Agustus 2010

Resistensi antibiotika terhadap bakteri patogen pada manusia menjadi masalah di seluruh dunia. Terjadinyanya resistensi antibiotika ini disebabkan pemakaian antibiotika yang tidak bijaksana untuk pengobatan pada manusia serta pemakaian antibiotika pada hewan sebagai pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promotors/AGP) yang empunyai kontribusi terjadinya resistensi antibiotika baik pada manusia maupun hewan (BARTON, 2000).

Antibiotika banyak digunakan sebagai AGP dalam pakan ternak di seluruh dunia untuk memacu pertumbuhan ternak agar dapat tumbuh lebih besar dan dalam waktu yang lebih cepat serta untuk mencegah terjadinya infeksi (MITCHELL et al., 1998; VAN DEN BOGAARD et al., 2000; dan RADETSKY, 1998). Beberapa antibiotika yang banyak dipakai sebagai AGP antara lain dari golongan tetracyclin, penicillin, macrolida, lincomysin dan virginiamycin (ANGULO et al., 2004).
Resistensi antibiotika terhadap bakteri menyebabkan terjadinya penyakit yang sangat serius pada manusia berupa kegagalan pengobatan terhadap infeksi gastrointestinal yang disebabkan oleh Campylobacter dan Salmonella (NEIMAN et al., 2003; SMITH et al., 1995; WHO, 2003). Kejadian resistensi antibiotika terhadap bakteri yang diisolasi dari pasien penderita diare di beberapa rumah sakit di Indonesia juga telah dilaporkan oleh TJANIADI et al. (2003).

Beberapa foodborne bakteri seperti Salmonella, Campylobacter, Enterococci, dan Escherichia coli yang resisten terhadap antibiotika telah terbukti dapat mentransfer gen resisten ke manusia melalui rantai makanan atau secara kontak langsung (VAN DEN BOGAARD et al., 2000 and STOBBERINGH, 1999; BUTAYE et al., 2003; WHO, 1997). Oleh karena itu di beberapa negara telah dibentuk agensi untuk melakukan program surveilens dalam hal memonitor resistensi antibiotika pada foodborne patogen, sebagai contoh NARMS (National Antimicrobial Resistance Monitoring System) di USA yang dibentuk pada tahun 1996. Beberapa agensi lainnya seperti Commicion on Antimicrobial Feed Additives di UK dan JETACAR di Australia juga telah melakukan surveilans untuk melakukan kontrol terhadap pemakaian antibiotika pada hewan.

ANTIBIOTIKA PADA HEWAN
Pemakaian antibiotika pada hewan untuk pengobatan, pemacu pertumbuhan dan meningkatkan efisiensi pakan dimulai pada awal tahun 1950 (MELON et al., 2001). Sampai saat ini Centers Diseases Control (CDC) memperkirakan sekitar 40% antibiotika di dunia digunakan sebagai imbuhan pakan ternak untuk memacu pertumbuhan (AGP) Sebagai imbuhan pakan, antibiotika dapat memacu pertumbuhan ternak agar dapat tumbuh lebih besar dan lebih cepat serta dapat mencegah terjadinya infeksi bakteri (MITCHELL et al., 1998; VAN DEN BOGAARD et al., 2000; dan RADETSKY, 1998).

Antibiotika banyak digunakan dalam industri peternakan untuk mencegah infeksi E.coli (WITTE, 1998 dan LEVY et al., 1987) karena walaupun E. coli merupakan bakteri komensal namun dapat menjadi fatal bila terjadi septicemia yang dapat diikuti terjadinya infeksi mycoplasmosis atau infeksi virus seperti bronchitis pada ayam (BURCH, 2000).

AGP juga dapat meningkatkan konversi pakan dan pertumbuhan hewan serta mengurangi angka morbiditas dan mortalitas akibat infeksi bakteri. Penambahan AGP dalam pakan dapat meningkatan pertumbuhan hewan sampai dengan 4-8% dan meningkatkan konversi pakan dari 2 menjadi 5% (EWING dan COLE, 1994).

Konsentrasi antibiotika yang ditambahkan dalam pakan ternak merupakan dosis rendah yaitu berkisar 2,5 – 12,5mg/kg (ppm) (WITTE, 1998 dan LEVY et al., 1987), namun hal ini terbukti dapat memacu terjadinya resistensi bakteri patogen dan bakteri komensal dalam saluran pencernaan (BRADBURY dan MUNROE, 1985; COHEN dan TAUXE, 1986; dan HOLMBERG et al., 1987).

Mekanisme kerja AGP sebagai pemacu pertumbuhan masih belum diketahui secara pasti. Ada indikasi yang menunjukkan bahwa aktivitas dari AGP sebagai pemacu pertumbuhan dipengaruhi oleh efek antibakterial antibiotika. Ada beberapa teori yang menjelaskan mekanisme kerja dari AGP yaitu: antibiotika membantu menjaga nutrisi dari destruksi bakteri, antibiotika membantu meningkatkan absorpsi nutrisi karena membuat barier dinding dari usus halus menjadi tipis, antibiotika dapat menurunkan produksi toksin dari bakteri saluran pencernaan dan menurunkan kejadian infeksi saluran pencernaan subklinik (FEIHGNER dan DASHKEVICS, 1987).

Antibiotika ditambahkan dalam pakan unggas untuk mencegah dan mengobati colibacillosis and staphylococcosis. Antibiotika pada sapi digunakan untuk mengobati mastitis dan penyakit saluran pernafasan. Pemakaian AGP dapat meningkatkan prevalensi resistant bakteria dan meninggalkan residu antibiotika pada produk asal ternak (LEVY et al., 1987; CORPET, 1996) yang dapat mengganggu kesehatan manusia yang mengkonsumsinya.

Jenis-jenis antibiotika yang sering digunakan pada peternakan adalah:
1. Bacitracin Ayam, kalkun, babi, sapi perah
2. Bambermycin Ayam, kalkun, babi
3. Chlortetracycline Ayam, kalkun, babi, sapi perah, kambing
4. Erytromycin Ayam, kalkun
5. Hygromycin Ayam, babi
6. Lasalocid Ayam, babi
7. Monensin Ayam, kalkun, babi
8. Neomycin Ayam, kalkun, babi, sapi perah, kambing
9. Nystatin Ayam, kalkun
10. Olendomycin Ayam, kalkun, babi
11. Oxytetracycline Ayam, kalkun, babi, sapi perah, kambing
12. Penicilline Ayam, kalkun, babi
13. Salinomycin Ayam, sapi perah
14. Streptomycin Ayam, sapi perah
15. Tylosin Ayam, babi, sapi perah
16. Virginiamycin Ayam, kalkun, babi
17. Sulfanamides Ayam, kalkun, babi

TRANSFER RESISTEN BAKTERI DAN RESISTEN GENETIK DARI HEWAN KE MANUSIA
Banyak bukti dari beberapa studi kasus yang mengindikasikan terjadinya penyebaran secara langsung bakteri komensal enterobacter yang resisten dari hewan ke manusia (LEVY et al., 1976; HUNTER et al., 1994; BOGAARD,1997, STOBBERRINGH et al., 1999).

Namun walaupun sangat mudah untuk menemukan patrun yang sama antara bakteri yang resisten dari hewan dengan dari manusia, hingga saat ini hanya beberapa bakteri yang dapat diisolasi dari makanan (KLEIN et al., 1998, MANIE et al., 1998, DUFFY et al., 1999).

Bakteri komensal yang resisten terhadap antibiotik dapat mentransfer gen resisten tersebut ke bakteri patogen (HUMMEL et al.,1986; LESTER et al., 1990; BOGAARD, 2000).

Escherichia coli merupakan bakteri komensal pada manusia dan hewan yang dilaporkan mempunyai kemampuan mentransfer kode gen resisten ke spesies lain termasuk bakteri patogen (BERKOWITZ dan METCHOCK, 1995; CHASLUS-DANCLA et al., 1986; HUMMEL et al.,1986; NIKOLICH et al., 1994).

Bakteri yang resisten terhadap antibiotika dapat menurunkan gen yang resisten melalui 3 cara (LEWIS, 1995), yaitu:

Mutasi DNA secara spontan
DNA bakteri (materi genetik) mungkin mengalami mutasi atau perubahan secara spontan, sebagai contoh bakteri Multi drug resisten tuberculosis.

Transformasi
Salah satu bakteri mengambil DNA dari bakteri lainnya, sebagai contoh Pencillinresistant gonorrhea.

Plasmid
Plasmid dapat flit dari satu tipe bakteri ke tipe bakteri lain. Sebuah plasmid singgel dapat membentuk bermacam-macam resistensi bakteri. Plasmid mikroba dapat membawa faktor resistensi terhadap 4 macam antibiotika Penelitian dengan teknik molekular juga membuktikan bahwa pemakaian antibiotika berlebihan pada ternak menimbulkan resistensi bakteri pada manusia (MCEWEN dan FEDORKACRAY,2002; SWARTZ, 2002).

Terjadinya resistensi antibiotika apramycin terhadap strain Salmonella dan E. coli yang diisolasi dari manusia merupakan bukti nyata bahwa organisme yang resisten dapat ditransfer dari hewan ke manusia, karena apramycin tidak digunakan untuk pengobatan pada manusia (WRAY et al., 1986, HUNTER et al., 1993).

Campylobacter jejuni merupakan foodborne bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotika fluoroquinolon setelah enrofloxacin digunakan pada unggas di Eropa (JACOBS-REITSMA et al., 1994; VELAZQUES et al., 1995). Riset di USA mengindikasikan bahwa strain bakteri dari ayam yang resisten terhadap fluoroquinolon secara molekuler subtyping sama dengan strain bakteri yang resisten terhadap fluoroquinolon pada manusia (SMITH et al., 1998).

DAMPAK PEMAKAIAN ANTIBIOTIKA PADA HEWAN TERHADAP KESEHATAN MANUSIA
Food-borne bakteri yang resisten terhadap antibiotika dapat mengakibatkan terjadinya resistensi antibiotika terhadap manusia. Foodborne bakteri seperti E. coli dan Salmonella yang mencemari karkas dapat mengakibatkan infeksi pada manusia yang mengkonsumsinya dan jika bakteri tersebut resisten terhadap antibiotika maka dapat mengakibatkan penyakit yang serius akibat kegagalan pengobatan dengan antibiotika.

Walaupun data mengenai kegagalan pengobatan pada manusia akibat terjadinya resistensi antibiotika sangat terbatas banyak bukti yang menunjukkan gangguan kesehatan pada manusia akibat terjadinya resistensi organisme.

Di Indonesia tidak banyak data yang dipublikasikan tentang tingkat kejadian resistensi antibiotika terhadap bakteri patogen.

Hasil isolasi bakteri dari pasien penderita diare di beberapa rumah sakit di Indonesia telah resisten terhadap beberapa antibiotika. Sebagai contoh, Shigella spp. dan Vibrio cholerae resisten terhadap ampicillin, trimethrophinsulfamethoxazol, chloramphenicol and tetracycline. Resistensi Salmonella spp. terhadap antibiotika bervariasi tergantung dari spesies, sedangkan bakteri Campylobacter jejuni menunjukkan kenaikan resistensi terhadap cetriaxone, norfloxacin, dan ciprofloxacin (TJANIADI et al., 2003).

Dampak resistensi antibiotika terhadap gangguan kesehatan manusia dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu:

Terjadinya infeksi yang seharusnya tidak terjadi
Pemakaian antibiotika pada manusia dan hewan mengganggu mikroflora usus yang menempatkan seseorang tersebut mempunyai resiko terjadinya infeksi bakteri tertentu.

Seseorang yang membawa agen antimikrobial mengakibatkan naiknya resiko menjadi terinfeksi bakteri patogen yang resisten terhadap antibiotika tersebut. Hal ini dapat diekspresikan sebagai “attributable fraction”, yang didefinisikan sebagai infeksi bakteri sebagai contoh Salmonella tidak akan terjadi jika Salmonella tidak mengalami resistensi terhadap antibiotika.

Resistensi antibiotika terhadap Salmonella berakibat tingginya kejadian infeksi, rawat inap, dan kematian. Dalam hal hubungannya dengan “attributable fraction” di US lebih dari satu juta infeksi Salmonella dan Campylobacter setiap tahun terjadi (BARZA et al., 2002), dengan estimasi sekitar 30.000 kasus infeksi Salmonella menyebabkan 300 penderita menjalani rawat inap di rumah sakit dan 10 pasien mengalami kematian, sedangkan untuk 18.000 kasus infeksi Campylobacter jejuni mengakibatkan 100 pasien dirawat inap.

Naiknya frekuensi kegagalan pengobatan dan naiknya infeksi yang berat
Naiknya frekuensi kegagalan pengobatan dan naiknya infeksi yang berat dimanifestasikan dengan lamanya waktu pengobatan, naiknya frekuensi sistemik infeksi, naiknya lama waktu rawat inap, atau tingginya angka kematian. Lama waktu pengobatan telah ditunjukkan pada 16 studi kasus dari kejadian resistensi Campylobacter terhadap fluoroquinolon. Pasien penderita campylobacteriosis yang resisten terhadap fluoroquinolon apabila diberi pengobatan ratarata lamanya kejadian diare lebih lama beberapa hari dibandingkan dengan pasien yang sensitiv terhadap fluoroquinolon.

Investigasi oleh CDC di USA pada tahun 1987 menunjukkan bahwa 28 outbreak Salmonella yang terjadi antara tahun 1971 sampai 1983 disebabkan oleh resistensi antimikroba terhadap Salmonella yang berakibat pasien lebih lama di rawat inap di rumah sakit. Kegagalan pengobatan terhadap infeksi Salmonella yang berakibat kematian diduga karena tingginya prevalensi kejadian resistensi antibiotika terhadap Salmonella. Rata-rata kematian pasien dengan multidrug resistensi diestimasikan 10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang suseptibel terhadap antibiotika (HELMS et al., 2002).

MEKANISME RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIKA
Resistensi sel bakteri adalah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroorganisme oleh antimikroba (GANISWARA et al., 1995).

Sifat ini merupakan suatu mekanisme alamiah bakteri untuk bertahan hidup. Resistensi antibiotika terhadap bakteri dapat terjadi dengan berbagai alasan seperti overcrowding yang memudahkan terjadinya transfer bakteri antar personal, tingginya travelling dan perdagangan yang dapat menyebarkan strains resisten secara global, penggunaan antibiotika yang berlebihan pada manusia dan hewan (SPACH dan BLACK,1998; LEWIS, 1995).

Tipe resistensi bakteri terhadap antibiotika dapat bersifat non genetik yaitu bakteri dapat mengalami resistensi intrinsik spesifik terhadap antibiotika, atau resistensi dapat terjadi genetik melalui mutasi atau transfer gen antara bakteri (HAWKEY, 1998).

Mekanisme terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotika dapat terjadi dengan
berbagai cara, yaitu:

Alteration target (gangguan pada target)
Target utama diganggu sehingga antibiotika tidak mempunyai efek yang lama, sebagai contoh penambahan kelompok methyl ke 23S ribosom dari RNA dapat mencegah erythromycin untuk mengikat 23S rRNA sehingga sel menjadi resisten.

Replacement target (target diganti)
Target yang sensitif masih di dalam sel tetapi adanya komponen yang dibuat dapat membentuk peranan yang sama untuk menjadi resisten terhadap antibiotika, sebagai contoh sulfonamid yang resisten dapat disebabkan oleh enzim resisten baru yang dibuat dari gen yang dibawa oleh plasmid.

Perubahan transportasi sel
Sel bakteri mungkin mengalami perubahan sehingga antibiotika tidak dapat masuk ke dalam sel secara baik. Pada beberapa kasus antibiotika mungkin mengalami expelled secara aktif. Tetracyclin adalah contoh antibiotika yang secara aktif mengalami expelled oleh protein tetracyclin yang resisten. Gen protein reissten dibawa oleh kebanyakan plasmid.

Inaktivasi antibiotika
Sel bakteri menurunkan gen yang membuat enzym menghancurkan antibiotika. Sebagai contoh, beta lactamase dapat menghancurkan penicillin dan cephalosporin. Beberapa antibiotika seperti chloramphenicol dan aminoglycosida dapat diinaktivasi dengan penambahan kelompok phosphat atau kelompok acetyl.

PENANGGULANGAN RESISTENSI FOODBORNE BAKTERI
Resistensi antibiotika mengakibatkan tingginya mortalitas dan morbiditas karena kegagalan pengobatan dan tingginya biaya kesehatan. Oleh karena itu identifikasi sumber terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotika dapat mengurangi berkembangnya penyebaran resistensi dan multiresistensi bakteri.

Di UK pemakaian antibiotika sebagai pemacu pertumbuhan dibatasi dengan alasan tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan produksi peternakan dan telah direkomendasikan penggunaan penicillins, tetracyclines, tylosin, dan sulfonamides sebagai growth promoters dihentikan.

Untuk mengurangi resiko terjadinya resistensi antibiotika terhadap foodborne bakteri di Uni Eropa telah mengimplementasikan legislasi Directive 70/524 tentang penggunaan antibiotika sebagai feed additive dengan dosis maksimum dan minimum, periode withdrawal sampai penyembelihan. Pemakaian feed additive harus mengikuti beberapa aturan yaitu harus mempunyai efek pada produksi ternak, tidak membahayakan kesehatan manusia dan hewan, level antibiotika dapat dikontrol, level antibiotika tidak boleh melebihi dosis untuk pengobatan dan pencegahan penyakit pada hewan dan tidak boleh untuk tujuan sebagai pengobatan pada hewan.

Untuk mengurangi tingkat kejadian resistensi antibiotika terhadap bakteri patogen perlu dilakukan:

1. Program surveilans nasional terhadap penggunaan antimikroba di luar pengobatan untuk manusia.
2. Program surveilans nasional terhadap resistensi antibiotika terhadap bakteri pada makanan dan hewan.
3. Strategi implementasi pencegahan transmisi resisten bakteria dari hewan ke manusia melalui rantai makanan.
4. Implementasi WHO Global Principles untuk Containment Antimicrobial Resistance pada hewan yang diperuntukan untk pangan mengikuti Guidelines OIE.
5. Implementasi strategi managemen yang spesifik untuk mencegah emergence dan dissemination resisten bakteri.
6. Implementasikan pendekatan risk assessment yang diperlukan untuk mendukung risk management.
7. Memperluas kapasitas negara khususnya di negara berkembang untuk melakukan surveillens terhadap penggunaan antimikroba dan tingkat resistensi,melakukan strategi implementasi risk assessment.
8. Melakukan risk management terhadap resistensi antimikroba pada area internasional.

KESIMPULAN
Pemakaian antibiotika pada hewan baik sebagai pencegahan dan pengobatan penyakit maupun sebagai pemacu pertumbuhan berkontribusi untuk terjadinya resistensi foodborne bakteria baik pada manusia maupun hewan.

Beberapa foodborne bakteri seperti Salmonella, Campylobacter, Enterococci, dan Escherichia coli yang resisten terhadap antibiotika telah terbukti dapat mentransfer faktor genetik ke manusia melalui rantai makanan atau secara kontak langsung.

Resistensi antibiotika terhadap bakteri patogen mengakibatkan terjadinya kegagalan pengobatan terhadap infeksi pada manusia dan meningkatkan biaya pengobatan.

Pengendalian terjadinya resistensi antibiotika terhadap bakteri patogen dapat dilakukan dengan melakukan program surveillens terhadap pemakaian antimikroba di peternakan dan surveilens terhadap tingkat terjadinya resistensi antibiotika.


Sumber: Susan Maphilindawati Noor dan Masniari Poeloengan (Balitvet Bogor), Materi pada Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan.


Vaksinasi rabies bagi seluruh anjing di Bali ditargetkan rampung pada 28 September, bertepatan dengan Hari Rabies sedunia.

"Saat ini sudah dilakukan vaksinasi anjing sekitar 360.000 ekor dari perkiraan 500.000 populasi anjing di Bali," kata Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Kementerian Kesehatan Rita Kusriastuti di Jakarta, Jumat (13/8).

Dengan sekitar 72 persen populasi anjing telah mendapatkan vaksinasi rabies, Rita memperkirakan dapat melindungi sekitar 2,8 dari 4 juta warga Bali dengan asumsi satu ekor anjing mengalami kontak dengan delapan orang. "Vaksinasi terus dilakukan di Bali, hingga target Bali bebas rabies pada 2012 Tercapai,” kata Rita.

Pulau tujuan wisata utama Indonesia itu memiliki populasi anjing sebagai penyebar rabies yang tinggi karena memiliki kepercayaan bahwa anjing adalah hewan yang akan mengantar arwah mereka ke surga, sehingga kasus rabies juga banyak ditemukan. Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies di Bali dimulai pada November 2008 di Kabupaten Badung dan hingga kini telah menyebar ke sembilan kabupaten/kota yakni Badung, Kota Denpasar, Tabanan, Karangasem, Gianyar, Bangli, Buleleng dan Klungkung serta Jembrana.

Hingga 9 Agustus 2010 tercatat ada 53.412 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) dengan kasus kematian sebanyak 83 orang dengan rincian empat orang meninggal pada 2008, 26 pada 2009 dan 53 pada 2010. Untuk menanggulangi hal tersebut, Kemenkes membentuk tim koordinasi dengan Kementerian Pertanian yang juga akan mendata penyebaran rabies di provinsi lain.

Rabies merupakan penyakit mematikan yang ditularkan lewat gigitan anjing dimana masa inkubasi rabies setelah digigit anjing bisa berlangsung selama beberapa minggu, bulan atau setahun, dengan gejala awal yang mirip penyakit flu biasa seperti kepala pusing, kelelahan dan demam. Jika rabies telah memasuki fase lanjut, penderita akan mengalami masalah pernafasan, takut air (hidrofobia), kelumpuhan dan koma.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan rata-rata di Asia ada 50.000 kasus gigitan rabies pertahunnya sehingga dalam forum Regional Zoonotic Meeting SEARO yang berlangsung di Jakarta pada November 2007 lalu, rabies ditetapkan sebagai penyakit prioritas kedua setelah Avian Influenza.

Kasus kematian disebabkan oleh rabies di negara Asia terbanyak adalah di India yakni 20.000-30.000 kasus pertahun, Vietnam (rata-rata 9.000 kasus pertahun), China (rata-rata 2.500 kasus pertahun), Filipina (200-300 kasus pertahun) dan Indonesia (rata-rata 125 kasus pertahun). (Ant/OL-2)

Sumber: mediaindonesia.com



Hasil uji laboratorium Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana menemukan adanya kasus rabies pada sapi dan babi di Bali. Kasus penularan rabies pada Sapi dan babi ditemukan terjadi di Kabupaten Tabanan dan Kawasan Bukit Jimbaran.

Data ini diperkuat dengan laporan dari sekitar 10 petani di Bukit Jimbaran yang menyatakan sapi peliharaan mereka mengalami gejala fisik rabies.

Kepala Laboratorium Biomedik Dan Biologi Molekuler Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Prof I Gusti Ngurah Mahardika pada keterangannya di Denpasar, Kamis (12/8) menegaskan konfirmasi laboratorium terjadinya penularan rabies pada sapi dan babi diperkuat dengan hasil uji laboratorium dari Balai Besar Veterriner Denpasar.

Mahardika menyatakan dari hasil analisa sementara diperkirakan penularan rabies dari anjing ke sapi atau babi terjadi pada malam hari. Sebab anjing yang terinfeksi rabies rata-rata akan agresif pada malam hari.

”Kecendrunganya terjadi malam hari , karena anjing kena rabies kan cendrung menghindari cahaya dan aktif malam hari,” tegas Prof I Gusti Ngurah Mahardika.

Kepala Laboratorium Biomedik Dan Biologi Molekuler Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Prof I Gusti Ngurah Mahardika menegaskan penularan rabies dari anjing ke sapi atau babi tidak diikuti oleh proses mutasi virus.

Selain itu penularan rabies pada Sapi dan Babi merupakan hal yang alami dan tidak terlalu membahayakan karena kedua hewan tersebut bukan termasuk hewan penggigit.

Menurut Mahardika yang perlu diwaspadai dari penularan rabies pada Sapi dan babi adalah pada saat pengolahan daging. Terutama saat anggota tubuh mengalami luka, sebab rabies dapat menular melalui darah dan masuk melalui luka. (mlt)

Sumber: beritabali.com





Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan, pandemi flu babi sudah berakhir dan keterjangkitannya secara global tidak seperti yang ditakutkan lebih dari setahun lalu.Kepada pers di Jenewa, Selasa, Dirjen WHO, Margaret Chan, kembali membantah kritik bahwa pihaknya membesar-besarkan kasus pandemi flu H1N1 pertama dalam lebih dari 40 tahun itu.


Akibatnya, beberapa negara Barat masih memiliki stok vaksin flu yang tidak digunakan dalam jumlah besar. Seorang pakar kesehatan masyarakat Hong Kong mengatakan, dunia beruntung karena virus H1N1 itu tidak bermutasi ke bentuk yang lebih mematikan.

Stok vaksin yang ada efektif melawan virus flu ini. "Kita kini bergerak menuju masa paska-pandemi," katanya. Chan membela keputusannya tentang pengumuman adanya pandemi flu H1N1 pada Juni 2009 itu.

Namun Chan mengingatkan otoritas kesehatan agar tetap mewaspadai penyebaran virus flu babi ini sebagai bagian dari flu musiman pada tahun-tahun mendatang.

Virus flu babi itu masih mengancam berbagai kelompok resiko tinggi, seperti para wanita hamil yang mendapat manfaat dari program vaksinasi, katanya.Stok vaksin H1N1 masih efektif menghadapi kemungkinan ancaman. Sejauh ini, virus flu babi itu pun tidak mengembangkan resistensi luas terhadap antiviral oseltamivir, katanya.

Pada Juni 2009, WHO mengumumkan pandemi virus flu babi setelah Amerika Serikat dan Meksiko diserang virus ini dan kemudian menyebar ke banyak negara di dunia dalam enam minggu. Pandemi 2009 itu merupakan yang pertama sejak 1968.

Untuk menghadapi kemungkinan terburuk H1N1, sebanyak 350 juta orang di seluruh dunia telah divaksinasi, katanya.Belasan perusahaan farmasi kemudian memproduksi vaksin flu, seperti Sanofi-Aventis, GlaxoSmithKline, Novartis, AstraZeneca dan CSL.

Sekitar 18.450 orang di seluruh dunia dipastikan meninggal dunia akibat terinfeksi virus flu babi.Namun WHO mengatakan, pihaknya membutuhkan waktu sedikitnya satu tahun setelah pandemi dinyatakan berakhir untuk bisa mengetahui jumlah pasti korban yang tewas.

Setiap tahunnya, flu musiman diperkirakan menewaskan 500 juta orang. Mereka umumnya berusia lanjut. Menurut WHO, pandemi flu tahun 1957 menewaskan dua juta orang sedangkan pada pandemi flu tahun 1968, satu juta orang meninggal dunia.

Sumber: Republika.co.id


Epidemi penyakit anjing gila atau rabies menjadi momok di Bali, kota dengan tiga juta penduduk sekaligus salah satu tujuan wisata utama di Asia.

Tercatat, 78 orang tewas dalam waktu dua tahun, diduga masih ada kematian yang belum dilaporkan.

Salah satu yang jadi korban adalah Putu Valentino Rosiadi. Bocah delapan tahun ini seharusnya duduk di kelas 3 Sekolah Dasar bulan ini. Namun, bukannya membeli seragam dan buku tulis baru. Ia tewas digigit anjing gila.


Valentino saat itu sedang berada di depan pintu saat seekor anjing tiba-tiba melompat dan menyerangnya, Mei lalu. Anjing itu menggigit betis kanan Valentino. Dia sempat dibawa ke rumah sakit, yang lalu mengizinkannya pulang.

Namun, petaka terjadi. Awal bulan Juli, demam tinggi menyerangnya. Dua hari kemudian, Valentino menghembuskan nafas terakhir.

"Dia terus mengigau. Ada busa yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya bergetar hebat," kata ayah korban, Komang Suda (32).

Suda yang terpukul yakin, anaknya meninggal karena rabies. Selain gejala-gejalanya mirip, ada dua anjing di desanya yang positif rabies. Namun, hingga kini belum dipastikan penyebab tewasnya Valentino.

"Jelas, aku marah, tapi tidak banyak yang bisa kulakukan. Anak saya sudah meninggal dan tidak ada yang bisa membawanya kembali," kata Suda, dengan air mata meleleh.

Banyaknya laporan gigitan anjing di Pulau Dewata membuat pemerintah kewalahan. Dalam semester pertama tahun ini, ada 30.000 laporan gigitan anjing.

"Kami memiliki masalah serius dengan vaksin anti-rabies untuk manusia. Kami membutuhkan bantuan," kata Kepala Dinas Kesehatan Bali, I Nyoman Sutedja.
Rumah sakit di seluruh Bali telah menghadapi masalah kekurangan vaksin.

"Yang menyedihkan adalah mereka pergi ke rumah sakit dan mereka lalu pulang karena rumah sakit itu tidak memiliki vaksin," kata Janice Girardi, warga Amerika yang menjalankan organisasi nirlaba, Bali Animal Welfare Association.

“Kemudian Mereka pulangdan mati.”

Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat dan Australia, telah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negaranya untuk untuk mempertimbangkan mendapatkan vaksin antirabies sebelum ke Bali.

Para wisatawan juga diminta menghindari kontak dengan anjing. Tak hanya warga lokal, sejumlah turis asing telah melaporkan gigitan anjing, namun tidak ada yang berakibat fatal.

Anjing di Bali, di antaranya banyak yang kudisan, adalah pemandangan yang biasa di Bali. Mereka mencari makan dari restoran dan tumpukan sampah. Mereka hidup di antara penduduk lokal dan wisatawan.

"Secara budaya, sulit untuk meyakinkan orang bahwa anjing dapat membawa penyakit," kata Sutedja. "Orang Bali percaya bahwa anjing akan membawa mereka ke surga." (AP) (hs)

Sumber: vivanews.com

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.