjang 166 cm (dari moncong sampai pantat).

Kemarin, di kandang perawatan, Tupan sudah mampu mengaum kencang. Dia juga melompat menyambar daging bebek yang diloloskan Rudi Subagyo, perawat harimau TSI.

”Perkembangannya menggembirakan. Hidungnya tidak mimisan lagi. Badannya sudah gemuk dibanding saat datang. Ada harapan dia bisa sehat kembali. Namun, apakah bisa dilepasliarkan di habitat aslinya kami belum tahu. Tupan adalah titipan Balai Taman Nasional Kerinci Seblat Jambi. Dia di sini karena fasilitas lebih lengkap,” kata Yohana. Saat ini TSI memiliki 36 ekor harimau sumatera (20 jantan, 16 betina), dua di antaranya anakan. Di habitat aslinya diperkirakan tinggal 400 ekor. (RTS)

Sumber: Kompas.com



Saat ini margin keuntungan peternak semakin tipis. Harga jual produk peternakan, seperti daging ayam, telur, dan daging sapi, cenderung rendah, sementara harga pakan stabil tinggi.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Produsen Pakan Indonesia Sudirman di Jakarta, Senin (7/6), harga pakan sangat dipengaruhi harga bahan baku, terutama jagung. Sebab, kebutuhan jagung untuk bahan baku pakan mencapai 50 persen.

Saat ini, saat sedang panen, harga jagung relatif masih tinggi, yakni Rp 2.350 per kilogram. Biasanya, saat panen harga jagung Rp 1.800-Rp 2.000 per kg.

Mengingat pasokan berkurang, impor jagung diperkirakan bakal tinggi dan bisa mencapai 1 juta ton sampai akhir tahun 2010. Pada kuartal I-2010, impor jagung mencapai 600.000 ton, padahal tahun sebelumnya hanya 400.000 ton.

Meski harga jagung tinggi, harga bungkil kedelai mulai turun. Jika pada kuartal I harga bungkil kedelai 480 dollar AS per ton, saat ini 430 dollar AS.

Masalah utama industri peternakan akibat rendahnya daya beli masyarakat. Ini tampak dari rendahnya harga jual produk unggas, seperti daging ayam broiler dan telur.

”Harga telur baru mulai tumbuh pada pekan ini. Sebelumnya harga daging dan telur di bawah biaya produksi,” katanya.

Berdasarkan data Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional, harga telur ayam pada pekan keempat Mei 2010 mencapai Rp 10.500 per kg.

Namun, mulai pekan lalu naik tipis mencapai Rp 11.700 per kg, tetapi kenaikannya masih di bawah harga telur pada Juni 2009 yang mencapai Rp 12.200 per kg.
Harga daging ayam broiler dengan berat 1,6-1,8 kg Rp 13.300 atau naik Rp 600 dibandingkan dengan harga pada 21 Juni 2010. Adapun harga daging sapi hidup saat ini Rp 20.000 per kg, sebelumnya Rp 25.000 per kg.

Marsudi (38), peternak ayam potong di Purwodadi, Jawa Tengah, mengungkapkan, keuntungan beternak ayam potong saat ini kecil.
Per ekor hanya dapat untung bersih Rp 700, sudah dipotong untuk membayar pekerja. ”Biaya penghangatan juga naik karena harga gas naik. Sedikit-sedikit masih untung,” tutur Marsudi.

Boim, peternak itik di Cirebon, menyatakan, harga telur bebek cenderung stagnan. Saat ini Rp 1.100-Rp 1.200 per kg. Namun, harga pakan, terutama konsentrat eceran tinggi, mencapai Rp 7.200 per kg.

Kebutuhan konsentrat untuk pakan itik bisa mencapai 25 persen. Sementara itu, harga jagung giling eceran Rp 2.700 per kg dan katul Rp 1.200. Rata-rata biaya produksi per butir telur bebek Rp 500-Rp 600. Adapun harga per butir telur bebek dengan produktivitas 65 persen sekitar Rp 700 per butir. (MAS)

Sumber: Kompas.com




Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.