April 2011

Dokter hewan pada Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Gorontalo, Drh Fenny Rumporok, Selasa (5/4/2011) mengungkapkan, status endemis ditetapkan setelah kasus flu burung diketemukan di dua Kabupaten lainnya, yakni Boalemo dan Bone Bolango.

"Dengan demikian, kini sudah ada tiga kabupaten dan satu kotamadya yang positif terjangkit H5N1, yakni Kabupaten Gorontalo, Boalemo, Bone Bolango dan Kota Gorontalo," katanya.

Dua Kabupaten lain, Pohuwato yang berbatasan dengan Sulawesi tengah dan Gorontalo Utara yang berbatasan dengan Sulawesi Utara, hingga kini belum memberikan laporan terkait penyakit unggas itu.

Dia menambahkan, sejauh ini juga belum ada laporan dari masyarakat maupun masing-masing pemerintah daerah, tentang adanya penularan ke manusia.

Pihaknya telah memusnahkan ribuan ekor ternak ayam yang terinfeksi virus H5N1, di wilayah-wilayah yang terjangkit.

Pemerintah provinsi Goronyalo juga akan segera melakukan komunikasi, informasi dan edukasi terkait penyakit yang bisa menular ke tubuh manusia itu.

"Sosialisasi ini akan dilakukan dengan memasang baliho di tempat strategis, dan menyebarkan selebaran di setiap daerah, kami juga memanfaatkan media massa," katanya.

Sumber: Kompas.com




Perkembangan flu burung menunjukkan babak baru. Wabah virus yang belakangan terjadi di beberapa tempat menunjukkan kesamaan virus. Peneliti menduga perdagangan bukan lagi sebagai penyebab penyebaran virus, melainkan vaksinasi yang tidak dikendalikan.

Ketua Avian Influenza Research Center dan juga dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga CA Nidom ketika dihubungi di Surabaya, Minggu (3/4), mengatakan, berdasar hasil penelitian timnya, virus yang menyerang unggas di Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Jawa Barat, dan Sumatera Barat memiliki kesamaan.

”Kami menduga penyebaran virus ini bukan karena perdagangan unggas tetapi ada masalah dalam vaksinasi. Karakter virusnya sama dengan virus di satu lokasi di Jawa Barat yang ditemukan tahun 2006,” kata Nidom.

Nidom mengatakan, ada masalah mendasar, yaitu tidak adanya kontrol dari hulu ke hilir sejak pemerintah memilih vaksinasi dibanding pemusnahan massal sejak tujuh tahun lalu.

”Negara lain tidak memilih vaksinasi, tetapi pemusnahan massal. Indonesia memilih vaksinasi karena banyak orang bergantung pada peternakan unggas. Pilihan ini seharusnya diikuti dengan pengendalian vaksinasi secara ketat,” katanya.

Ia menduga, tidak adanya pengendalian yang ketat dalam pembuatan vaksin hingga penggunaan vaksin malah akan memunculkan virus flu burung.

Nidom mengatakan, pemerintah harus segera menangani masalah ini karena tanpa pengendalian yang ketat maka kasus flu burung bisa makin parah. Cara yang bisa dilakukan adalah mengawasi produksi vaksinasi dan melatih petugas vaksinasi.

Dari Gorontalo dilaporkan, kasus flu burung ditemukan di Desa Gandaria, Kecamatan Tolangohula dan di Desa Hutuo, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Hampir 2.000 ayam milik peternak dan warga positif mengidap virus flu burung. Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo memusnahkan ribuan ayam itu dengan membakarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, kasus flu burung harus ditangani sesegera mungkin. Kasusnya sudah cukup banyak, tetapi belum terdata dengan baik.

Ketika ditanya, apakah penggunaan vaksin turut menjadi pemicu meluas dan maraknya kembali kasus flu burung, penanggung jawab bidang laboratorium unit penanggulangan penyakit avian influenza pada Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian Mastur AR Noor, di Jakarta, mengatakan, faktor musim menjadi penyebab utama. Pada musim hujan, terutama pada bulan Desember-Maret, udara lembab. (MAS/APO/MAR)

Sumber: Kompas.com


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.