November 2010

Masuknya residu antiobiotika ke dalam tubuh lewat konsumsi daging ternak harus diwaspadai karena dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap obat-obatan.

Peringatan tersebut diungkapkan beberapa pakar di China menyusul tren penggunaan antiobiotika pada hewan ternak yang makin meningkat. Laporan menyebutkan, hampir setengah dari antibiotika yang diproduksi di Negeri Tirai Bambu itu diberikan kepada ternak daripada digunakan untuk mengendalikan penyakit pada manusia.

Sekitar 210.000 ton antibiotika yang diproduksi di China setiap tahun, sekitar 97.000 ton di antaranya berakhir dalam tubuh hewan, ungkap Xiao Yonghong, profesor dari Institute of Clinical Pharmacology of Peking University, seperti dilansir koran People’s Daily.

Riset yang digagas Chinese Academy of Social Sciences menemukan, lebih dari 50 persen peternakan di Provinsi Shandong dan Liaoning selalu menambahkan antibiotika pada pakan hewan yang diternakkan.

"Penggunaan antibiotika sudah menjadi lumrah sekarang, yang berujung pada meningkatnya tingkat kematian hewan karena tingkat kekebalan mereka menjadi tertekan. Selain itu, antibiotika kerap merugikan kesehatan seseorang setelah diminum," ujar Qi Guanghai, kepala riset di Akademi Ilmu Agrikultur China.
"Perhatian harus diberikan pada masalah asupan antibiotika melalui konsumsi makanan sehari-hari, karena hal itu dapat meningkatkan kemungkinan bakteri kebal yang berkembang dalam tubuh manusia," ujar Huang Liuyu, direktur Institute for Disease Prevention and Control of the People's Liberation Army.

Salah satu contohnya adalah bayi seberat 650-gram yang lahir prematur di Guangzhou. Seperti dilaporkan surat kabar People's Daily, bayi ini mengidap resistensi terhadap tujuh jenis antibiotika, yang diduga kuat akibat dari kebiasaan ibunya setiap hari mengonsumsi daging dan telur yang mengandung residu atau ampas dari antibiotika.

Bulan lalu, di dataran China juga dilaporkan kasus pertama bakteri NDM-1, yang resisten pada hampir semua jenis antibiotika.

Dengan adanya fakta meningkatnya kasus resistensi obat yang terdeteksi di China dan belahan bumi lainnya, Huang mendesak pihak yang berwenang seharusnya memberi perhatian lebih pada masalah ini, dan melakukan regulasi dengan baik pada sektor ini.

"Di Eropa, antibiotika dilarang untuk ditambahkan pada makanan ternah sejak bertahun-tahun dan pelarangan yang sama akan diimplementasikan di Korea Selatan," ujar Tu Yan, periset dari Akademi Ilmu Agrikultur China.

China memperkenalkan antibiotika ke dalam industri peternakan dalam upaya pencegahan penyakit pada era 1990-an. Regulasi tentang tambahan obat-obatan diterbitkan oleh China pada 2002, dan lebih banyak fokus pada penggunaan dosis yang tepat dari jenis antibiotika berbeda pada pakan ternak. Namun regulasi tersebut tak mengatur tentang supervisi penjualan dan penggunaan antibiotika yang berlebihan.

Sumber: Kompas.com




Upaya maksimal Pemerintah Provinsi Bali untuk memberantas rabies ternyata belum mampu menghentikan jatuhnya korban akibat virus anjing gila tersebut.

Sabtu (27/11/2010) pagi tadi, Gusti Rai Puspa Jaya, warga Banjar Gede Abianbase, Mengwi, Badung, Bali menjadi korban rabies ke-106 sejak virus mematikan ini muncul di Bali akhir tahun 2008 lalu.
Pasien suspect rabies yang hampir seminggu dirawat di sel isolasi nusa indah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar ini digigit anjing liar di bagian paha kanan sekitar empat bulan lalu.

Sebelumnya tidak ada tanda-tanda Puspa mengidap rabies seperti phobia cahaya dan air. Namun sejak Jum’at (26/11/2010). kondisi Puspa terus memburuk dan mengalami kejang-kejang.

Setelah dilakukan perawatan secara intensif oleh tim dokter RSUP Sanglah, nyawa Puspa tak tertolong lagi dan meninggal pukul 09.30 WITA pagi tadi. Untuk lebih memastikan penyebab pasti kematian Puspa, dokter mengambil sampel cairan otaknya.

Saat ini, RSUP Sanglah juga masih merawat satu pasien suspect rabies lainnya, yakni Ni Luh Sutri, 55 tahun. Warga Banjar Datah, Karangasem ini dilarikan ke RSUP Sanglah, Jum’at (26/11/2010) malam setelah kondisinya terus memburuk.

“Sudah mulai menunjukkan gejala klinis phobia. Korban sudah sulit menelan air minum dan mulai menunjukkan phobia terhadap cahaya,” ujar sekretaris tim penanggulangan rabies RSUP Sanglah Dr Ken Wirasandhi siang tadi. Dari catatan medis RSUP Sanglah, pasien digigit anjing milik salah satu keluarganya di bagian kaki kanan sekitar satu bulan lalu.

Dan yang mengkhawatirkan, anjing yang menggigit Ni Luh Sutri tewas dua minggu kemudian. “Bisa saja anjing yang menggigit korban itu positif rabies,” jelas Ken Wirasandhi. Setelah digigit pasien sempat membersihkan lukanya dengan air hangat namun belum sempat disuntik vaksin anti rabies (VAR).

Sumber: Kompas.com



Kasus rabies pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur terjadi di Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur, pada 1997.

Rabies yang terjadi di ujung Timur Pulau Flores itu diketahui masuk dari Pulau Buton melalui anjing yang dibawa nelayan Flores Timur.
Setelah 13 tahun dari kasus pertama itu, rabies sudah menular ke seluruh daerah di Pulau Flores, mulai dari Flores Timur, ujung timur Pulau Flores, Maumere, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat di ujung barat pulau Flores dan Lembata.

Jumlah kasus gigitan juga terus meningkat dari waktu ke waktu. Selama 10 tahun terkahir tercatat sebanyak 56.259 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia 168 orang.

Di dua pulau besar lainnya di provinsi kepulauan itu, yakni Pulau Sumba dan Pulau Timur, juga Alor, Rote Ndao dan Sabu Raijua yang terpisahkan oleh laut dengan Pulau Flores, masih bebas dari ancaman rabies.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Nusa Tenggara Timur drh. Maria Geong PhD menyatakan, Pulau Flores dan Pulau Lembata adalah dua wilayah yang sudah dinyatakan sebagai daerah tertular rabies. Sedangkan Pulau Timor, Sumba, Alor, Rote Ndao dan Sabu Raijua merupakan daerah bebas rabies.

"Sampai saat ini belum ada daerah lain yang tertular selain Flores, Lembata, Solor dan Adonara. Kita terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait kasus ini,” katanya.

Vaksinasi kepada hewan penular rabies, seperti anjing, kata Maria, juga sudah dilakukan.

Ketua Lembaga Penelitian Pengkajian Demokrasi Masyarakat Marsel Ahang mengingatkan pemerintah daerah tidak terlena dalam pemberantasan rabies.

Upaya pengendalian harus tetap dilakukan secara berkala sehingga bisa meminamalisir mewabahnya penyakit itu.

Dia mengharapkan upaya pemberantasan penyakit rabies menjadi suatu gerakan bersama yang dilakukan secara terus-menerus dan dari waktu ke waktu.

"Selama ini sudah ada gerakan bersama yang dikendalikan oleh pemerintah daerah hingga hirarki pemerintah tingkat bawah untuk memberantas penyakit rabies. Tetapi mentalitas masyarakat cenderung mengabaikan program positif dari pemerintah,” katanya.

Karena itu, kata Marsel Ahang, pola yang digunakan hendaknya melibatkan pemangku adat yang ada di wilayah masing-masing karena mereka juga memiliki kapasitas untuk memberi pencerahan kepada masyarakat.

Kepala BKP Kelas I Kupang drh Farid Hermansyah mengatakan, pihaknya terus melakukan pengawasan di pintu-pintu masuk maupun ke luar yang ditunjuk pemerintah sesuai dengan pembagian wilayah kerja.

Dia mengatakan, sesuai aturan, hewan pengidap rabies dari daerah tidak bebas tidak boleh masuk ke daerah bebas, kecuali sebaliknya.

Dia juga meminta dinas terkait di Pulau Flores mengarantina anjing-anjing milik masyarakat yang berpotensi menularkan virus rabies.

"Tindakan karantina ini sangat penting agar anjing-anjing tersebut dapat diperiksa dan diamati secara rutin serta mengambil tindakan pemusnahan jika sudah tertular rabies, “ katanya.

Farid Hermansyah mengatakan jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kasus rabies di negeri ini masih relatif kecil.

Namun, kata dia, tetap harus namun ditangani secara tuntas agar dapat menekan jumlah korban jiwa akibat gigitan anjing rabies.

Ia menjelaskan, kasus rabies yang mematikan itu tidak hanya terdapat di Indonesia, khususnya Bali dan Flores, tetapi juga melanda sejumlah negara.

Karena itu, semua pihak terutama pemiliki anjing di daerah endemi rabies harus mempunyai kepedulian untuk mencegah penyebaran virus itu agar tidak meluas dan terus menelan korban jiwa.

Menurut Farid Hermansyah tindakan karantina dibolehkan oleh UU No.16/1992 tentang Karantina Hewan dan tumbuhan.

Selama ini, kata dia, upaya pencegahan rabies melalui vaksinasi dan penyuluhan tidak mempan bahkan dana yang dikeluarkan pemerintah pusat untuk penanggulangan rabies di Flores setiap bulannya yang mencapai Rp. 1,4 miliar juga tidak menjawab tantangan tersebut.

"Cukup besar dana yang dikucurkan. Tapi rabies di Flores belum juga dapat dihentikan," kata Farid.

Menurut dia, semua pihak tentunya bisa mengambil pelajaran berharga dari peristiwa itu, sehingga virus yang sama tidak masuk dan menyerang ternak di daratan Timor, Sumba, dan Alor serta pulau-pulau lainnya di NTT.

"Sekali seekor anjing tertular Lyssavirus, virus penyebab rabies, memasuki suatu pulau, penyakit itu tak lama lagi menyebar,” kata Budi Tri Akoso.

Budi Tri Akoso adalah dokter hewan yang menjadi Direktur Pusat Veterinaria Farma Surabaya yang menangani penyakit rabies pertama di Flores Timur pada 1997 mengatakan.
Dari kejadian di Flores Timur itu, kata dia, sudah dapat diduga rabies akan segera menyebar sampai ke Bali.

Kemudian, 11 tahun setelah rabies pertama masuk NTT, serangan virus penyebarankebanyakan melalui anjing itu sampai Bali.

Pulau Bali, yang dinyatakan bebas rabies secara historis selama 82 tahun sejak ada Ordonansi Rabies tahun 1926, akhirnya tak mampu mencegah menyebarnya virus rabies.
Penghalang alami, yaitu lautan yang memisahkan pulau-pulau, akhirnya kalah oleh lalu lintas manusia dan hewan yang semakin tidak bias terkendalikan.

Maria Geong yang juga Kepala Bidang Penanggulangan penyakit Hewan pada Dinas Peternakan Provinsi NTT menambahkan rabies adalah tragedi bagi kemanusiaan dan kehewanan karena korban jiwa yang diakibatkannya, selain itu, dampak ekonomi juga sangat terasa.

Total kerugian ekonomi akibat rabies di NTT tahun 1998-2007 mencapai Rp142 miliar atau Rp14,2 miliar per tahun.

Biaya itu dihabiskan untuk pengobatan pascagigitan anjing pada manusia Rp19,9 miliar serta biaya vaksinasi dan biaya eliminasi hewan tertular sebesar Rp. 122,5 miliar.
Wakil Ketua DPRD NTT Nelson Matara menyarankan upaya untuk menanggulangi rabies di NTT dilakukan secara radikal.

Vaksinasi dan eliminasi anjing harus dilakukan secara massal dan serentak, tidak seperti selama ini yang sporadis dan lambat.

Kampanye besar-besaran ini penting untuk menyadarkan bahaya rabies kepada masyarakat, kata dia, selain memperketat pengawasan terhadap lalu lintas hewan agar rabies tidak masuk ke daerah yang masih bebas. (T.B017/S018/P003)

Sumber: antaranews.com



Seorang anak berusia 8 tahun berinisial FI warga Cipadu Jaya, Kecamatan Larangan Kpta Tangerang, diduga mengidap flu burung.Bocah tersebut saat ini dirawat di ruang Isolasi Flu Burung Rumah Sakit Umum Tangerang.

"Sampai hari ini masih memburuk namun belum dipastikan flu burung, masih menunggu hasil laboratorium Litbangkes Jakarta,"kata dr Ati Pramudji, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) kepada Tempo, siang ini.

Menurut Ati, pasien sudah diberi tamiflu dan usap tenggorok. Tindakan ini juga dilakukan terhadap orang-orang di sekeliling pasien.

Ati mengatakan Dinas Kesehatan Kota Tangerang sudah melakukan pelacakan ke lapangan dan ditemukan bahwa pasien tiga bulan lalu baru pulang berkunjung dari Cilacap. Di wilayah tinggal penderita tidak ditemukan adanya berkeliaran.

"Pasien juga tidak punya riwayat kontak unggas dan di sekitar rumah tidak ada unggas mati,"kata Ati.

Pasien FI mengalami sakit sejak sepekan lalu dengan gejala awal demam, batuk-batuk dan sesak nafas. Sebelum dirujuk ke RSU Tangerang, FI sempat dirawat di RS Aminah, Ciledug.

Data yang diterima Tempo dari Dinkes menunjukan angka kematian flu burung cukup tinggi. Dari 2007 hingga 2008, kata Ati, belum ada penderita yang tertolong.

Pada tahun 2005 terdapat enam suspect flu burung. Seorang meninggal meskipun hasil Litbangkes menunjukan pasien negatif. Justru pasien yang positif hidup.

Setahun kemudian, pada 2006 ditemukan satu suspect ternyata positif dan meninggal, 2007 ditemukan enam suspect, 4 orang positif berakhir kematian. Pada tahun 2008 ada 10 suspect flu burung, empat positif dan meningal. Pada 2009 sebanyak enam suspect tidak ada yang positif dan 2010 ini terdapat 3 suspect, termasuk FI.

Sumber: tempointeraktif.com





Jumlah jenis burung yang terancam punah di Indonesia paling banyak di dunia akibat eksploitasi berlebihan, kata Direktur Pelaksana Burung Indonesia atau Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia, Agus Budi Utomo.
"Indonesia berada di puncak klasemen dari sepuluh negara di dunia dengan jumlah jenis burung terancam punah global tertinggi yang diakibatkan oleh over eksploitasi," kata Agus dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Bogor, Senin.

Ia mengemukakan bahwa pada 2009 terdapat 117 jenis burung terancam punah di Indonesia, 17 jenis di antaranya memiliki status keterancaman tertinggi yaitu kritis.

Tahun 2010 angka ini meningkat menjadi 122 jenis terancam punah, dengan 19 jenis dalam kondisi kritis.

Burung, selain merupakan indikator bagi kualitas lingkungan, juga merupakan tulang punggung dalam menjamin berjalannya proses regenerasi hutan tropis secara alami di Indonesia.

Di sisi lain, kawasan prioritas untuk keanekaragaman hayati di Indonesia sebagian besar berupa hutan dan 56 persen kawasan prioritas itu berada di luar jaringan kawasan perlindungan.

Agus mengatakan, melihat intensitas ancaman bagi burung-burung di Indonesia, upaya perlindungan dapat diprioritaskan pada Daerah Penting bagi Burung (DPB). Namun tantangannya, tidak semua DPB masuk dalam jaringan kawasan konservasi dan sebagian masuk di kawasan hutan alam produksi.

Dalam konferensi tentang Konvensi Keanekaragaman Hayati di Nagoya, Jepang, terungkap bahwa berdasar studi menyeluruh terhadap vertebrata tengah terjadi krisis kepunahan hewan bertulang belakang tersebut.

Agus mengatakan diperlukan usaha bersama untuk melindungi keanekaragaman hayati Indonesia yang mulai mengalami krisis kepunahan.

"Seperlima jenis hewan bertulang belakang diketahui terancam punah saat ini, kondisi ini bisa saja lebih buruk kalau saja tidak ada upaya konservasi global selama ini," katanya.

Dijelaskannya, studi yang akan dipublikasikan pada jurnal internasional Science ini menggunakan data dari 25.000 jenis yang terdapat pada Daftar Merah Jenis terancam Punah IUCN (The IUCN Red List of Threatened Species), untuk menelaah status semua jenis hewan bertulang belakang di dunia (mamalia, burung, amfibi, reptile dan ikan), serta perubahan statusnya selama ini.

"Hasilnya menunjukkan, rata-rata setiap tahunnya 50 jenis mamalia, burung, dan amfibi bergerak mendekati kepunahan. Penyebab ancaman kepunahan jenis-jenis ini antara lain adalah pembukaan lahan pertanian, pembalakan, eksploitasi berlebihan, serta invasi jenis asing," ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, sebagian dari Amerika Tengah, wilayah tropis di Pegunungan Andes di Amerika Selatan, dan bahkan Australia telah mengalami kepunahan jenis akibat jamur yang mematikan pada hewan-hewan amfibi.

Asia Tenggara, khususnya Indonesia telah mengalami kepunahan jenis yang paling dramatis belakangan ini, yang sebagian besar disebabkan oleh kerusakan atau berkurangnya habitat hutan alam.

"Oleh karena itu, restorasi dan pengelolaan hutan alam produksi yang menjaga fungsi ekosistem dan produksinya secara berkelanjutan perlu dilakukan,” papar Agus.
Upaya ini juga vital karena hutan selain merupakan rumah utama bagi keragaman hayati dunia, juga membawa manfaat bagi jutaan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, tambahnya.

Selain mengonfirmasikan laporan sebelumnya mengenai kepunahan keanekaragaman hayati yang terus berlangsung, studi ini juga pertama kalinya memberikan bukti nyata mengenai dampak positif dari upaya konservasi yang dilakukan di seluruh dunia.

Hasil studi menunjukkan bahwa status keanekaragaman hayati bisa turun lebih jauh hingga 20 persen, kalau tidak ada upaya konservasi yang dilakukan selama ini.

"Namun upaya lebih besar diperlukan melalui LSM, pemerintah, perusahaan, maupun individu yang berkomitmen untuk bekerja sama menghentikan kepunahan dan mulai mengarahkan aksinya pada akar penyebab kepunahan keanekaragaman hayati,” ujarnya.

Studi ini mengetengahkan 64 jenis mamalia, burung dan amfibi yang mengalami perbaikan status berkat aksi konservasi. Walaupun demikian studi ini hanya menyampaikan perkiraan minimum dari dampak sesungguhnya yang diberikan oleh aksi konservasi.

Terdapat harapan baik, tercatat 9 persen dari jenis-jenis terancam punah yang mengalami peningkatan populasi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan sumber daya dan komitmennya upaya konservasi telah menunjukkan hasil. (LR/B010)

Sumber: antaranews.com



Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.