Oktober 2010

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan berencana membangun rumah sakit (RS) hewan terbesar di Asia pada tahun 2011, di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.

“ TNWK akan kita jadikan taman nasional terbesar di Asia Tenggara, dan kita bekerja sama dengan Australia,” kata dia, di Bandarlampung, Minggu.
Ia menjelaskan, pembenahan tersebut merupakan bagian dari pelestarian hutan yang ada di Indonesia. Sementara itu, terkait dengan program "Menanam Satu Miliar Pohon", ia menjelaskan, ada beberapa skema dalam menyukseskan rehabilitasi hutan dan lahan.

"Rehabilitasi hutan dan lahan dengan melibatkan masyarakat melalui skema hutan tanaman rakyat (HTR), hutan kemasyarakatan (HKm) dan hutan desa,” ujar Menhut, di sela-sela penanaman 10 ribu pohon di Taman Hutan Kota, Bandarlampung.

Kemudian, rehabilitasi hutan dan lahan dengan melibatkan investor melalui hutan tanaman industri, rehabilitasi hutan dengan melibatkan komunitas internasional melalui restorasi ekosistem kawasan hutan, dan hutan rakyat kemitraan.

Menhut menjelaskan, dalam satu tahun direncanakan akan ditanam seluas 1,6 juta hektare dengan sejumlah jenis tanaman pohon. "Kunci pokok dalam gerakan penanaman pohon adalah bibit yang baik dan cukup,” terang dia.

Ia nuturkan, tahun 2011 akan dibangun pusat pembibitan di Lampung serta menggiatkan kembali pembibitan yang dilakukan masyarakat, ada sekitar 500 kelompok.

"Gerakan penanaman serentak merupakan gerakan moral seluruh masyarakat untuk melakukan perbaikan lingkungan dan membudidayakan menanam serta memelihara pohon menjadi kebiasaan masyarakat sehari-hari,” terangnya.

Sementara itu, dari data Kementerian Kehutanan menyebutkan, tahun 2010 dibangun 8.000 unit kebun bibit rakyat (KBR) di 8.000 desa seluruh Indonesia, setiap unit KBR akan menghasilkan 50 ribu batang bibit dengan biasa Rp. 50 juta.

Selain itu, tahun ini pun akan dibangun pembuatan persemaian modern di Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Jawa Barat yang akan memproduksi bibit pohon secara besar-besaran.

Pada penanaman sekitar 10 ribu pohon di Bandarlampung, juga dihadiri Menteri Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar.
Kehadiran ketiga menteri tersebut karena hari ini dilakukan Musyawarah Daerah III DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Lampung, dan ketiganya merupakan tokoh partai tersebut. (Ant)

Sumber: tvone.co.id


Pendahuluan

1. Latar belakang


Kejadian wabah penyakit hewan menular seperti Avian Influenza (AI) dan penyakit hewan menular (PHM) lainnya sangat merugikan masyarakat terutama dari dampak ekonomi yang ditimbulkan disamping juga dapat menimbulkan keresahan batin masyarakat dalam mengkonsumsi pangan yang berasal dari hewan. Program pemberantasan dan pengendalian penyakit hewan sebagai upaya meningkatkan status kesehatan hewan memerlukan dukungan sumber daya manusia dokter hewan maupun paramedik veteriner yang mempunyai integritas serta bertanggungjawab dalam pelaksanaan tugasnya.

Pemerintah Pusat c.q Direktorat Jenderal Peternakan dalam kebijakan pengendalian penyakit hewan strategis (AI, Rabies, Antraks, Brucellosis dan Hog Cholera) masih berperan besar. Dengan perkembangan otonomi daerah saat ini, Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota kondisi saat ini masih mengalami kekurangan tenaga Dokter Hewan dan Paramedik Veteriner.

Guna mendukung kelancaran pelaksanaan tindakan pencegahan, pemberantasan dan penanggulangan PHM tersebut diperlukan Dokter Hewan maupun Paramedik Veteriner (Paravet) yang memadai baik secara kualitas maupun kuantitas, maka Direktorat Jenderal Peternakan mengalokasikan pengangkatan tenaga dokter hewan dan paramedik veteriner (paravet) sebagai tenaga harian lepas (THL) yang ditempatkan di Pusat/UPT Pusat, Dinas yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan di Propinsi, Kabupaten dan Kota.


Dengan adanya tenaga harian lepas Dokter Hewan dan Paravet tersebut diharapkan dapat bersinergi dengan program pengendalian penyakit hewan menular yang telah dilakukan sebagai penggerak kegiatan operasional pemberantasan dan pengendalian penyakit hewan menular di lapangan yang tidak ada atau kekurangan tenaga Dokter Hewan/ Paramedik Veteriner.



2. Tujuan


A. Sebagai upaya dalam kegiatan pencegahan, pemberantasan dan pengendalian penyakit Avian Influenza dan penyakit hewan menular lainnya dengan melibatkan peran serta tenaga Dokter Hewan dan Paramedik Veteriner yang berasal dari masyarakat.

B. Sebagai upaya meningkatkan pelayanan kesehatan hewan dengan mengalokasikan tenaga dokter hewan maupun Paramedik Veteriner di lapangan.

3. Sasaran


Terkendalinya situasi penyakit hewan dengan upaya meningkatkan pelayanan di bidang kesehatan hewan terkait kegiatan pemberantasan dan pengendalian penyakit hewan menular.


4. Hasil yang diharapkan


Dengan adanya tenaga THL Dokter Hewan dan Paramedik Veteriner dapat menjadi penggerak secara operasioanl kegiatan pencegahan dan pengendalian PHM di lapangan khususnya Avian influenza sehingga diharapkan dapat menangani kasus penyakit hewan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program pencegahan dan pengendalian penyakit hewan.


II. Perkembangan jumlah THL Dokter Hewan dan Paramedik Veteriner (Paravet)


Kegiatan tenaga harian lepas (THL) Dokter Hewan dan Paramedik Veteriner dalam rangka Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Hewan Menular Avian Influenza (AI) dan Penyakit Hewan Menular Lainnya dimulai pada TA. 2006/2007 dengan jumlah Dokter hewan sebanyak 27 orang dan Paramedik veteriner (Paravet) sebanyak 30 orang yang tersebar di Pusat/UPT Pusat dan 12 Propinsi yaitu Propinsi DKI Jakarta, NAD, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kep. Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI.Yogyakarta, Jatim, Lampung dan Bali.


Pada TA. 2008 telah direkrut Dokter Hewan sebanyak 160 orang dan Paravet sebanyak 64 orang, sedangkan pada TA. 2009 sebanyak 60 dokter hewan dan 59 orang Paravet, sehingga jumlah realisasi sampai saat ini sebanyak 248 Dokter Hewan dan 153 orang Paravet yang tersebar di Pusat/UPT Pusat dan 20 Propinsi yaitu Propinsi NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Kep. Riau, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogya, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi tenggara dan Bangka Belitung.


Data permintaan Dinas yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi/Kabupaten/Kota yang masih membutuhkan tenaga THL Dokter Hewan dan Paravet sebagai berikut :



1. Propinsi Banten (Kabupaten Serang dan Lebak);

2. Propinsi Lampung
3. Kalimantan Barat (Kab. Pontianak, Landak, Sambas, Singkawang, Bengkayang, Sanggau, Sekadau, Melawi, Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya);
4. Propinsi Bengkulu (Kab. Bengkulu Utara, Rejang Lebong, Kaur);
5. Propinsi Jawa Barat (Kab. Bandung Barat, Sumedang, Indramayu, Bogor dan Kota Bogor);
6. Propinsi Bangka Belitung;
7. Propinsi Jawa Timur (Kab. Gresik, Tl. Agung, Lamongan, Tuban, Magetan, Jombang, Blitar);
8. Propinsi NAD (Kab. Aceh Utara);
9. Propinsi Kalimantan Selatan (Kab. Hulu Sungai Utara, Tanah Bumbu);
10. Propinsi DI. Yogyakarta;
11. Propinsi Jawa Tengah (Kab. Banyumas);
12.Propinsi Sumatera Utara (Kab. Simalungun dan Nias, Serdang Badagai);
13.Propinsi Sumatera Selatan
14.Propinsi Kep. Riau (Kab. Bintan);
15.Propinsi NTB (Kab. Bima, Sumbawa);
16.Propinsi NTT
17.Propinsi Riau (Kab. Rokan Hilir, Bintan, Bengkalis);
18.Propinsi Bali (Kab. Karangasem);
19.Propinsi Bangka Belitung (Bangka Tengah, Kota Pangkalpinang);
20. Propinsi Maluku;
21. Propinsi Maluku Utara;
22. Propinsi Sulawesi Selatan;
23. Propinsi Gorontalo;
24. Propinsi Papua.


III. Pelaksanaan kegiatan THL


Kegiatan THL Dokter hewan dan paramedis veteriner antara lain :


1. Membantu pelaksanaan pengendalian dan pemberantasan penyakit AI meliputi vaksinasi, desinfeksi, sosialisasi dan pengawasan lalu lintas ternak.

2. Membantu pelaksanaan pelayanan kesehatan hewan besar dan hewan kecil di Poskeswan dan klinik hewan.
3. Membantu kegiatan pengambilan, pemeriksaan dan diagnosa penyakit di laboratorium kesehatan hewan.
4. Sosialisasi, infestigasi dan survellen kasus gigitan anjing serta penertiban dan eliminasi anjing liar untuk pencegahan dan pengendalian rabies
5. Pemantauan kegiatan kesehatan hewan di rumah pemotongan hewan
6. Data laporan populasi ternak, situasi umum penyakit hewan menular dan gangguan reproduksi.
7. Membantu kegiatan PDSR ke lapangan dalam hal penelusuran kasus AI serta kegiatan monitoring dan pengendaliannya, melakukan observasi di lapangan pasca kasus AI melalui kegiatan penyuluhan, pengisian kuisioner dan penyebaran brosur/leaflet.
8. Kegiatan kesmavet berupa pengawasan penjualan daging ayam dan sapi di pasar-pasar tradisional, dan pengujian kualitas susu dan daging di laboratorium.


IV. Kendala yang dihadapi


Pelaksanaan kegiatan Tenaga harian lepas Dokter Hewan dan Paramedik Veteriner masih terkendala faktor berikut :


1. Adanya permintaan kebutuhan tenaga THL dari Dinas Propinsi/Kabupaten/Kota, dalam rangka pemberantasan dan pengendalian penyakit hewan menular dan mengingat cakupan luas wilayah di Propinsi/Kabupaten/Kota serta adanya pemekaran wilayah terkait otonomi daerah sehingga jumlah realisasi THL Dokter hewan dan Paravet pada saat ini masih belum mencukupi, sehingga masih sangat dibutuhkan tenaga THL dokter Hewan dan Paramedik Veteriner tersebut dalam upaya peningkatan status kesehatan hewan.


2. Mengingat sebagian THL ada yang lulus CPNS di Pusat/Daerah maupun mengundurkan diri karena telah bertugas di tempat lain, sehingga terjadi perubahan data realisasi tenaga THL yang telah ada/direkrut.


3. Tidak ada alokasi anggaran untuk pemantauan/evaluasi THL Drh dan Paravet


V. Upaya Tindak lanjut :



1. Menghimbau Pemerintah Daerah untuk dapat mengalokasikan/formasi dalam mengangkat tenaga THL dokter Hewan dan paramedik Veteriner menjadi PNS daerah.


2. Sosialisasi rencana THL pasca kontrak terkait alternatif I sebagai CPNS, alternatif II sebagai manajer program PMD/SMD dan alternatif III sebagai tenaga magang di luar Negeri yang mendapatkan pelatihan/training khusus sesuai keahliannya.


3. Data ulang realisasi THL Dokter Hewan dan paramedik Veteriner


Sumber: keswan.ditjennak.go.id


Pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Aceh Utara, mengakui jika kabupaten kekurangan pos kesehatan hewan (poskeswan). Saat ini, di Aceh Utara baru ada delapan dari 18 poskeswan yang dibutuhkan. Kepala Bidang Produksi pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Utara, Sofyan Ishak kepada Serambi Senin (11/1) mengatakan, keterbatasan dana membuat Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Utara, tidak bisa mengatasi kekurangan tersebut. “Kami tidak bisa membangun karena dananya tidak memadai. Beberapa poskeswas yang ada sekarang itu umumnya dibangun dengan dana Otsus,” ujarnya.
Dia menyebutkan, fungsi poskeswan adalah untuk menangani penyakit ternak pada masyarakat. Selama ini, menteri hewan selalu diturunkan dari kantor dinas ke lapangan jika menerima laporan dari peternak. Idealnya, menteri hewan berkantor di kecamatan. Perbandingannya, satu poskeswan untuk dua kecamatan. “Namun, itu belum bisa dilakukan sekarang. Tapi, perlahan terus kita coba lakukan peningkatan,” kata Sofyan didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Agusniar.

Saat disinggung tentang belum difungsikannya poskeswan di Desa Alue Dua, Kecamatan Nisam Antara, Sofyan menyebutkan poskeswan itu sudah rampung namun belum serahterima antara kontraktor pelaksana dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Utara. Dia berjanji, setelah diserahkan oleh kontraktor, maka segera difungsikan. “Kalau sudah diserahkan, akan segera kita fungsikan,” pungkas Sofyan.

Sumber: serambinews.com



Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 256 Tahun 2010 tanggal 28 September 2010 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2010, maka Kementerian Pertanian membuka pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk mengisi lowongan formasi Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2010 yang akan ditempatkan pada Kantor Pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Kementerian Pertanian di seluruh Indonesia, diumumkan sebagai berikut :

A. KUALIFIKASI PENDIDIKAN YANG DIBUTUHKAN :

1. S2 BIOTEKNOLOGI PERTANIAN

2. S2 BUDIDAYA PERTANIAN/TANAMAN/AGRONOMI
3. S2 DOKTER GIGI
4. S2 DOKTER UMUM
5. S2 DOKTER HEWAN
6. S2 EKONOMI PERTANIAN
7. S2 FISIOLOGI TANAMAN
8. S2 HPT
9. S2 PEMULIAAN TANAMAN
10. S2 PEMULIAAN/REPRODUKSI TERNAK/BREEDING
11. S2 SOSIAL EKONOMI PERTANIAN/AGRIBISNIS
12. S2 TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN/TEKNOLOGI PANGAN
13. S2 TEKNOLOGI PASCAPANEN
14. S2 TEKNOLOGI PERTANIAN
15 S2 KIMIA
16. S2 ILMU TANAMAN

1. S1 ADMINISTRASI NEGARA

2. S1 BAHASA/SASTRA ARAB
3. S1 BAHASA/SASTRA INGGRIS
4. S1 BUDIDAYA PERTANIAN/TANAMAN/AGRONOMI
5. S1 BUDIDAYA/PRODUKSI TERNAK
6. S1 EKOLOGI MANUSIA - ILMU GIZI
7. S1 EKONOMI - AKUNTANSI
8. S1 EKONOMI - MANAJEMEN
9. S1 EKONOMI PERTANIAN
10. S1 EKONOMI SUMBER DAYA LINGKUNGAN
11. S1 GEOGRAFI Dari Fak. MIPA
12. S1 HIDROLOGI
13. S1 HPT/PERLINDUNGAN TANAMAN
14. S1 HUKUM INTERNASIONAL
15. S1 HUKUM PERDATA
16. S1 ILMU KOMPUTER
17. S1 ILMU KOMUNIKASI Dari Fak. Sospol
18. S1 ILMU TANAH
19. S1 KEARSIPAN
20. S1 KEHUMASAN
21. S1 KIMIA Dari Fak. MIPA
22. S1 KOMPUTER/SISTEM AKUNTANSI
23. S1 KOMUNIKASI DAN PENYULUHAN Non Fak. Sospol
24. S1 MANAJEMEN INFORMATIKA
25. S1 MEKANISASI PERTANIAN
26. S1 MIKROBIOLOGI
27. S1 NUTRISI DAN PAKAN TERNAK
28. S1 PEMULIAAN TANAMAN
29. S1 PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DAN AKTA IV Dari FKIP/FIP
30. S1 PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS DAN AKTA IV Dari FKIP/FIP
31. S1 PENDIDIKAN BIOLOGI DAN AKTA IV Dari FKIP/FIP
32. S1 PENDIDIKAN KIMIA DAN AKTA IV Dari FKIP/FIP
33. S1 PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKN) DAN AKTA IV Dari FKIP/FIP
34. S1 PERENCANA WILAYAH DAN KOTA
35. S1 PERPUSTAKAAN
36. S1 PETERNAKAN
37. S1 PSIKOLOGI
38. S1 SOSIAL EKONOMI PERTANIAN/AGRIBISNIS
39. S1 SOSIOLOGI PERTANIAN
40. S1 STATISTIKA
41. S1 TEKNIK GEODESI
42. S1 TEKNIK INFORMATIKA
43. S1 TEKNIK KIMIA
44. S1 TEKNIK LINGKUNGAN
45. S1 TEKNIK PERTANIAN
46. S1 TEKNIK SIPIL
47. S1 TEKNOLOGI BENIH
48. S1 TEKNOLOGI PANGAN
49. S1 TEKNOLOGI PASCAPANEN
50. S1 TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN
51. S1 TEKNOLOGI PERTANIAN

1. D4 PENYULUHAN PERTANIAN/PETERNAKAN


1. D3 ADMINISTRASI NEGARA

2. D3 ANALIS KESEHATAN
3. D3 ANALIS KIMIA
4. D3 EKONOMI - AKUNTANSI
5. D3 EKONOMI - MANAJEMEN
6. D3 GEOGRAFI
7. D3 ILMU KOMPUTER
8. D3 ILMU KOMUNIKASI
9. D3 KEARSIPAN
10. D3 KESEHATAN HEWAN/PETERNAKAN
11. D3 MANAJEMEN INFORMATIKA
12. D3 PERPUSTAKAAN
13. D3 PERAWAT GIGI
14. D3 PERAWAT UMUM
15. D3 PERHOTELAN/TATA BOGA
16. D3 PERLINDUNGAN/PROTEKSI TANAMAN/HPT
17. D3 BUDIDAYA PERTANIAN/TANAMAN/AGRONOMI/ TEKNOLOGI BENIH
18. D3 PETERNAKAN
19. D3 SEKRETARIS
20. D3 STATISTIKA
21. D3 TEKNIK INFORMATIKA
22. D3 TEKNIK LISTRIK/ELEKTRO
23. D3 TEKNIK MESIN

1. SMK PERTANIAN/HORTIKULTURA/PERKEBUNAN/ TANAMAN PANGAN

2. SMK PETERNAKAN


Bagi yang berminat, dapat mengajukan lamaran dengan ketentuan sebagai berikut :

B. PERSYARATAN UMUM :
1. Warga Negara Republik Indonesia.
2. Memiliki Integritas yang tinggi terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Sehat jasmani dan rohani berdasarkan surat keterangan dokter pemerintah.
4. Surat Keterangan Catatan Kepolisian dari Kepolisian.
5. Tidak berstatus sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil/Pegawai Negeri Sipil.
6. Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai CPNS/PNS/Anggota TNI/POLRI atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta.

7. Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan.

8. Tidak menjadi anggota dan atau pengurus partai politik.
9. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
10. Minimal mengerti/mengetahui penggunaan dasar komputer (microsoft office) dan internet (browsing dan surat elektronik).

C. PERSYARATAN KHUSUS :

1. Kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan sebagaimana tersebut pada Huruf A tersebut di atas.
2. Berijazah dari sekolah lanjutan tingkat atas atau kejuruan teknis pertanian (tidak termasuk perikanan dan kehutanan), perguruan tinggi negeri atau swasta terakreditasi, apabila dalam ijazah tersebut tidak disebutkan akreditasi, maka perlu dilampirkan surat keterangan dari sekolah atau universitas yang bersangkutan yang menyebutkan akreditasinya sedangkan Surat Keterangan Tanda Kelulusan TIDAK BERLAKU
. 3. - Nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal untuk S2 = 3,0.
- Nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal untuk S1dan D4 = 2,65.
- Nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal untuk D-3/SM = 2,75.
- Nilai rata-rata ijazah minimal untuk SMK Jurusan Pertanian = 7,0.
4. TIDAK SEDANG DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN, SEHINGGA KUALIFIKASI ATAU JENJANG PENDIDIKAN YANG DIAKUI ADALAH YANG DIGUNAKAN PADA SAAT MELAMAR.
5. DIUTAMAKAN yang menguasai bahasa Inggris dengan baik dengan nilai TOEFL minimal 450 untuk S1, D4 atau D3/SM dan 475 untuk S2 yang dibuktikan dengan hasil test kemampuan bahasa inggris yang masih berlaku.
6. Untuk kompetensi-kompetensi tertentu yang terkait dengan perkarantinaan seperti Dokter Hewan, Peternakan, HPT/Perlindungan/Proteksi Tanaman, dan Kesehatan Hewan/Peternakan DIUTAMAKAN LAKI-LAKI dan berstatus BELUM MENIKAH karena penempatannya di Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pertanian di wilayah Indonesia Timur.
7. Usia paling rendah 18 (delapan belas) tahun dan paling tinggi 35 (tiga puluh lima) tahun pada 1 DESEMBER 2010

D. KETENTUAN PENDAFTARAN :

1. Pendaftaran Pelamar dilakukan melalui website Kementerian Pertanian di http://cpns.deptan.go.id

2. Bagi yang telah mengirim lamaran sebelum pengumuman ini dibuat, dinyatakan tidak berlaku.
3. Panitia Pengadaan tidak menerima surat lamaran yang diantar langsung.
4. Bagi pelamar yang telah melakukan pendaftaran dan mengisi secara lengkap data dan surat pernyatan secara on-line dan secara sistem dinyatakan memenuhi syarat maka akan secara langsung mendapatkan NOMOR TEST DAN KARTU TES yang harus dicetak sendiri oleh pelamar pada satu halaman yang sama dengan SURAT PERNYATAAN dan baru dapat dinyatakan berlaku secara syah setelah mendapat pengesahan oleh PANITIA PENGADAAN CPNS KEMTAN T.A. 2010 di LOKASI TES.

5. SURAT PERNYATAAN diisi secara on-line dan wajib dicetak pada satu halaman yang sama dengan KARTU TES sebagaimana yang disiapkan oleh PANITIA secara sistem. Surat pernyataan harus ditandatangani basah oleh pelamar diatas kertas bermaterai Rp. 6000,- dan baru dapat dinyatakan berlaku secara syah setelah mendapat pengesahan oleh PANITIA PENGADAAN CPNS KEMTAN T.A. 2010 di LOKASI TES.

6. Menempelkan Pas photo terakhir (hitam putih atau berwarna) ukuran 3 x 4 cm pada tempat yang telah disediakan pada Kartu Tes yang telah dicetak sebanyak 2 (dua) rangkap (kedua-duanya harus pas photo asli).
7. Periode pendaftaran secara on-line dibuka mulai tanggal 14 Oktober 2010 pukul 10.00 WIB s/d tanggal 21 Oktober 2010 pukul 10.00 WIB.
8. Menggunakan dokumen dan data pendukung yang syah dan masih berlaku.
9. KESALAHAN/KELALAIAN MENGIKUTI PROSEDUR yang ditetapkan dalam melakukan pengisian formulir lamaran dan berakibat merugikan secara langsung maupun tidak langsung pada pelamar MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PELAMAR.

E. PELAKSANAAN SELEKSI DAN PENETAPAN CPNS :

1. Seluruh data pelamar yang masuk akan diseleksi secara langsung oleh sistem dan akan dilakukan validasi dan verifikasi database pelamar oleh panitia dan dilakukan verifikasi kembali pada saat PENGESAHAN KARTU TES DI LOKASI TES (waktu dan lokasi akan ditentukan kemudian).
2. Apabila panitia menemukan data yang berbeda antara data base yang ada dengan data dukung pelamar yang wajib dibawa pada saat pengesahan kartu Tes maka secara langsung pelamar tersebut dinyatakan gugur dan batal untuk mengikuti tes tertulis.
3. Kelengkapan yang dibawa pada waktu melakukan pengesahan kartu Tes sebagai berikut :
- Print out kartu Tes yang telah ditempeli pas foto dan surat pernyataan bermaterai Rp. 6000,- yang telah ditandatangani basah sebanyak 2
(dua) rangkap (print out kartu Tes dengan surat pernyataan dalam satu halaman yang sama);
 Foto copy dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli yang masih berlaku;
- Foto copy ijazah dan transkrip nilai yang telah dilegalisir oleh Rektor/Dekan/Pembantu Dekan Bidang Akademik bagi Universitas/-Institut, atau Ketua/Pembantu Ketua Bidang Akademik bagi Sekolah Tinggi, dan untuk SMK Jurusan Pertanian dilegalisir oleh Kepala Sekolah yang bersangkutan, Kepala/Kabag/Kabid/Kasubdin atau yang setingkat dan berkompeten pada Dinas Pendidikan Kab/Kota dengan menyebutkan pejabatnya (cap basah);

4. Kelengkapan yang dibawa pada saat melakukan pengesahan kartu Tes disusun rapi di dalam map kertas dengan warna :

- BIRU untuk Pasca Sarjana (S2);
 KUNING untuk Sarjana (S1);
 COKLAT untuk Diploma IV (D4);
 MERAH untuk Diploma III (D3)/SM;
 HIJAU untuk SMK Jurusan Pertanian.
5. Pelamar yang lulus seleksi administrasi dan telah mendapat pengesahan kartu Tes oleh panitia pengadaan CPNS Kemtan T.A. 2010 dapat mengikuti seleksi/tes tertulis dengan jenis materi Tes terdiri dari: Tes Kompetensi Dasar (TKD) terdiri dari: Tes Pengetahuan Umum (TPU) meliputi unsur wawasan nasional, regional dan internasional; Tes Bakat Skolastik (TBS) meliputi unsur kemampuan: verbal, kuantitatif, dan penalaran; Tes Skala Kematangan (TSK) meliputi unsur kemampuan beradaptasi, pengendalian diri, semangat berprestasi, integritas, dan inisiatif;
6. Waktu dan lokasi pengesahan kartu peserta Tes dan surat pernyataan serta tempat penyelenggaraan Tes akan diumumkan kemudian melalui website Kementerian Pertanian;
7. Biaya Akomodasi selama pelaksanaan tes ditanggung masing-masing peserta.
8. Biaya yang timbul dalam pelaksanaan Tes penyaringan ini dibebankan pada Anggaran Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2010.
9. Seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Kementerian Pertanian TIDAK DIPUNGUT BIAYA.
10. Seluruh data dan dokumen pelamar menjadi arsip Kementerian Pertanian dan tidak dapat diminta kembali oleh pelamar.
11. Pada waktu yang akan ditentukan kemudian, peserta yang dinyatakan lulus menjadi CPNS wajib menyerahkan seluruh dokumen yang menjadi ketentuan persyaratan ditambah dengan surat keterangan bebas narkoba dari dokter pemerintah dan menunjukkan ijazah asli pendidikan terakhir kepada Panitia Pengadaan pada waktu penyerahan berkas.
12. KHUSUS UNTUK MEMENUHI SEBARAN PENEMPATAN SESUAI KEBUTUHAN KEMENTERIAN PERTANIAN MAKA PANITIA SELEKSI BERHAK MENEMPATKAN PELAMAR BERDASARKAN KOMPETENSINYA DI SELURUH WILAYAH INDONESIA DENGAN MEMPERTIMBANGKAN WILAYAH/ PROPINSI PENEMPATAN PILIHAN PELAMAR PADA SAAT MELAMAR.

F. PERSIAPAN SEBELUM MENGAJUKAN LAMARAN :

Proses awal registrasi lamaran secara on-line melalui website resmi Kementerian Pertanian merupakan tahapan paling penting. Proses ini dilakukan sepenuhnya oleh pelamar. Untuk mengurangi kesalahan, pelamar dihimbau untuk mempersiapkan seluruh data dan dokumen pendukung yang diperlukan. Dalam proses verifikasi, panitia tidak memiliki dan atau tidak diberi wewenang untuk melakukan perubahan pada isian pelamar. Sehingga ketidaksesuaian antara isian pada database pelamar yang ada pada panitia dengan dokumen pendukung pelamar akan berakibat pada ketidaklulusan pelamar pada tahap pertama.
Untuk menghemat waktu akses, sebelum mengisi formulir lamaran ini pastikan bahwa Saudara sebagai pelamar telah menyiapkan data dan dokumen pendukung yang dipersyaratkan, diantaranya :
 Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku;
 Ijazah dan Transkrip Nilai sesuai kualifikasi pendidikan yang dilamar;
 Sertifikat test kemampuan bahasa Inggris TOEFL;
 Surat Keterangan Catatan Kepolisian dari Kepolisian;
 Kartu Pencari Kerja;
 Akte Nikah apabila sudah menikah; dan
 Data pekerjaan, jabatan, dan alamat kantor suami/istri.


G. LAIN-LAIN:

1. Untuk mengetahui ketentuan dan persyaratan pendaftaran terkait dengan pengadaan CPNS Kemtan T.A. 2010 sudah dapat diakses di website-website resmi lingkup Kementerian Pertanian.
2. Pelamar wajib mengikuti informasi terbaru yang terkait dengan seleksi CPNS Kementerian Pertanian T.A. 2010 melalui website Kementerian Pertanian dengan alamat sebagai berikut :

http://cpns.deptan.go.id


3. Panitia pengadaan CPNS Kemtan T.A. 2010 tidak menerima kontak langsung baik melalui tatap muka maupun alat komunikasi lainnya terkait dengan seluruh pengadaan CPNS Kemtan T.A. 2010 kecuali untuk melaporkan pelanggaran dalam penyelenggaraan seleksi dengan disertai bukti-bukti otentik yang dapat dipertanggung jawabkan baik secara yuridis maupun administratif kepada Menteri Pertanian C.q. Biro Organisasi dan Kepegawaian melalui Telp. 021-7804166, Fax. 021-7816180, 021-7816780e-mail : panitia_cpns2010@deptan.go.id.

4. Pengirim data lamaran melalui on-line dianggap telah membaca dan memahami seluruh prosedur dan proses yang ditetapkan, sehingga ketidaksesuaian antara isian pada database pelamar yang ada pada panitia dengan dokumen pendukung pelamar berakibat dicabutnya hak-hak pelamar pada seluruh rangkaian proses pengadaan CPNS Kementerian Pertanian T.A. 2010.
5. Keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat.

Jakarta,14 Oktober2010

Panitia Pengadaan CPNS
Kemtan T.A. 2010






Penyakit menular harus selalu diwaspadai agar tidak menjadi wabah yang dapat mengancam peternakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai tindakan pengamanan untuk memperoleh status kesehatan ternak yang prima.
Beberapa kunci pokok yang dapat dijadikan pedoman dalam pengendalian penyakit pada sapi adalah:
1. Setiap terjadi kematian sapi yang sakit harus diupayakan memperoleh diagnosis dari dokter hewan yang didukung oleh pemeriksaan laboratorium.

Hasil diagnosis harus selalu dicatat dan dibukukan untuk mementau status kesehatan kelompok sapi yang dimiliki.

2. Sisa-sisa jaringan pasca-nekropsi harus segera dimusnahkan dengan dibakar dan dikubur. Seluruh alat yang digunakan harus dicuci dengan bahan pencuci hama. Sekitar daerah yang terkena penyakit dilakukan penyemprotan.

3. Kandang yang tercemar disemprot dengan pembebas hama dan sapi yangn sakit harus dilayani oleh orang yang berbeda dengan orang yang menangani sapi sehat.

4. Status kesehatan sapi sakit harus dipantau perkembangannya dan mendapatkan pengawasan dari dokter hewan.

5. Pengangkutan sapi yang sakit ke tempat pengasingan harus dilakukan secara cermat dan diangkut langsung agar tidak mencemari lingkungan sapi yang lain.

6. Sapi yang mati karena terserang anthraks langsung dimusnahkan dengan cara yang benar dan tidak boleh dilakukan bedah bangkai.

7. Penggunaan obat bagi sapi yang sakit harus sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau label yang diberikan dalam kemasan obat agar lebih efektif dan efisien serta terhindar dari penggunaan obat yang salah.

Kesalahan penggunaan obat dapat mengakibatkan terjadinya residu dalam bahan makanan yang berasal dari ternak tersebut sehingga membahayakan masyarakat.

8. Berikan pakan dan minum secara cukup dan tambahan nutrisi yang sedikit lebih tinggi kepada sapi yang sakit.

9. Tempat pakan dan minum harus selalu dalam keadaan bersih dan isinya diganti setiap hari.

10. Apabila terpaksa seorang petugas harus melayani sapi yang sehat dan sakit, maka harus upayakan melayani sapi yang sehat terlebih dahulu, kemudian baru melayani sapi yang sakit. Hewan yang sakit juga harus diasingkan sesuai dengan petunjuk dokter hewan.

11. Sapi dalam kelompok yang sembuh dari sakit harus selalu dipantau terhadap kemungkinan timbulnya kasus baru.

Diagnosis keracunan tanaman harus dilakukan denga bukti yang jelas bahwa penyebab kematian adalah keracunan tanaman. Pengujian pascamati karena keracunan tanaman harus dilakukan dengan teliti. Seluruh isi alat pencernakan harus diteliti termasuk sisa-sisa potongan tanaman untuk memastikan bahwa hewan tersebut benar-benar keracunan tanaman.

Terjadinya gastroenteritis akut bersamaan dengan dijumpainya tanaman beracun adakalanya dapat dipakai sebagai pegangan kesimpulan bila kemungkinan yang lain dapat diabaikan.

Kematian hewan yang baru datang dari lokasu dimana terdapat tanaman beracun dapat dipakai sebagai landasan kecurigaan. Kematian secara sporadis di setiap tahun pada musim tertentu yang kemudian terjadi pertumbuhan tanaman dengan baik atau tanaman sedang berbuah dapat dipakai sebagai penguat kecurigaan.

Apabila gejala dan temuan perubahan pascamati mengindikasikan adanya racun sianogenetik glikosida, maka hal ini mungkin berkaitan dengan kondisi musim. Pemeriksaan situasi tumbuhan di padang penggembalaan adakalanya perlu dilakukan penelitian yang cermat untuk melacak adanya tanaman beracun.

Apabila pengetahuan tentang racun tanaman yang sangat terbatas, maka dapat dilakukan percobaan dengan memberikan makanan tanaman yang dicurigai beracun kepada ternak dengan spesies yang sama dengan hewan yang diduga keracunan.

Penggunaan hewan kecil sebagai percobaan misalnya dengan menggunakan marmut sering menimbulkan salah arah interpretasi. Spesies tertentu mungkin lebih tahan dibandingkan dengan spesies yang lain.

Pengetahuan tentang ilmu tumbuhan dan pengenalan terhadap macam tanaman di lingkungan peternakan sangat berguna untuk menentukan diagnosis keracunan tanaman secara lebih cepat.

Sebagai bahan uji labortorium dapat dikirimkan tanaman yang dicurigai beracun termasuk buahnya, umbinya, dan bunganya dalam keadaan segar. Ternak yang mati dan dicurigai karena keracunan tanaman dapat dilakukan dengan bedah bangkai.

Bahan muntahan, isi rumen, hati, ginjal, dan paru harus segera dikirimkan dalam keadaan segar dingin untuk uji laboratorium. Wadah yang dipakai hendaknya tertutup rapat dan bebas dari bekas bahan kimia atau obat.





Beberapa jenis tanaman dapat mengakibatkan keracunan pada berbagai jenis ternak. Hal ini karena pada tanaman tersebut mengandung racun yang apabila dikonsumsi oleh ternak dapat memacu terjadinya keracunan bahkan dapat berakibat fatal yaitu kematian.

Beberapa jenis tanaman yang mengandung racun tersebut adalah:
1. Kacang Tanah
Kacang tanah atau bungkil kacang tanah sebagai limbah industri sering dimanfaatkan untuk makanan penguat bagi ternak, utamanya sapi dan babi. Kacang tanah atau bungkil kacang tanah dalam situasi tertentu dapat mengakibatkan keracunan akibat dari daya kerja aflatoksin.

Dalam keadaan biasa pakan ternak dari bungkil kacang tanah ini adalah normal dan biasa diberikan, namun dalam situasi tertentu dapat menjadi racun karena kacang atau bungkil kacang tersebut telah ditumbuhi jamur Aspergillus flavus. Galur tertentu dari jamur tersebut dapat diproduksi toksin, terutama bila bungkil yang tersedia tidak betul-betul kering.

Hewan rentan terhadap racun dari jamur Aspergillus ini adalah sapi, babi, dan ayam, sedangkan domba termasuk lebih tahan. Hewan muda lebih rentan daripada hewan dewasa.

Gejala klinis akibat pengaruh dari racun jamur Aspergillus flavus pada kebanyakan hewan antara lain adalah kecepatan pertumbuhannya berkurang dan nafsu makan juga berkurang. Keracunan yang hebat dapat menyebabkan kekejangan dan kemudian hewan akan ambruk.

Pedet yang keracunan dapat mengalami tenesmus dan buta. Pengaruh paling menonjol pada sapi dewasa yang sedang laktasi adalah penurunan produksi susu.

2. Lantana (Pohon bunga Telekan)
Lantana memiliki banyak spesies, tetapi yang paling banyak dijumpai adalah Lantana camara.
Lantana termasuk jenis tanaman perdu, berbatang kasar, bercabang banyak, permukaan daun kasar dan tepi daun bergerigi. Warna mahkota beragam, antara lain merah, kuning, ungu dan putih.

Lantana tumbuh di hampir setiap negara tropis dan dapat hidup di tanah yang sangat miskin hara, kering, tandus, dan berbatu. Lantana sering dipakai sebagai tanaman hias atau tanaman pagar halaman. Daun dan bunganya berbau langu, sehingga jika tidak terpaksa ternak tidak akan menyukainya.

Hewan yang rentan dan sering mnaglami keracunan lantana adalah sapi, terutama pada saat musim kering karena sulit menemukan tanaman hijauan lain di padang penggembalaan kecuali tanaman lantana. Sapi Bali, Brahman cross, dan sapi Brahman sangat rentan terhadap racun tanaman lantana ini.

Gejala klinis pada sapi yang keracunan lantana antara lain adalah jaundice yang berat, fotosensitisasi, dermatitis nekrotik berat terutama di bagian tubuh yang paling banyak terkena sinar matahari atau berwarna lebih pucat seperti pada cuping telinga, ponok, bagian atas moncong dan punggung.

Ternak kehilangan nafsu makan, diare, gelisah, ambruk, dan akhirnya mati dalam beberapa hari dengan kondisi tubuh yang sangat kurus. Apabila makan tanaman lantana dalam jumlah banyak, maka sapi akan mati karena gastroenteritis sebelum terjadi fotosensitisasi.

3. Jarak (Ricinus communis)
Tanaman ini disebut juga Palma Christi, yang dapat meracuni darah. Tanaman ini ditamukan hampir disetiap daerah tropis. Tanaman ini termasuk jenis tanaman semak yang dapat tumbuh sampai pada ketinggian 3 meter.

Tanaman ini berdaun lebar dan memiliki 3 atau 5 jari. Bunganya kecil-kecil dan berwarna kuning. Bijinya bulat ada kalanya direndam atau direbus untuk dimakan orang bagi yang biasa memakannya.

Bila tidak ada perlakuan tertentu, biji-biji jarak ini dapat meracuni. Biji jarak ini dapat diperas dan menghasilkan minyak castro. Ampas dari biji jarak tersebut mengandung banyak substansi beracun karena mengandung toksalbumin yang disebut risin.

Gejala klinis pada sapi yang secara tidak sengaja makan pakanan yang tercampur bahan mengandung risin dapat mengalami kematian dengan gejala kejang-kejang.

4. Bakung (pohon bung lily)
Bakung termasuk dalam keluarga Liliaceae. Hampir semua jenis bakung adalah beracun dan tidak mudah dicerna. Tanaman jenis ini banyak tumbuh di padang penggembalaan sehingga secara tidak sengaja dapat termakan oleh ternak. Umbi bakung sering lebih banyak mengandung racun daripada bagian tanaman yang berada di atas tanah.

Hewan yang termasuk rentan adalah sapid an babi. Babi sering terkena racun bakung karena kebiasaannya makan umbi-umbian dengan cara menggali tanah menggunakan moncongnya.

Gejala klinis pada ternak yang keracunan bakung terlihat gejalanya bervariasi, tergantung banyaknya bakung yang dimakan. Glikosida atau alkaloid merupakan bahan pokok racun yang berakibat pada jantung dan sistem saraf. Bila hanya sebagian kecil yang termakan, maka akan terlihat gejala saraf. Tetapi bila sebagian besar termakan, maka yang timbul adalah gejala jantung sebelum sempat menunjukkan gejala saraf.

Sapi yang keracunan sering muntah-muntah, diare, dan kemudian mati karena berhentinya fungsi jantung. Pada uji pascamati yang sering terlihat adalah gastroenteritis.

5. Oleandra
Oleandra adalah jenis tanaman perdu yang sering ditemukan di pedesaan. Tanaman ini juga sering ditanam sebagai tanaman hias karena memiliki bunga yang indah.

Pohon oleandra dapat tumbuh tinggi mencapai 4 meter. Pada akarnya sering tumbuh tunas yang banyak dan bercabang. Bunganya berwarna merah-jambu yang terdapat pada akhir dari cabangnya.

Daunnya tebal berwarna hijau tua berbentuk seperti tombak (lanceolate), pucuknya runcing. Tulang-tulang daun terlihat jelas dan sangat beracun.

Gejala klinis yang dapat diamati pada sapi yang mengalami keracunan tanaman ini adalah kejang, diare, dan kolik. Pemeriksaan secara patologi anatomi menunjukkan gastroenteritis akut.

6. Ubi Kayu (Casava)
Ubi kayu, cassava atau singkong banyak ditanam di berbagai tempat di Indonesia. Ubi kayu banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan bagi masyarakat, bahkan di beberapa tempat manjadi bahan makanan pokok pengganti beras. Daun ubi kayu bercabang seperti jari berwarna hijau tua. Daun yang muda sering dimanfaatkan sebagai sayur.

Daun ubi kayu mengandung sianida yang beracun. Oleh karena itu jika akan dimanfaatkan untuk bahan sayur harus diolah dengan cara yang benar agar efek toksiknya hilang, misalnya dengan dipanaskan.

Kandungan sianida pada daun ubi kayu bervariasi, tergantung pada jenisnya. Daun ubi kayu yang segar memiliki kandungan sianida yang cukup banyak. Cara menetralisasi kandungan sianida tersebut dapat dilakukan dengan dijemur sebelum diberikan kepada ternak.

Hewan yang rentan adalah semua jenis ternak ruminansia termasuk sapi, kerbau, kambing, dan domba. Oleh karena itu daun ubi kayu yang akan diberikan kepada ternak harus dipanaskan terlebih dahulu di bawah terik matahari hingga layu untuk menetralisasi kandungan racunnya.

Gajala klinis akibat keracunan daun ubi kayu ini terutama pada sapi adalah gejala kejang-kejang, mulut keluar buih keputihan, mata menjadi juling, pernafasan sesak, denyut jantung meningkat, dan bila mengalami keracunan yang berat dapat mengakibatkan kematian.






Tim dokter hewan Kebun Binatang Perth bersama "Frankfurt Zoological Society" memasang alat pengamat pada enam ekor orangutan Sumatera (Pongo abelii).

Manajer Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera Frankfurt Zoological Society (FZS) Julius Paolo Siregar di Jambi, Selasa mengatakan, pemasangan alat tersebut dilakukan melalui operasi implan di Stasiun Reintroduksi Sungai Pengian, Sumay, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

Menurut Julius, kegiatan ini merupakan langkah maju yang sangat penting bagi kegiatan reintroduksi orangutan sumatera. Orangutan yang dipasangi pemancar itu akan memberikan data distribusi di ekosistem kawasan Bukit Tigapuluh yang menjadi areal penglepasannya.

"Dengan dipasangi transmiter akan mempermudah pengamatan dan pengawasan terhadap hewan dilindungi itu. Apakah orangutan yang dilepasliarkan mampu bertahan hidup di alam atau tidak. Juga akan diketahui daerah jelajah setiap orangutan yang dilepasliarkan," ujar Julius.

Orangutan itu merupakan hasil sitaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara yang berusia 6-14 tahun. Orangutan itu kemudian menjalani program rehabilitasi di Jambi untuk mengembalikan kemampuan hidup di alam liar.

Kepingan transmiter dengan diameter sekitar tiga centimeter dan tebal satu centimeter itu ditanam di tengkuk orangutan. Transmiter ini secara otomatis aktif pada pukul 07.00 WIB hingga 15.00 WIB setiap hari dan baterainya mampu bertahan hingga dua tahun, katanya.

Sementara itu, drh Simone Diane Vitali dari Perth menyatakan sinyal yang dikeluarkan oleh transmiter tidak akan mengganggu perilaku orangutan. Semakin besar ukuran Orangutan maka operasi implant akan semakin mudah.

"Menjadi pengalaman besar bagi saya karena berkesempatan melakukan operasi pada satwa dilindungi yang sudah sangat langka di dunia,” ujarnya.

Operasi implantasi keenam orangutan seluruhnya berjalan sesuai rencana dan saat ini masih dalam tahap pengamatan atas luka bekas jahitan.

Saat ini keenam orangutan tersebut masuk dalam tahap penyembuhan luka bekas jahitan. Setelah dinyatakan tidak ada permasalahan akan dilepasliarkan di sejumlah titik di kawasan ekosistem Bukit Tigapuluh menunggu musim buah tiba.

FZS bekerja sama dengan Kementrian Kehutanan, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan Pan Eco menjalankan program reintroduksi orangutan sumatera di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Sejak 2002, FZS telah merehabilitasi 136 ekor Prangutan dan 119 ekor di antaranya telah kembali ke alam bebas. (ANT263/C/s018)

Sumber: antaranews.com



Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.