Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Senin, memperingatkan tentang adanya varian mutasi baru dari virus flu burung mematikan H5N1 di China dan Vietnam. Badan PBB itu juga mengatakan peluang terjadinya "kebangkitan besar" dari penyakit itu.
Organisasi yang berbasis di Roma itu prihatin tentang "kemunculan varian virus itu di China dan Vietnam yang mampu menghindari pertahanan yang disediakan oleh vaksin yang ada." FAO juga menambahkan bahwa strain baru itu dikenal sebagai H5N1 - 2.3.2.1.

"Sirkulasi virus itu di Vietnam menimbulkan ancaman langsung terhadap Kamboja, Thailand dan Malaysia serta membahayakan Semenanjung Korea dan Jepang," katanya, peringatan bahwa virus tersebut dapat menyebar ke luar Asia dengan migrasi burung liar.

Organisasi itu menyeru dilakukannya "kesiapan tinggi dan pengawasan terhadap kemungkinan utama kebangkitan" dari virus itu, yang berkembang menjadi pandemi di tahun 2009.

Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) mengatakan 565 orang telah terinfeksi sejak strain H5N1 yang mematikan pertama kali muncul dan 331 dari mereka telah meninggal karenanya.

FAO mengatakan kematian terbaru terjadi awal bulan ini di Kamboja, yang telah mencatat delapan kasus infeksi pada manusia tahun ini - semuanya bersifat fatal.

"Ini bukan waktunya untuk berpuas diri. Tidak ada yang bisa membiarkan kewaspadaan menurun untuk H5N1," kata Juan Lubroth, pimpinan urusan satwa di FAO.

"Perubahan umum dari penurunan progresif yang diamati pada 2004-2008 bisa berarti bahwa akan ada kenaikan H5N1 musim gugur dan musim dingin ini, dengan orang tiba-tiba menemukan virus di halaman belakang mereka," katanya.

FAO mengatakan bahwa daerah-daerah yang baru-baru ini terkena flu burung mematikan juga termasuk Bulgaria, Israel, Mongolia, Nepal, Wilayah Palestina dan Rumania.

Sumber: Kompas.com