Juli 2010

Zedonk, persilangan unik antara keledai dan zebra, saat ini sedang menarik perhatian umum di suaka margasatwa Chestatee di Dahlonega segera setelah ia dilahirkan disana seminggu yang lalu.

Hewan betina ini terlahir dari ayah seekor zebra dan ibu keledai, memiliki garis-garis hitam yg terdapat di kaki-kaki dan mukanya.

C. W. Wathen, pendiri suaka sekaligus general manajer, menyebutkan bahwa anak keledai ini memiliki insting seekor zebra.

Wathen mengatakan bahwa anak keledai ini tidak berbaring pada satu sisi bandannya seperti halnya keledai-keledai lain, tetapi ia berposisi duduk tegak seolah tengah waspada terhadap kedatangan predator.

Perkawinan antar keledai dan zebra bukanlah hal yang biasa terjadi, tetapi Zedonk ini berpasangan dengan sendirinya.

Wathen mengatakan dalam waktu 2 minggu, zedonk ini akan segera bergabung dengan hewan-hewan lainnya di suaka.

Sumber: http://www.npr.org


Setelah dianggap punah selama 60 tahun karena habitatnya dibabat menjadi perkebunan teh, sejenis primata unik ditemukan kembali dan berhasil difoto. Sebelumnya primata jenis Loris Horton Plains (Loris tardigradus nycticeboides) ini sempat dilaporkan terlihat pada tahun 2002, namun tidak ada bukti foto yang menyertainya.

Penelitian selama lebih dari 1000 malam dilakukan di 120 wilayah berhutan di Sri Lanka oleh para ahli biologi bekerjasama dengan Zoological Society of London (ZSL). Pencarian ini akhirnya menemukan loris di enam wilayah, dan para peneliti menangkap tiga spesimen hidup untuk diteliti.

Alasan utama yang membuat hewan ini menghilang adalah lenyapnya habitat mereka. “Banyak lahan yang dibuka dan hutan-hutan yang tadinya menutupi barat daya Sri Lanka telah diubah jadi kebun teh,” kata Dr Craig Turner dari ZSL.

Diperkirakan saat ini jumlah loris tinggal 100 ekor sehingga menjadikannya salah satu dari lima hewan paling terancam populasinya. Namun karena sedikit saja yang diketahui mengenai loris, maka jumlahnya bisa jadi di bawah 60 ekor, yang artinya akan membuatnya sebagai jenis yang paling langka.

Loris pertama kali ditemukan secara ilmiah tahun 1937. Namun kemudian dianggap punah karena tidak ada lagi laporan mengenainya. Hewan yang bergerak lambat ini panjangnya sekitar 20 cm dan berat sekitar 310 gram. Dibandingkan dengan loris dataran rendah, loris Horton Plains memiliki kaki lebih pendek dan bulu lebih panjang.

Sumber: Kompas.com



Sejak dinyatakan tertular rabies pertama kali tanggal 1 Desember 2008 yang dinyatakan melalui peraturan Menteri Pertanian No. 1637 Tahun 2008, penyebaran rabies di Bali kini telah menyebar di seluruh daerah kabupaten dan kota.

Daerah kabupaten yang terakhir tertular yaitu Jembrana. Jembrana yang selama ini dinyatakan masih bebas akhirnya tertular setelah ditemukannya anjing yang mati dan positif rabies melalui pemeriksaan laboratorium.

Sedangkan untuk kasus kematian pada manusia sejauh ini masih dalam kajian. Memang ada satu warga meninggal dari Jembrana yang dicurigai menderita rabies. Warga meninggal berasal dari Yeh Sumbul Mendoyo, daerah yang sama tempat anjing mati karena rabies ditemukan. Dari otopsi verbal atau keterangan keluarga, korban memang sempat digigit anjing pada Mei lalu. Namun menurut Sutedja, korban juga mengalami lumpuh layu dan kemungkinan besar dari gejala yang dialami lebih mengarah ke penyakit lumpuh layu dibandingkan dengan rabies. ''Untuk memastikannya kita perlu tes laboratorium,'' ujar Kadiskes Bali dr. Nyoman Sutedja (Bali post, 7 Juli 2010).

Korban Meninggal
Hingga saat ini korban meninggal karena rabies tercatat 73 orang di seluruh Bali dengan rincian, Karangasem (23), Denpasar (7), Badung (15), Tabanan (16), Gianyar (2), Buleleng (8), dan Bangli (2). Dari 73 tersebut 35 di antaranya sudah dinyatakan positif lewat pemeriksaan laboratorium. ''Sisanya diketahui lewat keterangan keluarga serta gejala klinis,'' ujar Sutedja. Menurutnya dari 73 korban meninggal memang tidak semua bisa dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hal ini disebabkan ada beberapa korban yang meninggal di rumah dan telanjur dikubur, sehingga informasi hanya bisa digali lewat catatan medis serta cerita dari keluarga.

Sutedja hanya berharap dalam mengatasi rabies semua pihak ikut terlibat, tidak lepas dengan peran serta masyarakat. ''Kalau punya anjing dirawat dengan benar. Diikat dan divaksin. Jika anjingnya beranak, anaknya pun harus divaksin jika usianya sudah tiga bulan,'' imbaunya.




Tiga gugusan pulau kecil atau Gili; Trawangan, Meno, dan Air telah berkembang menjadi tujuan wisata penting di Pulau Lombok setelah Senggigi di Lombok Barat dan Kuta di Lombok Tengah. Tiga gili atau dikenal sebagai “desa dunia” ini berada di tengah Laut Lombok dan terpisah dari Pulau Lombok. Pulau ini masuk dalam wilayah Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Keindahan tiga gili ini tidak diragukan lagi, meskipun tidak seramai Bali, namun suasana berbeda yang ditawarkan di ketiga gili ini membuat pesonanya semakin menawan. Itu terbukti dengan tingginya tingkat kunjungan wisatawan dari berbagai negara, seperti Jerman, Prancis, Spanyol, Jepang dan negara lainnya.

Gili Trawangan berada paling barat dari deretan gili tersebut. Di Trawangan ditemukan fasilitas penginapan, hiburan yang paling lengkap dibandingkan dari 2 gili lainnya, maka tidak mengherankan sepanjang jalan dijumpai kafe, hotel, restaurant dan keramaian orang berseliweran termasuk turis dari berbagai negara.

Puncak kunjungan turis asing biasanya jatuh mulai Juni hingga September. Saat itu, pulau kecil yang menjadi tujuan utama para turis itu berubah menjadi desa global. Di jalan, kafe, hotel, dan pantai, orang berkulit putih dari beberapa negara mendominasi.

Dari tiga gili itu, wisatawan dapat menikmati matahari terbit dari balik Gunung Rinjani, lalu matahari terbenam, dan Gunung Agung di Bali, serta berbagai atraksi bahari yang disukai, seperti diving dan snorkling. Ada taman laut Meno Wall, dinding tebing curam di antara Meno dan Trawangan, yang bisa disaksikan pada kedalaman 15 meter.

Gili Meno juga dilengkapi danau "alam" berair asin, serta area tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi, aneka jenis dan warna ikan hias, seperti tiger fish, blue moon, danikan kepe-kepe yang masuk keluar terumbu karang. Kecuali ribbon coral dan finger coral, hampir di semua tempat di perairan tiga gili itu terdapat terumbu karang berwarna biru yang membuat suasana bagaikan karang biru di Laut Karibia.

Ya tiga gili telah menawarkan berbagai keindahan dan menyajikan berbagai hiburan seolah tak pernah tidur, namun ada hal unik yang tetap dilestarikan sebagai daya tarik berwisata di tempat itu.

Tempat yang terisolasi dari keramaian kota itu tetap dijaga dari polusi terutama yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor. Di Gili Trawangan tidak diizinkan menggunakan kendaraan bermotor (bermesin). Yang ada hanya cidomo (kendaraan khas), kuda, sepeda gayung.

Cidomo (kendaraan khas) dengan penarik kuda merupakan sarana transportasi yang utama di gili gili Trawangan. Para wisatawan dapat memanfaatkan jasa para kusir Cidomo untuk mengantarkan berkeliling di gili itu, sebagai pengangkut barang dan sebagainya.

Karena transportasi utama di gili itu adalah cidomo yang ditarik oleh kuda, maka tidak heran populasi kuda diketiga gili ini juga termasuk lumayan, dan bahkan di gili Trawangan banyak dijumpai satu orang bisa memiliki kuda sampai puluhan ekor.

Namun, dengan kondisi geografisnya yang terpisah dari Pulau Lombok dan transportasi tidak setiap saat serta masih terbatasnya fasilitas kesehatan hewan (puskeswan) di wilayah itu, perhatian terhadap kesehatan hewan terutama bagi kuda tarik dirasakan masih sangat kurang.

Menyadari kondisi dan kenyataan yang demikian, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Nusa Tenggara Barat mengadakan Bakti Veteriner 2010 di tiga gili tersebut pada tanggal 11 Juli 2010. Dengan tema “Melalui Kesejahteraan Hewan Menuju Kesejahteraan Bangsa”, dirangkaikan dengan agenda yaitu sosialisasi kesejahteraan hewan/animal welfare, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan ternak.

Kegiatan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan ternak di gili ini serempak dilakukan dengan pembagian kelompok ke tiga gili yang berkekuatan masing-masing 50 orang dan dilengkapi dengan berbagai kebutuhan obat, vitamin, dan antibiotika sesuai dengan kondisi per individu ternak.

Kegiatan ini disambut antusias oleh pemilik kuda tarik, melalui pemberitahuan lewat kepala dusun dan melalui mulut ke mulut oleh para pemilik dan kusir cidomo, mereka berdatangan ke tempat-tempat yang telah ditentukan oleh panitia. Selain pemeriksaan dan pengobatan pada kuda tarik, berbagai jenis ternak yang ada seperti sapi dan kambing milik warga juga dilayani.

Setelah aksi lapangan yang meliputi pemeriksaan terhadap kuda-kuda yang ada di tiga gili tersebut, didapatkan kondisi yang mengindikasikan kurangnya perawatan terhadap kesehatan kuda dan ternak lain yang dijumpai seperti sapi maupun kambing. Pada kuda misalnya banyak dijumpai kondisi yang kurang sehat dengan berbagai gejala penyakit seperti dermatitis dan gangguan lainnya.

Masalah keterbatasan perawatan kesehatan terhadap ternak memang menjadi kendala yang dirasakan oleh pemilik kuda atau para warga yang berprofesi sebagai kusir cidomo.

Hal itu seperti diungkapkan H. Ahmad, salah satu pemilik 6 ekor kuda di gili Trawangan, yang mengungkapkan tidak pernah merawat kesehatan kudanya seperti di tempat lain yang biasanya bisa mendatangi tempat pelayanan kesehatan hewan di Puskeswan atau memanggil petugas dokter hewan, “di sini kita merawat apa adanya bahkan kalau kuda sakit kita tidak bisa berbuat apa-apa, “akunya.

Selanjutnya H. Ahmad berharap kedepan pemerintah melalui petugas kesehatan hewan yang ada di tingkat kecamatan, baik dokter hewan maupun mantri hewan (paramedis) dapat memberikan pelayanan kesehatan hewan pada ternak-ternak yang ada di gili.

Oleh-oleh dari gili Trawangan,,,,,,,,,,,,110710.



Hanya tersisa 3200 ekor harimau alam di dunia ini. Sebanyak 12 persen dari total tersebut yakni sekitar 400 ekor di antaranya adalah harimau Sumatera yang hidup di alam Indonesia. Kondisi pun makin ironis melihat habitat harimau Sumatera yang dalam kurun waktu 25 tahun terakhir menyusut hampir 50 persen.

Fakta tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara kunci dalam pelestarian harimau di dunia. Lalu peran apa yang hendak pemerintah lakukan untuk menyelamatkan harimau dunia? "Kita akan mengajukan program-program penyelamatan yang akan dimasukkan dalan forum 'Pre Tiger Summit Partners Dialogue Meeting' di Bali nanti," ujar Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Kehutanan, Harry Santoso, Selasa (6/7/2010), di Jakarta.

Program tersebut memakan biaya sebesar 170 juta dollar AS. Beberapa yang menjadi prioritas yakni penegakan hukum dan mitigasi konflik, membangun sistem manajemen adaptif yang efektif untuk memonitor kondisi harimau, dan mewujudkan legal basis yang kuat di bawah konservasi.

Kementerian Kehutanan juga berencana membangun tiga puluh fasilitas pendukung tigerland untuk harimau Sumatera. Fasilitas tersebut akan ditempatkan di Taman Nasional Bukit Barisan, Taman Nasional Kerinci Sebelat, Taman Nasional Balirejang, Kuala Kampar, dan Taman Nasional Ulu Masen.

Sedangkan untuk membangun sistem manajemen adaptif dan efektif dalam memonitor kondisi harimau, Kemenhut berencana menggalakkan survei monitoring secara time series tentang status pakan dan kondisi harimau. "Untuk penegakan hukum kita akan melatih tim reaksi cepat yang terdiri dari 100 orang staf dalam mengatasi konflik di lapangan," ujar Harry usai jumpa pers.

Menurutnya hukum untuk melindungi keberadaan harimau juga perlu dipertegas. "Perlu sanksi yang berat untuk mencegah kemusnahan," ujarnya.

Untuk itu, perlu dikembangan suatu unit terpadu antara Polisi Hutan, tim reaksi cepat, hingga interpol. Adapun, Indonesia tengah berjuang mendapatkan bantuan masyarakat Internasional dalam "Pre Tiger Summit Partner Dialogue Meeting" pada 12-14 Juli 2010 di Bali mendatang.
Pertemuan tersebut akan menghasilkan kesepakatan Program Pemulihan Harimau Dunia yang akan dibawa dalam World Tiger Summit di Rusia, 15-18 September 2010.

Sumber: Kompas.com



Untuk kesekian kalinya, anjing terduga rabies kembali merenggut nyawa warga Bali, kali ini menimpa Ni Wayan Rondi (50), asal Banjar Perasi Klod, Kabupaten Karangasem.

"Ini kasus yang kesekian kalinya, korban meninggal hanya beberapa jam setelah dilarikan ke rumah sakit ini," kata Kasi Pelayanan Medis Rawat Jalan, RSUP Sanglah, dr Ken Wirasandi, di Denpasar, Senin (5/7/2010).

Korban dilaporkan digigit anjing sekitar tiga bulan lalu, baru dibawa ke RSUP Sanglah Minggu sore, dalam kondisi yang sudah sangat memprihatinkan.

Berdasarkan penjelasan pihak keluarga, sejak digigit anjing, korban tidak diberikan perawatan luka, termasuk tidak pernah mendapatkan suntikan virus anti rabies (VAR).

"Pihak keluarga korban tidak mengira jika gigitan anjing di sekitar tempat tinggalnya itu bakal berakibat fatal terhadap nyawa Rondi,” tutur dr. Ken.
Setelah digigit anjing tersebut, kondisi kesehatan Rondi dalam tiga bulan terakhir terus menurun, hingga akhirnya dilarikan ke RSUP Sanglah guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Korban tiba di RSUP Sanglah pukul 12.30 Wita, namun tidak sampai tiga jam dirawat, akhirnya menghembuskan nafas terakhir di IRD Soka di rumah sakit terbesar di Pulau Dewata itu.

Atas meninggalnya korban akibat gigitan anjing terduga rabies itu, dr Ken menyatakan kondisi korban sudah terlambat untuk mendapatkan perawatan medis.
Saat datang, kondisi korban terlihat stres dan mengalami ketakutan luar biasa terhadap air maupun cahaya. "Korban mengalami gejala klinis gelisah, takut dengan air maupun cahaya," ucapnya.

Kondisi itu membuat petugas kesulitan untuk memberikan obat guna menolong nyawanya, karena saat akan ditangani petugas medis, korban terus melawan.

Berdasarkan hasil uji klinis yang dilakukan terhadap korban, ujar dia, terindikasi positif mengarah pada gejala virus rabies.

Pihak keluarga sore itu juga membawa pulang jenazah korban dengan mobil ambulans rumah sakit ke kampung halaman di Karangasem untuk dikuburkan.

Rondi merupakan korban tewas pertama akibat gigitan anjing gila pada bulan Juli, setelah sebelumnya terdata belasan korban gigitan anjing yang juga meninggal dunia.

Kasus gigitan anjing itu di antaranya menewaskan bocah SD, Nyoman Sinarjana (9) asal Banjar Umasari Kauh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, yang juga meninggal di RSUP Sanglah, Minggu 27 Juni lalu.

Sumber: Kompas.com


Pemakaian senjata biologis “Anthrax” oleh Irak pernah diklaim oleh Amerika Serikat dan sekutunya, dan karena alasan kepemilikan senjata biologis tersebut menjadi alasan kuat Amerika Serikat untuk menginvesi Irak hingga negara tersebut benar-benar hancur dan pemerintahan Saddam Husein runtuh. Benarkah alasan tersebut?, meskipun sampai runtuhnya Irak, bukti kepemilikan senjata biologis termasuk anthrax tersebut tidak pernah terbukti.

Kalau alasan penyerbuan tersebut untuk mencari senjata biologis (salah satunya anthrax), lalu kenapa Amerika Serikat sangat berkepentingan untuk menjaga adanya penyebaran spora anthrax itu?. Dalam perang modern saat ini, ternyata salah satu senjata yang sangat ditakuti adalah senjata biologis berupa penciptaan berbagai jenis bakteri maupun virus terutama yang memang memiliki sifat dapat menular antar manusia atau yang bersifat zoonosis.

Anthrax misalnya, dapat disebarkan melalui pengiriman bentuk tabur melalui amplop dan apabila amplop berisi spora tersebut terhirup maka penyakit anthrax yang sangat mematikan itu akan dapat tertular dari orang ke orang.

Sejatinya penyakit ini dikenal dengan berbagai nama; Radang limpa, Radang Kura, Milvuur, Milzbrand, Splenc Fever, Charbon, Wool Sorters Disease, Cenang Hideung, Pedsar (Kempes Modar).

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis, dimana dapat menyerang semua hewan berdarah panas termasuk unggas dan manusia. Penyakit ini sangat berbahaya, dan dalam sistem kesehatan hewan nasional, anthrax dimasukkan ke dalam kelompok penyakit hewan menular (PHM) strategis.

Badan kesehatan hewan dunia/ Office international des epizooties (OIE) menggolongkan anthrax ke dalam penyakit hewan list B karena merupakan penyakit menular penting. Anthrax ini dilaporkan lebih dari 100 negara, dan 62,3 persen negara anggota OIE pernah melaporkan kasus anthrax. Sedangkan daerah kutub dilaporkan tetap bebas.

Penyakit ini telah dikenal sebagai penyakit mematikan baik pada ternak maupun manusia, apabila sporanya tertular (menginfeksi). Namun pada perkembangannya “spora” anthrax yang dapat mematikan tersebut dapat dikembangkan sebagai senjata biologis yang sangat mematikan. Karena sifat spora anthrax yang dapat tahan hidup sampai 40 tahun lebih dapat menjadi sumber penularan penyakit tersebut baik kepada manusia.

Dengan potensi seperti demikian itu maka saat ini berkembang dua istilah yaitu anthraks klasik atau konvensional dan yang sangat berbahaya terutama dalam kasus terror adalah “anthraks terror” (AT) ataupun “anthraks hasil rekayasa genetik” (ARG).

Bentuk klasik atau konvensional dari anthrax merupakan penyakit yang mempunyai masa inkubasi 1-3 hari bahkan dapat mencapai 14 hari, menyerang semua hewan berdarah panas dan penyakit berlangsung per akut, akut maupun kronis.

Bakteri membentuk spora di bagian sentral sel bila cukup oksigen, sedangkan dalam jaringan tubuh selalu berselubung dan tidak berspora. Apabila kuman anthraks jatuh ke tanah/mengalami kekringan atau di lingkungan yang kurang baik lainnya maka akan berubah menjadi bentuk spora yang tahan hidup lama (dapat lebih dari 40 tahun), sehingga menjadi sumber penularan penyakit kepada manusia maupun hewan ternak.

Spora anthrax yang dikembangkan melalui rekayasa genetik dan diyakini berkaitan dengan program pengembangan senjata biologis untuk maksud pertahanan negara tertentu. Rekayasa di laboratorium difokuskan kepada mengubah ukuran spora dari ukuran alami sebesar 1-5 mikron, kemudian diperkecil menjadi lebih kecil dari 1 mikron (bentuk tabur dengan organ sasaran melalui paru-paru), mengubah rantai DNA terkait dengan virulensi agen serta resistensinya terhadap antibiotik.

Kemampuan menginfeksi bakteri anthrax hasil rekayasa genetik pada rantai DNA menjadikan spora ARG jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan anthrax klasik, hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Analisis WHO tahun 1970 menyimpulkan bahwa pelepasan ARG ke udara di atas populasi manusia 5 juta orang akan menyebabkan korban 250 ribu orang (5 %) diantaranya meninggal dunia sebanyak 100 ribu orang (40 %).

2. Analisis kongres Amerika Serikat memperkirakan 130 ribu sampai 3 juta jiwa (33 %) korban akan meninggal setelah pelepasan 100 ribu gram bakteri anthrax ke udara di atas kota Washington (populasi 10 juta orang).

Kejadian di Indonesia
Dengan klasifikasi awal dirahasiakan pernah diperiksa terhadap dugaan anthrax dalam amplop oleh Balai Pengujian Penyakit Hewan (BPPH) Regional VI Denpasar beserta Balai Penelitian Veteriner Bogor pada bulan Nopember 2001. Namun setelah melalui pemeriksaan laboratorium ternyata isi amplop tersebut negatif anthrax.



Walaupun jumlah dan jenis penyakit hewan menular cukup banyak namun penyakit tersebut tidak semuanya dapat mewabah. Pada umumnya penyakit yang dapat bersifat wabah dan dapat dinyatakan wabah adalah penyakit-penyakit yang sangat merugikan.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No 487/Kpts/Um/6/1981 tentang Pencegahan Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan Menular ditetapkan dua kelompok penyakit hewan menular yaitu kelompok A yaitu penyakit yang wajib dilaporkan dan kelompok B yaitu penyakit yang tidak wajib dilaporkan.

Kelompok A, apabila timbul wabah menjadi beban dan tanggungjawab pemerintah seluruh dalam usaha penanggulangannya. Kelompok B, apabila timbul wabah, masyarakat diminta ikut serta menanganinya.

Kelompok penyakit hewan menular yang termasuk dalam daftar A dan daftar B adalah sebagai berikut:

Daftar A
1. Anaplasmosis, jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak.
2. Anjing Gila (Rabies, Lyssa), jenis hewan yang dapat diserang adalah semua hewan.
3. Babesiosis (Texas Fever), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak.
4. Demam Tiga Hari (Penyakit kaku, Bovine Efhemeral Fever/BEF), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak.
5. Erysipelas (Diamond Skin Disease), jenis hewan yang dapat diserang adalah babi.
6. Ingus Jahat (Malleus, Glander), jenis hewan yang dapat diserang adalah kuda.
7. Jembarana, jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak (sapi).
8. Keluron Menular (Brucellosis), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak dan babi.
9. Leptospirosis (Weil’s Disease, Red Water Disease), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak dan babi.
10. Lidah Biru (Bluetongue), jenis hewan yang dapat diserang adalah domba, kambing dan sapi.
11. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK, Apthae Epizooticae, Foot and Mouth Disease), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak dan babi.
12. Ngorok (Septichemia Epizooticae), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak.
13. Radang Paha (Gangrenosa Emphysematosa, Boutvuur, Blackleg), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak dan babi.
14. Radang Limpa (Anthraks), jenis hewan yang dapat diserang adalah semua hewan.
15. Surra (Mubeng, Trypanosomiasis), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak dan kuda.
16. Sampar Babi Menular (Hog Cholera), jenis hewan yang dapat diserang adalah babi.
17. Tuberculosis (TBC), jenis hewan yang dapat diserang adalah sapi.
18. Theileriosis, jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak dan babi.
19. Trichomoniasis, jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak dan babi.

Daftar B
1. Baberasan (Barrasan, Cysticercosis), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak dan babi.
2. Berak Darah (Coccidiosis), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak, babi, dan unggas.
3. Nematodiasis dan Fascioliasis (cacing alat pencernaan), jenis hewan dapat diserang adalah hewan memamah biak dan babi.
4. Orf (Dakangan, Echtyma Contagiosa Caprie), jenis hewan yang dapat diserang adalah kambing dan domba.
5. Ingusan (Bovine Malignant Catarrhal, Coryza Gangrenosa Bovum), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak.
6. Kaskado (Stephanofilariasis), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak.
7. Kudis Menular (Scabies), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan memamah biak dan babi.
8. Kurap (Ringworm), jenis hewan yang dapat diserang adalah sapi.
9. Radang Mata (Pink Eye), jenis hewan yang dapat diserang adalah sapi, kuda, kambing dan domba.
10. Selakarang (Saccharomycosis, Lymphangitis Epizooticae), jenis hewan yang dapat diserang adalah hewan berkuku satu.
11. Salmonellosis, jenis hewan yang dapat diserang adalah semua hewan.
12. Avian Encephalomyelitis (Epidemic Tremor), jenis hewan yang dapat diserang adalah unggas.
13. Berak Kapur (Pullorum) pada Unggas.
14. Cacar Ayam (Diptheria Ayam, Fowl Pox) pada unggas.
15. CRD (Chronic Respiratory Disease) pada unggas.
16. Chlamidiosis (Psittacosis, Ornithosis) pada unggas.
17. Gumboro, yang menyerang unggas.
18. Infectious Bronchitis (IB), jenis hewan yang dapat diserang adalah unggas.
19. Infectious Laryngotracheitis (ILT), pada unggas.
20. Kolera Ayam, yang menyerang unggas.
21. Koriza (Snot, Infectious Coryza) pada unggas.
22. Lymphoid Leukosis (LL) pada unggas.
23. Marek (Marek Disease) pada unggas.
24. Tetelo (ND/Newcastle Disease, Avian Pneumoencephalo myelitis), jenis hewan yang dapat diserang adalah unggas.



Tentu anda tahu bahwa air putih sangat dibutuhkan oleh tubuh. Ketika terjadi dehidrasi akibat berbagai aktifitas tubuh yang berlebihan dan direspon oleh tubuh dengan berbagai tanda seperti bibir kering, haus, atau kelelahan berkepanjangan.

Saat mengalami dehidrasi atau tanda-tanda seperti di atas, air putih merupakan minuman yang sangat dianjurkan dan terbukti banyak manfaatnya, bahkan para ahli kesehatan banyak menyarankan untuk membiasakan diri untuk meminum air putih minimal 8 gelas sehari.

Memang, terkadang minum air putih terasa membosankan. Padahal, jika Anda banyak minum air putih, ada tiga masalah yang bisa terselesaikan lho. Tidak hanya rasa haus semata, tetapi Juga berat badan dan kondisi kesehatan secara umum. Apa saja itu?, berikut beberapa manfaat dari minum air putih.

1. Menambah energi
Kekurangan cairan dapat membuat perempuan menjadi kelelahan. Menurut penelitian, meminum air selama latihan dapat membantu seseorang untuk menjalani latihan dengan lebih prima. Anda disarankan untuk menambah minum pada dua atau tiga jam sebelum melakukan aktivitas seperti pergi senam, berenang, maupun berbagai aktivitas lain yang membutuhkan banyak energi. Untuk memberikan rasa lain, tambahkan rasa lemon, mint, ataupun buah beku, pada air putih.

2. Berhenti ngemil
Rasa lapar dapat saja disebabkan oleh rasa haus. Rasa haus tersebut kadang tersamarkan sehingga yang dirasakan adalah lapar. Minumlah air secara perlahan sepanjang hari untuk mengatasi rasa haus tersebut. Bila rajin minum, perut Anda terasa lebih kenyang sehingga Anda tak tergoda untuk mencari cemilan. Minum dapat juga dilakukan di sela-sela menyantap makanan, utama sehingga memberikan rasa kenyang lebih cepat.

3. Keuntungan untuk otak
Menurut penelitian dari
European Journal of Neurology, seseorang yang memiliki penyakit migrain dapat mengurangi durasi dan intensitas sakit kepalanya dengan mengonsumsi enam gelas air setiap harinya.

Perlu diingat, dehidrasi dapat berkembang menjadi sesuatu yang serius seperti darah rendah dan detak jantung yang cepat. Jadi cairan sangat diperlukan untuk menghindari hal-hal tersebut. Apabila merasa bosan dengan air yang biasa diminum, cobalah alternatif penyegar untuk membuat variasi minuman Anda.

Sumber: Disarikan dari http://female.kompas.com



Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.