September 2010

Pemerintah Australia melakukan evaluasi pelaksanaan program bantuan anggaran melalui FAO dalam rangka pengendalian penyakit hewan "avian influenza" atau flu burung di Sulawesi Barat.

Kepala Subdit Pengawasan Penyakit Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Jakarta, Drh. Bagoes Poermodjaja, M.S., di Mamuju, Selasa, mengatakan evaluasi program hasil kerja sama pemerintah Australia dan Indonesia ini dilakukan seiring dengan berakhirnya masa kontrak kerja sama ini.
"Pemerintah Australia melalui kedutaan besar untuk Indonesia di Jakarta bersama dengan kami selaku mediator kegiatan melakukan evaluasi di wilayah Sulbar maupun Sulsel terkait dengan jalinan kerja sama itu,” kata dia.

Menurut dia, kerja sama ini telah berlangsung sejak 2007 melalui organisasi FAO Australia (Lembaga Donor Australia) dan akan segera berakhir masa kontrak kerja samanya.

Makanya, kata dia, sebelum kontrak berakhir, pemberi dana penanggulangan penyakit hewan atau flu burung ini melakukan evaluasi sejauh mana manfaat dan apa yang menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan selama ini.

Dikatakan, lembaga donor Australia yang bertandang ke Sulbar tak lain ingin berdialog langsung dengan pelaksana program yang menerima bantuan sehingga mengetahui kegiatan yang telah dilakukan terkait dengan program "Participation Disease Surveillance Response" (PDSR) yang berlangsung selama tiga tahun terakhir.

"Setelah kami melakukan dialog dengan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) se-Sulbar serta petugas PDSR, ternyata umumnya mengharapkan kerja sama ini tetap berlangsung karena manfaatnya telah dirasakan masyarakat umum maupun pelaku usaha ternak serta pemangku kepentingan yang ada di Sulbar,” ungkapnya.

Bagoes mengemukakan, dalam kerja sama yang terjalin selama ini, telah melaksanakan tiga komponen utama yakni mengenai peningkatan penanggulangan kesehatan hewan, peningkatan pengutan kapasitas uji labolatorium hewan, dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) petugas kesehatan hewan.

"Jika hasil kerja sama ini masih dibutuhkan masyarakat di Sulbar, kerja sama ini akan tetap berlanjut," katanya menjelaskan.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga akan melihat sejauh mana kesiapan daerah untuk melanjutkan kerja sama ini, baik yang ada di Sulbar maupun di wilayah Sulsel.

Dikatakan, hasil evaluasi ini juga akan menjadi bahan acuan untuk memasukkan usulan kegiatan dalam kegiatan program yang baru. (ACO/K004)

Sumber: antaranews.com

Sebagai bahan makanan, telur memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan tubuh. Rasanya enak, mudah dicerna, dan cocok dikonsumsi semua golongan umur, mulai dari bayi hingga para lansia. Kelebihan lain dari telur adalah bisa diolah menjadi berbagai jenis lauk pauk yang lezat.

Untuk mengenal lebih dekat sumber gizi yang murah ini, simak 12 fakta menarik tentang telur yang mungkin belum anda ketahui.

1. Telur mempunyai nilai kegunaan protein (net protein utilization) 100 persen. Bandingkan dengan daging ayam (80 persen) dan susu (75 persen).

2. Kulit telur terbuat dari kalsium karbonat yang juga merupakan bahan dasar utama beberapa jenis antacids. Sekitar 9-12 persen berat telur terdiri dari kulitnya. Kulit telur juga memiliki pori-pori sehingga oksigen bisa masuk dan karbon dioksida serta hawa lembab keluar.

3. Putih telur terbuat dari protein yang disebut albumen dan juga mengandung niasin (vitamin B3), riboflavin (vitamin B2), klorin, magnesium, potasium, sodium dan sulfur. Putih telur ini mengandung 57 persen dari protein telur.

4. Warna kuning dari telur ditentukan oleh makanan ayam betina. Makin banyak padi-padian yang memiliki pigmen kuning dan oranye yang dimakan si ayam betina, makin kentallah warna kuning telurnya.

5. Warna telur juga bervariasi sesuai usia dan faktor lainnya. Menurut Egg Safety Center, Amerika, warna putih telur yang agak keruh justru menandakan bahwa telur itu segar. Warna putih yang jernih menandakan telur itu berasal dari ayam yang sudah tua. Hindari mengonsumsi telur yang warna putih agak merah muda atau berubah warna lain.

6. Terkadang ada sedikit darah dalam telur. Darah ini berasal dari pembuluh darah di kuning telur yang pecah. Namun, telur ini tetap aman dikonsumsi.

7. Ketika ditetaskan, suhu telur sekitar 40,5 derajat celsius. Semakin dingin, cairan di dalamnya akan mengendap dan terbentuk sel udara di antara dua lapisan telur.

8. Seekor ayam betina mampu bertelur 250-270 telur setiap tahunnya.

9. Sebagian besar rakyat Amerika lebih menyukai telur ayam yang berwarna putih. Di Indonesia, telur ayam kebanyakan berwarna coklat.

10. Dibandingkan dengan telur ayam, telur itik memiliki bau yang lebih amis dan kulitnya memiliki pori yang lebih besar sehingga lebih cocok dijadikan telur asin.

Sumber: health.kompas.com




China lagi-lagi uring-uringan terhadap Uwak Sam (US). Pemicunya kini, soal ayam.

Xinhua mencatatkan warta pada Senin (27/9/2010), China berkesimpulan kalau US menjual daging ayam dengan harga lebih rendah dari harga di pasar domestik.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, China berencana mengutip bea anti-dumping antara 50,3 persen hingga 105,4 persen terhadap impor produk ayam Amerika terhitung mulai Senin, kata Kementerian Perdagangan.

Mengutip hasil investigasi sejak satu tahun lalu, Kementerian Perdagangan China mengatakan, industri ayam US mempraktikkan dumping produk daging ayam ke pasar China dan menimbulkan kerugian substansial bagi industri dalam negerinya.

Tarif bea masuk anti-dumping untuk produk daging ayam ditetapkan berbeda-beda untuk masing-masing perusahaan eksportir Amerika, dan akan diberlakukan selama lima tahun. Tarif bea masuk baru itu dikatakan menggantikan kutipan serupa yang mulai diterapkan bulan Februari.

"Produk Tyson Foods Inc dan Keystone Foods LLC dikenai kutipan 50,3 persen, sedangkan produk Pilgrim's Pride Corporation 53,4 persen," kata pernyataan kementerian tersebut.

Sementara itu, Sanderson Farms Inc dan 31 perusahaan Amerika lain dikenai kutipan 51,8 persen. Beberapa produsen lain dari Amerika terkena bea masuk yang jauh lebih tinggi, yaitu 105,4 persen.

Pengenaan bea masuk anti-dumping ini terjadi ketika Beijing dan Washington terlibat serentetan sengketa dagang bilateral. Kedua negara berselisih mengenai akses ke pasar baja, film, buku, dan beberapa produk lain.

Kali kedua
Andai dihitung, kebijakan ini merupakan kali kedua dalam masa dua bulan Pemerintah China mengambil tindakan terhadap produk ayam dari Amerika Serikat.

Menjelang akhir Agustus, China mulai memberlakukan bea anti-subsidi dengan besar 4 hingga 30,3 persen selama lima tahun. Keputusan itu diambil setelah Beijing menyimpulkan kalangan produsen Amerika menerima subsidi tak sepatutnya dari pemerintah dan praktik itu merugikan industri domestik China.

Ekspor produk ayam dari Amerika ke China dilaporkan naik dalam beberapa tahun terakhir. Dalam semester pertama tahun 2009, kenaikan itu mencapai 6,54 persen dari ekspor pada periode yang sama tahun sebelum.

Menurut catatan yang dikutip Xinhua, impor dari Amerika mencapai 89,24 persen dari total produk ayam yang didatangkan dari luar negeri.

Lantaran impor produk ayam dari AS sepanjang semester pertama tahun 2009, industri dalam negeri China merugi 1,09 miliar yuan (162 juta dollar AS), kata Kementerian Perdagangan China.

Sengketa dagang China-AS merebak selagi pemerintah kedua negara berusaha meningkatkan ekspor di tengah permintaan yang menurun. Pejabat dari kedua negara saling lempar tuduhan proteksionisme yang mereka katakan bisa menghambat pemulihan ekonomi global.

Sumber: Kompas.com



Salah satu keuntungan memiliki anjing sebagai hewan peliharaan adalah karena mereka dikenal setia dengan tuannya. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan, memelihara anjing di rumah dapat mengurangi risiko obesitas pada anak-anak.

Menurut Christopher Owen, Epidemiologis dari Universitas St George's, bermain di taman dengan anjing dapat meningkatkan level aktivitas anak-anak. Berdasarkan studi terhadap 78 anak di kota utama di Inggris, anak-anak yang memelihara anjing lebih aktif daripada mereka yang tidak.
Peneliti menemukan, anak-anak dalam keluarga yang memiliki anjing lebih banyak ambil bagian dalam aktifitas fisik. Namun begitu, para peneliti belum yakin apakah keluarga yang lebih aktif cenderung memiliki seekor anjing atau dengan memelihara anjing keluarga sedentari menjadi lebih aktif.

"Ini seperti menjawab pertanyaan mana yang ada lebih dulu, ayam atau telur. Dan memerlukan studi jangka panjang untuk itu, “ kata Owen.
Aktif bermain
Tujuan dari studi ini adalah mengukur tingkat aktivitas, seperti jumlah langkah berjalan dan waktu yang dihabiskan di siang hari, dan aktivitas fisik yang kuat.

Penelitian ini menggunakan sampel lebih dari 2.000 anak berumur 9 hingga 10 tahun.

Hasilnya, peneliti menemukan banyak bukti bahwa setiap akhir pekan keluarga yang memiliki anjing mempunyai tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi. Ini berarti bahwa anak-anak mengajak orang tua ketika berjalan-jalan bersama anjing atau bermain dengan anjing di rumah, daripada bermain di komputer atau menonton televisi.

"Kegiatan ini meningkatkan perbedaan yang signifikan pada kesehatan anak-anak jangka panjang karena mengurangi risiko obesitas atau diabetes. Dan memberikan manfaat pada kesehatan mereka," kata Owen.

Sumber: http://health.kompas.com

Keberadaan bekantan (Nasalis larvatus) atau sering disebut monyet hidung panjang diperkirakan bisa punah dalam 14 tahun ke depan jika tidak ada upaya nyata untuk menyelamatkan satwa langka itu.

"Jika menghitung laju kerusakan hutan mangrove yang menjadi habitatnya, maka populasi satwa langka ini akan punah dalam waktu kurang dari 14 tahun jika tidak ada tindakan segera untuk melindungi mereka. Ancaman utama bagi keberadaannya adalah terus berkurangnya habitat hutan mangrove primata langka ini,” kata primatolog, Stanislav Lhota, di Balikpapan.
Ilmuwan dari Departemen Zoologi, Universitas South Bohemia Republik Chechnya yang kini meneliti kehidupan berbagai satwa langka di Teluk Balikpapan itu memaparkan bahwa faktor utama penyebab hilangnya habitat bekantan adalah pengembangan perkebunan kelapa sawit, industri pesisir dan kompleks perumahan besar di sepanjang pantai dan pinggiran sungai.

"Dampak dari bisnis minyak sawit lebih besar daripada bisnis lain atas kerusakan ini," katanya.

Bukan hanya karena konversi lahan yang ekstensif pada pinggiran sungai dan pantai ke perkebunan kelapa sawit (terutama di Ulu Teluk Balikpapan) tetapi juga karena pengembangan parik pengelolaan CPO (minyak sawit mentah) di sepanjang pantai barat kota Balikpapan, ujarnya.

Keberadaan bekantan di Teluk Balikpapan begitu penting, pasalnya kawasan itu menjadi salah satu tempat populasi bekantan terbesar di dunia. Populasi bekantan mencapai 1.400 ekor di Teluk Balikpapan mewakili lima persen primate berbulu kuning itu di seluruh dunia.

"Keberadaan bekantan di Teluk Balikpapan sangat strategis bagi upaya penelitian serta pelestarian satwa langka itu sehingga isu-isu perlindungan dan pegelolaan Teluk Balikpapan di Kalimantan Timur semakin diperhatikan pada tingkat internasional,” katanya.

Belum lama ini, keberadaan bekatan di Teluk Balikpapan kembali dibahas di Jepang dalam Kongres Internasional Primatologi di Kyoto. Kongres ini dihadiri oleh lebih dari 1.000 spesialis dalam penelitian dan konservasi primata, termasuk selebritis terkenal seperti Jane Goodall, peneliti simpanse.

Ia mengungkapkan bahwa dalam kongres itu menganggap bahwa faktor dominan yang mengancam habitat satwa langka tersebut adalah perencanaan untuk membangun Jembatan Pulau Balang.

"Jalan penghubung ke Pualu Balang akan menyebabkan perambahan besar-besaran dan konversi hutan yang pada akhirnya akan menyebabkan bencana ekologis bagi seluruh ekosistem," katanya.

Bukti nyata tentang ancaman itu adalah pemerintah daerah (Pemprov Kaltim, Pemkot Balikpapan dan Pemkab Penajam Paser Utara) tidak mampu menghentikan perambahan yang terjadi sekeliling jalan ke Teluk Waru yang melalui perbatasan selatan Hutan Lindung Sungai Wain.

"Pihak-pihak peduli lingkungan tidak menentang rencana pemerintah membangun namun seharusnya lebih ramah lingkungan, seperti solusi yang ditawarkan adalah membangun jembatan langsung dari Balikpapan ke penajam sehingga tidak perlu menghubungkan jalan sepanjang pesisir,” katanya.

Perencanaan lain yang dianggap tidak berpihak kepada pelestarian lingkungan adalah rencana membangun pagar di sepanjang jalan penghubung ke Pulau Balang.

"Pagar akan benar-benar menghancurkan semua koridor satwa yang masih menghubungkan ekosistem mangrove dengan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW). Kasus ini menggambarkan bahwa perencanaan perlindungan alam dilakukan tanpa memahami situasi nyata," papar dia.

Ia juga menilai bahwa kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) juga diidentifikasi sebagai praktek yang kurang efektif dan bertanggung jawab atas sebagian besar kerusakan lingkungan. AMDAL di Teluk Balikpapan dilakukan tanpa investigasi lapangan rinci dan seringkali menggunakan data palsu.

"Contoh yang sangat jelas adalah AMDAL untuk Jembatan Pulau Balang, yang benar-benar tidak memadai tetapi masih dianggap oleh pemerintah provinsi sebagai bukti bahwa tidak ada dampak lingkungan yang nyata dari jembatan,” katanya.

Ia mengharapkan agar Pemprov Kaltim yang sudah mencanangkan "Kaltim Green" benar-benar menjalankan program yang berpihak kepada sektor ekologis bukan sekedar lips service.

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kaltim menilai bahwa perlu kemauan politik baik Pemprov Kaltim maupun Pemkot Balikpapan dan Pemkab Penajam Paser Utara untuk menyelamatkan satwa langka bekantan di Teluk Balikpapan.

"Tinggal kemauan politik dari Pemda agar bersungguh-sungguh dalam upaya pelestarian alam, baik habitat maupun bekantannya, mengingat dari sisi peraturan mulai dari UU, peraturan pemerintah sampai perda sudah lengkap, cuma terbentur dengan penerapannya," kata Direktur Walhi Kaltim, Ical Wardhana.

Ia menambahkan bahwa kemauan politik dibutuhkan karena hutan di kawasan pesisir pada dua daerah itu (Balikpapan dan PPU) terus dibabat untuk berbagai aktifitas baik pemerintah maupun pihak swasta.

Ical menilai sudah saatnya pemerintah daerah benar-benar mengimplementasikan sebuah perencanaan dan kegiatan benar-benar berwawasan lingkungan seperti program yang telah dicanangkan pemprov Kaltim, yakni “Kaltim Hijau”. (T.I014/Z003/P003)

Sumber: antaranews.com


Sebuah penelitian dari Stanford University di California, Amerika Serikat, menemukan antibiotik, bahkan yang ringan sekalipun, dapat mengganggu keseimbangan mikroba hidup di dalam usus. Rusaknya keseimbangan mikroba tersebut menimbulkan gangguan kesehatan.

Penemuan yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences itu berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap beberapa orang. Kepada mereka diberikan ciprofloxacin. Hasilnya menunjukkan antibiotik menekan seluruh populasi bakteri, termasuk bakteri baik.

Hasil penelitian tersebut mendukung anggapan umum selama ini bahwa antibiotik dapat merusak mikroba, baik yang hidup dalam tubuh. Padahal mikroba dalam usus membantu mencerna makanan dan kuman baik dapat menempati ruang lebih luas sehingga kuman yang buruk tidak banyak tinggal dalam usus. Penelitian itu juga mendukung gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan simbiosis dengan kuman.

"Pengaruh ciprofloxacin sangat cepat dan kuat dalam memunahkan mikroba dalam usus," tulis anggota tim peneliti, Les Dethlefsen dan David Relman. (*/Reuters/X-8)

Sumber: mediaindnesia.com




Pangan (bahan makanan) merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia. Komposisi umum bahan makanan baik yang berasal dari hewan (ternak) maupun tumbuhan terdiri atas protein, karbohidrat, dan lemak yang mengandung banyak senyawa atau zat gizi yang sangat bermanfaat.

Bahan pangan diperlukan tubuh untuk memulihkan dan memperbaiki jaringan yang rusak, mengatur proses di dalam tubuh, perkembangbiakan, dan menghasilkan energi untuk kepentingan berbagai kegiatan.

Di samping sangat bermanfaat itu tubuh, pangan juga mudah terkontaminasi oleh berbagai jenis bahan (cemaran) yang berbahaya.
Bahan atau bahaya (hazards) yang dapat mencemari/mengkontaminasi pangan, terdiri dari :
1. Bahaya biologis berupa cacing, parasit, bakteri (mikroba), cendawan/fungi, virus, riketsia
2. Bahaya kimia berupa toksin bakteri, mikotoksin, cemaran logam berat, residu antimikroba
3. Bahaya fisik berupa serpihan kaca, potongan kayu, logam, batu, rambut, benang, dll.

Adanya cemaran biologis pada pangan dapat mengakibatkan terjadinya foodborne diseases, yaitu penyakit pada manusia yang ditularkan melalui makanan atau minuman yang tercemar.

Pangan asal ternak yang terdiri dari daging, telur, susu,pangan asal laut, dan hasil olahannya (seperti dendeng, bakso, sosis, abon, kornet, burger, mentega, es krim, youghurt, mayonaise, dll.) merupakan bahan pangan yang mengandung protein tinggi, keasaaman (pH) kira-kira 4,6 dan kandungan air tinggi (aW >0,85).

Hal ini merupakan media yang sangat baik untuk perkembangan mikroorganisme patogen. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pangan asal ternak mudah tercemar oleh bakteri patogen penyebab foodborne disease.

Saat ini
foodborne diseases telah menjadi salah satu isu penting bagi kesehatan masyarakat, dan lebih dari 250 foodborne diseases telah dilaporkan di seluruh dunia. Sebagian besar penyakit tersebut bersifat infeksius yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit.

Penyakit lainnya adalah keracunan yang disebabkan oleh toksin/racun dan bahan kimia yang mencemari makanan. Di Amerika dilaporkan bahwa biaya (cost) karena
foodborne diseases diperkirakan mencapai $US 20-55 milyard/tahun, yang terdiri dari biaya untuk pengobatan, penurunan produktifitas kerja, kehilangan kesempatan kerja, dan lain-lain.

Dari kira-kira 13,8 juta kasus foodborne diseases yang dilaporkan ternyata sebanyak 67% disebabkan oleh cemaran virus, 30% oleh bakteri, dan 3% disebabkan oleh parasit dan jamur.

Cemaran Mikroba pada pangan asal ternak
Penyakit yang timbul bila seseorang mengkonsumsi makanan atau minuman dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama makanan atau minuman tersebut mengandung mikroba/bakteri dalam jumlah yang cukup untuk menimbulkan gejala sakit, kedua makanan atau minuman tersebut mungkin mengandung komponen beracun.

Berdasarkan kedua hal tersebut, penyakit yang ditimbulkan oleh makanan atau minuman dapat digolongkan dalam dua kelompok besar, yaitu:

1. Infeksi makanan (food infection)
Infeksi makanan yaitu penyakit yang disebabkan karena mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung mikroba patogen, kemudian mikroba tersebut dapat menembus sistem pertahanan tubuh dan hidup serta berkembang biak di dalam tubuh.

Mikroba yang dapat menginfeksi dan menimbulkan penyakit adalah mikroba yang mempunyai data patogenitas tinggi dan daya virulensi kuat, sehingga dapat berkembang biak dan menyebar ke dalam tubuh induk semang yang peka.

Masa inkubasi, yaitu waktu yang dibutuhkan dari mulai masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh sampai timbulnya gejala sakit, karena infeksi makanan biasanya lebih lama dari intoksikasi makanan. Mikroba-mikroba potensial penyebab infeksi makanan antara lain Salmonella,
Bacillus antracis, Campylobacter, Shigella, Vibrio, Yersinia, Escherichia coli tipe enteric dan lain-lain.

2. Intoksikasi makanan (food intoxication)
Intoksikasi makanan yaitu penyakit yang disebabkan karena mengkonsumsi makanan yang mengandung racun yang diproduksi oleh mikroba yang tumbuh dalam makanan. Umumnya masa inkubasi intoksikasi terjadi lebh cepat setelah mengkonsumsi makanan tercemar (onset pendek) dibandingkan dengan infeksi makanan.

Mikroba-mikroba potensial penyebab intoksikasi makanan antara lain
Clostridium botulinum, C. Perfringens, Bacillus cereus, Staphylococcus aureus.

Beberapa Mikroba pathogen penyebab foodborne disease pada manusia
Walaupun bakteri/mikroba hanya mengakibatkan 30% pada kejadian f
oodborne diseases, tetapi jumlah wabah dan angka kematian tertinggi disebabkan oleh infeksi bakteri, yaitu sebanyak 31% kematian disebabkan oleh infeksi Salmonella spp., diikuti oleh Listeria (28%), Campylobacter (3%) dan Escheria coli (3%).

Penularan foodborne diseases yang umumnya melalui makanan, maka jika tertelan dan masuk ke dalam saluran pencernaan akan menimbulkan gejala klinis berupa sakit perut, mual, muntah, diare, kram perut, sakit kepaka, tidak nafsu makan, demam, dll.

Apabila gejala diare dan muntah terjadi dalam waktu lama, maka dapat mengakibatkan dehidrasi (kehilangan cairan tubuh). Masa inkubasi penyakit berkisar antara beberapa jam sampai beberapa minggu, tergantung jenis bakteri yang menginfeksinya.

Tidak semua bakteri yang masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan penyakit, tergantung daya patogenitas dan virulensi bakteri serta daya pertahanan dan daya hindar yang tinggi terhadap sistem pertahanan tubuh.

Beberapa mikroba/bakteri penyebab foodborne diseases yang penting :

1. Salmonella
Infeksi Salmonella dapat bersifat fatal, terutama menyerang bayi kurang dari 1 tahun. Selain dipengaruhi umur, juga tergantung strein dan jumlah mikroba yang masuk.
Salmonella typhi dan S. paratyphi menyebabkan demam tifoid, lebih dikenal dengan penyakit typhus. Masa inkubasi 7-28 hari, rata-rata 14 hari.

Gejala klinis berupa sakit kepala, sakit perut, diare, mual, muntah, konstipasi, pusing, demam tifoid (demam tinggi terus menerus). Makanan potensial pembawa penyakit antara lain daging sapi, daging unggas, telus dan hasil olahannya, Ikan, udang.

Salmonella non-typhoid yang disebabkan oleh bakteri Salmonella lain (terutama
S. enteritidis). Masa inkubasi lebih pendek antara 5-72 jam, rata-rata 12-36 jam. Gejala klinis mirip penyakit tifoid, tetapi tidak disertai demam tifoid yang terus menerus.

Di Amerika dan Eropa dilaporkan bahwa kasus atau wabah karena infeksi
S. enteritidis berkaitan dengan konsumsi telur dan produknya yang dimasak kurang sempurna (mentah atau setengah matang). Antara tahun 1985-1991 dilaporkan bahwa 82% telur kualitas A tercemar S. enteritidis.

2.
Escherichia coli (E. coli)
E. coli umumnya merupakan flora normal yang terdapat pada saluran pencernaan manusia dan hewan. Sejak tahun 1940 di Amerika ditemukan E. coli yang menyebabkan diare pada bayi dan usia lanjut, yaitu E. coli enteropatogenik yang patogenik dan menghasilkan toksin.

Pada tahun 1982 dilaporkan wabah diare berdarah pada 20.000 orang dengan kematian sebanyak 250 orang yang disebabkan karena konsumsi hamburger dari restoran cepat saji.

Ada beberapa jenis
E. coli bila berada diluar saluran pencernaan dapat menjadi patogen, misalnya pada saluran kemih, infeksi luka. Gejala umum infeksi E. coli berupa diare berdarah, muntah, nyeri abdomen, kram perut.

Infeksi E. coli pada individu dengan
immunocompromised/sistem kekebalan tubuh rendah (bayi, anak-anak, lanjut usia, individu dalam pengobatan, penderita HIV/AIDS, dll.) dapat menimbulkan komplikasi yang menyebabkan kematian, seperti sindrom uremik hemolitik pada + 10% penderita yang ditandai kegagalan ginjal akut.

3. Bacillus anthracis
B. anthracis menyebabkan penyakit anthraks pada hewan dan manusia. Bakteri ini sensitif terhadap lingkungan, tidak tahan panas, dan mati dengan perebusan selama 2-5 menit; tetapi sporanya sangat tahan selama bertahun-tahun pada suhu pembekuan, di dalam tanah dan kotoran hewan. Bahkan spora tersebut tahan 40-60 tahun di dalam tanah kering.

Gejala penyakit antraks pada manusia dikenal 3 tipe/bentuk; yaitu bentuk kulit (kutaneus), pernafaan (inhalasi), dan pencernaan (intestinal).

Gejala bentuk kulit bersifat lokal, timbul bungkul merah pucat ( karbungkel) yang berkembang menjadi nekrotik dengan luka kehitaman (Black center). Luka dapat sembuh spontan dalam 2-3 minggu.

Gejala bentuk pernafasan berupa sesak nafas di daerah dada, batuk, dan demam. Antraks bentuk ini umummnya ditemukan pada pekerja penyortir bulu domba (
wool sorter’s disease) dan penyamak kulit.

Gejala bentuk pencernaan berupa nyeri dibagian perut, demam, mual, muntah, nafsu makan menurun, diare berdarah karena inflamasi pada usus halus. Penyakit ini kadang-kadang menyebabkan toksemia, shok, sianosis, dan bila tidak diobadi dini dapat mengakibatkan kematian. masa inkubasi penyakit antara 2-6 hari.

4.
Clostridium spp.
C. perfringens dan C. botulinum umum terdapat di alam, misalnya tanah, sampah, debu, kotoran hewan dan manusia, serta bahan makanan asal hewan. Bakteri ini menghasilkan 5 jenis enterotoksin tipe A, B, C, D dan E. Enterotoksin perfringens tipe A sangat berbahaya dan banyak mengkontaminasi pangan.

Penyakit ini biasanya disebabkan karena mengkonsumsi makanan yang tercemar
C. perfringens, seperti daging matang (olahan) yang dibiarkan terlalu lama pada suhu kamar. C. botulinum banyak ditemukan pada makanan kaleng karena fermentasi yang tidak sempurna.

Gejala sakit yang timbul karena intoksikasi
C. perfringens berupa sakit perut bagian bawah, diare dan gas, jarang disertai dengan demam dan pusing-pusing. Gejala keracunan C. perfringens timbul 8 – 24 jam, dengan rata-rata 12 jam setelah mengkonsumsi pangan yang mengandung toksin (racun) perfringens, sedangkan keracunan karena C. botulimun dapat mengakibatkan vertigo, penglihatan dobel, sulit menelan dan bicara.

5.
Listeria monocytogenes
Infeksi pada manusia dikenal pada tahun 1980-an, adanya outbreak di Jerman yang dikaitkan dengan susu mentah. Gejala yang timbul berupa mual, muntah, diare, gejala influensa. Infeksi bakteri tersebut dapat mengakibatkan meningitis dan encefalitis pada janin/ bayi, infeksi intrauterin atau servik pada ibu hamil, dan dapat mengakibatkan keguguran, 1/3 infeksi manusia adalah pada perinatal, dan bayi dalam kandungan.

Masa inkubasi 2-6 minggu. Bakteri ini banyak dijumpai pada susu, daging sapi, daging unggas, ikan laut dan produknya, serta makanan siap saji. Sejak tahun 1989 Departemen Pertanian Amerika Serikat mensyaratkan nol (0)
L. monocytogenes pada makanan.

6.
Vibrio cholera dan Yersinia enterocolitica
Y. enterocolitica banyak ditemukan pada pangan dengan kadar garam tinggi (NaCl 5-7%), sedangkan Vibrio cholera umumnya banyak ditemukan pada perairan bergaram (pangan laut).

Dalam makanan laut mentah tahan 2-4 hari pada 30-32 ⁰C, atau 4-9 hari pada 5-10 ⁰C. Dalam air laut bakteri dapat hidup 10-13 hari pada 30-32 ⁰C atau 58-60 hari pada 5-10 ⁰C.

Infeksi
V. cholera dikenal dengan istilah kolera asiatik (klasik) menyebabkan gastroenteritis profus dan akut (watery diarrhea), dan dapat berakhir fatal karena dehidrasi cepat dengan asidosis dan shock.

7.
Enterobacter sakazakii
Banyak menyerang bayi lahir dengan gejala diare, meningitis pada bayi baru lahir dan prematur, kasus tertentu menunjukkan septikemia. Makanan yang sering tercemar adalah susu bubuk bayi dan produknya.

8. Bakteri lain yang banyak mengakibatkan foodborne diseases
Campylibacter sp., Staphylococcus aureus,Brucella spp., Bacillus cereus, Shigella Mycobacterium sp., dll. Gejala umum yang disebabkan oleh infeksi bakteri tersebut berupa demam, sakit perut, muntah, mual, diare encer dan kadang-kadang becampur darah dan mukus (terutama oleh S. dysenteriae). Infeksi oleh S. aureus dapat mengakibatkan kejang-kejang.

Faktor-faktor yang berperan terhadap timbulnya foodborne disease
1. Demografi masyarakat
Meningkatnya kelompok individu immunocompromised sebagai akibat dari peningkatnya penderita human immunodeficiency virus (HIV), penderita penyakit kronis, orang lanjut usia (manula), akan lebih peka terhadap infeksi bakteri patogen yang ditularkan melalui makanan (
foodboene disease) seperti Salmonella, Campylobacter, Listeria.

Kemajuan teknologi kedokteran, seperti transplantasi organ tubuh dan keberhasilan pengobatan kanker, telah meningkatkan harapan hidup manusia, tetapi disisi lain hal ini dapat meningkatkan kepekaan individu terhadap infeksi
foodborne diseases.

2. Human behavior
Perubahan pola konsumsi masyarakat turut memberikan kontribusi terhadap meningkatnya/timbulnya foodborne diseases; antara lain banyaknya fast-food restoran, peningkatan kebiasaan makan di luar rumah (
eating away from home), peningkatan konsumsi buah segar, salad yang banyak menggunakan sayuran segar/mentah, makanan-makanan yang dimasak tidak sempurna (seperi hamburger, scembel eggs).

Produk-produk segar tersebut lebih mudah kontaminasi oleh patogen, baik pada tahap pertumbuhan, panen, dan pendistribusian. Sedangkan produk-produk yang dimasak setengah matang atau tidak sempurna mengakibatkan bakteri-bakteri patogen tidak mati oleh pemasakan tersebut.

3. Perubahan di bidang industri dan teknologi
Peningkatan industri makanan berskala besar yang tersentralisasi pada satu tempat atau di kota-kota besar akan membawa resiko terhadap peningkatan penyebaran foodborne diseases. Bila suatu produk terkontaminasi di tempat asal ketika diproduksi, maka dengan mudah akan terjadi penyebaran penyakit/patogen sampai ke tempat pendistribusian produk tersebut.

Sebagai contoh, adanya infeksi S. enteritidis pada ayam-ayam bibit di peternakan-peternakan pembibitan. Hal ini akan memudahkan terjadinya penyebaran agen penyakit, melalui anak ayam (DOC) atau telur ayam, ke peternakan-peternakan final stock dalam areal yang lebih luas.

4. Perubahan dalam pola perjalanan/travel dan perdagangan global
Hal ini banyak terjadi para wisatawan-wisatawan (traveler’s diseases). Para wisatawan tersebut dapat terinfeksi oleh penyakit ditempat yang dikunjunginya, dan akan terbawa ke tempat asalnya.

Dengan terbukanya perdagangan internasional (global), maka akan membawa konsekwensi terhadap penyebaran penyakit secara bebas. Masuknya bakteri S. enteritidis ke Indonesia diduga bersamaan dengan importasi bibit-bibit ayam dari Eropa.

5. Adaptasi mikroba
Adanya adaptasi atau mutasi mikrobe terhadap lingkungan dan seleksi alam. Pengobatan antimikroba, untuk hewan dan manusia, yang terus-menerus dan tidak terkontrol akan mengakibatkan timbulnya bakteri-bakteri yang resisten.

Pencegahan dan pengendalian
Pencegahan dan pengendalian foodborne diseases harus dilakukan pada setiap tahap/proses penyajian makanan; dari mulai tingkat produksi di peternakan, proses pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH), pendistribusi dari peternakan/RPH ke pasar, proses pengolahan sampai penyiapan makanan yang sudah jadi (finished food) di rumah/restoran.

Pencegahan dan pengendalian foodborne diseases diistilahkan from farm to table, yaitu dari mulai produksi di peternakan sampai siap saji di meja makan, antara lain meliputi:

a. Pemeriksaan hewan/ternak pada saat ante mortum di peternakan/rumah potong hewan. Ternak-ternak yang akan dipotong harus berasal dari peternakan yang bebas penyakit
b. Peningkatan personal higiene mulai dari pekerja kandang, petugas rumah porong hewan, penjual daging, pekerja pada industri makanan, juru masak sampai kepada komsumen

c. Pengawasan terhadap kebersihan/sanitasi lingkungan di peternakan, rumah potong hewan, alat transportasi, ruang pengolahan, peralatan dapur atau pengolahan makanan dan peralatan saji.

d. Pengolahan makanan (daging, susu, telur dan produknya) secara higienis dengan pemanasan yang cukup, pasteurisasi, dan atau sterilisasi.

e. Penyimpanan makanan cepat basi dalam suhu dingin, pisahkan raw material dengan makanan sudah matang.

Lima kunci keamanan pangan (food safety, WHO)
1. Jagalah kebersihan, dengan:
a. cuci tangan sebelum mengolah pangan dan sesering mungkin selama mengolah pangan.
b. cuci tangan sesudah dari toilet.
c. cuci dan sanitasi seluruh permukaan yang kontak dengan pangan dan alat pengolah pangan.

2. Pisahkan pangan mentah dari pangan matang
a. pisahkan daging sapi, unggas dan hasil laut dari pangan lain.
b. gunakan peralatan yang terpisah, seperti pisau dan talenan untuk mengolah pangan mentah.
c. simpan pangan dalam wadah untuk menghindari kontak antara pangan mentah dan pangan matang.

3. Masaklah dengan benar
a. masaklah pangan dengan benar terutama daging sapi, unggas, telur dan pangan laut.
b. rebuslah pangan sampai mendidih, usahakan suhu internalnya mencapai 70 ⁰C. untuk daging, usahakan cairan bening, tidak berwarna merah muda.
c. panaskan kembali pangan dengan benar, sebelum dimakan.

4. Jagalah pangan pada suhu aman
a. jangan biarkan pangan matang pada suhu ruang lebih dari 2 jam.
b. simpan segera semua pangan yang cepat rusak dalam lemari pendingin (sebaiknya pada suhu di bawah 50 ⁰C).
c. pertahankan suhu makanan lebih dari 60 ⁰C sebelum disajikan.
d. jangan biarkan makanan beku mencair pada suhu kamar.

5. Gunakan air dan bahan baku yang aman
a. gunakan air yang aman atau beri perlakuan agar air aman.
b. pilihlah pangan segar dan bermutu.
c. cucilah buah-buahan atau sayuran yang bersih, terutama yang dimakan mentah.
d. jangan mengkonsumsi pangan yang sudah kadaluwarsa.

DAFTAR PUSTAKA
Cahyadi, W. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.
FDA [US Food and Drug Administration]. 2001. Rapid Methods for Detecting Foodborne Pathogens. Bacteriological Analytical Manual Online. Center for Food Safety and Applied Nutrition. http://www.cfsan.fda.gov/~ebam/bam-al.html.
Jay, JM. 2001. Modern Food Microbiology (5th. Ed). Chapman & Hall. International thomson Publishing. New York.
Scientific Status Summery. 2004. Bacteria Associated with Foodborne Diseases. Institute of Food Technologists.
Siagian, A. 2002. Mikroba Patogen pada Pangan dan Sumber/Reservoarnya. Universitas Sumatera Utara.
Sulandari, S dan M. S. A. Zein. 2003. Panduan Praktis Laboratorium DNA. Bidang Zoologi. Pusat Penelitian Biologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Supardi, I. dan Sukamto. 1999. Mikrobiologi dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan. Penerbit Alumni. Bandung.
Vanderzant, C. dan D. F. Splittstoesser (ed). 2005. Compendium of Methods For The Microbiological Examination of Foods (3th). American Public Health Association.
WHO. 2006. Penyakit Bawaan Pangan: Fokus Pendidikan Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Sumber: bbalitvet.litbang.deptan.go.id (Bahan Dr. Anni Kusumaningsih, M.Sc, peneliti senior pada Kelti Bakteriologi Bbalitvet)





Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengusulkan agar peran PT Berdikari bisa diarahkan menjadi perusahaan yang bergerak di bidang peternakan.

Usulan tersebut menanggapi ide Menteri Pertanian Suswono yang menginginkan agar dibentuk BUMN khusus di bidang peternakan untuk menunjang swasembada daging.

"Peran Berdikari bisa ditransformasi menjadi BUMN peternakan. Selama
ini mereka urus macam-macam," kata Sekretaris Kementerian BUMN, M Said Didu di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu 8 September 2010.

Said Didu menyarankan agar usulan pembentukan BUMN peternakan tersebut tidak diarahkan pada pembentukan BUMN baru. Pemerintah sebenarnya bisa memanfaatkan BUMN yang sudah ada untuk menjalankan usaha di bidang peternakan.

"Kalau mau bentuk BUMN baru harus menunggu peraturan pemerintah dan bisa sampai setahun," kata Said.

Saat ini, Berdikari memiliki areal seluas 6.000 hektare. Di areal tersebut, perseroan sudah mengembangkan peternakan khusus membiakkan sapi pedaging.

Selain mengembangkan sapi melalui unit usaha Berdikari United Livestock, Berdikari juga memiliki empat divisi lain yang bergerak di bidang perdagangan, asuransi, logistik, dan furnitur.

"Berdikari cukup dibesarkan size-nya saja. Saat ini, perusahaan harus dibuat secara moderen, tidak bisa lagi dikembangkan peternakan model gembala," kata Said seraya menambahkan bahwa pemerintah Sulawesi Selatan bahkan berminat mendirikan anak usaha untuk pengembangan peternakan.

Selain menambah size, transfomasi bisnis Berdikari menjadi BUMN peternakan dapat dengan mudah dilakukan dengan jalan menambah modal untuk membuat perusahaan bisa beroperasi.

Sumber: vivanews.com




Pemerintah melarang pengiriman ternak antarpulau di Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah ditemukan penyakit lumpuh layu (Trypanosomiasis) yang menyerang ternak di Pulau Sumba.

Larangan diberlakukan setelah sedikitnya 95 kerbau dan kuda di empat kabupaten di Sumba mati secara tidak bersamaan sejak dua bulan terakhir. Dari hasil pemeriksaan sampel darah ternak mati tersebut ditemukan parasit darah Trypanosoma evansi sebagai agen penyakit lumpuh layu.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan NTT Ansgerius Takalapeta mengatakan itu di Kupang, Minggu (5/9).

Menurut Ansgerius, larangan itu juga berlaku untuk ternak yang berasal dari Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat yang merupakan daerah endemis lumpuh layu. Ternak kuda dari dua daerah itu sering dibawa ke Sumba untuk mengikuti pacuan maupun prosesi adat pasola. "Larangan diikuti pengawasan di seluruh pelabuhan untuk mencegah ternak masuk ke NTT," katanya.

Tim dokter hewan di empat kabupaten di Sumba masih bekerja memberikan vaksin kepada ternak yang sakit. Mereka juga mengisolasi setiap desa yang ditemukan ternak mati. Tujuannya penyakit tersebut tidak cepat menyebar ke wilayah lainnya. Meski begitu, pemilik ternak asal Sumba masih diperbolehkan membawa ternaknya ke daerah lain dengan perjanjian ternak tersebut tidak boleh kembali lagi ke Sumba.

"Kita khawatir ternak yang keluar itu kalau kembali lagi membawa penyakit," jelasnya.
Kondisi ini, menurut dia, membuat peternak khawatir karena masa inkubasi penyakit ini hanya berlangsung 5-60 hari, bersifat kronis dan sering tidak menunjukkan gejala klinis, sehingga hewan yang sembuh dari sakit pun masih berperan sebagai pembawa penyakit. Sampai akhir Agustus 2010, jumlah ternak di Sumba sebanyak 28.924 ekor.
Apalagi, Sumba dan Timor merupakan dua daerah penghasil ternak terbesar di NTT.

Setiap tahun, puluhan ribu ternak asal dua daerah ini dikirim ke Pulau Jawa. Namun, Ansgerius menjamin ternak yang dikirim ke Jawa bebas penyakit karena telah diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan.

Sementara itu, tim dokter hewan masih melakukan pengobatan terhadap ternak yang sakit dan mengisolasi wilayah-wilayah yang ditemukan ternak mati. Tim ini telah bekerja sejak satu bulan terakhir dan telah mengobati sedikitnya 500 ternak yang sakit. Dari jumlah itu sekitar 200 ekor sudah sembuh.

Akan tetapi penyakit ini masih tetap menjadi ancaman karena penyebarannya terjadi melalui lalat kuda (Stomoxys sp) dan lalat rumah (Tabanus sp). Populasi dua jenis lalat ini terbanyak di Sumba. Lalat menularkan parasit secara mekanik melalui gigitan lalat pengisap darah. (PO/OL-3)

Sumber: mediaindonesia.com




Usaha peternakan di Indonesia telah dikenal sejak dahulu kala. Namun pengetahuan tentang kapan dimulainya proses domestikasi dan pembudidayaan ternak dari hewan liar, masih langka.

Adanya bangsa ternak asli di seluruh Indonesia seperti sapi, kerbau, kambing, domba, babi, ayam dan itik, memberikan petunjuk bahwa penduduk pertama Indonesia telah mengenal ternak sekurang-kurangnya melalui pemanfaatannya sebagai hasil perburuan.
Dengan kedatangan bangsa-bangsa Cina, India, Arab, Eropa dan lain-lain, maka ternak kuda dan sapi yang dibawa serta bercampur darah dengan ternak asli. Terjadilah kawin silang yang menghasilkan ternak keturunan atau peranakan dipelbagai daerah Indonesia.

Disamping itu, dalam jumlah yang banyak masih terdapat ternak asli. Dengan demikian terjadilah tiga kelompok besar bangsa ternak yaitu kelompok pertama asalah bangsa ternak yang masih tergolong asli, ialah ternak yang berdarah murni dan belum bercampur darah dengan bangsa ternak luar. Kelompok kedua adalah kelompok "peranakan", yaitu bangsa ternak yang telah bercampur darah dengan bangsa ternak luar. Kelompok ketiga adalah bangsa ternak luar yang masih diperkembang-biakan di Indonesia, baik murni dari satu bangsa atau yang sudah bercampur darah antara sesama bangsa ternak "luar" tersebut. Bangsa ternak demikian dikenal dalam dunia peternakan sebagai ternak "ras" atau ternak "negeri".

Pentahapan waktu didalam mempelajari sejarah usaha peternakan di Indonesia, disesuaikan dengan perjalanan sejarah, untuk melihat perkembangan usaha peternakan dalam kurun waktu suatu tahap sejarah. Didalam kurun waktu tersebut dapat dipelajari sejauh mana pemerintah dikala itu memperhatikan perkembangan bidang peternakan atau segi pemanfaatan ternak oleh penduduk diwaktu itu.

Sejarah usaha peternakan dibagi dalam dua tahap yaitu :
1. Zaman Kerajaan- Kerajaan Tua.
Di zaman kerajaan-kerajaan tua di Indonesia, usaha peternakan belum banyak diketahui. Beberapa petunjuk tentang manfaat ternak di zaman itu serta perhatian pemerintah kerajaan terhadap bidang peternakan telah muncul dalam pelbagai tulisan prasasti atau dalam kitab-kitab Cina Kuno yang diteliti dan dikemukakan oleh para ahli sejarah. Sangat menarik apa yang dikatakan oleh para ahli sejarah tentang kegunaan ternak di zaman-kerajaan Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram, Kediri, Sunda, Bali dan Majapahit.

Ternak dizaman kerajaan-kerajaan tua ini telah memiliki tiga peranan penting dalam masyarakat dan penduduk, yaitu sebagai perlambang status sosial, misalnya sebagai hadiah Raja kepada penduduk atau pejabat yang berjasa kepada raja. Peranan kedua adalah sebagai barang niaga atau komoiti ekonomi yang sudah diperdagangkan atau dibarter dengan kebutuhan hidup lainnya. Dan peranan ketiga adalah sebagai tenaga pembantu manusia baik untuk bidang pertanian maupun untuk bidang transportasi.

a. Tarumanegara
Kerajaan yang berpusat di Jawa Barat ini telah memberikan perhatian terhadap ternak, terutama ternak besar. Hal ini terdapat pada prasasti batu. Pada upacara pembukaan saluran Gomati yang dibuat sepanjang sebelas kilometer, Raja Purnawarman yang memerintah Tarumanegara dimasa itu telah menghadiahkan seribu ekor sapi kepada kaum Brahmana dan para tamu kerajaan.

b. Sriwijaya
Salah satu kegemaran penduduk Sriwijaya adalah permainan adu ayam. Oleh karena itu ternak ayam sudah mendapat perhatian. Disamping itu ternak babi juga banyak dipelihara oleh penduduk. Sebagaimana kita tahu bahwa kerajaan Siwijaya sangat luas daerah kekuasaannya dimasa itu. Terdapat petunjuk bahwa ternak kerbau dan kuda sudah diternakkan diseluruh kerjaan Sriwijaya, ternak sapi baru terbatas di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali.

c. Mataram
Ternak sapi dan kerbau adalah dua jenis ternak besar yang memperoleh perhatian raja-raja Mataram pada abad ke VIII Masehi. Kedua jenis ternak ini memiliki hubungan erat dengan pertanian, disamping perlambang status. Pada tulisan prasasti Dinaya diceritakan bahwa diwaktu persemian sebuah arca didesa Kanjuruhan dalam tahun 760 M, Raja Gayana yang memerintah Kerajaan Mataram dimasa itu telah menghadiahkan tanah, sapi dan kerbau kepada para tamu kerajaan dan kepada kaun Brahmana. Terlihat disini bahwa hadiah kerajaan dalam bentuk ternak, memiliki kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara.

d. Kediri
Kediri adalah suatu kerajaan yang rakyatnya makmur dan sejahtera, karena kerajaan ini telah memajukan pelbagai bidang kehidupan termasuk peternakan. Hal ini terdapat didalam kitab Cina Ling-wai-tai-ta yang disusun oleh Chou-K'u-fei dalam tahun 1178 M. Dikatakan bahwa rakyat kerajaan Kediri hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan karena pemerintah Kerajaan memperhatikan dan memajukan bidang pertanian, peternakan, perdagangan dan penegakan hukum.

e. Sunda
Dimasa kerajaan Sunda, kita mulai mengetahui adanya tataniaga ternak. Hal ini disebabkan berkembangnya 6 kota pelabuhan didaerah kekuasaan Kerajaan Sunda, yaitu Bantam, Pontang, Cigede, Tamgara, Kalapa dan Cimanuk. Hasil pertanian termasuk peternakan sangat ramai. Semua ini diceritakan dalam buku petualang Portugis, Tome Pires. Dikatakan bahwa kemakmuran kerajaan Sunda terlihat dari hasil pertanian yang diperdagangkan dikota-kota pelabuhan, meliputi lada, sayur-mayur, sapi, sapi, kambing, domba, babi, tuak dan buah-buahan. Karena kerajaan Sunda juga memajukan kesenian dan permainan rakyat diwaktu itu, maka terdapat petunjuk bahwa permainan rakyat adu-domba telah berkembang dizaman kerajaan Sunda.

f. B a l i
Di zaman kerajaan Bali, kita mulai mengetahui adanya penggunaan tanah penggembalaan ternak atau tanah pangonan. Rakyat kerajaan Bali dizaman pemerintah raja Anak Wungsu (1049-1077 M), memohon kepada raja untuk dapat menggunakan tanah milik raja bagi tempat penggembalaan ternak, karena tanah milik mereka tak dapat lagi menampung ternak yang berkembang begitu banyak. Semua jenis ternak telah diternakkan oleh penduduk kerajaan Bali, yaitu kambing, kerbau, sapi, babi, kuda, itik, ayam dan anjing. Raja Anak Wungsu mengangkat petugas kerajaan untuk mengurus ternak kuda milik kerajaan (Senapati Asba) dan petugas urusan perburuan hewan (Nayakan). Dimasa kerajaan Bali inilah ternak sapi Bali yang sangat terkenal dewasa ini mulai berkembang dengan baik.
g. Majapahit
Di zaman kerajaan Majapahit kita mulai diperkenalkan dengan teknologi luku yang ditarik sapi dan kerbau. Penggunaan tenaga ternak sebagai tenaga tarik pedati dan gerobak meliputi ternak kuda, sapi dan kerbau. Hasil pertanian melimpah sehingga rakyat Majapahit hidup makmur dibawah pemerintahan raja Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada.

Kerajaan-kerajaan di Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa, yang berada dibawah kekuasaan Majapahit juga meniru tehnik pertanian sawah dengan penggunaan tenaga ternak dari kerajaan Majapahit. Namun penggunaan ternak sebagai tenaga tarik sudah meluas keseluruh daerah kekuasaan Majapahit lainnya di Nusantara.

Menjelang berakhirnya kerajaan Majapahit belum terdapat petunjuk bahwa teknologi luku dengan ternak sapi dan kerbau sebagai tenaga tarik sudah masuk ke Kalimantan, Sulawesi dan Kepulauan Indonesia bagian timur lainnya. Maka dapatlah disimpulkan bahwa teknologi sawah dengan sapi dan kerbau sebagai penarik luku baru sempat disebarkan dipulau-pulau Sumatra, Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa dizaman Majapahit.

Disamping penggunaan ternak dalam bidang pertanian, ternak gajah dan sapi adalah ternak "kebesaran", karena raja-raja Majapahit bila keluar istana dengan naik gajah kehormatan atau naik kereta kerajaan yang ditarik sapi, seperti yang ditulis dalam berita-berita Cina. Dengan demikian dapatlah dikatakan juga bahwa kereta kerajaan dengan kuda sebagai ternak tarik baru muncul pada kerajaan-kerajaan setelah zaman Majapahit.

2. ZAMAN PENJAJAHAN
Usaha peternakan dizaman penjajahan bangsa asing atas penduduk Nusantara, banyak terdapat dalam tulisan-tulisan yang berbentuk laporan maupun buku yang diterbitkan secara resmi. Pengaruh penjajahan dalam bidang peternakan banyak terdapat dalam masa penjajahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), masa pemerintahan Hindia Belanda dan Jepang. Laporan-laporan sejarah tentang pengaruh masa pemerintahan Inggris, Portugis dan bangsa lainnya terhadap bidang peternakan sampai saat ini belum banyak diketahui.

a. V.O.C
Perhatian VOC lebih banyak ditujukan pada perdagangan rempah-rempah yang sangat mahal dipasaran Eropa. Dimasa VOC (1602-1799) usaha peternakan kuda lebih banyak memperoleh perhatian. Hal ini penting bagi VOC untuk kepentingan tentara "Kompeni" diwaktu itu. Pada masa itu kuda Arab dan Persia dimasukkan dan disilangkan dengan ternak kuda asli.

Dari laporan pemerintah Hindia Belanda diketahui, bahwa dalam masa VOC ternyata usaha peternakan kuda juga mendapat perhatian raja-raja dan sultan-sultan untuk kepentingan laskar kerajaan dan untuk kepentingan kuda tunggangan raja sewaktu berburu hewan. Yang terkenal adalah peternakan kuda milik Sultan Pakubuwono III di Mergowati yang terdiri dari kuda Friesland, didirikan pada tahun 1651 tapi ditutup pada tahun 1800.

Perdagangan Ternak.
Perdagangan ternak dan pemotongan ternak cukup ramai di zaman VOC, terutama dipulau Jawa. Perdagangan ternak antar pulau begitu ramai, karena dizaman itu transportasi laut masih dengan kapal layar yang tidak memungkinkan pengangkutan ternak dalam jumlah yang banyak.
Peraturan Peternakan.
Peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah VOC yaitu larangan terhadap pemotongan kerbau betina yang masih produktif dalam tahun 1650. Peraturan ini mula-mula diberlakukan dipulau Jawa, tetapi kemudian juga meliputi daerah-daerah pengaruh VOC lainnya di Nusantara dan diperluas dengan larangan pemotongan sapi betina yang masih produktif. Peraturan ini mula-mula bermaksud untuk menjamin populasi ternak yang terus bertambah dan dengan demikian menjamin pengadaan daging bagi tentara Kompeni di Pulau Jawa. Dalam tahun 1776, peraturan ini ditambah dengan larangan pemotongan ternak kerbau betina putih yang masih produktif.

b. HINDIA BELANDA
Pada awal pemerintah Hindia Belanda, bidang peternakan belum banyak menarik perhatian selain usaha peternakan kuda sebagai kelanjutan dari kegiatan utama VOC dalam bidang peternakan, untuk kepentingan militer, pengangkutan kiriman pos dan untuk memenuhi kegemaran pembesar-pembesar Belanda dan kaum bangsawan sebagai ternak rekreasi dan perburuan hewan.

Selama abad kesembilan belas dan abad kedua puluh sampai berakhirnya pemerintahan Hindia belanda, beberapa kegiatan dalam bidang peternakan perlu dicatat, karena memiliki hubungan dengan perkembangan usaha peternakan di zaman pemerintah Indonesia.
Kegiatan dalam bidang peternakan di zaman Hindia Belanda dapat dikelompokkan ke dalam 10 jenis, ialah :
1. Peningkatan mutu ternak;
2. Pengadaan Peraturan-peraturan;
3. Pameran ternak;
4. Pembangunan taman-taman ternak;
5. Pembentukan koperasi peternakan;
6. Sensus ternak;
7. Pengamanan ternak;
8. Pengadaan sarana distribusi dan pemotongan;
9. Produksi sera dan vaksin.
10. Pendidikan dan penelitian.

1. Peningkatan Mutu Ternak.
Perkembangan ilmu pengetahuan dalam abad kesembilan belas, khususnya ilmu biologi dan mikrobiologi, ikut memberi pengaruh terhadap kegiatan dalam bidang peternakan. Pengaruh ilmu genetika yang dipelopori oleh Mendel (1822-1884) ikut mewarnai dunia peternakan, khususnya didalam kegiatan peningkatan mutu genetik ternak lokal di Nusantara. Demikian juga didalam bidang mikrobiologi yang dipelopori oleh Louis Pasteur (1822-1899) dan Robert Koch (1843-1920) mewarnai penanganan kesehatan ternak, produksi sera dan vaksin. Khususnya dalam bidang peningkatan mutu genetik ternak asli Nusantara, kegiatan persilangan dan seleksi dan penyebaran bibit ternak cukup banyak dilakukan.

Kuda - Persilangan antara ternak kuda asli dilakukan dengan mendatangkan kuda Arab dan Persia (1809) dan kuda Australia (1817). Dalam tahun 1870 dan 1880, kuda Australia didatangkan oleh pedagang ternak berkebangsaan Perancis dari kepulauan Mauritanius.

Untuk pulau Sumba hasil persilangan dengan kuda asli setempat, sangat terkenal dengan nama Kuda Sandel. Selain itu didirikan pusat-pusat pembibitan kuda di Cipanas (1820), Bogor (1938), Payakumbuh, Lubuk Sikaping dan Tarutung (1980), Padalarang
(1903), Padang Mangatas (1922), sebagai pengganti Payakumbuh yang ditutup pada tahun 1907, Malasaro Sulawesi Selatan (1874) dan pulau Rote (1841). Disamping itu di Cisarua-Bandung perusahaan swasta bibit ternak, "General de Wet" milik Hirchland dan Van Zyl yang didirikan pada tahun 1900, pada tahun 1921 ditunjuk sebagai rekanan bibit unggus kuda pemerintah.

Sapi - Keturunan Bos sondaicus yang semula tersebar dipulau Jawa, Madura, Sumatera, Bali dan Lombok, banyak memperoleh perhatian Pemerintah Hindia Belanda. Selama abad kesembilan belas, persilangan ditujukan terutama terhadap perbaikan mutu sapi Jawa, yang jumlahnya terbanyak, namun berbadan kecil sehingga kurang cocok untuk ternak kerja.

Pada tahun 1806 Kontrolir Rothenbuhler di Surabaya, melaporkan bahwa pedagang ternak di Jawa Timur telah mendatangkan sapi pejantan Zebu dari India untuk dipersilangkan dengan sapi Jawa. Dalam tahun 1812 tercatat sapi bangsa Zebu yang didatangkan adalah Mysore, Ongol, Hissar, Gujarat dan Gir untuk dipersilangkan sengan sapi Jawa.

Walaupun persilangan antara sapi Jawa dengan bangsa sapi Zebu ini banyak memperlihatkan hasil yang baik, namun bukanlah suatu program resmi pemerintah Hindia Belanda, karena dalam abad ke sembilan belas belum ada dinas resmi yang menangani bidang peternakan.

Impor sapi Zebu dari India tetap dilanjutkan oleh para pengusaha di Jawa Timur dari tahun 1878 hingga tahun 1897, disaat mana impor dihentikan, karena berjangkitnya wabah pes ternak di India. Pada waktu ini keturunan hasil persilangan telah banyak dengan bentuk tubuh yang lebih besar dari sapi Jawa.

Sementara itu dalam tahun 1889, Residen Kedu Selatan, Burnaby Lautier dengan bantuan dokter hewan Paszotta melancarkan aksi kastrasi secara besar-besaran terhadap ternak jantan lokal di Bagelen. Tujuannya, agar pejantan Zebu saja yang digunakan sebagai pemacak. Walaupun usaha ini ditentang oleh pemerintah pusat Hindia Belanda, pada tahun 1890 asisten residen Schmalhausen mengikuti jejak Lautier untuk daerah Magetan di Jawa Timur. Ia juga menganjurkan penanaman rumput benggala untuk makanan ternak. Usaha persilangan sapi Jawa dengan sapi Madura, dilaksanakan oleh kontrolir Van Andel, dibantu oleh dokter hewan Bosma, di daerah Pasuruan Jawa Timur pada tahun 1891-1892.

Persilangan secara berencana dan besar-besaran barulah dilaksanakan setelah dinas resmi yang menangani bidang peternakan dibentuk pada tahun 1905 yaitu Burgelijke Veeatsenijkundige Diens (BVD) sebagai bagian dari Departemen van Landbaouw atau Departemen Pertanian. BVD telah melaksanakan peningkatan mutu sapi Jawa dengan pelbagai kegiatan ialah :

Peningkatan dengan pejantan Jawa
Dari tahun 1905 sampai 1911 dilakukan penyebaran sapi jantan Jawa yang baik ke daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam tahun 1911 usaha ini dihentikan, oleh karena para petani menginginkan ternak sapi yang lebih kuat dan lebih besar untuk ternak kerja.

Persilangan dengan Sapi Madura
Usaha ini sudah dimulai di akhir abad ke sembilan belas oleh Van Andel. BVD juga melanjutkan kegiatan persilangan ini di pulau Jawa sampai tahun 1921. Pada saat ini usaha ini dihentikan, karena kurang memenuhi harapan para petani terhadap ternak kerja.

Persilangan dengan Sapi Bali
Penduduk Jawa Timur terutama di darha keresidenan Banyuwangi telah lama mengenal sapi Bali sebagai ternak kerja yang cukup baik. Usaha persilangan sapi Jawa dengan pejantan Bali dimulai tahun 1908 di Pulau Jawa. Tapi usaha inipun dihentikan pada tahun 1921, karena angka kematian sapi Bali dan keturunannya yang sangat tinggi oleh penyakit darah.

Persilangan dengan Sapi Zebu
Pengusaha perkebunan di Sumatera Timur telah banyak mendatangkan sapi Zebu untuk ternak penarik gerobak dan ternak perah di akhir abad kesembilan belas. Ternyata kemudian ternak sapi tersebut adalah sapi Hissar yang didatangkan ke Pulau Jawa pada tahun 1905 dan dinamai Sapi Benggala. Namun sapi Hissar yang tiba di pulau Jawa tidak memuaskan. BVD dalam tahun 1906 dan 1907 telah mendatangkan sapi Zebu dari India. Dokter hewan Van Der Veen yang diserahi tugas ke India, ternyata telah memilih Sapi Mysore, yang kurang memenuhi harapan karena kematian yang tinggi akibat penyakit piroplasmosis dan ternak jantannya sangat agresif.

Pada pembelian di tahun 1908 oleh BVD tiga bangsa sapi dipilih, ialah Ongol, Gujarat dan Hissar. ternyata Sapi Ongol berkembang baik di Pulau Jawa, Sapi Gujarat baik di pulau Sumba dan Sapi Hissar baik di pulau Sumatera. Pada tahun 1909 dan 1910 ternyata BVD memutuskan untuk lebih banyak membeli Sapi Ongol. Sampai tahun 1911 perkembangan sapi Ongol lebih baik, sehingga diputuskan memilih sapi Ongol untuk perbaikan mutu Sapi Jawa.

Dari sinilah muncul untuk pertama kalinya Program Ongolisasi yang dimulai pada tahun 1915, disaat mana pembelian dari India dihentikan sama sekali. Semua ternak pembelian terakhir ditempatkan di pulau Sumba. Dikemudian hari ternyata Sapi Ongol dan Gujarat di Sumba berkembang sangat baik, sehingga pulau Sumba menjadi sumber bibit murni sapi Ongol dan Gujarat yang kemudian dikenal sebagai sapi Sumba Ongol (SO).

Persilangan dengan Sapi Eropa
Tiga bangsa sapi Eropa yang banyak digunakan untuk persilangan adalah Here ord, Shorthorn (Australia) dan Fries Holland (Belanda). Impor Sapi Hereford dan Shorthorn kemudian dihentikan karena berjangkitnya penyakit paru-paru ganas di Australia. Sapi Fries Holland sendiri banyak disilangkan dengan sapi Jawa dan sapi Ongol terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah, Karena keturunannya memiliki sifat yang baik.

Sumba Kontrak.
Salah satu bentuk penyebaran bibit ternak sapi Ongol di dalam program ongolisasi, ialah Sumba Kontrak.

Sumba Kontrak adalah penempatan dan penyebaran sapi bibit ongol di pulau Sumba yang dilaksanakan dalam bentuk meminjamkan 12 induk dan satu pejantan ongol kepada seorang peternak.

Pengembalian pinjaman dilakukan oleh peminjam dengan mengembalikan ternak keturunan dalam jumlah, umur dan komposisi kelamin yang sama dengan jumlah ternak yang dipinjam, ditambah dengan satu ekor keturunan (jantan atau betina) untuk setiap tahun selama peternak belum melunasi pinjamannya. Untuk akad pinjaman ini, peternak menandatangani suatu kontrak dengan pemerintah, yang kemudian dikenal dengan Sumba Kontrak. Jumlah ternak awal disebut Koppel, sehingga kemudian hari muncul juga istilah Sapi Koppel. Sumba kontrak secara resmi dimulai pada tahun 1912.

Sistim penyebaran sapi bibit ini tidak hanya berlaku dipulau sumba, tapi diperluas ke pulau-pulau lain dan meliputi pelbagai jenis ternak : Sapi Bali, Sapi madura, Kambing, Domba dan Babi dengan jumlah ternak yang tidak sama untuk satu koppel.
Dalam masa dua puluh tahun (1920 - 1940) penyebaran ternak bibit, terjadi dua usaha penting yaitu :
1. Penyebaran ternak bibit antar pulau dan antar daerah, yaitu penyebaran sapi Ongol dan peranakan Ongol dari pulau Jawa ke Sumbawa, Sulawesi, Kalimantan Barat dan Sumatera. Penyebaran sapi Bali dari pulau Bali ke Lombok, Timor, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. Penyebaran sapi Madura ke pulau Flores dan kalimantan Timur.
2. Penyebaran ternak bibit dan bibit tanaman makanan ternak secara lokal disekitar taman-taman ternak dipulau Jawa dan Sumatera.
K e r b a u
Ternak kerbau lokal yang dikenal sebagai Kerbau Lumpur sudah sejak dahulu terdapat diseluruh nusantara. Dengan kedatangan bangsa India ke Sumatera, dibawa juga kerbau Murrah yang kini masih banyak terdapat didaerah Sumatera Utara dan Aceh.
K a m b i n g
Kambing lokal atau kambing kacang telah ada di seluruh Nusantara. Didalam zaman Hindia Belanda didatangkan juga kambing bangsa India (Ettawah) yang merupakan kambing perah dan disebarkan hampir diseluruh pantai utara pulau Jawa.
Bebarapa bangsa kambing lain juga didatangkan yaitu : Saanen. Namun persilangan yang terkenal kini adalah kambing Peranakan Ettawah (PE).
D o m b a
Ternak domba dibagi dua bangsa yang terkenal yaitu domba ekor gemuk dan domba lokal lainnya, yang tersebar diseluruh Nusantara. Semua bangsa domba ini adalah tipe daging. Dizaman Hindia Belanda didatangkan bangsa domba tipe wol misalnya Merino Rambo illet, Romney dan tipe daging misalnya Corridale dan Soffolk. Persilangan bangsa domba wol dan daging dengan domba lokal Priangan menghasilkan domba yang sangat terkenal diwaktu ini ialah domba Garut.
B a b i
Ternak babi lokal tersebar diseluruh Nusantara.
Dizaman Hindia Belanda didatangkan babi ras bangsa Eropah yaitu York shire, Veredelde Deutchland Landras (VDL), Tamworth, Veredelde Nederlandsche Landras (VNL), Saddle Back, Duroc Jersey, Berk shire.
Sapi Perah
Pada permulaan abad ke 20 telah dapat perusahaan sapi perah dipinggiran kota-kota besar di Jawa dan Sumatera. Kebanyakan perusahaan adalah milik bangsa Eropah, Cina, India dan Arab. Hanya sebagian kecil milik penduduk asli. Bangsa sapi perah yang ada ialah Fries Holland, Jersey, Ayrshire, Dairy Shorthor dan Hissar. Kemudian ternyata yang terus berkembang adalah fries Holland. Bangsa sapi Hissar masih terus diternakkan didaerah Sumatera bagian Utara dan Daerah Istemewa Aceh.
Ayam
Disamping ayam kampung, di zaman Hindia Belanda telah dipekenalkan ayam ras tipe petelur misalnya leghorn dan ayam ras tipe pedaging misalnya Rhode Island Red dan Australorp. Persilangan Autralorp dengan ayam kampung yang terkenal adalah Ayam kedu.
Itik
Di samping itik lokal, di zaman Hindia Belanda telah didatangkan bangsa itik Khaki Campbell dan itik Peking.
Bangsa itik lokal yang terkenal : adalah itik Tegal, itik Karawang dan itik Alabio.
Aneka Ternak
aneka ternak misalnya ternak kelinci, burung puyuh dan burung merpati, belum memperoleh perhatian pemerintah Hindia Belanda. Kelinci hanyalah digunakan di balai-balai penelitian sebagai hewan percobaab. disinilah asalnya istilah : Kelinci percobaan.

2. Pengadaan Peraturan.
Peraturan-peraturan yang diterbitkan selama masa Hindia Belanda, terbanyak setelah dibentuk badan resmi yang menangani bidang peternakan dalam tahun 1905. Semua peraturan tersebut dapat dikelompokan kedalam 4 kelompok, yaitu :
(1) Peraturan yang menyangkut pengaman ternak
(2) Peraturan yang menyangkut produksi, populasi dan sarana produksi ternak
(3) Peraturan yang menyangkut pemotongan ,pajak potong, distribusi, tata niaga dan sarana-sarana peternakan.
(4) Peraturan yang menyangkut bahan-bahan veteriner dan kesehatan masyarakat Veteriner.

3. Pameran Ternak
Pameran ternak diadakan untuk pertama kali di Blora (1876). Kemudian di Surabaya(1878), Blora(1887), Bandung(1899). Pada tahun 1906 secara resmi diadakan oleh BVD di Kebumen dan Bandung.Tujuannya lebih banyak bersifat penyuluhan kepada para peternak, sehingga ternak yang unggul dapat dijual atau dibeli dengan harga premium.

4. Taman Ternak
Taman ternak pertama didirikan di Karanganyar di desa Pecorotan pada tahun 1909, namun pada tahun 1912 dipindahkan ke desa Jiladri. Kemudian menyusul pendirian taman ternak di Bandar (1916), Purworejo(1918), Pengarasan Tegal(1920), Kedu Selatan, Rembang,Padang Mangatas(1922).

Taman ternak ini merupakan sumber ternak bibit dan sumber bibit makanan ternak. Beberapa pusat pembibitan ternak kuda dan sapi di Sumatra, kemudian juga diperluas menjadi taman ternak.

5. Koperasi Peternakan
Koperasi peternakan dianjurkan, terutama didalam pembelian pejantan bersama. Koperasi peternakan yang pertama didirikan di Salatiga, Kedu dan Tasikmalaya.

6. Sensus Ternak
Dalam tahun 1867 pemerintah di Jawa dan Madura diwajibkan mengadakan sensus ternak di daerahnya masing-masing. Sensus ternak secara resmi mulai diadakan pada tahun 1905.

7. Pengamanan Ternak
Pengaman ternak merupakan lanjutan dan perluasan kegiatan pemerintah VOC.
Sebelum BVD dibentuk pada tahun 1905, kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit, dilakukan oleh dokter-dokter hewan yang didatangkan sejak tahun 1820 sebagai penasehat pemerintah. Namun sejak BVD lahir, pencegahan dan pemberantasan penyakit secara resmi ditangani pemerintah Hindia Belanda.

8. Pengadaan Ternak
Sarana peternakan yang dimaksudkan disini adalah : tanah pangonan, pasar hewan, karantina, rumah potong hewan, kapal hewan.

9. Produksi Sera dan Vaksin
Produksi Sera dan Vaksin untuk ternak terutama diadakan oleh Balai Penyelidikan Penyakit Hewan yang didirikan di Bogor.

10. Pendidikan dan Penelitian
Sekolah dokter hewan pertama didirikan pada tahun 1860 di Surabaya, tapi karena kurang peminat, maka ditutup pada tahun 1875. Baru pada tahun 1907 dibuka kembali di Bogor. Sekolah Menengah Kehewanan didirikan di Malang dan Bogor. Pendidikan Mantri Hewan ditangani langsung oleh Jawatan Kehewanan diwaktu itu.

Penyelidikan Penyakit Hewan ditangani dengan dibangun Balai Besar Penyakit Hewan dan Balai Penelitian Peternakan di Bogor, Balai Penyelidikan Penyakit Mulut dan Kuku di Surabaya.

Banteng (Bos javanicus) sebagai salah satu satwa langka penghuni Taman Nasional Alas Purwo dan Baluran di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, keberadaannya kian terancam punah, baik akibat aksi perburuan liar maupun keganasan hewan predator.

"Hasil pendataan kami pada tahun 1992, di Alas Purwo masih terdapat sekitar 50 ekor banteng, dan pada survei yang kami lakukan pada 1996 tinggal 17 ekor," kata Sandy Nurvianto, peneliti dan dosen pada Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, di Tabanan, Bali, Jumat.

Di sela-sela pertemuan 20 peneliti muda kawasan Asia-Pasifik yang didukung Association for Tropical Bilogy and Conservation-Asia Pacific Chapter, Sandy menyebutkan, populasi banteng yang pada 1980-an sekitar 3.000 ekor di kawasan Alas Purwo, belakangan mengalami penurunan hingga 80 persen setiap tahunnya.

Sandy mengaku melakukan penelitian terakhir tahun 2008 khusus terhadap banteng, baik di Alas Purwo maupun di Baluran yang selama ini merupakan habitat bagi hewan mamalia tersebut.

Dalam penelitan yang dimaksudkan untuk mengetahui penyebaran satwa langka di kedua taman nasional itu, juga menemukan kebiasaan banteng yang lebih suka tinggal di sekitar pohon-pohon dibandingkan di kawasan padang savana buatan.

Selain itu ditemukan pula tren perpindahan banteng saat mencari mata rantai makanan kurun waktu tertentu, yakni ke hutan jati sebagai hutan produksi. Padahal, kata dia, di kawasan tersebut banyak aktivitas manusia, sehingga mengundang kerawanan.

Namun demikian, kata Sandy, ada suatu yang menggembirakan dari hasil penelusuran jejak kaki banteng yang dilakukan pihaknya pada 2009.

"Dari hitungan semula 17 ekor, lewat penelusuran jejak kaki diketahui bertambah menjadi 10 ekor, dan untuk data terakhir malah telah menjadi sekitar 27 ekor," katanya.

Jejak kaki itu selain terlihat di "sadengan" atau safana, juga di sisi selatan hutan Alas Purwo yang berbatasan dengan sebuah sungai besar.

Terkait menurunnya populasi banteng, Sandy mengatakan, di antaranya disebabkan oleh adanya aksi perburuan liar serta hewan predator, yakni anjing hutan yang dikenal dengan "ajak".

"Kami pernah temukan bekas jebakan atau seling serta bekas racun yang dipakai untuk membunuh banteng," imbuh Sandy di sela-sela pertemuan sehari 20 peneliti muda kawasan Asia-Pasifik itu. (ANT-166/P004/S026)

Sumber: antaranews.com



Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.